Jump to ratings and reviews
Rate this book

Keki

Rate this book
Blurb:

Tingkah Sahla memang seringkali absurd, tapi kali ini yang paling puncak. Ia bersikeras memakai helm sepanjang hari di sekolah. Alasannya? Sahla grogi berat jika harus bertemu, apalagi bertatap muka dengan Ahyar, sang pujaan hati yang untung atau sialnya jadi sekelas. Jika sampai berpapasan, Sahla akan langsung lari kencang, kabur tanpa peduli apapun lagi.

Melihat tingkah Sahla ke Ahyar, hati Ken langsung bergejolak. Apa sebegitu sukanya Sahla ke Ahyar? Apa Sahla sama sekali nggak ingat dengan Ken? Dengan janji mereka bertahun-tahun lalu? Ken merasa nggak punya banyak waktu untuk mewujudkan janji mereka di masa lalu, tapi ia juga dibuat kewalahan dengan tingkah Sahla yang nggak pernah menyadari perasaannya.

292 pages, Paperback

First published August 1, 2018

1 person is currently reading
12 people want to read

About the author

Sheilanda Khoirunnisa

3 books4 followers
Lahir di Kediri, 21 September 1993. Mulai suka menulis sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Buku pertamanya berjudul Extraordinary Espresso, terbit 10 Agustus 2016.

Sesuai dengan kebiasaannya, yaitu menulis sebuah buku yang sangat ingin dibacanya sendiri. Berharap orang-orang yang memiliki kesamaan selera dengannya juga ikut terbantu.

Genre favoritnya adalah tentang Keluarga dengan bumbu romance, komedi, persahabatan dan kadang juga menyelipkan brothership yang kental. Ia kerap kali menulis cerita yang fluffy namun juga mengharu biru.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (17%)
4 stars
15 (51%)
3 stars
6 (20%)
2 stars
3 (10%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,438 reviews73 followers
December 1, 2018
KEKI adalah novel kedua dari seri Belia Writing Marathon Series Batch 2 yang kubaca setelah PELIK. Novel ini beneran bikin Keki dalam berbagai arti (positif dan negatif). Sungguh judul yang sesuai. XD Aku akan coba menjelaskan poin keki positif dan negatifnya. Semoga seimbang.

Keki yang positif di sini, maksudnya pas membaca novel ini itu dijamin bakal bikin gemeeesss... Rasanya sampai pingin cabut-cabutin rambut sendiri sambil teriak kaya Tarzan, dah. Efek Sahla pada teman-teman sekolahnya ngefek juga ke aku, haha. Sahla sukses bikin aku keki dan mengelus dada di sepanjang cerita.

Sahla Laluna Bachmid, cewek yang dengan ajaibnya bisa bertahan menjalani pendidikan sampai kelas XI SMA. Apa pasal? Sahla ini punya kekurangan...yaitu di bagian kognitifnya (aku berusaha susah payah mencari eufimisme sehalus beludru untuk kasus Sahla XD). Dia nggak cuma bermasalah di bidang akademis, tapi pas diajak ngomong sehari-hari pun nggak nyambung, Ya Allah... Rasanya kayak baca dialog-dialog comic relief di sinetron-sinetron komedi slapstick. Tapi setelah dibaca terus, akhirnya jadi kerasa alami, kok. Alami nyebelinnya... Hahaha... Nyebelin di sini maksudnya memang sesuai dengan karakterisasi Sahla. Dia tokoh yang dibuat loading lambat untuk menimbulkan rasa gemas dan pertanyaan "kok bisa nggak nyambung terus, sih?!" di benak pembaca. Bukan jenis 'nyebelin' yang sampai bikin pingin benci Sahla dan nggak meneruskan lanjut baca novel ini. Malah kita jadi pingin terus baca karena penasaran apa yang bisa membuat Sahla menjadi seperti itu.

***

Aku mulai merasa kelemahan Sahla dalam hal kognitif ini jadi epic pas dia interaksi sama gurunya, Pak Saipul. Wali kelasnya yang terkenal killer itu kayak mati gaya waktu berhadapan sama Sahla. Apalagi pas penulis menjelaskan Pak Saipul dan Sahla saat berhadapan begitu imagenya seperti Masha and the Bear. Kebayang dong gimana kocaknya? Aku nggak bisa nggak membayangkan Pak Saipul yang pingin menggulung Sahla tapi nggak sanggup karena yang mau dimarahin aja nggak ngerti kalau sedang dimarahin.

