"Yang aku takutkan bukan kematian, melainkan bila dibunuh sepi."
Gadis adalah seorang perempuan kampung dalam sebuah komunitas matrilineal Minangkabau. Walau berstatus sbg anak perempuan satu-satunya, ia ternyata harus menjalani kehidupan yang berat dan penuh tantangan.
Anak perempuan Minangkabau seharusnya tinggal di rumah kaumnya. Namun, anak-anak perempuan Gadis memilih meninggalkan rumah dan mandiri. Padahal, dalam keluarga batih, perempuan memiliki peran yang sangat menentukan.
Tinggal di kampung yang berbatasan dengan hiruk-pikuk kota, Gadis hidup dalam gilingan perubahan zaman.
Membaca novel dengan setting lokal selalu memberikan warna segar serta pengetahuan baru. Beberapa tahun belakangan, menulis novel dengan warna lokal memang tengah menjadi tren. Banyak penulis baru bermunculan dengan membawa warna serta rasa lokal dari daerahnya masing-masing. Ada yang warna lokal itu hanya semata tempelan, tetapi tidak sedikit penulis yang berhasil menyuguhkan nuansa lokal walau masih terasa unsur travelingnya. Kebanyakan menggunakan unsure lokalitas dari sudut pandang penulis sebagai orang dalam. Saya merindukan membaca novel-novel bernuansa lokalitas yang ditulis benar-benar oleh orang dalam. Selalu ada perbedaan saat membaca sebuah novel yang ditulis oleh orang yang benar-benar berasal dari daerah tersebut dan novel yang ditulis oleh seseorang yang sekadar mengunjunginya. Bukan berarti yang pertama lebih baik daripada yang berikutnya, hanya saja ini lebih soal rasa lokal yang lebih kental.
Perempuan Batih adalah satu dari sedikit novel dengan rasa yang pertama. Sebuah novel yang ditulis (atau setidaknya terasa benar-benar ditulis) oleh orang dalam. Mengambil setting kebudayaan Minangkabau di Sumatra Barat, novel ini mengangkat tema perempuan dan perjuangannya. Novel ini menarik terutama karena kita tahu suku Minangkabau menganut sistem kekerabatan Matrilineal, yakni keturunan berdasakan garis ibu. Dalam budaya Minang, perempuan memiliki posisi yang cenderung lebih tinggi dalam hal kekerabatan. Tentu, kemudian kita tergoda untuk mengambil kesimpulan bahwa perempuan Minang memiliki kesempatan yang lebih baik dalam melawan dominasi pria ketimbang perempuan-perempuan dari suku lain. Benarkah demikian? Ternyata tidak. Lewat Perempuan Batih, A.R. Rizal menunjukkan kepada pembaca bahwa pria di mana pun serupa, mereka selalu berupaya menunjukkan dominasinya atas kaum perempuan.
"Laki-laki dipegang bukan karena kata-katanya, melainkan dari apa yang diperbuat." (hlm. 34)
Gadis adalah seorang perempuan kampung yang memegang teguh adat istiadat suku Minangkabau. Sebagai perempuan, dia menempati rumah batu yang menjadi semacam rumah inti milik keluarga inti. Saya masih mencari tahu makna “rumah batu” di novel ini. Saat googling dan mengetik “rumah batu Minang” yang muncul adalah rumah gadang yang elok itu. Saya kurang tahu apa rumah yang ditempati Gadis ini memang rumah gadang atau bukan. Yang jelas, digambarkan dalam novel ini bahwa rumah itu bagian bawahnya memang dibuat dari batu. Nah, sebagai penghuni rumah batu, Gadis mengemban tanggung jawab besar untuk menjaga kehormatan sekaligus garis keturunan keluarga besar di rumah batu ini. Tanggung jawab yang diembannya dengan penuh takzim. Gadis bahkan rela mengorbankan kebebasan masa mudanya demi menunaikan amanat ini. Dijodohkan pun dia mau, walaupun dengan pria yang benar-benar mengecewakan. Dia juga membuang jauh keinginannya untuk tinggal di kota demi bisa memenuhi tugasnya.
