Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sakuntala

Rate this book
Di sini waktu melambat, Sakuntala,
Jika tak bisa dibilang mati
Sementara kangenku memburu-buru
Sedang apa kau di sana?
Apakah hujan sudah berhenti?
Apakah kali Malini telah tenang kembali?
Apakah cinta kita baik-baik saja

82 pages, Paperback

First published July 16, 2018

7 people are currently reading
127 people want to read

About the author

Gunawan Maryanto

22 books18 followers
Gunawan Maryanto. Bergiat sebagai penulis dan sutradara dari Teater Garasi: Laboratorium Penciptaan Teater. Saat ini menetap di Jogja. Karya-karya tulisnya berupa prosa dan puisi serta kritik seni pertunjukan terpublikasikan lewat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, BlockNotProse, BlockNotPoetry, On/Off, Jurnal Kolong Budaya, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Kalam dan LeBur Theater Quarterly. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad, IndonesiaTera 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, InsistPress 2005, Longlist Khatulistiwa Award 2005) dan Galigi (kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan 2007, LongList Khatulistiwa Award 2007). Pada tahun 2004 puisinya yang berjudul Kupanggil Kau Batu mendapat nominasi Anugrah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 puisi Jineman Uler Kambang mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik katagori puisi. 1 cerpen dan 3 puisinya masuk ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama). Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
20 (19%)
4 stars
30 (28%)
3 stars
47 (45%)
2 stars
7 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
August 23, 2018
Tapi cintaku terlalu besar, Sakuntala
Terlalu berdosa untuk mencuri satu kalimat saja
Aku ingin memperpanjang napasku
Dan mengisi paru-paruku dengan bau tubuhmu.
Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
August 12, 2018
Buku #16 di tahun 2018

Sebelum membaca buku puisi ini saya sangat menganjurkan anda untuk membaca kisah Sakuntala. Karena pengarang buku puisi ini langsung nyerocos menyebut nama-nama di dalam puisinya tanpa ada penjelasan. Sepertinya dia berasumsi bahwa anda mengerti kisah Sakuntala lengkap beserta tokoh-tokohnya: Dusyanta, Sarwadamana, Kanwa, Menaka, Wiswamitra, dsb, plus nama tempat-tempat di kisah itu: Malini dan Himawan misalnya. Disamping itu puisi ini juga banyak menyebut nama tokoh dan tempat dari dunia pewayangan. Mungkin bisa cukup mengganggu buat anda yang tidak tahu hal ihwal tentang tokoh atau tempat ini.

Jika anda tak punya banyak waktu untuk membaca kisah Sakuntala, buka saja wikipedia: Shakuntala (dalam bahasa Inggris) dan Sakuntala (dalam bahasa Indonesia). Saya anjurkan baca dua-duanya, karena versinya agak berbeda, sebelum mulai membaca buku ini. Lalu terkait nama di dunia pewayangan: saat anda mendapati nama dunia pewayangan tersebut, anda bisa langsung googling nama itu atau terus saja tanpa ingin tahu siapa dia, jika itu tidak terasa mengganggu buat anda.

Oke, Puisi-puisi di buku ini adalah puisi-puisi pendek tanpa judul, yang saling bersambung dan mengisahkan si aku yang begitu mencintai Sakuntala, namun sayangnya cinta Sakuntala sudah ditambatkan kepada Dusyanta, yang sayangnya sepertinya tidak menunjukkan perasaan yang sama kepada Sakuntala (menurut pendapat si aku). Jadi sepanjang 70 halaman anda akan mendapatkan curahan perasaan atau kebaperan si aku (per halaman hanya terisi sepertiga atau setengah halaman karena kebanyakan puisi hanya puisi pendek) yang mengharu biru dan kalau mau diringkas bisa digambarkan dalam satu kalimat seperti judul lagunya Spin Doctors tahun 90-an dulu yaitu: “How Could You Want Him (When You Know You Could Have Me)?” Hehehe.
Eh tapi ya namanya cinta ya? Cinta tak bisa... tak bisa kausalahkan. :-)

