Mungkin anda telah sering menjumpai kisah-kisah dengan tokoh perempuan yang malang, tapi ini bukan sekadar potongan kisah perempuan, ini adalah kisah panjang penelusuran makna kesunyian perempuan dari tiga zaman, melintasi tiga generasi untuk menyingkap gelapnya sejarah manusia.
Sejauh ini, dari buku yang sudah pernah dibaca, jarang ada penulis yang mengangkat cerita perempuan secara kompleks. Selain Oka Rusmini dan Chitra Baverjee Divakaruni, Artie Ahmad lewat buku ini, setidaknya menambah ruang cerita tentang perempuan jadi lebih banyak.
Sunyi, Sumirah, Suntini. Tiga perempuan beda zaman dengan konfliknya masing-masing. Permainan pola pikir menggunakan perasaan, yang memang identik sebagai ciri khas perempuan, dituliskan cukup baik. Kebingungan menghadapi sesuatu dan akhirnya dibelit pemikiran hasil dari olah perasaan, tumpah ruah dari awal sampai akhir cerita. Tokoh lelaki cukup minim di buku ini, walau bukan berarti tidak ada sama sekali. Setidaknya cukup dijadikan pemanis.
Penulis mungkin sengaja tidak terlalu menjelaskan banyak soal narasi tempat dan waktu. Penulis hanya menggambarkan sekilas. Di satu sisi, bisa jadi penulis membiarkan pembaca menerka atau membayangkan sendiri. Di sisi lain, semoga bukan alasan penulis untuk tidak melakukan riset atau gambaran lebih jauh tentang apa yang dimau.
Sunyi, anak yang merasa hidupnya penuh kesunyian, di zaman kekinian. Sumirah, perempuan yang dijual lelaki idamannya kepada muncikari, dalam rentang waktu 70 atau 80-an. Juga ada Suntini, perempuan dusun yang sederhana, yang hidupnya diabdikan untuk keluarganya, dalam rentang waktu 60-an. Konflik tiap
Sayangnya agak menemukan lubang cerita di masa Sumirah setelah bertemu Bonet, sang muncikari, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri, sampai akhirnya dibakar oleh penduduk sekitar.
Cukup kecewa lewat ending yang terkesan buru-buru, datar, dan terkesan "oh, udah?". Pasca sekian banyak cerita yang memesona, ending cerita rasanya tidak sekuat cerita-cerita sebelumnya. Tapi, ya, kembali ke selera masing-masing.
Buku ini menceritakan tiga perempuan, dengan latar belakang kehidupan yang berbeda tapi masih saling menyambung. Di awali dengan kisah seorang gadis remaja bernama Sunyi, dengan permasalahan asmara yang membelenggunya, akibat masa lalu yang ia punya dan kondisi keluarganya. Kemudian, dilanjut dengan kisah ibu Sunyi, bernama Sumirah. Dengan masa lalunya yang kelam dan menyakitkan serta bagaimana perjalanan membawa dia ke kehidupan yang sekarang. Terakhir, kisah dari nenek Sunyi, yaitu Suntini. Menurutku, dari ketiga kisah di buku ini, yang menjadi klimaks diantara masalahnya ia kisah Suntini, dan Sumirah. Dalam kisah Suntini yang berlatar kejadian tahun 65, membawa serta kegetiran, hingga kekejeman dunia pada saat itu, hingga akhirnya ia merasakan sunyi dikarenakan kehidupan merenggut semua yang ia miliki.
Kisah kedua dan terakhir, menyelamatkan penilaian aku terhadap buku ini.
Mungkin jika pertama aku tidak memaksa untuk menyelesaikan membaca buku ini, yang aku ketahui tentang Sunyi di Dada Sumirah ini, hanya sebatas kisah dua orang remaja yang sedang dilanda perasaan gundah gulana akibat cinta.
"Aku tak ingin menghardik Tuhan, ataupun menuntutnya, meski apa yang dituliskan untukku terlalu pahit. Karena aku sadar, Tuhan Maha Pemberi. Hidupku adalah kanvas yang terbentang, terserah mau apa yang dituliskan di sana. Aku hanya ingin menikmatinya dan berterima kasih, meski aku sangat benci dengan hidupku sendiri..."
Membaca Novel ini banyak mengajarkan aku arti hidup yang sebenarnya. Bahwa tidak ada hidup yang baik-baik saja. Ada kalanya kita harus seperti ikan, menetang arus. Hidup seperti pahatan, yang kadang tak bisa kita selesaikan sendiir. Tak ada yang tahu bagaimana kehidupan kita di esoknya, masikah kelam atau sudah ada terang yang menunggu. Akan tetapi, di luar itu semua yakin saja bahwa Tuhan selalu menengok kita dari sana.
Bercerita tentang kehidupan perempuan 3 generasi, terdapat 4 bab, bab terakhir adalah epilog dan 3 bab lainnya yaitu cerita tentang Sunyi, Sumirah, dan Suntini.