Dan nggak bisa berhenti ngakak waktu dia dengan jujurnya bilang pingin pindah kelas karena malu sama Ahyar di depan guru killer itu. Mana ngomongnya "malu sama Yayang" lagi, Ya Allah, Sahlaaaa... (acak-acak rambut) Anak SMA mana yang sejujur itu sama gurunya sendiri, coba? Nggak ada kalau bukan yang selugu Sahla. EPIC.

Juga sukses dibikin senyam-senyum sendiri tiap Ahyar ngancam berencana mau melakukan sesuatu terhadap Sahla kalau gadis itu tetep nggak nyambung diajak ngomong. Kepribadian Ahyar yang cool tapi perhatian ini bikin greget dan cekit-cekit gimana gitu di hati. Dan aku kayaknya terlalu khusnudzan dengan ancaman Ahyar. Kirain Sahla bakal dijitak atau diapain gitu. Tapi di ending sepertinya ancaman itu mengacu pada hal yang... yah... gitu, deh XD *keringat dingin.

Nah, nantinya di pertengahan akan dibuka soal rahasia di balik panggilan "Yayang" dari Sahla kepada Ahyar. Ternyata bukan panggilan mesra biasa. Ada cerita mengharukan di balik panggilan "Yayang" yang bikin gemes-gemes geli ini. Baca aja sendiri deh kalau penasaran.

***

Sebenarnya ya kasihan Sahla ini... Mau ngasih celaan takut karma. Soalnya yha kita sebagai manusia kan punya sisi-sisi oon pada beberapa aspek tertentu, ya kan? Lagian anak-anak yang lambat belajar memang ada. Juga ada yang penyebabnya karena fenomena seperti down syndrome. Tapi Sahla benar-benar menguji batas kesabaran semua orang, nggak cuma para tokoh di sekitarnya, tapi juga pembaca. Untungnya kekurangan Sahla ini disajikan dengan cara yang imut. Jadi meski sebel, tetap bikin gemes. Mungkin tokoh Sahla ini bisa menguji rasa empati kita semua. Pernah punya teman yang mungkin rada loading lambat pas diajak ngomong? Biasanya orang kaya gitu dijadikan bulan-bulanan target candaan bersama di pergaulan. Tapi coba posisikan diri jadi dia.

Aku pernah ada teman yang begitu. Aslinya cerdas, banget. Tapi karena cara berpikirnya agak rumit, caranya menyampaikan sesuatu dan mengerjakan sesuatu agak berbelit sehingga menguji kesabaran orang-orang di sekitarnya. Terus pas kami ada di satu kepanitiaan yang sama, satu-dua teman menjadikan hal itu jadi lelucon, meski begitu dia nggak merespons dan tetap fokus menjelaskan konsep acara serta mengerjakan tugasnya. Ngeliatnya bikin nggak enak hati. Akhirnya pas dia diolokin lagi aku bilang ke orang-orang itu, "Cara berpikir tiap orang, kan beda!". Yah jadi tiap sebel sama Sahla aku inget-inget teman itu. Juga inget-inget posisi ketika lagi nggak ngeh terhadap sesuatu dan dipermalukan dengan kalimat, "Masa gitu aja nggak tahu?"

Apalagi kemudian rahasia besar mengapa Sahla bisa seperti itu dibuka. Aku jamin teman-temannya Sahla beneran nyesel deh sudah memperlakukan Sahla sampai sebegitunya tanpa tahu alasan di balik itu semua.

Ya. Keki menyajikan misteri berlapis dalam elemen ceritanya. Itulah yang menarik. Mengapa Ahyar bisa memperlakukan Sahla sebaik dan sehangat itu ketika seisi sekolah hobi menghina Sahla? Apa kaitan Sahla dengan Ken? Misteri masa lalu mereka bertiga yang rumit sampai bikin Dr. Lintang, ayah Sahla, ikutan bingung? Dan penulis bisa dengan sabar dan tekun menggiring pembaca hingga akhirnya semua rahasia itu dibuka. Dia bisa bikin elemen misteri dalam novel remaja yang genre utamanya bukan misteri.