Saya beri bintang 4 untuk buku ini karena saya suka semua puisi yang berbau dunia pewayangan, plus setelah membaca perasaan cinta yang ditampilkan dengan lebay tapi puitis ini, entah mengapa hati saya bisa tersentuh. :-)

Oh iya di halaman persembahan di awal buku ini dituliskan “Puisi-puisi pendek untuk: Dian Suci Rahmawati”. Setelah saya browsing, seorang wanita seniwati dengan nama seperti itu yang dikenal sang penulis (terlihat dari postingannya di dunia maya) ternyata adalah seorang ilustrator andal dengan akun instagram: @ultramanminmun
Apakah puisi-puisi ini adalah ungkapan hati sang penulis untuk wanita itu yang sayangnya masih terikat pada perasaannya kepada Dusyanta-nya? Atau hanya sekadar nasihat sang penulis kepada temannya? Atau ada hal lainnya?
Yah kita tunggu saja klarifikasi dari sang penulis tentang hal ini. :-)

Oh iya puisi yang paling membuat saya sedikit terharu biru adalah puisi ini:

Halaman 66:
Di ujung tahun yang buruk ini
aku jatuh cinta kepadamu, Sakuntala
Langit meledak-ledak
Bunga api menjadi-jadi
Dan Himawan tetap berdiam dalam kabut
Aku tahu ada yang luput
Tapi aku tak bisa membunuh
apa yang telah tumbuh
Kebun kosong seharusnya tetap kosong
Bunga api biarlah jadi bunga api
Tahun-tahun akan tetap sama
Melingkar-lingkar seperti perasaan
Seperti jalan setapak yang selalu kaurindukan
Tapi aku kadung jatuh cinta
Dan merusak yang semestinya berlaku
Di ujung tahun, Sakuntala
aku gigil oleh perasaan yang ganjil


Halaman 67:
Aku tak lagi memintamu untuk singgah
Aku memintamu untuk berumah
Pada Himawan, Malini
dan burung-burung Sakuni
Aku berjanji:
Kijang yang terluka akan pulang

Di tubuhmu waktu berlari
Lebih cepat dari seharusnya
Di tubuhku ada yang meluap-luap
Lebih dari yang kuduga



Puitis dan mengharu biru kan?
Hehehe.....

Gituuu....
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
August 18, 2018
Sampul yang cantik untuk puisi panjang Mas Gunawan yang memang cantiknya selalu demikian.
Kurang, banyak puisinya.
Profile Image for Heireina.
80 reviews40 followers
January 7, 2022
Yang coba dibangun Gunawan Maryanto dalam antologi puisinya adalah kerinduan yang mendalam pada Sakuntala dan lanskap tempat nenek Dinasti Kuru itu dibesarkan. Gunung Himawan, Sungai Malini, dua 'ibu' Sakuntala: Menaka dan burung Sakuni. Petunjuk tentang tema besar ini, selain ada pada judul bukunya, juga terdapat pada pembukaan puisi:

"Tubuhku basah lagi, Gusti Allah
Burung-burung Sakunta
yang dulu bersarang di rambutnya telah datang

Di Penghujan kali ini
mungkin aku akan jatuh dalam demam
Gigil panjang tak berkesudahan
Tapi ijinkan aku bertahan
dalam sajak-sajak pendek ini
Dan memainkannya
dalam sebuah pertunjukan"

Sangat disarankan untuk mengetahui kisah Sakuntala dalam Kitab Adiparwa (bagian pertama dari serangkaian kisah Mahabharata) sebelum membaca kumpulan puisi ini, atau sekurang-kurangnya membaca rangkuman kisah hidup Sakuntala yang bisa ditemukan bebas di internet.

Sebenarnya aku agak berharap penulis membahas tentang kisah Duswanta (dalam buku dieja Dusyanta) dengan Sakuntala. Bukan tentang romansa mereka, melainkan menyorot mungkin tentang amarah dan rasa kecewa saat raja itu tidak menepati janjinya dan bagaimana perempuan lagi-lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam lakon-lakon semacam ini.

