Sebuah cerita cinta manis antara guru dan murid yang usianya terpaut 22 tahun. Dengan segera masuk jajaran buku favorit saya. Sangat recommended.
Fuuuuuh... Dari mana sebaiknya saya mulai?
Hmmm... kalau kalian sudah baca seri "Doukyuusei" sampai "Sotsugyousei", saya berani bilang ke kalian kalau "Sora to Hara" ini memiliki beberapa poin yang membuatnya terkesan berbeda jauh dengan kedua seri sebelumnya.
1. Pace-nya gak selambat dua seri sebelumnya. Ada feel terburu-buru di kisah ini. Terutama soal hubungan Sorano dan Harasen. Entah menurut orang-orang, tapi saya pribadi merasa kisah percintaan Sorano dan Harasen semestinya masih bisa dikembangkan dan dibuat lebih manis. Masalah ini bukan suatu kelemahan--setidaknya menurut saya--karena manga ini masih sangaaaaaaat tetap layak dibaca. Tapi yah, itu, pembaca gak lagi disuguhkan cerita bertempo lambat dan lembut seperti yang pernah saya paparkan di review "Sotsugyousei"
2. Tidak berfokus pada dua tokoh utama. Ini perbedaan yang amat besar dengan serial "Doukyuusei" hingga "Sotsugyousei" yang memang berfokus pada percintaan antara Kusakabe dan Sajou saja, gak ngalor-ngidul ke mana-mana, kalau memang ada percintaan lain itu hanya soal cinta Harasen ke Sajou doang. Tetapi, "Sora to Hara" justru memasukkan masalah cinta-cinta lain, terutama soal cinta masa lalu kedua tokoh utama. Pertama soal Harasen dan Sajou, dilanjutkan soal Sorano dan Fujino (temen SMP-nya), lalu Harasen dan Arisaka-Sensei (kalau kalian masih ingat, beliau sempat muncul waktu bagian flashback semasa SMA Harasen di serial "Doukyuusei-Sotsugyousei"), kemudian Arisaka-Sensei dan Hibiki, dan sekilas soal Kuma-chan (bener gak sih namanya? Itu loh, temen di gay bar yang biasa didatengin Harasen) dan Harasen versi muda *ciyeeeh.
Dan karena kebanyakan cerita cinta sampingan inilah, saya gak bisa gak merasa kalau kisah pasangan utama Harasen dan Sorano malah tersisihkan. Mau gak mau saya jadi merasa tempo hubungan percintaan mereka berdua itu terlalu terburu-buru (makanya saya bilang di poin 1 bahwa manga ini pace-nya gak selambat dua seri sebelumnya).
3. Atmosfernya cenderung lebih suram dibanding dua seri awal. Sementara selama dua seri awal, atmosfernya cenderung manis-manis-kiyut-kyaaaan, "Sora to Hara" cenderung berbeda. Ini mungkin dipicu pengarang yang kebanyakan mengangkat cinta masa lalu. Masalahnya, kedua tokoh utama kita ini sama-sama terjebak dalam cinta masa lalu masing-masing (dan sampai akhir pun masih belum dipaparkan secara terang oleh pengarang bahwa kedua tokoh utama kita berhasil move on, well Sorano sih sepertinya udah). Sepanjang cerita komik ini, pembaca disuguhi cinta-lama-yang-berusaha-disemikan-kembali-namun-tetap-tidak-berhasil-bersemi-kembali. Semacam itulah. Makanya, suasananya lebih muram dibanding "Dou-Sotsu" <-- makin lama si Gie makin males nyebutin judulnya secara lengkap :"v Apalagi Harasen tipe pria dewasa yang sok cool dan gak mau bergantung pada orang lain dan Sorano pun tipe pemuda yang bersikap lebih dewasa dibanding usia dia sebenarnya dan hobi memendam masalahnya sendiri. Makanya makin suram deh :"(
Ketiga poin di atas--meski cuma tiga--memberi pengaruh yang besar terhadap cerita. Saya baca-baca, banyak pembaca yang merasa "kurang" akan kisah-kisah manis dalam hubungan percintaan Harasen dan Sorano, yah saya juga. Saya kepengen ngeliat mereka berdua romantis-romantisan kayak Kusakabe dan Sajou :"( Kurang puaaaaaas kalau cuma segini, Nakamura-Senseiii ;______; Saya harap di O.B nanti bakal ada cerita Hara-Sora yang memuaskan keinginan saya ;_____;
Terus, teruuuus... mungkin ini bakal spoiler, jadi mohon berhenti baca bagi yang gak pengen xDD
Bab 1 itu menceritakan pertemuan Hara dan Sora, di sebuah gay bar. Sora itu badannya tinggi banget, makanya sering disangka udah 20 tahunan. Tapi wajahnya sangaaaaaaaat cute~~~ <333 Poin penting di bab ini adalah bahwa Sorano berhasil menyadari (saya suka, pengarangnya berhasil membuat pembaca tau kalau Sorano adalah cowok dengan insting yang tajam) bahwa Harasen itu mencintai Sajou, hanya dalam sekali pertemuan di sekolah. Hebat, Sorano, tapi entah kenapa pedih juga saya liatnya |||orz
Bab 2 si Sorano malah ngebantuin Harasen kencan dengan Sajou. Aaaaaaaaaaaghhhhh... napanapanapaaaaa!!!?? Sorano, napa dikau malah nyakitin diri sendiri dengan nyusun kencan orang yang dikau sukaiiiiin!!!??
