Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jakarta 1950-1970

Rate this book
Ini adalah buku sejarah yang langka sebab menghadirkan sejarah kehidupan sehari- hari orang kebanyakan di kota Jakarta. Penulisnya. Firman Lubis, menceritakan soal sepeda, becak, anak-anak, perumahan, sekolahan, kegiatan olahraga, dunia mahasiswa, rumah sakit, tempat wisata, hotel, sampai dengan masalah keragaman etnis dengan tradisi budayanya. Kemudian masih ditambah cerita kehidupan orang gedongan. orang kampung, perabotan rumah tangga, tempat jajan-makan, kriminalitas, kemacetan, pelacuran, kaum intelektual, kesenian, tempat hiburan, gaya berpakaian, gaya berpacaran, dan masih berderet lagi kisah bagaimana masyarakat kota Jakarta menghadapi modernitas sepanjang 1950 sampai 1970.

Semua itu ditulis dengan kacamata pengalaman Firman, seorang dokter yang tumbuh dari anak kampung di pinggiran Menteng dengan kekayaan akar dan warna\biografinya. Ia mengalami fase kehidupan dari zaman Jepang, kemerdekaan. Demokrasi Terpimpin sampai otoriterianisme Orde Baru. Semua peralihan kekuasan itu jelas berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Namun, perhatian dan fokus utama cerita Firman bukanlah peristiwa politik dengan para tokohnya. Ada memang kisah pergulatan politik yang berkecamuk di Jakarta, tetapi bukan itu narasi yang utama. Ia lebih memilih menarasikan yang oleh para sejarawan disebut model penulisan sejarah sosial yang menyangkut sejarah masyarakat, sejarah orang kebanyakan, atau sejarah kehidupan sehari-hari. Suatu model kajian sejarah yang oleh para sejarawan sendiri diakui langka.

Buku ini bukan saja kaya data sejarah sosial, tetapi juga ditulis dengan gaya populer dan dilengkapi dengan foto-foto sezaman yang akan menguatkan imajinasi historis setiap pembacanya.

428 pages, Paperback

First published March 1, 2018

2 people are currently reading
33 people want to read

About the author

Firman Lubis

5 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (45%)
4 stars
4 (36%)
3 stars
1 (9%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (9%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Maya.
207 reviews8 followers
May 5, 2021
Akhirnya... buku nonfiksi pertama yang saya baca di tahun ini. Walaupun sampai sekarang belum pernah ke Jakarta. Semoga saja kesampaian, sebelum ibukota pindah ke Kalimantan, aamiin.

Buku ini ditulis oleh almarhum Firman Lubis, seorang dokter dan guru besar FKUI yang lahir, besar, dan tinggal di Jakarta. Sebelumnya ia sudah menulis buku Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja, Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahasiswa, dan Jakarta 1970-an: Kenangan sebagai Dosen. Lalu penerbit menyusun versi ringkas dari ketiga buku tersebut menjadi satu berjudul Jakarta 1950-1970.

Saya sebagai orang luar Jakarta tentu asing dengan tempat-tempat yang disebutkan, jadi saya tidak mendapat kenikmatan napak tilas sebagaimana orang asli Jakarta. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah karena Jakarta adalah ibukota Indonesia, banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di sana. Melalui perspektif penulis, saya jadi punya pemahaman lebih tentang bagaimana kondisi Indonesia pascamerdeka saat itu: kehidupan yang sangat sederhana namun juga seiring dengan tingkat kriminalitas yang masih minim.

Penulis menceritakan situasi tata kota Jakarta pada 1950-an yang masih didominasi perkebunan dan rawa-rawa. Suhu Jakarta saat itu rata-rata sekitar 27 derajat celcius, cukup dingin seperti Malang pada pagi hari. Kemudian tentang kependudukan di sana ketika masih ada komunitas bule peranakan sebelum mereka diusir pada akhir 1950-an. Lalu tentang sekolah, hiburan, transportasi, dll. Contohnya zwembad yang berarti kolam renang, mengingatkan saya dengan slembad, istilah yang digunakan orang Malang lama untuk menyebut kolam renang di stadion Gajayana.

