Pekatnya kopi, seolah dalam tiap cangkir menciptakan cerita yang tak tertebak. Sama seperti dalam silamnya masa lalu Regen—si Tuan Kopi. Namun, berhadapan kembali dengan gelapnya masa lalu tak lantas membuatnya berubah pikiran untuk hidup bersama Varsha, si Nona Teh. Baginya, Varsha adalah alasan untuk tetap terjaga dari mimpi buruk. Sepatnya secangkir teh membawa aroma tak terduga dalam tiap cangkir yang tertuang. Seperti yang Varsha temui dalam perjalanan mengenal Regen. Kebetulan-kebetulan yang merangkai cerita membawanya pada pertanyaan. Bagaimana jika menjadi alasan seseorang untuk bahagia ternyata tak segampang yang dia duga? Bagaimana jika alasan yang kau punya untuk bahagia ternyata hanya sekadar fana? Ketika Nona Teh memberi ultimatum yang membuat hati Tuan Kopi kembali patah. Ketika kebetulan ternyata tak membawa akhir bahagia. Apa yang harus Tuan Kopi lakukan untuk melanjutkan hidupnya?
Arkais adalah lanjutan dari Nona Teh dan Tuan Kopi : Parak. Parak terjual dengan baik dan penulis aktif di media Instagram. Arkais adalah akhir dari seri Nona Teh dan Tuan Kopi.
Coz your behaviour lately, I vote down the book. What you did is not acceptable, Ma'am. === . . .
Aku kecewa, wkwkwk. Ada banyak detail yang udah ku sharing di twitter soal buku ini. Jadi aku mau kasih link thread-ku dulu di sini, in case ada yang mau baca detail-detail kecilnya. Bisa klik di sini.
Nah sebelum aku mau sharing final thought-nya, aku mau lurusin dulu beberapa hal.
1. Aku bakalan anggap kebetulan-kebetulan nggak masuk akal di buku ini sebagai magical realism. Entah emang genre MR atau bukan, tapi karena kebetulan di sini bikin aku sakit kepala saking dipaksakan dan absurd-nya, jadi AKU PRIBADI anggap ini genre MR. 2. Pendapat yang aku utarain ini super duper personal, jadi sebagian dari yang baca review ini mungkin nggak setuju. It is just me and my value. Jadi ya kemungkinan besar omonganku di sini terdengar nonsense, wkwkk. 3. Ini panjang banget udah kayak cerpen, wkwkwk.
Oke, mari lanjut.
Pros:
Aku super duper tertarik sama genetika yang dijelaskan di sini. Mudah dipahami. Tentang Conduct disorder sama antisocial personality disorder. Bener-bener menyuguhkan hal baru buatku ayng jarang baca-baca bku psikologi kayak gini. Setelah bnyaknya mental disorder yang diangkat di sebuah novel, novel ini bawa angin segar. Padahal ini termasuk novel lama, kan. Kalau diitung dari buku pertamanya ya 2017. Belum lagi penjelasannya tuh nggak yang bikin aku merasa baca artikel, mudah dicerna.
Aku suka sama layer konfliknya. Berlapis-lapis. Otakku bahkan sampai ngebul karena aku mikirin ini sebenernya sumbunya itu dari mana, dan pas au tutup buku, aku menyimpulkan semua orang dewasa di sini salah, wkwk. Suka karena morally gray is exist in this book. Aku bahkan bingung sebenernya aku ada di pihak siapa, wkwkwk. Di sin iitu ditunjukan kalau manusia itu nggak cuman hitam dan putih. Walaupun sebenernya dari awal aku udah tahu siapa yang aku benci di cerita ini sih, wkwkwk.
Selain morally gray, aku suka ya karena di sini itu mematahkan bahwa lelaki itu nggak boleh terlihat lemah. Exposing feeling is not just for women, Men do, and that's totally fine. Di awal kan ada tuh Cipto bilang jangna nangis yadayadayada, tapi ya Regen mah tidak begitu ujujng-ujungnya. Dia nunjukin kalau dia juga vulnerable depan Varsha sama Paula.
Terakhiiiiir, aku suka Aksel. Atuh ih dia tuh gemesin pingin cubit, wkwkwk. He's a comic relief and I always that kind of characters.
Cons:
Ada beberapa holes di cerita ini. Tapi udah aku share juga di tw. Intinya sih ketidak konsistenan alur. Bisa dibilang holes juga kali yak.
1. Ada penjelasan kalau Regen berat ninggalin Paula sama Val (Kayaknya ini sebenernya Bertha) tapi di halaman-halaman belakang dijelasin klau Val cumann tinggal bentar di Jerman dan Regen baru ketemu lagi pas kuliah.
2. Di buku ini ada lagi scene kalau Regen liat Varsha nyimpen gambarnya yang dari Ckafe yang di buku pertama. Lupa namanya. Terus di sini di ceritainlah kalau gambar itu punya Regen yang sebenernya tidak masuk akal, guys. Karena jelas-jelas di buku 1 itu udah dijelasin. Udah ada adegan Regen liat gambar dia itu digantung di mobil Varsha. Jadi entah kenapa ini Regen ama Varsha mungkin amnesia.
3. Nol Chemistry. Aku sebenernya berharap banyak kalau chemistry Regen-Varsha itu nambah di sini, tapi ya entah malah kok makin tidak masuk akal. Mereka tuh interaksinya setengah buku terakhir, kan. Tapi tuh enggak ada satu scene pun yang bikin mereka terasa masuk akal bisa jatuh cinta sampe mati. Walaupun kalau emang bener ini genrenya MR jadi in isemacan reinkarnasi or something gitu kan, ya, tetep aja nggak ada yang bikin hubungan mereka terasa nyata. Kayak terlalu dipaksakan.
4.
