Ada tidak sih cara lain menghukum orang yang tingkahnya kayak setan kalau tidak dengan cara yang lebih setan lagi?
Aku, Atarjoe, setiap pagi bangun dengan tangan berlumuran darah dan berbau bangkai. Coba bayangkan kalau harimu diawali dengan itu. Setiap hari aku harus berkutat dengan rutinitas macam itu. Menjijikkan. Lama-lama kuketahui, ada setan yang memperalat tanganku untuk berburu mangsa darah. Enak saja, ini tanganku, aku tak sudi dipakai seperti itu. Maka aku rebut balik kendali atas tanganku. Dari setan itu aku tahu tanganku mampu menyedot setan-setan lain untuk kemudian dipakai jadi senjata.
Hidupku ini dipenuhi dengan orang-orang celaka yang membuat orang-orang sengsara. Melalui tapak setan ini aku menyalurkan dendam orang-orang yang tak bisa melawan itu. Kugantikan tugas si setan. Aku berburu orang-orang laknat yang bikin banyak orang susah. Tinggal kuraup muka mereka dan mereka akan kerasukan setan seumur hidup, dan setiap hari mereka akan melukai diri sendiri, tanpa bisa mati.
Haditha M. adalah penulis novel, skenario, yang kini juga tengah belajar membuat ilustrasi. Kegemarannya terhadap genre fantasi dengan napas klenik selalu tertuang di setiap karyanya. Dia pun tak ragu memasukkan unsur-unsur binal bilamana dirasa pas menguatkan nuansa cerita. Karya-karyanya yang pernah terbit sebelumnya adalah Karung Nyawa (Bukune), Dalam Kurung (Bukune), dan Tapak Setan (Elexmedia). Dia bisa disapa di media sosial dengan handle @hahahaditha
Orang bijak selalu bilang, dendam itu buruk dan dapat mengundang setan. Tetapi, kadang hidup begitu menyesakkan sehingga orang bisa jatuh dalam godaan buruk tersebut. Ini yang dialami oleh Atarjoe--seorang piatu yang tinggal dan pemukiman kumuh. Hidup dan lingkungannya sudah sedemikian berantakan, dia sendiri menjadi korban dari lingkungan kehidupan kelas bawah yang porak-porandanya. Orang tua satu-satunya terjerat narkoba dan bahkan rela menjual diri demi barang haram tersebut. Boro-boro menyekolahkan Atarjoe, untuk makan pun bocah 13 tahun itu harus mengusahakan sendiri.
Rasa kesumat pun mengumpul dalam dada melihat segala ketidakadilan di sekitarnya. Atarjoe hanya bisa menahan geram saat orang orang jahat itu melecehkan ibunya, menghina dirinya. Kehidupannya mewakili hidup orang-orang yang terpinggirkan tanpa harapan untuk bisa mengajukan keluhan. Sampai suatu malam, muncul suara berbisik yang mengajarkannya menyajikan dendam dengan tangan kanannya sendiri. Dan suatu pagi, Joe bangun dengan tangan kanan berlumuran darah dan berbau bangkai.
Awalnya bocah itu ketakutan, tetapi suara berbisik misterius itu mengatakan rahasia kelam dari tangan kanannya. Tangan itu memiliki kesaktian dapat menyedot setan dan membuat entitas yang tersedot itu takluk. Setiap setan yang terisap masuk akan tunduk patuh padanya. Dengan kekuatan setan-setan inilah, bocah remaja itu bergerak untuk membalaskan dendamnya. Setiap orang yang ia raup mukanya dengan tangan kanannya akan kesurupan dan tersiksa oleh setan yg merasukinya. Inilah kekuatan Tapak Setan dari Atarjoe.
...bahwa setan suka menampakkan diri itu ada macam-macam penyebabnya. Satu karena dia merasa terganggu dengan kehadiran manusia. Dua karena dia merasa hatus banget tampak eksis, biar manusia tahu dia ada di situ. Tiga karenadia suka sama manusianya. Empat karena dia memang berniat iseng. (hlm 120)
Mekanisme tapak setan adalah tangan kanannya mampu memunculkan semacam lubang isap untuk menyedot setan setan di sekelilingnya. Dalam tangan kanannya, terdapat ruang ruang menyerupai kamar barak tempat para setan yg tersedot itu tinggal. Semakin sakti dan makin banyak setan yang tersedot, semakin sakti juga kekuatan tapak setan tersebut. Semakin membara juga dendam dan kemauan membunuh bocah itu. Dengan keji, ia membalaskan dendamnya satu per satu, dan kemudian menggunakan kekuatannya itu untuk membasmi kejahatan dengan caranya sendiri. Hampir 700 nyawa manusia laknat lenyap di tangannya.