Puisi-puisi di dalamnya pendek dan mudah dipahami jika kita menyiapkan sedikit bekal untuk mengetahui riwayat hidup Sakuntala.
55 reviews1 follower
September 10, 2023
Kerasa banget cintanya.. cinta yang terlalu untuk Sakuntala.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
March 28, 2022
Gunawan Maryanto
Sakuntala
Gramedia Pustaka Utama
82 halaman
7.0
Profile Image for Rari Rahmat.
38 reviews7 followers
September 25, 2020
buku bacaan 2020 ke-46

Tidur. Tidurlah, Sakuntala
Burung-burung Sakuni
membangun sarang dalam mimpi
Sementara aku merajah namamu
di tempat paling sepi dalam hidupku
---
Malam ini tak ada cerita buatmu, Sakuntala
Gelap sebagaimana malamku biasanya
Tapi kabut telah menyembunyikanmu di tepi Malini
Melindungimu dari tenung dan sajak-sajak majenun
Juga dari dusta Dusyanta
---
Barangkali aku tak bisa memilikimu seutuhnya
Surgaku cukup Surga Trisangku
Cintaku yang banal terlempar dari surga
Mengambang ia, Sakuntala, bersama bintang
Maka jika malam datang pandanglah
Sesekali saja. Sebelum hilang sepenuhnya
---
Apakah mesti kausalahkan Menaka
yang menggoda Wismamitra
Atau Sukesi kepada Wisrawa
Angin menyingkap kain
Menguarkan bau tubuhmu
Menyampaikan cinta yang lain
---
Kupeluk tubuhmu, Sakuntala
Sebab aku takut kehilangan lagi
Tapi kabut Himawan mencuri wajahmu
Burung sakuni mematuk kedua mataku
Aku menjadi Destarata sebelum waktu
Kuraba wajahmu kutemukan bibirmu
Dan kujatuhkan cintaku sekali lagi
---
Bau rambutmu, Sakuntala
bau gunung Himawan yang sepi dan berkabut
bau mantra Kanwa yang merambat
di sesela rumpun bunga Lantana
Aku ingin mati di sana
---
Hujan tak sanggup menidurkanmu, Sakuntala
Gemericiknya menjaga renjana tetap basah
dan berbahaya—seperti belati yang selalu kaubawa

Sarungkan, Sakuntala, sarungkan ke jantungku
Agar angin berhenti, waktu mati
dan kata-kata tiada lagi
---
Di sini gerah, daun diam, dan angin mati
Tubuhku berkeringat mengingat
ciuman-ciuman kita yang singkat
Urat-uratku menggeliat
Menghadirkan bau lehermu yang pekat
Semalam telah kutuang arak pada tanah
Basah memanggil namamu
Tentu kau tak mendengarnya
Seorang pemabuk hanya mendengar
suaranya sendiri:
Sakuntala. Sakuntala.
---
Di tengah jalan, di tepian hutan
Aku singgah di sebuah biara
Mengirim doa kecil
Tuhan, turunkan tanganMu
Peluklah kesepian tubuhnya
---
Tak ada yang pernah selesai
Juga kerinduan, Sakuntala
Ia selalu meminta lebih
dari yang seharusnya
Aku terbangun dan mendapati
segalanya tak pernah cukup
mungkin hanya di surga
tapi surgaku Surga Trisangku
surga yang tak cukup menjadi surga
Selamat malam, Dunia
---
Tidak kau dengar panggilanku
Hujan terlampau deras
Cinta terlalu keras
Waktu bagai pemburu
yang tak sabar melepas panahnya
6 reviews
April 26, 2022
Sebelum membaca buku ini, saya sudah membaca terlebih dahulu sekilas tentang Sakuntala di wikipedia. Memang harus memahami dahulu sekilas tentang Sakuntala karena tokoh lain dan latar tempat dari cerita asalnya disebut berkali-kali, seperti Himawan dan Malini. Kumpulan puisi ini berkisah tentang penulis yang jatuh hati kepada Sakuntala.
Overall, buku ini sangat pendek sekitar 80 halaman saja sehingga cocok untuk bacaan ringan. Untuk orang yang hopeless romantics seperti saya, rasanya berbunga-bunga sekali bacanya sampe terharu sendiri. Menyentuh hati sekali cinta si penulis kepada Sakuntala. Salah satu puisi kesukaan saya ada pada halaman 15 yang berbunyi seperti ini,

