Tsujimura is an award-winning novelist, she is best known for her mystery and children novels. She studied at Chiba University and won the Naoki Prize in 2012 for Kagi no nai Yume wo Miru (I Saw a Dream Without a Key), and in 2018 she won the Japan Booksellers' Award for her novel Kagami no Kojo (Lonely Castle in the Mirror).
Mizuki Tsujimura never fails to deliver. This is her debut novel. It’s long, slow-paced, and split into several volumes, but the way she built up the mystery is top-notch.
The book really takes its time laying down all the fundamentals, so this first volume is all about the characters, their personalities, and also their relationships. It’s highly introspective with ample focus on thoughts and emotions, so it may not be for those who are looking for action right off the bat. But if you like the harrowing, tense atmosphere of being locked in a school building in midwinter, then you might like this story.
🇮🇩 For the Indonesian version: Entah kenapa ada banyak banget typo yang lolos editing, baik kesalahan kecil sampai yang lumayan ganggu seperti typo nama karakter. Banyak juga pemilihan kata yang mismatch sama konteks, dan beberapa kalimat jadi lost in translation karena diterjemahkan mentah-mentah. Contoh: フェミニスト itu artinya gentleman, bukan literally feminist. Layout prosa dan dialog juga aneh karena mengikuti format novel Jepang, jadi barisnya dipisah padahal dialognya masih dari karakter yang sama, cuma terpisah karena ada prosa pendek di tengah.
Kalau kalian nyampe ke sekolah terus gak ada siapa-siapa bakal gimana? Padahal gak ada informasi libur. 👀
Delapan siswa SMA Seinan Gakuin datang ke sekolah di tengah cuaca salju yang lebat dengan kondisi sekolah yang kosong. Mereka berpikir mungkin yang lainnya telat karena kondisi cuaca. Tapi setelah waktu berlalu beberapa saat masih tidak ada siapapun yang datang.
Mereka mengecek semua area di sekolah dan tidak menemukan satu orangpun. Bahkan guru-guru pun tidak ada. Anehnya lampu semua ruangan menyala seperti biasanya. Anehnya waktu berhenti di pukul 05.53. Seperti waktu kematian seorang siswa yang bunuh diri. Lebih mengejutkannya lagi gerbang sekolah terkunci, semua akses untuk keluar dari sekolah tidak bisa terbuka. Mereka terjebak di sekolah yang membeku ini.
Satu-satunya cara supaya mereka bisa keluar adalah dengan mengingat kembali kejadian bunuh diri di sekolah itu. Tapi mereka semua kesulitan mengingat kejadian itu. Siapa yang bunuh diri? Apakah yang sebenernya terjadi?
_______________________ Baca ceritanya benaran tegang banget! Penulis berhasil bikin pembaca ikut merasakan suasana sekolah yang kosong dan kebingungan para tokohnya dengan apa yang terjadi. Bayangin coba lagi salju lebat terus di sekolah cuma berdelapan aja. 👀👻
Ada 8 tokoh di novel ini dan semuanya punya karakter yang berbeda. Aku suka gimana setiap tokoh punya perannya masing-masing.
Aku suka banget bagian salah satu tokohnya ngasih teori kenapa mereka terjebak di sekolah kaya gini. Beneran mind blowing sih. 🤯 Aku baru denger teori kaya gitu dan bikin penasaran buat nyari tau teorinya itu. 🤯
Terus ada tokoh lainnya yang muncul sesekali dan kayanya dia tuh pemilik dunia “sekolah yang membeku” ini. Apakah dia hantu atau apa? 👻👀 Sekolah ini tuh dunia pararel atau apa? 🤯
Well, baca ini harus agak sabar sih, karena ceritanya dibangun secara perlahan. Tapi worth it karena kalian bakalan dibikin penasaran terus. Terus ceritanya juga gak hanya fokus ke sisi misterinya doang. Tapi ngangkat isu kesehatan mental dan bullying di sekolah.
Karena ini novel pertama jadi masih banyak misteri yang belum terpecahkan. Aku penasaran sih sama kelanjutan ceritanya. Jarang banget nemuin novel genre gini yang berseri. Total bakalan ada 4 novel. Semoga terbit semuanya!
Aku rekomendasikan novel ini kalau kalian suka cerita misteri dengan tokoh-tokohnya anak sekolah dan mengangakat isu kesehatan mental dan masalah-masalah remaja di sekolah!