"Ia menjadi karena dirinya sendiri." (hlm. 82)
Sayangnya, kebesaran hati Gadis tidak diimbangi dengan kebesaran jiwa kaum lelaki. Ya ampun, hampir semua karakter pria di Perempuan Batih kok ya menyebalkan semua. Mulai dari suaminya, si Darso, hingga anak-anak serta mamak-nya—semua pria di novel ini kok kayak menjadi semacam ujian buat Gadis. Untungnya, Gadis ini perempuan yang kuat. Walau tidak sekolah tinggi, dia memiliki semangat seorang feminis. Dia tidak mau tunduk begitu saja pada ego pria. Perempuan itu bisa menunjukkan betapa wanita juga bisa mandiri meskipun ditinggalkan kaum lelaki. Dia tetap tegar walau suaminya meninggalkannya tanpa alasan. Wanita itu juga tetap sabar bahkan ketika anak-anak gadisnya dibawa kaum pria sebagai istri mereka—yang sekaligus memupus keinginan Gadis agar ada anak perempuannya yang mewarisi rumah batu. Gadis menunjukkan kepada warga desa bahwa walau menjanda dia mampu menghidupi dirinya dan keempat anaknya. Walau demikian, tidak kemudian Gadis melupakan kodratnya maupun kedudukannya sebagai perempuan. Gadis ini semacam heroin yang tetap mempertahankan kearifan lokal.
"Gadis belajar dari kehidupan. Alam yang membentang, itu mata pelajaran yang tak pernah habis untuk diselami." (hlm. 168)
Jika pembaca mengharapkan kisah seorang perempuan yang mencibir adat istiadatnya sendiri, maka Gadis Batih bukan tentang itu. Malahan, Gadis inia dalah perempuan yang taat banget sama adat kampungnya. Yang bangsat di kisah ini adalah kaum lelakinya. Gadis justru mampu menunjukkan diri sebagai wanita yang berdikari sekaligus tetap mempertahankan martabat diri. Sosok langka yang tetap lekat pada tradisi meski zaman berubah cepat. Karakternya yang tegas tapi cerdas sedikit mengingatkan saya pada Nyai Ontosoroh, hanya saja ini versi "kampungnya". Karakteritasi Gadis ini kuat sekali, bahkan ia berkali-kali mampu menundukkan ego para pria lewat sentilan-sentilannya yang menohok. Dan ketegasan ini konsisten dari awal sampai akhir, membuat pembaca cowok sekalipun memilih bersimpati kepadanya.
"Pada diri anak laki-laki, selalu ada hak ibunya." (hlm. 88)
Secara konflik, Perempuan Batih cenderung datar. Selain menyindir egosentris kaum pria, novel ini menggambarkan dengan baik keinginan orang tua untuk bisa tetap bersama dengan anak-anaknya. Terlepas apakah anak-anaknya sudah dewasa dan menjadi orang tua, seorang ibu tetap memiliki hak atas mereka. Ini yang sering kita lupakan. Selebihnya, buku ini menurut saya mirip simplified version dari Sang Priyayi-nya Umar Kayam namun dalam versi Minang. Ceritanya hanya berporos pada riwayat kehidupan Gadis, anak-anaknya, hingga cucu-cucunya. Namun, tidak kemudian novel ini menjadi membosankan. Cara penulis bertutur terasa banget logat Minangnya—mengingatkan kita dengan karya-karya sastra lama zaman Balai Pustaka. Walau sederhana, tuturan dan obrolan yang Sumatra banget bakal membuat membaca betah mengikuti kisah Gadis. Ini masih ditambah setting serta aroma lokalnya yang kental, diksi yang Minang banget, serta karakter-karakter yang digambarkan begitu utuh. Sebuah novel yang sayang untuk dilewatkan. Jika pembaca ingin mencari novel yang biografis dengan aroma lokalitas yang kental, saya menyarankan novel ini.
Kehidupan perempuan di Suku Minangkabau dianggap sebagai sebuah berkah. Suku Minang menganut paham matrilineal, yang mana sosok perempuan menjadi pihak penentu dan penting dalam keluarga. Gadis, digambarkan sebagai sosok seorang wanita tangguh dan mandiri namun juga menyimpan sosok yang tergas dan disiplin. Kehidupan Gadis yang seorang yatim piatu hanya bergantung pad saudara ibunya membentuk Gadis menjadi anak perempuan yang kuat.
