Jojo sedang seru menceritakan perjuangannya menjadi branch manager sementara Vira tekun mendengarkan, memandangi wajah cowok yang telah jadi sahabatnya selama belasan tahun itu. Lalu… entah di detik keberapa, sesuatu bergeser. Klik. Dunia sekeliling Vira melambat. Pandangannya terkunci pada satu fokus: mata Jojo. Ah, bulu mata itu!
Mendadak jantung Vira berdegup kencang—sesuatu yang selama ini tidak pernah terjadi saat ia berada di dekat Jojo. “Jojo kan selalu terbirit-birit kabur ke Planet Mars setiap tahu ada cewek deketin dia, Vir.” Ucapan Lilian, sahabat Vira dan Jojo, langsung terngiang. Damn, batin Vira. Masalahnya, ia tidak yakin dirinya akan jadi pengecualian dari reaksi absurd cowok tersebut. Belum lagi nasib persahabatan mereka jika perasaannya terendus Jojo. Lalu jika mereka pacaran dan… putus? Apa yang harus Vira lakukan? Ah, tapi bulu mata itu... Damn.
Salah satu novel Metropop seru yang renyah. Kangen baca macem novel beginian. Nggak nyesel nungguin Perkara Bulu Mata jadi novel setelah baca cerpen dengan judul serupa di Autumn Once More.
Awalnya sih agak sengit ya, aku ngerasa direcokin sama banyak karakter. FYI, PoV1-nya gonta-ganti dari Vira-Jojo-Lilian-Albert. Dan... aku nggak terlalu suka eksistensi Zed di novel ini. Maksudnya, gimana ya, bucket list yang dibuat Zed memang ngegerakin plot, tapi perlu nggak sih itu jadi alasan Vira ngelakuin hal-hal itu? Kenapa nggak dibuat kausalitas lain, jadi nggak terlalu drama di awal? Etapi jangan-jangan Zed muncul di cerpen, ya? Aku udah lupa sih, cuma inget aku suka sama cerpenny. Jadi kan porsi halamannya bisa dibuat eles-eles sama JC. Bisa makin gregetan lagi... :))
Aku suka banget interaksi Vira-Jojo. Yaelaaah... premis "dari temen jadi demen" (bukan dari demen jadi temen ya, basi itu mah heheh) kayak beginian mau diceritain berulang-ulang di novel remaja atau dewasa, dipoles ini-itu, bakalan tetep seru. Dan bakalan seru banget kalo eksekusinya pas kayak yang dilakuin sama Nina Addison ini.
Pokoknya ini salah satu bacaan yang menyenangkan. Kranci! Nggak kalah deh sama kulit ayam McD! ;)
Sempat patah hati karena pengakuan cintanya ditolak oleh Tom, memberi pelajaran bagi Vira untuk tidak terburu-buru mengungkapkan perasaan, terlebih pada Jojo, sahabatnya selama belasan tahun. Vira tidak tahu kapan perasaan itu tumbuh, tiba-tiba saja ketika tidak sengaja melihat mata Jojo, bulu mata yang panjang, hatinya berdesir. Tadinya hanya Lilian yang tahu perasaan Vira pada Jojo. Namun, sahabatnya tersebut memang tidak pernah bisa menjaga rahasia, merambat ke Albert, dan akhirnya Jojo sendiri.
Jojo memiliki tabiat bila tahu disukai perempuan, maka dia akan melarikan diri, menghindar sebisa mungkin. Inilah alasan kenapa Vira enggan mengungkapkan perasaan, dia tidak ingin persahabatan mereka hancur karena perasaan sepihaknya. Selain berperang dengan perasaanya, Vira juga harus melanjutkan bucket list yang sepupunya buat, meminta tanda tangan artis yang sedang naik daun, JC dan pergi ke Praha.
Apakah benar laki-laki dan perempuan tidak bisa bersahabat dan menjalin cinta secara bersamaan? Vira, Jojo, Lilian dan Albert akan membuktikannya.
Bagiku, mata manusia adalah bagian tubuh yang paling memesona. Mata bisa bicara dan tak pernah bohong. Orang bilang mata adalah jendela hati, aku bilang mata adalah kunci menuju hati.
But, the thing about falling in love with your very bestfriend (and got rejected) is that you know him too well and care too much to hate him. Or even to let someone else hate him.
Listen, Vir, life can throw you the ugliest, most sour lemons in the whole universe and still you can make the best lemonade put of it.
