Anak yang menangis dan bertengkar satu sama lain. Suami yang cuek. Cucian baju dan piring yang menumpuk. Lantai rumah yang lengket karena belum dipel. Belum lagi pekerjaan demi sesuap berlian yang juga meminta perhatian.
Dilanda berbagai beban itu, apa lagi yang paling dibutuhkan para mama muda selain me time? Sejenak rehat dari hiruk pikuk rumah tangga dan kehidupan.
Namun, apakah me time dapat diperoleh dengan mudah? Bagaimana kalau me time malah menggiring para mama muda kepada kepanikan baru, eksplorasi jati diri, kenangan masa lalu, jodoh kedua, atau malah melontarkannya ke masa depan?
Nikmati kisah-kisah me time yang dirangkai lima pengarang yang juga mama muda dalam antologi ini.
Menjadi seorang mama muda tentu bukan pekerjaan mudah, dibutuhkan tanggungjawab besar dan waktu, karena selain harus mengurus rumah, pekerjaan utama adalah memenuhi kebutuhan suami dan anak, apalagi kalau suami tidak mau ikut mengurus karena sibuk dengan pekerjaan. Lalu kapan seorang mama muda bisa bersantai? Istirahat dari pekerjaan yang tidak pernah habis, kapan harus menggunakan waktu untuk diri sendiri atau biasa disebut me time?
Di series Cerita Mamah Muda volume dua ini para penulis yang juga seorang mama muda menceritakan berbagai me time versi mereka. Kapan me time bisa didapat? Apakah tidak masalah bila anak ditinggal dengan suami atau dititipkan mertua? Apakah rumah akan aman? Di buku ini kalian akan mendapatkan cerita mulai dari genre horor sampai fantasi.
Save The Last Dance by Lea Agustina Citra Maya kehilangan kata-kata ketika anaknya yang paling sulung, Bian bertanya kenapa mamanya pengangguran? Sedangkan mama teman-temannya di sekolah kebanyakan pada kerja. Sejak menikah dengan Reno dan memiliki tiga anak, Maya memang fokus menjadi ibu rumah tangga. Apalagi suaminya yang dokter bedah syaraf hampir tidak pernah ada di rumah, otomatis segala urusan anak Maya yang mengurusi.
Sejak Bian menganggap mama teman-temannya lebih keren daripada dia yang hanya ibu rumah tangga biasa, Maya merasa tidak bermakna. Tentu Maya memiliki impian, terlebih ketika dia mendapatkan beberapa undangan yang sama untuk hadir di pertunjukan teater Bidadari Merah. Dulu Maya pernah bekerja sebagai koreografer di sebuah entertainment production, Jakarta Broadway Project, dan Bidadari Merah, diambil dari salah satu episode komik Jepang legendaris Topeng Kaca adalah proyek impiannya, separuh hidupnya dia terobsesi dengan kisah tersebut. Menari dan menjadi koreografer di kondisinya sekarang sangat tidak mungkin.
Ketika Maya membayangkan dirinya memilih jalan yang berbeda dengan realitas sekarang, mengutamakan passion-nya, tiba-tiba saja dia terlempar ke masa depan! Apa yang terjadi? Apakah semua benar-benar nyata? Lalu bagaimana nasib Reno dan ketiga anaknya yang masih kecil?
Sukaaaaaa banget! Pembuka yang manis, salah satu cerita favorit di buku ini. Saya suka dari segala aspek, mulai pertemuan pertama Reno dan Maya di Jerman, di mana nama mereka secara kebetulan mirip dengan tokoh utama di Topeng Kaca, Maya Kitajima dan Moreno Hayami! Perang batin yang dialami Maya sebagai ibu rumah tangga, padahal menjadi ibu rumah tangga bukan pekara mudah, salah satu 'pekerjaan' yang membanggakan juga, hanya saja melihat anaknya mengganggap hal tersebut kurang membangakan, hal tersebut cukup merisaukan.
Dan yang paling seru adalah bagaimana kalau 'seandainya' yang kita bayangkan beneran terkabul? Apakah puas? Apakah ingin kembali ke masa lalu? Gara-gara menikah dengan Reno dan memiliki tiga anak yang jarak usianya tidak terpaut jauh, Maya harus banyak berkorban. Reno tidak pernah ada untuk membantu mengasuh anak, Maya tidak bisa melakukan apa yang dia suka, jangankan melanjutkan bekerja, waktu untuk diri sendiri saja tidak ada.
