Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kabut Negeri Si Dali

Rate this book
Dalam masyarakat Indonesia, Navis tersohor sebagai pencemooh nomor wahid. Dalam sebagian besar cerpennya, ciri itu amat menonjol. Tak terkecuali dalam kumpulan cerpen ini.

Kumpulan cerpen Kabut Negeri si Dali ini memuat 15 cerpen yang ditulis tahun 1990-1999. Tema umum yang disajikan dalam kumpulan ini adalah potret dari ekses dan latar belakang sejarah politik dan perang mulai dari zaman pendudukan Jepang hingga zaman Orde Baru.

Dengan gayanya yang kocak, karikatural, dan menggelitik, Navis membawa kita pada pengalaman-pengalaman kita sebagai bangsa pada masa lalu. Dengan demikian, kumpulan cerpen ini dapat memperkaya batin kita. Selain itu, kumpulan ini juga menambah wawasan kita mengenai masa silam.

132 pages, Paperback

First published January 1, 2001

8 people are currently reading
144 people want to read

About the author

A.A. Navis

21 books97 followers
Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.

His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.

A.A. Navis passed away at age 79.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (19%)
4 stars
50 (40%)
3 stars
47 (37%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Ms.TDA.
240 reviews5 followers
March 23, 2025
Kemerdekaan yang kita perjuangkan bukanlah demi bangsa dan Tanah Air, melainkan demi menggantikan posisi kaum penjajah. Damn this is so true!! 🔪

Perang menempatkan prajurit tidak punya pilihan lain daripada membunuh atau terbunuh. Maka itu peristiwa perkosaan, perampokan, dan penyiksaan tidak berarti apa-apa dibanding dengan kematian demi Tanah Air. Dimana-mana pun begitu. Perempuan bahkan dijadikan sama dengan barang rampasan. Dan apa salahnya bila anak buahku hanya memakai, bukan merampas perempuan itu. 🪖

Banyak sekali sindiran2 yang di lontarkan di antalogi buku ini. Dali, you’re great 👍🏻
Profile Image for Faisal Chairul.
268 reviews17 followers
January 5, 2022
Kumpulan cerpen ketiga karya Ali Akbar Navis yang gw baca setelah Jodoh: Kumpulan Cerpen dan Bertanya Kerbau pada Pedati: Kumpulan Cerpen. Lima belas cerpen yang ditulis dalam rentang waktu antara tahun 1990 sampai 1999. Jika kumcer berjudul 'Jodoh' penulis bercerita kehidupan tokoh fiksional sebelum dan sesudah pernikahan, dan kemudian kumcer 'Bertanya Kerbau pada Pedati' penulis menggunakan majas metafora untuk menyinggung masalah kemanusiaan dan politik, maka di kumcer berjudul 'Kabut di Negeri si Dali' ini penulis menceritakan sisi lain kehidupan tokoh-tokoh di masa perang/pertempuran/pemberontakan.

Hidup dalam tatanan kekuasaan dan dominasi militer lebih dari 50 tahun (yakni sejak pendudukan Jepang tahun 1942; ke perang Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia hingga ke kekuasaan militerisme Orde Baru) memberi pengaruh dan kesan yang tidak sama antara militer sebagai pasukan dan militer sebagai pribadi anggotanya. -kata pengantar

Kata 'Dali' yang disematkan di judul merupakan nama yang terinspirasi dari panggilan adik-adik penulis terhadap dirinya, Uda Ali. Tokoh Dali digambarkan sebagai tokoh yang tidak hanya berdiri sendiri di dalam suatu cerpen, tetapi berdiri di hampir keseluruhan cerpen dalam kumcer ini.

Semua cerpen melibatkan sebuah nama, yakni si Dali. Dia bisa menjadi pelaku utama atau pelaku sampingan. Bisa juga sebagai orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga. - kata pengantar