Jujur di awal aku bingung sebenernya buku ini genrenya apa, banyak yang bilang kalo ini historical fiction, tapi pada bab pertama aku malah disuguhkan dengan cerita percintaan seorang remaja yaitu Sunyi. Sunyi yang berusaha untuk menyelamatkan Ibunya dari dunia yang kotor. Diksi yang digunakan di bab pertama ini sedikit agak bikin aku kayak "loh ini novel remaja ya, kok narasinya gini sih, ini kok aku berasa baca roman picisan ya" Okey, i'm so sorry to think like that.
Tapi, pas masuk di bab kedua aku mulai 'ngeh' sih. Tentang perjuangan seorang wanita panggilan yang harus membesarkan putri tercintanya meski dengan pekerjaan yang dianggap hina oleh masyarakat. Tentang bagaimana Sumirah ini terjebak ke dalam dunia prostitusi yang sama sekali tak ingin dia masuki namun sulit untuknya keluar dari lubang hitam tersebut.
Di Bab ke-3, menceritakan tentang seorang Janda bernama Suntini yang ditinggal suaminya mati karena terseret banjir kemudian dia terpaksa meninggalkan anak perempuannya karena dipaksa ikut pemeriksaan di kantor polisi dan diduga terlibat dalam sebuah organisasi padahal dia gak tahu apa-apa, dipukuli, dipindahkan ke tempat pengasingan yang jauh dan tak layak huni di mana kejadian itu terjadi di tahun '65.
Tepat di halaman 200 aku baru dapet 'feel' dari buku ini. Ya menurutku ini memang fiksi sejarah. Bagian Suntini menyelamatkan buku ini dari rant review :))
Bukunya bercerita tentang perempuan 3 generasi berbeda. tergambar banget di buku ini, seorang perempuan kalo dihadapkan pada sebuah masalah, ia akan terlalu mengandalkan perasaannya.
diawal cerita, penulis mengisahkan tentang Sunyi, generasi yg paling muda. agak bingung disini sama ceritanya mau dibawa kemana.
tapi setelah masuk bab kedua, yg menceritakan ttg Ibunya Sunyi (alias Sumirah), mulailah kelihatan inti dari bukunya.
bab ketiga tentang nenek Sunyi, terkesan hanya memperjelas saja, dari tanda yg dibangun penulis.
ceritanya bagus. beberapa nilai yg bisa saya petik : - setiap orang punya latar belakang kenapa mereka melakukan itu. jadi jangan mudah menghakimi. meski saya agak gemas sama sikap Sumirah yang terlalu takut untuk memberontak pada keadaan (seperti yg dilakukan anaknya, Sunyi).
- sekotor-kotornya perbuatan seseorang, di dalam lubuk hatinya masih mengingat Alloh, meski imannya tak cukup kuat untuk melawan perbuatan kotornya sendiri.
adem bacanya, latar sosialnya prostitusi tapi minim (bahkan gaada) sex scenes. oh... jadi gini rasanya baca buku dengan tokoh perempuan yang ditulis oleh perempuan.... justru, penulis lebih banyak menyorot sisi sosialnya kenapa (salah satunya) kemiskinan struktural jadi penyebab utama seorang perempuan bisa masuk ke dunia yang begituan. ini novel underrated keren 👍
Bagus, walau bukan buku yg membuat penasaran hingga tak ingin berhenti membaca atau membuat ingin membaca ulang. Namun beberapa analogi dalam cerita menarik, seperti: dipecundangi ikan di selokan.
Gw ga nyangka kalo buku ini menyinggung soal 65. Lagi2, tema perdamaian dengan masa lalu. Bagus banget, sedih, jadi mellow, brengsek yang nulis. Hahahahaha
Membaca kisah perempuan dan kehidupannya selalu membuat saya tertarik untuk membacanya hingga tuntas. Sama seperti saya melihat buku Sunyi di Dada Sumirah pada rak perpustakaan, saya langsung mengambilnya begitu saja dan tenggelam dalam buku ini. Ketiga-tiganya adalah perempuan, sama seperti saya. Apalagi kisahnya dibalut dengan ketidakadilan hidup, ada rasa getir ketika membacanya. Hidup ini memang tidak sepenuhnya adil, kadang di belahan dunia lain orang-orang sedang berjuang menuntut keadilan bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya. Menurut saya, penulis pandai merangkai kata, sehingga meskipun berkisah tentang luka perempuan tetapi tetap pemilihan diksinya berisi keindahan. Penulis juga menggunakan alur maju dan mundur, membuat cerita dapat dinikmati secara lengkap dan utuh. Saya sendiri sangat menyukai Sunyi, bagi saya bertahan hidup menjadi seorang anak yang entah bapaknya berada dimana sedangkan ibunya mempunyai pekerjaan seperti itu justru tidak membuatnya ingin mengakhiri hidup. Malah di akhir cerita Sunyi membawa titik terang untuk hidupnya dan hidup ibunya, saya salut dengan akhir cerita buku ini.