Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jodoh: Kumpulan Cerpen

Rate this book
Kumpulan cerpen karya A.A. Navis ini berisi 10 cerita pendek, yaitu: Jodoh (yang menjadi judul kumpulan cerpen), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin, Kisah seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu.

126 pages, Paperback

First published January 1, 1999

43 people are currently reading
564 people want to read

About the author

A.A. Navis

21 books97 followers
Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.

His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.

A.A. Navis passed away at age 79.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
71 (28%)
4 stars
86 (33%)
3 stars
79 (31%)
2 stars
7 (2%)
1 star
10 (3%)
Displaying 1 - 30 of 49 reviews
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
October 30, 2018
Mengapa setiap cerita dalam kumcer bertema Jodoh ini membuat saya merasa seperti ada kesamaan yang erat kaitannya dengan kondisi masa kini? Hanya saja, saya masih belum tahu, apakah di Sumatera sana, adat istiadat pernikahan masih sekental masa lalu, atau sudah mulai luntur? Tapi, persoalan demi persoalan terkait jodoh ini masih cukup relevan kondisinya. Satu yang saya sukai, sebuah kisah tentang perempuan yang bahkan tidak tahu apakah dia bisa dicintai atau tidak oleh pasangannya. Namun, akhirnya, dia mengetahui bahwa pernikahan tersebut didasari pada rasa Saling Menghormati. Ah, pun betapa sulit mencintai seseorang pada sebuah pernikahan, bukan berarti tidak bisa saling menghormati dan menghargai, kan? Sungguh, saya tidak bosan sama sekali membaca dan menekuri tulisan A.A Navis.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 13, 2018
Ini antologi tentang orang-orang yg berjodoh, mencari jodoh, mendapat jodoh dan kehilangan jodohnya. Ditulis dari tahun 60-an hingga 90-an, dan rentang 30 tahun ini membuat tema-temanya beragam dan sudut pandangnya terasa segar, tajam namun tidak menggurui.

Dibandingkan Kemarau, aku lebih suka kumcer ini, dan beberapa cerpen di sini pas sekali dengan selera dan jalan pikirku, walau pun ditulis jauh sebelum aku lahir. Lawas tapi gak ketinggalan zaman. Klasik.

#GD
Profile Image for Kimi.
402 reviews30 followers
April 29, 2023
Jodoh merupakan kumpulan cerpen dari A.A. Navis. Memiliki 10 cerita pendek dengan masing-masing judul "Jodoh", "Cerita 3 Malam", "Kisah Seorang Hero", "Cina Buta", "Perebutan", "Kawin", "Kisah seorang Pengantin", "Maria", "Nora", dan "Ibu". Meski berlatar belakang puluhan tahun silam, tetapi ceritanya masih relevan sampai saat ini. Oleh karena itulah, saya memberikan nilai sempurna, selain perkara gaya tulisannya menarik (bergaya tulisan lama) dan memberikan banyak kosakata yang jarang saya temui.
Profile Image for Agoes.
512 reviews36 followers
May 2, 2019
Bagus dan terasa cukup menarik untuk dibaca karena cukup kental dengan budaya asal sang penulis, yaitu budaya Minang. Meskipun saya baca di tahun 2019, beberapa masalah yang dialami oleh tokoh-tokohnya (yang mungkin ditulis belasan tahun yang lalu) masih tetap relevan karena persoalannya sangat manusiawi, yaitu tentang hubungan jodoh.
Profile Image for Maisya Farhati.
Author 3 books16 followers
September 5, 2020
Buku kumpulan cerpen karya A.A. Navis kedua yang saya baca setelah 'Robohnya Surau Kami'. Sebagaimana judulnya, 10 cerpen dalam buku 'Jodoh' ini memiliki benang merah tentang lika-liku manusia dan jodohnya, termasuk kisah perjodohan.