Manusia memanglah bakal calon setan. Semua manusia memiliki potensi tersebut. Manusia bisa lebih rendah dari setan. (hlm 113)
Hanya saja, segala yang dilakukan dengan cara yang buruk biasanya hanya akan menghasilkan keburukan keburukan lain. Atarjoe merasa dirinya semakin menyerupai neraka seiring dengan semakin banyaknya setan yang dia isap dan orang yang dia hukum. Dendamnya bukannya surut, malah makin menyala. Satu demi satu, Atarjoe juga kehilangan orang-orang yang dicintainya. Walau bagaimana, setan hanya berteman dengan sesama setan, atau manusia setan. Seiring dengan makin banyaknya korban, Joe merasa dirinya adalah perwakilan neraka itu sendiri. Ia panas yang membakar orang-orang berhati busuk.
Kita bisa merasakan aroma kemarahan yang begitu kental saat membaca Tapak Setan. Kemarahan akibat keadilan yang absen hadir untuk mereka yang terpinggirkan. Kemarahan karena aparat penegak hukum dan bahkan pemuka agama yang gagal menjalankan perannya melindungi dan mengayomi wong cilik. Ketika manusia lain tidak bisa diharapkan, maka kepada setan lah orang-orang tertindas itu berpaling. Novel ini semacam kritik keras yang disampaikan Haditha lewat kisah horor.
Beragama kok kayak orang kesetanan. (hlm 128)
Ada banyak alasan mengapa novel ini layak dapat empat bintang. Pertama, Tapak Setan ditulis dengan sudut pandang orang pertama dan tidak memiliki satu pun kalimat langsung di dalamnya. Kedua, settingnya terasa lokal habis jadi sangat nyaman membacanya. Begitu masuk ke semesta Haditha, susah untuk bisa keluar lagi sebelum menyelesaikan membaca novelnya. Ketiga, Tapak Setan ini begitu bebas mengumbar segala yang mendesak dalam pemikiran penulisnya. Selain sarat amarah, novel ini berisi banyak adegan serta kata-kata vulgar yang hanya pantas untuk pembaca 18 tahun. Tiap awal babnya juga dilengkapi ilustrasi setan-setan yang dia isap. Dan ilustrasi itu digambar sendiri oleh penulisnya. Kece.
Setelah terpuaskan dengan membaca Karung Nyawa, saya merasa Haditha telah menemukan posisinya dalam menulis. Spesialisasinya adalah fiksi klenik dengan fokus pada setan-setan nusantara dan setting lokal. Membaca Tapak Setan, terlihat sekali betapa dia sangat nyaman saat menulis kisah yang sarat kemarahan ini. Bahkan sampai akhir cerita, saya masih terngangga dengan kebuasan si tapak setan. Again, another good job, Haditha.
Gimana perasaan lo kalau lo punya kemampuan terkutuk kayak bocah cungkring tapi ganteng di buku ini? Punya tangan yg tiba2 berdarah, berwarna hitam, berbau busuk, n bisa ngurung setan, iblis, hantu? Bahkan bisa putus sendiri?
Satu aja sih jawaban gue: NAJIS!
Gimana nggak najis, tokoh utama di buku ini bener punya tangan yang menurut gua bikin bergidik antara ngeri, jijik, najis tadi. Eww. Selain kemampuan di atas, usapan "Tangan Busuk" juga punya efek mengerikan buat korbannya. Mereka yg kena usapan tangan itu bakal ketakutan setengah mampus. Selain itu, ada efek2 ngeri lainnya dari tangan si bocah cungkring ini. Penasaran? Baca aja cuy! Tapi tunggu aja yah. Hehehe
Oke, ini adalah novel dari Haditha selanjutnya yang udah gue baca. Bukunya sendiri nggak tebel2 amat kok. Jadi buat lo yang anti baca buku tebel, super duper aman buat baca buku ini.
Bahasa yang dipake simpel, padat, n khas Haditha banget. Tulisan per bab juga pendek2 kok. Gue bahkan sampe hitung per bab buku ini ada berapa halaman. Hahaha. Gaje banget ya.