Awal yang bagus sebagai pembuka, saya yakin apa yang dialami Maya pernah dialami juga oleh para mama muda yang lebih memilih anak daripada passion.
Setelah Fio Hadir by Ke Terate Sejak Fio lahir, lebih tepatnya selama sembilan belas bulan Asti tidak pernah jalan-jalan untuk bersenang-senang, misalkan menonton bioskop, pergi bersama teman-teman dan yang paling dia rindukan menjadi MC dan penyiar radio. Asti secara penuh mengasuh Fio sendirian, tidak ingin ada babysitter bahkan tidak suka bila mertuanya turut andil, karena larangan yang dibuat Asti pasti semuanya dilanggar, dan dia tidak enak bila melarang. Lalu sebuah kesempatan yang sangat langka diberika Edo -suaminya, padanya untuk melakukan me time. Namun, kenapa dia tidak pernah bisa tenang meninggalkan anaknya, bahkan bersama suaminya sendiri?
Menjadi mama muda pasti nggak lepas dari kepanikan, apa-apa selalu merasa khawatir, berbeda dengan suami yang biasanya lebih cuek. Bahkan selama mengandung sampai kelahiran Fio, Asti tidak pernah lepas dari berbagai masalah. Mengalami morning sickness yang tiga hanya trimester awal saja, memilih melahirkan normal atau operasi, Fio yang hanya mau digendong terus, lidahnya yang pendek sehingga mempengaruhi berat badannya, mengalami periode moment of truth, sampai tidak pernah tenang dan harus segera pulang bila membawa Fio bepergian. Ingat, As, andai kamu disuruh memilih kesempurnaan atau kewarasan, selalu pilihlah kewarasan. Menjadi mama muda apalagi untuk pertama kali memang tidak mudah, ya. Maunya teoritis banget, tapi secara kenyataan sulit untuk dilakukan. Misalkan ajaran yang dilakukan orangtua jaman dulu dalam mengasuh anak cukup berbeda, biasanya mereka lebih memanjakan, tidak banyak aturan, padahal kalau dari pengalaman tentu mereka lebih unggul. Manfaatkan semua bantuan yang ada, saran dari kakak Asti untuk mengatasi masalahnya. Kalau tidak bisa dikerjakan sendiri, nggak ada salahnya minta tolong. Ingin sempurna tapi jadinya malah bikin stress. Endingnya bikin ngakak!
The Singing Coffin by Ruwi Meita Saya akan melewatkan sinopsis di cerpen ini, baca sendiri biar auranya lebih terasa. Cerita-nya bagus bangetttttttt, huhuhu. Nggak salah sih kalau di tangan Ruwi Meita, yang sudah punya signature di genre thriller dan horor, cerita tentang mama muda pun bisa disulap menjadi beraura gelap dan mencekam! Kalian nggak boleh melewatkan cerita ini, salah satu paling favorit di buku ini. Plot twist-nya nendang, walau saya bisa menebak, tetap menarik untuk dibaca. Harus sabar dan jeli karena ceritanya juga menyinggung peristiwa tahun 1998. "Setiap orang butuh sendiri. Kupikir itu tidak egois. Bukankah kita harus tetap menjaga kewarasan kita?" Pangeran untuk Nina by Mia Arsjad Menjadi ibu tunggal sekaligus pekerja, lepas dari perceraian yang melelehkan, belum mengurus kucing-kucing membuat Nana tidak pernah memiliki waktu sendirian untuk liburan. Beruntung dia memiliki Yama, pacarnya yang sangat pengertian, bahkan memberikan liburan gratis ke Bali. Semua urusan rumah, Nina, dan kucing semua Yama yang akan mengurus. Nana hanya perlu rileks agar pikirannya segar dan tidak mudah marah. Namun, ketika dia meninggalkan rumah, banyak masalah yang datang, misalnya ibu-ibu arisan yang rempong.
Ceritanya manis, jadi pengen punya pasangan seperti Yama yang sangat pengertian dan penyayang. Cerita ini kayak berpesan kita harus bersyukur dengan adanya orang-orang terdekat kita, apalagi pacar yang menerima kita apa adanya, jodoh kedua. Kalau bisa pepet terus jangan sampai kendor!