5. Terus kok aku ngerasa Varsha ini bland banget, ya? Dia tuh kayak nggak punya karakter, kayak sampingan aja, kayak supernumerary yang dipaksa jadi pemeran utama saking gak ada karakternya. padahal dia ini cukup detail di buku satu, tapi ya gitu deh.
Lain-lain:
Ini kefrustrasianku aja, yak. Walaupun aku dengan egoisnya menetapkan genre buku ini Magical Realism, tapi aku tetep ngerasa frustrasi kalau dipendam. wkwkwk
Udahlah hayu move on, cape. Setengah jam dong aku nulis ini. wkwkwk.
Nona Teh dan Tuan Kopi ini boleh jadi merupakan cerita jebolan Wattpad yg beneran saya suka setelah Write Me His Story-nya Ary Nilandari. Kompleks, keren, ga menye2, plotnya juara meski kadang choppy, tapi lumayan lit lah itu plot, dan diksinya juga simple. Yg saya suka juga, detail-detail di sepanjang cerita ini berlandaskan riset yg betulan 'terasa', ga cuma tempelan; serta interaksi antartokohnya yg realistis. Masih ada cacat di sana-sini, tapi termaafkan, mungkin karena saya udah terlanjur suka2 aja dgn ceritanya. Dan memang banyak sekali kebetulan, terlalu banyak malah, tapi NTdTK memang berkisah tentang kebetulan itu sendiri.
Buat yang meh sama Wattpad tapi tetep penasaran kali2 aja di luar sana ada novel Wattpad yg beneran bagus (kayak saya), baca ini deh. Lumayan nambah ilmu juga terkait psikiatri.
Aku bingung mau ngasih berapa bintang buat Arkais ini. Karena di awal aku dibikin emosi banget, emosi beneran yang pengin marah-marah sampai cari temen gibah 🤣 Jujur, aku pengin lewatin aja tuh bab minusnya, tapi aku bertahan karena takut melewatkan informasi penting.
Setelah bab minus berakhir, aku mulai kembali suka sama ceritanya. Aku suka karakter Varsha yang tangguh, suka juga sama karakter Regen yang dibuat rapuh. Daaan... Aku suka sama Aksel, tipe-tipe cowok yang aku suka banget.
Ada beberapa bagian yang menurutku lebay, tapi nggak ganggu dan cuma bikin geli aja. Terus, masalah gambar Regen yang Varsha jadikan gantungan. Di buku sebelumnya udah dijelaskan bahwa Regen tahu Varsha punya gambar itu sejak di basement, waktu dia pamitan ke Varsha pas mau ngilang. Di buku ini dijelaskan lain. Di buku ini lumayan banyak typo, dan beberapa kata yang nggak pakai spasi. Ada typo yang bikin ngakak "Regennalahahahajebir", aku sampai hafal 🤣
Awan, Hartanti, Cipto, Griselda, menurutku semuanya salah. Tapi bodo amatlah, yang aku suka Varsha sama Regen.
Di kisah Varsha dan Regen ini banyak sekali kebetulan yang terjadi, tapi nggak jadi masalah buatku. Narasi di buku ini enak dibaca, aku juga selalu suka sama sudut pandang Virga.
Ketika membaca Nona Teh dan Tuan Kopi, saya menemukan hal-hal yang tidak mudah saya dapatkan dari cerita romansa kebanyakan. Yang pertama, jalinan kata-kata, titik, koma, jeda, spasi, bahkan sampai alinea baru yang dibentuk Crowdstroia berhasil menghadirkan atmosfir khas Nona Teh dan Tuan Kopi. Ketenangan. Kesejukan. Dan, badai yang mengoyak ketenangan serta kesejukan itu sendiri. Bayangkan aroma teh ketika membaca bagian Varsha. Bayangkan aroma kopi ketika membaca bagian Regen. Bayangkan suara air yang mengisi cangkir tatkala kau membaca persinggungan antara keduanya. Sangat dapat.
Hal lainnya yang saya dapatkan, adalah kerealistisan yang terbentuk dari alur cerita. Kebanyakan kisah romansa selalu memberi pemikiran kepada kita bahwa pernikahan adalah solusi yang ditawarkan Semesta untuk menyudahi semua penderitaan tokoh utama. Pemikiran yang diadopsi dari 'mereka menikah dan hidup bahagia selamanya' ala kisah dongeng serupa Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, dan dongeng lainnya, yang mengajarkan pada kita untuk menunggu, menunggu kehadiran sosok 'pembebas' berwujud pangeran berkuda putih yang akan membawa kita ke gerbang kebahagiaan.
Namun, di dalam kisah ini (serta hampir semua karya Crowdstroia), ia berhasil mematahkan anggapan tersebut. Tuan Kopi jelas bukan Pangeran berkuda putih yang bakalan menghapus semua duka Nona Teh selama ini. Keduanya sama-sama memiliki masalah yang sama rumit dan suram, dan keduanya pula yang akan berjuang bersama-sama, untuk melalui duka tersebut. Semua itu bagai sripah yang membuat saya merinding, mengingat bagaimana ungkapan Regen kepada sang pengamat dalam Prolog untuk Tuan Kopi. Menoleh ke arah Om Re aku pun akhirnya bertanya, bagaimana caranya menerobos cangkang baja yang tidak punya kunci?
Tentu, tak kuberi tahu siapa orang yang memiliki 'cangkang baja' dalam pertanyaan analogi itu. Om Re juga tak langsung merespons. Jawabannya datang agak lama, tetapi hari itu membuat pikiranku seketika berubah.
Alih-alih menerobos, dia justru berkata bahwa dia akan bersatu dengan cangkang baja itu, membuat lapisan logam lainnya.
Atau lebih tepatnya, dia akan melindungi alih-alih menerobos cangkang baja.
