Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai

Rate this book
Buku yang berisikan 25 kumpulan tulisan, bukan hanya tentang perempuan tapi juga tentang kesetaraan gender dan hak-hak hidup yang belum terbayar lunas ini ditulis oleh tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki, yang menyuarakan keresahannya. Layak menjadi pilihan bacaan bagi yang ingin lebih mengerti, bagaimana menjadi perempuan dari sudut pandang yang lain.

192 pages, Paperback

First published August 26, 2018

15 people are currently reading
101 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (28%)
4 stars
85 (56%)
3 stars
18 (12%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for melmarian.
400 reviews135 followers
September 13, 2018
Kumpulan artikel terpilih dari majalah daring Magdalene (magdalene.co) yang aktif bersuara tentang isu-isu perempuan dan kesetaraan gender. Tulisan-tulisan dalam buku ini mencakup cukup banyak aspek yang langsung terlihat dalam bagian/subjudul dalam daftar isi sebagai berikut:
1. Menjadi Perempuan
2. Kecantikan dan Citra Tubuh
3. Politik dan Pergerakan
4. Gender dan Seksualitas
5. Agama dan Spiritualitas
6. Relationship.
Tajam, mencerahkan, intim, dan menurut saya perlu dibaca dengan mata hati dan pikiran yang terbuka. Satu saja yang saya tidak suka, yakni sampulnya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
August 28, 2018
Magdalene sebenarnya adalah majalah online yang membahas isu seputar kehidupan wanita. Mulai dari lingkungan, politik, keluarga, seksual, agama, dan masih banyak lagi. Sesekali saya membaca artikel esai yang terbit di magdalene.co. Terutama kalau ada yang membagi linknya.

Buku ini kurang lebih sama dengan websitenya. Isinya juga kumpulan esai tentang wanita. Tadinya saya mengira semua kontributor dalam buku ini perempuan, ternyata ada satu kontributor laki-laki.

Kesan saya setelah membaca buku ini: kenyang. Isinya padat tapi tidak membosankan. Dan meskipun judulnya Menjadi Perempuan, buku ini bukan ditujukan hanya untuk perempuan. Pria baik dia jadi ayah, suami, pacar, teman juga harus membaca buku ini.

Satu hal yang membuat saya sediki terganggu adalah halaman berwarna pink. Hanya beberapa sih. Mungkin iti sebagai pemanis saja, karena tidak ada ilustrasi dalam buku ini.
Profile Image for Laaaaa.
208 reviews5 followers
March 18, 2021
ini adalah kumpulan tulisan dari banyak pihak. mostly relate sama kehidupan sehari-hari di sekitar saya. menjadi perempuan itu serba salah di lingkungan saya, jadi saya bisa merasakan apa yg korban-korban rasakan dalam buku ini...
334 reviews37 followers
September 17, 2018
Bukunya Farahhhh! Congrats, honey!

Buku ini adalah kumpulan dari esai-esai yang sudah pernah tayang di Magdalene.co. Sebagai seorang pembaca rutin Magdalene (dan juga didesak oleh Farah, hehe) ku pun merasa harus punya buku ini.

Dan memang worth the price, sih. Esai-esai yang dipilih di dalam buku ini merupakan highlight dari apa yang selama ini konsisten diusung oleh Magdalene: women empowerment.

Buku ini dibagi jadi 6 bagian dengan masing-masing bagian terdiri dari 3-5 tulisan, keseluruhannya berbahasa Indonesia. Enam bagian itu antara lain:
1. Menjadi Perempuan
2. Kecantikan dan Citra Tubuh
3. Politik dan Pergerakan
4. Gender dan Seksualitas
5. Agama dan Spiritualitas
6. Relationship