"Barangkali aku tak bisa memilikimu seutuhnya
Surgaku cukup Surga Trisangku
Cintaku yang banal terlempar dari surga
Mengambang ia, Sakuntala, bersama bintang
Maka jika malam datang pandanglah
Sesekali saja, sebelum hilang sepenuhnya"

Puisi di atas mungkin bisa menjadi cuplikan yang cukup untuk memberi gambaran dari isi buku ini. Selamat membaca!
Profile Image for pradnia pramitha.
91 reviews2 followers
June 26, 2022
Mencari bacaan angst-y untuk pengantar tidur, lalu terjerat sama cover bergambar sekumpulan ikan berenang yang kalau dilihat lekat-lekat terasa menentramkan.

Kumpulan puisi, yang sesuai judulnya, ditujukan untuk Sakuntala.
Himawan adalah gunung, Malini adalah sungai, dan Hastina adalah nama sebuah kota. Sepertinya masih ada hubungannya dengan Mahabharata.

Kalau tau sekilas tentang kisahnya mungkin bisa paham lebih dalam makna puisi-puisi ini. Tapi saya yang nggak tau ceritanya pun masih bisa menikmati rasa patah hati yang disajikan sih.

"Hujan tak mampu menidurkanmu, Sakuntala
Gemericiknya menjaga renjana tetap basah dan berbahaya--seperti belati yang selalu kau bawa
Sarungkan, Sakuntala, sarungkan ke jantungku
Agar angin berhenti, waktu mati, dan kata-kata tiada lagi".

"Sakuntala tengah bernyanyi
Entah untuk siapa
Malini mendengar dan membawanya pergi ke muara
Angin menguping dan membawanya pergi ke tebing-tebing
Aku ingin menjadi hujan.. dan merampas lagu itu".
Profile Image for Arif.
22 reviews
December 15, 2024
Menurut pendapat saya, untuk lebih memahami puisi ini, kita perlu memiliki sedikit pengetahuan tentang sastra Sansekerta dan mitologi Jawa yang dipengaruhinya. Saya pribadi sudah melakukan sedikit riset dan mengenal tokoh-tokoh seperti Sakuntala, Dushyanta, Sakuni, dll. Nama-nama Jawa sedikit berbeda dari nama2 dalam bahasa Sansekerta dalam karya2 seperti Mahabharata. Banyak puisi2 di buku ini mencerminkan ketidakpastian takdir, kerasnya nasib, dan kerinduan akan sesuatu yang tak bisa sepenuhnya dimiliki atau dipertahankan. Saya kira penulis juga berhasil menangkap dengan baik ketegangan antara idealisasi dan realitas, baigamana cinta dan hasrat dibentuk oleh persepsi dan ekspektasi. Saya juga amat suka bagaimana pengarangnya terus menggunakan burung2 Sakuni secara metaforis dapat mewakili agen-agen tipu daya, manipulasi, atau skema, seperti pembawa pesan kekacauan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
May 26, 2019
116 - 2019

Buku puisi pertama dari Gunawan Maryanto yang saya baca.
Puisinya pendek-pendek, alhasil buku ini bisa kelar dalam sekali duduk.

Bagi yang gak tau Sakuntala perlu searching dulu biar paham siapa dia dan katakanlah puisi ini dibuat sang raja until Sakuntala, penuh cinta gitu.

