4.25* Na początku główna bohaterka była dla mnie tak irytująca, że musiałam zmuszać się do czytania. Jest to jednak ten typ książki, gdzie z każdą stroną dowiadujemy się coraz to więcej nie tylko o teraźniejszości, ale i również o przeszłości, dlatego z czasem coraz lepiej rozumiałam bohaterkę i koniec końców cieszę się, że dokończyłam tę lekturę.
Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Aku suka terjemahannya dan juga suka cara berceritanya meskipun ada beberapa kata yang sedikit membingungkan buatku tapi nggak mengurangi nilai cerita. Baru halaman tiga belas sudah cukup nyesek bacanya 🙈, selain nyesek juga cukup dibikin kaget sama beberapa ceritanya. Pokoknya buat SEMUA ORANGTUA wajib baca novel ini tapi yang bukan orangtua juga wajib baca sih. Kata Bu Guru cerita-cerita ini ada supaya kita kembali merenungkan alasan kita melahirkan seorang anak ke dunia. Dari novel ini aku jadi tau Helicopter Parenting dan Tiger Parenting itu seperti apa. Aku nggak akan banyak cingcong tapi aku akan share kutipan dari beberapa rumah yang ada di dalam novel ini 😊. . “Orangtua bisa memberi saran, menjelaskan pertimbanganmu kepada anak, tetapi pastikan orang yang mengambil keputusan adalah si anak. Ini bukan tentang cita-cita, bukan tentang cinta, bukan juga tentang kebebasan. Ini kenyataan, ini hidupnya. Anak harus belajar menanggung semua akibat dari keputusannya. Sebaliknya, jika kau bersikeras membuat keputusan untuknya, itu memang salah satu bentuk cinta, tetapi dia tidak akan pernah belajar mengendalikan hidupnya. Jika kelak timbul kecelakaan, orang yang pertama kali dicari adalah pengemudi, bukan pemilik mobil. Ini hidupnya, tetapi kau malah mengendalikan kemudi. Jika kelak bermasalah, dia akan bilang: jangan cari aku, cari orangtuaku!” (Hal 339). . ‘Siapa pun yang melihat ini akan mengira bahwa si Kacamata hidup tanpa kekurangan; bahwa kedua orangtua mencintainya dan cinta mereka sungguhlah normal’. (Hal 31). . “Aku tahu, sekarang aku lebih tamak daripada dulu dan kau enggak suka orang tamak, tapi selain uang, apa lagi yang aku punya? Kau pernah bilang, kebahagiaan yang diberikan materi adalah hampa. Aku pun tahu, tapi hidupku akan lebih hampa tanpa uang. Kau bisa paham? Sekarang inilah cara hidupku yang paling nyaman.” (Hal 64). . ‘Beberapa tahun kemudian, bila kita melihat kembali suatu hal, bisa jadi kita akan punya perspektif yang berbeda’. (Hal 120). . Berbeda dengan Yongxin, Muoli tidak mau memilih jalan yang sama. Dia ingin memutuskan kekang yang mengontrol Xiaoye. Akhirnya, Xiaoye bebas menggerakkan kaki dan tangannya, tetapi Muoli dicap sebagai ibu yang gagal mendidik anak. (Hal 164). . ‘Aku sering berpikir, hanya karena sebuah pola asuh berhasil pada satu anak, kita sering kali mengikuti pola asuh tersebut. Sejujurnya, pemikiran seperti itu adalah omong kosong. Kita hanya mengemas baik-buruk seorang anak menjadi satu kemudian menyebutnya sebagai “didikan orangtua” tanpa mengindahkan karakteristik dan lingkungan pertumbuhan anak tersebut. Pola asuh yang sama bisa menciptakan anak teladan sesuai pandangan masyarakat umum, tetapi juga bisa menghancurkan bakat seorang anak. Tidak ada yang peduli pada suara hati anak-anak itu, karena orang dewasa tidak suka mendengar tentang kegagalan, mereka hanya ingin mendengar mitos pendidikan’. (Hal 315). . “Dulu aku berpikir akan sangat memalukan kalau anakku tidak sepertiku, sementara jenjang pendidikanku tinggi. Sekarang aku hanya ingin dia bahagia.” (Hal 345).
Wu Xiaole adalah seorang guru les, yang memberikan pelajaran tambahan secara privat kepada siswa yang membutuhkan. Dalam buku ini, ada sembilan kisah siswa yang membutuhkan dirinya sebagai guru les. Well... sebenarnya yang membutuhkannya adalah orang tua siswa tersebut, terutama sang Ibu.
