Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Di buku ini, Rusdi membaca situasi tersebut dan mengajukan berbagai refleksi serta kritik untuk dunia media dan jurnalisme yang ia geluti lebih dari 25 tahun.
Rusdi Mathari menekuni profesi jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara Pembaruan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan jurnalistik tentang HAM.
Saat ini, ia masih aktif menulis di beberapa media. Termasuk menulis catatan dan pengalamannya yang dimuat blog pribadinya maupun status-status di dinding Facebook-nya. Di blognya, kita akan menemukan banyak tulisan-tulisannya yang serius. Sedangkan di Facebook, kita menemukan tulisan-tulisan yang sederhana seputar keseharian, pada sosok yang dijumpai, imajinasi pada tempat-tempat yang jauh, juga corat-coret pendeknya atas satu isu yang menurutnya gatal untuk menuliskannya. Gaya menulis yang mudah dipahami dan sudut pandang yang menarik adalah ciri khas tulisan-tulisan nonfiksi Cak Rusdi.
Sependek ingatan saya, sebelumnya saya hampir tidak pernah mendengar nama Rusdi Mathari, hingga akhirnya tulisan Beliau rutin dimuat pada situs mojok.co dalam bentuk kisah Cak Dlahom Series. Dan berhasil membuat saya jatuh cinta.
Dari situlah perkenalan saya dengan Cak Rusdi (melaui karya-karyanya) hingga Beliau meninggalkan kita pada suatu pagi di awal Maret lalu.
Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan, adalah salah satu kumpulan tulisan Cak Rusdi yang diterbitkan oleh Penerbit Mojok belakangan ini. Berisikan esai/opini tentang dunia jurnalisme yang pernah ditulisnya melalui blog, atau sosial media Beliau.
Jika salah satu tujuan jurnalistik adalah memberikan kritik, serta sarana melawan ketidakadilan, maka dunia jurnalisme seharusnya selalu bersedia dikritik, begitu kata Cak Rusdi.
Buku ini wajib dibaca oleh penggiat jurnalistik, mahasiswa, pelajar, dan semua saja yang ingin tahu seluk-beluk dunia media. Juga bagi siapa saja yang ingin merawat ingatannya tentang Cak Rusdi.
Sugeng Tindak, Cak! Teruslah menulis tentang keindahan tempatmu di sana...
Seperti judulnya, buku ini membahas banyak hal yang bisa kusebut dengan pembelaan bahwa jurnalisme memang bukan monopoli wartawan, dilihat dari kacamata Rusdi Mathari. Sekali lagi, karena ini esai, sah-sah saja jika kalian mempertanyakan kebenaran peristiwa yang ditulis, meski kuyakin Cak Rusdi juga sudah berusaha menulis sesuai fakta yang ia ketahui lewat wawancara atau sumber lain yang ia dapat.
Berbeda dari buku-buku esai lain karyanya yang cenderung membahas topik secara umum, buku ini berfokus pada masalah jurnalistik dan media, mulai dari kode etik jurnalistik, etika wawancara, tokoh-tokoh wartawan baik yang ia kenal maupun yang hanya bisa ia kagumi, dan tentu saja masalah pada media itu sendiri hingga kasus PHK sepihak yang terjadi padanya dan beberapa rekan lainnya. Sedikit banyak, aku dapat sedikit pencerahan bagaimana sebenarnya media itu bekerja. Ada yang idealis, ada juga yang, yah, bergantung dengan pihak tertentu. Kayaknya hal semacam ini bukan barang aneh untuk dijumpai.
Perbedaan lain yang kujumpai adalah jumlah artikel yang ditulis. Untuk ukuran 256 halaman dengan rata-rata 6-7 halaman per artikel, ini termasuk banyak. Ini memudahkan para pembaca lamban sepertiku untuk membaca sedikit-sedikit tanpa harus khawatir berhenti di tengah-tengah cerita yang belum selesai. Isi artikelnya pun lumayan menguras emosi. Aku sendiri bahkan ikut merasa emosi ketika menyimak tulisannya soal media masa kini yang bergelimang hoax dan clickbait. Barangkali, karena bahasannya jurnalistik inilah yang membuat Cak Rusdi bisa menunjukkan isi hatinya yang sebenarnya ketika itu.
Untuk gaya tulisan, aku tidak menjumpai masalah. Hanya saja, aku merasa buku ini tidak cukup dikurasi. Beberapa kali aku menemukan typo, baik tanda baca maupun penulisan kata yang menyebabkan aku harus diam di tempat dan mencerna kalimatnya baik-baik. Selain itu, ada beberapa peristiwa yang diulang-ulang penulisannya, sehingga membuat beberapa artikel di dalamnya terkesan basi. Peristiwa mogoknya wartawan The Times, misalnya. Aku merasa sudah pernah membacanya di buku lain--mungkin "Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam". Entah buku mana yang mengutip buku mana, aku tak tahu. Bahkan, ada paragraf dari "Mogok Wartawan The Times dan Koran Jakarta" dan "Wartawan Bermasalah" yang ditulis sama persis, hanya beda di pembagian paragrafnya.