(Nona Teh dan Tuan Kopi | Parak - hlm 191)
Di dalam Arkais, ada sebuah dongeng yang disisipkan, yang berjudul Dongeng Malam dan Cahaya. Sebuah kisah tentang cinta antara malam dan cahaya. Kisah yang sangat pas untuk ditampilkan dalam kondisi Nona Teh dan Tuan Kopi yang serumit itu.
Kisah Nona Teh dan Tuan Kopi tidak hanya berhenti sampai di sini.
Cerita ini bukan cuma kisah di mana dua orang yang sudah terlalu tua untuk kasmaran, menjadi kembali merasakan romansa. Bukan pula kisah di mana penantian bertahun-tahun jadi indah karena sebatas 'takdir' semata. Bukan pulan sekadar 'kebetulan' yang menjurus pada terbukanya realitas baru. Kebetulan terjadi jika manusia tak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada detik itu.
(Arkais | Nona Teh dan Tuan Kopi - hlm 133)
Namun, kisah ini adalah tentang kehidupan. Tentang penerimaan.
Tentang kejujuran. Seseorang berbohong kalau dia merasa kejujurannya akan membuat dia dihukum atau membuat dirinya rugi. Kalau kita menanamkan bahwa kita nggak akan melakukan hal-hal buruk seandainya dia jujur, dia akan merasa bahwa bohong itu nggak penting, dan kejujuran nggak akan menyakitinya.
(Arkais | Nona Teh dan Tuan Kopi - hlm 41)
Tentang melepaskan. Tentang berdampingan, bukan berarti harus bergandengan tangan. Hakikat tertinggi dari mencintai adalah melepaskan.
(Nona Teh dan Tuan Kopi)
Kalimat di atas bukan sekadar quotes indah yang disebutkan berulang kali dalam serial Nona Teh dan Tuan Kopi. Justru ialah kunci dari keseluruhan kisah yang berpilin dalam cerita ini. Bukan cuma kisah Regen dan Varsha semata, melainkan juga kisah untuk keluarga mereka. Kisah yang menjadi persinggungan antara keduanya. Kisah yang selama ini menjadi pertanyaan besar di benak kedua tokoh utama kita.
Jangan mencari seseorang untuk menguatkan dirimu. Carilah seseorang yang bersamanya engkau dan dia kuat bersama. Sebelum mencintai orang lain, engkau harus berhasil mencintai dirimu sendiri. Sebelum engkau berbahagia dengan orang lain, engkau harus berbahagia untuk dirimu sendiri. Mengamini bahwa hanya engkaulah yang mampu menciptakan bahagia itu.
Varsha dan Regen, belajar melepaskan, untuk menjadi kuat sendirian, dan engkau tidak perlu menggantungkan harapan dan kebahagiaan pada manusia.
Sayangnya, ada sebuah keganjalan yang saya tangkap dari kedua novel ini. Di buku satu (Parak), sudah diceritakan bahwa Regen melihat kertas kecil dari Destra & Sinistra Café di dalam mobil Varsha. Adegannya berlangsung di dalam mobil, di mana Regen menyebutkam bahwa huruf R dengan tiga titik air itu adalah signature-nya. (Hlm. 256).
Tapi berikutnya ada lagi pengulangan di buku dua (Arkais) meski scene-nya berbeda. Adegannya di rumah Varsha, di kala Regen menginap semalam dan mendapati kertas itu di tumpukan map. (Hlm. 260) Adegan ini yang sukses bikin saya mengerutkan kening.
Yah, terlepas dari itu, buku ini sangat kurekomendasikan bagi dedek-dedek emesh yang selalu bermimpi punya jodoh sempurna buat bisa bahagia. Bahagia itu dirimu sendiri yang menciptakan, kamu nggak bisa menunggu kedatangan seseorang (read: jodoh) sebagai saviour buat kehidupanmu.
semua pertanyaaan yang bersarang di Parak terjawab semua di sini........
setiap kalimat yang seperti punya matra yang membuat pembaca terlena dan melahap cerita ini sampai habis.
alur yang diciptakan alurnya maju, tapi buka dari masa sekarang terus ke depan, tapi dari masa lalu Regen , dan dan kalau biasanya awal bab itu di tulis part 1/ bab 1 ini di tulisnya minus 8 (-8) yang bergerak maju hingga sampai di titik 0 dan mulai angka 1.. dan itu pun juga gak sembarang kasih angka saja.
aku percaya, para pembaca parak pasti sudah menunggu kisah ini, meskipun udah pada nebak hasil akhirnya seprti apa, tapi perjalanan menuju ke sananya itu yang woooww di tunggu sekali.
meskipun begitu menurut aku, cerita ArKAIS ini bisa dibaca berdiri sendiri, tapi kalau memang lebih afdol ya baca yang PARAK juga.
Udah lama nunggu buku kedua keluar krn penasaran bgt sama ending buku pertama. Tp somehow di buku kedua ini ko nuansa cute romance nya jd ilang ya. Cenderung lebih dark aja. Dan terlalu banyak coincidence. way too much. Tp tetep masih enak untuk dinikmati ko. Dan akhirnya berhasil menjawab semua penasaran dari buku pertama. Looking forward for your next book ☺️
Pada akhirnya aku benar-benar jatuh ke karakter Regen. Walau alur kilas baliknya cepat, tapi tepat dan relatable. Sayangnya agak sedikit keganggu pas bagian dimana di Parak Regen da Varsha udah tau mereka pernah ke sinistra cafe cuma di Arkais nongol lagi bagian ini dengan latar yang agak beda. But keseluruhan aku suka
Secara keseluruhan sebenarnya cerita yang disajikan dalam buku ini cukup menarik. Saya suka sebuah cerita yang menceritakan latar belakang seorang manusia hingga menjadi dirinya yang sekarang karena memang masa lalu adalah bagian dari proses pembentukan jati diri. Arkais menyajikan cerita masa lalu Regen dengan cukup menarik karena terselip penjelasan-penjelasan psikologis yang masuk akal.