Keseluruhan suka puisinya, cuma kurang banyak aja 😀
Profile Image for Boyke Rahardian.
347 reviews22 followers
October 29, 2020
Di sini gerah, daun diam, dan angin mati
Tubuhku berkeringat mengingat
ciuman-ciuman kita yang singkat
Urat-uratku menggeliat
Menghadirkan bau lehermu yang pekat
Semalam telah kutuang arak pada tanah
Basah memanggil namamu
Tentu kau tak mendengarnya
Seorang pemabuk hanya mendengar
suaranya sendiri:
Sakuntala, Sakuntala
2 reviews4 followers
November 14, 2020
Di tengah jalan, di tepian hutan
Aku singgah di sebuah biara
Mengirim doa kecil
Tuhan, turunkan tanganMu
Peluklah kesepian tubuhnya

48 ribu rupiah terbaik yang kukeluarkan. Setiap halamannya, 70-70nya, aku suka!

Note: Ada baiknya sudah membaca kisah Sakuntala (tokoh Mahabharata) sebelum memulai buku puisi ini. Ya bukan ada baiknya sih tapi sepatutnya
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
July 20, 2021
Pagi ini di hutan pinus akan kualirkan dongeng
bagi kanak-kanak sungai Malini
Akan kuceritakan betapa cinta bisa mematikan
Dan akan kugambar wajahmu di setiap penjuru
Semoga kaudengar ceritaku
sebelum lenyap disambar gelap


Cantik, indah, dan syahdu banget. Dari halaman ke halaman berikutnya kayak mengumpulkan potongan fragmen dan menyatukannya seperti puzzle.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
June 17, 2020
Bagaimana aku bisa pergi
Jika seluruh malamku bau tubuhmu
Mengurungku di delapan penjuru
Seperti kabut meringkus Himawan
Ia akan datang di sana selamanya
Merebahkan diri untuk terus kaudaki
Mengeraskan diri u/ menunggumu
datang kembali
Profile Image for Lasttia.
28 reviews
March 3, 2021
Jika kesedihan datang peluklah ia
Jika kebahagiaan datang peluklah ia
......................................................................
...................................................................................

Bagian paling berkesan.
Profile Image for Ayu Dipta.
Author 1 book1 follower
April 3, 2022
Kebahagiaan adalah mendengar dengkurmu yang pelan
Kesedihan adalah memeluk tidurmu yang dalam
--yang tak bisa sepenuhnya kumiliki
Padamu aku mendapatkan keduanya
Padamu aku tak bisa memilih salah satu
Profile Image for M. Agung Triwijaya.
80 reviews4 followers
November 7, 2018
Cara mempelajari wayang lewat puisi. Sebuah karya yang bagus. Tokoh sakuntala sangat hidup. Dan mungkin aku menyukai sakuntala.
Profile Image for Febijanne.
9 reviews1 follower
August 16, 2023
Sudah lama sejak buku ini terakhir dibaca. Amat sangat beruntung sempat ikut kelas menulis puisi bersama authornya. Istirahat yang tenang, Mas Gunawan. Karyamu abadi.
Profile Image for Yefta.
32 reviews
February 19, 2024
Tenggelam satu jam dalam surat cinta dari Gunawan Maryanto.
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews40 followers
August 12, 2020
Sakuntala diceritakan sebagai nama permaisuri Raja Duswanta, leluhur Pandawa dan Korawa dalam wiracarita Mahabharata (Wikipedia). Melalui penelusuran tersebut, saya juga mengetahui Sakuntala diperistri oleh Raja Duswanta yang melahirkan Sarwadamana.

Puisinya tanpa judul, secara keseluruhan menceritakan riwayat Sakuntala. Mohon dikoreksi apabila saya keliru, menurut saya sudut pandang yang diambil dari Raja Duswanta.

Puisi favorit saya ada di halaman 50.

Kebahagiaan adalah mendengar dengkurmu yang pelan
Kesedihan adalah memeluk tidurmu yang dalam
-yang tak bisa sepenuhnya kumiliki
Padamu aku mendapatkan keduanya
Padamu aku tak bisa memilih salah satu
Profile Image for Winny.
93 reviews
November 16, 2024
Di sini waktu melambat, Sakuntala,
Jika tak bisa dibilang mati
Sementara kangenku memburu-buru
Sedang apa kau di sana?
Apakah hujan sudah berhenti?
Apakah kali Malini telah tenang kembali?
Apakah cinta kita baik-baik saja
Displaying 1 - 27 of 27 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.