Jump to ratings and reviews
Rate this book

Black Leather Jacket

Rate this book
Laura tak punya alasan untuk menyukai Aidan. Pertama, novel debut lelaki itu kini mengalahkan novel-novel Laura di rak best seller. Kedua, foto Aidan yang terpampang besar di sampul belakang novelnya semakin mempertajam kecurigaan Laura: lelaki itu hanya penulis romance (genre yang dibencinya!) bermodal tampang. Jadi, maaf deh kalau dia merasa keberatan ketika Laura dipasangkan dengan Aidan untuk proyek novel selanjutnya. Tahu apa lelaki itu soal menulis novel berkualitas?



Semakin jauh mengenal Aidan, Laura tahu bahwa lelaki itu punya pengetahuan luas tentang thriller, genre cerita favorit Laura. Aidan bahkan hafal kutipan-kutipan Agatha Christie! Sedikit demi sedikit Laura membangun respek tersendiri untuk Aidan—dan belakangan tanpa dia sadari… cinta.

Tapi sebelum Laura berhasil membuat Aidan tahu tentang perasaannya, lelaki itu menghilang. Membiarkan proyek menulis mereka terbengkalai begitu saja—seolah tak ada artinya. Alih-alih marah, Laura merasa sangat kecewa dengan sikapnya itu.

You’re breaking my heart, Aidan, and the saddest part is… you don’t even know about it.

370 pages, Paperback

Published June 6, 2018

3 people want to read

About the author

Aditia Yudis

16 books20 followers
Kunjungi Aditia di:

Facebook: adhiet07@yahoo.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (6%)
4 stars
3 (20%)
3 stars
10 (66%)
2 stars
1 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
January 17, 2019
Buku sedang dijual murah di TB Beruang

Laura jengkel setengah mati saat ediornya, Mya, memintanya memasukkan unsur romance ke dalam novel terbarunya, padahal Laura adalah penulis bergenre thriller. Belum lagi Laura akhirnya dipasangkan dengan Aidan, penulis pendatang baru yang novel debutnya berhasil best-seller. Laura yakin kalau Aidan sukses karena sekadar jual tampang dan tidak bisa membawa apa-apa ke proyek mereka. Tapi semakin jauh mengenal Aidan, Laura bisa merasakan kalau ada sesuatu yang berubah di dalam hubungan mereka.

Hmm... kita mulai dari mana, ya?

Sebenarnya saya tertarik dengan novel ini karena premisnya, sih. Seorang penulis yang sepertinya enggan memasukkan unsur percintaan ke dalam novelnya terpaksa bekerja-sama dengan seorang penulis romance untuk menyelesaikan sebuah novel. Terdengar menarik dan berhasil membuat saya penasaran seperti apa ceritanya akan berjalan.

"Aku tidak butuh bantuan apa-apa. Cerita romantis itu masalah kecil. Nggak butuh kemampuan apa-apa untuk bikin cerita itu. Kamu tahu cerita roman itu hanya untuk orang yang malas berpikir," ketus Laura. "Yang nulis dan yang baca sama-sama nggak butuh berpikir."

"Kalau memang nggak butuh berpikir, mengapa butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikannya?" tantang Aidan. (hal. 178-179)


Awal ceritanya menarik. Pembaca dipertemukan dengan Laura yang agak sinis dan semakin ke belakang semakin tampak seperti seorang tsundere. Di sisi lain, ada Aidan yang demi menyelesaikan novel almarhum ibunya, akhirnya memutuskan mundur dari perusahaan keluarga tempatnya bekerja. Keputusannya itu memicu konflik dengan kakak dan pamannya. Saya juga suka dengan hubungan Laura dengan Mya yang tampak profesional, tapi juga bisa menjadi teman yang saling dukung.

Sayangnya set-up ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Semakin ke belakang konflik antara Laura dan Aidan semakin lemah. Awalnya kukira bakal ada gontok-gontokan/adu mulut antara Laura dan Aidan yang menyebabkan rasa tertarik dua kutub yang berlawanan (alias opposite attract), tapi pertengkaran-pertengkaran mereka terasa ... kekanakan?

Misalnya saat mereka membahas bagaimana membuat chemistry di antara kedua tokoh utama novel mereka lebih mendalam. Si Aidan mengsulkan kalau ada adegan seks di novel mereka. Laura tidak setuju. Aidan kemudian memaparkan alasannya untuk memasukkan adegan panas di novel mereka. Di sini saya berharap Laura akan membantah dengan argumen yang bisa menunjukkan kepribadian atau menggali lebih dalam lagi karakternya, tapi Laura cuma bertahan dengan, "Pokoknya aku nggak bisa," sebagai alasan.

