"Allah yang akan menunjukkan kita jalan keluar yg tidak disangka sangka. Bersabarlah, berdoalah dan minta pertolongan Allah." Karena dibalik badai, selalu ada pelangi indah. Kisahnya sangat amat menyentuh. Ternyata menjaga hati sesulit itu? Perbedaan sangat tipis antara jodoh atau ujian?
Ceritanya ditulis dengan baik, bahasanya mengalir, enak dibaca. Lembaran2 novelnya juga eye catching. Banyak sekali ibroh yang bisa diambil dari novel ini. Kutipan2 nasehatnya terasa sekali. Namun sayang, ada beberapa alur cerita yg terasa mengganggu.
Yang pertama, Orangtua Safitri yg notabene pemimpin & pemilik pondok pesantren, kok bisa ya menjodohkan anaknya dengan laki2 yang dicap playboy? Ibnu sebelum hijrah kan katanya bandel & playboy? padahal Ummi Izza dan Abah ilmu agamanya bagus sekali. Memang tidak ada laki2 yg lebih baik lagi? minimal di pondoknya pasti ada stok laki2 sholeh yg bisa dijodohkan dengan anaknya...
Kedua: Kok bisa sih Safitri, seorang muslimah sholehah, diakhir hayatnya malah meminta wasiat untuk suaminya agar menikahi sahabatnya yg akhlaknya jauh dari kata "baik" apalagi sholehah? bukannya itu akan jadi beban sang suami? kalau memang Safitri sosok istri sholehah, rasanya tak akan membuat wasiat seperti itu, karena wasiatnya hanya akan menjadi beban suami yang harus ditunaikan, dan dia sendiri yang akan dimintakan pertanggungjawabannya diakhirat.
Ketiga : ketika Ibnu ingin berpoligami dan memilih istri muda, kenapa tidak di screening dulu? selama cerita terlihat banget kalau Ibnu itu alim & mafhum masalah agama, tapi mengapa udah 3 kali menikah masih gak bisa milih calon yg bener? wkwkwk. Ini salah satu cuplikannya :
"Dengan cemberut, Adinda masuk ke kamar tamu, setengah membanting, dia menutup pintu. Ibnu menggeleng2. Betapa kekanak2annya." wadidaw salah sendiri pilih istri ketiga hanya dari cantiknya aja, orang sholeh yg paham agama itu pertimbangan memilih istri yg utama : agamanya, akhlaknya, barulah dari rupa. Gemes deh bacanya... Satu lagi:
"Dia merasa beruntung menjadi istri kedua, jadi tak perlu repot mengurusi Maryam. Biar Elena yang urus dan ia bisa berdua saja dengan Ibnu. Ia yakin suatu hari nanti, pasti bisa menyingkirkan Elena dan menguasai Ibnu untuk dirinya sendiri." Busuk banget kan ? hahaha. Mana taarufnya? kok ujug2 milih pasangan anyar model begini sih?
Ya emang sih biar ceritanya ada bumbu2, tapi kurang masuk akal aja, kan sudah pintar agama, masa milih istri ketiga kok kayak begitu? *geleng2 kepala *berasa sinetron
Untunglah ending cerita cukup memuaskan. Walaupun masih ada lanjutan di buku berikutnya. Dan rasanya Elena bakal pindah haluan, sesuai dengan judul buku keduanya, hehehe
Rate 3,5 dari 5 bintang
This entire review has been hidden because of spoilers.
Elena merupakan novel pertama Kak Ellya Ningsih yang kubaca. Bagi pengguna facebook, mungkin novel ini tidak terasa asing bagimu karena pernah menjadi viral sebagai cerita bersambung di salah satu grup kepenulisan yang menarik perhatian pembaca. Jujur, aku sendiri tidak mengikuti kisah Elena di facebook, jadi ini benar-benar pengalaman pertamaku membaca kisahnya.
Awalnya aku pikir ini hanyalah tentang Elena yang harus memilih antara masa lalu dan masa kini, dimana pria di masa lalunya hadir kembali disaat dia telah berkeluarga, ternyata aku SALAH BESAR. Kisah Elena tak sesederhana itu, rumah tangganya sungguh rumit dan menguras emosi.
Awal-awal membaca kisah Elena jujur aku kurang suka dengan Elena yang masih sering berhubungan dengan mantan kekasihnya, Eugene. Bagaimana pun posisinya saat itu dia telah menikah. Apalagi mengingat sikap Ibnu yang sabar dan membimbing Elena dalam kebaikan.
Namun, lama-lama aku jadi simpati dan salut dengan Elena. Dia mau mengakui kesalahan dan benar-benar bertobat sesungguh-sungguhnya. Aku tahu apa yang dia lakukan itu merupakan salah satu dosa besar dan dia sudah mendapatkan cibiran, penolakan dan segala hal dari lingkungan, termasuk suaminya.
Elena benar-benar menunjukkan kesungguhan untuk berhijrah lebih baik. Hal ini ditunjukkan dengan keikhlasannya menerima dirinya di poligami. Hingga kemudian Eugene hadir kembali. Disinilah Elena dihadapkan 2 pilihan yang cukup sulit.