Kebanyakan cerita ditulis pada tahun 1950-an, hanya beberapa yang ditulis pada tahun 1990-an (buku ini terbit kali pertama pada tahun 1999). Rentang waktu tersebut cukup memberikan ragam konteks yang menarik dalam ceritanya. Menariknya lagi, kisah jodoh dan perjodohan ini ternyata dari dulu hingga kini kurang lebih masih sama, sehingga ceritanya masih relevan meskipun sudah lebih dari 50 tahun berselang.

Dalam beberapa cerita, penulis menonjolkan kekuatan tokoh perempuan dan menyisipkan pandangannya tentang kesetaraan gender. Mungkin ini adalah hal biasa bagi kita saat ini, namun jika ditarik lagi ke masa cerita tersebut ditulis, mungkin pemikiran ini cukup 'nyeleneh' pada masanya. Hal ini misalnya bisa dilihat pada cerpen berjudul 'Maria'.

Pada beberapa cerpen, awalnya secara subjektif saya agak gusar karena tokoh laki-lakinya tidak setia kepada pasangannya, atau setidaknya ada ketertarikan kepada wanita selain istrinya. Namun ternyata penulis akhirnya membalikkan plot tersebut dan secara implisit berpesan bahwa jangan sampai kita dibutakan oleh kesenangan sesaat.

Sebagaimana buku sebelumnya, penulis memasukkan latar tempat dan budaya asalnya, yaitu Minang. Misalnya, ketika keluarga perempuan bermaksud meminang calon laki-lakinya, juga tentang ikatan kekerabatan yang kuat. Meskipun demikian, latar ini 'hanya' sebagai konteks, bukan menjadi kekuatan deskripsi latar tempat yang menonjolkan keindahan alam tanah Minang.
84 reviews1 follower
July 19, 2018
Kumpulan cerita ini diterbitkan ulang oleh Gramedia.
Ini pertama kalinya saya membaca tulisan A.A. Navis, padahal sudah sering sekali nama ini disebut di pelajaran Bahasa Indonesia.
Membaca cerita-cerita yang ditulis pada tahun 50-60an memberikan nuansa yang berbeda sekali, betapa zaman sudah berubah, kebudayaan pun berubah walaupun hal yang masih dibicarakan masih sama, yaitu mengenai jodoh :)
Ada beberapa kosakata yang tidak saya mengerti karena jarang digunakan saat ini, tapi cerita-ceritanya mudah dimengerti dan menarik.
Profile Image for Puspa.
168 reviews2 followers
August 10, 2020
Ah kalau aku tak melihat nama pengarangnya mungkin buku ini akan lewat begitu saja. Ada kalanya aku memilih buku gara-gara isinya. Ada saatnya aku penasaran karena covernya. Dan banyak pula aku membeli buku oleh nama pengarangnya. Buku ini masuk alasan ketiga.

“Jodoh” merupakan kumpulan cerita pendek A.A. Navis. Ia berisikan sepuluh cerita. Sembilan berkaitan dengan perjodohan dan satunya tentang kisah seorang ibu.

Dua di antara karya ini meraih penghargaan. Cerpennya yang berjudul “Jodoh” meraih penghargaan tahun 1975, pemenang Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep. Satunya lagi, “Kawin” mendapatkan penghargaan dari majalah Femina pada tahun 1979.

Benang merah dari cerita-cerita pendek ini adalah segala hal berkaitan dengan pernikahan dan perjodohan. Meskipun saat itu tahun 1970-an ke atas pemikiran masyarakat sudah modern, banyak terjadi perjodohan paksa oleh keluarga. ‘Korbannya’ bisa siapa saja. Ia bisa pria dan wanita yang memiliki pendidikan tinggi. Ketika kedua orang tua sudsh berencana dan menentukan, maka si anak tak bisa berbuat apa-apa karena takut disebut durhaka.

Membaca cerita satu dan lainnya aku jadi teringat akan tembang “Cukup Siti Nurbaya” milik Dewa 19.

“…katakan pada Mama. Cinta bukan hanya harta dan tahta.
Pastikan pada semua. Hanya cinta yang sejukkan dunia…”
(Bukan itu Mama, bukan itu Papa)

Tema-tema nikah paksa sering mewarnai karya sastra pada masa angkatan Balai Pustaka. Cerita seperti “Azab dan Sengsara, “Salah Asuhan”, ” Di Bawah Lindungan Kabah” lekat dengan unsur pernikahan paksa. Sisi perempuan lebih banyak yang merana.

