Kisah Pak Supi: Kakek Pengungsi berisi cerita mengharukan tentang hubungan Pak Supi dan bocah-bocah pemberani yang diam-diam mengamat-amatinya.
Pak Supi mungkin sosok kakek gelandangan yang sehari-hari kita jumpai di jalanan depan rumah. Tetangga-tetangga kita mengucilkannya. Mereka hanya punya cerita buruk tentang kakek gelandanga itu. Kebetulan, kita adalah bocah-bocah penasaran yang ingin tahu lebih dari itu. Karena itu, kita diam-diam menguntitnya, dan tiba-tiba saja, masuk ke dalam kehidupan si kakek. Kita menemukan kakek gelandangan itu gemar berbicara dengan boneka kayu dari dalam peti. Melihat itu, kita merasa separuh terharu dan separuh takut. Tapi janganlah dulu takut, kakek itu berhati baik.
Apa yang akan kita lakukan ketika tahu teman kita punya niat jahat kepada si kakek? Apakah kita punya kekuatan, juga keberanian untuk mengungkap niat jahat teman kita pada si kakek?
April dimulai dengan sebuah buku anak-anak karangan penulis perempuan Indonesia nan klasik (terbit pertama kali pada 1961). Ini tentu ada hubungannya dengan Kitab Cerita: Esai-Esai Anak dan Pustaka 2 yang baru kubaca beberapa waktu lalu. Berkat kumpulan esai dan resensi itu, muncul gemuruh dalam diri untuk coba mengulik lebih banyak bacaan anak-anak. Atas dasar itu, sudah diputuskan bahwa pada bulan ini akan memprioritaskan membaca buku anak-anak. Dan kisah Pak Supi ini menjadi pembacaan yang pertama.
Siti Rukiah termasuk pengarang yang "dibenamkan" namanya karena ikutan sebuah lembaga terlarang (pada masa itu) Lekra. Beruntung, sebuah penerbit di Bandung mengusahakan untuk menerbitkan ulang karyanya termasuk sebuah kisah anak-anak ini.
Pak Supi seorang pengungsi di Kampung Sukarapih yang tidak bisa bersosialisasi dengan warga. Karena kebungkamannya tersebut, para warga membuat cerita sendiri bahwa ia sebagai tukang tenung. Abas, Didin, dan Kandar mencoba mengulik fakta tersebut bersamaan dengan sebuah peristiwa yang tiba-tiba terjadi: kebakaran rumah salah seorang warga dan harta-bendanya hilang yang kemudian menuduh Pak Supi pelaku pembakaran dan perampokan.
Sebagai cerita anak-anak, "Pak Supi: Kakek Pengungsi" terbilang kompleks dan sedikit melenceng. Alih-alih berfokus pada tokoh anak-anak seperti Abas, Didin, dan Kandar, ceritanya membuat Pak Supi sebagai tokoh utama yang penting. Latar belakang Pak Supi yang tidak diketahui dan penilaian warga kampung yang simpang-siur terhadapnya membuat tiga sobat itu penasaran. Pada awal cerita, ketiganya secara diam-diam mengintip gubuk Pak Supi dan mendapatinya sedang memain-mainkan boneka sembari memegangi baju anak perempuan.
Pengungkapan kebenaran melalui cara-cara keberanian diusung menjadi tema utama buku ini. Abas, salah satu tokoh anak-anak di sini, mengalami sebuah konflik batin yang memegang kunci penting untuk keberlangsungan hidup Pak Supi yang dituduh sebagai perampok. Gelagat Abas yang penuh kekhawatiran diketahui oleh orangtuanya sehingga Abas diharapkan bisa menceritakan kerisauannya. Butuh beberapa hari hingga Abas akhirnya berani bisa menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah yang terbakar itu.