Sangat disayangkan, padahal aku selalu suka dengan tulisan-tulisan beliau di sini. Mestinya, kalau memang mau bahas hal yang sama, bisa diubah sedikit susunan kalimatnya, atau memakai metode kutipan agar jelas artikel mana yang mengutip mana. Namun, jika merujuk pada bulan penerbitan--Juli 2018 atau 4 bulan sepeninggalnya Cak Rusdi--dan penerbit tidak punya kuasa untuk merevisi sedikit isi artikel tersebut, kurasa aku bisa mengerti.
Akhir kata, kalau kalian bertanya apa buku ini layak dibaca, ini oke-oke saja kalau mau dibaca. Hanya saja, kalau kalian ada yang perfeksionis, siap-siap saja kesal, hehe.
Judul: Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan Penulis: Rusdi Mathari Penerbit: Mojok Cetakan pertama: Juli, 2018 Jenis buku: Social Science | 18+
Publik setidaknya perlu membekali diri dengan pengetahuan bagaimana media bekerja. Sehingga berita tidak hanya diurusi bahkan dimonopoli oleh wartawan. Penting untuk publik bisa membedakan, mana saja berita-berita yang disebarluaskan yang didasari kepentingan redaksi, kepentingan perusahaan, kepentingan orang perorangan yang kebetulan menjadi pemimpin media, kepentingan sumber berita, atau berita yang benar-benar berita.
Di buku ini ada 38 artikel yang berasal dari status Facebook, catatan blog, materi pelatihan jurnalistik, juga liputan yang dilakukan oleh Rusdi Mathari ketika masih berkerja di media. Yang mana sebagain besar artikel merupakan ulasan dan kritik tentang media, baik di Indonesia maupun global. Buku ini membahas seputar seluk beluk jurnalisme.
Terjadinya peningkatan kepemilikan media daring yang tidak dibarengi dengan kontrol mutu berita, menyebabkan tsunami hoax dan berita palsu merebak. Ketika terbukti berita yang disebarluaskan salah, mereka lantas semena-mena menggantinya begitu saja tanpa memberitahu publik, terkadang bahkan langsung menghapusnya, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak jarang media juga sering mendaur ulang berita yang disesuaikan dengan kepentingan para pendiri dan pemilik modal.
Situs-situs berita pun kini saling adu cepat menjadi yang paling pertama menuliskan dan memberitakan suatu peristiwa. Terlambat satu detik dengan situs berita lain adalah memalukan dan dianggap aib. Perkara kerja tertib; verifikasi dan konfirmasi, dilompati. Toh publik tidak akan mengecek sumber beritanya, pikir mereka.
Kebebasan pers yang menghalalkan media untuk mengkritik segala hal, membikin media (khususnya di Indonesia) abai mengkritik diri sendiri. Sementara bagi penyunting buku ini, Wisnu Prasetyo Utomo, kritik adalah ikhtiar merawat jurnalisme.
Dalam suasana-suasana semacam itulah buku ‘Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan’ harus ditempatkan.
Pengalaman Cak Rusdi, begitu sang penulis akrab disapa, selama lebih dari 25 tahun di dunia jurnalistik membuat buku ini menjadi begitu menarik, karena ia memberikan perspektif kepada publik bagaimana seorang jurnalis memandang secara kritis jurnalisme itu sendiri.
Adapun di sini, kritikan yang ia sampaikan tidak bermaksud untuk mengerdilkan jurnalisme, sabaliknya, yakni untuk menjaga martabat jurnalisme dan kebebasan pers.
Di sisi lain, beralihnya media menjadi industri, membuat wartawan seolah hanya sekrup yang harus bekerja memenuhi target pemilik modal. Tak jarang wartawan pun diperlakukan semena-mena, seperti PHK secara sepihak yang terjadi di Koran Jakarta dan Trust.
Meski mendapat perlakukan semena-mena, kebanyakan wartawan menerimanya begitu saja. Mereka yang biasanya memberitakan aksi mogok kerja, hanya bungkam saat mendapatkan perlakuan serupa. Sebagian besar karena telanjur merasa bahwa wartawan adalah pekerjaan intelek, dan menilai mogok kerja sebagai perbuatan buruh kumuh serta kaum kiri yang genit.
