Di sini waktu melambat, Sakuntala, Jika tak bisa dibilang mati Sementara kangenku memburu-buru Sedang apa kau di sana? Apakah hujan sudah berhenti? Apakah kali Malini telah tenang kembali? Apakah cinta kita baik-baik saja
Gunawan Maryanto. Bergiat sebagai penulis dan sutradara dari Teater Garasi: Laboratorium Penciptaan Teater. Saat ini menetap di Jogja. Karya-karya tulisnya berupa prosa dan puisi serta kritik seni pertunjukan terpublikasikan lewat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, BlockNotProse, BlockNotPoetry, On/Off, Jurnal Kolong Budaya, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Kalam dan LeBur Theater Quarterly. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad, IndonesiaTera 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, InsistPress 2005, Longlist Khatulistiwa Award 2005) dan Galigi (kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan 2007, LongList Khatulistiwa Award 2007). Pada tahun 2004 puisinya yang berjudul Kupanggil Kau Batu mendapat nominasi Anugrah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 puisi Jineman Uler Kambang mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik katagori puisi. 1 cerpen dan 3 puisinya masuk ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama). Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.
Tapi cintaku terlalu besar, Sakuntala Terlalu berdosa untuk mencuri satu kalimat saja Aku ingin memperpanjang napasku Dan mengisi paru-paruku dengan bau tubuhmu.
Sebelum membaca buku puisi ini saya sangat menganjurkan anda untuk membaca kisah Sakuntala. Karena pengarang buku puisi ini langsung nyerocos menyebut nama-nama di dalam puisinya tanpa ada penjelasan. Sepertinya dia berasumsi bahwa anda mengerti kisah Sakuntala lengkap beserta tokoh-tokohnya: Dusyanta, Sarwadamana, Kanwa, Menaka, Wiswamitra, dsb, plus nama tempat-tempat di kisah itu: Malini dan Himawan misalnya. Disamping itu puisi ini juga banyak menyebut nama tokoh dan tempat dari dunia pewayangan. Mungkin bisa cukup mengganggu buat anda yang tidak tahu hal ihwal tentang tokoh atau tempat ini.
Jika anda tak punya banyak waktu untuk membaca kisah Sakuntala, buka saja wikipedia: Shakuntala (dalam bahasa Inggris) dan Sakuntala (dalam bahasa Indonesia). Saya anjurkan baca dua-duanya, karena versinya agak berbeda, sebelum mulai membaca buku ini. Lalu terkait nama di dunia pewayangan: saat anda mendapati nama dunia pewayangan tersebut, anda bisa langsung googling nama itu atau terus saja tanpa ingin tahu siapa dia, jika itu tidak terasa mengganggu buat anda.
Oke, Puisi-puisi di buku ini adalah puisi-puisi pendek tanpa judul, yang saling bersambung dan mengisahkan si aku yang begitu mencintai Sakuntala, namun sayangnya cinta Sakuntala sudah ditambatkan kepada Dusyanta, yang sayangnya sepertinya tidak menunjukkan perasaan yang sama kepada Sakuntala (menurut pendapat si aku). Jadi sepanjang 70 halaman anda akan mendapatkan curahan perasaan atau kebaperan si aku (per halaman hanya terisi sepertiga atau setengah halaman karena kebanyakan puisi hanya puisi pendek) yang mengharu biru dan kalau mau diringkas bisa digambarkan dalam satu kalimat seperti judul lagunya Spin Doctors tahun 90-an dulu yaitu: “How Could You Want Him (When You Know You Could Have Me)?” Hehehe. Eh tapi ya namanya cinta ya? Cinta tak bisa... tak bisa kausalahkan. :-)
