Karakter Ksatria Samurai
Oleh: Nugraha Hidayat
“Akan kuajarkan padamu hal yang paling utama yang bisa kau pelajari dalam pertarungan,”kata sensei. “Jika kau tak bisa menundukkan dirimu sendiri, kau takkan bisa menundukkan orang lain.. Kalau kau bertarung dengan amarah, frustasi, atau kesombongan, kau tidak akan bisa menang. Kau harus bertarung dari ketiadaan, membiarkan pedangmu mencari jalannya sendiri. Kalau kau biarkan emosi menguasaimu dalam pertarungan, meski kau bisa menaklukkan musuhmu, kau belumlah menang. Paham itu?”
Pertama kali saya membaca buku pertama Kaze (Dale Furutani), saya sangat menyukai Karakter Matsuyama Kaze. Dan kalau memang kemudian Los Angeles Times memberikan pujian kepada Dale Furutani atas kepiawaiannya dalam membuat karakter, menurut saya “tuduhan” itu memang berdasar.
Kisahnya sendiri dilatari setting Perang Sekigahara, yang dimenangkan oleh klan Tokugawa, yang dipimpin oleh Ieyasu. Sebenarnya Ieyasu tidak memiliki kemampuan perang yang mengagumkan, bahkan cenderung kacau balau. Ieyasu bisa memenangkan peperangan karena ia memberikan suap kepada para komandan pasukan yang seharusnya bersikap netral.
Kaze kehilangan seluruh orang di klan majikannya, kecuali putri tuannya. Bagi seorang samurai yang kehilangan tuannya pada saat peperangan, ia akan menjadi seorang Ronin dan terkatung-katung. Setelah itu biasanya mereka bekerja menjadi pengawal barang, pengawal rumah judi atau seniman jalanan. Dan Edo menjadi pusat kota, setelah Klan Tokugawa berkuasa.
Nilai-nilai individu yang dimiliki Kaze, akan sangat sulit kita temukan di dunia sekarang. Apalagi suap sudah menjadi kebiasaan para “birokrat” kita yang duduk di pemerintahan. Suap bahkan cenderung menjadi karakter bangsa, karena sudah menggurita di kalangan pegawai pemerintahan.
Bagi Kaze kehormatan itu lebih dari segalanya. Ia rela Mati demi kehormatan klan yang membesarkan dirinya dan keluarganya. Oleh karena itu Kaze terus berusaha melaksanakan pesan terakhir dari majikannya.
Kaze bukan Ronin, meski dalam pandangan masyarakat Jepang saat itu ia adalah ronin. Ia adalah Seorang ksatria yang mencari putri dan “Tuan-nya”, yang menghilang karena diculik oleh musuh besarnya, karena alasan balas dendam. Seorang Ksatria yang memiliki tujuan yang jelas, tidak seperti ronin-ronin lainnya yang bertebaran di Jepang. Bahkan, boleh dianggap Ksatria yang punya banyak keahlian dan tidak pernah putus asa.
Melalui buku ini, pesan-pesan Dale Furuutani jelas terbaca, baik melalui budaya ataupun kepribadian setiap individu.
Membaca Pembunuhan sang Shogun karya Dale Furutani, kita diajak kembali merenungkan falsafah hidup kita. Menggali potensi tersembunyi yang ada dalam diri kita. Dan melesatkannya ke depan seperti anak panah Arjuna.
Selamat Membaca.