Sembilan kisah dalam buku ini memiliki benang merah yang sama. Orang tua di Taiwan begitu mempedulikan pendidikan anaknya, terutama nilai yang diperoleh anaknya, sekolah apa yang dimasuki, sampai pergaulan yang harus dilakoni si anak. Tidak jarang orang tua bertindak selaku helicopter parent (jenis orang tua yang terlalu fokus kepada anaknya dan terus ikut campur terhadap semua kelakuan anak) hingga akhirnya menjadi tiger parenting (pengasuhan sangat ketat dan bersikap otoriter kepada anak). Biasanya hal ini terjadi karena orang tua tidak ingin anak mereka mengikuti jejak mereka di masa lampau. Salah satu cerita dalam buku ini (Judul: Menolong Siswa Berprestasi), digambarkan bahwa Ibunya sebelum menikah memiliki prestasi akademik yang baik. Namun karena dihadapkan pada tuntutan pernikahan, prestasi itu menjadi seperti tidak berguna.
Ibuku turun dari panggung kehidupannya, lalu mendorong kami naik ke panggung itu. (hlmn 287).
Cerita lain orang tuanya tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, dan akhirnya tidak mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi. Mereka pun menyadari bahwa di Taiwan, pendidikan menjadi salah satu cara bertahan hidup.
Lantas apakah pendidikan itu? Wu Xiaole menuliskan pemikirannya seperti ini, Pendidikan ada bukan supaya semua anak mendapat nilai yang tinggi. Pendidikan ada supaya bakat setiap anak dapat berkembang hingga batasnya, dan supaya hasil akhirnya memperoleh pengakuan. (hlmn. 110)
Namun, tidak semua Ibu dalam buku ini menempuh langkah seperti di atas. Dalam salah satu cerita yang berjudul "Bagai Pinang Dibelah Dua" mengisahkan tentang Muoli, seorang anak perempuan yang selalu dituntut ibunya untuk mendapatkan nilai lebih tinggi dibanding saudara lak-lakinya. Muoli mengikuti rancangan yang diberikan ibunya, bahkan dia bisa mendapatkan pendidikan magister. Ketika ditawari untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral oleh dosennya, Ibu Muoli menentangnya. Muoli harus segera menikah dengan seorang calon berprofesi dokter yang dipilihkan oleh orang tuanya. Lagi-lagi Muoli mengikuti rancangan ibunya. Sampai kemudian dia memiliki anak perempuan bernama Xiaoye. Long story short, Muoli memilih untuk membebaskan anak perempuannya, meski dia dicap sebagai ibu yang gagal mendidik anak. Bagi Muoli, ketegaran yang dialaminya seumur hidup telah cukup baginya untuk menerima cap itu.
Saya pernah membaca buku non fiksi tentang parenting yang sering diterapkan oleh orang tua Asia beberapa tahun yang lalu. Membaca buku On Children ini menunjukkan bahwa Tiger Parenting telah menjadi budaya dan ikon bagi orang tua Asia. Mungkin memang ada yang berhasil, terutama bagian kedisiplinan. Kisah-kisah dalam buku ini memang memberikan perspektif baru bagi orang tua, guru, bahkan juga bagi anak.
“Setiap anak, atau seharusnya setiap orang, punya alasan unik masing-masing untuk berada di dunia ini. Ada orangtua yang memaksa anakya meniru tindakan dan keberhasilan orang lain, mengejar kehidupan ideal sesuai pandangan mereka, dan menggenapi mimpi yang tidak bisa mereka realisasikan di masa muda, bahkan membuat anak menjadi ‘ diri mereka yang kedua’. Seolah-olah hadirnya sebuah kehidupan adalah demi memuaskan atau menjadi kehidupan yang lain. Bagi anak, ‘dilahirkan demi tujuan tertentu’ adalah sesuatu yang menyedihkan.”___ Hal.338 ——— Cerita tentang pola asuh anak, hubungan orang tua dan anak. Membahas sensitif issue, tentang sistem pendidikan dan standart sistem sosial. ——— Hanya karena satu pola asuh berhasil pada satu anak, kita sering kali ikut-ikutan pola asuh tersebut. Pada hal kita tdk menerapkan menerapkan kesemua anak; coz setiap anak punya bakat dan minat berbeda. —— Salah satu buku non fiksi terbaik di bulan Juli ini. Really hightly recommended👍🏻👏🏼.
