Buku ini merupakan sebuah upaya merekonfigurasi tradisi intelektual Islam dalam perjalanan sejarahnya yang panjang. Dengan mendekonstruksi pemahaman keagamaan yang diperkenalkan kalangan ulama ortodoks terdahulu, karya Mun'im Sirry ini mengapresiasi upaya-upaya serius generasi baru muslim dalam menata ulang berbagai elemen penting dalam tradisi intelektual Islam. Berbagai isu yang belakangan dianggap "tabu" mulai diperbincangkan kembali dengan perspektif kekinian yang berpijak pada kesadaran historis dan kebutuhan untuk membuka lanskap baru kajian-kajian Islam di masa depan. Isu-isu krusial dalam tradisi Islam dipaparkan dan dianalisis ke dalam tiga bagian: "Memperdebatkan Otoritas al-Quran", "Menyoal Otentisitas Hadis", dan "Membongkar Argumen Kejumudan Syariat". Dari ketiga spektrum itu saja (al-Quran, Hadis dan Syari'at) sudah terbayangkan betapa buku ini menyorot persoalan paling fundamental dalam pemikiran dan praktik keagamaan kaum Muslim. Sebagaimana akan terlihat dalam karya ini, berbagai upaya membaca ulang kekayaan khazanah intelektual Islam itu sebenarnya cukup gencar. Namun, berbagai situasi sosial-politik yang mendera dunia Islam, termasuk di Indonesia, menyebabkan gairah intelektualisme kaum Muslim saat ini tampak meredup. Buku ini mengingatkan kita, bahwa kejayaan peradaban Islam bermuara dari kreativitas dan literasi intelektual yang membuat Islam pernah dan akan menjadi kekuatan besar yang berpengaruh di dunia.
Assistant Professor of Theology; Researcher, Contending Modernities
Mun’im Sirry earned a Ph.D. in Islamic Studies from the University of Chicago Divinity School (2012). His academic interests include political theology, modern Islamic thought, Qur’anic studies, interreligious relations, and Southeast Asian religions and cultures.
Sirry's most recent book, Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions (Oxford University Press, 2014) examines difficult passages in the Qur’an that have usually been viewed as obstacles to peaceful co-existence among different religious communities.
Currently, along with the Contending Modernities team, Sirry is developing a Contending Modernities working group on Indonesia focusing on authority, community and identity. The working group will explore and analyze the complex relationships between the various contending authorities, communities and identities that have shaped and been shaped by religious life at both the societal and state levels. The Indonesian working group will be comprised of leading scholars in various fields exploring the conditions for the possibility of pluralist co-existence among diverse ethnic and religious communities in Indonesia through a wide range of engagement with religious and secular forces.
Sirry’s publications have appeared in peer-reviewed journals including Arabica, al-Bayan, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Interpretation, Islam and Christian-Muslim Relations, Journal of Semitic Studies, Journal of Southeast Asian Studies, The Muslim World, Studia Islamica, and Die Welt des Islams.
Sebuah diskursus panjang dan ikhtiar intelektual oleh penulis. Membaca buku ini menghadirkan kerendahan hati saat menerima ilmu, berbarengan dengan upaya kritis atau tuntutan untuk mengimbangi apa yang diberikan. Sejujurnya bab awal bisa dijadikan pembenaran dalam suatu perbuatan namun saat menyelesaikan buku ini, akan merenungkan kembali agar mencapai kearifan.