Dan menurut gue waktu adalah varian hidup yang efeknya nggak bisa ditebak. Who knows, you might be surprised.
Some promises are better answered with actions, not words.
Temen jadi demen? Temanya memang cukup mainstream, tapi penulis mengemasnya dengan asik dan jauh dari membosankan. Walau saya sedikit lupa dengan detail versi cerpen di Autumn Once More, yang jelas Perkara Bulu Mata salah satu favorit selain cerpen Critical Eleven. Sengaja nggak menilik ulang karena biar lebih 'segar'.
Walau hanya memiliki 296 halaman, banyak yang dibahas penulis. Mulai dari hubungan Vira dengan sepupunya, Zedayanna dan bucket list, yang nantinya terpaksa membuat Vira berhubungan dengan JC, artis yang memiliki temperamen buruk dan pergi ke Praha, ada sisipan travelling lewat bagian ini. Dan yang paling utama hubungan Vira dengan ketiga sahabatnya; Jojo, Lilian dan Albert. Saya sangat suka bagaimana penulis mengemas kisah cinta dan persahabatan secara bersamaan. Chemistry mereka berempat sangat terasa sekali.
Sudut pandangnya mengambil orang pertama dengan mereka berempat sebagai pengisi suara secara bergantian, walau tetap fokusnya pada Vira dan porsi bicaranya lebih banyak. Ini juga pilihan yang saya suka, karena pembaca bisa langsung memahami apa yang dialami tokohnya. Saya suka semua karakter di buku ini. Vira dan Lilian yang sama-sama cerewet, Jojo yang baik hati dan anti relasi, Albert yang puitis dan rasional. Suara mereka melengkapi satu sama lain, menjawab pertanyaan dari masing-masing sudut pandang. Misalkan bagaimana perasaan Jojo yang sebenarnya pada Vira, lewat gesture-nya, pembaca akan bisa merasakan sendiri.
Bagian Albert bikin penasaran! Ditulis laiknya epistolari kepada seseorang dengan sebutan Avium, dengan bahasa yang puitis, di bagian ini pembaca akan dibuat bertanya-tanya sebenarnya siapa yang Albert bicarakan alias yang diam-diam dia sukai? Untung saya bisa menebaknya dengan tepat, hihihi. Khasnya Nina seperti buku sebelumnya, Kismet, ada sedikit misteri yang dia sisipkan di balik latar belakang tokohnya. Kalau jeli, ada beberapa klu yang penulis sisipkan tentang siapa yang dia bicarakan, alasan lain kenapa saya menyukai buku ini.
Kelemahan dengan melibatkan banyak sudut pandang di mana ada konflik di tiap tokoh, cerita menjadi penuh, ada detail yang terlewat karena kalau dijelaskan akan memakan durasi atau halaman. Namun, melihat dari awal memang Vira dan Jojo yang menjadi sorotan utama, penulis membuat sub plot yang tetap berhubungan dengan mereka. Misal bucket list menjadikan hubungan Vira dan Jojo berkembang, bagian Lilian membuat rahasia Vira terbongkar dan nantinya menjadi penyambung komunikasi antara dua sahabatnya tersebut, sedangkan Albert menyadarkan Jojo akan perasaanya.
Pace-nya cukup cepat melihat banyak yang dibahas, tapi tidak melewatkan detail yang penting. Misalkan saja, salah satu adegan favorit di buku ini, ketika Vira dan Zed bercanda di mobil kemudian iseng mengecek tanda-tanda kanker payudara, terlihat sekilas dalam flashback, tapi efeknya luar biasa. Penulis tidak melupakan cikal bakal cerita yang menurut saya penting, contoh lain adalah bagian awal mula mereka berempat bertemu, alasan kenapa Jojo alergi dengan sebuah hubungan. Bahkan ketika Vira dalam kondisi terburuknya, saking khawatir Jojo mengawasi dari luar kos Vira. Cara yang sama pun dilakukan untuk beberapa adegan lain, sehingga menghemat waktu tanpa perlu menjelaskan satu per satu, dan emosinya bisa sangat terasa.
Buku ini sangat aku rekomendasikan bagi pecinta metropop, yang mencari kisah sahabat jadi cinta, tentang persahabatan, dan yang ingin jalan-jalan ke Praha. Dan bagi yang ingin tahu tanda-tanda kita mencintai seseorang.
