Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hau Kamelin & Tuan Kamlasi

Rate this book
Di Flores, seorang guru agama dengan bijaksana menyimpan barang mas leluhur yang punya kekuatan gaib bersama dengan sebuah patuh Bunda Maria serta poster neraka yang menyeramkan, hadiah dari seorang misionaris asal Eropa. Apa yang terjadi ketika benda-benda itu disalahgunakan oleh anak cucunya?

Di panti selatan Timor dekat bandar Tun Am, seorang berkulit putih pernah terdampar, ratusan tahun setelah Pigafetta dalam ekspedisi Magelhaens mendarat di bandar yang sama. Pria itu menulis demikian: "seperti mimpi, ketika kami tidur di atas muntahan dan tercium wangi hau kamelin, tiba-tiba dunia pecah."

Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi berisi 16 dongeng tentang cinta, keluarga, pohon cendana, dan perjumpaan dengan arwah.

139 pages, Paperback

First published April 1, 2018

2 people are currently reading
16 people want to read

About the author

Dicky Senda

6 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (12%)
4 stars
6 (18%)
3 stars
18 (54%)
2 stars
5 (15%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Heireina.
80 reviews40 followers
January 15, 2022
Lelaki putih jangkung itu menulis begini: “Seperti mimpi, ketika kami tidur di atas muntah dan tercium wangi hau kamelin, tiba-tiba dunia pecah.”
—hlm. 55

Baca buku ini karena merasa perlu untuk tahu lebih banyak potret kehidupan masyarakat Timor. Dan sesuai dengan rating yang aku kasih, bintang 5 berasal dari:

1. Lokalitas yang sangat kental. Terutama kepercayaan tradisional dan tradisi lisan yang coba penulis angkat. Kadang lokalitas yang ada berat dengan lanskap—latar alam NTT yang sekilas-sekilas mewarnai panggung (aku suka saat ada nama-nama hewan/tumbuhan lokal yang kemudian diberi padanan bahasa ilmiahnya oleh penulis). Juga latar cerita kehidupan masyarakat pasca-kristen, akulturasi antar kedua kepercayaan dan kebudayaan yang lahir setelah itu, dsb.

“Apakah kau percaya jika surga itu ada di puncak Gunung Mutis? Mereka percaya. Dan tentang mimpi, apa pun bentuknya, ia adalah kisah yang saling terkait” (Hlm. 38)

2. Hau kamelin atau kayu cendana. Bukan tanpa alasan mengapa judul kumcer setebal 139 hlm. diambil dari cerpen kelima, Hau Kamelin dan Tuan Kamlasi. Sebagian besar tema cerpen yang ada selalu tentang atau paling tidak selibat menyebut kedudukan hau kamelin bagi masyarakat Timor, baik nilai magis, historis, hingga ekonomis. Bobot rating 5/5 datang dari poin ini, khususnya kritik yang secara jelas ditujukan pada peraturan pemerintah yang memonopoli kayu sakral tersebut. 85% keuntungan bagi pemerintah, 15% untuk petani. Beberapa peraturan pemerintah disebut dalam buku ini, misal PP No.16/1986 tentang klaim bahwa seluruh cendana adalah milik pemerintah daerah. Kebijakan yang sangat tidak bijak, mendatangkan mala dan merusak adat. Dalam cerpen Menjual Pohon Cendana, Soak Sate untuk Ayah, dst, karena kebijakan tersebut akhirnya masyarakat terdorong untuk mencuri dan menjual secara ilegal hau kamelin yang ada. Mengubah nilai sakralnya di mata masyarakat dan ini juga diartikan sebagai melemahnya humum adat. Membuat lingkungan makin tanpa perlindungan dari keserakahan manusia dan ironisnya pelan-pelan mengantarkan manusia pada melankolia.

“Barangkali benar, hanya burung koakiu yang mampu membuat cendana di Timor ini abadi. Bapak-bapak kita di kantor pemerintahan, barangkali telah sampai pada titik kesadaran bahwa cendana itu telah punah maka tak perlulah mereka mengusahakan agar cendana itu abadi.” (Hlm. 139).

3. Realisme-magis pertamaku di tahun ini! Tidak semuanya bertema lokalitas masyarakat Timor, cerpen lain seperti Dongeng Rumah Merah contohnya. Tokoh utamanya seorang muslim yang mengalami hal magis di bekas klenteng yang dijadikan rumah abu. Meski aku secara pribadi jauh lebih menikmati saat penulis menggunakan lokalitasnya saat membangun cerita.