Namun, masuk ke bagian selanjutnya dari kisah Regen dan Varsha, saya mulai merasakan kekecewaan saat membacanya. Banyak sekali bagian-bagian kosong yang membuat bertanya-tanya bagaimana bisa seperti ini-seperti itu.
Misalnya, saya tiba-tiba menemukan bahwa Valerio menikah dengan Klavi tanpa sebelumnya ada penjelasan bahwa mereka pada akhirnya menikah. Lalu, ada pula bagian di mana Awan mati secara misterius dengan meninggalkan catatan dari Angela yang tidak diceritakan mengapa dan bagaimananya sampai di akhir cerita. Siapa pula Hektor itu? Tiba-tiba dia ada sebagai keponakan Varsha yang memanggilnya Bunda tanpa dijelaskan bagaimana asal-usulnya. Ada pula banyak bagian di mana Regen tidak mau mengenalkan Paula, kakak satu ayahnya, kepada keluarganya di Indonesia karena takut ketahuan dia memiliki genetik unik. Logika dari ketakutan tersebut juga tidak dijelaskan sehingga bagian logika ini kosong.
Ketika saya iseng membaca review Parak secara sekilas, saya menyimpulkan bahwa mungkin bagian yang hilang di Arkais bisa ditemui di Parak. Namun, bagi saya buku ini tetaplah kurang enak dibaca karena penghilangan bagiannya masih kurang smooth. Saya merasa bahwa bagian-bagian yang dihilangkan bukanlah bagian yang semestinya hilang dan dijadikan misteri karena hal-hal tersebut sebenarnya termasuk esensi dari cerita.
Jika mau membandingkan, seri novel Dilan dan Milea sebenarnya memiliki cara bercerita yang sama. Seri Dilan1990 dan Dilan 1991 menceritakan dari sudut pandang Milea, lalu Milea menceritakan kisah yang sama tetapi dari sudut pandang Dilan. Namun, pada novel Dilan 1990 dan Dilan 1991, Pidi Baiq bisa menceritakan secara jelas kisah Dilan dan Milea meski dengan potongan puzzle yang akan digenapkan di novel Milea. Bagian-bagian yang tidak ada di novel Dilan dan ada di novel Milea bisa diceritakan tanpa mengurangi esensi dari cerita sehingga pembaca tidak mengalami loncat pikir karena tidak ada bagian yang terpotong. Pidi Baiq hanya memisahkan sudut pandang cerita saja.
Kembali ke Arkais, membacanya membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya hubungan si ini dan si itu sebagai apa? Sebenarnya ada apa dengan si ini pada saat itu? Dan seterusnya… dan seterusnya…. Di sini, saya merasa bahwa pemenggalan informasi dari cerita yang disajikan terkesan terlalu dipaksakan dan membuat membacanya jadi kurang nikmat.
Beberapa yang janggal penyambungan kisahnya juga terjadi. Misalnya saja saat Regen memutuskan untuk mengakui masa lalu dan genetik yang dimilikinya kepada Valerio dan Klavi. Cerita kemudian diberi jeda dengan cerita yang terjadi di keluarga Varsha setelah Cipto pulang dari Rumah Sakit. Setelah selesai dengan cerita Varsha dan Cipto, cerita kembali pada Regen yang membuat pengakuan pada Valerio dan Klavi. Namun, tiba-tiba di dalam cerita muncul Paula di mana sebelumnya Paula diceritakan masih di Jerman dan baru memberitahu hendak ke Indonesia.
Saya merasa… ah, sudahlah. Ehhehe.
Jadi, saya memutuskan untuk memberi bintang 3 pada Arkais ini. Terima kasih untuk cerita unik yang disajikan oleh Crowdstroia dalam Arkais. Saya mengapresiasi ide ceritanya, namun tidak cara berceritanya.