Adegan2 gore di buku ini juga lumayan bikin jijik, walau gak gore2 amat buat gue. Toh pas adegan yg kategori gore ini gue sambil makan kok. Nah, buat yang gak doyan baca adegan telinga putus, penis putus, dll, buku ini gak cocok buat lo lo pada. Tapi kalau demen baca yang begonoan, Tapak Setan wajib dibaca. Dijamin deh, lo semua bakal kesetanan. Wokwok
By the way, Tapak Setan bakal terbit mayor loh. Dan gue pas tau excited banget n harus punya versi mayornya. Cover bukunya liat aja deh tuh! Bagus kan?! Kece kan?!
Oke dah, segitu aja sih bacotan gue buat novel Tapak Setan ini. Buat yg doyan bacaan horor wajib baca yang satu ini.
woah seorang haditha kayaknya makin menggila dalam berkisah (?)
serial tapak setan ini paling Gore dibandingkan karya sebelumnya... bikin mual.
gaya penceritaannya asik banget.. dengan sudut pandang orang pertama. plot nya bagus.. alurnya cukup cepat, tapi ga mengurangi esensi cerita. walau sejujurnya masih bisa dibikin lebih detail. contoh saya masih kurang paham kenapa dia bisa memiliki tapak setan.. uhmmm atau masih disembunyikan di sekuel selanjutnya ya? #eh
membaca tapak setan ini layaknya membaca kisah anti hero.. jd berasa nonton Nube + venom wkwkwk biar gampang gitu dibayangin nya
yang pasti kisah nya keren..ngetwist di akhir dan bikin cliffhanger parah.. semoga sekuel nya segera diterbitkan ya!
Suatu waktu di masa kecil, saya dan keluarga menonton film horor barat. Dalam film itu ada adegan potongan tangan yang bergerak sendiri. Sejak itu saya kadang dihantui mimpi buruk menemukan potongan-potongan tangan bergerak. Ketika melihat kover novel “Tapak Setan” saya jadi teringat lagi mimpi itu. Dan, mengingat dua novel Haditha sebelumnya yang bikin saya merinding, saya sempat ciut juga membaca novel ini. Namun, saya meneguhkan hati untuk membacanya, dan sama sekali tidak menyesal.
Jika dibandingkan kover 2 novel Haditha sebelumnya, kover Tapak Setan terlihat kurang menarik di mata saya. Memang, secara konten, kover bergambar tangan ini sangat mewakili isis cerita. Namun, kesan yang saya dapat saat melihatnya adalah tipe kover novel persilatan zaman dulu. Tone warna latarnya terlalu sewarna dengan gambar tangan, sehingga gambar jadi tidak menonjol dan jatuhnya serasa mati. Untungnya, blurb novel ini menjanjikan kisah yang menegangkan, sehingga menolong penampakan luarnya. Kemudian, setiap pembukaan novel di judul bab, pembaca disuguhi ilustrasi “setan” karya penulisnya sendiri. Ini merupakan kelebihan Haditha, yaitu memaketkan karya tulis dan ilustrasi buatannya.
Membaca buku ini seperti membaca Goosebumps, tapi versi dewasanya. Bayangin aja, setan-setan yg ada itu semuanya gokil dan unik, pokonya "ngehe" banget deh bikin aku geleng-geleng kepala. Apalagi, penulis (kak Haditha) ini jagonya memberi nama tokoh-tokohnya (termasuk setan-setannya) dengan nama yg familiar tapi bikin ngakak 😂😂 Ada setan Bocel, setan Cebol, Tuyul Dubur, dan Setan Klobot. Dan semua setan itu tinggal di hotel gaib di dalam telapak tangan Atarjoe! Parah gila kan?
Review lengkap menyusul di blogku 》》 romanitamore.blogspot.co.id
Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan membaca novel ini. Bukan karena isinya jelek. Bukan pula karena saya ketakutan. Namun, berkali-kali saya dibuat nyesek dan geram di beberapa adegannya. Kadang, rasanya buku ini mau saya banting saking keselnya terhadap realita yang menimpa atau bersinggungan dengan hidup Atarjoe, tokoh utama novel ini. Yah, nyeseknya mirip-mirip saat saya membaca beberapa novelnya Okky Madasari.
Kecintaan penulis terhadap novel-novel sastra Indonesia, terlihat jelas dituangkannya dalam novel horornya kali ini. Tragedi-tragedi kemanusiaan dan kemarahannya terhadap kebobrokan yang terjadi di masyarakat, semuanya dijadikan pemicu konflik dan tidak hanya sekadar tempelan.