Aku percaya persahabatan itu menjaga, tapi tidak mengikat. Bahwa di dalamnya kamu tidak akan kehilangan jati dirimu maupun kebebasan untuk memilih jalan hidupmu.
NB: Membaca epilog di buku ini, berharap ada lanjutannya XD
Ini dari kapan aku bilang 'rtc' dan baru sekarang nulis review-nya. Hahaha.
Perkara Bulu Mata adalah buku kedua karya Nina Addison yang aku baca. Dan merupakan satu dari sekian buku yang aku nantikan terbitnya. Setelah kesengsem sama 'Kismet', aku memutuskan untuk membaca karya Kak Nina yang satu ini.
Mungkin ini rada biased, karena aku sangat menyukai novel ini. Salah satu novel romance metropop yang cikal bakal akan ku-reread kelak 😂
Novel ini menggunakan empat sudut pandang sekaligus, yaitu Vira, Jojo, Lilian, dan Albert. Semua sudut pandang itu punya ciri khas masing-masing.
Vira yang ragu tapi berani. Lilian yang asal ceplos dan enggak peka. Jojo yang pengertian, tapi saking pengertiannya suka bikin para wanita salah sangka. Lalu, Albert yang misterius dengan cerita soal Avium-nya.
Yang aku suka adalah cara Kak Nina menuliskan sudut pandang laki-laki. Cukup berasa sifat dan pola pikir laki-laki-nya.
Kecuali....
Sifat Jojo yang, ugh, bikin gemas deh. Plin-plan gitu, aku juga ikutan gedeg kayak Lilian 😂
Romansa yang terbentuk juga terkesan heartwarming sekaligus heartbreaking. Kadang aku suka senyam-senyum, kadang juga rasanya kayak ketusuk gitu. Perih-perih gak jelas LOL 😂
Tentang konflik, khas romansa bertajuk friendzone pada umumnya. Tapi proses menuju penyelesaiannya itu mengundang cukup banyak emosi. Entah itu ngakak, nyesek, atau haru.
Cuma,menurutku, agak kurang di akhir konfliknya. Sebenarnya cukup jelas kalau menyangkut hero-heroine-nya, hanya saja aku masih kepo dengan tokoh JC yang sebenarnya punya andil cukup besar tapi agak redup ketika menuju akhir.
Overall, aku suka banget sama novel ini. Lucu dan manis 😆❤
Asli, baru kali ini lagi saya baca buku tapi nggak mau cepat-cepat tamatin. Buku kayak gini nih yang saya cari-cari di label Metropop. Saya suka konfliknya yang sederhana tapi kita yang baca juga diajak ikut ngerasain emosi tokoh-tokohnya. Mungkin faktor pendorongnya juga karna buku ini ada POV masing-masing pemerannya dan walaupun ada empat POV tapi nggak ngebingungin sama sekali karna semuanya punya ciri khas masing-masing.
Saya suka banget deh pokoknya, beneran kangen baca cerita yang kayak gini. Karakter-karakternya juga nggak ada yang ngeselin. Gaya bercerita penulisnya juga oke banget, cocok di saya. Padahal topiknya klise cuma tentang friendzone tapi eksekusinya bagus. Mungkin kekurangannya cuma buat pekerjaan mereka nggak begitu dijelasin secara detail dan karakter JC kurang digali lagi padahal dia menarik.
Seperti yang saya bilang tadi, saya nggak mau cepet tamatin buku ini, so that's why saya baru selesaiin buku ini sekarang padahal udah baca dari hari Kamis padahal halamannya nggak banyak (oke, tmi yang nggak penting). Dan karna itu, I easily give this book 4 stars .Beruntung banget saya pilih baca buku ini duluan di antara tbr saya lain.
First line: Vira. Aku benci rumah sakit. ---hlm.5, Ch.1 - Titik Lebih
Sejak Morning Brew, saya memang sudah "menandai" Nina Addison sebagai salah satu pengarang yang buku-bukunya bakal saya usahakan untuk dibaca. Adalah cerpen "Perkara Bulu Mata" di kumpulan cerita pendek metropop bertajuk Autumn Once More menjadi salah satu dari cerpen yang sangat saya minati dan beberapa kali saya usulkan untuk bisa dikembangkan menjadi novel. Dan betapa bahagianya saya ketika Nina benar-benar mewujudkannya, hingga saya demikian tak sabar untuk segera merampungkan-baca novelnya. Begitu rilis, saya langsung mengunduh Perkara Bulu Mata di Apps Gramedia Digital.