Ngga semuanya saya suka tulisannya, jujur. Ada beberapa yang semacam masih kurang mateng dan menggantung di tengah-tengah, mungkin maksudnya buat ngajak mikir. Nah dari 25 tulisan di buku ini, ada 3 tulisan yang paling aku suka:
1. Obsesi terhadap Hijab adalah produk westernisasi oleh Lailatul Fitriyah
Mungkin karena isu tentang hijab dan politisasi tubuh perempuan yang selama ini jadi perhatianku, aku jadi relate a lot sama tulisan ini. Nih aku kasih cuplikan paragrafnya:
Dengan kata lain, hijab dan tubuh perempuan digunakan sebagai lahan pertarungan ideologis oleh mereka yang mengklaim diri pembela Islam, dalam perlawanannya terhadap dominasi Barat. Dan dengan demikian, karena politik identitas bersifat timbal balik, semakin keras upaya komunitas-komunitas Muslim untuk melawan Barat melalui simbol-simbol teatrikal (!!!) nan seksis, semakin terkonfirmasi pula berbagai kesalahpahaman Barat atas apa itu Islam dan Muslim


2. Islam dan Aku by Eliza Vitri Handayani
Duh, kalo yang ini sih sampe rasanya pengen retweet berkali-kali. Tulisan ini aku banget!!! Dan ga bisa quote bagian mana yang kurasa perlu untuk ditampilkan karena... hampir semuanya.

3. Tren Menikah Muda Mencari Jalan ke Surga by Lailatul Fitriyah
(Mba Lailatul Fitriyah, you got one more fan in here)
Ditilik dari judulnya, bisa disimpulkan secara sekilas memang bahwa tulisan ini mencoba untuk membuka mata para remaja dan pemuda di Indonesia bahwa menikah sih boleh-boleh saja, tapi itu bukan satu-satunya hal yang patut dikejar, seperti yang sedang marak dipropagandakan akhir-akhirnya. Menikah itu bukan cuma soal selangkangan doang, plis. Dan mba Lailatul juga ngutip Asma Barlas, salah satu penulis buku yang sedang kubaca juga, mengenai 3 dimensi terpenting dari kualitas ketuhanan Allah, yaitu keesaan, keadilan, dan ketunggalan. Dari sini, aku tahu bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang egaliter, dan bahkan dengan meyakini 3 kualitas ketuhanan Allah itu, artinya kita sudah mementahkan budaya patriarki itu sendiri.

.....

Jadi, begitulah sekelumit pendapat saya setelah membaca buku ini. Tadinya udah ditahan-tahan ga mau stabiloin bukunya, tapi apa daya, kutak kuasa menahan untuk ngga nge stabilo :(
Karena memang segitu ngenanya.
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
March 29, 2023
"Menjadi Perempuan" adalah buku kumpulan esai yang diterbitkan oleh Magdalene, majalah daring berbahasa Inggris dan Indonesia yang didirikan oleh tiga jurnalis —Devi Asmarani, Hera Diana, dan Karima Anjani.

Dua esai pembuka dari dua puluh esai dalam buku ini mengantarkan pembaca pada pemikiran ihwal isu kekerasan seksual, gender dan KDRT.

Ada sepenggal hingga dua penggal kalimat menarik yang saya rekam dalam buku ini, terutama pada esai berjudul 'Warisan Ayah: Memutus Rantai KDRT' karya Chika Noya.

—"..budaya masih kuat memberikan tembok yang tebal untuk menentukan yang tabu dan bukan tabu untuk laki-laki, sehingga laki-laki yang berperan dalam pengasuhan dianggap asing karena minimnya teladan yang ada di masyarakat. Padahal membangun relasi emosional dengan keluarga tidak membuat laki-laki lebih lemah. Bercerita dan berempati masalah anak membuat laki-laki bisa menjadi seorang ayah yang bahagia dan juga menjadi suami yang baik.

—Untuk memutus KDRT dan rantai kekerasan antar-generasi, seorang ayah bisa memilih cara lain untuk mendisiplinkan anak tanpa kekerasan. Tanya pada diri sendiri, memori apa yang ingin diwariskan pada anak jika suatu saat ditanya, "Seperti apa ayahmu?"

