Jump to ratings and reviews
Rate this book

Niskala

Rate this book
Anggalarang masih ingat dengan jelas, seakan-akan baru terjadi kemarin, atau kemarin dulu, tatkala wajah kakaknya, Dyah Pitaloka, memancarkan cahaya gemilang untuk menjemput kebahagiaan di tanah Jawa. Putri kesayangan Kerajaan Sunda itu siap bersanding dengan seorang raja besar, raja terbesar, dari Majapahit Wilwatikta, negeri terbesar di Dwipantara. Ah, putri tercantik bersanding dengan raja muda paling berwibawa, bukankah tak ada kebahagiaan yang bisa melebihinya?

Namun, kenapa ibu dan pamannya, terkesan tak mau menceritakan apa yang terjadi pada ayah dan kakaknya di sana? Adakah sesuatu yang harus dikubur dalam-dalam? Adakah nista yang membuat kisah menyedihkan itu tak layak dipahaminya? Padahal ia adalah putra satu-satunya Prabu Maharaja, satu-satunya ahli waris takhta Kerajaan Sunda, dan bahkan kemudian bergelar Prabu Anom Niskala Wastukancana?

“Digali dari bahan-bahan perkisahan seputar Perang Bubat, Niskala merupakan roman sejarah dengan dibumbui sejumlah adegan mirip cerita silat.” —Hawe Setiawan, Pengamat Sastra

304 pages, Paperback

First published January 1, 2008

2 people are currently reading
41 people want to read

About the author

Hermawan Aksan

29 books17 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (20%)
4 stars
7 (23%)
3 stars
13 (43%)
2 stars
4 (13%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
April 26, 2020
Tegal Bubat, di sinilah, tujuh tahun lalu, terjadi perang dahsyat yang sama sekali tak seimbang. Bukan, bukan perang. Itu adalah pembantaian, yang dilakukan oleh pihak Gajah Mada karena ambisinya untuk memenuhi Sumpah Amukti Palapa-nya.

Tujuh tahun lalu, rombongan Ayahnya, Prabu Linggabuana, yang hanya didampingi sekitar sembilan puluh kesatria dan para prajurit.. Mengiringi kakaknya Dyah Pitaloka Citraresmi, untuk menjemput kebahagiaannya di Majapahit Wilwatikta, untuk bersanding dengan Maharaja terbesar di Nusantara; Hayam Wuruk.

Namun, kebahagiaan itu sirna oleh ambisi Gajah Mada. Kebahagiaan itu harus terkubur bersama dengan gugurnya seluruh rombongan Kerajaan Sunda.

Tujuh tahun, bukan waktu yang sekejap. Namun, waktu tujuh tahun juga seperti tak beranjak di Tegal Bubat. Luka akibat peristiwa itu terlampau dalam menganga dalam hati seorang Anggalarang. Dendam itu tak pernah padam dalam hatinya.

Waktu tujuh tahun, tak bisa menghapus rasa sakit atas kehilangan Ayahanda dan kakak tercintanya. Anggalarang bersama dengan dendam yang bersemayam dalam hatinya, melakukan perjalanan. Perjalan yang membawa ia untuk menemui Gajah Mada demi menuntaskan dendamnya.

Akan sampaikah ia menuju tempat di mana Gajah Mada berada? Dan, apakah ia mampu menuntaskan dendamnya kepada Gajah Mada? So, cari jawabannya dalam novel ‘Niskala; Gajah Mada Musuhku’.


Seperti pada novel yang pertama, di awal-awal novel ini juga membosankan. Berkali-kali aku harus berhenti membaca. Dan, membaca novel lain. Tapi akhirnya, aku mampu menyelesaikan juga.

Di awal-awal cerita, hingga dipertengahan, berkisah tentang perjalanan Anggalarang yang dipenuhi dengan kebetulan-kebetulan pertemuan yang terjadi dalam perjalanan tersebut. Yaitu, tentang pertemuan Anggalarang dengan orang-orang yang masih memiliki hubungan dengan para Kesatria yang gugur mengiringi Prabu Linggabuana dan Putri Dyah Pitaloka ke Majapahit.

Lalu melewati pertengahan, masih berisi tentang pertemuan Anggalarang dengan orang-orang yang mungkin bisa dibilang... tergolong dalam kalangan orang-orang hebat kala itu.