Lebih lanjut, buku ini juga mengulas beberapa peristiwa terakit jurnalisme. Di antaranya tentang Wael Abbas, blogger asal Mesir yang memberitakan aksi-aksi aktivis Mesir jelang pemilu 2005; Peristiwa yang terjadi di Balibo Timor Leste pada 16 Oktober 1975; Isu agama saat pemilu era SBY; Charlie Hebdo; Obor Rakyat; hingga seputar buku ‘Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Century’ tulisan George Junus Aditjondro.
Berita yang muncul di berbagai media massa seperti koran, televisi, dan internet tidak serta merta ada begitu saja. Berita sampai kepada pembaca melalui alur yang panjang dan melibatkan banyak kepentingan di dalamnya. Sebagai wartawan senior, Rusdi menceritakan dengan sederhana kisah di balik pembuatan berita itu secara ringan dan mengalir. Buku ini merupakan 38 refleksi dan kritiknya terhadap media: nasional dan internasional, yang ia publikasikan melalui blog, facebook, surat kabar, dan bahan ajar pribadinya. Tulisan tersebut lahir dari wawasan, pengamatan, dan keterlibatannya langsung dalam praktik jurnalisme, sebuah bidang yang ia tekuni selama lebih dari 25 tahun melalui profesi wartawan. Secara umum, sesuai judulnya “Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan”, buku ini berusaha menjelaskan cara wartawan dan media bekerja melalui kaca mata penulis, Rusdi mathari. Namun, jika dilihat lebih detail, kumpulan tulisan Rusdi ini membahas empat hal: kisah menarik para jurnalis, sejarah berbagai surat kabar, kritik terhadap media, dan kiat menjadi pewarta berdasarkan pengalaman langsung Rusdi. Sebagai pewarta senior, Rusdi mengenal cukup banyak tokoh jurnalis berpengaruh. Urutan pertama dalam buku ini, tulisan Rusdi berjudul “Jacob” membahas ingatannya dalam mengenal sosok pendiri kompas, Jacob Oetama yang memberi kesaksian dalam perkara pembredelan majalah Tempo. Rusdi juga membahas kisah sastrawan dan jurnalis Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez dalam tulisannya “Despedida Senor Gabo”. Lebih dari setengah tulisan di buku ini membahas tentang kritiknya terhadap media. Rusdi menguliti sisi lain dunia jurnalistik melalui berbagai kasus yang menarik. Contohnya dalam ‘Wartawan dan Kebohongan’ ia menceritakan dua tulisan dari media besar, The Washington Post dan Jawa Pos yang menerbitkan tulisan fiktif. Sejatinya, menurut Rusdi “wartawan dan kebohongan adalah dua senyawa yang tidak boleh bersatu.” – Halaman 23 Rusdi juga memberikan bekal sejarah kepada para pembacanya di buku ini. Pasang-surut surat kabar di Indonesia ia singgung melalui kisah yang terjadi terhadap surat kabar Sin Po, Sinar Harapan (berubah menjadi Suara Pembaruan), Obor Rakyat, The Jakarta Post, dan Tempo. Kisah di dalamnya menjadi menarik karena dalam beberapa kasus seperti di Tempo dan Suara Pebaruan, Rusdi bersinggungan secara langsung. Paham akan segmentasinya yaitu pembaca yang hendak nyemplung ke dunia jurnalistik, Rusdi membagikan kiat dasar menjadi wartawan. Dalam tulisan “sumber berita”, “tentang wawancara”, dan “wartawan dan kebohongan” ia memberikan ilmu praktikal dalam peliputan. Bagaimana cara mempersiapakan wawancara hingga menghadapi berbagai kendala yang kerap muncul di dalamnya, ia jelaskan dalam tulisan “tentang wawancara”. Tidak dapat dipungkiri jam terbang Rusdi dalam dunia kepenulisan membuat atikel di buku ini sangat mudah untuk dimengerti. Wisnu Prasetya Utomo, sebagai penyunting ia melakukan pengurutan terhadap 38 tulisan yang ada di buku ini dengan runut sesuai dengan topik yang diangkat, sehingga antar tulisan terjalin ketersinambungan. Sayangnya, ada beberapa kali pengulangan cerita dalam tulisan yang berbeda. “Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan” merupakan pengantar yang asik bagi pembaca awam yang ingin masuk ke kolam jurnalistik. Rusdi mencertikan secara jujur dan terang-terangan betapa dalam dan keruhnya kolam itu, karena “Jurnalistik adalah dunia yang mestinya tidak boleh ada kebohongan, perasangka, dan itikad buruk.” – Halaman 216
Saya tidak menyangka, awalnya saya mengenal alm. cak rusdi (begitu panggilan akrabnya) dari cerita-cerita bertamakan sufistik dari "Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya" dilanjut dengan "Laki-Laki Yang Tak Berhenti Menangis". Dan saya selalu mengira beliau memang hanya menulis di ranah tema keislaman. Mengejutkannya beliau juga merupaka wartawan senior yang dihormati.