Bardzo bolesna historia, którą można opisać jednym zdaniem - rozdrapywanie starych ran. Teoretycznie skupiamy się na zrozumieniu uczennicy, która popełniła samobójstwo czy też trudnej codzienności nastolatek w żeńskim, tradycjonalistycznym liceum a w rzeczywistości podróżujemy po wspomnieniach głównej bohaterki - nauczycielki, dla której to wydarzenie stanie się punktem zwrotnym w życiu. Naprawdę warta przeczytania ❤️🩹
Satysfakcjonująca. Męczyłam się w pewnych momentach, niektóre fragmenty wydawały mi się niepotrzebne, ale to nieprawda. Musieliśmy się wymęczyć, przedrzeć się przez dokładnie tą samą ilość marności, co bohaterka, żeby zakończenie wybrzmiało w odpowiednim tonie.
Buku yang berhasil bikin aku nangis, pedih, kerasa sakit di dada 🥺😭😔. Yang lagi cari bacaan menyayat hati, i really recommend you to read this book!
#VioReads2023
Menjadi seorang guru les harus bertemu dengan banyak tipe macam anak. Ada yang pinter, ada yang maunya main doang, gampang diatur, ada yang sukanya pamer, dan masih banyak. Tapi beda dengan ibu guru dalam buku On Children, ia malah melihat dari sisi keluarga tempat anak dibesarkan, ada hal pedih apa dari didikan orangtua si anak. Tak jarang malah anak-anak ini lebih nyaman mengobrol dengan bu guru, dan sedikit demi sedikit membuka diri untuk menceritakan apa yang membebani mereka.
Aku pikir cerita anak pertama sudah parah banget, karena menyangkut kekerasan fisik. Kalau salah 1 soal, dapat 1 pukulan. Semakin dibaca, cerita ke belakang pun turut bikin aku sedih walaupun sudah bukan kekerasan fisik. Tapi menyangkut mental dan kepercayaan diri anak.
Latar ceritanya di Taiwan, standar nilai dan pendidikan disana itu tinggi banget! Masuk SMP saja sudah mati-matian belajar, makanya rata-rata dapat banyak tekanan dari orangtua untuk belajar giat dan masuk sekolah unggulan. Para orang tua dalam buku ini luar biasa. Aku tau, sih, memang ada orang tua yang pemikirannya kolot serprti itu. Hanya mementingkan nilai akademik terus-terusan. The fact ini based on true stories, dan baca secara rinci POV dari si anak beneran bikin aku pusing dan kesel 🤒🤒🤒.
Pembaca juga dapat POV dari orangtua, dan seperti yang kita tau, orang tua hanya mau yang terbaik buat anaknya, biar masa depannya cerah dan nggak hidup susah seperti apa yang mereka rasakan dahulu. Namun perlakuan dan didikan ini tentu diartikan berbeda oleh anak-anak, dan malah meraka belajar tidak enjoy, hanya untuk menyenangkan hati orang tua.
Pokoknya kita jadi banyak kenal tipe-tipe didikan orang tua yang bisa dibilang over, ada juga yang nyeleneh, dan karakter-karakter anak yang kompleks. Selama baca aku udah gak peduli lagi apakah terjemahannya kaku atau tidak, atau ada typo, sudah terlalu fokus ke isi cerita yang sangat ‘berbobot’ dan dan banyaknya refleksi yang bisa diambil.
To była naprawdę ciężka przeprawa. Ale nie tak, że mi się nie podobało, tylko tematy jakie były poruszane były okropnie ciężkie. Mamy tu opowieść o życiu Yiguang, która nie miała łatwo. Przez całą książę widzimy jej przeprawę przez życie w poszukiwaniu źródła miłości w każdym możliwym kącie. Czułam jak łamie mi się serce czytając to. Mamy tu też motyw rodzicielstwa i tego jak różne generacje się zmieniają, co prowadzi do wielu nieporozumień. Yiguang i jej matka miały ciężką relacje, co sprawiło, że dziewczyna musiała zmagać się z wieloma zaburzeniami. Cała historia jest bardzo smutna i ciężko znaleźć tam szczęśliwe momenty. Zakończenie podobało się najbardziej, bo dało się zauważyć, że Yiguang chce wyjść na prostą mimo trudności. W tej książce nie znajdziemy wiele akcji, za to dostajemy bardziej psychologiczny obraz życia. Jednak, jak fabuła bardzo mnie zainteresowała, to forma książki jest bardzo niewygodna. Skaczemy tu między różnymi fazami życia głównej bohaterki, jednak nie jest to w żaden sposób uporządkowane. Nie ma widocznego przejścia, przez co można się łatwo zgubić w tym, czy mowa o teraźniejszości czy to może retrospekcja. Bardzo przeszkadzało mi to w czytaniu, przez co długo ją męczyłam (mimo, że fabuła mi się podobała). 4/5 ⭐️ [ współpraca reklamowa Wydawnictwo WAB ]
Opowiadajaca o młodej nauczycielce, która gdy tylko dowiaduje się o samobójstwie swojej uczennicy, wraca myślami do własnego nastoletniego życia, które nie było usłane różami. Toksyczna relacja z matką, czy też przeżycie nieszczęśliwej miłości, sprawia, że zaczyna rozmyślać nad swoim dotychczasowym życiem. Doskonała w swojej prostocie, ujmująca i bardzo ważna tematycznie!