Dalam tulisan "Bibit-Bibit Kekerasan dalam Olok-Olok Status Janda", penulis mengungkapkan bahwa status "janda" seringkali menjadi bahan olok-olokan di tengah masyarakat dan itu menjadi bibit tindak kekerasan. Seharusnya, masyarakat lebih berhati-hati dalam penggunaan frasa "janda" di kehidupan sehari-hari. Janda dalam kamus berarti tidak memiliki suami lagi karena bercerai atau karena ditinggal mati suaminya. Awalnya kata ini bersifat netral, tapi seiring waktu kata janda mengalami pergeseran makna dimana stigma negatif dan cemoohan kerap melekat padanya.

"Online atau offline, menggunakan status orang lain sebagai bahan olok-olok tetap tidak dibenarkan. Beberapa lelucon hanya mengandung kedunguan kita sendiri dan kurangnya empati." —hal.22

"Terkadang untuk menghentikan kekerasan, yang diperlukan hanyalah empati. Dan empati tidak bergantung pada tingkat pendidikan, status sosial ekonomi atau keyakinan kita. Melainkan kerelaan untuk tidak memberi makan ego kita dengan memanfaatkan keadaan atau situasi orang lain." —hal.22

Sama halnya dengan janda, dalam tulisan "Alasan Sebenarnya Orang Gemar Lecehkan Lajang", status lajang pun sering menjadi bahan candaan yang berlebihan bahkan menyinggung perasaan. Menjadi lajang dianggap sama dengan melawan kodrat. Orang berpikir, mesti ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Demikian tulis Feby Indirani dalam uraian esainya di bagian pembuka.

"Baik yang menikah dan tidak menikah, kita semua punya tugas bersama untuk menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik bagi anak-anak masa depan, apakah itu anak kandung kita atau bukan." —hal.28

Memasuki tulisan keempat dalam buku 'Menjadi Perempuan', pembaca disuguhi dengan tiga esai memikat bertema Kecantikan dan Citra Tubuh. Di sini, isu perihal penampilan fisik dan definisi cantik Standar Nasional Indonesia (SNI) menjadi topik yang menarik untuk diulik oleh masing-masing penulis.

Misal, dalam tulisan berjudul 'Stop Nilai Diri dan Perempuan Lain dari Penampilan Fisik', sang penulis, Wiwiek Lestari menyatakan bahwa perempuan sepertinya senang sekali berlomba-lomba membandingkan kecantikan dengan teman-temannya sendiri, artis sinetron hingga super model.

Hal ini dapat dimengerti, karena manusia memang sudah terprogram dari sananya untuk membandingkan diri satu sama lain. Yang tidak wajar adalah bila kita mulai menilai dan menghakimi perempuan lain dari apa yang mereka kenakan, cara berdandan, atau bahkan gaya berbicara. -hal.32

✨✨
Bila kamu -para perempuan- sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain, berhentilah. Tuhan sudah menciptakan kita dengan berbeda namun sempurna. Sayangi dan syukurilah segala keunikan yang kita miliki. Jangan biarkan nilai diri kita diukur dengan standar yang ditetapkan orang lain.

"..cantik adalah saat kamu menerima semua kekuranganmu dan belajar bahagia dengan dirimu sendiri." —hal.35

'Politik dan Pergerakan' menjadi pembahasan selanjutnya dalam buku "Menjadi Perempuan". Pada bagian ini terdapat lima tulisan esai yang memuat wawasan baru ihwal ras, tradisi pernikahan dini, peran kerelawanan hak perempuan, sampai pandangan feminisme.

Saya tidak akan merinci disertai analisis mendalam atas setiap tulisan yang saya baca karena butuh waktu ekstra untuk melakukannya, apalagi semua topik itu bukan bidang saya.

Di sini saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa akar dari suatu persoalan atau isu-isu soal ras, gender dll. sebetulnya tidak lepas dari kurangnya interaksi/komunikasi/dialog antar masyarakat.

Feminisme, misalnya, hari ini masih mudah ditafsirkan sebagai hal tabu untuk diperbincangkan oleh kelompok tertentu. Ada semacam ketakutan yang bergejolak dalam hati dan pikiran bila kata itu digaungkan. Padahal feminisme adalah satu dari sekian gerakan yang menjadi pilihan atau alternatif manusia dalam berpolitik.