Tiket by Donna Widjajanto Karena berbagai masalah yang mengiringi,kedua anak ribut dan mengurus kado untuk keluarga pas hari natal nanti, sewaktu Iliana memesan tiket untuk liburan sekeluarga ke Singapura, dia malah lupa membeli tiket untuk diri sendiri! Terpaksa hanya Carlo dan kedua anaknya yang masih kecil yang harus pergi. Apakah Carlo bisa menjaga kedua anaknya? Padahal Carlo sangat sibuk dan jarang ada di rumah, tapi susah sekali mencari tiket untuk menyusul karena pas liburan. Atau apakah Iliana sengaja agar bisa liburan sendiri?
Cerita favorit ketiga saya! Nggak mudah memang menjadi Iliana, terpaksa putus kuliah karena lebih memilih menikah muda dan mengurus anak. Sebagai penambah kesibukan, Illiana memiliki program vlog memasak di Youtube bersama Laras, teman suaminya. Namun, semua terasa salah, Illiana tidak tahu apa yang dia inginkan, apakah dia menyesal karena menikah muda? Iliana membutuhkan eksplorasi jati diri. Menurutku, seharusnya me time itu tidak hanya digunakan untuk istirahat dan refreshing, tapi juga harus bisa digunakan untuk mengembangkan diri. Tidak jauh berbeda dengan buku pendahulunya, Resolusi, Me Time juga memiliki tema yang sama dengan judulnya. Kali ini kita akan disuguhi berbagai macam versi me time dengan cakupan genre yang lebih luas, ada horor dan fantasi! Seperti yang saya sebutkan di atas, cerita favorit saya kali ini ada di cerpen Save the Last Dance, The Singing Coffin dan Tiket, walau dua ceritanya tidak kalah seru sebenarnya, hanya saja ketiga cerita tersebut terasa berbeda, emosi-nya terasa sekali.
Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi para mama muda, siapa tahu dengan membaca jadi punya inspirasi me time yang seperti apa, atau bisa juga memakai cara yang sama agar bisa memiliki me time. Cocok juga dibaca untuk para suami agar tahu seperti apa susahnya menjadi seorang mama muda yang mengurus rumah dan anak, sehingga sekali-kali nggak pa-pa kok kalau mau ikutan repot, bakalan sangat membantu sekali! Dan buat para single atau calon mama atau papa muda, biar tahu gambaran orang berumah tangga itu seperti apa :)
Setiap orang normal, betapa pun sibuknya, selalu memerlukan me time-nya sendiri. Waktu untuk diri sendiri penting untuk menyegarkan kembali pikiran, untuk mengisi lagi semangat, serta untuk mengingat kembali sisi kemanusiaan kita. Sehebat apa pun diri ini, kita butuh untuk sesekali menjadi diri sendiri, untuk mengakui bahwa kita masih manusia biasa yang butuh beristirahat. Berbagai penelitian banyak dilakukan untuk mengungkap pentingnya “me time” ini bagi kewarasan jiwa dan juga untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Tanpa ada waktu untuk menikmati menjadi diri sendiri, mungkin kita malah akan lupa dengan siapa diri sejati kita. Dengan demikian, tidak ada salahnya meluangkan waktu melakukan “me time”, sebagaimana yang dikisahkan dengan asyik sekali oleh lima ibu muda di buku ini.
Suka...suka...suka...suka...suka... Kelima cerita sama menariknya, dan susah memilih mana yang terbaik. Tapi paling unik itu yg karyanya Ruwi Meita, tetap ada unsur thrillernya. Kebayang kan topik me time bernuansa thriller...hehe. Apalagi kalau pembacanya mahmud a.k.a mamah muda kayak saya. Kayak baca refleksi diri lewat lima cerpen ini. Ada kutipan yang saya suka, "Kalau disuruh memilih kesempurnaan atau kewarasan, selalu pilihlah kewarasan." "Me time bukan hanya untuk refreshing dan menyenangkan diri, tetapi juga digunakan untuk mengembangkan diri".
Pas pertama kali melihat cover buku ini beserta cover buku satunya lagi (re: Resolusi), saya ngga punya pikiran bahwa ini adalah novel atau kumpulan cerita. Saya pikir ini tuh kaya buku yang berisi pengalaman atau curhatan lima penulis yang menjadi seorang ibu. Heiyaaa salah ternyata.