Beralih ke 1960-an, di mana terjadi penumpasan G30S beserta pergantian rezim Orla ke Orba. Sebelumnya saya sudah membaca beberapa buku yang membahas sejarah 1966, jadi buku ini membantu melengkapi gambaran saya tentang situasi saat itu. Pada masa itu, perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik, namun Soekarno masih terobsesi dengan semangat revolusi dengan membangun berbagai monumen terkenal di Jakarta. Disebut proyek mercusuar, karena alokasinya tidak tepat sasaran dan lebih mengutamakan pembentukan citra Indonesia di mata dunia. Kemudian Indonesia mengalami inflasi sebesar 1000%. Tentu saja ini memicu demonstrasi mahasiswa dari berbagai organisasi. Belum lagi tewasnya Arief Rahman Hakim yang terjadi saat ia baru pertama kali ikut aksi demonstrasi.

Kemudian masa 1970-an, awal rezim Orba dan perubahan orientasi pembangunan Indonesia yang menjadi lebih terbuka pada kapitalisme. Dan seperti yang sudah kita ketahui secara umum bahwa saat itu demokrasi yang diselenggarakan bukanlah benar-benar demokrasi. Lalu praktik KKN, pembungkaman kebebasan pers, pembangunan Jakarta yang tidak manusiawi, dll. Membuat saya berpikir, ini negara demokrasi tapi kok penyelenggaraannya masih feodal ya? Bahkan dampaknya masih terasa hingga sekarang.

Penulis menyadari betul bahwa ia bukan sejarawan, dan tulisannya bersifat sebagai catatan kenangan yang tentu bersifat subyektif. Penulis tidak segan mengemukakan pendapatnya tentang beberapa peristiwa, dan saya pun sebagai pembaca menyepakati sebagian dan tidak menyepakati pada bagian lain. Deskripsinya enak dibaca, tidak mengandung kalimat-kalimat dengan argumen rumit, cocok untuk pembaca awam. Hanya saja, buku ini agak menjemukan ketika dibaca secara maraton, karena gaya ceritanya yang mirip orang tua mengisahkan masa mudanya zaman dulu kepada anak-anak. Lebih baik dibaca secara santai dan berkala, biar tidak capek atau bosan.
94 reviews3 followers
November 4, 2020
Nilai lebih dari buku ini adalah kemampuan menceritakan situasi dan kondisi kota dalam kehidupan sehari-hari di kota Jakarta. Namun terlihat penulis masih ikut dalam arus sejarah pada umumnya terutama untuk kondisi sosial politik di masa tersebut.
Profile Image for Yolanda Dipoyono.
104 reviews
June 18, 2025
Buku ini saya baca untuk mencari bahan referensi mengernai keadaan Jakarta di tahun 1960an, awalnya saya ingin membaca Jakarta 1960-an dengan penulis yang sama. Namun pada akhirnya saya memilih buku Jakarta 1950-1970-an, dan tidak menyesal sama sekali. Buku ini cukup lengkap, mengingat 30 tahun keadaan di Jakarta yang diceritakan penulis. Meski jauh berbeda generasi, saya merasa bisa ikut bernostalgia, karena rupanya penulis merupakan alumni SMP yang sama dengan saya. Sedikit banyak saya bisa membayangkan keadaan saat itu, di mana lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya masih di sekitaran lingkungan tempat saya dibesarkan. Banyak juga sejarah dan referensi yang saya dapatkan di buku ini yang sebelumnya tidak saya ketahui. Kondisi politik dan berbagai peristiwa penting pun diceritakan dari sudut pandang orang biasa/ bukan tokoh sejarah/ bukan orang politik. Saya rasa ini menarik karena kita bisa melihat kondisi saat itu lewat kacamata orang awam. Walaupun penulis juga merupakan mahasiswa yang dahulu terjun unjuk rasa setelah peristiwa 65. Selain itu buku ini cukup menghibur, ada beberapa cerita yang membuat saya tertawa, mungkin penulis menceritakan peristiwa yang kurang mengenakan namun caranya bercerita dengan berseloroh ceplas-ceplos terdengar lucu. Very recommended.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.