Ada satu bagian ketika Pak Supi menceritakan kisah hidupnya sehingga ia bisa mengungsi ke Kampung Sukarapih. Ada kata-kata "gerombolan yang menentang Bung Karno", lalu penggalan paragraf: "Di sana-sini terdengar rumah-rumah dan sekolah-sekolah desa yang dibakari. Pembunuhan dan penculikan merajalela." Ada pula kalimat yang lebih ganas nan sadis seperti "dipukul kepalanya dengan gagang senapan" dan "pelan-pelan habis badannya dijilat api."
Bagian tersebut membuatku bergidik sekaligus bertanya-tanya. Apakah latar yang disajikan pada buku ini merupakan pengejawantahan fakta yang terjadi pada tahun-tahun perilisan perdana buku ini? Dari diksi yang eksplisit, seperti itukah jenis bacaan anak-anak pada tahun-tahun tersebut? Ataukah malah sebenarnya target pembaca kisah Pak Supi yakni orang dewasa?
Untuk sebuah karya fiksi anak-anak, sekali lagi kubilang bahwa ini terlalu vulgar. Mungkin pendapat tersebut dikarenakan anak-anak sekarang "berbeda" dengan anak-anak zaman Rukiah menuliskan kisah ini. Tentu akan lebih menjelaskan bila ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pada paragraf sebelum ini. Di sisi lain, pesan moral (yang sepertinya masih dicari-cari hingga kini pada buku anak-anak) untuk para pembaca anak-anak tersedia pada buku ini.
Terlepas dari itu, konflik berlapis yang disajikan membuatku menikmati kisah Pak Supi. Tebakanku atas salah satu konfliknya pun keliru. Buku yang bagus!
Membaca Pak Supi Kakek Pengungsi hari ini dan menyelesaikannya dalam sekali duduk. Narasi facorit saya adalah nasihat Pak Abas ke anaknya, “Anak laki-laki harus jantan.” Dan bagaimana “jantan” itu diterjemahkan? Dengan menjadi jujur, menangis melihat ketidakadilan, & walau babak belur harus membela yang benar. 🤠👍🏼 #menangisharu
Kehidupan seorang kakek pengungsi yang jadi gelandangan bahkan dikucilkan di desa. Banyak kabar miring tentangnya dari pencuri, penculik, bahkan tukang tenung yang bisa merubah wujud manusia. Situasi jadi makin panas saat dirinya tertuduh mencuri dan membakar rumah warga melalui POV anak kecil.
Tidak ada yang mudah jika hal tersebut susah. Tidak selalu menggembirakan jika sering menangis. Begitulah hidup, Saya sempat sangat percaya diri pada pilihan karier yang saya jalani hari ini. Kemerdekaan berkreasi dan berekspresi dalam tataran advokasi adalah nikmat yang tidak ternilai. Saya belajar dari banyak orang, dari seorang buruh pemanen sawit yang tiap kilo dihargai 50 rupiah. Saya juga bisa belajar dari dosen favorit Universitas Hawaii yang sangat baik selalu membalas email saya. Begitu mudah dan menyenangkan. Namun dibalik itu semua ada kemelut yang terjadi. Banyak hal-hal yang luput dari genggaman. Banyak yang harus saya relakan untuk tidak saya miliki hari ini. Kemudian hal-hal tersebut membuat saya merasa tidak layak dan tidak pantas menerima apapun. Bukannya kufur tapi saya sekedar merasa sangat bersalah jika tidak mampu memenuhi ekspektasi orang-orang. Sampai suatu hari saya membaca buku ini, buku yg awalnya saya pungut paksa dari meja kawan. Buku ini kemudian membakar satu sumbu yang kusut dan menyalakan api untuk membuka jalan lain. Ada ratusan jalan lain yang bisa kamu tempuh. Buku ini menyentil saya untuk kembali ingat bahwa saya harus mengadvokasi diri saya sendiri. Lebih kecurhat daripada review. Namun tak apalah untuk merayakan tandas baca. Terima kasih #MansourFakih atas sebuah #JalanLain ✨
Apa jadinya jika anak-anak sejak dini tumbuh di tengah lingkungan yang kerap memberi contoh buruk seperti memfitnah atau menggunjing orang tanpa memgetahui kebenarannya? Tentu sebagai peniru ulung, anak akan menganggap apa yang dilihat di sekitarnya adalah hal wajar yang patut ditiru, tanpa menyadari bahwa hal itu sebenarnya bukan sesuatu yang benar untuk dilakukan. Seperti itulah gambaran lingkungan tempat tinggal Abas di buku cerita anak Pak Supi: Kakek Pengungsi.