Jujur saja, jika dibandingkan dengan novel pertamanya, novel kedua ini tak semenarik novel pertama. Aku lebih suka novel pertamanya. Unsur sejarah lebih banyak di novel pertama. Sedang di novel keduanya ini, lebih banyak fiksinya.

Mungkin.. memang tidak mudah untuk menggabungkan fakta sejarah dengan fiksi dalam sebuah novel. Tapi, kita perlu mengacungi jempol kepada para penulis yang sudah berusaha untuk mengangkat tema sejarah Nusantara dalam bentuk novel, sehingga bisa dinikmati oleh pembaca dengan santai.

Ok, Well... buat kalian yang suka dengan novel-novel bertema sejarah.. Tidak ada salahnya, untuk memasukkan novel ini dalam daftar baca kalian..
Selamat membaca.. 😉


*Oya, btw kenapa judulnya Niskala. Niskala adalah nama lain dari Anggalarang. Nama itu ia sandang ketika ia sudah menjadi Raja. Ia dikenal sebagai Pabu Niskala Wastukancana/Prabu Wangisutah.

Dan, ya.. di bab penutup novel ini. Ada sedikit keterangan tentang Prabu Niskala. Tentang berapa lama masa kepemimpinannya, dan siapa saja istri dan keturunannya.
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
November 6, 2008
Tidak mudah memadukan fakta sejarah dengan fiksi dan tak banyak penulis yang mampu melakukannya dengan baik. Salah satu yang terbaik, siapa lagi kalau bukan, Pramoedya Ananta Toer. Lihat saja bagaiman ia dengan piawainya menghaturkan sejarah kerajaan Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui tuturan memikat dalam buku gemuk Arus Balik. Dan tentu masterpiece-nya Bumi Manusia , episode awal tetraloginya itu, yang menyoal riwayat hidup Raden Mas Adi Suryo, tokoh pers pertama Indonesia.

Di belakang Pram, ada banyak lagi penulis fiksi sejarah yang cukup rajin dan konsisten dengan jalur yang dipilihnya, antara lain: Remy Sylado, Langit Kresna dengan serial Gajah Mada-nya serta Hermawan Aksan. Nama yang terakhir ini, sama halnya dengan Langit Kresna, menuliskan kembali riwayat Gajah Mada hanya dengan perspektif yang berbeda. Hermawan Aksan mengambil sudut pandang dari Kerajaan Sunda lewat kisah dramatis Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa tersebut kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bekasnya masih terus mengabadi hingga kini. Sampai-sampai di Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya tidak terdapat jalan yang memakai nama Gajah Mada dan Hayam Wuruk.

Cerita Perang Bubat itu ada dalam novel Dyah Pitaloka yang ditulis Hermawan pada 2005. Rupanya penulis yang juga wartawan Tribun Jabar ini tidak puas hanya sampai di perang Bubat. Ia kemudian melanjutkannya dalam novel terbarunya, Niskala dengan tambahan subjudul Gajah Mada Musuhku (kenapa juga harus ada tambahan judul ini?)

Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu baru berusia 9 tahun. Kematian ayahanda dan kakaknya semata wayang di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah menyemaikan benih dendam dalam hati bocah kecil itu yang tujuh tahun kemudian bertekad membalaskannya.

Maka, Niskala yang memiliki nama kecil Anggalarang itu pun berangkatlah menuju Majapahit guna menantang duel sang mahapatih perkasa Gajah Mada. Kisah selama perjalanannya inilah yang dituturkan bagai cerita silat oleh Hermawan yang sangat terkesan pada kisah Panji Tengkorak (Hans Jaladara) serta Nagasasra dan Sabuk Inten (S.H. Mintardja). Sebenarnya menarik andai saja Hermawan bisa menghindar dari pengulangan-pengulangan adegan perkelahian yang terasa monoton.

Jika mesti membandingkan dengan novel pertamanya, saya lebih suka yang pertama. Pada Dyah Pitaloka selain unsur sejarahnya lebih pekat, juga gagasan yang disampaikannya lebih dalam : mendekonstruksi citra Gajah Mada yang selama ini kondang sebagai figur pahlawan dalam novel tersebut berbalik menjadi si biang keladi yang culas. Sementara itu, Niskala hanya bertumpu pada upaya pembalasan dendam.