***

Cuma ada beberapa hal yang bikin keki beneran. Hal ini kutulis panjang sebagai masukan untuk penulis yang sebenarnya menyimpan banyak potensi.

Pertama. Masalah seting budaya. Novel ini memiliki seting di Kediri. Jawa Timur banget, lah. Tapi 90% tokoh di sini ngomongnya "gue-elu" ala orang Jakarta. Masa semua tokoh di novel ini pindahan dari Jakarta, sih? Ini adalah sesuatu yang vital. Jadi bertanya-tanya mengapa editor dan tim BWM2 sampai membiarkan hal ini lolos begitu saja. Padahal, aku udah seneng ketika julukan "SaHell" buat Sahla yang di versi Wattpad nggak diloloskan. Bikin suasana hati makin ga enak pas baca soalnya. Keputusan bagus untuk membuang nama yang jadi bahan perundungan itu. So, kalau detail kecil seperti itu saja diperhatikan, kenapa masalah aspek budayanya enggak? Why?

Aku sering kok baca novel yang tokoh-tokohnya pakai dialek bahasa Jawa. Contohnya novel-novel yang ditulis para anggota Forum Lingkar Pena (yang ditulis anggota yang berasal dari Jawa). Mungkin memang novel-novel itu punya aura yang lebih serius, cenderung ke sastra daripada ke novel populer remaja. Tapi kurasa justru di situ tantangan buat penulis. Kalau dia bisa bikin novel dengan konflik kekinian tapi tetap mempertahankan sisi kearifan lokal berupa dialek Jawa Timuran asal Kediri, tentu novel ini akan lebih mencuri perhatian.

Sejujurnya berkat efek novel, sinetron, dan film yang didominasi dialek Jakarta, aku sendiri juga susah membayangkan novel populer gaul anak muda tanpa "gue-elu". Lebih susah lagi jika para karakternya berdialek Jawa Timuran. Tapi kalau film Yo Wis Bennya Bayu Skak aja bisa tampil tetap gaul dan kocak untuk anak-anak masa kini meski dialog-dialognya didominasi bahasa Jawa (bahasa Jawa kasar lagi), kurasa novel ini seharusnya bisa tampil menonjol dengan jati dirinya sendiri di tengah novel-novel remaja lain yang ber-gue-elu. Atau, misal tidak mau menggunakan dialek Jawa (misal, karena takut pembaca novel populer malah nggak ngerti), kata "aku-kamu-saya" kurasa sudah cukup. Banyak kok novel-novel populer lain yang berhasil tampil kece meski ber-aku-kamu-saya (Rangga dan Cinta di AADC banget gitu, loh. Haha)

***

Untuk masalah seting ini aku juga dibikin bertanya-tanya soal kurikulum SMA tempat para tokoh KEKI bersekolah. Memang sih rasanya sudah nyaris satu dekade lebih aku lulus dari SMA. Sudah lama pula nggak interaksi sama anak SMA (kadang ada kenalan di forum penulis dunia maya yang ternyata masih SMA atau malah lebih muda lagi, tapi secara teks kadang mereka tak terkesan seperti remaja kebanyakan. Mungkin karena "penulis"? Haha). So kurikulum sekarang pasti sudah banyak yang berubah. Program Studi di novel ini dibagi menjadi dua: MIA, yang fokusnya pada ilmu pelajaran sains dan eksakta (kelas IPA ya. MIA singkatan dari apa, sih? Majelis Ilmu Alam? Haha. Sekarang nama penjurusan ini diubah?) dan IIS yang fokusnya pada ilmu pelajaran sosial dan humaniora (again ini singkatan dari apa? Institut Ilmu Sosial? Haha).

Nah, di KEKI ini para karakternya sepertinya sudah langsung dijuruskan sejak kelas X. Sedangkan setahuku, penjurusan program studi di SMA itu dimulai saat naik ke kelas XI. Apa iya SMA sekarang melakukan penjurusan sejak kelas X? Atau adakah sekolah yang menggunakan otonomi kurikulum sehingga melakukan hal serupa? Daripada ke kritik, bagian ini lebih ke "sekarang update model SMA kayak apa, sih?"