Semua cerpen dalam 'Kabut di Negeri si Dali' ini menyenangkan untuk dibaca. Walaupun begitu, ada beberapa cerpen yang gw favoritkan, diantaranya berjudul 'Sang Guru Juki', 'Gundar Sepatu', dan 'Marah yang Merasai'. Cerita 'Gundar Sepatu' mengisahkan sebuah benda bernama 'gundar', yang bahkan ketika diketik dalam mesin pencarian saat ini sepertinya tidak menggambarkan wujud yang sama seperti yang ada di zaman dahulu, yang sangat penting sekali di zamannya, hingga membuat seorang letnan mencurinya dari seorang sersan. Ternyata, gundar itu berperan sebagai pengganti keberadaan istri yang ditinggalkan berperang dalam waktu yang tidak sebentar. Sementara itu, cerpen 'Marah yang Merasai' bercerita tentang seorang pegawai negeri bernama Marah Ahmad yang idealismenya untuk tidak menunjukkan kesetiaan kepada Jepang pada masa pendudukan akhirnya runtuh juga akibat siksaan yang dialaminya. Cerita ini juga mengisahkan bagaimana strategi licik penjajah dalam mengadu domba penduduk setempat yang kemudian dijadikan alibi untuk berkuasa.

Dalam cerita berjudul 'Sang Guru Juki', diceritakan seorang tokoh bernama Juki yang berprofesi sebagai guru namun ikut teman-temannya di garis depan perjuangan untuk menyingkir ke pedalaman saat keadaan memburuk. Suasana yang tersirat dalam cerita ini sepertinya suasana pertempuran saudara, bukan melawan penjajah. Buat gw, cerita ini menarik salah satunya karena penggambaran suasana tersebut dengan baik, yang mengisahkan sisi lain kehidupan orang-orang yang 'mundur' sementara dari pertempuran. Istri dan anak ditinggal, untuk kemudian numpang di kediaman kenalan baru. Tokoh Juki ini sayangnya digambarkan sebagai orang yang kerjanya hanya kawin sana-sini. Setiap musuh berhasil menyerbu jauh lebih ke dalam, Juki pun, yang ikut teman-temannya masuk ke pedalaman yang lebih jauh, mengawini perempuan tempatnya menetap. Pertama, muridnya bernama Sitti, kemudian seorang janda bernama Baiyah. Hobi kawin beserta jalan pikiran Juki yang diceritakan dalam cerita ini memang sangat menggelitik nilai moral. Mungkin pada masa peperangan, jalan pikiran seperti itu yang ada pada kebanyakan laki-laki?

"Kau pikir enak jika menumpang di rumah orang tanpa memberi apa pun? Enak, ya memang enak. Tapi hatiku ini yang merasa tidak enak. Tidak ada jalan lain, si Janda dapat suami, aku dapat makan. Impaslah", kata Juki seperti seenak perutnya. - halaman 29

"Bagaimana kau mengemasi istri-istrimu nanti bila perang berakhir?"
"Kau pikir hidup perempuan-perempuan desa itu bergantung pada suaminya? Mereka perempuan yang mandiri. Mereka punya rumah, punya tanah, punya ladang untuk menjamin hidupnya."
"Tapi di mana letak moralnya?"
"Moralnya? Moralnya adalah pada kebanggan orang desa dapat suami orang kota seperti aku. Guru lagi."
- halaman 31

Sembarangan juga jalan pikiran tokoh bernama Juki ini.

Di dalam cerita 'Sang Guru Juki' ini penulis juga menyelipkan satu ajaran filosofis yang mengena, tentang dua macam takdir.

"Si Dali tidak menyesali jalan hidupnya yang dia rancang dan lalui. Karena dia menghayati benar makna tulisan H. Agus Salim dalam buku Takdir, Iman dan Tawakal. Maksudnya kira-kira: "Ada takdir yang tidak bisa dipikirkan akal, yaitu lahir dan mati. Lainnya, takdir yang datang karena bersebab dan berakibat. Karena manusia berbuat sesuatu pada suatu waktu dan pada suatu tempat, maka berakibat tertentu pada diri sendiri. Berbuat dan berakibat oleh per-usaha-an itulah yang harus dipikirkan oleh akal supaya hidup selamat dunia dan akhirat." - halaman 35

Cerita ini berkembang hingga suatu saat si Juki tertangkap dan ditahan di dalam penjara. Tidak lama dia dipenjara. Sebabnya, ia menggunakan jalan pikirannya yang picik dengan 'menjual' istrinya yang ketiga, Baiyah yang janda, kepada Komandan yang menahannya. Sekali lagi, penulis mengungkapkan sisi filosofis yang ada di dalam dirinya:

"Dalam hati si Dali bertanya-tanya, "Siapa sebetulnya yang berkorban atau yang dikorbankan?" Jalaran pikirannya berlanjut pada istri Juki yang lain. Rosni (istri pertama) dan Sitti (murid, istri kedua). Apakah mereka ikut berkorban atau jadi korban? Ataukah ikut terseret oleh perjalanan takdir yang berputar di sekitar sumbu sejarah. Bila benar, apa makna manusia sebagai orang seorang sebagaimana makhluk Tuhan?" - halaman 37
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
September 1, 2018
Padahal udah dipelan-pelanin bacanya biar enggak cepet selesai. Soalnya lucu isi di dalamnya. Nyindir secara halus. Dan banyak hal yang diceritakan dan masih relevan dengan kondisi saat ini. Tulisannya a.a.Navis ini renyah dan enak dibaca bahkan buat pemula sekalipun. Meski ada beberapa kata yang diselipkan dari bahasa melayu tapi tidak membuat pembaca akan terlampau kebingungan.

Kisah ini tentang tempat, orang dan peristiwa dimana si Dali ini tinggal. Dan si Dali ini tidak hanya sebagai tokoh utama. Terkadang dia menjadi seseorang yang diperbincangkan. Dan setiap cerita dalam buku ini, bisa dibaca terpisah karena merupakan cerita pendek. Namun, setiap tokoh di kisah lainnya akan tetap disinggung di cerita berbeda.
Profile Image for WA.  Prakosa.
106 reviews2 followers
April 2, 2025
Bisa dikatakan bahwa kumpulan cerpen ini merupakan fragmen-fragmen kehidupan Dali sendiri maupun teman dan atau kenalannya.
Profile Image for Sancaka.
95 reviews13 followers
September 28, 2009
Cerpen-cerpen yang terangkum dalam buku ini berkisah tentang seseorang bernama Dali — bisa disamakan dengan Sukab dalam karya Seno Gumira Ajidarma karena dia bisa berperan sebagai siapa saja dalam cerita apa saja.

Beberapa cerpennya berkisah tentang pernik-pernik kehidupan militer yang tidak akan pernah terungkap dalam buku sejarah mana pun. Salah satunya adalah gundar sepatu dalam "Gundar Sepatu".

Bagi saya kata gundar saja sudah terasa asing, apalagi membayangkan bentuknya. Di cerpen itu gundar disebutkan sebagai alat untuk mengilapkan sepatu dan penting bagi orang perlente. Sementara menurut KBBI, gundar berarti sikat pakaian dan sebagainya, tanpa memberikan deskripsi lebih jauh. Nah, gundar ini sedemikian pentingnya sehingga bisa membuat seorang sersan menodongkan pistol ke seorang letnan yang mencuri gundarnya. Gundar ini jelas tidak dipakai untuk mengilapkan sepatu karena kaki para tentara beralas sandal dari ban bekas mobil, tetapi dipakai untuk menggantikan istri yang nun jauh di sana (dengan kata lain: memenuhi kebutuhan biologis).

Kutipan favorit justru saya temukan di kata pengantar:
"Kemerdekaan yang kita perjuangkan bukanlah demi bangsa dan tanah air, melainkan demi menggantikan posisi kaum penjajah."
Profile Image for Wirotomo Nofamilyname.
380 reviews52 followers
October 17, 2018
Buku #29 di tahun 2018.

Saya selalu suka kumpulan cerpennya Ali Akbar Navis. Kumcer ini mungkin bukan karyanya yang terbaik tapi saya begitu menikmatinya sehingga selesai baca hanya dalam waktu 1 malam. Jika melihat tulisan di cover belakang buku yang menyebutkan bahwa ini adalah cerpen-cerpennya ya g ditulis di tahun 1990-1999, saya tersadar mengapa cerpen-cerpen ini terlihat semakin “sinis dan nyinyir”, yah cerpen ini ditulis saat Beliau sudah cukup berumur dan mengalami zaman yang berbeda di Indonesia tapi tetap saja begitu, kelakuan manusia Indonesia. Di kata pengantarnya bahkan Beliau mengatakan mereka yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sebenarnya bukan demi bangsa dan tanah air, tapi demi agar mereka dapat menggantikan posisi penjajah (menindas bangsa Indonesia). :-)
Maka selanjutnya di kata pengantar itu Beliau menyatakan: “Dali berasal dari Uda Ali, nama panggilan saya oleh adik-adik. Bolehlah dikiaskan, itulah saya yang hidup dalam aneka ragam penguasa dengan jenis kekuasaan yang hampir tidak ada bedanya”.