Saya membaca buku ini beberapa tahun setelah saya baca buku Parak,awalnya saya kaget loh kok langsung flashback,udah banyak lupa juga gimana ceritanya, tapi semakin saya baca, saya semakin ingat sampai mana cerita sebelumnya. Dan ternyata masa lalu Regen mengungkap alasan kenapa dia takut untuk menjalin hubungan romantis dengan Varsha. Saya kira dulu kalau regen itu usianya sekitar 25-35 tahun, ternyata dia 40! dan Varsha juga diatas 30 tahunan.Ternyata ini cerita dua pasangan dewasa yang memberi banyak pelajaran, tentang komitmen, bagaimana cinta sebenarnya itu, dan gimana pembuktian tertinggi atas cinta yang dimiliki. Dulu sempat kesal dengan kelakuan ayahnya Varsha, kok dia tega banget sama istrinya, sama anaknya, memaksa buat menikah dengan yang enggak dikehendaki.Tapi diakhir ceritanya saya sadar, dia cuman pengen nunjukkin bentuk cintanya kepada istrinya, yang raga dan hatinya dimiliki dua orang yang berbeda. Hariawan,awan selalu saja diingat oleh Hartanti, na'as dia mencintai seseorang setelah dirinya punya suami. dan sebaliknya juga begitu bagi Awan, mencintai orang lain *lagi* yang menurutnya itu cinta sebenarnya dia meski Awan sendiri sudah menikah dengan Griselda. Pelajaran yang bisa saya ambil di buku ini sangat banyak dan tentunya yang paling kena di hati "Hakikat tertinggi dari mencintai itu bukanlah memiliki, tapi melepaskan" , awalnya saya seperti tidak terima dengan kata kata itu, makin saya dalami makin saya resapi lagi, ternyata benar juga. "melepaskan" disini sendiri punya banyak bentuk, tidak hanya melepaskan seseorang yang dicintai bahagia bersama orang lain, tapi juga melepaskan perasaan yang menyatakan kalau "cuman dia sumber kebahagiaanku", melepaskan orang tercinta ketika yang dicinta itu sudah pergi dari dunia. Di akhir cerita Regen yang belum memahami lebih lanjut mengenai apa yang Varsha katakan, dan Varsha yang siap melepaskan asalkan Regen bisa berdiri dengan kakinya sendiri, bisa menopang dirinya dan menjadi tempat topangan satu sama lain, meskipun Regen bersama orang lain. Yang Varsha inginkan itu hanya agar Regen tidak merasa rendah, tidak merasa kalau dia tidak pantas untuk diperjuangkan, dan dia pengen Regen tetap melanjutkan hidupnya meskipun Varsha/pasangannya itu lebih dulu pergi darinya. Dan banyak pertanyaan yang saya pikirkan setelah selesai membaca buku ini... 1.apakah cinta itu adalah perasaan yang harus dimiliki pasangan satu sama lain sebelum memutuskan untuk menikah? 2.Apakah bisa mencintai seseorang setelah menikah dengannya?gimana kalau nggak cocok? 3.Andaikan Regen memilih untuk bersama wanita lain,ataupun Varsha berjodoh dengan lelaki lain,apa pihak yang ditinggalkan itu akan tetap berkomitmen mencintai orang yang sudah bersama orang lain itu?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kau harus bisa kuat untuk dirimu sendiri sebelum kuat demi orang lain. Kau harus bisa bahagia dengan dirimu sebelum bahagia oleh orang lain. (Hal. 354)
Arkasi merupakan buku kedua dari dwilogi Nona Teh dan Tuan Kopi
Buku pertamanya : NTdTK Parak
Regen yang memiliki masa lalu kelam akhirnya bisa menemukan kebahagiaannya pada diri Varsha. Tapi apakah menggantungkan kebahagiaan pada seseorang itu adalah kebahagiaan sesungguhnya? Lalu bagaimana ketika Regen malah mendapat 'penolakan' dari Varsha? Padahal dia sudah memberitahu kan masa lalunya pada wanita itu, Regen juga mengatakan jika Varshalah sumber kebahagiannya.
Di buku kedua ini, lebih banyak menceritakan dari sisi Regen. Membahas masa lalu Regen yang kelam dan perasaan serta ketakutan Regen selama ini.
Kita diperlihatkan perjalanan hidup Regen serta orang-orang penting yang ikut andil didalamnya. Dibuku ini juga diceritakan bagaimana kebetulan-kebetulan yang terjadi antara Regen&Varsha.
Untuk romance, sudah sesuai dengan porsinya, tidak banyak tapi terasa pas tanpa harus menghadirkan adegan-adegan romantis berlebihan antara dua tokohnya. Ada adegan antara Varsha-Regen yang lucu dan manis, tapi ada juga yang seperti Hartanti dan Awan yang hanya diperlihatkan dari dialog-dialog serta cerita orang-orang terdekat.
Aku tidak terlalu paham dunia psikologis,psikiater dll tapi ketika baca ini aku menikmati alurnya dan paham maksudnya secara garis besar ketika membahas masalah genetik.
Pembelajaran yang bisa diambil adalah, bahwa hidup ini kita harus bersyukur, karena itulah kunci agar kita hidup bahagia dan juga kita bisa bahagia tanpa harus menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain. Selain itu ada banyak bentuk cinta di dunia ini, tapi tidak semuanya harus saling memiliki, seperti kalimat yang ada dibuku 1 dan 2 bahwa hakikat tertinggi dari mencintai adalah melepaskan.
Lagi-lagi banyak hal-hal kecil menarik yang aku temukan di buku ini, seperti judul bab-nya yang bukan dimulai dari bab 1 seperti buku kebanyakannya, dan bagaimana dibuku kedua ini menceritakan dan menjelaskan hal-hal yang ada dibuku pertama. Ya itu aku anggap menarik dan ketika membacanya sangat aku nikmati.
Jadi begini, buku ini emang udah selesai kubaca jauh-jauh hari kemaren. Tapi entah kenapa sangat malas buat sekadar ngasih rating di goodreads, dan akhirnya hari ini terealisasikan sambil bikin review pendeknya sekalian.
Well, aku bilang bahwa di buku pertama, Arkais pasti bakalan jauh lebih baik daripada Parak. Ternyata enggak juga sih. Dari segi tata bahasa, yes emang ini lebih bagus, typo-typonya udah berkurang. Dari segi cerita, ternyata aku nggak se-excited itu sama masa lalunya Regen. Kenapa ya gatau juga. Awan dan Aksel jadi tokoh favoritku di sini. (Sumpah suka banget sama Awan demi apa. Kalo Aksel, di cerita kak Troia yang lain, aku ga begitu suka dia wkwk. Di sini dia suka ngegodain Regen gitu sih jadinya lucu aja).
Hmm apa lagi ya, kok lupa. Oh, iya.
Waktu awal-awal terbit, aku heran, kenapa bisa NTdTK cuma dipisah sampe 2 buku? Secara dulu di wattpad sangat-sangat panjang (itu baru buku pertamanya doang). Oh, dan ternyata terjawab di Arkais ini. Dulu sebelum kak Troi memutuskan buat ngehold cerita (kalo ga salah, maklum lupa), cerita di Arkais ini jauh lebih ke penekanan tentang ketakutan-ketakutan Regen yang bahkan nggak tersampaikan setelah nikah. Di sini, nggak gitu. Kerasa lebih realistis mengingat karakter Varsha (yang jujur aja mirip Virga) dan Regen. Cuma sekali lagi, yang di wattpad tuh lebih ngena aja gitu lho. Gara-gara penggantian alur ini, rasanya pace-nya cepet banget. Kurang bisa dinikmati. Tapi, ya, pada akhirnya aku bisa melihat sisi baik manusia yang selama ini nggak ditampilkan di dalam diri bapaknya Varsha (lupa namanya).