Ketika naik ke Kelas XI, kelas para murid diacak. Mereka bisa saja tidak sekelas dengan teman-teman sejurusannya di kelas X. Tapi di kelas XII mereka tidak mengalami sistem serupa. Apa ada yang kayak gini? Setahuku diacak terus. Kecuali kalau kayak kelasku dulu. Kelas Bahasa cuma ada satu kelas. Otomatis dari kelas XI sampai kelas XII ya teman-temannya nggak berubah sama sekali. Terlepas dari "ini novel fiksi, kan", biasanya untuk masalah kurikulum sekolah, para novelis akan menyajikan sistem yang sesuai dengan kehidupan nyata. Kalau mereka menyajikan kurikulum yang berbeda dari kebanyakan atau mengadaptasi kurikulum negara lain dalam sekolah fiksinya, itu akan mereka bangun dari awal cerita. Semacam mempersiapkan para pembaca agar menyetel mindsetnya dalam mode "alternate universe" atau distinctive fact.

***

Kedua. Cara mengulur dan menyelesaikan misteri penyebab konflik. Beberapa misteri yang sudah dibangun sejak awal, ternyata konklusinya nggelethek alias nggak seheboh cara menyembunyikannya. Soalnya beberapa misteri seperti janji Sahla dan Ken saat kecil, alasan kenapa Banyu dan Junot (saudara tiri Ahyar) memperlakukan Ahyar seburuk itu, beneran dibikin berbelit di sepanjang cerita. Wajar dong kalau aku sebagai pembaca mengira-ngira ada hal yang sangat besar dari itu semua?

FYI janji Sahla dan Ken memang tetap terasa manis. Tapi buatku kejutan manisnya enggak sebanding dengan kegemasan masa penantiannya. Mungkin karena dari awal sudah dibuat bertanya-tanya nyaris tanpa hint sama sekali. Lalu ujug-ujug semua itu dibuka begitu saja di akhir.

Sebagai antagonis yang potensial, subplot untuk perseteruan Ahyar-Banyu-Junot-ayah malah kurang diperkuat di bagian reason. Aku nggak percaya orang bisa berubah secepat itu hanya dengan diajak diskusi beberapa kali, apalagi yang karakternya sekeras Banyu-Junot-ayah Ahyar. Harusnya ada serangkaian adegan yang dicicil dari pertengahan hingga akhir yang bisa menuntun ketiga karakter itu ke arah perubahan. Buku Write Me His Story bisa jadi contoh yang bagus untuk teknik peralihan agar tokoh yang keras kepala bisa pelan-pelan berubah di akhir. Dalam WMHS, tokoh utamanya juga punya daddy issues. Harus ada sesuatu yang benar-benar menggoncang agar tokoh ayah yang sekeras karang ini bisa berubah dinamis dan melunak. Dan ketika berubah pun seharusnya tidak seratus persen berubah seperti mendapat hidayah dari langit. Tetap ada rasa canggungnya dan justru itu yang alami.

Untuk bagian reason sebenarnya alasan ayah Ahyar bersikap dingin pada dua anak kandungnya: Ahyar dan Embun, masuk akal, sih. Beberapa kali dengar hal serupa terjadi baik di dunia nyata maupun novel. Tapi ya karena dibuka begitu saja di akhir, padahal aku belum merasa terikat dengan konflik ayah-anak ini, jadinya ya... terasa "gitu aja".

Sedangkan Banyu dan Junot, yang tingkat "kejahatan"nya benar-benar bisa berpotensi menghilangkan nyawa orang, konsekuensi buat mereka nggak sebanding. Alasan mereka melakukan itu semua juga kesannya dangkal. Iya orang jahat memang ada juga yang nggak berpikir panjang waktu bertindak. Kasarnya, jahat ya jahat aja, nggak perlu pakai alasan. Tapi karena dua karakter ini direncanakan bakal mengalami perkembangan karakter di akhir, seharusnya bagian alasan diperkuat. Jadi pembaca bisa tahu apa alasan dibalik berbagai ulah mereka. Bisa saja alasan-alasan para villain itu memantik empati pembaca loh kalau dikembangkan. Apalagi kalau ditambahkan mereka mengalami pergolakan batin sebelum akhirnya memutuskan untuk mulai berubah.