Lima cerita dari lima penulis yang berbeda dengan satu tema cerita yang sama : Me Time. Setelah membaca semua cerita dalam buku ini, Me Time bagi seorang ibu itu penting untuk menjaga kewarasan ya? :D Tapi ya curi-curi Me Time ketika anak masih balita yaa susah-susah gampang ya?
Ruwi Meita, penulis yang spesialisasi ceritanya adalah horor-thriller, menunjukan aksinya untuk membawa genre tersebut dalam buku ini. Ibaratnya kalo di drama korea, yang lain pada genre romance, dia ngga terganggu dan tetap maju terus dengan genre horor-thriller 😂
Mia Arsjad dengan kalimat sederhana tapi bikin saya ngikik. Memang spesialisasi beliau di bidang itu ya kan.
Lea Agustina dengan jalan cerita yang awalnya mulus, jengjeng tiba-tiba alur cerita dibuat out of the box dan membuat baper.
Ken Terate membawakan cerita tentang penantian buah hati bertahun-tahun.
Donna Widjajanto dengan sebuah cerita tentang mencari makna "aku ini siapa sih tanpa kamu?"
Lima-limanya bagus, lima-lima favorit. Mari lanjut baca Resolusi!
Semua cerita punya kelebihannya masing-masing. Dan yang paling penting adalah, semua sangat dekat dengan realita!
Menjadi ibu itu akan membuat dunia seorang perempuan berubah. Seperti yang saya singgung di awal. Menjadi luar biasa hebat dan keren. Dan kelima cerita dalam buku Me Time saya rasa bisa mewakili perasaan ibu-ibu yang merasa bahwa waktu untuk diri sendiri menjadi berkurang setelah punya anak.
Judul: Me time Penulis: Lea Agustina & 4 kawan lain Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Dimensi: 272 hlm, 20 cm, cetakan pertama 2018, (edisi digital di ipusnas) ISBN: 9786020387413
Buku ini ditulis oleh 5 ibu rumah tangga. Berisi 5 cerita tentang ragam usaha me timenya ibu-ibu. Di kisah pertama, tentang kelelahan ibu beranak dua yang menikah muda, merasa tidak memiliki pencapaian karir hingga berandai bagaimana jika ia tidak menikah muda. Dan semua itu terwujud dengan sebuah mesin waktu ke 4 tahun kemudian. Sementara di kisah kedua, penantian 7 tahun akan buah hati, hingga merelakan karir dan mendapatkan seorang anak. Nyatanya bukan bahagia, malah merasa makin lelah dengan kehadiran anaknya sebab idealismenya sendiri.
Di kisah ketiga, ini paling absurd sih bagiku dan meski ada kalimat me time, tapi penggambarannya kurang tajam. Malah terasa seperti tempelan saja, fokusnya lebih ke fantasi tentang nyanyian peti mati. Dan inilah kekurangan buku ini menurutku. Di kisah keempat tentang perjuangan seorang kekasih dari wanita single parent yang berusaha memberikan waktu me time untuknya dengan membiarkan liburan 7 hari dan meninggalkan anaknya dengan kekasih lelakinya. Di cerita ini, aku merasa suudzan terus sih haha. Masak berani amat ibu ninggalin anak ceweknya sama kekasih, tanpa ada orang lain. Tapi ya namanya juga fiksi, ini juga bikin kurang di mataku sih hehe.
Terakhir, kisah ibu muda dengan 2 anak dan suami yang usahanya makin besar sehingga sering ditinggal. Melepaskan kuliah demi menikah, sering diceramahi mamanya sendiri hingga memilih menjauh, dan ternyata kelelahan bertahun-tahun menumpuk jadi sebuah kesalahan yang berdampak memberinya me time 3 hari sendirian: lupa beli tiket untuk dirinya sendiri. Saking dia mengutamakan suami dan anak-anaknya terus, bukan dirinya.
Semua kisah itu cukup mewakili cerita hidup para mama muda dan segala perjuangannya demi me time. Menghibur bagi saya yang juga relate akan beberapa isu yang diangkat.
Kalau sudah menikah apalagi punya anak, Me Time bagi wanita jadi hal yang langka. Novel ini berisikan lima kisah mamah muda yang ditulis oleh lima orang penulis kenamaan. Gimana kisah-kisah mereka?