Saya beri bintang 4 untuk buku ini karena saya suka semua puisi yang berbau dunia pewayangan, plus setelah membaca perasaan cinta yang ditampilkan dengan lebay tapi puitis ini, entah mengapa hati saya bisa tersentuh. :-)
Oh iya di halaman persembahan di awal buku ini dituliskan “Puisi-puisi pendek untuk: Dian Suci Rahmawati”. Setelah saya browsing, seorang wanita seniwati dengan nama seperti itu yang dikenal sang penulis (terlihat dari postingannya di dunia maya) ternyata adalah seorang ilustrator andal dengan akun instagram: @ultramanminmun Apakah puisi-puisi ini adalah ungkapan hati sang penulis untuk wanita itu yang sayangnya masih terikat pada perasaannya kepada Dusyanta-nya? Atau hanya sekadar nasihat sang penulis kepada temannya? Atau ada hal lainnya? Yah kita tunggu saja klarifikasi dari sang penulis tentang hal ini. :-)
Oh iya puisi yang paling membuat saya sedikit terharu biru adalah puisi ini:
Halaman 66: Di ujung tahun yang buruk ini aku jatuh cinta kepadamu, Sakuntala Langit meledak-ledak Bunga api menjadi-jadi Dan Himawan tetap berdiam dalam kabut Aku tahu ada yang luput Tapi aku tak bisa membunuh apa yang telah tumbuh Kebun kosong seharusnya tetap kosong Bunga api biarlah jadi bunga api Tahun-tahun akan tetap sama Melingkar-lingkar seperti perasaan Seperti jalan setapak yang selalu kaurindukan Tapi aku kadung jatuh cinta Dan merusak yang semestinya berlaku Di ujung tahun, Sakuntala aku gigil oleh perasaan yang ganjil
Halaman 67: Aku tak lagi memintamu untuk singgah Aku memintamu untuk berumah Pada Himawan, Malini dan burung-burung Sakuni Aku berjanji: Kijang yang terluka akan pulang
Di tubuhmu waktu berlari Lebih cepat dari seharusnya Di tubuhku ada yang meluap-luap Lebih dari yang kuduga
Yang coba dibangun Gunawan Maryanto dalam antologi puisinya adalah kerinduan yang mendalam pada Sakuntala dan lanskap tempat nenek Dinasti Kuru itu dibesarkan. Gunung Himawan, Sungai Malini, dua 'ibu' Sakuntala: Menaka dan burung Sakuni. Petunjuk tentang tema besar ini, selain ada pada judul bukunya, juga terdapat pada pembukaan puisi:
"Tubuhku basah lagi, Gusti Allah Burung-burung Sakunta yang dulu bersarang di rambutnya telah datang
Di Penghujan kali ini mungkin aku akan jatuh dalam demam Gigil panjang tak berkesudahan Tapi ijinkan aku bertahan dalam sajak-sajak pendek ini Dan memainkannya dalam sebuah pertunjukan"
Sangat disarankan untuk mengetahui kisah Sakuntala dalam Kitab Adiparwa (bagian pertama dari serangkaian kisah Mahabharata) sebelum membaca kumpulan puisi ini, atau sekurang-kurangnya membaca rangkuman kisah hidup Sakuntala yang bisa ditemukan bebas di internet.
Sebenarnya aku agak berharap penulis membahas tentang kisah Duswanta (dalam buku dieja Dusyanta) dengan Sakuntala. Bukan tentang romansa mereka, melainkan menyorot mungkin tentang amarah dan rasa kecewa saat raja itu tidak menepati janjinya dan bagaimana perempuan lagi-lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam lakon-lakon semacam ini.
Puisi-puisi di dalamnya pendek dan mudah dipahami jika kita menyiapkan sedikit bekal untuk mengetahui riwayat hidup Sakuntala.