Cerpen favorit adalah “Zaim yang Penyair ke Istana”, lebih karena sepertinya ini kisah nyata. Nama-nama sastrawan di cerpen itu: Dali, Zaim, Tarji, Rosihan. :-) Mereka menghadiri kongres yang dibuka oleh Presiden sehingga berkesempatan bertemu Presiden di istana, hanya masalahnya syaratnya mereka harus memakai setelan jas. Zaim bertekad bertemu presiden sehingga melakukan segala cara (termasuk meminjam uang) untuk beli jas bekas di Pasar Rumput, sedang Dali pasrah tidak bertemu Presiden karena juga yidak punya jas. Namun akhirnya ternyata Dali diizinkan ke istana dengan memakai batik. Dan saat bersalaman dengan Presiden dia malah satu-satunya yang mendapat perlakuan lebih, tangan kiri Pak Presiden (sepertinya dikiaskan ke Soeharto, presiden ke-2 RI) menepuk-nepuk tangan Dali. Saat Rosihan bertanya keistimewaan itu, jawaban Dali adalah:
“Barangkali Presiden bersimpati karena aku satu-satunya yang memakai batik buatan dalam negeri. Atau...”.
Rosihan bertanya: “Atau apa?”
Dali menjawab: “Mungkin Presiden memberi isyarat pada ajudan. Perhatikan betul orang ini.”
Hahaha. Ini benar-benar khas Orde Baru, orang yang menulis terlalu “berani” memang biasanya akan diawasi.

Saya juga suka “Inyik Lunak si Tukang Canang” (pekerjaan si Otang khas sekali hahaha), “Penangkapan” (menyindir para aktivis), “Gundar Sepatu” (fungsi gundar sebagai pengganti istri yang jauh hahaha), “Marah yang Merasai” (menyindir peristiwa Mei 1998), “Laporan” (bren yang tak berguna hahaha), dan “Sang Guru Juki” (yang oportunis dan mokondo).
Pengalaman baca yang menyenangkan membaca kenyinyiran sang maestro ini. :-)

Jadi ya saya kasih bintang 5 saja deh.
Gituuu.....
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
February 3, 2021
Bukan A.A. Navis rasanya kalau cerpennya tidak mengandung satir khas beliau, lugas dan blak-blakan. Kira-kira itulah impresi awal setelah selesai membaca kumcer ini. Buku ini secara keseluruhan mengambil potret keadaan Indonesia pada saat perang mulai dari zaman pendudukan Jepang hingga zaman orde baru.

Cerpen-cerpen beliau itu kesannya sinis dan nyinyir, wajar si karena dalam pandangan masyarakat Indonesia sendiri Engku Navis terkenal sebagai pencemooh nomor wahid. Kalau boleh dibilang sindirannya mirip sedikit lah dengan Mochtar Lubis hehe.

Saya rasa buku ini cocok bagi yang ingin mengenal karya-karya Engku Navis, karena buku ini tipis, 1 cerpen pun hanya beberapa lembar saja, bahasanya lugas walau ada beberapa kata/bahasa yang tidak diberi catatan kaki. Tapi tidak mengurangi esensi cerpennya itu sendiri, jadi tak perlu takut.

Oo ya, cerpen favoritku ada tiga:
- Gundar Sepatu
- Sang Guru Juki
- Tamu yang Datang di Hari Lebaran

Ada kutipan menarik juga, dari cerpen "Sang Guru Juki" yaitu:
"Dunia ini tempat hidup serba main-main. Untuk main-main orang buat panggung untuk musik dan teater. Atau arena olah raga besar untuk pesta olimpiade. Anak kecil main gundu. Orang dewasa main golf. Kalau habis untung perkawinan, ya bubar. Tak usah dipikirkan amat."
Kutipannta tuh beuhh filosofis benar wkwk

Catatan: saya membeli buku ini di lapak buku bekas dengan harga ekonomis, cetakan tahun 2001 dan termasuk kategori langka kiranya.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 16, 2018
Kalau dalam Jodoh: Kumpulan Cerpen tema utamanya adalah perjodohan, maka benang merah antologi ini adalah perang (dan pertempuran). Semuanya dialami oleh seorang tokoh bernama Dali yang kira-kira remaja di tahun-tahun akhir pendudukan Belanda, mengalami masa kedatangan Jepang, perang kemerdekaan hingga tahun-tahun perubahan zaman orla-orba. Macam-macam cerita ditengahkan di sini, dari kebiasaan kawin-cerai di masa kacau, hingga "pertempuran terakhir" suami-istri mantan pejabat yang merindu kehadiran tamu anak-cucunya.