Novel ini bercerita tentang siswa-siswi SMA Seinan Gakuin yang berangkat sekolah kayak biasanya. Tapi hari itu salju turun lebat, dan karena nggak ada pemberitahuan libur dari sekolah, mereka pun tetap ke sekolah seperti biasa.
Namun anehnya, di sepanjang jalan suasana terasa sepi, langit kelabu, bahkan mereka nggak pas-pasan sama murid lainnya di jalan. Pokoknya suasana pagi itu terasa janggal.
Sampai akhirnya yang datang ke sekolah cuma mereka berdelapan, dan mereka semua sekelas, kelas 3-2. Awalnya mereka kira kalau mereka ini dijahili Sakaki, wali kelas mereka. Jadi cuma mereka yang nggak dikabari kalau sekolah libur, pikir mereka. Soalnya Sakaki ini, meski guru, dia agak problematik dan suka bercanda gitu loh orangnya. Umur dia juga masih muda, jadi banyak siswa yang nganggep dia teman ketimbang guru.
Karena nggak mau berlama-lama, salah satu dari mereka langsung mencoba buat pulang. Tapi kejadian demi kejadian aneh mulai terjadi satu per satu.
Mulai dari pintu dan jendela sekolah yang nggak bisa dibuka, membuat mereka semua terkurung di sekolah itu. Lalu sinyal ponsel pun tiba-tiba hilang, dan semua menjadi kalut saat waktu terhenti di jam 5.53.
Semua jam yang ada di sekolah tiba-tiba berhenti. Waktu yang sangat spesifik. Waktu ketika seorang siswa SMA Seinan Gakuin bun*h d*ri dengan melompat dari atas gedung sekolah pada hari pentas seni budaya.
Akhirnya mereka sadar, untuk bisa keluar dari sana, mereka harus mengingat kembali apa yang terjadi di hari itu. Namun, seperti sebuah fenomena mistis, tak seorang pun di antara mereka yang mengingat siapa orang yang melompat dari gedung sekolah, termasuk fakta bahwa orang tersebut mungkin saja ada di antara mereka.
────────
Gils!!!!! Seruuuuuu banget novel ini!!!
Asli, baca ini bikin merinding. Padahal ini bukan novel horor yang ada penampakannya gitu loh. Tapi tetep aja bikin merinding 😭 Coba bayangin, kalian bersahabat nih berdelapan, lalu terjebak di sekolah dan nggak bisa ngapa-ngapain, dan ternyata salah satu dari kalian adalah orang yang udah m**ti? Serem banget nggak sih 😭
Ini yang dialami oleh delapan siswa ini, yaitu Mizuki, Takano, Rika, Sugawara, Keiko, Akihiko, Shimizu, dan Mitsuru.
Ingatan mereka seperti dimanipulasi. Mereka ingat pas kejadian itu, tapi mereka nggak bisa ingat dengan jelas, padahal kejadiannya baru sebulan yang lalu. Mereka nggak bisa ingat wajah, suara, bahkan gender dari teman sekelasnya yang b**uh diri itu. Dan bisa aja mereka sendiri yang bund*r tapi nggak ingat, kan? Mungkin banget.
Gils!!!!! Seruuuuuu banget novel ini!!!
Asli, baca ini bikin merinding. Padahal ini bukan novel horor yang ada penampakan gitu loh. Tapi tetep aja bikin merinding 😭 Coba bayangin, kalian bersahabat nih berdelapan, lalu terjebak di sekolah dan nggak bisa ngapa-ngapain, dan ternyata salah satu dari kalian adalah orang yang udah mati. Serem banget nggak sih 😭
Ini yang dialami oleh delapan siswa ini, yaitu Mizuki, Takano, Rika, Sugawara, Keiko, Akihiko, Shimizu, dan Mitsuru.
Ingatan mereka seperti dimanipulasi. Mereka ingat pas kejadian itu, tapi mereka nggak bisa ingat dengan jelas, padahal kejadiannya baru sebulan yang lalu. Mereka nggak bisa ingat wajah, suara, bahkan gender dari teman sekelasnya yang bundir itu. Dan bisa aja mereka sendiri yang bundir tapi nggak ingat, kan? Mungkin banget.