Di bab ini, saya sempet ngakak ngeliat aksi Kusakabe ngebuntutin Sajou sepanjang kencannya dengan Harasen. God, Kusakabeeeeee, ngapain dikau masih pake kacamata item di dalem bioskooooppp??? Dodol banget, sumpaaaaah!!! Dia sebenernya gak rela Sajou kencan sama Sensei, tapi tetep diizinin, ending-nya malah dia ngambek sendiri. Dodol abis nih cowok xDD
Bab 3 giliran cinta masa lalu Sorano yang muncul. Saya nangis di bab ini. Siyalan, Sorano. Karakter Sorano yang dewasa tergali banget di bab ini. Saya jadi merasa kalau Harasen lebih kekanakan dibanding Sorano. Saya jatuh cinta sama Sorano di bab ini. Dan saya rasa Harasen pun demikian. Saya suka adegan Harasen nepuk-nepuk kepala Sorano dan Sorano nangis sambil memunggungi Harasen. Sangat lembut atmosfernya.
Bab 4... saya memang mengantisipasi kemunculan Sajou dan cinta masa SMP Sorano di dalam buku ini, tapi saya sama sekali gak nyangka bahwa cinta masa lalu yang lebih jauh juga ikut muncul: Arisaka-Sensei, guru Harasen semasa Harasen SMA. Orang yang secara tidak langsung membuat Harasen jatuh cinta pada Sajou karena Sajou begitu mirip dengan Arisaka-Sensei, dengan kata lain: inti dari cinta Harasen selama ini.
Di bab ini, Harasen jelas-jelas jadi mengabaikan Sorano karena pikirannya dipenuhi Arisaka-Sensei. Saya kesian sama Sorano. Haaaaah... tapi tetep aja, Sorano-lah yang ngejemput Harasen yang mabok dan membawanya ke rumahnya, sampai ngeberesin rumahnya segalaaaaa!!! Aaaaaawwww, Soranoooo, dikau cowok yang perhatian banget ;w;
Dan saya suka adegan samar-samar (karena cuma diperlihatkan sepotong), Sorano mencium Harasen waktu dia tidur >_____< Rasanya nyelekit-nyelekit gitu, siyalan Soranoooo, berbahagialaaaaah ;_____; Dan saya suka adegan mimpi Harasen yang dia jadi SMA lagi dan naik sepeda bareng Sorano ;______; Aw, feeeeeeelsssss ;_______;
Bab 5 penyelesaian masalah Harasen dan Arisaka-Sensei. Sekaligus penyelesaian Arisaka-Sensei dan Hibiki. Saya suka Sorano yang penuh emosi bilang kalau Harasen berhak marah, Harasen berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan gak melulu merelakan orang yang dicintainya. Saya suka gimana Sorano-lah yang meledak-ledak sampai-sampai Harasen kaget sendiri dan minta maaf tanpa sadar xDD
Dan, God, saya gak bisa gak nangis sewaktu Harasen mencium Sorano untuk membuatnya tenang dan berenti nangis (dia nangis demi Harasen, btw). Habis itu, TEPAT setelah adegan sangat-sangat-sangat romantis di mana Sorano bilang dia mencintai Harasen (dan senyum Sorano waktu ituuuuu!!! Senyumnyaaaaa....!!!), dimulailah adegan super begok!
Harasen nyium dengan posisi nindihin Sorano (gak, gak ada feels mesum di sini, sama sekali gak ada, jangan berpikiran aneh-aneh dan merusak suasana cerita, kalian), terus Sorano gak mau kalah dan berguling supaya posisinya di atas nyium Harasen, terus Harasen ogah kalah sama yang lebih muda dan berguling ke atas Sorano lagi buat nyium. Saya NGAKAK gila-gilaan di bagian ini! DASAR STUPID COUPLE!!!! Ahahahaha!!! Ngapain dua cowok guling-gulingan di pantai sampe gak sadar nyebur ke laut??? Begoooook ahahahahahaha!!! Gilak dasar xDD Bener-bener adegan yang maniiiiiis banget bagi saya!!! Akhirnya, atmosfer manis-manis-kiyut-kyaan yang membanjiri "Dou-Sou", muncul juga di komik ini~~~~!!! Lamaaaaaaa!!! Leleeeeeeet!!! Ah, munculin sejak awal kek! Ini super cute saya sampe bahagia sendiri cuman gara-gara liatin dua cowok begok guling-guling di pantai berpasir di musim dingin, oh God, saya kira ada yang salah dengan kepala saya!!! xDD
Setelah itu, suasana kembali romantis, Sorano bilang kalau dia akan membahagiakan Harasen (syit! Jadi sebenernya yang seme itu Sorano?? #gak) lalu dia lanjut bilang ngajak Harasen untuk mencari kebahagiaan bersama-sama.
Sumpah, saya... ekspresi Harasen saat itu... ekspresi Sorano saat itu... aaaaaaah feeeeeeelssss ;______; Saya nangis bahagia ;_______;
Dan cerita diakhiri dengan halaman exam sambung Harasen dan Sorano jalan gandengan tangan menyusuri pantai itu. Adegan penutup yang membuat saya terpaku beberapa saat antara percaya dan gak percaya, "Hah? Udah tamat?". Perasaan saya saat itu antara terpuaskan sekaligus gak terpuaskan ;____; Sebagai sebuah akhir, itu udah cukup, tapi pertengahannya justru berasa bolong--kurang digali.
Kesimpulan(?): Kalau nanti saya sudah keluar dari masa pertapaan tabungan ini, saya bakal ngeborong manga Anda, Nakamura-Sensei!!! Damn, I want to--have to--buy these all series. Take my money, Sensei, you deserve it for those all cute heart-warming couples!!!!