Dalam cerpen berjudul “Jodoh”, Navis bercerita tentang seorang pemuda yang sudah diburu-buru untuk menikah karena usianya. Ia dulunya pria yang idealis dan penuh semangat. Ia tak mempermasalahkan kapan waktu untuk menikah hingga usianya mendekati tigapuluh dan kawan-kawannya sudah berkeluarga.

Badri, nama si pemuda tersebut merasa gelisah. Pendapatannya tak besar. Ia ragu gajinya cukup untuk berdua, apalagi jika sudah bertiga berempat dan seterusnya dengan bertambahnya anak-anak mereka kelak. Untuk itu ia membuat rencana. Ia akan memilih pendampingnya dengan syarat-syarat yang dibuatnya agar membuatnya merasa tenang dengan soal pendapatannya yang tak seberapa.

Ia lalu menyusun kriteria. Gadis yang akan menjadi istrinya kelak adalah memiliki tinggi badan minimal 160 cm agar anak keturunannya nanti juga cukup tinggi. Selanjutnya ia berharap calon mertuanya tak masalah dengan sosok menantu yang berdarah campuran seperti dirinya. Ketiga, si gadis sebaiknya juga bekerja. Syukur-syukur pegawai negeri dan seorang guru sekolah.

Adakah yang memenuhi kriterianya. Sebenarnya ada sosok tak jauh dari dirinya yang juga mulai cemas disebut perawan tua. Tapi ia marah kepadanya karena Badri juga sering mengajak Rosnia untuk jalan-jalan. Akhirnya ia pun berkawan dengan rubrik ‘Kontak Jodoh’ dan ada tiga gadis memenuhi persyaratannya.

Dengan penuh semangat Badri menghubungi pengasuh rubrik ‘Kontak Jodoh’ dan melakukan janji pertemuan dengan si dia. Tapi betapa terkejutnya Badri gadis itu tak lain adalah Lena. Lena pun malu dan marah mengetahui pemuda itu adalah Badri.

Ceritanya kocak. Memang cerita ini paling menarik di antara lainnya. Siapa nyana gadis yang ‘disepelekannya’ ternyata sebenarnya memenuhi kriterianya. Ceritanya lugas dan enak dibaca.

Cerpen lainnya berjudul “Kawin” menceritakan pemuda perantauan Minang di Jawa yang buru-buru pulang karena dikabarkan ibunya sakit parah. Di sana ia menemukan keramaian dan persiapan pernikahan. Rupanya ia sudah disiapkan pesta. Pesta pernikahan antara dia dan gadis yang terhitung masih sepupunya. Ia lemas dan ingin berontak. Apalagi ia sudah punya kekasih di tanah Jawa.

Cerita lainnya banyak yang berakhir tragis. Ada kisah yang tak kalah pilu berjudul “Kisah Seorang Pengantin”. Dikisahkan ada perempuan muda berusia 23 tahun yang selama ini sibuk mengasuh adik-adik tirinya. Ia kemudian dinikahkan oleh ayah tiri dan ibu tirinya dengan seorang pemuda tampan. Sayangnya si pemuda tak pernah menyukainya.

Ia berang dipaksa menikah dengan si gadis pilihan ibu. Si ibu sendiri egois. Ia memaksa anak laki-lakinya menikah dengan gadis tersebut karena ia tidak cantik. Ia kuatir gadis cantik akan merebut perhatian anak laki-lakinya. Dengan ancaman cap durhaka anak laki-laki tersebut melampiaskan kemarahannya ke perempuan yang menjadi istrinya tersebut. Si perempuan yang hanya mengikuti kemauan kedua orang tua tirinya itu merasa merana. Ia lalu bertekad bulat untuk berpisah. Menjadi janda lebih baik daripada hatinya terus disiksa oleh perang dingin antara suami dan mertuanya.