Membaca Tapak Setan ini ternyata aku harus menghabiskan waktu lumayan lama, meleset dari perkiraanku untuk membaca sekali duduk. Bukan karena aku gak suka ceritanya, bukan juga karena ceritanya gak bagus. Tapi karena selama membaca 217 halaman itu aku selalau merasa sangat ngeri dan enek banget, setiap bab selalu membahas hal-hal yang bikin aku gak kuat buat lanjut baca, alhasil aku selalu berhenti setiap 3 atau 4 bab. Ini dikarenakan aku yang gak kuat kalo membayangkan banjir darah. Hueek. Walau rasa penasaranku gede banget dan selalu ingin terus membacanya.
Tapak Setan ini menceritakan kehidupan Atarjoe yang sangat buruk, dari mulai dia yang sebenernya baik, tiba-tiba menjadi seseorang yang brengsek menurutku. Dan tokoh Atarjoe ini sebenernya mempunyai jiwa yang baik, dia tidak pernah melakukan hal-hal keji seperti yang pernah tetangga-tetangga sekitar rumahnya lakukan. Dia bahkan sangat menghindari itu, namun kematian Ibu, Yut Kasmijan- tetangga yang sudah dianggap kakeknya sendiri, adik bayi yang diperalat orang tua dan sipengemis, dan juga Basuki sahabat baiknya. Dia jadi beringas, Atarjoe seperti bukan dirinya, dia memberontak. Atarjoe seperti mempunyai dua kepribadian, aku juga paham apa yang dirasakannya. Ingin memusnahkan manusia-manusia yang menyampah didunia walau aku gak membenarkan tindakan-tindakan yang dilakukan Atarjoe untuk memusnahkan kejahatan itu. Ini seperti ingin membela negara tetapi menjerumuskan diri sendiri ke sel tahanan. Gilak! Aku gak nyangka dia bisa setega itu sih, walau aku juga sedikit mendukung tindakannya. Disini Kak Haditnya menyampaikan karakter Atarjoe dengan sangat baik, antara jiwa kemanusiaannya dan jiwa si bos setan yang bejat itu.
Nggak ada adegan yg bikin aku merasa takut walau dari awal bab selalu membahas hantu dengan beraneka bentuknya. Membaca kisah Atarjoe ini rasanya campur aduk banget, marah, kesel, kasihan, sedih, ikut dendam juga, namun ada saatnya aku merasakan seneng karena dendamnya terbalaskan. Ada saatnya dibikin ketawa juga, karena disini juga diselingi humor.
Oh ya, dari awal cerita sampai akhir cerita, gak ada dialog sama sekali. Jadi disini tokoh Atarjoe yg bercerita sampai tuntas. Aku suka cara Kak Haditha menyampaikan semuanya lewat tokoh Atarjoe, jelas dan tidak menggantung. Dilihat dari covernya saja Tapak Setan ini sudah ngeri yaa, gambar tangan yang sedang mencakar itu seakan menggambarkan tangan Atarjoe yang sedang meraup. Kalau menurut aku, covernya sangat menggambarkan isi cerita, menggambarkan inti dari ceritanya. Keren banget covernya, mendukung banget, ngerinya juga dapet👍.
Judul Tapak Setan juga diambil dari kekuatan tangan Tapak Setan Atarjoe yang mampu menyedot banyak setan-setan yang akan dijadikan umpan kekuatan untuk melampiaskan dendamnya. Atarjoe diberi julukan Tapak Setan dari beberapa orang yang pernah dihardik dan diraup mukanya oleh Atarjoe. Meraka selalu terbayang-bayang wujud Atarjoe yang mengerikan jika sedang marah dengan tangan berdarah-darah dan berkuku tajam.
Novel ini banyak menceritakan adegan-adegan kekerasannya dengan sangat tidak kemanusiaan. NGERI. Dan juga banyak adegan yang bikin kipas-kipas. Karena disini juga menceritakan adegan orang dewasa secara blak-blakan. Kalau dicover tertera untuk pembaca berusia 18+ tetapi menurutku sih untuk pembaca 20+ yaa lebih tepatnya. Biar aman hihi
Aku sangat merekomendasikan Tapak Setan ini buat yang suka membaca genre horor, karena Tapak Setan ini bukan cuma cerita yang menakut-nakuti pembaca dengan menceritakan hantu-hanth andalannya, cerita ini sangat beda menurutku, dengan dibumbui fantasi dan kejadian-kejadian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat jaman sekarang *aku gak tau jaman dulu gimana sih😆 dan juga sebagai bentuk untuk membalas jasa sang pelaku kejahatan, memberikan sebuah hadiah berharga yang harusnya menjadi pelajaran hidup untuk gak mengulangi kejahatan tersebut.