Tidak ada paksaan di dalam satu gerakan yang lahir dari hati nurani. Kita bisa memilih atas kesadaran penuh masing-masing.

Ada baiknya kita melakukan refleksi dan introspeksi mengenai sejauh apa pemahaman kita tentang feminisme maupun isme-isme lainnya, semangat apa yang seharusnya kita perjuangkan, dan tindakan apa yang seharusnya kita lakukan.

Penutup ulasan buku yang begitu panjang..

Sehimpun cerita tentang para perempuan korban kekerasan di lembaran-lembaran terakhir buku kumpulan esai ini mengajak pembaca untuk berkontemplasi. Bahwa kodratnya perempuan menjadi individu yang lemah lembut; cenderung mengedepankan rasa (kasih sayang) atas segala perlakuan yang ia terima. Namun terkadang, sifat kelemahlembutan menjadi belenggu bagi perempuan dalam menjalani hubungan toksik alias tidak sehat.

Satu-satunya jalan keluar atas belenggu tersebut ialah mencari 'tempat pelarian' yang nyaman. Ialah keluarga, teman, atau orang terdekat yang bisa ia jadikan tempat curhat (baca: berbagi cerita).

Bagaimana pun perempuan itu makhluk yang senang bercerita. Jadi, kalau perempuan lagi ada masalah, cukup dengarkan dengan saksama. Sudah itu saja.

Sekian.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Marine.
76 reviews1 follower
October 3, 2018
Kumpulan esai yang kritis tanpa menggurui. Berbagi pengalaman pribadi serta opini terkait isu isu yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat bebas. Buku ini semakin membuk wawasan bahwa memang benar, isu perempuan kerap digalakkan, tapi sudah sejauh mana perjuangan berhasil? Buku ini juga membawakan sudut pandang yang sangat berbeda dari akademisi maupun ibu rumah tangga dengan tujuan yang sama : pemberdayaan perempuan.

Satu hal yang membuat janggal adalah adanya kontra dari dua perspektif yang berseberangan. Ada beberapa esai yang mendorong wanita jangan hanya menjadi rumah tangga, namun ada pula esai yang menunjukkan posisi kebanggaannya sebagai ibu rumah tangga dan tetap berdaya. Meskipun janggal, tapi mungkin justru itulah kebhinnekaan yang diusung oleh buku ini. Salut!
Profile Image for Hesti Pratiwia.
35 reviews3 followers
July 9, 2020
Bagi yang sudah sering membaca Magdalene.co tentu tidak akan menemukan kebaruan dalam buku ini. Isinya sebagain besar adalah artikel yang sudah pernah dimuat dalam situs Magdalene. Tapi, bukan berarti buku ini bisa diabaikan begitu saja. Bagi setiap orang yang ingin memahami bagaimana diskriminasi terhadap perempuan dilanggengkan selama ini, buku ini harus dibaca lagi dan lagi. Disebarluaskan ke orang-orang sekitar untuk menjadi pengingat bahwa perjalalanan kita menuju kesetaraan gender masih jauh dari kata berhasil. Suara dan karya-karya seperti ini harus terus didukung, agar perempuan tidak lagi hidup dengan dikte orang lain.
Profile Image for frikelovato.
137 reviews34 followers
March 6, 2020
Ini merupakan buku pertama tentang feminis yang saya baca dan isinya dari beberapa esai. Ada beberapa esai yang saya suka dan setuju dengan perspektif dari sipenulis, tapi ada juga esai yang menurut saya hanya sekedar tulisan biasa dan hanya sebuah cerita atau curhat dari si penulis. Terlepas dari keduanya menurut saya buku ini layak untuk di rekomendasikan kepada mereka yang ingin merubah sedikit perspektifnya mengenai perempuan atau laki-laki, atau mereka yang merasa bahwa ada hal lainnya yang lebih penting dari hanya sekedar menjaga perilaku berdasarkan kepentingan orang lain.
Profile Image for Ellina Ariesta Saputri.
12 reviews1 follower
December 25, 2020
Baru sempat review sekarang, bukunya bagus banget asli. Bercerita dengan sudut pandang yang luas mengenai peran perempuan dan segala problematikanya. Menjadi perempuan bukan berarti harus berurusan dengan urusan 'sumur-dapur-kasur' saja, lebih dari itu perempuan punya hak dan kebebasan dalam menyampaikan aspirasi dan berpenampilan sesuai dengan kepercayaan/prinsip yang dianut. This is one of my best book this year.
3 reviews
January 18, 2019
Salah satu buku kumpulan esai favorit saya, ya terlebih saya memang suka isu feminisme. Menurut saya, buku ini mudah dipahami. Isu yang dibahas juga cukup relevan, cukup dekat dengan konteks kehidupan saat ini terutama di Indonesia.

