Agama diturunkan Allah SWT ke dunia dengan perantara nabi-nabi-Nya untuk menuntun kepada fitrah dan kemerdekaan jiwa manusia. Islam mengajarkan syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Bahwa hanya Allah SWT yang patut disembah dan diberikan penghormatan tertinggi. Begitu jelas tujuan dan maksud agama, tetapi manusia tetap masih ada yang memperbudak dan diperbudak sesama manusia. Dengan jelas dan mengalir seorang ulama sekaligus sastrawan fenomenal, Buya Hamka, menjelaskan bagaimana kekuatan agama dan keyakinan kepada Allah SWT menjadi pendorong bagi manusia mendapatkan kemerdekaan jiwa sejati serta menjelaskan bagaimana Islam menjadi way of life manusia dalam menjalani kehidupannya.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.
Api dalam tulisan! Cinta atas negeri tergambar dalam setiap kata yang tertoreh. Cinta ini berawal dari kesadaran akan Tuhan- sebuah gerakan hanya akan menjadi nyata dan konkret untuk keadilan sosial apabila dimulai dengan iman. Di halaman 75 tertulis posisi iman ini bagi HAMKA:
Cobalah lihat sejarah tanah air kita. Bahagian yang manakah dari tanah air kita yang luas ini, yang kemudian sekali meletakkan senjata melawan penjajah, atau tidak pernah meletakkan senjatanya, sampai penjajah tumbang. Saya sudah tahu! Tuan tentu akan menjawab: Aceh!
Jawab pula dengan insaf, apa yang mendorong semangat pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan Teungku Tjik Di Tiro sehingga berani melawan penjajahan, dengan senjata yang jauh lebih lengkap?
Kalau Tuan sudi menghargai kebenaran, tentu tuan harus mengaku bahwa yang mendorong itu adalah iman! Iman dalam Islam! Boleh jadi tuan berkata, yang mendorong itu kekerasan tangan besi penjajahan sendiri. Antithese! Memang. Tetapi apa isi antithese itu kalau bukan iman! Tuan berkata: “Tekanan Ekonomi”! Tetapi apa yang mendorong menentang tekanan ekonomi kalau bukan iman?”
Secara terstruktur HAMKA memberikan sebuah solusi apa yang harusnya dilakukan bangsa ini untuk mencapai keadilan sosial.
Saya membaca buku Islam Revolusi dan Ideologi terbitan baharu yang merupakan revitalisasi dari buku ini- Islam: Revolusi, Ideologi dan Keadilan Sosial
Bacaan saya buat kali kedua kerana yang pertamanya dahulu agak terburu-buru. Buku yang terbaik dalam mengupas tentang revolusi dan kebangkitannya di Benua Eropah dan timur. Hamka juga menulis mengenai falsafah ideologi Islam dan dasar yang seimbang untuk kita amati sebagai seorang penganut agama Islam.