Minus secara teknis dari buku ini ada penempatan catatan kaki. Andai formatnya diletakkan di bawah cerita alih-alih akhir cerpen, akan lebih nyaman untuk pembaca.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
February 13, 2022
Dua belas cerita, berlatar masyarakat Timor. Latar waktunya agak kurang jelas karena cerita2nya banyak yg sulit saya pahami mau berfokus pada apa. Terlebih ada nuansa magis yg bisa bikin merinding, tapi sebagian bikin dahi saya berkerut karena gak paham, hehee...

Dari 12 kisah di buku ini, hanya ada dua yg bisa saya bilang "realis" dalam arti tidak ada hantu atau hal gaib berkeliaran, entah di halaman cerita maupun dalam benak sang narator. Dua kisah ini adalah dua cerita terakhir dalam buku.

Setidaknya, semua cerita di.sini menurut saya adalah gambaran Dicky Senda sebagai "warlok" meluapkan kecamuk pikirannya atas hal2 yg bikin galau sebagian masyarakat Timor, baik di perkotaan maupun perdesaan, di ambang zaman yg makin kacau untuk semua bangsa ini.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
January 15, 2022
Salah satu novel yang sangat kuat dalam pengisahan mengenai budaya lokal masyarakat adat di Nusa Tenggara. Kekuatannya dalam mempertanyakan realita dengan tendensi retorik menjadi cermin reflektif yang menarik. Dalam latar belakang budaya lokal tanah Nusa Tenggara itu, penulis juga menajamkan sudut pandang yang kritis dalam cerita-cerita pendeknya terhadap perubahan yang terjadi dalam pengaruh modernisme dan kapitalisme dari luar yang dibawa masuk juga ke Nusa Tenggara.

Nah, bagaimana jika batu-batu di kampungmu diambil dan dijual ke negeri seberang? Ke mana lagi jiwa ini akan singgah? Ke mana lagi kau bisa mendengar tanda kehidupan? Juga membaca tanda kematian yang indah itu.

(dalam cerita pendek "Fatubian")


Namun, sebagai pembaca dari luar Nusa Tenggara, sayangnya, saya masih merasa kesulitan untuk memahami cerita (yang kurang saya mengerti konteks latar belakang budayanya). Bagaimanapun, Dicky Senda menulis dengan gaya penceritaan yang khas dan memberikan alternatif kisah berlatar belakang masyarakat adat di Nusa Tenggara.
28 reviews
June 5, 2022
Aku baca buku ini di Ipusnas. Setelah selesai bacanya hingga halaman terakhir, di sampul belakang bagian kanan bawah, baru lihat kalau ternyata rating buku ini 17+, jadi sadarlah aku kenapa sepanjang membaca buku ini, di beberapa bagian aki merasa 'agak tidak nyaman' karena memang kesalahan di aku yang kurang teliti ini. Sejujurnya, aku agak susah untuk ikut hanyut ke dalam cerita-cerita di sini karena ada banyak istilah-istilah yang asing. Walaupun di pengujung cerita juga diterangkan padanan kata dari istilah-istilah itu, tapi mungkin karena kapasitas otak aku yang memang minim, semuanya langsung ikut kabur bersama angin. Jadi, ya, aku cuma nekat terus terabas saja baca sampai akhir dengan mengabaikan kata-kata yang nggak aku mengerti. Ya, begitu saja. Sekian dari saya, mohon maaf dan terima kasih.
Profile Image for Nura.
1,057 reviews30 followers
December 29, 2024
Senang bisa kenal mitologi dari Tanah Air sendiri, seperti pah nitu dari Timor ini. Selain penulisnya, yang membuat saya baca buku ini adalah judulnya. Seorang dosen di kampus sempat berbagi hasil penelitiannya di forum sejarah tentang bagaimana hau kamelin alias cendana telah berhasil menarik para pedagang sejak abad ketujuh. Kemasyurannya kian mendunia ketika Tome Pires menyebut Timor sebagai surga cendana. Tuan Kamlasi ini agaknya pengejawantahan dari orang-orang kulit putih yang kemudian berbondong datang mencari si kayu wangi ini.

Magis sekali ketika membaca buku kumpulan cerpen yang membeberkan banyak hal yang berkelindan dengan hau kamelin. Tak hanya soal perdagangan, tetapi juga politik monopoli, penjajahan, mitos, misionaris, dan kisah kasih anak manusia yang bikin bulu kuduk merinding. Paket komplet yang dijamin bikin jatuh cinta.
Profile Image for Ratusall.
9 reviews
November 13, 2023
Karya sastra yang kayanya terlalu tinggi untuk aku😂. Bahkan gasanggup selesain baca cerpen2 ini sampai akhir walaupun aku cukup tertarik dengan cerita2 budaya, kepercayaan masyarakat adat dan tradisi2 nya. Tapi bahasanya terlalu banyak yg asing untuk aku huhu, mungkin sasarannya bukan untuk orang2 awan spt aku hehehe.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.