Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Sehimpun Reportase

Rate this book
Sembilan belas naskah yang berada di tangan Anda adalah sehimpun reportase Rusdi Mathari. Naskah ini disajikan secara mendalam, menarik, dan juga menggelitik. Pembaca akan dibawa oleh Rusdi Mathari untuk menjelajahi reportase dari beragam kisah.

Mengetahui kisah orang-orang yang berjuang melawan penyakit AIDS, orang-orang tua yang menghabiskan hidup di panti, dan sekelumit kehidupan pasar. Menelisik kehidupan masyarakat Aceh pasca-tsunami dan pembalakan hutan di Kalimantan. Membaca catatan beragam peristiwa hukum dan kriminal, hingga ketidakadilan yang dialami sebagian kelompok di Jawa Timur.

216 pages, Paperback

First published July 1, 2018

9 people are currently reading
117 people want to read

About the author

Rusdi Mathari

8 books59 followers
Rusdi Mathari menekuni profesi jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara Pembaruan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan jurnalistik tentang HAM.

Saat ini, ia masih aktif menulis di beberapa media. Termasuk menulis catatan dan pengalamannya yang dimuat blog pribadinya maupun status-status di dinding Facebook-nya. Di blognya, kita akan menemukan banyak tulisan-tulisannya yang serius. Sedangkan di Facebook, kita menemukan tulisan-tulisan yang sederhana seputar keseharian, pada sosok yang dijumpai, imajinasi pada tempat-tempat yang jauh, juga corat-coret pendeknya atas satu isu yang menurutnya gatal untuk menuliskannya. Gaya menulis yang mudah dipahami dan sudut pandang yang menarik adalah ciri khas tulisan-tulisan nonfiksi Cak Rusdi.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (36%)
4 stars
61 (51%)
3 stars
10 (8%)
2 stars
2 (1%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
May 19, 2021
Sepertinya aku mulai paham kenapa penulis mengumpulkan reportase (laporan liputan berita) mereka lalu membukukannya. Yang paling kentara, terutama setelah membaca karya Cak Rusdi ini, yaitu karena pembaca akan tahu seluk-beluk peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Terlebih, kebanyakan reportase dibawakan melalui sudut pandang berbeda dari media mainstream (yang ini setelah membaca kumpulan reportase karya Linda Christanty, Cak Rusdi, dan lainnya).

"Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam" berisi 19 reportase peristiwa yang terjadi circa 2000-an sampai 2010-an. Dari tentang selidik perihal penayangan film "Ayat-Ayat Cinta" yang sohor pada 2008, kasus dibuinya ketua KPK Antasari Azhar, kasus Syiah-Sunni di Sampang, serta kasus sodomi JIS pada 2014. Selain kasus-kasus nasional maupun daerah yang besar-besar itu, buku ini pun menampilkan reportase sederhana seperti perjalanan penulis ke pasar di dekat rumahnya dalam tulisan "Suatu Hari di Sebuah Pasar".

Kesemuanya dibawakan secara rinci dan kronologis sehingga pembaca yang tak tahu-menahu soal kasus yang disampaikan mudah paham. Saking rincinya, penulis kerap menyebut setiap subjek yang menjadi bahan perbincangan dalam tulisannya (contoh: daftar PT yang mendukung reklamasi teluk Jakarta, daftar nama yang menghadiri pertemuan di pendopo Kabupaten Sampang). Ini menandakan reportase yang ditulis ala kode etik jurnalistik.

Lucunya, beberapa reportase kasus pada buku ini bikin berlinang air mata. Saking jujurnya, tulisan-tulisan di sini menguarkan "rasa" sehingga sampai pada benak pembaca. Belasan tahun setelah kasus-kasus itu ramai dibicarakan, pertanyaan akan nasib orang-orang dalam buku ini melambung: keadilan bagi para tertuduh pelaku sodomi di JIS, nasib para nelayan di Teluk Jakarta, bapak penjual singkong dan kacang tanah di Pasar Lenteng Agung, para pengikut Syiah di Sampang.