Buku ini mengisahkan tentang Pak Supi, seorang tua pendatang baru di Kampung Sukarapih. Sejak kepindahannya, Pak Supi dikenal sebagai seseorang yang pendiam dan selalu tampak murung. Ia tidak pernah bicara dengan siapa pun di kampung itu. Berbagai macam gunjingan diarahkan warga padanya, bahkan Pak Supi disebut-sebut sebagai ahli tenung. Makin ngeri lah warga untuk mendekatinya, terutama anak-anak. Hingga suatu hari seorang anak bernama Abas bersama dua temannya mengintip ke dalam gubuk kecil Pak Supi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Supi? Dari mana ia berasal? Benarkah ia dalang dari sebuah kebakaran dan pencurian yang terjadi di rumah salah satu warga?
Ada perasaan campur aduk ketika membaca buku cerita ini. Rasanya ikut sebal membaca tentang warga kampung yang menggunjing serta menuduh Pak Supi yang bukan-bukan, sampai berpikir,"Kok bisa sih mereka setega itu sama orang tua yang hidup sebatang kara?". Namun di satu sisi, buku ini juga sarat akan pesan moral. Bahwa kita tidak boleh menilai orang tanpa benar-benar mengenalnya, bahwa keadilan dan kejujuram harus ditegakkan sesulit apa pun itu. Cerita ini juga mengajarkan bahwa kebohongan tidak akan bisa membuat kita merasa tenang. Buku ini juga memberi pelajaran bagi orang dewasa bahwa kita harus memberi contoh yang baik pada anak-anak dan belajar menghargai sesama.
Menemukan buku Pak Supi: Kakek Pengungsi ini bagai menemukan harta terpendam bagiku. Buku ini terbit pertama kali pada 1961 dan diterbitkan ukang oleh Ultimus di 2018, sehingga gaya ceritanya sangat khas buku-buku anak di zaman lawas. Walau begitu, buku inj masih sangat layak dinikmati di era modern ini. Buku ini hampir tidak pernah kutemui di toko buku kebanyakan, hingga suatu hari aku mampir ke online shop Pataba Store milik Soesilo Toer dan menemukan beberapa buku cerita anak yang cukup langka, salah satunya adalah buku ini. Buku anak-anak memang memiliki cerita yang sederhana, namun kita yang bukan anak-anak pun masih pantas membacanya, karena banyak pesan berharga yang bisa kita dapat di sana.
padahal cuma cerita anak (walau cerita anak tidak pernah menjadi “cuma”) dengan pesan klise “kebenaran selalu menang”. tapi rukiah sempat-sempatnya menyisipkan soal kehidupan dan solidaritas petani, kritik akan pengadilan dan gerakan antisukarno, keberdayaan lansia, semangat guyub dan gotong royong di desa, dan keberanian anak melawan tekanan orang dewasa.
terlihat sekali bagaimana rukiah benar-benar menaruh perhatian dan kepedulian terhadap sastra anak. karakterisasi, plot, dan latar ia bangun dengan ulet, tanpa meremehkan cerita anak sama sekali.
kagum dengan kalimat penutup cerita ini: “esoknya mereka akan melanjutkan lagi hidupnya untuk hari-hari yang akan datang dengan tekad dan hati penuh semangat: belajar, bekerja, dan membangun”.
rukiah dengan baik memanda anak sebagai juga subjek yang berdaya layaknya orang dewasa.
sedih, haru, dan menggerakkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Berat banget ujian kehidupan yang harus ditelan kakek Supi dari kampungnya dulu. Rasanya aku pun gak sanggup kalau harus melalui ujian seberat itu. Syukurlah kakek Supi udah bertemu terang dalam hidupnya lagi ^^