Kisah ini memfokuskan ke hubungan Elena-Eugene-Ibnu, namun lebih menyoroti sisi Elena. Sedangkan Ibnu maupun Eugene tidak terlalu banyak dieksplor. Hal ini membuat kita bisa memahami dari sisi Elena, tidak terlalu bisa dekat dengan Eugene maupun Ibnu.
Endingnya juga terasa realistis, aku bisa menerima keputusan Elena. Setelah semua terjadi dalam hidupnya, pergulatan batin dan segala hal mendewasakan dirinya sekali. Aku benar-benar terharu dengan kisahnya.
Kisah drama rumah tangga yang sungguh menguras emosi dan mengajarkanku untuk terus berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik
‼️‼️MY OPINION ‼️‼️ hmm gimana ya, cerita inituh di-claim sebagai "fiksi Islami" which means pasti ada diselipi ajaran-ajaran agama Islam yang sejalan. Aku ngerti and totally agree sama semua ajaran, nasihat, ayat, dan hadist yang dituangkan di cerita ini (karena memang dari dulu pun aku menerima ajaran yang sama). Akupun bersyukur karena itu jadi ada sedikit reminder yang mungkin aku sempet lupa. Tapi gimana ya, mungkin emang karena aku belum ada di fase itu jadinya skeptis terus bawaannya. Penggunaan kata-kata semacem "cinta" yang menurutku itu kata yang cukup berat bikin cerita inituh sangat ga relate sama aku hahaha (jatohnya aku jadi ngerasa cringe dan sedikit berlebihan). Susunan katanya pun menurutku agak berlebihan jadinya kayak gimana gitu huhu. Overall ceritanya tuh bikin aku mikir, is that okay buat meromantisasi agama sebegininya? Dari ceritanya pun menggambarkan bahwa laki-laki milih nikahin perempuan cuma karena nafsu, apakah itu juga sebuah pembenaran buat jadiin agama sebagai tameng buat muasin hawa nafsu doang? terlalu banyak pertanyaan jadinya, dan yah aku jadi lebih skeptis itu tadi wkwk. But overall kayaknya emang preferensi aku aja sih yang ga biasa baca cerita semacam ini dan emang belum relate aja. So I think it's worth for 2 starts.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dulu Beli buku ini karna covernya yang bagus, sukabgt warna biru dan lautnya.. Setahunan ada kalii gak aku sentuh2 sama sekali. Lupaa. Karna gabut di ramadhan ini. Aku bersih2 novel. Ehh nemu buku ini. Plastiknya belum aku lepas masaa… Hari pertama membaca masih biasa aja belum terlalu penasaran sama ceritanya. Berhenti di hlm 40an. Aku simpan beberapa hari karna ceritanya kayak mudah ditebak gituu Beberapa hari setelah itu pulang tarwih. Gabut bgt. Malas main hp juga. Intip2 buku ehh. Kayaknya sayang klo gak di selesaiin bacaanku Elena ini. Dan wow di pertengahan buku aku dibikin nangis sama novel ini tengah malam aku sesegukan gak berhenti nangis. Sampai jam 1 aku berhasil tamatin bukunyaa… Sukabgt ceritanya. Ceritanya ringan tpi banyakbgt ilmu di dalamnya. Aku pernah beberapa baca novel tentang kisah poligami. Tpi ini yang paling aku suka ceritanya. Rasanya sampe ke pembaca. Kagum sama Mas Ibnu hehe “Allah yang akan menunjukkan kita pada jalan keluar yang tidak disangka-sangka. Bersabarlah, berdoalah minta pertolongan Allah”
Elena, tokoh utamanya. Menurutku isu novel ini adalah respon tentang "sebuah pilihan". Kita pasti akan selalu dihadapkan dengan berbagai macam pilihan, dan novel ini menceritakan bagaimana seorang Elena yang mendapati berbagai macam masalah dan dia harus mengambil pilihan yang menurutnya sulit tapi dia harus terteman dan ikhlas dengan jalan yang sudah ia pilih.
Jodoh. Bagaimana kita bersikap dengan isu ini. Jelas tergambar dari sudut kacamata Elena.
Berserah diri seutuhnya kepada Allah. Ikhlas menjalankan apapun rintangan dari pilihan yang kita ambil. Allah yang lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Novel ini mampu menggambarkan bagaimana menjalankan syariat poligami di masa kini. Suka dengan novel ini, seperti sebuah buku tentang pernikahan, dalam buku ini banyak nasihat tentang rumah tangga dan bagaimana Islam mengaturnya tapi disampaikan melalui dialog-dialog santai yang mengena. Memberi tahu tapi tidak menggurui.
Mengajak pembaca menyelami perasaan dari sisi Istri, madu dan juga suami. Menyajikan konflik yang manusiawi dan wajar, dan bagaimana seharusnya kita mengahadapinya, sesuai syariat.
Menurut aku buku ini bagus banget, selain itu banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dari buku ini. Dan kalimat yang bener bener nancep ke diriku "harga surga tidaklah murah" Jleb banget ya Allah.