Membaca buku ini bagai pergi ke masa lalu dan menyaksikan hal ihwal yang terjadi melalui Pintu Ke Mana Saja.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
October 15, 2018
Bisa jadi karena telanjur hanyut sama tulisan almarhum di buku yang sebelumnya dibaca "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya", secara otomatis punya ekspektasi cukup tinggi kalau buku ini bakal sama bagusnya.

Kenyataannya, tidak 100% betul, walaupun tidak mengecewakan juga. Buku ini memang tidak sebagus Merasa Pintar, tapi memang karena konsepnya beda. Merasa Pintar semacam kumpulan sufi, sedangkan Mereka Sibuk berupa kumpulan reportase.

Merasa Pintar berisi kumpulan pola pikir dari almarhum soal kehidupan sehari-hari, Mereka Sibuk berisi kumpulan tulisan almarhum soal banyak kejadian yang ada di Indonesia, hasil dari pekerjaannya semasa hidup, seorang jurnalis.

Tapi yang bikin bagus, setiap reportase ditulis detail dan rapi. Setiap ada info masuk, langsung dikroscek, entah dia sendiri atau mengutus anak buahnya. Hasil reportasenya apik dan detail, kalau dibandingkan tulisan-tulisan soal berita zaman sekarang yang cuma mengandalkan satu-dua bukti atau sumber.

Agak menyayangkan covernya yang terkesan biasa, bahkan cenderung kaku. Lepas dari itu, isi reportase almarhum, patut diacungi jempol.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
January 8, 2020
** Books 02 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020

3,8 dari 5 bintang!


Saya jatuh cinta pertama kali ketika mengenal tulisan Cak Rusdi didalam bukunya yang berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura sejak saat itu saya menanti tulisan-tulisan beliau yang salah satu jurnalis senior. Pucuk dicinta ulampun tiba ketika melihat buku ini nongol di acara Patjarmerah 2019 di Kota Semarang tidak ambil pusing langsung saya mengambil buku ini.. Sebenarnya saya ingin membeli buku satunya juga yang berjudul Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis tapi karena harganya hampir sama tapi buku ini lebih tebal saya memilih untuk membeli buku ini saja dulu lah XD

Membaca buku ini saya seolah mendapatkan informasi-informasi baru mengenai isu-isu yang sempat booming di tanah air karena ternyata buku ini memuat isu politik dan sosial yang patut kita pikirkan bersama. Ada kasus mengenai anak yang terkena HIV AIDS dari ibunya dan stigma masyarakat bahwa orang penghidap HIV AIDS patut dijauhi (ini sedih sumpah sosialisasi atas penularan HIV AIDS harus lebih digalakkan lagi), kasus terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen dan apa sangkut pautnya dengan mantan ketua KPK Antasari Azhar yang sampai dibahas dalam 3 bab tersendiri untuk masalah ini wew.. Adalagi kontroversi penanaman kelapa sawit dikalimantan yang mengorbankan tanaman milik warga dan jika dipikir secara berkelanjutan unsur tanah akan menjadi rusak. kasus kerusuhan di Sampang, madura mengenai adanya ajaran Syiah yang baru saya sadari ternyata jadi highlight buku ini karena terdapat pepatah Madura didalam bab ini diambil untuk dijadikan judul buku emok ngetong jhelenna ajem, kaloppae sokona dhibhik niddhek tamaccok [mereka hanya sibuk menghitung langkah ayam, tapi lupa kaki mereka justru menginjak tahi ayam].

Tapi buat saya yang paling membuat mengiris hati kisah orang-orang lansia yang ditinggalkan di panti wreda dan bagaimana kondisi kamar/gedung atau fisik mereka yang membuat miris bagi pembacanya. Buku ini menyegarkan dan memberi kita informasi baru akan kondisi tanah air kita sebenarnya :)

Referensi lainnya :
- Tulisan cak Rusdi mengenai kasus sampang tahun 2011
https://rusdimathari.wordpress.com/20...

- Tulisan Cak Rusdi mengenai penderita HIV/AIDS di Indonesia
https://rusdimathari.wordpress.com/20...