"Itulah kenyataannya, aku enggak punya keluarga, enggak punya rumah lagi. Memangnya belajar masih berarti bagi orang yang kehilangan keluarga?" (hlm. 61)
Baca ini rasanya hatiku hancur banget 😭💔
Sejak awal baca, penulisnya udah langsung bilang kalau ini bukan buku bahagia. Ini realita. Happy ending gak (selalu) ada di realita. Dan begitulah kenyataannya.
Buku ini aku baca dalam 2x duduk selama perjalanan sekitar 6 jam. Aku jeda sejenak karena cerita ke-7 super panjang dan bikin kepala senat-senut stres.
Ada 9 cerita dan 1 cerita tambahan latar belakang penulis di buku ini. Semuanya berdasarkan kisah nyata murid penulis selama menjadi guru les. Meski latar ceritanya di Taiwan, kehidupan di negara kita gak beda jauh. Jadi ada banyak hal yg bisa direnungkan dan dipelajari.
Beberapa hal yg aku pelajari: • Manusia itu tidak hitam-putih, tidak dua dimensi. Lalu, anak adalah individu yg harus dihargai pendapat dan keinginannya sejak kecil • Hubungan orang tua-anak yang kompleks dan gak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Ditambah tekanan dari pihak luar, lingkungan, dan society terhadap semua pihak, hal-hal yg harusnya sederhana malah jadi rumit. • Setiap anak punya bakatnya sendiri. Namun ada orang tua yg mendukung dengan metode pendidikan tidak sesuai, ada juga yg abai dengan perkembangan si anak, dan tentu ada yg ingin masa depan anak lebih baik darinya. Kehidupan tidak pernah tidak kompleks. • Beban ganda yg dipikul perempuan, lebih-lebih di negara Asia yg mayoritas menihilkan keberadaan 'ayah' dalam tumbuh kembang anak. • Mengkritik pendidikan dan ekspektasi society terhadap semua pihak yg terlibat.
Sebenarnya ada banyak banget yg pengen aku tulis. Apalagi ada banyak catatan dan pemikiran penulis yg cocok buat jadi bahanoverthinking renungan sebagai manusia dewasa, khususnya bagian Catatan Penulis (def bakal aku reread). Tapi lebih banyak kehabisan kata buat menuliskannya...
Yg jelas buku ini tuh eye opening. Gak cuma buat orang tua, buat anak, buat guru/pendidik, buat orang dewasa, buat semua manusia. Salah satu buku berkesan yg aku baca di tahun 2022.
Wu Xiaole memaparkan keseluruhan cerita secara tidak dibuat-buat dan jujur. Rasanya menyedihkan kalau mengingat lagi bahwa cerita-cerita ini berdasarkan kisah nyata yang dilihat langsung oleh Wu Xiaole sebagai guru les. Aku merasa bersyukur punya orang tua yang membebaskan diriku dalam bidang pendidikan, orang tuaku punya pola pikir: asalkan naik kelas, nilai jelek bukan masalah besar.
Membaca keseluruhan buku ini jadi mengingatkan aku kalau hubungan antar keluarga itu sangat rumit dan cenderung seperti benang kusut. Setiap keluarga memiliki masalahnya sendiri, tapi sebagian besar tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.
Buku ini sering membuat menghela nafas, mengerutkan dahi, merasakan sedih juga pedih setiap mendengar kisah para anak yang tersiksa karena sikap opresif orang tua mereka. Namun, para orang tua juga punya alasan tersendiri dibalik sikap tidak mengenakan mereka.
This is a compilation of 8-9 stories of families in Taiwan, the interaction between parents and children in the eye of the author, a tuition teacher. She is a highly sought-after teacher within her community, thus the families that she visited are at least of middle class. Ad we can see money does not solve problems. The author narrates the subtle interactions (and somewhat "expected", may I add, in a traditional Chinese family) that ultimately affected her students, some to the point of destruction.
The author did not provide readers with any explanations to these stories, giving the readers lots of room to ruminate the underlying issues in each story. As a Chinese ethnic myself, I couldn't help but to relate to my own family and my society at large. Very gripping read, highly recommend.