Syukurlah, versi novel Perkara Bulu Mata cukup memenuhi ekspektasi saya. Well, jangan tanya saya, apa perbedaan/persamaan-nya dengan versi cerpennya, ya. Saya sudah lupa, hahaha. Yang terang, dua-duanya masih menyoal tentang bulu mata. Dari sanalah pesona seseorang menyetrum dan mewujud menjadi percikan api cinta yang baru dirasa oleh mereka yang telah bersahabat sangat lama.
Kelar baca Thousand Dreams-nya Dian Mariani yang mengambil tema sahabat jadi cinta, Perkara Bulu Mata pun seide, meskipun tentu saja berbeda bumbu konflik, subplot, dan eksekusinya. Sejak bab awal, Nina menyajikan kisah ini dengan dentuman-dentuman yang mengentak hingga pembaca--saya--terus terpaku pada adegan demi adegannya dan nggak rela menaruhnya barang sejenak. Unputdownable lah istilahnya, ya.
Nina juga punya ecenderungan suka "menggantung" atau menyembunyikan sebentar fakta penyambung adegan berikutnya jadi setiap bab kita dibikin penasaran what will happen next? Dan, di sinilah saya sering gagal menebak adegan macam apa lagi yang bakal dibikin si pengarang? Oke secara garis besar tebakan saya benar: siapa suka sama siapa; tapi detail-detail kecil menuju konklusi akhir itulah yang dibikin cukup menarik oleh Nina (yang saya kerap gagal menebak). Sungguh sayang jika kita melewatkan setiap rangkaian kalimatnya.
Ehmm, ya nggak juga, sih, hahaha. Ada beberapa bagian yang saya skimming dan nggak saya pedulikan, terutama bagian-bagian yang dikursif---kilas balik atau sekadar kata hati yang disuarakan. Pun, terkadang masih ada yang kelewat nggak dikursif dan itu bikin jengkel. Serius, penempatan flashback atau curcol dalam hati secara linier pada narasi itu, buat saya, mengganggu---subjektif.
Terus terang, setelah Resign!-nya Almira Bastari, Perkara Bulu Mata menjadi novel metropop paket lengkap yang renyah banget buat dikunyah. Secara pakem metropop, nuansa office romance-nya sangat terasa. Saya bisa larut dalam dunia kerja para tokohnya. Oiya, Perkara Bulu Mata berpusat pada empat sahabat: Vira, Jojo, Albert, dan Lilian. Nantinya ada beberapa nama yang menyumbang peran cukup penting untuk merajut plot: JC, Daniel, Bo, Zed, Tom, dan beberapa yang lain.
Secara emosi, saya juga dibuat campur aduk sama novel ini. Haru, kocak, sebal, sedih, dan kaget bisa muncul silih berganti. Inti ceritanya simpel: sahabat yang bingung ketika dilanda bara asmara, apakah harus mengungkapkannya dengan risiko merusak persahabatan atau menguburnya diam-diam dengan risiko menyiksa diri sendiri. Bukan tema baru memang, tapi cara mengemas Nina berhasil membuat tema usang ini cukup gurih buat dicemilin sedikit demi sedikit.
Paling saya cuman agak kurang excited pada pilihan ending untuk seluruh tokoh utamanya. Kok jadi di situ-situ saja? Yah, meskipun Nina sudah memberikan segepok alasan mengapa bisa terjadi seperti itu, saya masih tetap mengharapkan ada puncak konflik yang lumayan drama biar ada kejutan superdahsyat gitu---ya nggak sampai sinetron juga sih.
Overall, Perkara Bulu Mata memuaskan dahaga saya akan novel metropop yang charming, lincah, dan kocak---paket lengkap lah kalau bisa saya bilang, meskipun pada beberapa bagian saya nggak suka cara menuturkan flashback/kata hati dan kurangnya ledakan konflik untuk menciptakan drama yang emosional. Please, sempatkan baca novel ini kalau kamu nggak alergi sama tema sahabat jadi cinta dan kebetulan sedang mencari bacaan ringan yang menghibur untuk rileks. Terus produktif ya, Nina. Ditunggu novel metropop selanjutnya.
Selamat membaca, tweemans.