1. Save The Last Dance – Lea Agustina Kisah Me Time-nya Maya ini seru banget. Ada unsur-unsur fantasinya, perpindahan cerita juga sangat mulus. Bahkan sampai akhir cerita, masih menyisakan tanda tanya. Kok bisa gitu ya, gimana ceritanya?
2. Setelah Fio Hadir –Ken Terate Meskipun belum pernah mengalami, aku bisa memahami apa yang dirasakan oleh Asti. Berbagai emosi tersampaikan padaku. Perjuangannya sangat luar biasa. Semua ibu adalah orang yang hebat. Tapi, keberhasilan itu juga tidak terlepas dari dukungan orang disekitar.
3. The Singing Coffin – Ruwi Meita Dengan alur maju mundur dengan POV3, cerita ini diramu apik khas Ruwi Meita. Di tangan beliau, kisah seorang mama muda pun bisa terasa beraura gelap dan terasa mencekam. Endingnya pas, manis dan bikin penasaran!
4. Pangeran Untuk Nina – Mia Arsjad Kisah Nana ini manis banget. Relate bagi kita semua, bukan hanya para mamah. Kalo lagi mumet, opsi liburan emang paling tepat sih. Sama Nana, aku belajar untuk lebih woles dan mempercayai orang lain karena memang nggak semua hal bisa kita handle sendiri.
5. Tiket – Donna Widjajanto Baca kisah ini bikin mewek, segitunya ya jadi ibu? Meskipun sempat mengalami krisis identitas, beruntunglah Illi tetap mendapat dukungan dari suami dan orang tuanya. Salut deh pokoknya dengan Illi.
“Menurutku, seharusnya me time itu tidak hanya digunakan untuk istirahat dan refreshing, tapi juga harus bisa digunakan untuk mengembangkan diri.” –halaman 267
baca buku pagi-pagi gini jadi inget kayaknya dulu ada yg bilang, "me-time nya buibu itu antara malem banget pas semua udah tidur, atau pagi banget waktu semua blom bangun..." dan pas banget tema bukunya tentang me-time.
awalnya iseng (kayaknya selalu iseng deh, wkwk) pas lagi cari-cari buku apa lagi yg enak dibaca waktu hamil, yg nggak terlalu "parenting 101" karena lagi pengen istirahat dari yg serius-serius hehe. lalu ketemulah sama tetralogi cerita mamah muda ini di ipusnas. trus seperti biasa, kurang puas deh klo e-book, oke cari di e-commerce. eh ketemu dong, 4 buku cuma 80-an ribu plus masih segel pula huhuhu ku senang sekali.
berhubung udah baca sedikit di ipusnas, pas buku fisiknya dateng tinggal ngelanjutin aja. makin dibaca, makin seru! kisah pertama agak fantasi, semacam bisa ke masa depan gitu. trus yg kedua salah satu favoritku! soalnya nyeritain optimisme jadi ibu rumah tangga tapi ternyata ada "moment of truth"-nya yg bikin aku kepikiran juga, "waduh apakah bakal seribet ituu? apakah aku sangguup?" hehe. berlanjut ke kisah ketiga, ya ampun bagus juga dan merupakan kisah yg paling menyedihkan di antara kelima kisah di buku ini. lalu kisah keempat balik santai lagi, tentang seorang ibu yg masih diribetin mulu waktu me-time. dan terakhir ditutup dengan kisah yg cukup lucu awalnya, tapi ngena banget pas di penghujung cerita.
overall, seperti judulnya, bagiku buku ini sungguh sebuah me-time dari tuntutan (pribadi, hehe) baca-baca buku parenting, read-aloud, dan sebagainya. nggak sabar buat baca seri lainnya ✨❤️.
Kayak bukan buku fiksi deh ini, karena ceritain pengalaman yang (mungkin) dialamin sama mamah-mamah muda. Buku ini pengen ngasih tau sama pembaca kalo mamah-mamah muda yang kerjanya ngurusin rumah plus anak itu pasti pada akhirnya bakalan stres dan kepengen rehat dulu sejenak, makanya nama seriesnya 'Me Time'.