Di sini yang menarik sosok si gadis digambarkan tabah dan tegar. Mereka kadang-kadang tak bisa menghindar dari perjodohan tapi mereka juga bisa berpikir dewasa karena manusia sebenarnya merdeka. Jika hidup selalu dipaksa dengan ‘ancaman’ ini dan itu maka sebagian jiwa-jiwa akan berontak dan berharap tak ingin dilahirkan.

Kisah dalam buku ini memiliki latar belakang Minang. Jika membacanya maka akan terlihat kultur Minang pada tahun 70-an terasa berbeda dengan masa kini, terutama dari sisi kehidupan perempuannya.

Sebuah kumpulan cerita pendek yang apik bahwa hidup tak selalu manis. Ada bagian perjalanan hidup yang asin, getir dan juga pahit.

Ulasan juga tayang di: https://dewipuspasari.net/2020/05/07/...
Profile Image for Faisal Chairul.
267 reviews17 followers
January 3, 2022
Ali Akbar Navis (A. A. Navis), sastrawan asal Minangkabau, merupakan salah satu sastrawan yang dikategorikan dalam kelompok sastrawan angkatan 1950-1960 bersama Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Nh. Dini, Ajip Rosidi, dan lainnya. Jodoh: Kumpulan Cerpen merupakan kumpulan cerpen pertama A. A. Navis yang gw baca. Berisi 10 kumpulan cerita yang ditulis dalam rentang waktu 1955 - 1996 tentang persoalan kehidupan pelaku sebelum dan sesudah mendapatkan jodoh. Cerita favorit ada beberapa diantaranya Cina Buta, Jodoh, Kawin, dan Maria. Kumcer ini bisa dikatakan sebagai suatu karya klasik, yang walaupun beberapa karya sudah berumur hampir setengah abad, tetapi pesan moral yang terkandung di dalamnya akan selalu terasa relevan kapanpun karya tersebut dibaca. Alasan tersebut pula yang membuat karya satu ini pantas diberikan 5 bintang, selain visi beberapa cerita yang jauh melampaui zamannya saat itu.

Latar belakang cerita memang didominasi oleh budaya Minangkabau masa lampau. Tuntutan sosial yang tidak hanya menuntut perempuan, tetapi juga laki-laki, untuk segera menikah, seperti yang terlihat dalam cerita berjudul 'Kawin'. Seorang laki-laki perantauan diminta pulang hanya untuk dipaksa menerima perjodohan oleh pamannya (mamak), sebagai penghulu kaum dan tungganai rumah (seorang yang berkuasa di dalam suatu rumah adat Minangkabau), dengan alasan menjaga hati agar tetap terpaut dengan 'rumah'. Diceritakan pula di dalam yang sama bagaimana pandangan perempuan Minang, anak Mamak si tokoh, merespons perjodohannya dengan tokoh utama. Menghormati Ayah dengan segala keputusan yang ditetapkan ditempatkan sebagai prioritas utama.
.
Mempertimbangkan segalanya dari sudut kepentingan semua orang yang aku sayangi. Maka itu, sebelum aku hanyut terjatuh oleh emosiku, aku secepatnya meredamnya. Agar tidak terjadi konflik antara aku dan Ayah atau dengan siapa pun. Aku tahu apa yang dilakukan Ayah untuk kami. Karena itu kami semua menghormatinya. Tak terlintas dalam pikiran kami untuk membantah apa maunya Ayah. Karena memang tidak ada gunanya. - halaman 67

Di beberapa cerita, menurut pandangan subjektif gw, memang terasa penulis masih menggambarkan laki-laki sebagai sosok yang harus berperan sebagai pahlawan bagi perempuan yang dicintainya. Di cerita berjudul 'Cina Buta', yang jangan diartikan secara harfiah, menggambarkan seorang laki-laki yang merelakan tidak menikah dengan kekasihnya demi menyelamatkan keluarga sang kekasih dari kehancuran sebagai wujud bukti cintanya. Di cerita lain, berjudul 'Kisah Seorang Hero', diceritakan seorang laki-laki yang diam-diam mengikuti pujaan hatinya dari jauh demi melindunginya dari penjahat yang mengintainya, yang ternyata digambarkan sebagai mimpi. Entah penulis masih berpikiran seperti itu, atau memang hanya sekadar ingin menggambarkan sifat dan perilaku seseorang secara umum pada masa cerita-cerita tersebut ditulis (antara tahun 1950 sampai tahun 1960-an).