End line: "Welcome to the club, Li," bisiknya dengan senyum penuh arti. ---hlm.290, Epilog
"Kadang, jawaban terbentuk dari perjalanan pencarian, bukan semata ada di akhir perjalanan." Hal 96
Rom-com nya lumayan dapett. Recommended lah buat yang lagi cari bacaan ringan dan bikin haha hihi sendiri, nyesek sendiri, kesel sendiri, galau sendiri, wkwk nano-nano pokoknya deh. Tapi amannya, selama baca, saya terbebas dari overthinking, karena gak ada roman2 bakalan sad ending gtu lohh.. Beneran buat yang lagi pengen bacaan ringan sih ini.. Dan, diaa ini beneran page turner bgt. Coba ini saya sampe begadang buat tuntasin baca.😂
"Because what's more beautiful than falling in love with that one person who knows you inside out, that one person that loves your best and your worst, that one person that you can proudly call your bestfriend, right?" - Page 286
Novel ini hadir dengan nama salah satu tokoh yang sedang booming saat ini, Jojo. Langsung lah saya merujuk kepada Jonathan Christie, si gemas pemain bulu tangkis. Tapi di novel ini, Jojo yang dimaksud ya bukan Jonathan Christie, melainkan Jonathan Adrian yang sudah belasan tahun bersahabat dengan Vira, Lilian dan Albert.
Setelah belasan tahun, Vira menyadari bahwa ia menyukai sahabatnya, Jojo. Namun tabiat Jojo jika disukai seseorang itu unik. Bukannya menyambut rasa suka, sok jual mahal atau berlaga seperti seorang player, Jojo malah kabur dan menghindari Vira. Setelah Jojo menghindar selama sebulan, Vira merelakan untuk membiarkan saja perasaannya itu dan akhirnya berteman kembali dengan Jojo. Tapi di suatu titik, ternyata Jojo merasakan apa yang Vira rasakan. Damn!
Kisah ini bukan hanya milik Vira dan Jojo saja, ada Albert yang menyukai sesosok misterius yang dia panggil dengan nama "Avium" dan juga Lilian, sosok sahabat yang paling ceria, bersemangat dan kepo tingkat tinggi. Ohoho di kisah ini juga diceritakan bagaimana si kepo mencari cinta.
Novel ini diceritakan dari sudut pandang masing-masing tokoh, yasss ada empat sudut pandang yang akan bercerita, jadi kita akan lebih tau lebih dalam bagaimana perasaan masing-masing terutama perasaan Jojo dan Vira, juga bagaimana pandangan Lilian dan Albert menjadi saksi hidup adanya cinta di lingkaran persahabatan mereka yang telah terjalin selama belasan tahun.
Tersebutlah ini sudah dimulai baca beberapa waktu lalu. Tapi, waktu mau lanjut kulupa ceritanyadan akhirnya kubaca ulang😁 Kusuka interaksi Jojo-Vi meskipun kutakbegitu menikmati kisah Albert-Avium---tapi kusuka endingnya. 🐳
Aku nunggu dua harian buat nulis review, mikir2 dulu sisi yg gak aku suka yg mana biar gak subjektif nilai all in 5 star karna tidak ada yg sempurna di dunia ini kan 😭😂
OKEEE MARI CERITA.
Gila. Ini novel metropop paling aku suka SEPANJANG MASA. Huhuhu seems like I'm a new fan of Nina Addison 🥹
Dari awal aja ya udah bikin hati tuh menggebu-gebu gitu untuk lanjut baca halaman demi halaman karena narasinya bagus dan latar yg dipake unik banget. Langsung kyk DAR DER DOR gitu rasanya.... aku ngerasa gak dikasi nebak ini mau dibawa ke isu tentang apa. Aku gak bakal nebak loh jadinya malah trop friends to lovers saking intronya tuh gak ngarah ke situ, tapi tetep BAGUS!
Nah selain itu, aku suka karakterisasinya. Ini diambil dari sudut pandang orang pertama utk 4 POVs kan (karena satu geng isinya 4 orang). Nahh semua sifat2 mereka tuh terceritakan dengan baik. Menurutku yah, gak ada kebocoran dari sifat2 yg dideskripsikan di tiap karakternya. Itu yg bikin aku ngerasa sayang sama semuanyaaa. Bahkan sama Zed juga yg kehadirannya cuma sebentar, tapi terasa masih tetep ada sampe akhir karena dimention dengan lembut terus sama MCnya dan itu bikin aku nyaman...
Perihal judul juga, aku suka banget pemilihan judulnya yg sepele tapi emang itulah penyebab utama dari terjadinya segala plot di novel ini kan wkwk. Yahh meski kerasa gak make sense banget (perkara bulu mata doang anjir!), tapi cinta emang gak make sense gak sih??? ea.