p.s : Sepertinya buku ini bakal jadi mahar untuk calon suami nanti sebelum dia melamar saya hahahaha
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books102 followers
October 27, 2018
Rupa-rupanya buku ini berisi artikel magdalene yang sebagian sudah kubaca di web. Baiknya dibaca agar tahu bagaimana menjadi perempuan, memperlakukan perempuan, juga soal isu-isu yang kadang menyedihkan.
Profile Image for Sheira Sharma.
132 reviews4 followers
May 2, 2025
selama ini suka sekali baca esai di blog magdalene dan buku ini berisi kumpulan esai pilihan dengan beragam isu perempuan, mulai dari pelecehan, kekerasan, sampai keimanan. banyak sekali esai yang gue suka, tapi ada beberapa yang sangat berkesan, salah satunya esai dengan judul saya berhijab dan saya penari karya lulu lukyani, mungkin karena relate kali ya jadi curahan hati penulis ini kerasa dekat sekali, apalagi esai ini juga ga datang beriringan dengan solusi, tapi ngajak pembaca untuk mikir sama-sama, apa benar seni dan agama memang dua hal yang nggak bisa berjalan beriringan? jadi setelah baca, jadi banyak renungan dan bahan untuk di diskusikan.

terus ada satu lagi yang judulnya menjadi teman korban kekerasan karya camely arta, sekali lagi, gue suka karena topik yang di bahas dengan sama realitas. "saya tidak bisa membantu clara jika dia seakan menutup mata dan enggan membantu dirinya sendiri." gue pas baca kalimat itu langsung merasa tertampar, bener juga ya, meski sekeras apapun gue berusaha dan sesedih apapun gue karena merasa gagal bikin dia sadar, endingnya juga sama aja kalau dia ini emang nggak mau bantu dirinya sendiri. jadi teman korban kekerasan emang harus kuat mental dan penuh KESABARAN, gue belajar satu hal, katanya "di sarankan untuk tidak menghina atau menghakimi tentang pelaku kekerasan, karena hal ini dapat membuat korban menjadi defensif terhadap pasangan mereka, dan korban akan berujung menutup diri." mana gue selama ini selalu maki-maki pelaku lagi :) abisnya emosi, gue mikirnya kan kalau gue tegaskan secara terang-terangan dan berulang gitu temen gue ini perlahan akan sadar kalau cowoknya gila dan nggak layak buat di pertahankan.

tapi memang cukup kompleks sih, well, semua esainya bagus, topik yang di bahas menarik. kalau lagi butuh buku tipis tapi isinya tetep berbobot buku ini bisa jadi pilihan, atau kalau nggak baca aja esai-esai mereka secara gratis di blog magdalene.
Profile Image for Valentines Risma.
70 reviews8 followers
April 24, 2020
14/20 for 2020 Reading Challenge

Tuntas membaca kumpulan esai ini tepat di Hari Kartini :)

Kumpulan esai oleh para penulis di magdalene.co yang berbicara tentang isu-isu mengenai perempuan yang meliputi:

1. Menjadi Perempuan
2. Kecantikan dan Citra Tubuh
3. Politik dan Pergerakan
4. Gender dan Seksualitas
5. Agama dan Spiritualitas
6. Relationship

Membaca kumpulan esai ini membuat pandangan lebih terbuka lebar. Ada beberapa esai yang membahas kekeliruan dalam memaknai feminisme yang sangat mencerahkan, membetulkan persepsi saya mengenai gerakan feminisme.