Buat pembaca yang lebih mementingkan proses daripada hasil akhir, yah... novel KEKI tetap kurekomendasikan untuk tahu bagaimana caranya penulis memilin dan memelintir misteri-misterinya sampai bikin penasaran terus. Juga bakal dibikin gemes oleh cara penulis memoles tokoh-tokohnya yang punya sifat ala karakter film komedi slapstick. Susah untuk memoles tokoh-tokoh model Sahla (dan reaksi orang-orang di sekitarnya) bisa sealami dan senikmat ini untuk diikuti. Ini beneran susah. Karena tiap kali model karakter komikal seperti Sahla ini muncul di film atau sinetron, aku merasa terganggu. Bahkan novel yang ditulis para novelis komedi senior pun masih "terjebak" setiap mereka berusaha menjual karakter-karakter yang kemampuan kognitifnya kurang sebagai elemen komedi utama. Sahla masih jauh lebih mendingan karena bisa menimbulkan efek gemas di hati. Ya sebel. Tapi ya ngerasa kasihan. Ya pingin ngelindungin. Pingin ngejitak, tapi ya pingin nge-puk-puk. Ya gitu, deh.

***

Hal yang paling kusuka dari KEKI adalah bagaimana tokoh seperti Ahyar dan Ken bisa mempertahankan kesan dan memori baik yang mereka terima dari Sahla. Kehadiran Sahla sangat berarti ketika mereka mengalami masa-masa sulit di saat kecil. Dan ketika mereka bertiga bertemu lagi di masa depan, kesan itu tidak hilang. Sebagai rasa terima kasih mereka berdua tetap memperlakukan Sahla dengan sangat baik, tak seperti lingkungan sekitarnya yang tak bisa bersabar menghadapi keunikan gadis itu. Poin mengingat kebaikan seseorang. Itu sangat kuat di sini.

Aku juga suka ketika Ahyar dan Ken memutuskan untuk melakukan persaingan sehat. Keduanya juga beberapa kali harus menekan perasaan sendiri untuk menjaga perasaan saingannya. Hanya saja mungkin karena Ahyar dan Ken punya karakter yang bertolak belakang dan aslinya juga hanya orang asing, hubungan mereka tidak seberapa hangat. Sebenarnya seharusnya chemistry mereka bisa sih dikembangkan dari kecanggungan-kecanggungan yang ada. Tapi fokus di novel ini terlalu banyak. Kalau jatah halamannya 450an halaman seperti Write Me His Story, mungkin saja semua elemen di cerita novel ini akan terbangun maksimal.

Dan ini catatan refleksi juga bagiku yang suka bermain-main dengan subplot cerita saat menulis. Meski konfliknya hanya satu-dua, tapi kalau fokus, maka saat mencapai penyelesaian penulis tidak akan dibebani begitu banyak PR. Kecuali jika memang KEKI memang ingin dirancang sebagai serial (Why not?), dengan kemungkinan sekuel-sekuel spin off yang juga bisa tetap dinikmati secara terpisah.

Konklusi antara hubungan Ahyar-Ken-Sahla juga bagus. Keki adalah satu novel remaja kurekomendasikan karena mengedepankan tema cinta serta hubungan antarmanusia tanpa mengumbar banyak adegan vulgar dan konsep pacaran. Lazimnya pada pola cerita hubungan cinta segitiga, pihak yang diperebutkan pada akhirnya harus memilih salah satu. Namun, penyelesaian hubungan trio Ahyar-Sahla-Ken di sini dibiarkan menggantung sehingga pembaca bisa bebas berfantasi sendiri. Mungkin saja para fans Keki nanti bisa membuat produk derivatif seperti fanfic atau fanart berpola "what if" yang bisa mengangkat novel Keki sebagai karya original. Para tokoh Keki lebih berfokus pada masa depan daripada sekadar hubungan cinta dan pacaran jangka pendek. Itu yang tampaknya masih kurang pada banyak novel remaja serupa yang lain. Cinta yang mendewasakan.