Walaupun begitu, ada satu cerita yang membalikkan kekecewaan dari cerita-cerita diatas. Melalui cerita berjudul 'Maria', menggambarkan seorang perempuan muda berusia 23 tahun bernama Maria Yusran, penulis telah melampaui zamannya dengan mengusung tema kesetaraan gender melalui pemikiran yang dimiliki Maria.
.
"Aku ingin rumah bersih, halaman bersih. Apa salahnya kalau aku mengerjakannya? Begitu pun pekerjaan dapur. Tapi jangan anggap itu pekerjaan khusus perempuan. ... Perbedaan antara laki-laki dengan perempuan hanyalah biologis. Tapi tidak dalam fungsi sosial. ... Etiket begitu sudah kuno. Etiket yang berasal dari pandangan bahwa perempuan makhluk yang lemah, yang harus ditolong. Aku tidak suka itu." - halaman 86
.
Maria juga digambarkan sebagai seorang perempuan yang bekerja di sebuah instansi yang hampir seluruh pegawainya adalah laki-laki, hanya dia dan dua orang lainnya yang merupakan pegawai perempuan disana. Topik kesetaraan gender yang ingin digaungkan oleh penulis juga terlihat dalam pemikiran Maria berikut:
.
"Mengapa setiap atasan mesti memperlihatkan keperkasaannya? Padahal mereka toh sama jadi orang gajian negara? Mengapa laki-laki tidak memandang pegawai perempuan itu sama dengan laki-laki secara sosial?" - halaman 89
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
December 7, 2023
Jodoh merupakan kumpulan sepuluh cerpen A. A. Navis yang tersebar di media cetak. Dua di antaranya merupakan pemenang sayembara: cerpen "Jodoh" merupakan pemenang pertama Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep 1975 dan cerpen "Kawin" memenangi hadiah Majalah Femina tahun 1975.

Rupanya, persoalan sulitnya mencari jodoh atau pasangan hidup sudah ada sejak dahulu. Macam-macam persoalannya, mulai dari pandangan masyarakat tentang usia yang layak berumah tangga, perselingkuhan, sampai praktik perjodohan itu sendiri. Lewat cerpen-cerpen ini, penulis menyoroti soal isu ketidaksetaraan gender, misogini, perselingkuhan, usaha meraih mimpi (bagi perempuan), ketimpangan ideologi Kaum Tua dan Kaum Muda, sampai ketidakberdayaan lelaki/perempuan menolak perjodohan.

Panjangnya rentang waktu penulisan karya-karya di buku ini, mulai dari tahun '50-an sampai akhir '90-an, membuat latar cerita semakin beragam. Pada satu waktu kita akan diajak ke masa kependudukan Jepang. Pada masa lain, pembaca akan diajak ke masa yang lebih modern. Di satu sisi, ini menjadi nilai tambah. Namun, di sisi lain mungkin dapat membingungkan beberapa pembaca yang telah dibuat loncat ke satu waktu ke waktu yang lain.

Perihal perbedaan latar waktu antarcerpen tentulah bukan masalah. Namun, loncatan waktu ini menjadi masalah ketika terjadi di dalam satu cerpen tanpa ada keterangan atau narasi pengantar soal perubahan ini.

Berbeda dengan cerpen lainnya, cerpen terakhir, "Ibu"--satu-satunya cerpen di buku ini yang tidak bertemakan jodoh--berhasil menutup rentetan cerpen dengan kesan yang menghangat. Oia, jangan terkejut kalau kamu menemukan kata-kata yang terdengar asing di telinga. Ini justru menjadi poin tambah yang memikat. Penasaran dengan diksi menarik yang kutemukan dalam buku ini? Nantikan unggahanku berikutnya ya.