Karena Parak aku kasih 4 bintang (3.5 pembulatan ke atas), Arkais juga kukasih 4 (dari 3.7 dibuletin).
P.S. Aku lagi nunggu ada diskon besar buat Rotasi dan Revolusi wkwk. Semoga RnR jauh lebih bagus daripada ini
Pas baca Nona Teh dan Tuan Kopi, aku masih belum nemu titik terang tentang konsep cerita ini. Lalu setelah baca Arkais, akhirnya aku paham. Dan, aku mau kasih standing ovation buat penulisnya karena konsepnya kuat dan bagus banget. Aku suka banget sama konsepnya yang kompleks dan bikin nagih. Jujur, ini kali pertama aku baca novel lokal bertema keluarga yg ceritanya tuh sebagus iniiiii. Tbh, dari hal 1–190-an, Arkais bikin aku terkagum-kagum. Aku nggak ngerti lagi penulisnya nulis novel ini berapa lama...
Di Nona Teh dan Tuan Kopi, aku ngerasa Regen tuh karakter yang b aja. Tapi, di Arkais, Regen tuh termasuk contoh karakter yang bernyawa. Asli sih, penulisnya tjakep banget ngejelasin character round-nya Regen. Pas Regen sedih, pas marah, pas takut, itu tuh kelihatan hidup. Mataku bahkan sampe berjendela-jendela beberapa kali wkwkwk. Di sini, porsi Varsha nggak dominan, tapi aku tetep bisa ngerasain karakternya. Apalagi tindakan-tindakan yang dia ambil di bab-bab terakhir.
Untuk plot, konflik, dan tetek bengek lainnya... aku no comment. Meski ada beberapa redundan dan sungai putih yang bikin aku kurang nyaman, aku tetep no comment. Bagiku novel ini udah keren, dan aku mau muji-muji aja wkwk. Tapi, aku penasaran, berapa lama sih penulisnya ngonsepin cerita ini? Soalnya jalinan ceritanya tuh terencana bgt. Ada bagian yg kupikir nggak penting, tapi ternyata penting. Trus endingnya juga aku suka. Bukan ending yg wow banget, tapi bisa dibilang ending ini tuh udah cocok sama ceritanya.
Merupakan kelanjutan dari Parak, Arkais adalah buku kedua dari dwilogi Nona Teh dan Tuan Kopi. Kalau Parak bertumpu pada kisah Varsha--Nona Teh, di Arkais penulis menceritakan tentang kisah Regen--Tuan Kopi.
Dimulai dengan kisah masa lalu Regen dan orang-orang yang sempat muncul di buku pertama, Awan. Bagaimana mereka bisa saling bersilah di kehidupan Varsha dijelaskan dalam buku ini. Dengan kata lain, Arkais lebih banyak menggali tentang masa lalu si tokoh daripada melanjutkan cerita antara Varsha dengan Regen.
Namun, meskipun demikian, alur yang ditawarkan masih bisa dinikmati. Masih ada cerita tentang cinta dan kasih walau konteksnya ialah keluarga. Baru sekitar 1/3 dari buku, cerita kembali ke masa sekarang. Soal hubungan Regen dan Varsha dari terakhir mereka bertemu di buku Parak.
Aku merasa bahwa penutupnya seperti diburu-buru. Penjelasan yang terlalu banyak di bagian depan agaknya menjadi hal yang bisa saja dipangkas, membuat penutup untuk kisah Varsha dan Regen tidak dipaksakan. Lalu, mengapa tetap ku beri 4 bintang? Hal ini karena aku terbawa oleh suasana yang dibangun sepanjang cerita. Troia bisa menyisipkan pesan-pesannya dengan baik. Melalui Regen dan melalui Varsha. Ia tidak membangun cerita yang "menye" dan menggambarkan Varsha sebagai sosok lemah. Malah, kebalikannya dan itu menjadi hal yang aku suka dari buku ini.
Cara Troia menuturkan cerita terasa sangat mengalir.Tiba-tiba saja sudah berada di setengah buku. Tiba-tiba juga sudah dilahap habis. Orang bisa bilang kalau yang ada di dalam buku ini seperti serba kebetulan, tetapi aku pernah mengalami beberapa kebetulan yang digambarkan di situ. Jadi, tentu aku tidak merasa bahwa itu tidak logis. Itu hanya karena takdir mereka berdua saja yang saling bertaut.
Anyway, aku jadi penasaran dengan tulisan Troia yang lain. Perlukah aku punya akun Wattpad untuk mengikuti cerita-ceritanya?
Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk buku ini. Banyak hal yang kurang memuaskan hati saya.
Kisah tentang Varsha (Nona Teh) yang mengalami banyak masalah keluarga. Bermula dari ayahnya yang curang tapi ibunya tak mahu bercerai. Kemudian, abang-abangnya yang mengalami masalah rumah tangga berpunca daripada perceraian. Varsha seorang anak yang agak disisihkan ayahnya, barangkali kerana dia selalu harus nampak sempurna dan banyak kali dibangkang arahan ayahnya. Juga dia lah yang banyak tahu rahsia ayahnya berbanding yang lain.
Regen (Tuan Kopi) lelaki misteri yang memiliki masa lalu yang menyakitkan. Masa lalunya seolah-olah kembali menghantuinya selepas dia menemui Varsha. Suka bawa diri dan entahlah tak paham sebenarnya watak dia ni..