Satu lagi poin plus dari KEKI: ilustrasinya! Penelovy, you've done a great job here! Adegan-adegan yang dipilih untuk diilustrasikan itu pas dan cara memvisualisasikannya ngena di hati. Dari segi gestur, angle, background, lumayan detail dan variatif. You should have done the same for PELIK lah, aiyaaa... Apa semua novel BWM2 diilustrasi oleh Penelovy? Penasaran sama ilustrasi dia buat novel-novel BWM2 yang lain.

By the way karena penasaran dengan "apakah manusia bisa mendengarkan irama detak jantung orang tanpa stetoskop", aku sampai meluk dada ibuku buat nyoba dengerin detak jantungnya, loh. Ternyata memang bisa terdengar dan jelas. Tadinya kukira Sahla itu punya kuping bionik atau apa, tapi ya ternyata emang bisa. WOW. Cuma, ya karena aku nggak pernah meluk orang dengan kondisi jantung aritmia, aku jadi nggak bisa memastikan irama detak jantung mereka itu seberbeda apa dengan irama detak jantung orang biasa. Ada yang mau kupeluk buat dites? CEWEK AJA, YA! Bisa buyar kalau cowok yang nawarin diri jadi bahan eksperimen. Haha.
Profile Image for Yandi Asd.
116 reviews4 followers
July 29, 2022
Awalnya aku merasa kurang nyaman sama cara penyampaian penulis. Tapi lama-lama aku merasa enjoy dan perasaan kurang nyaman tadi kayak ilang gitu aja wkwk. Anw, ide novel ini sebenernya termasuk golongan yang kompleks sih kalau buat cerita teenfic. Tapi, penulis berhasil ngemas novel ini dengan cara yang sederhana dan ringan. Jadi aku sebagai pembaca tuh nggak dibuat pusing sama alur ceritanya.

Untuk tokoh, menurutku karakter Sahla di sini kelihatan khas. Suara/tone-nya kejaga banget dari awal sampai akhir. Tapi, di awal-awal tuh aku ngerasa jengkel sama dia wkwk. Tapi pas tahu kenyataannya, aku ngerasa nggak nyangka—sama kayak reaksi temen-temen Sahla. Soalnya kukira Sahla begitu tuh emang ya karena sifatnya aja gitu, nggak ada hal yang melatarbelakanginya. Salut juga sama penulisnya karena ngedesain para tokohnya dengan cara seperti ini.

Cuma, menurutku masih ada hal-hal yang sebaiknya diperkuat dan diperhalus lagi. Contohnya pas halaman 200-an, terutama pas teman-teman Sahla tahu kejadian sebenarnya. Tapi, yg kusebut tadi bukan masalah besar kok (kalau dalam novel ini). Jadi, rapopo sih. Eh, tapi proses penyelesaian masalahnya aku suka. Prosesnya kelihatan cukup jelas, bikin aku jadi paham kalau para karakternya bertindak dengan wajar.

Untuk ukuran teenfic, novel ini isinya nano-nano. Ada yang bikin kesel, ketawa, sedih, sama marah juga. Cocok banget dibaca buat teman-teman yang lagi gabut atau yang lagi mau nyoba baca novel-novel teenfic.

3,5/5⭐
Profile Image for Autmn Reader.
882 reviews92 followers
April 22, 2024
Actual rating 2,5 🌟

BEWARE, KINDA SPOILER!!

Setelah buku ini lama tertimbun di TBR, akhirnya terbaca juga. Terima kasih untuk Kak Cindy yang udah nemenin aku baca ini. Ayo kita bereskan semua buku di serie ini, wkwk.

Menceritakan tentang Sahla yang menecintai teman masa kecilnya dulu. Mereka telah berjanji untuk sekolah di SMA yang sama. Sayangnya, apa ingatan Sahla tentang masa kecilnya itu benar atau salah?

Pros:

Cerita ini punya trope love triangle dan menurutku, cerita ini salah satu love triangle yang well written. Semua tokoh punya porsi yang pas. Setiap karakter punya ceritanya masing-masing dan menurutku nggak ada yang berat sebelah sih antara Ken-Sahla-Ahyar.

Aku suka ending-nya yang nggak maksa. Untuk ukuran anak SMA, memang itu yang harus Sahla lakukan. Padahal udah worry aja endingnya bakalan gimana, tahunya dapat dieksekusi dengan pas dan realistis.