✎ Terjemahannya enak dibaca, nggak kaku. Aku juga suka narasinya yang detail. Mulai dari penggambaran bangunan, suasana, bahkan ekspresi wajah setiap karakter pun bisa kebayang jelas kayak lagi nonton film.
✎ Menggunakan alur maju mundur. Banyak flashback. Sudut pandangnya juga ganti-gantian antara mereka berdelapan, tapi sama sekali nggak bikin bingung kok. Karena mereka semua punya porsinya masing-masing.
✎ Pace-nya menurutku sedang cenderung lambat yaa. Tapi aku nggak ada waktu buat merasa bosan sama sekali karena setiap pembicaraan atau perkataan yang mereka lontarkan, tanpa sadar ada clue-cluenya.
✎ Di sepanjang buku 1 ini, plotnya meliputi mereka yang terjebak di sekolah dan belum tahu harus ngapain. Lalu mereka juga sedang berusaha mengorek-ngorek ingatan tentang hari festival itu. Dan menjelang akhir, mereka mulai menemukan sesuatu yang mungkin bisa jadi clue penting. Nggak sabar mau lanjut buku keduanya 😭🤚
Baca ini berasa banget tegangnya. Aku selalu deg-degan, pengen tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya.
✎ Oh ya, buku ini ngingetin aku sama anime Another. Tentang para siswa yang berusaha survival dan mencari siapa orang mati di kelas mereka. Vibes-nya mirip banget dan alurnya pun secara garis besar hampir serupa. Kalau kalian suka anime Another, kemungkinan besar kalian juga bakal suka sama novel A School Frozen in Time ✨
✎ Penokohan Beberapa kesan yang berhasil aku tangkap dari para karakternya sejauh ini:
1. Mizuki (Perempuan) Aku salfok karena nama karakternya sama kayak nama si penulis. Mizuki tipe orang yang takut dibenci, jadinya semuanya dipendam dan malah nyalahin diri sendiri walaupun itu bukan salahnya. Saking stresnya dia karena salah satu temannya terus-terusan nyalahin dia, Mizuki sampai nggak bisa makan. Bahkan memuntahkan apa yang dia telan. Dia tertekan dan nggak bisa cerita ke orang lain. Anaknya negatif banget. Dia merasa kalau she doesn't deserve anything. Selalu merendahkan dirinya.
Mizuki ini, mohon maaf, tipe yang bakal aku hindarin kalau di real life. Terkesan jahat, tapi aku memang nggak sebaik itu sampai-sampai bikin diri sendiri stres dan frustasi karena nggak bisa ngapa-ngapain. Soalnya masalah Mizuki ini memang datang dari dalam dirinya sendiri. Sebanyak apa pun orang-orang atau temannya berusaha ngubah pandangannya tentang dunia, tetap aja nggak mempan.
2. Takano (Laki-laki) Sahabat masa kecil Mizuki. Ketua kelas. Pembawaannya tenang dan dewasa. Sangat bisa diandalkan.
3. Rika (Perempuan) Tipe cewek yang centil dan di keadaan tertentu jadi menyebalkan. Tapi di balik itu semua dia nyembunyiin sisi rapuhnya.
4. Akihiko (Laki-laki) Seseorang yang sangat mengedepankan fakta. Cara bersikap dan berpikirnya fleksibel, jadi dia yang pertama kali bisa menerima situasi saat ini. Tapi kadang cara berpikirnya cukup dalam dan lebih bisa diandalkan ketimbang Takano.
5. Keiko (Perempuan) Seseorang yang realistis dan nggak percaya hal-hal mistis, jadi dia masih belum bisa menerima keadaan yang terjadi sekarang. Berkebalikan sama Akihiko. Kadang Keiko ini juga bersikap menyebalkan karena terkesan keras kepala, tapi apa yang dia ucapin selalu masuk akal.
6. Shimizu (Perempuan) Siswi berprestasi. Satu-satunya di angkatannya yang dapat beasiswa penuh di SMA Seinan Gakuin yang terkenal sulit dan ketat. Pengetahuannya cukup membantu di saat-saat akhir volume 1 ini.
7. Mitsuru (Laki-laki) Dikenal sebagai cowok yang berpendirian lemah dan nggak enakan, makanya sering diminta tolong dan dimanfaatin sama yang lain. Tapi dia orang yang sangat positif thinking, jadi dia merasa nggak dimanfaatin. Tapi orang lain sayang sama dia karena sifat positifnya ini.