Cerita ini bukan cerita cinta seperti yang aku sangka. Dia cuma cerita tentang dua orang manusia yang berkait masa lalunya (tapi tak dinyatakan apa kisahnya) juga keanehan kehidupan dia (banyak gak rahsia dia ni sebenarnya tapi banyak yang tak dibongkar penulis). So far, half pertama memang cerita pasal Varsha je dan okaylah berbanding cerita pasal Regen yang tergantung. Tak tahu apa kaitannya dengan Varsha. Tak tahu kenapa Varsha.
Walaupun penulis bawa beberapa nasihat tentang kehidupan tapi sebaiknya penulis tamatkan ceritanya dengan baik. Atau mungkin ada sambungannya? Kalau ada bolehlah suggest. Banyak ni yang saya nak tahu.
Jarang sekali saya penasaran akan buku lanjutan hingga membeli via jastip. Maklum, saya terlambat menemukan seri yang sudah masuk obralan.
Membaca hingga 1/4 isi buku, kemudian berhenti. Rasanya saya perlu membaca ulang minimal 10 halaman terakhir dari buku sebelumnya agar bisa menikmati kisah.
Masa kecil Regen dikupas tuntas dalam buku ini. Termasuk dirimu yg disebutkan mengalami gangguan. Pembaca dapat banyak ilmu tentang hal kejiwaan.
Pantas judul buku ini Arkais. Diharapkan Regen akan melupakan masa lalu dan memulai lembaran baru dengan Varsha-Nona Teh. Sementara Varsha, sudah melupakan masa lalu dan berdamai dengan ayahnya-Cipto. Melupakan masa lalu.
Sedihnya,kenapa banyak tokoh yang dibuat meninggal. Apakah ini merupakan cara penulis untuk mengakhiri peran mereka dalam kisah?
Ternyata, seperti pendahulunya kedua tokoh juga memiliki selera yang berbeda. Regen dan ayah angkatnya menyukai kopi, sementara Varsha dan ibundanya menyukai teh.
Bagian yang mengisahkan bagaimana Regen memilihkan kopi untuk Varsha, sementara Varsha juga memilihkan teh untuk Regen,sungguh menyentuh. Menunjukkan bagaimana cinta bisa membuat kompromi banyak hal.
Sha, apa yang bakal kamu lakukan kalau kamu nggak ketemu dengan jodohmu di dunia? . Doing good things that please God. . Isn't it hurt? . Feeling hurt is inevitable. Kita bisa merasa sakit karena banyak hal. Masyarakat itu terlalu meromantisasi jodoh, seolah-olah ketemu jodoh, nikah, dan segala macam itu adalah tujuan hidup sebenarnya, dan kalau tidak tercapai kita dianggap 'gagal' jadi manusia. Sebagian masyarakat berpikir percuma punya segudang prestasi jika belum menikah. Saya pribadi menganggap bahagia itu sederhana dan nggak melulu harus berhubungan dengan cinta asmara dan pernikahan. Saya punya keluarga dan teman teman yang bisa saya syukuri. . . Buku ini sequel dari buku Nona Teh dan Tuan Kopi (Parak), menceritakan lika laku hubungan Regen dan Varsha yang sempat terhubung di masa muda sampai akhirnya bertemu kembali.
Baca kisah mereka ini seperti baca buku-bukunya Colleen Hoover yang tokoh-tokoh nya pernah terhubung bertahun-tahun silam (tanpa disadari), berpisah, lalu bertemu kembali.
"Kau harus bisa kuat untuk dirimu sendiri sebelum kuat demi orang lain. Kau harus bisa bahagia dengan dirimu sendiri sebelum bahagia oleh orang lain." - Pg. 354 Selesai! Nah, kalau kalian kemarin lihat postinganku, Nona Teh dan Tuan Kopi: Arkais ini adalah kelanjutan dari Parak. Di buku ini bisa kalian temukan kebetulan-kebetulan apa sih yang terjadi semenjak Regen bertemu dengan Varsha. Alasan kenapa Regen bisa mengenal orang-orang di sekitar Varsha juga tentang masa lalunya yang masih belum bisa dia bagi kepada keluarganya kecuali Paula. Bagaimana akhirnya Regen & Varsha saling jatuh cinta, namun memiliki jalan yang berliku demi bahagia. Ah, di sini juga terungkap alasan dibalik sikap papanya Varsha yang terlalu mengekang. Pokoknya kedua buku ini harus banget kalian baca karena emang isinya sebagus ituuu....
Akhirnya semua teka-teki memusingkan di buku pertama terjawab semua di seri ini. Secara keseluruhan jalan ceritanya memang lain dari yang lain. Sangat khas sekali tulisan kak troi ini. Hanya saja masih ada beberapa bagian yang sepertinya salah penulisan sehingga agak membuat bingung ketika membaca. Dan diseri kedua ini orang-orang yg memiliki hubungan darah atau persaudaraan baik dengan varsha maupun regen semakin membuat bingung saja 😂😂😂yah..memang seri-seri tulisan penulis banyak yg saling berkaitan antara judul tulisannya baik yg msh ada di wattpad maupun yg sudah terbit. Saya penasaran dgn cerita ttgl aksel dan Bara. Karena mereka seperti tokoh penting lain yg punya kisah menarik tersendiri
Saya suka sekali dengan buku ini, semua teka-teki yang ada di buku pertama (Parak) bisa terjawab semua. Sukses dijungkir balikkan dengan novel ini, di awal cerita saya lumayan deg-degan kemudian terharu tetapi di akhir saya malah senyum-senyum sendiri karena perangai Regen, wkwkwk. Walaupun terdapat beberapa typo di novel ini dan terjemahan bahasa Jerman yang menurut saya kurang konsisten, terutama saat percakapan akhir Regen dan Varsha karena tidak ada terjemahannya dan terdapat kalimat bahasa Jerman yang terjemahannya salah di bab awal novel. Overall, novel ini sangat worth it untuk dibaca. Sukses selalu untuk Kak Troia!