--

Jodoh • A. A. Navis • Grasindo • 2018 • 126 hlm.
Profile Image for Alternate Alnilam.
14 reviews
August 20, 2021
Saya membaca buku ini karena rekomendasi orang yang tak dikenal di twitter.

Buku ini adalah kumpulan cerpen (jumlahnya 10) 9 cerpen menceritakan tentang perjodohan dan satu lagi menceritakan tentng ibu dan perjuangannya

9 cerpen tentang perjodohan ini memperlihatkan bahwa adat yang kental tentang pemaksaan pernikahan yang alasannya beragam mulai dari umur yang sudah tua, balas budi, atau sekedar menyenangkan orang tua, adapun yang menikah karena memang mau harus menghadapi kehidupan pilu akibat situasi sosial yang mencekam

1 cerpen tentang ibu adalah menceritakan bagaimana kehidupan keluarga anak anak dan ibu menjalani kehidupan sehari-harinya yang sangat menyentuh hati

Saya suka dan memberi buku ini bintang lima karena penulis menceritakan tokoh dari masing masing cerpen dengan baik, ia juga menceritakan realitas kehidupan. Secara tidak langsung pula penulis menceritakan tentng kesetaran gender yang mana itu merupakan sesuatu yang tidak biasa yang dialami pada tahun 70an.

Ketika saya membaca buku ini, terkadang saya tidak mengerti kata-katanya karena masih menggunakan ejaan lama dan saya yang tidak familiar, oleh karena itu saya menggunakan KBBI untuk mengerti bahasa yang digunakan dalam buku tersebut
Profile Image for Aira Zakirah.
173 reviews8 followers
April 30, 2020
Ini pertamakali saya membaca karya A.A Navis meski pun sudah tahu namanya dari dulu sekali (di buku cetak bhs indo zaman sd).

Keseluruhan buku memuat 9 cerpen. Sesuai dengan judulnya "jodoh" ceritanya pun berkisar tentang si tokoh, sebelum atau pun sesudah bertemu sang jodoh. Saya paling suka cerpen jodoh itu sendiri. Ide ceritanya masih sangat relevan dengan saat ini (meski pun buku ini sudah ditulis nyaris dua dekade silam) dan plot twist nya aduh! bikin senyum-senyum sendiri wkwk..

Kisah sang pengantin juga cerpen favorit saya. Membacanya entah kenapa membuat saya begitu melankolis dan malah teringat bukunya Habiburrahman "pudarnya pesona cleopatra". Penggambaran konflik rumah tangganya bikin gemas, geram, sedih dan campur aduk pokoknya. Tapi di sini endingnya tidak bikin nangis kok hehe..

Mungkin karena tema soal jodoh sedang naik daun di lingkaran pertemanan saya, buku ini jadi lebih menyenangkan dan mudah dinikmati sebab ide-idenya memang tidak keluar dari realitas soal jodoh di tengah masyarakat kita. Overall, I likeeee!

⭐5,5/6
Profile Image for Mardyana Ulva.
75 reviews3 followers
February 24, 2019
Seperti yang disebutkan penulisnya di Kata Pengantar, sembilan cerpen dengan tema perjodohan ini bukan (melulu) berkisah tentang persoalan libido anak manusia, melainkan tentang persoalan kehidupan tokoh-tokoh yang diceritakan, sebelum dan sesudah bertemu jodoh.

Dalam cerpen-cerpen berlatar budaya Minang ini bukan cuma perempuan saja yang jadi lumat oleh tuntutan sosial untuk segera kawin hingga harus berhadapan dengan kawin paksa yang disusun oleh para ibu, tetapi juga para pria.