8. Sugawara (Laki-laki) Tipe cowok nyentrik dan terkesan bandel, tapi aslinya anak yang sangat baik. Sempat diskors karena main j*di mahjong. Orang-orang sering manggil dia naif karena dia memandang segala sesuatu dengan simpel. Tapi itulah yang jadi kelebihan sekaligus kekurangannya. Karena sifatnya yang blak-blakan dan naif ini, dia jadi semacam penengah di grup ini.
Sesuai ekspetasi saya mengenai kekhasan dari novel Jepang; alur yang lambat, dialog panjang, dan deskripsi yang rinci, yang sebenarnya mengandung clue untuk konflik yang terjadi. Penggambaran suasananya sungguh hebat karena meskipun saya sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka berdasarkan blurb, tetapi goosebump ketika mereka mulai menyadari segala kejanggalan pun merambat kepada tubuh saya.
Namun kelebihan itu pula yang menggantung perasaan saya di akhir halaman, karenanya saya harus melanjutkan bacaan ke buku kedua. Padahal menurut saya buku pertama bisa dipersingkat dan memasukkan sejumlah konflik di buku kedua. Sebab di buku ini sama sekali tidak memberikan benar merah yang mulai tebal mengenai siapa korbannya, melainkan hanya spekulasi2 abu2.
Sebenarnya saya sudah memprediksi akan seperti ini, tapi menurut saya buku ini terlalu lambat alurnya dan beberapa hal tidak necessary justru dimasukkan untuk menambah jumlah halaman mungkin? Entahlah. Saya harap ketiga buku berikutnya tidak meninggalkan kesan yang sama. Besar ekspetasi saya terhadap plot yang baru ini.
ceritanya menarik bgtt walau alurnya lambat biasanya aku cocok-cocok aja, tapi gaya ceritanya bikin ga betah☹️ lebih kerasa buat middle school atau very early YA? bukan jelek juga, tapi penjelasannya terlalu mengulang-ulang dan mendeskripsikan yang tidak perlu, sehingga rasanya seolah kita ga akan ngerti kalau tidak dijelaskan detail begitu
big love for mizuki tsujimura tho, looove her latest books so it’s good to know she’s come a long way
kemungkinan besar tetap mau lanjut baca tapi versi manganya hehe
Menurutku buku ini sebenarnya punya potensi dari segi plot dan character development (andai saja dikemas dengan alur yang lebih cepat). Aku baru baca volume 1, dan ga ngintip apapun tentang lanjutan buku ini, terlepas dari alurnya yang slow pace, jujur misterinya bikin penasaran banget.
This book would have got 5/5 for me, but some awkward translation/editing made it lose one star. The overall translation is okay, but there are places where a better choice of words and a better use of punctuations could have made a much better experience. For instance, I don't think the word the translator was looking for was "ambigu". So many Indonesian-speaking people seem to misunderstand this word as meaning simply "kabur". Another example: there was one instance where I believe the translator has misunderstood the word, I suspect, フェミニスト. This is one of the so-called "false friends" in Japanese. In the context it doesn't really mean "a feminist" as in English; simply just a man who's kind or chivalrous towards women.
The story itself is intriguing: Eight high schoolers went to school amid snow one day to find that there was nobody else and they couldn't leave the school. All clocks stopped at 5.53, the time when a student had jumped off the rooftop a few weeks back. Suddenly they couldn't remember who that student was. I just can't wait for the next volumes to know what's actually going on.
Pas beli buku ini di marketplace, sama sekali tidak sadar kalau ini BUKU PERTAMA. Angka di covernya juga hampir tidak terlihat. Pas baca halaman terakhir, masih ngegantung, dan tertulis bersambung ke buku dua... ingin sebal rasanya. Hadeh.
Rating akan dipertimbangkan kembali setelah membaca buku keduanya.
Saat baca ini selalu muncul perasaan merinding dan gak nyaman. bukan karena hantu ya, tapi suasana di dalam bukunya tuh sukses bikin aku merasa ikut masuk ke dalam ceritanya. bikin penasaran. kalo dibacanya pas lagi mendung atau hujan, mungkin menambah kesan ‘suram’ nya juga. aku suka novel yang vibesnya kayak gini