Sebetul-betulnya, aku cukup suka semua cerpennya. Enak, mengalir, padat aroma nostalgia bak dongeng-dongeng yang dikisahkan seorang kakek veteran. Tapi jika disuruh memilih satu, favku adalah cerpen terakhir, Bayang-bayang, karena penulisannya lain daripada yang lainnya, sedikit sureal, dengan banyak sindiran tragis.


Terima kasih Grasindo yang telah mencetul satu novel dan dua kumcer karya A. A. Navis ini, dengan seri ilustrasi sampul yang cakep klasik pula. Semoga karya-karya lama penulis asli Indonesia yang lain juga bisa menyusul, bahkan yang dari penerbit BP juga.

#GD
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
April 8, 2020
59 - 2020

Lima belas cerpen dalam buku ini ditulis di tahun 1990 - 1999. A A Navis menulis satu tokoh sentral yang digunakan dalam tiap cerpen dalam buku ini, yaitu Dali. Sebenarnya beberapa cerpen dalam buku ini sudah pernah saya baca di buku Navis yang lain.

Cerpen-cerpen dalam buku ini mengajak kita kembali ke tahun penjajahan Belanda dan Jepang, ada juga pada saat orde baru. Walau ceritanya sederhana tapi banyak pesan tersirat dalam setiap cerita. Ada beberapa typo yang gak mengganggu sih, cuma ada 1 judul yang sepertinya salah tulis, Perempuan itu Bernama Lara yang ditulis Lari.

Cerpen favorit saya berjudul :
- Bayang-Bayang
- Dua Sahabat
- Penangkapan
84 reviews1 follower
July 23, 2018
Kumpulan cerita seputar masa perang dan pergolakan politik. Di setiap cerita selalu ada tokoh Dali yang konon si penulis sendiri atau paman sang penulis, atau sekedar tokoh rekaan.

Dibandingkan dengan "Jodoh" yang temanya percintaan, yang akan selalu "nyambung" di setiap masa, kumpulan cerita Kabut Negeri si Dali membuat berpikir dua kali, terutama jika tidak begitu ingat detil sejarah Indonesia. Cerita-cerita ini ada pada masa yang hanya dibahas sepintas lalu di buku pelajaran sejarah seperti zaman PRRI.
Profile Image for Kimi.
404 reviews30 followers
March 12, 2023
Kabut Negeri Si Dali merupakan sebuah antologi cerpen dari A.A. Navis. Terdiri dari lima belas cerpen yang ditulis dalam kurun waktu 1990 - 1999. Menariknya setiap cerpen memiliki satu tokoh bernama Dali. Dia bisa sebagai tokoh utama, tokoh kedua, ketiga, atau bahkan hanya sekadar lewat. Dali merupakan panggilan Uda Ali untuk A.A. Navis dari adik-adiknya.

Cerpen yang ada juga memiliki benang merah yang lain, yaitu militer. Cerpen-cerpen di sini membawa kita ke masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang, juga di masa Orde Baru.
Profile Image for winda.
357 reviews14 followers
October 21, 2020
"Ada takdir yang tidak bisa dipikirkan akal, yaitu lahir dan mati. Lainnya, takdir yang datang karena bersebab dan berakibat. Karena manusia berbuat sesuatu pada waktu dan pada suatu tempat, maka berakibat tertentu pada diri sendiri. Berbuat dan berakibat oleh perusahaan itulah yang harus dipikirkan akal supaya hidup selamat dunia dan akhirat". -sang guru juki-
Profile Image for syarif.
295 reviews63 followers
September 26, 2021
Kumpulan cerpen ini berhasil saya lahap dengan dua kali duduk sehingga secara personal lumayan menikmati dengan nuansa peperangan masa lampau. Penulis membawakan perjuangan para tentara keamanan beserta sudut pandang kehidupan pihak lain seperti sastrawan dan para istri yang ditinggal perang secara menarik dan membuat saya terbelalak hehe.
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
February 15, 2023
Karya Datuk Navis pertama yang terbaca. Menarik cerita-cerita mengambil latar perjuangan terutama dari sudut tentara.
Kita akan menemukan percikan satire dalam beberapa cerita ini. Jejak dari pertempuran atau perubahan keadaan saat perang maupun pergolakan bersenjata.