Cons:

Sebetulnya, narasinya enak dibaca. Salah satu cup of tea-ku. Tapi sayangnya aku nggak begitu tahan dengan kelakuan Sahla. Aku juga nggak bisa dapet chemistry-nya. Jadi sebetulnya aku rada tidak peduli juga Sahla akhirnya ke siapa. Dan ya, banyak momen cringe yang buat aku meringis. Ya, simply not my thing aja, sih sebetulnya.
Profile Image for Eka S. Indriani.
22 reviews4 followers
Read
March 7, 2020
ke·ki /kéki/ a 1 merasa tidak senang, mendongkol, kesal (terhadap orang lain): ia merasa -- karena tidak satu pun pekerjaannya yang mendapat pujian; 2 merasa iri hati.
.
.
Novel Keki sendiri mempunyai judul yang unik dan sulit tertebak isi ceritanya, karena kita akan mudah terkecoh di mulai dari judulnya. Tapi nggak apa-apa karena itu salah satu daya tarik novel ini😍
.
.
✨ Karakter tokoh yang ada di novel Keki mempunyai komposisi yang pas tidak terkesan berlebihan khas anak remaja yang sedang menjalani kehidupan SMA dan kak Sheila mampu membuat karakter tokoh yang kakak ciptakan menjadi hidup serta terkesan nyata dan tidak dibuat-buat.
✨ Isi novel Keki sendiri, mengandung banyak teka-teki dari serangkaian rentetan konflik yang ringan-berat diselingi bumbu-bumbu komedi, brothership/bromance yang membuat novel ini menjadi komplit dan pastinya tidak membuat kita bosen😂

✨ Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga (Sahla, Ken, Ahyar) Dan juga alur yang digunakan maju mundur.

✨ Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari Novel ini mau dari segi kehidupannya, karakter dan juga quotesnya yang keren tetapi mempunyai arti bagi kehidupan kita.

https://www.instagram.com/p/Bq9_s2YA6...
Profile Image for Rika Oktaviani.
45 reviews
September 6, 2018
Keki. Teenlit manis yang unik. Dengan gaya bercerita dan bahasanya penulis yang asik banget, khas anak muda. Tetapi Keki ini tidak hanya cocok untuk dinikmati pembaca remaja saja, untuk orang-orang dewasa juga bisa banget.
.
Tentang kisah cinta segitiga seorang remaja. Yang memang sejak mereka kecil sudah terikat dengan takdir. Dan disaat mereka menginjak usia remaja, mereka pun kembali dipertemukan oleh takdir. Ikatan macam apa sih yang mengikat mereka bertiga? Mari baca ceritanya biar keponya terobati😂
.
Karakter para tokohnya pelukable banget, hidup, dan konsisten dari awal cerita sampai akhir cerita. Walaupun diisini tokoh nya banyak, namun setiap tokoh memiliki karakter sendiri-sendiri. Punya ciri khas masing-masing.
.
Konfliknya yang sebenernya agak riwet yaa, namun dengan gaya penulisnya yang mampu menata dengan telaten penyelesaiannya, membuat pembaca jadi semakin jatuh cinta dengan ceritanya.
.
Teenlit dengan dibumbui romance dan komedi yang sangat segar, mantap parah sih, bikin nagih ceritanya😂. Duh bakal kangen nih sama si Garong😂
.
Baca keki ini bener-bener kayak dijungkir balikan. Duh bikin Keki😂 rasanya campur aduk deh, emosi dipermainkan gaes😂. Kadang sedih, seneng, bahagia, lucu, kadang ngakak kayak orang yang gak punya masalah hidup😂
.
Banyak sekali pelajaran-pelajaran hidup dari Keki ini. Dan semua itu bahkan sampai loh kehati para pembacanya. Oh good! Kamu wajib banget baca Keki, selain masalah percintaan disini, persahabatan dan kekeluargaannya juga dapet banget.
.
Ah. Ya. Masalah Sahell mau milih Ahyar atau Ken, biarlah Sahell yang nentuin. Biar waktu yang menjawab. Eyaak😂 saya mah tinggal dukung-dukung aja. Asal itu yang terbaik buat Sahla nya😉
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.