Tahu buku ini karena sempet hype akhir-akhir ini, tapi ngga menaruh ekspektasi apapun. Belinya pun mendadak. Abis itu dibaca kelar dalam satu hari.
Buku ini memuat sembilan cerita pendek yg mengisahkan relasi (harapan) orang tua dengan anaknya. Kalo pernah nonton drama Korea yang berjudul Sky Castle, mungkin bisa membayangkan isinya kali, ya.
Melalui sudut pandang seorang guru les, kita akan mendapatkan berbagai problematika kehidupan sekolah anak-anak yang dikaitkan dengan sifat ambisius orang tuanya.
Sebut saja, si Kacamata, yang hidupnya diselimuti penuh dengan ketakutan sepanjang hidupnya. Setiap kali ia mendapatkan nilai buruk atau nilai yang di bawah standar ibunya, sudah pasti ia tidak akan luput dari pukulan. Hal tersebut berimbas kepada mentalnya, ia menjadi tidak berani mengambil keputusan apa pun dalam hidupnya. Ia takut. Bahkan, yang lebih mengenaskan, ibunya lebih sayang sama anak kucing yang ia temukan di jalan, ketimbang anak kandungnya sendiri. Miris bukan?
Ada lagi, anak yang lahir dari keluarga yang tidak utuh. Ayah dan ibunya ngga pernah menikah, sang anak dilempar sana-sini karena tidak ada yang mau fully tanggungjawab sama kehidupannya. Secara ekonomi, memang cukup berada sih, tapi apa bisa membayangkan bagaimana pilunya hati seorang anak ketika merasa tak dianggap? Mau hal baik ataupun buruk, tidak ada yang peduli. Seperti kata Bunda Teresa, “lawan dari cinta bukan benci, tapi sikap tidak peduli.”
Kemudian, ada yang unik juga. Ada seorang ibu, yang sangat menyayangi anaknya, sampai-sampai ia harus nempel ke manapun ia berada, kalo bisa. Usut punya usut, ternyata ia pernah kehilangan anak pertamanya karena kelalaiannya. Makanya, anaknya yg satu lagi menjadi anak tunggalnya yang masih ia miliki. Saking takutnya, ia merasa perlu menemani anaknya untuk selama pelajaran les yang diberikan oleh guru. Bahkan, ia harus memberikan label “sakit” kepada anaknya supaya ia bisa tetep dekat dan menjaganya. Sedih, sih, yang ini.
Supaya anak bisa bersekolah di tempat yang terbaik, ada orangtua yang rela bekerja pagi dan malam, sampai harus terpisah dari anaknya. Sebutlah anak ini namanya si Terbebani, ia ditempatkan di sekolah swasta yang super-mahal sama orangtuanya yang hanya lulusan SMK dan SMP. Tak lain dan tak bukan adalah orangtuanya tidak ingin anaknya mengikuti jejak mereka. Namun, ternyata hal tersebut menyakiti sang anak, karena strata sosialnya tidak setara dengan anak-anak di sekolahnya. Bayangkan saja, setiap kali ada acara ulang tahun, ia selalu mendapatkan hadiah yang mahal. Lantas, bagaimana ia membalas teman-temannya satu per satu bila ia tidak punya uang? Menjadi dilema ketika ia harus satu sekolah dengan orang-orang kaya. Sementara, orangtuanya menganggap sekolah swasta adalah yg terbaik untuk anaknya.
Dan sebenarnya masih ada banyak lagi cerita yang berbeda dengan permasalahan yang berbeda pula. Pokoknya ini bagus untuk semua kalangan, baik yang akan dan tidak mau punya anak, rasanya penting untuk meresapi cerita-cerita ini. Kehidupan setiap anak nggak bisa kita anggap sepele. Apalagi, tumbuh kembang anak yang paling fundamental adalah berasal dari lingkungan dan didikan keluarga, kan?
I often wonder, what kind of parents that you can label as perfect parents? Someone who force you to get highest score in STEM? Someone who push you to achieve what they just dreamed of? Someone who only love you conditionally? This book just brought me to some cases I always wonder and I was feeling immersed about this author who was meeting children with different parental backgrounds. I noted that not everyone can be their children first love cause the worst one, you can be their first heartbreak. Choose you fighter!