Favorit saya sih judul bayang-bayang dan sang guru Juki
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
July 22, 2018
** Books 104 - 2018 **

2,9 dari 5 bintang!

Tampaknya saya bosan dengan isi ceritanya yang berputar mengenai si Dali yang berkaitan satu sama lainnya.. Entah kenapa lebih suka cerita yang kemarau lalu jodoh terakhir buku ini hehe

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for Firda Mahdanisa.
57 reviews5 followers
January 14, 2023
Pertama kalinya baca A. A. Navis. Tulisannya bagus, satir. Tapi tetap ringan dan mudah dipahami. Rasanya kayak ingin turut meludahi oknum-oknum yang ada di cerita tersebut lol. What a great experience with Dali!
Profile Image for Alfaridzi.
109 reviews3 followers
February 12, 2023
Dari 15 cerpen, hanya beberapa yang aku suka. Tapi aku cukup bisa menikmati gaya kepenulisan AA.Navis dalam setiap cerpennya. Sangat khas gaya melayu minangkabau, klasik & kental sekali dgn realita kehidupan.

⭐3.5/5
Profile Image for shabrina fadhilah.
60 reviews17 followers
October 2, 2021
Baca AA Navis pertama kali, lucu ya. Kayaknya akan coba baca karya beliau yang lainnya!
Profile Image for ♡.
4 reviews2 followers
January 23, 2022
Siapapun yang menyukai kumpulan cerpen yang menyentil peperangan dan militer, buku ini pas!
Profile Image for Mardyana Ulva.
75 reviews3 followers
May 30, 2021
Semua cerpen di sini berlatar Indonesia zaman perang saudara PRRI dulu. Semua cerpen di dalamnya juga melibatkan nama si Dali, yang menurut Navis di kata pengantarnya, berasal dari Uda Ali, yakni sebutan yang dipakai oleh adik-adiknya untuk memanggil dirinya.

Ada satu cerpen di sini yang menurut gue paling menarik. Judulnya Sang Guru Juki. Jangan dikira dia karakter yang bijak dan berbudi pekerti luhur karena dia guru. Di zaman perang, dia jadi prajurit yang masuk ke pedalaman tapi nggak pernah maju ke garis depan. Yang ada dia malah kawin cerai terus sampai perang usai. Buat Pak Guru Juki, apa aja sah dilakukan selama menguntungkan dirinya; termasuk menukar istri ketiganya, Baiyah, buat dioper ke sana-sini di kalangan militer yang menahan Juki. Baiyah dijadikan gundik demi Juki dapat kelas yang lebih nyaman di tahanan. Tapi seperti bajingan-bajingan lainnya, Juki nggak pernah merasa bersalah dengan hal itu, dan malah bingung ketika Baiyah menyebut dirinya korban.

Suatu waktu Sang Guru Juki ketemu lagi dengan si Dali. Menggurui si Dali yang dipandangnya naif dan terlalu serius, dia berkata begini:

"Dunia ini tempat hidup serba main-main. Untuk main-main orang buat panggung untuk musik dan teater. Atau arena olah raga besar untuk pesta olimpiade. Anak kecil main gundu. Orang dewasa main golf. Kalau habis untung perkawinan, ya bubar. Tak usah dipikirkan amat."