Ngomong-ngomong, saya paling terkesan dengan cerpen berjudul "Nora" dan "Ibu." Nora, perempuan terdidik yang mati saat sedang mengandung karena kawin paksa yang dituntut ibunya, tentu dengan pria laknat pilihan sang ibu; juga sosok Ibu (dalam cerpen "Ibu") yang begitu tegar hingga akhir hayat, yang begitu tawakal dengan amukan ujian kehidupan, dan menghidupi 10 orang anak-anaknya tanpa mengeluh di depan mereka.
Profile Image for Such as.
24 reviews
October 18, 2021
Novel yang berisi kumpulan kumpulan yang bertemakan jodoh yang cerita nya dimuat pada tahun 50,60'an bahkan tahun 90'an bisa disebut cerita klasik. Cerpen di dalam nya banyak memuat cerita tentang adat istiadat perjodohan minang kabau yang mana tempat kelahiran penulis itu sendiri.

Saat membaca cerpen ini, cerita nya sama seperti saya disaat sekarang di usia 20'an cara pandang terhadap jodoh, perjodohan, idealis tentang jodoh, kesetaraan gender pandangan pandangan terhadap pernikahan ternyata di zaman saya ketika belum lahir sudah terjadi dan dibahas.

Cerita dari novel ini banyak pandangan pandangan yang sama seperti yang apa saya pikirkan tentang jodoh. Ada 2 cerita yang sangat menggambarkan diri saya di cerita ini yaitu jodoh dan nora.
Profile Image for Vira Tanka.
36 reviews2 followers
February 17, 2019
Saya belum banyak baca sastra Indonesia angkatan lama. Cukup terkejut dan senang ketika baca buku ini karena ternyata di dekade 70an AA Navis sudah menyinggung topik kesetaraan/ketimpangan gender dalam banyak cerpennya. Tersirat dia seperti pro kesetaraan gender padahal dia pria. Apakah ada pengaruh latarnya sebagai orang Minang yang punya budaya matrilineal? Entah.

Selain kontennya, saya juga suka cara bertuturnya. Kalimatnya sederhana namun lugas dan entah kenapa terasa jenaka. Banyak kosakatanya yang tak lazim saya dengar, mungkin juga karena cara bertutur zaman dulu yang agak berbeda dengan sekarang. Atau memang itu khasnya Navis? Entah. Saya mau baca beberapa buku dia lagi nanti.
Profile Image for Natalia.
55 reviews2 followers
December 26, 2025
Saya membaca buku ini karena pernah melihat suatu tweet dari X tentang bukunya yang lain yaitu "Robohnya Surau Kami" ketika saya cari di Ipusnas tidak ada, akhirnya saya melihat bukunya yg lain. Saya juga teringat kata-kata Okky Madasari saat saya bertemu dengannya, bahwa saya diajari oleh dosen saya yang ternyata masih ada kekeluargaan penulis buku ini.

Setelah saya membaca setiap cerpennya memperlihatkan apa yang terjadi ketika menemukan jodoh, ada yang hidup dengan bahagia, namuan ada juga hal yang tragis. Ada beberapa cerita yang terlihat bahwa AA. Navis adalah seorang feminis terlihat dari cerita Nora dan juga Maria, namun mengapa akhir dari ceritanya selalu tragis
Profile Image for Mita Cahyani.
76 reviews2 followers
August 6, 2020
Buku A.A. Navis yang pertama saya baca. Secara umum saya menikmati cerita-cerita yang ada di dalam kumpulan cerpen ini. Awalnya takut tidak memahami juka pilihan kata yang digunakan terlalu 'tinggi', tapi ternyata saya menikmati membacanya. Membaca cerpen-cerpen disini, saya merasa tokoh-tokohnya adalah sosok yang cukup sabar dan mampu mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dan pergulatan hati yang muncul karena per'jodoh'an.
8 reviews
August 22, 2022
Kumpulan cerpen dengan gaya penulisan yang menarik, menyenangkan untuk dibaca, menggambarkan kehidupan beberapa dekade lalu, namun seolah masih relevan dengan kondisi sekarang. Lekat dengan budaya penulisnya yaitu minang, jodoh membahas berbagai isu tentang perselingkuhan, kisah perantauan, pria yang diperebutkan, kawin paksa yang dialami pria dalam masyarakat matrilinear, feminisme, perjuangan seorang ibu membesarkan anak-anaknya maupun usaha anak mengobati penyakit sang ibu.
22 reviews
July 14, 2025
Selain menghibur, buku ini juga memberikan banyak gambaran tentang adat percintaan dan perjodohan di daerah Sumatra. Saya seperti terbawa disana.