Dalam kumpulan esai/opini yang dihimpun oleh mojok di buku kali ini melalui catatan-catatan yang berserakan dari sosial media juga blog milik Cak Rusdi. Buku ini adalah bukti upaya selain merawat ingatan kita terhadap sosok Cak Rusdi, juga merupakan bacaan ringan mengenai dunia kejurnalisan dan lebih khususnya kritik terhadapnya.
Sungguh, terlepas dari tidak atau iyanya ketertarikan dirimu terhadap jurnalisme, saya merasa buku ini cukup penting untuk setidaknya menjadi bahan bacaanmu, walau sekali. Agar setidaknya kita memahami bahwa jurnalisme bukan monopoli wartawan.
Seperti bukunya yang berjudul Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam, buku ini juga berisi kumpulan tulisan beliau tentang dunia jurnalistik.
Tulisan-tulisan alm. Rusdi Mathari tuh tajam, reflektif, dan menegangkan ketika membahas isu-isu seperti kasus korupsi, kekerasan, hingga kongkalikong antara media dan penguasa. Yang bikin aku ngerasa tegang tuh karena mikir, "Anjir, apa yang udah dipertaruhkan beliau untuk bikin tulisan seberani ini?"
Cak Rusdi menuliskan kisah personalnya meniti karir jurnalistik. Dari dicap sebagai “wartawan bermasalah” sampai kritiknya atas kritik terhadap kerja jurnalis Tempo ketika meliput skandal Asian Agri. Judul buku ini dinukil dari argumen jurnalis senior Farid Gaban: karena jurnalisme bukan monopoli wartawan.
Sebuah buku yang merupakan kumpulan artikel yang dibuat oleh penulis. Memberikan banyak wawasan tentang dunia jurnalistik. Tulisan enak untuk dibaca dan diikuti.
Kumpulan esai ini sangat membantu orang seawam saya tentang dunia yang berkaitan dengan wartaman dan berita. Kumpulan pengalaman yang menginformasikan hal-hal di luar "keidealan" sebuah berita. Dimana saya jadi tahu bahwa seperti anggapan banyak orang,berita arus mainstream tidak selalu benar. Begitu juga berita yg beredar di sosial media, belum tentu salah.
Baca ini berharap akan ada analisis lebih dalam dari Cak Rusdi karena latar belakang beliau yang sudah sangat senior di bidang jurnalisme. Akan tetapi, yang didapatkan adalah pandangan-pandangan umum yang kebanyakan sudah dituliskan di blog beliau. Berharap ada kesinambungan antarbabnya, tetapi yang didapat hanya hal-hal umum, seperti insight ke dunia jurnalistik
Jika ingin tahu apa saja yang dilakukan wartawan mungkin buku ini bisa menjadi salah satu referensinya. Cak Rusdi mengajarkan bagaimana cara menjadi wartawan agar tidak tertawan oleh liputan. Hiruk pikuk kota bahkan kalah oleh hiruk pikuk pikiran wartawan. Cak Rusdi tidak tanggung-tanggung membongkar dunia lain di balik berita-berita yang ada di media, sebab harusnya seperti itu.
Jika jurnalisme menjadi monopoli wartawan, maka jadilah kebusukan berita dengan bau-bau anyir yang masuk ke hidung pembacanya, mengaduk-aduk isi kepala, lalu terlontara berbagai kalimat-kalimat adu domba. Satu kalimat tulisan yang ditulis oleh seorang wartawan bahkan bisa ditawan karena terlalu keras atau bahkan terlalu lembek. Jikalau lembek, tak ada yang bisa menggenggamnya. Jikalau keras, tidak ada yang bisa mengunyahnya.
Mengupas tentang jurnalisme, berarti mengupas pula tentang berbagai kelicikan di dalamnya. Ada ruang-ruang tempat betukar peran antara fakta dan ilusi. Pun antara lembar coretan liputan dan lembar lima puluh ribuan. Pun katanya, beberapa menit terawal diakui lebih unggul, meskipun bahasa pemrograman komputer dapat dibayar.
Ada beberapa kisah yang menyentuh hati, beberapa yang lain bahkan menyentuh dengan keras hingga menyayat. Artikel di dalamnya membuat orang-orang tahu, ada nyawa yang digadaikan dalam beberapa paragraf berita. Ini mungkin hanya secuil ruang-ruang rahasia di balik jurnalisme. Saya yakin, masih banyak hal yang terus disembunyikan.