Terimakasih Patjarmerah 2019 di Kota Semarang!
Profile Image for Egy Imaldi.
30 reviews
May 18, 2025
Tulisan Cak Rusdi selalu menarik. Saya pertama kenal tulisannya ketika berkenalan dengan cerita Cak Dlahom, dan perlahan mulai suka dengan cara bercerita dan makna yang terselip dari setiap cerita di dalamnya.

Tulisan di buku ini meski berbeda dengan tulisan cerita Cak Dlahom, tetapi tetap menarik untuk dibaca. Cara Cak Rusdi menulis reportase dan menyajikan konflik dengan cara bercerita sungguh menarik: dalam tapi ringan dibaca.

19 Reportase pada buku ini, meskipun menyangkut persoalan yang usang, tapi perlu dan tetap menarik dibaca di hari ini. Mulai dari laporan suasana Pasar Tradisional sampai rumitnya konflik Sunni-Syiah di Madura.
Profile Image for Sanya.
90 reviews8 followers
October 20, 2019
Pada beberapa artikel, Cak Rusdi menulis tentang isu yang booming saat saya masih kecil (karena pada saat itu, ia sudah menjadi wartawan). Salah satunya, tentang pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang melibatkan Mantan Ketua KPK, Antasari Azhar. Waktu kecil, karena ia ketua KPK, saya melihat Antasari Azhar sebagai orang sangat baik, hampir menyerupai malaikat. Namun, kepercayaan saya itu diruntuhkan salah satu artikel yang ditulis Cak Rusdi dalam buku ini, yang menceritakan bagaimana perjalanan Antasari Azhar hingga menjadi ketua KPK.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
June 8, 2023
47 - 2023

Walaupun baru baca sekarang, semua reportase di dalamnya tetap enak dibaca, kayak baca kliping koran jaman dulu memang.
Profile Image for Jihan  Mawaddah .
34 reviews3 followers
June 7, 2019
Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam menurutku adalah sebuah memoar dari seorang jurnalis hebat yang akrab disapa Cak Rusdi. Entah kenapa ya baca bukunya Cak Rusdi selalu memberikan pengetahuan baru, semangat baru juga hikmah yang luar biasa yang patut saya syukuri hingga saat ini. ⁣

Dalam buku ini beliau menulis beberapa hasil reportase dari berbagai macam permasalahan. Mulai politik, sosial hingga budaya. Yang paling bikin hati bergetar adalah ketika membaca fenomena sosial panti jompo yang penghuninya sungguh sangat membuat saya berpikir ke depan, bertekad dan bermimpi ingin mati di rumah saya sendiri. Atau mati di jalan mungkin lebih baik daripada mati dalam keadaan sendiri di tempat yang tidak diinginkan. Sepi dan sunyi. ⁣
Padahal orang tua adalah pintu surga yang nyata berada di depan mata kita. Seringkali kita abai dan membiarkannya berlalu begitu saja hingga kedua orang tua telah tiada. Ya Allaah, bagaimana jika nanti saya juga harus masuk panti jompo? Membiarkan suster bayaran itu membersihkan kotoran dan najis yang keluar dari tubuh saya? Tangis saya pecah ketika membayangkannya. ⁣


Tidak hanya itu, Cak Rusdi juga melaporkan reportasenya tentang seorang anak pengidap HIV yang tertular dari ibunya. Sedangkan ibunya bukanlah pekerja seks komersial, bukan wanita yang suka berganti pasangan, mengonsumsi narkoba apalagi memakai jarum suntik sembarangan. Namun stigma negatif telah merebut harapan ibu dan si kecil untuk hidup dengan layak dan baik. ⁣
Padahal kita tahu penularan HIV tidak hanya terjadi pada orang-orang yang 'you know who' lah, profesi mulia seperti dokter pun punya resiko itu. ⁣
Kadang Allah memang menyapa hambaNya dengan takdir pahit, namun sarat hikmah. Kelak takdir itu jua yang akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki di surga atau tidak, tergantung bagaimana kita menyikapinya. ⁣
Ah, catatan ini sungguh menampar diri saya sendiri. ⁣

Terimakasih Cak atas tulisan-tulisan yang selalu menginspirasi. Semoga selalu jadi amal yang mengalir hingga menjadi penerang kuburmu. Aamiin. ⁣