Pokoknya page turner banget deh untukku. Setiap halamannya pasti ada aja gebrakan yg bikin mata ini gak berenti buat bacain baris-baris narasinya. Apalagi kalau mereka udah meracau dan itu lucu!! Apalagi kalau mereka udah ngomongin tentang sahabat2 mereka satu sama lain tuh funfactnya lucu banget!! berasa akrab juga sama mereka berempat wkwkwk.
Dua hal yg aku paksa untuk kucari2 nodanya adalahhhh wkwkw gak penting sih. Cover bukunya. Menurutku ya, gak menarik banget. Apalagi latar biru yg gak ada sangkut-pautnya sama isi cerita. Kayak, menurutku gak ada simbolis apapun ditunjukan di sana kecuali gambar bulu mata itu.
Kedua, tentang Avium. Mungkin agak rancu dengan yg kujelasin dari tadi di atas tapi aku ngerasa kedekatan Lilian sama Albert tuh kurengg dibahas perihal sudah berapa lama mereka kenalnya. Sampe2 bisa sebanyak itu interaksi mereka sebelum insiden 'confession' kan, melihat dari sesi puitis Albert yg sering mengutip omongan Avium. Berarti mereka emang sebanyak itu momennya. Tapi aku kok ngerasa kurang ya? Apa aku aja yg missed??
Tapi yah pokoknya tetep suka BANGET sih sama novel ini. Gak sabar baca karya Nina Addison yg lainnya lagiii ✌️
Selesai dan sukaaaaa😍😍 Heartwarming sekaleee... Gemes sama tarik ulurnya Jojo dan Vira. Merasa pengen banget peluk Albert. Dan nongki cantik bareng Lilian. Bestfriend-relationship nya dapet banget. Somehow bikin deg-deg an juga sama tindakan impulsif tokoh-tokohnya. Empat tokoh. Keempatnya dapet bagian masing-masing. Hanya kurang bagian Albert dan Avium aja sih aku mah. Premis-nya sederhana tapi tapi tapi epic banget sih. Konfliknya juga nggak terfokus ke percintaan aja, tapi juga ada keluarga dan persahabatan juga. Dan dan... Aku mewek dibagian Zed. Omg, nongol sebentar doang tapi berkesan sampe aku selesai baca ini novel. Kacaaauu...
Cerita di novel Perkara Bulu Mata terbilang segar, itu reaksi pertama saya setelah selesai membaca tuntas. Padahal judulnya ini jadi persoalan di awal membaca, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Dan saya juga sempat mandeg membacanya. Begitu kesempatan kedua datang, saya keukeuh melanjutkan sampai tamat.
Novel Perkara Bulu Mata menceritakan empat anak manusia yang bersahabat sejak mereka di SMA: Vira, Jojo, Albert, dan Lilian. Usia dewasa yang melemparkan mereka pada dunianya masing-masing lantas nggak merenggangkan persahabatan yang terjalin. Hanya saja tidak ada jaminan kalau perempuan dan laki-laki sahabatan, bakal awet sahabatan tanpa ada cinta-cintaan. Ternyata waktu SMA Lilian sempat naksir Albert yang berujung penolakan. Beruntungnya persahabatan mereka tidak jadi tumbal. Dan akhir-akhir ini Vira yang mulai merasakan suka sama Jojo sejak mereka curhat tentang kandasnya hubungan dia dengan Tom, dan nggak sengaja Vira memperhatikan bulu mata Jojo. Terdengar aneh memang, ada ya orang jatuh cinta sebabnya lihat bulu mata.
Novel ini pernah hadir dalam bentuk cerpen berjudul sama di dalam kumcer Autumn Once More. Mengikuti jejak Critical Eleven, akhirnya hadirlah sebuah versi panjang dari Perkara Bulu Mata.
Bercerita tentang Vira, Jojo, Lilian dan Albert, empat sahabat yang sudah sering bersama sejak SMA. Ketika Vira ditolak oleh Tom, kecengannya, dan situasi di tempat kerjanya seperti bencana, sesi curhatnya pada Jojo berbuntut panjang. Vira jatuh cinta pada Jojo, karena bulu matanya yang panjang.