Sumpah, saya lebih suka kalau Laura menjawab, "Dosa, loh kalau tujes-tujesan tapi belum nikah. Nanti disambar geledek baru tahu rasa," dibandingkan dengan "Pokoknya nggak bisa."

Rasanya tidak memuaskan melihat Laura, yang digadang-gadang sebagai penulis top dengan tulisan yang mendalam, hanya mampu memberikan argumen "pokoknya" terhadap Aidan.

Menuju akhir cerita, saya semakin kehilangan minat dengan kedua tokoh utama. Sama sekali tidak ada chemistry di antara mereka dan konflik keluarga Aidan juga tidak menarik (tapi saya suka sih dengan resolusi dan keputusan yang Aidan ambil).

Secara keseluruhan, saya memberikan 2,5 bintang untuk novel ini (dengan pembulatan ke atas). Premis dan awal ceritanya menarik, tapi saya tidak bisa menangkap chemistry di antara Laura dan Aidan. Kedua tokoh utamanya juga masih cenderung dangkal dan kurang tergali.
Profile Image for Didi Syaputra.
53 reviews13 followers
June 9, 2020
Aditia Yudis dan Ifnur Hikmah mengambil topik dunia kepenulisan sebagai highlight utama dari novel duet mereka kali ini. Hal yang menarik. Terlepas dari kepiawaian keduanya membawakan cerita dengan sangat baik, bahkan terasa tidak ada perbedaan bagian mana yang masing-masing mereka tangani, benar-benar menyatu dan rapi sekali—  di awal-awal penulis cukup lihai menebar clue yang membuat pembaca penasaran dan betah menikmati kisah Aidan dan Laura dalam Black Leather Jacket.

Black Leather Jacket bercerita tentang seorang kemenakan konglomerat Richard Haryanto dari Haryanto Grup— sebut saja begitu, yang sebelumnya memegang posisi penting di perusahaan besar milik pamannya memilih meninggalkan kemewahan yang ia miliki untuk menjadi seorang penulis, lebih tepatnya meneruskan tulisan yang pernah ibunya tulis semasa hidup. Tulisan pertamanya sukses besar, dalam hitungan bulan mampu menguasai pasar pembaca, berkali-kali cetak ulang, bahkan kabarnya novel itu akan diadaptasi ke dalam sebuah film. Hal ini tentu saja membuat penulis lain yang lebih senior darinya sedikit gusar, salah satunya Laura, penulis thriller yang pamornya menurun drastis akhir-akhir ini— setidaknya itu yang ia rasakan dan ia mulai membenci penulis baru itu, Aidan Gio.

Gadis itu mulai mencari tahu rahasia kesuksesan penulis yang dianggapnya tak lebih dari sekadar anak kemarin sore itu, fakta bahwa Aidan Gio yang ia benci memajang foto close up wajahnya di belakang cover bukunya membuat Laura yakin lelaki itu hanya menjual tampang untuk mendongkrak popularitas tulisannya, belum lagi kenyataan bahwa novel yang ditulisnya itu hanya kelanjutan dari tulisan ibunya yang belum terselesaikan, ditambah lagi penulis romance itu— genre yang sangat tidak disukainya, ternyata seorang keturunan konglomerat yang kesuksesan perusahaan pamannya masyhur di mana-mana. Tak salah lagi, dia hanya bermodal tampang dan uang untuk membuat novelnya sukses, kesimpulan yang dibuat Laura akan lelaki itu.

Apa benar begitu❓ Baca kuy❕

Memikul nama besar keluarga memang tidak mudah. Apalagi jika turut malang melintang di ranah yang tak jauh berbeda, semisal pekerjaan, maka sudah dapat dipastikan hasil kerjanya akan terus berada di bawah bayang-bayang itu, untungnya itu tidak berlaku bagi Laura Ranggawarsita, putri semata wayang Aji Saka Ranggawarsita yang namanya sudah lebih dulu memasyarakat di kalangan pembaca.

Terbiasa menulis thriller membuat Laura kelabakan ketika diminta menyematkan romansa dalam cerita yang ditulisnya kali ini— Brown Eyes Don't Lie. Tak heran jika hal itu cukup membuatnya uring-uringan. Roman terlalu asing baginya, seringkali dia dibuat bergidik ngeri ketika dipaksakan melahap genre satu itu. Tapi apa mau dikata, editor memaksanya menyisipkan itu di karya terbarunya.