Paling suka sama part Pangeran Nana dan 'The Singing Coffin'. Pas ngeliat novelnya terus ada nama Ruwi Meita itu langsung mikir, bakalan seperti apa ya cerpen versi dia. Dan khas Ruwi Meita banget, ada yang bikin merinding di 'The Singing Coffin' ini. Bisa gitu ya dia punya ide kalo peti mati lagi "nyanyi" itu pasti bakalan ada orang mati. Dari cerita itu juga tau tentang istilah baru. Kalo cerpen Pangeran Nana, sukanya karena kalimat recehnya.
Baca cerpen ini bisa jadi bahan pertimbangan, khususnya buat perempuan yang mau nikah muda dan langsung punya anak. Kasih tau kalo nggak semudah itu ngurus anak dan rumah tanpa didukung pasangan. Nah, sebagian besar suami di cerpen ini sih lebih mendukung pasangannya untuk ambil waktu rehat sejenak walaupun kadang mereka keteteran juga. Bakalan lain lagi ceritanya kalo mereka nggak suportif. Gimana tuh?
Total bintang buku ini didapat dari akumulasi bintang per judul cerita, 4.36.
• Save The Last Dance by Lea Agustina Citra (4.5) Lagi dan lagi, cerita Mbak Lea nggak mengecewakan dan selalu berakhir manis. Well, iya, sih selalu ada penyesalan di akhir, tapi kita selalu bisa ambil hikmahnya, bukan?
• Setelah Vio Hadir by Ken Terate (4.5) Sudut pandang pertama yang dipakai Mbak Ken bikin konflik lebih nendang. Selalu dan selalu bikin kita sadar kalau semua hal nggak bisa kita kendalikan. Apalagi omongan dan tanggapan orang. Hm, mau diabaikan nanti dikira sombong dan nggak open-minded, tapi kalo diserap malah jadi overthinking. Lah, malah curhat xD
• The Singing Coffin by Ruwi Meita (5) Wah, speechless. Sempat bengong sejenak setelah baca cerita ini. Emang Mbak Ruwi, tuh, wow banget! Memasukkan unsur paranormal (?) ke hal-hal yang mengandung bawang. Justru nuansanya bikin kesan romansa tambah deep.
• Pangeran Untuk Nina by Mia Arsjad (4) Ceritanya menghibur banget dan bikin ketawa sepanjang kisah. Lalu bagian akhir bikin diabetes haha.
• Tiket by Donna Widjajanto (3.8) Suka sama karakter mama muda di sini. Seolah kehilangan jati diri setelah menikah. Banyak pelajaran juga yang bisa diambil. Great story.
Cerita-cerita di dalam buku ini mengangkat tema yang cukup terasa penting, yaitu perjuangan ibu muda untuk bisa punya waktu buat diri sendiri. Penulis-penulisnya cukup berhasil menangkap perasaan bersalah dan dilema yang sering muncul saat kita mencoba meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri. Ada bagian-bagian yang membuat saya mengangguk setuju dan merasa ga sendirian.
Tapi ngga semua ceritanya punya kedalaman yang sama. Beberapa rasanya kurang kuat dibandingkan cerita-cerita di buku sebelumnya, sehingga ngga semua emosi bisa sampai. Meskipun begitu, secara keseluruhan, buku ini tetap berhasil memberikan semacam dukungan emosional, mengingatkan bahwa mencari waktu untuk diri sendiri bukanlah sebuah keegoisan. Kalau kamu udah baca yang "Insecure" dan suka, buku bisa jadi pilihan yang cukup menghibur dan memberikan validasi. Habis ini mau baca lagi sih antologi mamah muda yang lainnya.
Membaca buku ini di usia 28 dengan status belum menikah sebenarnya kerasa kurang relate dengan kepusingan-kegalauan-keruwetan mamah-mamah muda yang jd tokoh utama di kumcer ini. Tapi karena lumayan banyak teman yang sdh menikah dan suka curcol-curcol masalah rumah tangganya, baca kumcer ini kayak "Oohh mungkin perasaan kayak gini dirasain sama hampirrrr semua mamah-mamah muda di luar sana ya" karena problemnya sama bangettt sama real life! Aku jadi punya gambaran sisi lain dari dunia pernikahan apalagi yg sudah punya anak, dan uhumm.... berat yahh ternyata hahahaha
Overall, suka banget sama cerita-cerita kehidupan sehari-hari gini. Untuk cerita favorit? Yang membekas setelah 3 hari selesai baca sih, ceritanya Ruwi Meita yah karena agak beda sendiri konsep cerita yang dipilih :) tapi semuanya seruuuu dan wahh bgt! Recommended!