Buku ini menceritakan kisah nyata pengalaman penulis saat menjadi guru les dari anak-anak murid yang dia ajarkan , dibagi menjadi 9 cerita pendek . Masing-masing kisah tsb beragam , menceritakan sudut pandang murid-muridnya, ada anak yang merasa sedih , kesal , takut , malu , menjadi jahat dan memberontak , emosi , manipulatif , berusaha untuk menyenangkan orang lain . Dan ada juga sudut pandang dari orangtuanya , alasan kenapa si ibu mendidik anak dengan caranya yang seperti itu , dari semua kisah kebanyakan hanya menceritakan interaksi ibu dengan anak karena berlatar tempat di Taiwan , negara tersebut masih terbilang kuno dan kolot , orangtua tidak mendamping secara bersamaan untuk tumbuh kembang anak baik secara mental, fisik maupun akademis. Rata-rata kebanyakan ayah hanya sibuk bekerja mencari uang , sedangkan urusan anak-anak semuanya diurus oleh Ibu . Ayah hanya tahunya menekan sang istri agar anaknya sesuai dengan yang diharapkan dan direncanakan mengenai masa depannya .
Jujur waktu membaca kisah anak-anak tersebut hatiku merasa pilu dan bersyukur aku tidak dilahirkan di tempat dengan adat dan orangtua yang seperti itu . Aku bersyukur diberi kebebasan dari kecil , tidak perlu terus-terusan belajar dan semua nilai harus bagus , asalkan lulus sekolah dan bisa naik kelas saja orangtua sudah senang 😂 .
Makanya tinggal di Indonesia ini banyak untungnya dibanding ruginya. Betapa mirisnya membaca kisah-kisah murid itu . Bahkan aku dapat merasakan seolah-olah menjadi murid-murid itu , emosiku keluar , perasaan stres, kesal dan muak bisa kurasakan . Penulis sukses menyampaikan ceritanya karena sungguh mengena di hati. Anak bagaikan aset dan ajang pamer bagi para Ayah di sana , sedangkan bagi para Ibu , mereka benar-benar sayang dengan anak, saking sayang dan cintanya cara mereka mendidik salah dan menjadi keras , ingin anaknya menjadi yang terbaik dan sukses di masa depan , tetapi secara mental dirusaki dan para Ibu tidak sadar akan hal itu . Bahkan di penghujung cerita , penulis menceritakan kisah temannya sendiri yang notabene siswi berprestasi , namun ia mengatakan andaikan Ibunya mendidiknya bukan dengan cara yang keras , mungkin prestasinya di sekolah bisa lebih baik lagi .
Inti dari buku ini menekankan tentang hal yang salah tapi dianggap benar oleh para orangtua , mereka senantiasa menerapkan sistem mendidik anak 1 yang berhasil dengan anak yang lain dengan cara persis sama , padahal sikap anak dan kepribadian anak itu berbeda-beda . Ada yang introvert , ada yang ekstrovert , ada yang lebih menguasai bidang teori , ada yang lebih menyukai seni maupun bidang olahraga , namun orangtua memukul rata semuanya dan tidak peduli dengan perbedaan yang ada pada diri anak . Yang lebih parahnya lagi mindset orangtua selalu berpikir bahwa anak itu adalah miliknya , orangtua lah yang berkuasa atas apa yang ada pada diri anak , mengatur segalanya sesuai rencana orangtua , harus sekolah di mana , harus dapat nilai berapa , cita-cita harus menjadi apa dan yang selalu tidak disukai semua anak-anak adalah DIBANDING-BANDINGKAN dengan orang lain , bahkan dengan saudara sendiri .
Hatiku agak plong ketika membaca kisah yang orangtuanya tidak memaksakan anaknya menjadi seperti yang dia inginkan , meskipun dia dicap sebagai orangtua yang gagal oleh orang sekitar maupun oleh orangtuanya sendiri , yang penting anaknya bahagia dengan jalan hidup dan pilihannya sendiri . Terkadang orangtua lupa bahwa anak itu tidak pernah memilih untuk dilahirkan di keluarga yang seperti apa , namun anak itu punya pemikirannya sendiri yang tidak bisa selalu diatur orangtua , tugas orangtua seharusnya membimbing ia menjadi pribadi yang baik dan menyerahkan pilihan kepada anak beserta alasan dari sebab akibat jika memilih pilihan tersebut , namun keputusan tetap harus di anak agar anak juga merasa ia sendiri memiliki peran di hidupnya sendiri agar bisa menjadi pribadi yang mandiri dan bisa bertanggungjawab atas keputusannya . Kalau aku pribadi tidak perlu anak harus pintar dalam segala bidang , yang paling penting di kehidupan sosial sekarang ini adalah nilai norma kehidupan seperti sopan santun , attitude yang baik, cara bicara yang baik , manner yang baik. Jika semua itu ia miliki , masa depannya pun akan cerah , orang yang baik attitudenya serta dapat berpikir kritis selalu bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini .
uwielbiam tę książkę, bo ma wszystko, czego mogłabym od niej oczekiwać - dogłębnie opisane relacje głównej bohaterki z rodziną, mężem, współpracownikami i własnymi uczennicami, wyszczególnione wszystkie trudniejsze tematy i sprawy, których na co dzień można nie zauważyć, a na dobrą sprawę są one obecne cały czas, a także ta "niedoskonałość" głównej bohaterki, która sprawia, że każda rzecz ma dwie strony i życie nie zawsze jest czarno-białe. opowieść o dziewczynkach, nastolatkach i kobietach, zmagających się z wyzwaniami współczesności i oczekiwaniami bliskich to książka, którą zdecydowanie trzeba przeczytać.
Finished this week, bagus sih ini, sebagai parents suka kadang ngikutin trend parenting, padahal yg paling bener tuh nyesuaian kebutuhan dan karakter anak, gak bisa asal apply gaya parenting, dan makin tertampar juga krn suka ngasal dan gak konsisten sama cara parenting
[4.5⭐️] Jest ona tak bogata w tematy jakie porusza, że nie mogę się zdecydować który konkretnie opisać, więc po prostu napiszę, że jest to lektura warta przeczytania.
Jestem zachwycona sposobem w jaki został ujęty tak trudny i delikatny temat jak śmierć nastolatki. I mimo , że powieść jest mocno osadzona w realiach społeczeństwa azjatyckiego to myślę, że wiele problemów w niej poruszonych dotyka wszystkich ludzi.
Menurutku ini buku yang cocok dibaca kalo lagi pengen mencak-mencak.
Awalnya aku nggak sreg sama gimana buku ini dikemas dengan judgy dari pov outsider. Kesan ini aku rasakan sampai di sekitar 50 halaman pertamanya. Ini mengingatkan aku sama Things Left Behind. Tapi untungnya setelah itu buku ini nyajiin pov dari sudut pandang pertama yang bikin flow-nya membaik dan jadi lebih 'nyaman' dibaca.
Kisah di rumah ketiga, kelima, dan kedelapan menurutku yang paling bikin syok sih. Ini jauh di luar bayanganku bahwa ada ortu yang 'memaksakan' anaknya agar didiagnosis dengan ADHD agar si ortu bisa lebih tenang, padahal gejala yang dialami anaknya sebenernya nggak menjurus ke sana. Bahkan si anak jadi 'harus' minum obat yang nggak perlu. Mana ortunya juga fine-fine aja sama kondisi anaknya yang malas belajar dan ngandelin 'excuse' 'penyakit buatan' ibunya.
Di rumah kelima dan kedelapan, kisahnya mulai disuguhkan dengan cukup banyak layer, dan aku lihat-lihat emang dua bab ini jadi salah dua yang memiliki halaman terbanyak sih. Rumah kelima ngasih gambaran kisah di generasi yang berbeda, beda dengan model bab lainnya yang lebih banyak hanya membahas kisah dari pov si anak dari masa hidup di sekitar umurnya saat itu. Sedangkan di rumah kedelapan, rumah yang ngasih banyak layer juga, tapi secara mengejutkan ternyata isinya malah plot twist. Aku paling suka sama bab yang ini karena ngasih tamparan juga kalau nggak semua perspektif anak itu bisa ditelan mentah-mentah sebagai 'korban yang paling menderita'.
Membaca On Children ini buatku beberapa kali ngasih kesan nggak nyaman sih, terutama gimana kisah anak perempuan yang disepelekan pendidikannya lumayan bikin nyesek. Dan gimana pembaca bisa 'melihat dirinya sendiri' di kisah anak-anak yang ada di buku ini.
Tapi terlepas dari beberapa hal yang nggak menyenangkan itu, buku ini sebenernya bagus juga dibaca buat merefleksikan hakikat pendidikan buat anak saat ini sih. Kasihan juga karena guru sekolah sekarang seakan dijadiin 'kacung' ortu yang terlalu banyak permintaan sampai menyita waktu guru di luar jam sekolah, juga nggak mertimbangin kondisi anak. Mana guru juga rentan dijadikan kambing hitam kalau anak mereka progres belajarnya lambat.
