Pada usia dua puluhan Ayu Utami memutuskan bahwa menikah itu bukanlah pilihannya. Saya pada usia dua puluhan (tepatnya pada tanggal 13 Maret tempo lalu) juga memutuskan sesuatu yang penting (bukan tidak menikah ya, kalau itu ya jelas saya mau-banget) yakni saya memilih untuk tetap menjadi staf yang gak penting seperti ini sampai tua, maksud saya sampai pensiun. Sekilas info, saya satu korps dengan alm. ayahnya Ayu Utami. Saya tidak akan membahas kenapa Ayu Utami memilih tidak menikah sampai undang-undang perkawinan berubah di negara ini (tentu masih dalam kacamata Ayu) karena itu adalah haknya, hak asasinya, memvonis hak asasi seseorang yang tidak menikah dalam koridor pendapat pribadi kita tentu begitu subjektif dan naif. Mari kita mulai hanya memikirkan sesuatu yang bernilai, simply dengan tidak memasuki ranah pribadi orang lain. Tapi herannya saya, Ayu masih aja sensi dan gerah jika ditanyai perihal tersebut setelah hampir dua puluh tahun dia dalam putusannya-setidaknya itu yang saya tangkap, entah kalau saya yang salah tangkap.
Buku ini berisikan pemikiran-pemikiran Ayu yang dia jalani dengan kehidupannya sehari-hari, terkait teman-teman, keluarga, pekerjaan, kesukaan, ketidaksukaan, sentimentalitas, dan tentu saja cinta. Salah satu pernyataan Ayu yang jadi bookmarked favorit saya adalah: "memiliki teman-teman yang tidak mempunyai kepentingan selain berteman itu sendiri. Memiliki teman-teman yang lucu, tulus, dan menyenangkan. Itulah kekayaan yang paling asyik di dunia." Seketika saya sedih karena dua hari yang lalu saya dihubungi teman yang seharusnya lebih dari teman biasa menelepon untuk pinjam uang yang tidak sedikit (hebat sekali dompet saya sampai sebegitu dipercayai). Tapi tak apa, setidaknya saya sudah punya teman yang begitu tulus ke saya.
Sebenarnya saya tidak begitu menganut tarekat feminis di mana kesetaraan gender dituhankan. Karena bagaimana pun di agama saya, pemimpin tetaplah laki-laki. Bagi saya, saya tidak cukup tergantung kepada perlindungan lelaki, karena saya belum menikah porsi itu jatuh kepada ayah. Bahkan sejak SMP, saya telah mempunyai banyak ajian untuk bisa memplintir anak-anak cowok yang suka iseng, hei tentu saya tidak pernah lapor kepada ayah atau abang saya. Secara materi saya yang telah memiliki penghasilan sendiri, tentu tidak menggantungkan hidup kepada laki-laki (incase saya belum nikah, setelah nikah juga kayaknya ndak, cieh!) Memang, kerumitan ini terjadi bagi ibu rumah tangga tulen. Bicara tentang ibu, saya sangat salut pada ibu Ayu Utami, pasti beliau adalah ibu yang paling demokratis di muka bumi. Bahkan mengalahkan ibunya Sasana dalam novel Pasung Jiwa.
Awalnya saya ingin membubuhkan bintang empat di buku yang lucu dan asyik ini, namun satu bintang gugur tepat di halaman terakhir. Panjang sekali ya review kali ini, maaf atas kecerewetan saya.