Selebihnya aku sangat suka sama Tapak Setan ini, ngeri-ngeri sedap😆
Ada tidak sih menghukum orang yang tingkahnya kayak setan kalau tidak dengan cara lebih setan lagi?
#reviewalakadar beli buku ini udah cukup lama, dan lama pula diendapin. Tertarik miliki karna kovernya yang creepy abis. Gak tahu siapa penulisnya, gak baca blur-nya juga apalagi review-nya. . .
Tidak ada dialog, cuma monolog dari pov 1 bernama Atarjoe. Bocah kere yang tinggal bersama seorang pelacur. Dia terbangun setiap pagi dengan tangan berlumuran darah dan berbau bangke. . . "... Kau tega membiarkan orang-orang malang tersiksa berlama-lama? Kau diciptakan untuk menghadirkan neraka di dunia. Khusus untuk orang-orang biadab dan laknat..." . .
Sialan! Di luar ekspektasi, novel ini berdarah-darah banget. Tadinya gue pikir, ini horor ala-ala yang lebih ke misteri mengungkap kenapa tangannya berdarah tiap pagi. Ternyata... Bangke kepala bol ayam. Sadis banget. Gore banget. Padahal cuma tulisan, tapi nyata banget. Setan-setannya bener-bener bisa dibayangin dan itu sedikit menakutkan. Paling jijik sih sama si Tuyul. Uwek!
Nggak nyesel gue beli buku ini. Bacaan kayak beginilah yang gue harapin. Serem, ngilu, ngeri, sadis dan yang pasti story-nya DAEBAK!
4.5/5 Keren... Pertama kali buka buku ini di jalan pas ban motor lagi ditambel. Tengah malem pula. Begitu buka. Baca satu paragraf. Suka. Ini gaya penulisannya ngingetin gue sama karyanya Percy Jackson. Bedanya si percy ini alus banget. Kalo àtarjoe ini... ya kata kasar lah.. Plotnya sendiri sebenernya ga istimewa, tapi somehow sangat menarik. Baca ini bikin ketawa sendiri liat kelakuannya si tokoh utamanya, ngeri juga dengan eksekusi yang dilakukan si atarjoe.
Masha ini berhasil banget bikin novel ini dengan tone yang cukup gelap. Menciptakan sosok anti hero yang ga bisa dibenci tapi sulit dicintai juga. Berhasil juga menceritakan kerasnya dunia jalanan melalui narasi yang ditulis. Dan akhirnya ending yang nggak terduga.
Salut.. Dari semua karya masha yang udah kubaca, Tapak Setan ini yang paling keren...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bagaimana jika selama ini kalian merasakan ada amarah, rasa kesal, geram, sedih, dan perasaan lainnya berkecamuk dalam hati akan kondisi sosial masyarakat di sekitar kita sedangkan kita tidak memiliki kekuatan untuk membuat keadaan di sekitar kita menjadi lebih baik? Apakah yang akan kalian lakukan? Bagaimana kalian akan mengeluarkan perasaan tersebut? Apakah kalian akan marah-marah tanpa pernah merasakan kelegaan? Apakah kalian hanya bisa bersabar? Atau apakah kalian punya acara sendiri untuk meluapkan amarah tersebut dan membalasnya?
Nah, Haditha, seorang penulis yang berkecimpung dalam ranah fantasi klenik (dan lagi naik daun dengan karya-karya ajaibnya yang keren dan beda) punya cara sendiri untuk meluapkan amarah dan kesalnya akan semua “penyakit masyarakat” di sekitarnya sekaligus untuk membalas dendam atau memberi para pelaku sebuah pelajaran berharga. Haditha menulis sebuah cerita! Judulnya adalah TAPAK SETAN.
Wah! Dari judulnya saja seram ya. Membaca cerita Tapak Setan memang ada perasaan ngeri, jijik, marah, lucu, sekaligus sebuah perasaan “puas” ada sebuah cara untuk membalas dendam tanpa merugikan orang di dunia nyata.