Tidur. Tidurlah, Sakuntala Burung-burung Sakuni membangun sarang dalam mimpi Sementara aku merajah namamu di tempat paling sepi dalam hidupku --- Malam ini tak ada cerita buatmu, Sakuntala Gelap sebagaimana malamku biasanya Tapi kabut telah menyembunyikanmu di tepi Malini Melindungimu dari tenung dan sajak-sajak majenun Juga dari dusta Dusyanta --- Barangkali aku tak bisa memilikimu seutuhnya Surgaku cukup Surga Trisangku Cintaku yang banal terlempar dari surga Mengambang ia, Sakuntala, bersama bintang Maka jika malam datang pandanglah Sesekali saja. Sebelum hilang sepenuhnya --- Apakah mesti kausalahkan Menaka yang menggoda Wismamitra Atau Sukesi kepada Wisrawa Angin menyingkap kain Menguarkan bau tubuhmu Menyampaikan cinta yang lain --- Kupeluk tubuhmu, Sakuntala Sebab aku takut kehilangan lagi Tapi kabut Himawan mencuri wajahmu Burung sakuni mematuk kedua mataku Aku menjadi Destarata sebelum waktu Kuraba wajahmu kutemukan bibirmu Dan kujatuhkan cintaku sekali lagi --- Bau rambutmu, Sakuntala bau gunung Himawan yang sepi dan berkabut bau mantra Kanwa yang merambat di sesela rumpun bunga Lantana Aku ingin mati di sana --- Hujan tak sanggup menidurkanmu, Sakuntala Gemericiknya menjaga renjana tetap basah dan berbahaya—seperti belati yang selalu kaubawa
Sarungkan, Sakuntala, sarungkan ke jantungku Agar angin berhenti, waktu mati dan kata-kata tiada lagi --- Di sini gerah, daun diam, dan angin mati Tubuhku berkeringat mengingat ciuman-ciuman kita yang singkat Urat-uratku menggeliat Menghadirkan bau lehermu yang pekat Semalam telah kutuang arak pada tanah Basah memanggil namamu Tentu kau tak mendengarnya Seorang pemabuk hanya mendengar suaranya sendiri: Sakuntala. Sakuntala. --- Di tengah jalan, di tepian hutan Aku singgah di sebuah biara Mengirim doa kecil Tuhan, turunkan tanganMu Peluklah kesepian tubuhnya --- Tak ada yang pernah selesai Juga kerinduan, Sakuntala Ia selalu meminta lebih dari yang seharusnya Aku terbangun dan mendapati segalanya tak pernah cukup mungkin hanya di surga tapi surgaku Surga Trisangku surga yang tak cukup menjadi surga Selamat malam, Dunia --- Tidak kau dengar panggilanku Hujan terlampau deras Cinta terlalu keras Waktu bagai pemburu yang tak sabar melepas panahnya
Sebelum membaca buku ini, saya sudah membaca terlebih dahulu sekilas tentang Sakuntala di wikipedia. Memang harus memahami dahulu sekilas tentang Sakuntala karena tokoh lain dan latar tempat dari cerita asalnya disebut berkali-kali, seperti Himawan dan Malini. Kumpulan puisi ini berkisah tentang penulis yang jatuh hati kepada Sakuntala. Overall, buku ini sangat pendek sekitar 80 halaman saja sehingga cocok untuk bacaan ringan. Untuk orang yang hopeless romantics seperti saya, rasanya berbunga-bunga sekali bacanya sampe terharu sendiri. Menyentuh hati sekali cinta si penulis kepada Sakuntala. Salah satu puisi kesukaan saya ada pada halaman 15 yang berbunyi seperti ini,
"Barangkali aku tak bisa memilikimu seutuhnya Surgaku cukup Surga Trisangku Cintaku yang banal terlempar dari surga Mengambang ia, Sakuntala, bersama bintang Maka jika malam datang pandanglah Sesekali saja, sebelum hilang sepenuhnya"
Puisi di atas mungkin bisa menjadi cuplikan yang cukup untuk memberi gambaran dari isi buku ini. Selamat membaca!
Mencari bacaan angst-y untuk pengantar tidur, lalu terjerat sama cover bergambar sekumpulan ikan berenang yang kalau dilihat lekat-lekat terasa menentramkan.
Kumpulan puisi, yang sesuai judulnya, ditujukan untuk Sakuntala. Himawan adalah gunung, Malini adalah sungai, dan Hastina adalah nama sebuah kota. Sepertinya masih ada hubungannya dengan Mahabharata.
Kalau tau sekilas tentang kisahnya mungkin bisa paham lebih dalam makna puisi-puisi ini. Tapi saya yang nggak tau ceritanya pun masih bisa menikmati rasa patah hati yang disajikan sih.
"Hujan tak mampu menidurkanmu, Sakuntala Gemericiknya menjaga renjana tetap basah dan berbahaya--seperti belati yang selalu kau bawa Sarungkan, Sakuntala, sarungkan ke jantungku Agar angin berhenti, waktu mati, dan kata-kata tiada lagi".