Author, Rusdi Mathari⁣
Cetakan pertama, Juli 2018.⁣
⁣Penerbit Mojok


#30DJ #30DJ2 #30DJ2_RepostDay10⁣ #oneweekonebook #GueBacaNonFiksi
Profile Image for Ferdi Putra.
48 reviews5 followers
June 6, 2019
Ga pernah nyangka kalau baca reportase semenarik buku ini. Apalagi bagian reportase tentang panti jompo, bisnis bioskop, dan tentang reklamasi Jakarta. Terima kasih karena udah ngajarin secara tdk langsung bagaimana menulis dengan runut sehingga pembaca senang membacanya sampai habis.
Profile Image for Tsaniyatul Husna.
31 reviews3 followers
September 11, 2021
Mengawali pagi dalam seminggu, membaca “Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam” bagaikan bapak-bapak baca koran pagi di teras sambil minum kopi, bedanya saya diatas jemputan ke kantor tanpa menyesap kopi.

Berkisah tentang sembilan belas hasil reportase dalam rentang tahun 2007-2014, seperti membaca rangkuman koran pagi sepanjang 10 tahun lamanya. Kisah-kisah besar, lahir dengan singkat namun padat karya. Beberapa tajuk berita adalah berita yang pernah saya dengar gaung nya saat duduk di bangku sekolah dasar dan menengah, ternyata, dalam satu dekade banyak peristiwa besar sudah terjadi di negri ini. Tiga tajuk berita terbaik versi saya dipegang oleh kisah tentang Solo, kisah lansia dan tentu saja peristiwa Tsunami Aceh.

Dalam kisah tentang Solo saya diajak berpetualang kembali, menyusuri Slamet Riyadi sampai lewat Stadion Sriwedari, mlipir ke Ngarsopuro sampai ke pasar klithikan, saya ingat benar dulu pernah menghabiskan 15 menit didepan Stasiun Purwosari memandangi tulisan “Solo The Spirit of Java”, sejak saat itu, Solo selalu menjadi Cinta yang tidak pernah mati untuk saya.

Kisah tentang lansia beda lagi, saya dibuat marah oleh keadaan, saya dibuat kesepian, dingin, takut dengan pilihan, masa tua seperti apa yang saya harapkan kelak? Ya walaupun sejatinya, saya tidak tau akan hidup sampai setua apa kan.


Dan wabilkhusus untuk cerita tentang Tsunami Aceh, saya ingat benar, Desember 2004 saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pagi itu di Medan, bapak dan mamah teriak-teriak nyuruh saya keluar rumah, memang dasar anaknya badung saya ga dengerin. Ternyata, pas saya lagi asik nonton Doraemon sambil makan kue kumbu, gempa besar sedang terjadi, disusul Tsunami Aceh yang gaung beritanya dimana-mana. Reportase Cak Rusdi membawa kisah pilu sepanjangnya, tapi yang paling hebat adalah bagaimana cara warga Aceh bangkit dan tidak berusaha untuk berpura-pura sembuh, benar kata Cak Rusdi, “saya terisak: merasa tak berarti dibandingkan orang-orang Aceh yang hebat itu”.

Reportase kali ini menjadi penutup, benar bahwa tulisan itu tidak akan mati. Ia abadi, sebagai saksi karya-karya Alm. Cak Rusdi.
Profile Image for yunda..
66 reviews2 followers
March 13, 2021
Kan, tahu-tahu sudah selesai, saking enaknya dibaca. Pemilihan katanya menimbulkan kesan bahwa si penulis tidak berniat menggurui. Malahan, aku sendiri merasa diarahkan untuk menilai sendiri soal tulisan beliau; semacam ditanya "Bagaimana menurutmu?" secara tersirat. Pendek kata, beliau hanya menuliskan tentang apa yang ia ketahui dari hasil bertandang ke beberapa tempat dan mewawancarai orang-orang yang beliau anggap tahu tentang isu-isu yang sedang terjadi (dalam hal ini, isu tahun 2007-2014).