Berkat Lilian dan Albert, Jojo jadi tahu perasaan Vira. Yang ada Jojo menjauh. Vira merasa ditolak. Namun persahabatan mereka di atas segalanya. Apapun Vira lakukan demi bisa mendapatkan sahabatnya.
Meski diceritakan oleh 4 orang, titik berat novel ini ada pada kisah Vira dan Jojo. Sahabat menjadi cinta, tema klasik dalam dunia romance yang selalu menarik untuk diikuti.
Mbak Nina nggak pernah bikin kecewa. Saya punya semua bukunya karena suka gaya penulisannya. Suka banget sama narasinya. Saya langsung jatuh cinta pada novel ini di di awal bab. Hanya saja agak terganggu dengan POV 1 untuk 4 karakter berbeda. Kebanyakan. Selain tarik ulur yang agak panjang, saya menikmati membaca ini. Saya pencinta romcom, jadi ini jenis tulisan yang masuk dalam daftar bacaan. Tulisan Mbak Nina selanjutnya pasti masuk wishlist.l
another 5 star book i've read this year! memang benar sih, mata adalah jendela hati. dari mata kita bisa melihat kejujuran dan ketulusan. dari mata .. turun ke hati ea ea
belasan tahun bersahabat, vira baru sadar bahwa mata jojo indah. oh apalagi bulu matanya yang panjang dan lentik itu. tak mau persahabatan mereka hancur, vira memutuskan untuk memendam saja perasaannya. vira tak tau bahwa ada kemungkinan lain.
jojo sudah pasti kabur ketika mengetahui ada perempuan yang menaruh hati padanya. tak terkecuali dengan vira. jojo bingung harus berbuat apa sampai ia sadar vira terus terusan ada di pikirannya.
persahabatan mereka berempat (vira, jojo, lilian, dan albert) itu .. terlihat seru dan menyenangkan. mereka selalu ada untuk satu sama lain saat senang dan sedih. aku ingin punya persahabatan yang seperti itu.
ceritanya lumayan ringan dan konfliknya nggak begitu berat. aku juga suka gaya bahasa penulis yang puitis saat waktunya pov albert. pergantian pov nya di awal awal agak membingungkan sih, tapi lama lama pasti terbiasa kok.
bisa dibilang aku beruntung banget bisa ketemu buku ini. puas sama endingnya. gemas sendiri liat tingkah mereka haha. hampir kelupaan! praha. kota ini dideskripsikan dengan indah oleh penulis. jadi pengen pergi ke sana ..
Buku ini tentang persahabatan jadi cinta. Bukan trope favoritku, aku lebih suka enemy to lover trope. But, still, buku ini page turner, buktinya bisa kuselesaikan dalam sehari.
Yang kusukai : 1. Alurnya cepet, jadi gak bosen. Dari satu case ke case lain tuh gak lama. 2. Tokoh Vira menurutku keren, dia dewasa menerima penolakan. 3. Seperti yang kubilang, aku penyuka hate to love trope, jadi aku ngeship Vira dan JC, cuma ya ginilah kapal karam. 4. Vibe jalan-jalan ke Praha sangat detail. Nanti aku bakal cari titik-titik yang Vira kunjungi. 5. Kehangatan persahabatan Vira, Jojo, Liliana dan Albert. Pantesan bisa belasan tahun.
Catatan ketidakpuasan : 1. Banyak POV. Kurang suka aja kalo aku harus memahami semuanya langsung dari pikiran yang bersangkutan. 2. Bahasa inggris mix itu bikin capek bacanya ketimbang full english sekalian. 3. Kenapa yaa, kayak nanggung masalah Zed dan buku hitamnya ini. Entahlah, di sini merasa kayak aneh aja kalo Vira termotivasi ceklis impian Zed. Yaa, aneh aja. 4. Percintaan Vira Jojo ribet karena sahabatnya emberan sih.