Well, pada akhirnya memang mindset kita sendiri yang membimbing kita untuk bertindak. Apa yang ada di kepala, seringkali jadi landasan seseorang buat berucap, juga membenarkan tindakan-tindakanya. Ya meski kata orang lain itu amoral.
Profile Image for pat.
65 reviews2 followers
Read
August 10, 2023
Cerpennya A.A Navis tuh cakep-cakep😭🤍

Si Montok : 3/5. Good story.
Si Bangka : 4.5/5 Jadi Bangkak ngebunuh istri mayor karena jujurly dia ngerasa berahi ke istri mayor? Tapi karena dia ga mau berkhianat atau berlaku yang nggak-nggak, Bangka ngebunuh istri mayor????? Demmnn
Laporan : 4/5 The thing is that a soldier supposed to be very brave ketimbang bersembunyi terus-terusan i guess
Gundar Sepatu :4/5 lucu
Sang Guru Juki: 4.5/5 yess i really hate karakternya juki yang tipikal lekaki bajingan dan sok, ditambah dia pejuang abal-abal yg modal licik aja. And here is Dali yg suka main aman but i bet he's the one yang lurus :)
Penumpang Kelas Tiga : 4/5 such interesting story sih konfliknya wkwk
Perempuan itu Bernama Lara : 4.5/5 bagussss
Rekayasa Sejarah di Patai : 4/5 sebenernya ada baiknya membenarkan sejarah yg salah, jadi kita nggak salah paham gitu. Jadi tahu the truth untoldnya juga, tahu wujud aslinya.
Marah yang Marasai: 4.5/5 hell yes kasian Marah Ahmad.
Penangkapan: 4/5 can I say that it actually nyindir seniman dan pemerintah???
Zaim yang Menyair ke Istana: 4/5 idk but it's good tho
Inyik Lunak si Tukang Canang: 4.5/5 tapi iya bener mau seanu apapun ga bisa melawan dari Talib-Talib iku, tapi haruse ada jalan keluar pasti. But people in those days couldn't do anything. Ancene PRRI bajingan.
Tamu yang Datang di Hari Lebaran : 4.5/ TERHARU WOYYYY😭
Dua Orang Sahabat: 4/5 kayae despite all that, yg paling nyakitin Dali tuh pas si Kekar ngerelain Nita gasi???
Bayang-Bayang: 4.5/5 interesting banget woy

🌟4.5/5
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Titi Estiningrum.
39 reviews
June 21, 2010
Buku ini sudah lama sekali aku beli, dari diskonan di pameran. Pertamanya tertarik melihat nama pengarangnya, pasti itu.
Belum sempat baca karena lagi tergila gila sama buku buku baru lainnya, itu buku tergeletak begitu saja.
Nah pekan lalu, pengen baca buku yang tipis tipis gitu, jadi ku ambillah si Dali ini.
Buku ini kumpulan cerpen AA Navis. Semuanya menceritakan pelaku si Dali (yang ternyata diambil dari nama panggilan AA NAvis - Uda Ali).
Settingnya di masa perjuangan pasca proklamasi, semua kisahnya, langsung atau tidak langsung terkait dengan tokoh yang berlatar militer. (Kenapa ya? )
Buatku buku ini membuka cakrawala baru, ada cerita konyol (Laporan sama kisah ), ada cerita lucu (Gundar Sepatu), ada cerita tragis, yah pokoknya baca deh...
asli banget, maksudnya ceritanya riil banget, atau bisa jadi AA Navis memang mengangkat fenomena.
Gak nyesel baca ini sebagai selingan..., ringan tapi padat bergizi
Profile Image for Lili.
12 reviews11 followers
September 5, 2012
melalui kumpulan cerpen ini, saya juga jadi berfikir akan apa itu arti kemerdekaan yang diperebutkan oleh para pejuang bangsa kita zaman dahulu, Apakah memang benar agar terbebas dari penjajahan kompeni atau 'sebatas' terbebas dari penjajahan kompeni?

Hal lain yang juga dapat saya pelajari dari membaca novel ini adalah Alasan mengapa dahulu kala itu para tentara dan pejuang perang pada umumnya beristri banyak alias poligami. Tak lain lantaran perang lah itu semua, sungguh alasan yang terkesan 'picik'.
Profile Image for M Adi.
174 reviews18 followers
July 7, 2020
Jika peristiwa sejarah penuh glorifikasi dan penafsiran tiap perjuangan, yang tak boleh dilupakan adalah dua sisi cerita ibarat mata koin. AA Navis dalam kumpulan cerpen ini, membuka sisi lain mata koin dari peristiwa-peristiwa masa perang yang jauh dari bayang semata-mata perjuangan.
Displaying 1 - 26 of 26 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.