Gak sengaja nemu buku ini di Ipusnas. Aku penasaran karena salah satu penulisnya Mbak Ruwi Meita, dan ternyata buku ini bukan slice of life. Baca buku ini aku ngerasa kayak baca cerpen di majalah wanita, kecuali cerita dari Mbak Ruwi Meita, ya. Cerita beliau lebih mirip ke cerpen yang ada di Kompas.
Secara keseluruhan aku suka dengan buku ini. Walaupun aku belum atau tidak menikah, baca buku ini aku jadi teringat ibu, mama, bunda, mami, umi di luar sana. Gimana riwehnya hidup mereka dan apa sih sebenernya yang mereka rasakan? Apalagi di cerita terakhir, yang tokoh utamanya bingung "Aku ini siapa? Tanpa embel-embel istri atau ibu dari..." Bacanya aku jadi pengen meluk mama dan kakakku.
“Andai kamu disuruh memilih kesempurnaan atau kewarasan, selalu pilihlah kewarasan”
Ada lima cerita yang berbeda-beda dalam buku ini, namun ada persamaan dalam diri tokoh utama. Mereka adalah seorang Ibu. Ibu yang ingin memberikan terbaik bagi anaknya. Walau dalam perjalanan memberikan yang terbaik itu selalu berliku dan terjal. Saking inginnya menjadi yang terbaik para Ibu selalu menuntut lebih dari diri mereka sendiri. Lalu bagaimana para Ibu tadi menemukan “me time” bagi diri mereka? Simak kisah-kisah yang kocak, ajaib dan mengharukan di buku ini.
Memilih buku ini karena ingin membaca yang ringan dan santai. Apalagi melihat nama Ken Terate, penulis yang kukenal sejak jaman membaca TeenLit. Rasa-rasanya bakalan bagus. Ternyata benar. Semua cerpennya berkisah tentang keruwetan kehidupan mamah-mamah muda yang disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Sangat dekat sekali dengan kehidupan nyata. Bingung menentukan mana cerita yang paling aku suka. Terdiri dari 5 cerpen, buku setebal 270an halaman ini bisa selesai sekali duduk.
Sebelumnya aku udah membaca cerita mamah muda yang versi resolusi, dan ternyata aku lebih yang resolusi. Cerita-cerita di buku ini menarik dan seru, buatku yang single jadi terbayang gitu lah ya susahnya jadi seorang ibu. Salah satu yang kusuka itu yang Diani, tapi sebetulnya aku agak bingung sama alurnya dan bingung karena aku merasa cerita itu tidak sesuai dengan tema me time, tapi tetep bagus sih
Awalnya iseng aja beli buku ini karena temanya tentang ibu ibu! Dan aku bakal jadi calon ibu! Eh, suka banget lagi dengan kelima cerita berbeda dan penulis berbeda gaya tulisannya pun beda. Bikin sedikit belajar bahwa jadi ibu itu setidaknya kita harus punya waktu untuk diri kita sendiri karena ibu yang bahagia untuk keluarga bahagia.
Buku kumcer yang isinyaa sungguh relatable! Narasinya enak, selalu gasabar nungguin smpe critanya abis soalnyaa selalu ada yang tidak disangka-sangka! Btw ini pertama kalinya aku baca tulisan Ruwi Meita yang bukan horror tapi tetap aja vibenya dark:')
ceritanya bagus" aku paling suka cerita yg pertama karya nya mbak lea 🥺 dari membaca ini kita tau bahwa menjadi ibu itu gak gampang kadang bisa bikin stress sendiri 😄😄 sesuai judul, ibu" perlu me time sesekali biar gak stress karna ngurus anak terus
Meskipun kuhanya pengasuh kucing, tetapi kutahu menjadi ibu memanglah syulit, tak seindah feeds instagram, tentu saja. Kusuka Me Time sebab ia tidak menghadirkan kehaluan tentang menjadi ibu yang begitu indahnya. Me Time justru tetap realistis, dengan masalah-masalah seputar bayi, balita, dan keluarganya. Cerita yang paling kusuka adalah tulisan Kak Ruwi Meita yang berkaitan dengan peti mayat. Sekian dan sukses untuk semua penulisnya.