Oke, mungkin baru inget segini aja. Ada plot twist, meski sudah ketebak sebenernya. Gak menampik fakta bahwa buku ini seru buat santai dan balikin mood. 🤍
Pertama kali tahu Perkara Bulu Mata itu saat cerita ini masih sebuah cerpen di kumpulan cerpen metropop Auntumn Once More. Aku langsung terpikat sama bahasanya yang ringan dan tokoh-tokohnya yang lucu. Lalu aku memuntuskan untuk harus membaca versi novelnya. . "Aku percaya persahabatan itu misteri. Bahwa kemunculannya tidak disangka dan lamanya tidak bisa ditebak." . Novel metropop yang sangat khas pekerja kantoran Jakarta. Jojo, Vira, Lilian, dan Albert sudah bersahabat belasan tahun, namun mereka selalu punya waktu untuk berkumpul walau sekedar ngopi ngidul gak penting. . Menurutku konfliknya cukup menarik. Bagaimana seseorang bisa jatuh cinta hanya dengan sepasang buku mata? Alurnya agak lambat tapi its okay karena aku jadi terhanyut dalam drama empat sekawan ini. . Perpindahan POV di antara empat karakter tidak buat bingung. Setiap tokoh punya ciri khas tersendiri dan aku cukup sulit menentukan tokoh favoritku. Hmmm.. adakah di sini yang ngefans sama Albert? Aku jadi pengen jadi Aviumnya Albert deh 😍 . Epilognya itu loh buat kekeh. We need more about Lilian! 😂😂 . Novel bercover putih biru ini tidak lebih dari 300 hlm dengan cerita yang menarik, sangat cocok sebagai bacaan ringan sekali duduk 👍 . "Cuma kamu yang bisa bikin jantungku begini. Selalu kamu. Dari awal, bahkan sebelum aku sadar."
Buku ini sempet hyped di dunia bookstagram pas baru banget terbit, tapi baru tahun ini kesampean bacanya. Jadi tertarik gara-gara rekomendasi literary base di Twitter dan akhirnya baca deh.
Kesan pertama pas baca buku ini agak hambar sih karena tbh aku nggak berekspektasi apapun. Tapi semakin ke tengah, semakin ke akhir, makin seru. Kocaknya dapet banget. Kisah romantisnya juga nggak berlebihan. Banyak moral valuenya, as expected from GPU books. Overall ini seru dan ringan, cocok buat yang nggak mau baca novel berat yang bikin tertekan sehari semalaman.😂
Sekian ulasan singkatnya, mau bikin ulasan panjang tapi ingatanku gak cukup bagus karena sekarang CR aku ada lebih dari dua. Hope I'll do better next time!☺️🌼
Akhirnya baca metropop lagi, dan Nina Addison setelah sekian lama gak baca novelnya, terakhir Morning Brew kayaknya.
Tentang persahabatan jadi cinta. Antara Jojo, Vira, Albert dan Lilian. Dua cewek dan dua cowok. Ya sebenernya sesimpel itu ceritanya.
Kenapa judulnya Perkara Bulu Mata? Karena gara-gara ngeliatin dengan seksama bulu mata itu lah mereka mengerti bahwa sedang mencintai seseorang dan itu sahabat sendiri yang dikenal sejak SMA.
Tidak ada konflik berarti dalam cerita keemoat tokoh ini, kecuali susahnya bilang cinta pada sahabat sendiri. Diceritakan dengan pov keempatnya membuat novelnya jadi mudah diikuti tapi juga jadi terasa biasa aja.
Pokonyaa bukunya Kak Nina Addison ni never failed me, selalu sukses bikin gw ga fokus kerja, ga fokus ngapa2in krn pengen lanjutin trus baca bukunya. Novel yg bertemakan romance di jaman metropolitan ini biasanya bukan my things, tpi ada bbrp author yg bkin kisah cinta muda mudi di masa kini (OMG sok tua bgt gw) jdi menarik bwt gw, salah satunya yaa ni buku “Perkara Bulu Mata Ini”, pokonya klo ibarat masakan, ini lengkap semua bumbunya.., ga berlebihan, semua porsinya pas tpi hasilnya bagus bgt ..., love bgt pokonyaa ❤️❤️❤️
I truly enjoyed reading this book! It's a light romance book that's nice to read in between your long days.
The characters are lovable, the friendship among the four friends is so cute and warm, and when things suddenly clicked in different way between some of them... it gets more interesting (and heartfluttering). And it always the little things.
I also really appreciate that this book is told in four povs. Each pov brought me to know each of them better, and how they think of each other. Definitely made the characters and their stories even more fun to read!
Pertama kali baca bukunya Kak Nina Addison dan aku langsung jatuh cinta! Novel ini bikin ikutan gemas waktu Vira nyadar dia suka sama Jojo (setelah beberapa bab kemudian!) cuma karena bulu mata Jojo! Lucu banget nggak sih :") Kayak, ya kamu bisa aja jatuh cinta cuman karena alasan sesederhana itu hahaha.
Mau review yang lengkap tapi nanti deh dilanjut kapan-kapan~