Kumpulan esai ini sangat bergizi, padat tapi tidak membosankan karena para penulisnya banyak memberikan contoh kisah nyata yang mereka jalani. Ada beberapa kalimat yang saya suka:

"Online atau offline, menggunakan status orang lain sebagai bahan olok-olok tetap tidak dibenarkan. Beberapa lelucon hanya menunjukkan kedunguan kita sendiri dan kurangnya empati." (hal 22)

"Pada dasarnya manusia terlalu kompleks untuk dipahammi dari satu sisi, karena itu kebiasaan menggunakan stereotip harus senantiasa ditekan. Ada begitu banyak motivasi, yang tidak mungkin dibaca hanya dari unsur primordialisme." (hal 51)

"...perempuan bisa menjadi apa saja bila ia memang mau dan berusaha." (hal 63)

"Terjadi blunder ketika feminisme direduksi maknanya dan diabaikan kompleksitasnya dengan menyamaratakan semua kesadaran, realitas, dan kebenaran mengenai semua perempuan menggunakan definisi yang sama." (hal 66)

"Keislaman harus dihadirkan dalam bentuk kecerdasan sosial, keindahan moral, cara berpikir kritis, dan keterampilan untuk memosisikan diri di mata dunia." (hal 111)
Profile Image for Nikita Syecilia.
26 reviews2 followers
June 28, 2022
Akhirnya saya menuntaskan buku ini dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu lebih.

Buku Menjadi Perempuan oleh Magdalene. Buku ini sangat manis dan terlihat kokoh karena dirajut dari untaian-untaian essai yang sangat powerful oleh para perempuan dan satu orang laki-laki.

Saya puas karena spektrum pembahasannya cukup luas, dimulai dari asam-garam menjadi perempuan, kecantikan dan citra tubuh perempuan, politik dan pergerakan, gender dan seksualitas, agama dan spiritual, hingga relationship. Mulanya saya kira hanya membahas satu topik yaitu permasalahan perempuan dan bagaimana (kita) mencari solusinya dengan satu sudut pandang seorang feminis. Namun, ternyata lebih dari itu, saya merasa mantap mengatakan bahwa buku ini dapat dikonsumsi oleh khalayak umum, orangtua, laki-laki, dan siapa saja yang ingin memahami perempuan lebih dalam.

Saya rate 5/5 karena buku ini cukup relate dengan permasalahan yang dialami oleh perempuan terutama perempuan Indonesia yang masih berpusat pada sistem patriarkial (ya, disinilah semua cerita menjadi awal bermula). Overall, I’m lovin’ it. <3
Profile Image for Annisa Khairiyyah.
3 reviews
January 3, 2019
Buku ini berisi kumpulan artikel- artikel dari majalah Magdalene yang aktif membahas dan menyuarakan tentang hak- hak perempuan dan kesetaraan gender dalam ruang lingkup keluarga, masyarakat, sosial dan politik. Esai di buku ini menyuarakan perasaan mereka yang secara sadar atau tidak telah di abaikan dan diremehkan. Buku ini menuntun untuk memandang dari sisi lain terkait permasalahan gender.

buku ini terdiri dari 6 sub judul yaitu:
1. Menjadi Perempuan.
2. Kecantikan dan Citra Tubuh.
3.Politik dan Pergerakan.
4.Gender dan Seksualitas.
5.Agama dan Spiritualitas.
6.Relatinship.