Karena beliau seorang jurnalis dan memang sedang menyampaikan reportase, membaca buku ini rasanya persis sekali dengan membaca koran. Fungsi koran tentu saja untuk menyampaikan informasi aktual, memangnya apa lagi? Namun, alih-alih memberitahu, almarhum Rusdi justru menyampaikan informasi tersebut dengan menunjukkan, seperti sedang mendongeng atau menulis novel. Misalnya, untuk menjelaskan kondisi pasar yang ramai, beliau tidak menuliskan "pasar itu ramai sekali". Sebagai gantinya, beliau menuliskan "saya harus melewati jalanan dengan bersenggolan pinggul dan pantat dengan ibu-ibu pengunjung lain". Paham, enggak? 😂

Selain isu politik, agama, dan sosial yang disuguhkan, buku ini juga diselipi dengan tulisan-tulisan yang kuanggap sebagai 'selingan' untuk penyegaran. Pasalnya, tulisan-tulisan tersebut jauh dari isu di atas, salah satunya berjudul "Suatu Hari di Sebuah Pasar" yang berkisah tentang bagaimana seorang Cak Rusdi menyukai pasar tradisional.

Namun, meski buku ini lumayan bagus dan bisa dinikmati orang awam politik sepertiku, aku tidak bisa sampai mengatakan bahwa orang-orang harus membacanya setidaknya sekali seumur hidup seperti yang pernah kulakukan pada buku karya alm. Rusdi Mathari yang lain. Kembali pada ujaran "buku rasa koran"; bukankah aneh jika lalu kubilang "kamu harus baca ini" sambil memberikan koran berisi isu yang memang ramai waktu itu?
Profile Image for Hanif.
4 reviews2 followers
February 16, 2020
Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam adalah petuah Madura yang digunakan Rusdi Mathari untuk menutup laporan investigasi kekerasan terhadap warga syiah Sampang. Dibagi dalam dua bab, Rusdi menyajikan 19 reportase yang ia himpun sendiri. Topiknya merentang dari reportase mengenai dugaan kasus pelecehan seksual di JIS (Jakarta International School) yang sempat gempar pada 2014 hingga pencetakan lahan kebun sawit.

Cara Rusdi menyajikan laporan reportasenya dengan gaya mendongeng membuat pembaca seakan menjadi Rusdi yang melanglang di setiap kerja-kerja cerdiknya mencari kebenaran berita di setiap isu yang silih berganti. Contohnya, dalam bagian Antasari: Catatan Seorang Wartawan (Bagian 2) kita seolah mengalami sendiri pergolakan hati Rusdi ketika martabatnya sebagai wartawan diuji di bilik karaoke. Membaca Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam tak hanya membawa kita dekat pada selaksa peristiwa-peristiwa yang pernah menggemparkan Indonesia, tetapi juga mendekatkan kita pada Rusdi, si empunya cerita.
Profile Image for qip.
8 reviews
August 1, 2023
Peristiwa yang diceritakan oleh Alm. Rusdi Mathari disampaikan dengan begitu mengalir, bahkan aku engga sadar kalau tiba-tiba buku ini udah hampir kelar!

Ada berbagai reportase yang ada di buku ini, dengan tema yang berbeda pula, namun yang paling berkesan buatku adalah kisah bagaimana orang Aceh, yang meskipun kehilangan segala-galanya, tetap berusaha buat melanjutkan hidup mereka kembali. Mengutip buku ini, "Saya terisak: merasa tak berarti dibandingkan orang-orang Aceh yang hebat itu", because that's exactly what I feel.

Selain itu, yang berkesan buatku juga bagian kunjungan ke berbagai panti jompo (langsung bikin kepikiran, sih, gimana ya kehidupanku pas udah jadi lansia nanti?), serta kisah Dukuh Santren, yang ternyata per tahun 2013 masih belum dialiri listrik.
Profile Image for Delima Purnamasari.
20 reviews1 follower
January 27, 2022
Mengalir. Banyak polemik yang sebenarnya pelik tapi disampaikan dengan bahasa yang ringan. Meski demikian, kedalaman tiap peristiwanya tetap berhasil di sampaikan. Mungkin generasi baru seperti saya sudah cukup berjarak dengan kejadian dalam cerita sehingga seakan-akan saya sedang belajar akan sebuah peristiwa bersejarah.
5 reviews
February 15, 2025
Menyibak berita dari penyampaian narsdi memang memberikan sensasi baru. Judulnya menarik, isinya juga!

