Berilah sedikit jeda, untuk mengingat setiap senyum dan tawa yang tak henti selalu menghiasi. Untuk kembali mengulang canda sederhana dengan orang-orang yang sempat kita lupa.
Berilah sedikit jeda, agar kita bisa kembali merangkai mimpi yang barangkali sempat terhenti. Untuk kembali mengingat janji-janji yang belum sempat ditepati.
Berilah sedikit jeda, untuk menyendiri dan memperbaiki diri, barangkali ada hati yang tersakiti. Untuk melupakan dan memaafkan segala bentuk kesalahan yang pernah membekas.
Biarlah jeda memberi kita sedikit ketenangan dan ruang untuk meresapi bahagia.
Penulis cukup pandai menyusun kata. Tulisannya sederhana tapi penuh bermakna. Aku banyak menemukan hal-hal dan pelajaran yang baru, dari perkara yang selama ini sudah lama telah ada dekat di hati, diri, dan hidup.
Buku ini membuat saya mengingat dan menyadari hal-hal yang terkadang saya lewatkan. Khususnya menyadari tentang diri saya sendiri. Tentang memberi jeda pada setiap perilaku dan pikiran saya. Tentang sekedar mengingatkan saya untuk berhenti sejenak dan mencoba melihat & merasakan di sekitar saya.
Buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu kita dan diri sendiri, kita dan hubungan sekitar, serta kita dan cinta.
Menurut pandangan saya yang awam dengan gaya penulisan, saya lebih tertarik dengan gaya penulisan sang penulis pada bagian pertama, yaitu kita dan diri sendiri. Seperti sang penulis memberi saya nasihat dengan cara yang indah dan tidak menggurui. Beberapa bagian agak relate dengan kehidupan sehari-hari saya dan memberikan sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut yang membuat saya mengingat segala ‘nasihat’ yang diberikan penulis melalui buku ini.
Salah satu kutipan favorit saya dalam buku ini adalah, “ Jika kita tidak menikmati makanan yang sedang kita santap karena tidak sesuai dengan rasa yang kita harap, sadarilah bahwa ada lelah yang telah susah payah membuatnya agar dianggap lezat”. Benar-benar kutipan yang mengingatkan saya dengan sekitar
Not really a good book, yet not bad. So, 2.5 is enough.
Belakangan buku-buku seperti ini banyak ditulis anak muda dan dilirik penerbit mayor. Seperti paham peluang, buku-buku bernarasi begini laku dipasaran. Dibeli banyak muda -mudi yang dalam tahap menguatkan hati, pikiran, dan perasaan di tengah kerasnya hidup. Saya kurang tahu harus menyebut apa buku serupa. Tapi saya termasuk yang tergoda membacanya meski di akhir tidak selalu puas. Seperti judulnya, jeda, mengajak pembaca berhenti sejenak untuk merenungkan perjalanan hidupnya: Mematangkan pikiran dan memastikan langkah. Dalam buku ini terbagi tiga bahasan besar: diri sendiri, sekitar, dan perasaan cinta. Tidak semua isinya membuat saya berkata setuju, bahkan di baca bagian saya menentang pikiran penulis. Namun, ada juga yang menyadarkan saya kembali. Bukan bahasan baru, nasehat baru, sudah sering dijumpai tapi dengan kata-kata penulis sendiri. Meski nasehat lama, pernah didengar atau dibaca, tapi ketika dijumpai di waktu yang tepat rasanya sangat berguna dan dalam hati ingin berterima kasih.
Sajak indah yang ditulis bukan hanya menunjukkan keestetikaan semata, namun penulis juga tak lupa untuk menyampaikan nasihat-nasihat melalui untaian katanya.
Tidak menggurui.
Itu adalah poin yang saya suka.
Terima kasih sudah menulis ini. Terima kasih telah membuat saya lebih baik.
Menurutku sebenernya bagus buat yang suka tipe-tipe buku isinya tulisan bijak mengenai kehidupan. Penulis pembawaannya mudah dipahami, ya. Kalimatnya di per bab juga banyak repetisi. Kalau preferensi ku pribadi, aku kurang suka karena mungkin repetisi itu dan per babnya pendek-pendek, dan mungkin kurang penjabaran atau latar belakang pengalaman pribadi per babnya. Kayaknya akan lebih seru sih. Tapi keren, banyak peminat dan pembacanya! :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Lakukanlah sesuatu yang disenangi. Walau tak berdasi, tak bergelar, dan bahkan tak banyak materi yang dimiliki, tetapi kita menjalaninya dari hati" - j e d a 📖