Uni entame la fin de sa première année universitaire, en participant à une étrange célébration, la "Death Day Party" d'Ariku. Au cours de la fête, il sera une nouvelle fois confronté à son incroyable pouvoir de prémonition ! Quelques jours plus tard, il apprend que son Maître est porté disparu et il va utiliser un mystérieux livre pour tenter de le retrouver… Horreur, mystères et paranormal pour des frissons garantis !
Bab 27-28 berjudul Deathday Party Pacarnya Shisho, Koko, kan punya kemampuan meramal masa depan tuh ... Ceritanya dia sudah meramalkan hari kematiannya sendiri, dan tiap tahun dia menghitung mundur hari tersebut dengan cara merayakannya. Hari ini, 16 tahun lagi dia akan meninggal. Mengerikan sih :( Punya kemampuan cenayang gitu beban banget ngga sih? Pantas saja Koko ekspresi mukanya lebih sering datar gitu, mungkin sudah tidak ada yang membuatnya terkejut.
Bab 29-30 berjudul Pengejaran Yang dikejar, tentu saja Shisho. Jadi ceritanya Shisho hilang, dan Koko minta bantuan Uni untuk mencarinya. Untungnya (atau malah sialnya), Uni menemukan sebuah buku ramalan yang ditulis Koko dua tahun lalu tentang insiden ini, cuma Koko-nya sendiri sudah lupa. Mulailah mereka melakukan apa-apa saja yang tertera di buku ramalan itu ... dan makin lama makin suram dan mencurigakan. Apa Shisho selingkuh?
Bab 31 berjudul Di Dalam Hutan Shisho dan Uni membahas gagasan: Kalau di sebuah hutan yang sepi, di depan sebuah pohon lapuk, ditaruh cermin, bayangan apa yang terpantul di cermin? Apakah jika pohon lapuk itu akhirnya roboh, bayangannya akan terpantul di cermin?
Bab 32 berjudul Kunci Mimpi Shisho mendapatkan sebuah wadah aneh berbentuk silinder dan ada puzzle-nya... Dia ingin membukanya, tapi kuncinya hilang dan puzzle-nya tak kunjung terpecahkan. Shisho memanggil Uni untuk melihatnya berusaha membuka wadah silinder (gaje banget! Dia ngga minta bantuan Uni buat buka wadah, cuma minta Uni melihatnya! Apa-apaan coba?)
Bab 33 berjudul Terbang Shisho dan Uni main ke atap kampus di malam hari. Lalu tiba-tiba saja Shisho meminta Uni lompat-lompat sambil memejamkan mata di pinggir atap. Lah. Mungkin Shisho mau mengajari Uni soal konsep kematian? Dan Uni nurut-nurut aja lagi disuruh kayak gitu. Heran. Aneh.
Tiga bab terakhir lebih banyak bahasan filosofisnya sih ... Rasanya berat banget. Dan karena aku bacanya lumayan cepat, ngga begitu diresapi, jadinya aku bingung sendiri.