Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kau Berhasil Jadi Peluru

Rate this book
Kumpulan puisi ini merupakan pasangan indah bagi puisi-puisi Wiji Thukul, penyair legendaris itu. Melalui puisi-puisi Wani kita dapat merasakan bahwa Wiji tidak pernah benar-benar pergi. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan spirit, melainkan juga suasana kebatinan yang kompleks bagi orang yang dekat dengannya. Wani menemukan puisi sebagai kekasih yang sanggup membantunya memelihara spirit yang diwarisinya dan yang setia menemaninya memanggul salib hidupnya. Di sisi lain, puisi-puisi Wani merupakan testimoni dan jawaban atas apa yang pernah ditorehkannya dalam satu puisi Wiji, “Aku Ingin Jadi Peluru”. Sebuah puisi Wani bersaksi, “Kini kau harus tahu/Kau berhasil jadi peluru/Melesat pesat ke arah yang kau mau/Menembak telak di tiap sasaranmu/Namun ada yang tak kau tahu/Bahwa satu dari pelurumu itu/Telah mengoyak isi jiwaku.” — Joko Pinurbo

Secara unik Wani membahasakan sosok ibunya sebagai luka yang tak kunjung sembuh. Ibu adalah kenyataan bagi Wani. Sedang bapaknya adalah kenyataan yang makin lama berubah menjadi fiksi. Ia tak pernah benar-benar hadir lagi. Lewat puisi Wani tak henti mengagumi sekaligus meratapi ketegaran ibunya dalam menjalani kehidupan tanpa seorang suami—yang direnggut dengan paksa dari kehidupan mereka. — Gunawan Maryanto

113 pages, Paperback

First published May 1, 2018

7 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Fitri Nganthi Wani

4 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (28%)
4 stars
12 (37%)
3 stars
10 (31%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
May 28, 2021
Bapak hanyalah tokoh fiksi
Yang selalu indah dalam imajinasi
Tapi aku bagai disalib
Ketika Ibu kembali menangis
Tak sudi mengenang bapak lagi.


Malam-malam hatiku dibikin nelangsa membaca tulisan-tulisan Wani.

Aku biarkan ekspektasiku mengalir begitu saja ketika membaca buku puisi ini. Saat sudah sadar akan arahnya, aku terjerumus sukarela, terperosok di dalamnya. Semua puisinya mengandung luka yang ditanggung oleh ia, ibu, dan adiknya selama lebih dari 20 tahun. Di dalam luka itu, jiwa-jiwa pembangkang jauh telah tertanam dalam hati Wani.

Memang benar apa yang dikatakan Bapaknya, "Hanya ada satu kata: lawan!", dan Wani pun menjaga baik warisan itu.

Di dalam buku puisi ini, Wani bukan hanya bersuara lewat perannya sebagai anak seorang Widji Thukul. Di sini, ia menjadi apa pun yang ia mau: anak biasa dalam keluarga, anak yang mengasuh keluarganya, anak Ibunya, cucu bagi Simbahnya, kakak bagi adiknya, ibu bagi anaknya, istri bagi suaminya, dan tentu menjadi puisi bagi dirinya sendiri.

Menjalankan banyak peran sekaligus, tentu nggak mudah. Di balik perlawanannya, puisi-puisi Wani menegaskan bahwa ia hanyalah manusia biasa, sama seperti kita.

Misalnya, ia menyimbolkan Ibunya sebagai luka yang tak kunjung sembuh. Padahal, luka itu juga membuatnya rapuh. Ketika rasa percaya Ibunya mulai luruh, hati Wani ikut bergemuruh. Ketika Ibunya menangis dalam kenangan, aku yakin Wani juga sempat hilang harapan. Namun, perjuangan terus dilanjutkan.

Puisi-puisi yang berkenaan dengan kedua orangtuanya, terutama soal Ibunya, it hits me.

Puisi yang ingin kubaca ulang lagi dan lagi:
1. Andai Luka Bisa Dibagi
2. Bertemu Simbah
3. Di Dalam Rumah Kami
4. Natal Buatan Ibu
5. Salut pada Ibu
6. Kau Berhasil Jadi Peluru

Ketika Wani menyebut Bapaknya berhasil jadi peluru, aku percaya Wani kembali mewarisi itu. Ia jadi peluru bagi para pembaca, memantik kobar semangat, memercik perlawanan. Aku sungguh berharap orang-orang seperti ini diberi umur panjang.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
February 21, 2021
Menurutku Fitri bisa lebih berbahaya dari Wiji Thukul sebab dia menitipkan keresahan individu tentang relasi anak, bapak, ibu dan keluarga dengan begitu mudah. Puisi-puisi pendeknya membuktikan bahwa dia tidak perlu cerewet seperti Bapaknya untuk dikenang. GORE!!!
126 reviews14 followers
October 16, 2018
uapik sangaaattt... termasuk di antara buku antologi puisi yang bener2 ga bisa berhenti saya baca sampai sehari tamat. Polos, namun indah berima. Sekaligus pula (dan ini klimaksnya) sangat2 ekspresif. Perpaduan yang pas untuk bisa disebut "puisi-puisi yang hidup". Bener, seperti kata pengantarnya, kesan kesosokan Wiji Thukul sang Bapak yang tidak kembali berpulang benar2 kuat dalam puisi2 di sini. Namun kesan ketulusan yang terasa dari setiap baris demi baris dan bait demi baitnya, saya kira itu termasuk kekuatan terbesar yang dimiliki buku ini.

Apikk!!
Profile Image for Andhi Shafira.
7 reviews
July 9, 2024
Another poetry book I’ve read. Random ambil ini di library karena bukunya tipis, ternyata buku kumpulan puisi tang ditulis mbak Wani—anak sulung dari Wiji Thukul. Isinya tentang kehilangan, rindu, yang dia tuangkan dalam bentuk kumpulan puisi. Setelah baca, aku bisa terbayang apa yang dirasakan sama mbak Wani. Tentang marah dan sedihnya. A warm quick little read untuk tau sedikit tentang salah satu bagian dari sejarah Indonesia. Tentu ada beberapa puisi yang aku belum bisa paham, tapi aku suka karena banyak kalimat indah yang relate dengan kehidupan(ku) sehari-hari.
Profile Image for raafi.
930 reviews452 followers
April 27, 2025
Kompleksitas Wani dan sosok bapak dalam kumpulan puisi ini dicurahkan dengan sebaik-baiknya; kerinduan, kemarahan, kebanggaan, serta perasaan-perasaan lain berkelindan di sana-sini. Saya bahkan mbrebes mili saat membaca bait-bait Wani tentang neneknya yang mencari bapaknya.
7 reviews
October 24, 2018
Puisi yang... haduh. sudah tidak bisa berkata-kata. Seperti ikut merasakan kehilangan seorang bapak. Keren!!!!! cuma dimasalah pencetakan saja, masih banyak yang typo. sejauh itu, puisinya menohok langsung ke ulu hati
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.