Seperti judulnya, buku ini dengan baik mendeskripsikan bagaimana "Jodoh" itu. Apa yang berakhir bersama? Ditinggalkan? Mengikhlaskan? Atau malah hanya nafsu semata.

Hingga pada saat buku ini selesai terbaca, beberapa cerita masih membekas. Entah karena terlalu menggemaskan atau malah terlalu sakit untuk dibaca.
Profile Image for Capcaibakar.
57 reviews2 followers
July 9, 2019
Pertama kali lihat buku ini di stories-nya @udithcuit lalu penasaran. Kalau dia bilang bagus, ya bagus. Apalagi ini kan AA Navis, penulis Robohnya Surau Kami dan penerima hadiah sastra Asean. Udah pasti bagus.

Dan benaran bagus. Saya suka dengan tulisannya yang khas melayu dan temanya yang sesuai isu sosial, jodoh, pernikahan, dan keluarga. Suka!
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
October 21, 2020
Kumpulan cerpen yang dekat dengan realitas, dengan persoalan yang begitu manusiawi, bahkan ketika dibaca pada tahun 2020 kisah-kisahnya tetap relevan.

Tak seperti novel angkatan lama yang bernuansa roman, justru dalam Jodoh ini kita akan menemukan pesan-pesan tentang relasi gender, feminisme, dan budaya matrilineal Minangkabau.
Profile Image for R.
16 reviews
November 11, 2019
Membaca kumpulan cerpen ini merupakan suatu kegembiraan tersendiri. Karena walau ditulis beberapa dasawarsa silam, tapi kisah-kisah di dalamnya masih relevan hingga kini. Atau karena saya berada di penghujung umur 20-an sehingga topik Jodoh menjadi sesuatu yang sering diperbincangkan.
Profile Image for Aldrin Muhammad.
15 reviews5 followers
February 22, 2021
Dengan gaya khas satir ala AA Navis, kumpulan cerpen ini menjadi sangat layak untuk dibaca. Sindiran dan plot yang membuat pembaca akan dibawa oleh alam pikiran penulis yang melompat2 dan penuh imajinasi
Profile Image for R-Qie R-Qie.
Author 4 books9 followers
December 21, 2021
Kisah-kisah yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski ditulis puluhan tahun silam namun tetap relevan hingga saat ini. Ada yang berakhir bahagia, lebih banyak yang menyesakkan dada. Emosi para tokoh tersampaikan dengan baik dan menimbulkan empati dalam diri saya. Lima bintang.
Profile Image for Irma Kartika.
24 reviews
March 10, 2022
Kumcer ini cukup mudah dipahami, setiap kisah yang ditawarkan memiliki bobot kehidupan masing-masing yang membawa saya pada pengertian bahwa manusia hidup untuk memenuhi tujuannya masing-masing. Terlalu universal, namun itulah yang dapat saya gambarkan.
Profile Image for Chels.
183 reviews3 followers
May 17, 2025
Banyak kosakata baru yang kudapat dari Jodoh karya A.A. Navis, terlebih dalam bahasa Minang. Cerita-ceritanya sarat akan kritik sosial. Beberapa cerpen kiranya tengah menyindir sikap manusia yang tak sejalan dengan idealismenya.

Buku yang bagus.
Profile Image for Nua.
3 reviews
July 30, 2025
Banyak sekali pelajaran tentang kehidupan yang bisa diambil dari buku ini. Selama membaca buku ini dari pertengahan sampai akhir saya tidak bisa berhenti menangis, terutama cerpen yang berjudul "Ibu", sangat menyayat hati 😭
Profile Image for Me.
3 reviews
January 10, 2019
Masih sangat kental dengan budaya minang, sangat dekat juga dengan kehidupan sehari-hari. masih tentang perang pemikiran antara yang disebut-sebut dengan jaman naw dan pemikiran kolot.
1 review
September 6, 2019
**Warning: this text may contain spoilers** New
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 49 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.