Beberapa tulisan mampu membuat pembaca menitikkan air mata, sebagian tulisan membuat kesal pada beberspa pihak, sebagian lainnya membuat ngantuk
Profile Image for Gofur Sartika.
24 reviews
July 9, 2019
Banyak dibuat penasaran oleh beberapa tempat yang diceritakan (alm.) Cak Rusdi. Ketika selesai membaca, cuma bisa manggut-manggut dan membatin, "Jebul koyo ngono kuwi to."
Profile Image for nawir nawir.
58 reviews55 followers
May 30, 2020
Yang paling berkesan soal perjalanan Cak Rusdi ke Aceh setelah diterpa tsunami.
Profile Image for Abdul Hadi.
Author 5 books6 followers
October 11, 2020
Seperti kata seorang kiai: "Mereka hanya sibuk menghitung langkah ayam, tapi lupa bahwa kaki mereka justru menginjak tahinya." (Hlm. 214).
Profile Image for Resri Yuniaz.
8 reviews
March 18, 2023
Kumpulan hasil reportase yang “telanjang”. Hasil reportase yang di tulis sejujur jujurnya. Gaakan bisa kita dapet lewat nonton berita ataupun di media masa.
Profile Image for Sagara.
74 reviews
December 21, 2024
Ini adalah buku kedua yang saya baca dari Almarhum Rusdi mathari setelah buku yang saya baca sebelumnya berjudul "Merasa pintar, bodoh saja tidak punya" yang bergenre agama. Pada buku kali ini bergenre sosial science, sepertinya saya baru membaca genre seperti ini tapi yang pastinya ini adalah non-fiksi yaitu sekumpulan reportase Rusdi mathari semasa dia masih hidup yang berjumlah 19 naskah yang dibagi ke dalam 2 bab.

Dalam tiap bab ada beberapa subbab tentang suatu kasus yang pernah terjadi di masa lalu baik yang menggemparkan publik dan juga luput di mata masyarakat terlebih pemerintah, setidaknya sampai Rusdi mathari hidup, kenapa ini adalah sekumpulan reportase?, karna Cak Rusdi adalah seorang wartawan semasa hidupnya.

Di bab pertama ada beberapa hal diliput mulai dari hal ringan sampai hal berat diantaranya:

📖 1.1 Kasus pengidap orang-orang AIDS yang dikucilkan, diusir serta mendapatkan banyak ketidakadilan, banyak diantara mereka juga yang masih anak-anak.

📖 1.2 Kasus monopoli film yang dilakukan oleh bioskop 21 yang membuat mereka didakwa atas pelanggaran UU monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

📖 1.3 Liputan tentang orang tua yang menghabiskan masa tuanya di panti yang menyedihkan, bukan bersama keluarga mereka.

📖 1.4 Peliputan kasus Munir yang seorang aktivis yang dibunuh di masa orde baru lalu, kasusnya dibuka kembali di jaman presiden SBY.

📖 1.5 Kasus dugaan sodomi di JIS school yang dari liputan ini banyak hal ganjil dan tidak ada bukti yang kuat bahwa ada kasus sodomi di sana, namun terduga sudah dijatuhi vonis oleh hakim dan semua bukti dan saksi ahli dalam kasus ini ditolak oleh majelis hakim.

📖 1.6-8 Kasus Antasari Azhar mantan ketua KPK yang dibagi menjadi 3 subbab sekaligus dalam buku ini, yang pernah menggemparkan Indonesia. Namun, saat itu saya masih SMP saat Antasari menjabat di KPK jadi saya masih terlalu muda dan bodo amat tentang kasus ini, setelah baca subbab ini saya jadi banyak tahu tentang detail kasus yang menimpa mantan ketua KPK itu, sebelum akhirnya dia masuk bui. Menurut saya, tentang kasus ini begitu pun dengan banyak orang, ini hanyalah kasus kriminalisasi kepada Antasari karena yang saya tahu antasari banyak menangkap para pejabat tinggi negara terkait korupsi tidak terkecuali keluarga pesiden pada saaat itu.