Tak habis sampai di situ, gadis penyuka warna gelap itu kali ini dikejutkan dengan bergabungnya Aidan Gio, penulis roman yang namanya sedang marak jadi perbincangan sana sini untuk campur tangan dalam karyanya. Tentu saja itu membuatnya kesal dan marah. Benar-benar menyebalkan. Dan dari 'kerja sama' inilah kisah mereka dimulai.

Bagiku pribadi Black Leather Jacket cukup sukses menghadirkan kisah wara wiri kehidupan seorang penulis, banyak sekali ilmu yang didapat dari membaca buku ini, tentang keseharian mereka yang harus terus merekam ide untuk dituliskan dan akhirnya dinikmati pembacanya, tentang sulitnya menuliskan cerita yang bukan merupakan passion tulisan mereka di karyanya dan banyak lagi.

❝Jika kamu ingin menjadi penulis profesional, tulislah apa yang ingin kamu baca. Jangan bodohi pembacamu dengan menulis apa saja, padahal hatimu tidak ada di sana.❞ —Hlm. 33

Selain dua tokoh di atas, tokoh-tokoh lain juga ikut andil menghidupkan jalan ceritanya, ada Richard dan Allan Haryanto— paman dan kakak Aidan, Lani— mantan pacar Richard, Claudia— pacar Allan, Mya— editor Laura, Dinda— editor Aidan, dan lain-lain (baca sendirilah🙈😅).

Membaca Black Leather Jacket karya duet penulis ini secara tidak langsung memberiku ruang untuk merenung sejenak bahwa ternyata menjadi seorang penulis itu tidaklah mudah, ada banyak hal penting yang perlu dipersiapkan, ada banyak hal penting yang harus diperhitungkan, diperbaiki, ditulis kembali, terus saja begitu hingga mencapai titik kesepakatan dan akhirnya menjadi sebuah buku sampai di tangan pembacanya. Rumit? Jelas. Tapi menyenangkan pasti.

Novel ini ditulis mengalir dengan menggunakan alur maju, namun di salah satu bagian masih ada sepintas kilas balik masa lalu tokohnya, boleh dibilang hanya sekadar tempelan yang fungsinya sebagai benang merah dan itu dieksekusi penulis dengan cukup apik.

Secara garis, Black Leather Jacket menurut hematku cukup mewakili kisah keseharian seorang penulis dengan kehidupan percintaannya. Sayangnya kehidupan percintaan mereka yang harusnya lebih dari ini kurang dieksplor dengan baik, sehingga aku belum bisa membangun chemistry yang intens dengan kisahnya. Padahal novel ini seharusnya di lini itu, mengingat kisahnya terpilih sebagai satu dari tiga terbaik lomba menulis kategori Sweet and Spicy Romance oleh Twigora. Entahlah, apa mungkin aku saja yang kurang peka terhadap romansa di novel ini seperti tokoh Laura, atau memang adanya seperti itu🙊🙈

❝Lo hanya butuh sedikit sensitivitas untuk merasakan cinta itu.❞ —Hlm. 15

Tapi kabar baiknya, karakter tokoh di novel ini cukup digali sedemikian baik, setidaknya untuk dua tokoh utamanya —Aidan dan Laura, memiliki prinsip hidup yang jelas dan konsisten dengan jalan hidup yang ditempuhnya. Nilai tambah yang sangat perlu diapresiasi dari novel ini menurutku🙌

Keseluruhan, novel ini menarik dan cukup informatif. Bagi kalian yang mungkin ingin mengetahui seluk beluk kehidupan seorang penulis sangat dianjurkan membaca kisah Aidan dan Laura di novel ini📠
Profile Image for Gabriella Halim.
194 reviews13 followers
October 2, 2018
more on : https://whatsgabyread.blogspot.com/20...

Hmm.. Aku suka banget sama novel ini! Beneran deh ya. Mulai dari gaya penulisannya, sampe ke detil pekerjaan penulisnya.Selain itu, konfliknya juga seru abis. Bikin kita bertanya-tanya, ada konflik apa sih sebenernya di dalam keluarganya Aidan dan juga Om Richard ini. Dan juga, konflik dalam diri Laura juga menarik untuk diikuti!
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.