Kesan membaca buku ini, saya berulang kali di sadarkan dengan betapa jahatnya kita sebagai manusia yang terkadang dengan mudah menyematkan cap- cap negatif kepada sesama manusia tanpa melihat akar masalah dan cerita dibalik semua itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for mereadthisbook.
89 reviews4 followers
September 23, 2021
kumpulan esai yang memuat pemikiran-pemikiran kritis mengenai fenomena seputar perempuan di sekitar kita.
lihat saja dari daftar isi, terasa
familiar bukan?

membaca kumpulan esai di buku ini semakin membukakan mata bahwa kita memang hidup di tempat yang menormalisasi budaya patriarki. mau begini terus?

banyak bagian yang menyuarakan kegusaranku selama ini, terima kasih. 🌹✨
Profile Image for Dita Nugraha.
67 reviews
October 6, 2022
Buku yang menceritakan bagaimana perempuan dilihat dari banyak sudut pandang. Menjadi perempuan itu sulit. Terlalu banyak stereotip yang terlanjur melekat di masyarakat. Tapi, hanya karena standar di masyarakat tidak sesuai dengan yang kita jalani, bukan berarti hidup yang kita jalani salah atau tidak layak.
Profile Image for Nike Andaru.
1,642 reviews111 followers
October 20, 2019
203 - 2019

Kumpulan esai dalam buku ini menarik, walau beberapa pernah saya baca di magdalene.co.
Semua tulisan ditulis dan dibagi menjadi beberapa bagian bab, yang paling menarik buat saya bab :
- Menjadi Perempuan
- Politik dan Pergerakan
Profile Image for Alfina.
13 reviews
January 6, 2022
Buku feminis pertama yang dibaca, beberapa essai ada yang kurang memberikan jawaban secara detail atas judul yang diangkat. Namun, sangat direkomendasikan untuk yang ingin mengenal secara garis besar apa itu feminisme
Profile Image for Galuh Haris Septyana.
33 reviews1 follower
March 30, 2023
Worth to read during this Ramadhan. Membuka pikiran banget. Despite of Magdalene stereotypes for being 'feminazi's media', kumpulan essay ini sangat jauh dari stereotip tersebut. Buku non-fiksi yang cocok buat sekali duduk dan Ngabuburit!
Profile Image for Reffi Dhinar.
Author 8 books4 followers
March 12, 2019
Menohok, menyindir, jujur, dan membukakan pikiran.....bisa dibaca berulangkali
Profile Image for Daniela Soplantila.
48 reviews1 follower
March 20, 2019
Kumpulan esai ini menggambarkan dengan gamblang hal-hal yang masih dianggap tabu dalam masyarakat Indonesia namun dikemas dengan bahasa yang asyik dan mudah dimengerti.
Profile Image for linath.
83 reviews20 followers
December 27, 2020
Berisi 25 esai, tulisan yang asyik dan dibahas secara gamblang dan mudah dimengerti untuk dibaca yang menyangkut isu gender, seksualitas, hak dan keadilan, kemanusiaan dan feminisme.
Profile Image for Sylwty.
72 reviews
December 21, 2021
Ada beberapa bagian yang sangat menyentil dan menggambarkan kompleksitas permasalahan perempuan serta apa yang masing-masing penulis alami.

Aku kagum, keresahan-keresahan yang hanya aku pikirkan, berani mereka tulis dan sampai ke tanganku.
Profile Image for Maulid.
80 reviews1 follower
January 10, 2022
Buku ini keren banget! Kumpulan esai yang isinya berat, tapi disampaikan dengan ringan. Daging banget!
55 reviews1 follower
March 25, 2022
Bener-bener keren banget semua esainya! Jadi tau banyak hal baru dan hal berguna untuk perempuan. 🥰
Profile Image for ifaa.
6 reviews
December 23, 2023
“Menjadi Feminis: Menyebarkan Kesadaran atau Memaksakan Kepercayaan” has my whole heart <3
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
May 3, 2021
Pembahasan isu gender dan feminisme memang tak akan ada habisnya. Esai-esai di dalam buku ini menohok, relevan, dan merupakan contoh riil bagaimana masyarakat kita memandang jati diri seorang perempuan—meskipun di beberapa esai (saya sampai lupa pastinya yang mana), lebih condong curhat colongan, tapi tak apalah. Mungkin itu caranya mendekatkan pembaca dengan memberi gambaran nyata.
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.