Phi. Ketika melihat cover buku ini saya teringat dengan teman Nobita yang dinosaurus itu, yang setiap muncul dia suka bilang: Piiii. Apalagi cover buku ini ada air airnya, persis dengan Pi alias Pisuke yang tinggal di danau karena pensiun. Jadi saya betulan terkenang kartun Doraemon ketika memesan buku ini.
Tetapi, Pi dengan Phi tentu berbeda, baik Pi yang ada di Doraemon maupun Pi atau Phi yang ada di pelajaran matematika. Dan hal ini dijabarkan dengan asyik oleh sang penulis. Terasa sekali menyebalkannya menjadi seorang Phi yang setiap ditanya nama oleh orang-orang reaksi mereka akan... Hah, Phi? Apa? Phi? Hanya Phi?
Namun, lelaki yang memiliki penyakit asma ini adalah jenis manusia yang tabah menurut saya, meski ia suka mengeluh. Bukan hanya tabah menjawab pertanyaan seputar namanya, tetapi juga tabah menerima nasib yang sudah ditentukan Tuhan padanya. Dalam kepala Phi ada banyak pelajaran dan dalam hatinya ada banyak sesak. Sesak karena wanita. Sesak karena kenangan yang membuatnya lahir, atau kelahiran yang membuatnya mengenang hal-hal pahit. Sesak karena ia tahu ia pasti akan mati, tetapi tak juga ia menemukan arti.
"Pada dasarnya semua orang berharap kebahagiaan dalam cinta. Tetapi, cinta yang sesungguhnya selalu menyimpan kepedihan. Dan kepedihan yang kualami saat ini hadir karena aku mencintainya dengan sungguh-sungguh." (Phi, hlm. 22)
Yhaaa. Sekiranya itu membuat saya tertegun untuk kedua kalinya, setelah tertegun membaca lembar persembahan dalam buku ini yang berbunyi: Untuk diriku sendiri, apakah kau baik-baik saja hari ini?
Membaca Phi berarti masuk ke dalam sekolah dan menyaksikan murid-murid (terpaksa) belajar, guru-guru menjelaskan tanpa memahami, ruang konseling dibuat hanya untuk menampung siswa bandel, goblok, dan tidak punya sopan santun. Dan tentu, ritme ulangan yang begitu-begitu saja dari tahun ke tahun. Tetapi, Phi adalah siswa yang beda, siswa yang bisa jadi ada di dunia nyata, bisa juga tidak. Siswa yang berani menegur guru dengan sikapnya, namun sayang, guru yang ia hadapi adalah guru yang cuma bisa mendikte dan tidak suka jika ada murid yang lebih pintar darinya.
Saya sungguh berharap buku ini dibaca oleh para guru, para murid, para orang tua, para PNS, dan para jomblo atau sepasang kekasih yang menjalani cinta namun selalu bertanya apa itu cinta? Phi tidak hanya menawarkan cerita tetapi juga kehidupan. Sebab yang terjadi pada Phi adalah sesuatu yang juga terjadi pada kita. Mimpi, de javu, lari dari kenyataan, pelampiasan, dan keresahan-keresahan menerima takdir.
Secara keseluruhan, Phi bercerita tentang lelaki yang bercerita mengenai perjalanan hidupnya secara acak. Tiba-tiba Phi begini, tiba-tiba Phi begitu, loh loh tadi bukannya begini? tadi bukannya di sini? Mirip sekali dengan orang curhat yang hatinya babak belur dan tidak sanggup bercerita secara terstruktur. Tetapi itulah asyiknya, membaca buku ini seperti merasakan kehadiran Phi secara nyata, dan saya memaklumi bahwa Phi adalah orang yang begitu sedih, lalu saya harus ada untuknya agar ia tak selalu merasa sendiri. Meski kadang-kadang saya bingung dengan cara ceritanya yang melompat-lompat begitu.
Selain itu, banyak juga yang disebut di buku ini seperti hukum mandel, medan morphogenic, volume gletser, resonansi morphic, Ahasveros, dan banyak lagi. Sehingga membuat kepala saya berpikir bahwa Phi adalah perpustakaan berjalan, dan bagus sekali untuk dijadikan pacar. Maka Anggun, kekasih Phi (semasa sekolah) yang entah di mana keberadaannya itu mendapat kesempatan emas untuk memacari Phi, sehingga ia bisa mengancam putus apabila Phi tidak memberikannya sontekan saat ujian. Menarik! Saya sungguh suka bagian ini!
Perlahan-lahan, Phi bercerita tentang perkuliahannya di Bandung lalu bertemu dengan teteh geulis yang membuatnya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dan mulai dari sini saya mulai sebal. Karena Phi agak berlebihan dalam menjelaskan rasa kagumnya. Tentu, ini pasti karena cinta yang terlalu lebar, maka ya sudah saya terima. Lagi pula, kadang enak juga ya kalau saya pikir-pikir, jika dicintai sebegitunya oleh seseorang. Tetapi, Zane tidak sekeren Anggun. Ya meski saya terkesan dengan cara Zane menjawab email Phi yang belum ia kenali, dan bagaimana ia bersikap dengan lelaki asing yang mengaku menyukainya itu. Tapi ya, Anggun, saya terlanjur suka dengan Anggun. Itu saja yang sebetulnya membuat saya kesal. Astaga!
"Cinta tidak mungkin sama dengan komunisme. Cinta barangkali adalah produk kapitalisme. Keinginan memiliki kuat, bahkan keinginan untuk menguasai-cenderung posesif-sering menjangkiti para pencinta. Seperti keinginanku yang kian hari kian besar untuk bisa bersama Zane. Aku membayangkan bisa bercanda dengannya tentang Hukum Newton, membahas trigonometri, lalu merancang masa depan seperti seni origami..." (Phi, hlm. 162)
Betapa anjai Phi ini. Mau bercanda sama pacar saja ngomongin hukum newton.
Ada sikap Phi yang begitu dekat dengan saya, sehingga membuat saya malu sendiri ketika membacanya. Yaitu, ketika Phi melihat sekumpulan wanita, lalu berkata pada sahabatnya bahwa salah satu dari perempuan itu pasti Zane, dan kalau memang itu dia, berarti dia adalah jodohku!
Uwaw! Percayalah, saya sering melakukan ini, dan hal ini selalu asyik untuk dilakukan. Bermain-main dengan prasangka sendiri.
Lalu, apakah Phi mendapatkan jawaban yang ia mau? Apakah benar Zane jodohnya? Ah, tentu ini sangat menarik jika dibaca sendiri. Karena setiap babnya menawarkan perjalanan yang begitu bisa dinikmati. Betul-betul bisa dinikmati sampai ending.
Satu kalimat untuk buku ini: Kurang ajar kau, Sakum!!!
Siapa Sakum? Yah, tidak bisa saya jelaskan tentu. Karena Sakum hanya ingin dibaca, tanpa dijabarkan oleh orang lain.
Terpujilah wahai ShiraMedia yang sudah mau menerbitkan Phi. Terimakasih banyak. Dan semoga, akan terus ada karya Pringadi Abdi Surya yang seperti ini bahkan lebih baik dari ini.
Meski saya tidak ingin menjelaskan siapa Sakum. Tetapi sebagai penutup, saya ingin sekali mengutip perkataan Sakum:
Kau ingin kembali ke masa lalu?