📖 1.9 Liputan tentang band rock Indonesia, God bless.

📖 1.10 Cerita tentang pasar tradisional dan pandangan cak Rusdy tentang pasar tradisional.

Di bab 2 juga tak kalah berat kasus yang diangkat cak Rusdi diantaranya:

📖 2.1-4 Kasus pembalakan hutan di Kalimantan untuk dijadikan lahan sawit, kasus ini sangat pelik karna menyangkut kepentingan mata pencaharian masyarakat dan nyawa mereka dan juga kasus ini dibagi menjadi 4 subbab sekaligus saking beratnya kasus ini.

📖 2.5 Liputan Soal daerah yang masih dalam kota Madiun yang belum tersentuh oleh listrik PLN, yang justru tak ada alasan konkret yang membuat pemerintah belum memberikan aliran listrik oleh PLN. Tapi semoga saat ini daerah itu sudah masuk listrik karna ketika liputan ini dibuat saat itu masih tahun 2013 dan buku ini terbit pun tahun 2018, mudah-mudahan. Dalam buku, orang--orang yang di sekitar daerah tersebut pernah terindikasi terlibat ke dalam organisasi PKI di masa lalu namun ada kendala teknis yang dijelaskan dalam buku yang membuat listrik belum masuk ke daerah tersebut.

📖 2.6 Liputan soal wajah baru kota solo dibawah kepemimpinan Jokowi sampai dia jadi presiden, serta mediasi pak Jokowi kepada para pedagang yang ada di kota solo agar mau direlokasi.

📖 2.7 Kasus soal reklamasi teluk Jakarta di era Gubernur Ahok.

📖 2.8 Liputan tentang kehidupan orang-orang Aceh yang kuat dan luar biasa pasca-tsunami Aceh serta bagaimana mereka menata kembali hidup mereka setelah kehilangan harta dan keluarga mereka.

📖 2.9 Tentang kasus Syi'ah di sampang serta peliknya kasus kelompok itu dengan kelompok lainnya yang dipicu oleh banyak hal dan liputan inipun jadi judul buku ini.

Banyak kasus diantaranya yang akan menguarkan rasa dalam hati kita, membuka mata kita, mengingat kejadian masa lalu agar kita tidak lupa karena bangsa ini mudah lupa, baik yang luput dari mata kita maupun yang selalu kita nonton dulu di tv serta menambah wawasan dan ilmu tentang suatu perkara. Buku ini disajikan seperti kita membaca sebuah berita yang di surat kabar atau media cetak mana pun. Disusun dengan bahasa yang sangat baik dan mudah dipahami oleh semua orang karena seperti yang saya katakan di awal, cak rusdi adlah seorang jurnalis semasa hidupnya.

Berikut beberapa Quotes dalam buku:

"Mereka hanya sibuk menghitung langkah ayam, tapi lupa kaki mereka justru menginjak tahi ayam."

"Saya melihat diri saya saat tua nanti. Kemudian bertanya-tanya, seperti apa yang saya harapkan kelak? hidup bersama anak-cucu dan tinggal bersama kehangatan keluarga, atau harus tersingkir dan disisihkan ke panti jompo yang sepi dan dingin?."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Mawaddah Perabawana.
32 reviews1 follower
April 17, 2023
Saya selalu suka membaca reportase, rasanya ikut menginvestigasi suatu kasus. Dari buku ini saya mengenal Rusdi Mathari, sekaligus kecewa karena kepergian beliau sebelum saya mengenalnya. Semoga tenang di sisi-Nya.

Buku ini berisi kumpulan reportase yang bagi saya tetap relevan untuk dibaca walaupun kasusnya sudah terlewatkan. Membaca hasil reportase cak Rusdi membuat saya mengenalnya lebih dekat. Dari sini pula saya belajar menulis, melanjutkan kelas menulis berita sewaktu mengikuti organisasi jurnalistik dulu. Dari sini saya tahu, oh berita yang tidak straight new itu seperti ini, saya menikmatinya seperti membaca cerpen.
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.