Novel yang sedikit tidak masuk akal, tetapi kita diajak untuk menikmati sesuatu yang kebetulan itu sungguh tidaklah kebetulan. Sebuah peristiwa adalah lanjutan dari peristiwa sebelumnya, hanya diri kitalah yang menganggap peristiwa itu sebuah hal yang kebetulan terjadi tidak bagi orang lain.
Novel ini menceritakan bahwa tak ada halangan bagi kita sesama manusia, pada hakikatnya kita hanya membutuhkan hal baik seperti kasih dan sayang. Semua keburukan manusia bisa diubah dengan kasih dan sayang. Ragen sangat beruntung bertemu awan.
Satu hal yang saya highlight dalam novel ini adalah "hakikat paling tinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskannya".
Prtama kalinya sya baca novel dari wattpad, lansung suka. Dan sya lebih suka arkais dri parak, mungkin karna arkais dikemas sebagai jawaban atas semua pertanyaan dari parak. Hehe
Saya suka pesan pak cipto ke anaknya vasha : "karena cinta itu egois, gk selamanya cinta selalu tentang hal-hal baik yang memberi kebahagiaan. Jgn naif dalam memandang sebuah rasa. Karena ada dua sisi koin tak trpisah yg bsa ditimbulkan dari perasaan manusia. Kamu gk bsa mendapat yg baik-baik saja ketika menerima dan memberi perasaan, krna sakit dan bahagia semua sepaket, dan pasti akan kamu dapat tanpa bisa memilih salah satunya. Sementara, egois itu hanya salah satu bentuk pelampiasan dari rasa sakit".
This entire review has been hidden because of spoilers.
Rate: 4,7 Tak butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini karena rasa penasaran yang teramat sangat yang telah lama menumpuk sejak saya menuntaskan NTDTK: parak. Kak troia membuat kita untuk lebih bijak dalam menghadapi suatu masalah (?) Rumit ya? Intinya saya diajarkan bahwa kita tidak boleh selalu mengecap sesuatu buruk apalagi hanya memandangnya dari satu sisi. Banyak hal buruk yang saat kamu tahu kebenaran nya kamu tak bisa mengatakan hal itu buruk lagi. Dan menurut saya, buku ini worth it. Apalagi jika kita telah terlanjur tuntas membaca parak
memang udah ngikutin dari jaman di wattpad blm jd buku. Tulisan yang emang udah “mateng” dari segi tata penulisan dan bahasa, untuk cerita sekelas wattpad beda dari yang lain/gak mainstream. Keren sih karna emang udah suka sama penulisnya dan cerita yang emang udah ngikutin dari nona teh dan tuan kopi. Arkais diluar perkiraan untuk endingnya, karena ekspetasiku bakal lebih panjang lg ceritanya hehe
Setelah banyak pertanyaan mengganjal di parak. Terjawablah semua teka-teki, rahasia dan kejanggalan melalui arkais ini. Menyelami isi kepala varsha dan Regan, juga kedua masa lalu mereka yang saling berhubungan. Selain itu, yang unik dari novel ini adalah pemakaian sudut pandang salah satu keponakan Varsha yang baru kusadari bahwa dialah Virgha. Selain itu memakai min derajat sebagai tanda alur mundur. Unik dan menyenangkan.
Terlepas dari itu semua, tulisan ka troia begitu segar dibaca.
Bintang 4 untuk novel ini. ini bukan kisah romansa menye-menye, tapi kisah realistis yang mengajak pembacanya untuk mengerti bahwa hakikat tertinggi dalam mencintai adalah melepaskan. bahwa kebahagiaan nggak melulu soal bersama seseorang atau bertemu jodoh, tetapi kita bisa juga bahagia dengan diri sendiri, karena nggak semua orang bisa menetap dalam hidup kita. bahagia adalah sesederhana kita bersyukur.
Arkais adalah buku kedua sekaligus terakhir dari seri Nona Teh dan Tuan Kopi. Pada buku ini, Crowdstroia menerapkan alur maju-mundur, sehingga ceritanya menjadi seperti prequel sekaligus sequel. Pada buku ini juga, pembaca akan menemukan jawaban-jawaban atas banyak pertanyaan yang timbul dari Parak, buku pertama seri ini.
Cerita terbaik yg aku baca di tahun ini. Alurnya ga ketebak, pembaca dibuat menerka bakalan seperti apa cara Regen menghilangkan traumanya. Saya sedih bacanya, bukan sedih karena jalan ceritanya. Tetapi sedih ternyata banyak yang belum saya pelajari dari hidup ini. Salah satunya jangan menggantungkan kebahagian pada orang lain, tetapi temukan bahagia pada diri sendiri terlebih dahulu.
Waktu baca buku pertamanya rasanya kesel bgt karena gantung. Tp akhirnya menemukan kejelasan di buku kedua ini. Ada beberapa bagian yg menurut ku hilang. Kaya kenapa awan bisa meninggal tp ada surat dari angela. Masih belum terjawab. Tp secara keseluruhan suka, aku menikmati bgt bacanya sampai ikutan nangis hihi :")
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku mengajarkan arti keikhlasan dan keteguhan dalam menghadapi rintangan hidup dan menilik kembali arti konsistensi pada keyakinan takdir Tuhan tanpa syarat. Tante Varsha adalah sosok yang sangat kuat secara mental dan mampu menjadi figur bagi keponakannya bahwa fokus pada diri sendiri sembari memperbaiki diri itu adalah hal yang mutlak dilakukan.