"Sakuntala tengah bernyanyi Entah untuk siapa Malini mendengar dan membawanya pergi ke muara Angin menguping dan membawanya pergi ke tebing-tebing Aku ingin menjadi hujan.. dan merampas lagu itu".
Menurut pendapat saya, untuk lebih memahami puisi ini, kita perlu memiliki sedikit pengetahuan tentang sastra Sansekerta dan mitologi Jawa yang dipengaruhinya. Saya pribadi sudah melakukan sedikit riset dan mengenal tokoh-tokoh seperti Sakuntala, Dushyanta, Sakuni, dll. Nama-nama Jawa sedikit berbeda dari nama2 dalam bahasa Sansekerta dalam karya2 seperti Mahabharata. Banyak puisi2 di buku ini mencerminkan ketidakpastian takdir, kerasnya nasib, dan kerinduan akan sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dimiliki atau dipertahankan. Saya kira penulis juga berhasil menangkap dengan baik ketegangan antara idealisasi dan realitas, baigamana cinta dan hasrat dibentuk oleh persepsi dan ekspektasi. Saya juga amat suka bagaimana pengarangnya terus menggunakan burung2 Sakuni secara metaforis dapat mewakili agen-agen tipu daya, manipulasi, atau skema, seperti pembawa pesan kekacauan.
Di sini gerah, daun diam, dan angin mati Tubuhku berkeringat mengingat ciuman-ciuman kita yang singkat Urat-uratku menggeliat Menghadirkan bau lehermu yang pekat Semalam telah kutuang arak pada tanah Basah memanggil namamu Tentu kau tak mendengarnya Seorang pemabuk hanya mendengar suaranya sendiri: Sakuntala, Sakuntala
Pagi ini di hutan pinus akan kualirkan dongeng bagi kanak-kanak sungai Malini Akan kuceritakan betapa cinta bisa mematikan Dan akan kugambar wajahmu di setiap penjuru Semoga kaudengar ceritaku sebelum lenyap disambar gelap
Cantik, indah, dan syahdu banget. Dari halaman ke halaman berikutnya kayak mengumpulkan potongan fragmen dan menyatukannya seperti puzzle.
Bagaimana aku bisa pergi Jika seluruh malamku bau tubuhmu Mengurungku di delapan penjuru Seperti kabut meringkus Himawan Ia akan datang di sana selamanya Merebahkan diri untuk terus kaudaki Mengeraskan diri u/ menunggumu datang kembali
Jika kesedihan datang peluklah ia Jika kebahagiaan datang peluklah ia ...................................................................... ...................................................................................
Kebahagiaan adalah mendengar dengkurmu yang pelan Kesedihan adalah memeluk tidurmu yang dalam --yang tak bisa sepenuhnya kumiliki Padamu aku mendapatkan keduanya Padamu aku tak bisa memilih salah satu
Sudah lama sejak buku ini terakhir dibaca. Amat sangat beruntung sempat ikut kelas menulis puisi bersama authornya. Istirahat yang tenang, Mas Gunawan. Karyamu abadi.
Sakuntala diceritakan sebagai nama permaisuri Raja Duswanta, leluhur Pandawa dan Korawa dalam wiracarita Mahabharata (Wikipedia). Melalui penelusuran tersebut, saya juga mengetahui Sakuntala diperistri oleh Raja Duswanta yang melahirkan Sarwadamana.
Puisinya tanpa judul, secara keseluruhan menceritakan riwayat Sakuntala. Mohon dikoreksi apabila saya keliru, menurut saya sudut pandang yang diambil dari Raja Duswanta.
Puisi favorit saya ada di halaman 50.
Kebahagiaan adalah mendengar dengkurmu yang pelan Kesedihan adalah memeluk tidurmu yang dalam -yang tak bisa sepenuhnya kumiliki Padamu aku mendapatkan keduanya Padamu aku tak bisa memilih salah satu
Di sini waktu melambat, Sakuntala, Jika tak bisa dibilang mati Sementara kangenku memburu-buru Sedang apa kau di sana? Apakah hujan sudah berhenti? Apakah kali Malini telah tenang kembali? Apakah cinta kita baik-baik saja