Gadis berbahagia setelah dirinya dijodohkan dengan Darso. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Darso minggat entah kemana meninggalkan Gadis dan 4 orang anak. Gadis berjuang seorang diri dalam menghidupi keempat anaknya sampai mereka dewasa dan mulai meninggalkan Gadis seorang diri di Rumah Batu. Dibantu Cakni dan Uni Nilam saat dalam kondisi terpuruk.
Buku ini menyoror tentang kehidupan masyarakat Minangkabau yang mana sosok perempuan dalam keluarga menjadi sosok yang teramat penting. Gadis digambarkan sebagai perempuan yang kuat namun juga rapuh. Melalui "Perempuan Batih" aku mengenal beberapa adat yang ada di Suku Minangkabau. Tentang adat setelah menikah, adat tentang pembagian harta setelah anak lelakinya meninggal. Buku ini bisa dianggap sebagai Drama kehidupan yang menarik sekaligus miris. Sebuah karya yang layak untuk diperbincangkan.
Saya menaruh ekspektasi besar terhadap buku ini, sayangnya ternyata ekspektasi tersebut belum bisa terjawab dan terbalas.
3,5/5 untuk buku ini.
Bukan buku yang berat untuk dibaca, malah dapat dikatakan sangat ringan. Rasanya seperti membaca buku yang diterbitkan tahun-tahun yang sama saja. Dari segi cerita, penulis dapat mengcapture masalah perempuan adat dengan baik namun cenderung disimplifikasi. Permasalahan struktural sepertinya terlewat atau memang sengaja tidak terlalu dijelaskan lebih detail mengingat fokus ceritanya memang pada karakter utama. Satu hal sebenarnya yang membuat saya berpikir keras adalah tidak dijelaskannya alasan karakter dalam melakukan sesuatu. Tapi saya rasa hal ini malah menjadi poin unik dari novel satu ini karena pembaca dibiarkan berdebat dengan pikirannya sendiri untuk menentukan sebenarnya apa alasan dibalik pilihan karakter.
Novel ditutup dengan gaya yang menggantung namun bukan secara negatif. Memang benar adanya (dari beberapa review yang telah saya baca) bahwa novel ini lama kelamaan membiarkan praktik patriarki dibuat seperti kebiasaan, namun saya rasa hal ini malah membuktikan bahwa hal-hal seperti ini banyak terjadi dan bukan sekadar fiksi belaka dan ini perlu menjadi concern bersama. Saya sangat mengapresiasi novel ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ketika membaca blurb di bagian belakang, saya sebenarnya bingung. Pertama karena tertulis Gadis harus menantang kehidupan yang berat dan kedua karena ada anak-anak Gadis. Begitu mulai membaca, kita akan disuguhkan kisah Gadis yang diajak merantau ke kota Bersama Nilam, anak Cakni. Lha, terus anak-anak Gadis mana?
Ternyata novel ini berkisah kehidupan Gadis dengan lengkap. Dimulai dari masa remaja Gadis yang harus menentukan kehidupannya apakah mengikuti Nilam ke kota atau tinggal di rumah batu peninggalan kedua oranng tuanya. Sampai kehidupan Gadis selepas menikah dan memiliki anak hingga cucu.
Untuk novel dengan rentang cerita yang panjang, Perempuan Batih ini ditulis dengan cepat. Sejujurnya saya sedikit kebingungan mengikuti gaya penceritaan penulis yang cepat dan gaya bahasanya yang sangat lokal (meski saya tidak benar-benar tahu soal budaya Minangkabau juga). Novel ini bukan hanya menjadikan Minangkabau sebagai latar, tetapi memang menghidupkan Minangkabau dalam kisahnya.
Membosankan. Cerita yang hanya berputar begitu saja. Di awal ceritanya terasa sekali rasa benci terhadap patriarki, tapi lama-lama kebencian itu menjadi hal yang biasa. Setengah hingga akhir cerita jadi tak menarik lagi.