Atarjoe, seorang pemuda yang “tidak beruntung” dalam hidup karena lahir dan besar di lingkungan pinggiran yang keras dengan masalah sosial, mulai dari kemiskinan, obat-obatan terlarang dan minuman keras, pelacuran, dan kejahatan lainnya. Atarjoe memiliki kebaikan dalam hatinya, namun juga memiliki amarah akan kondisi sosial di sekitarnya yang bobrok. Ibunya adalah salah satu korban dari keadaan tersebut. Atarjoe menyayangi ibunya, namun seorang laki-laki semakin merusak ibunya dan sejak itulah kebangkitan “tapak setan” milik Atarjoe mulai bangkit dan memenuhi pelampiasan dendam Atarjoe.
Manusia memanglah bakal calon setan. Semua manusia memiliki potensi tersebut. Manusia bisa lebih rendah dari setan. (hlm 113) Lagi-lagi aku merasakan semangat membaca buku hingga tuntas dalam waktu yang singkat muncul kembali saat membaca buku terbaru karya Haditha ini. Sejak membaca karung Nyawa, aku menyukai gaya bercerita Haditha yang sangat mengalir. Aku akui aku menyukai kisah Atarjoe karena sangat merasakan emosi penulis akan fenomena keadaan sosial di sekitar kita yang memang ada dan terjadi. Banyak sentilan akan situasi masyarakat yang “sakit” dan juga ketidakadilan yang terjadi di masyarakat terutama bagi kalangan yang terpinggirkan. Sebut saja kemiskinan yang membuat orang melakukan kejahatan, ormas yang mengatasnamakan agama namun justru berbuat kerusakan, fenomena yang kuatlah yang menang, fenomena pengemis jalanan yang memanfaatkan bayi tak berdosa, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Aku menyukai kisah Atarjo karena kisah yang dia ceritakan menimbulkan berbagai macam emosi yang bercampur aduk, ada perasaan marah, kesal, puas, tertawa, lucu, miris, dendam, sedih, terluka, perasaan bersalah, dan sebagainya. Yang membuat aku semakin menyukainya adalah bahwa sagat terasa emosi Haditha sebagai penulis dalam cerita ini. Aku membayangkan Haditha menulis sambal meluapkan kemarahannya, juga sambal tertawa ketika menuliskan pembalasan dendam (yang tak terlampiaskan di dunia nyata) melalui Atarjoe.
Haditha juga menunjukkan bahwa selalu ada dua sisi dalam sifat manusia. Selain sisi kejahatan, selalu ada sisi baik yang lembut. Atarjoe memiliki keduanya. Namu, ketika amarah mulai menguasai, di situlah setan mulai berkuasa (memegang kendali) yang akhirnya malah menjadikan manusia itu sendiri lebih menakutkan dan lebih beringas dibandingkan dengan setan itu sendiri. Selain cara bercerita yang sangat mengalir, Haditha sangat leluasa menggunakan kata-kata makian yang vulgar, kesadisan yang cukup membuat begidik, dan sedikit adegan yang hanya cocok dibaca bagi pembaca usia 18 tahun ke atas. Hal ini membuat cerita menjadi lebih HIDUP! Selain itu, karena Haditha sangat ahli dalam menciptakan dunia fantasi klenik, tentu saja ada setan-setan ajaib yang muncul di buku ini. Nah, ada ilustrasi yang dibuat sendiri oleh Haditha. Keren.
Kesimpulannya adalah, jika kalian menyukai kisah horror dengan sentuhan local, dicapur dengan sentuhan fantasi klenik, dan tentu saja memiliki nuansa yang berbeda dengan ciri khas yang sagat melekat? Buku ini sangat cocok buatmu. Good JOB, Haditha!!
Sebagai penutup, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukai karya-karya Haditha. Oleh karena itu, aku akan sangat menantikan apabila karya lainnya diterbitkan dan tentu saja langsung membacanya.
Untuk saya ini adalah Horror yang sedikit dibalut dengan unsur fantasi. . Freaky! . Baru kali ini saya baca buku dengan bahasa sevulgar ini, sepanjang cerita saya disuguhkan dengan kebringasan Atarjoe sang Tapak Setan, sayang sekali di endingnya menurut saya sedikit terburu-buru, saya sebenarnya kasih rating 3,5 bintang untuk buku ini, namun saya aku tetap baca buku Bang Haditha yang lain. . Habis ini saya akan baca "Dalam Kurung".
Seru! Aku suka bagaimana penulis mendeskripsikan setiap peristiwa dalam novel dengan cukup mendetail dan terkesan vulgar. Aku juga suka bagaimana penulis menjadikan persoalan kalangan bawah/orang-orang jalanan sebagai dasar ceritanya dengan bumbu-bumbu horor kleniknya.