Aku juga salut sih sama salah satu statement di epilognya, ketika penulis menyoroti bahwa masalah dari parenting terkait pendidikan anak itu juga karena ortu yang kewalahan sama opini publik yang terlalu menekan, sampai mereka 'ikut arus' untuk mendidik anak berdasarkan tuntutan-tuntutan yang sampai nggak masuk akal gitu, bahkan menyamakan metode pendidikannya untuk mencapai hasil yang sama, yang tentunya malah bisa kejadian yang sebaliknya. Selain itu aku jadi prihatin juga sama peran ibu di buku ini. Apalagi di keluarga Asia, si ayah beneran lepas tangan, jadi lebih mudah menyalahkan sang istri kalau si anak dianggap 'gagal' dididik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
On Children merupakan kumpulan kisah-kisah dari beberapa murid yg memiliki bermacam masalah dalam hidupnya dan diceritakan kembali oleh guru les mereka. Kisah kisah ini meliputi beragam perilaku orangtua terhadap anaknya dalam mendidik mereka dan rahasia yg dipendam oleh anaknya.
Banyak kisah yg menarik dalam buku ini untuk kita ambil sebagai pelajaran untuk kita sebagai orangtua nanti. Diantaranya adalah kisah seorang murid yg sering dianiaya oleh orangtua mereka karena nilainya yg kurang dari standar yg diinginkan orangtuanya
Lalu ada kisah seorang anak yg ingin mendapatkan perhatian dari orangtuanya dengan belajar dan mendapat nilai bagus, namun orangtuanya tidak peduli sama sekali.
Ada juga kisah anak lelaki yg tampan rupawan (lebih ke cantik) dan banyak dikagumi oleh murid2 dan guru2, pintar dan berbakat. Namun dalam hatinya ia menyembunyikan jati dirinya yg seorang pecinta sesama jenis, hingga berpura-pura memiliki pacar wanita agar tidak ketahuan oleh orangtuanya.
Oke segitu aja beberapa kisah yg aku sebutin, lainnya silahkan dibaca sendiri ya! Ada sembilan kisah yg menanti kalian untuk dibaca.
Opiniku sendiri mengenai buku ini, buku ini penuh dengan tekanan dan harapan orangtua terhadap anak mereka, ada yg mengikat mereka dengan harapan yg tinggi demi masa depan mereka dan ada jg melepas mereka begitu saja.
Aku yg pernah menjadi guru dulu juga pernah bertemu dengan beberapa murid yg memiliki karakter unik dan memiliki sisi yg tidak diduga, dipengaruhi oleh orangtua, keluarga dan lingkungan mereka. Beberapa diantaranya juga ada yg terbuka dengan bercerita tentang kehidupan mereka, ada jg yg tertutup.
Ketika aku baca buku ini, aku langsung teringat dengan murid-muridku dulu, dengan kisah-kisah yg jg mereka bagi bersamaku, dan harapan orangtua mereka yg begitu tinggi hingga ada yg sampai membebani anak mereka.
Buku ini berisi 9 cerita tentang pengalaman penulis menjadi guru les yg mempertemukan ia dengan berbagai macam anak dan berbagai macam orangtua. Sebagian besar isinya tentang hubungan yg kurang baik antara orangtua terutama ibu dan anaknya dalam hal pendidikan.
Ada kisah tentang orangtua yg menginginkan anak mereka harus selalu unggul dalam pelajaran di sekolahnya. Ada juga yg membandingkan kakak dengan adiknya, ada orangtua yg mengatur segala hal tentang anaknya, ada juga yg bahkan tidak peduli terhadap anaknya.
Mungkin ga salah kalau orangtua menginginkan anaknya jadi yg terbaik dalam bidang akademis tapu terkadang orangtua terlalu menuntut agar anaknya berprestasi tanpa mendengarkan keinginan anak itu sendiri.
Aku pribadi bacanya miris, bisa dibilang disekeliling kita juga banyak perilaku orangtua seperti yg diceritakan di buku ini. Kebanyakan orangtua menilai seorang anak pintar hanya dari nilai akademisnya saja.
Aku suka buku ini selain melihat dari sudut pandang si anak kita juga dikasih tau pandangan orangtua tentang sikap mereka. Mereka rata-rata berpendapat bahwa orangtua wajib mengarahkan anaknya demi kebaikan mereka. Bagus sebenarnya, tapi terkadang para orangtua lupa bahwa anak punya jalan hidupnya sendiri, sebagai orangtua harusnya bisa mengarahkan tanpa mendikte anak harus hidup seperti apa.
Overall recommended banget buat dibaca, aku pribadi jadi dapat beberapa pemahaman bahwa pendidikan itu penting, tapi perasaan dan keinginan anak juga penting. Apa yg mereka inginkan selama itu baik harusnya bisa didukung orangtua meskipun bukan di bidang akademis. --------‐----------------------------------------------------- "Sasaran pendidikan adalah murid, seharusnya cara ajar guru mengikuti kebutuhan murid, kenapa sekarang mengikuti kebutuhan orangtua?"