Jelas novel Niskala ini lebih banyak kandungan fiksinya ketimbang fakta sejarahnya. Maka, kelirulah kalau kita menjadikannya sebagai acuan sejarah, karena meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang bersangkutan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi itu, akhirnya hanya sebagai "tempelan" saja demi memperkuat lakon. Namun, itu toh sah-sah saja dalam sebuah karya fiksi, bukan?***

Profile Image for Irwan Bajang.
Author 11 books67 followers
June 4, 2013
RESENSI BUKU: NISKALA; TRAUMA SEJARAH YANG BERKEPANJANGAN antara Sunda dan Jawa

Judul buku: NISKALA “Gajah Mada Musuhku”
Penulis: Hermawan Aksan
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, 2008
Tebal: viii+289 halaman
Resensi Oleh: Irwan Bajang


Memadukan fakta sejarah dengan fiksi dalam sebuah novel adalah sebuah pekerjaan yang tak bisa dibilang gampang. Tidak banyak penulis Indonesaia yang mampu melakukannya, Barangkali Pramoedya Ananta Toer adalah salah satunya. Penulis yang lebih banyak menghabiskan hidup dan proses kretif kepenulisannya di tanah buangan Pulau Buru. Pram dengan paiawai menyajikan kisah Singasari lewat novel Arok-Dedes. Kisah kerajaan Mataram melalui roman Arus Balik. Dan Bumi Manusia, episode pertama dari tetraloginya paling popular yang melambungkan namanya, dimana Pram dengan kuat menggambarkan seorang tokoh pers pertama indonesia Raden Mas Tirto Adi Suryo. Penulis lainnya adalah Remy Sylado, Langit Kresna Hariadi dengan serial Gajah Mada-nya dan tentu saja Hermawan Aksan.

Hermawan Aksan, seorang wartawan di Jawa Barat ini, memiliki beberapa kesamaan dengan Langit Kresna Hariadi, mereka sama-sama menulis kembali riwayat Gajah Mada. Hanya saja, Hermawan mengambil sudut pandang yang sama sekali berbeda, yakni sudutpandang orang Sunda. Dalam novel Niskala ini, Ia menceritakan secara dramatis, pergolakan batin seorang Putra Mahkota Kerajaan Sunda. Dyah Pitaloka yang konon bunuh diri di padang Bubat saat rombongannya dicegat dan dibantai oleh pasukan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa yang kemudian kita kenal sebagai Perang Bubat; sebuah perang yang menimbulkan luka sejarah di antara orang Sunda dan Jawa. Bahkan bekasnya masih terus terasa hingga kini. Jangan harap kita bisa menemukan nama jalan Gajah Mada, Majapahit, Hayam Wuruk, atau segala hal yang berbau Majapahit di kota Bandung serta kota-kota Jawa Barat lainnya. Betapa perang bubat telah meninggalkan luka historis yang berkepanjangan bagi orang Sunda.

Cerita Perang Bubat sendiri, telah ditulis Hermawan Aksan dalam novel Dyah Pitaloka pada tahun 2005. Ia tampaknya tidak puas dengan buku sebelumnya. Ia kemudian melanjutkan ceritanya dalam novel terbarunya ini, Niskala “ Gajah Mada Musuhku”

Niskala adalah nama adik lelaki Dyah Pitaloka yang sewaktu ditinggal pergi kakaknya itu masih berusia Sembilan tahun. Kematian ayahanda dan kakak semata wayangnya di tegal Bubat akibat ulah Gajah Mada diam-diam telah memupuk benih dendam dalam hatinya. Dan tujuh tahun kemudian ia memutuskan mengembara, sebagai mana layaknya putra mahkota di hampir seluruh kerajaan di nusantara pada waktu itu. Namun sungguh tujuannya bukan hanya mengembara, melainkan mencari seorang Mahapatih yang terkenal sakti mandra guna, Maha Ppatih Gajah Mada. Sang Bocah Niskala ini ingin menantangnya bertarung untuk menghempaskan dendam akibat kematian Ayah dan Kakaknya. Ia berangkat menuju majapahit untuk bertemu dengan seorang yang membuat ia kehilangan keluarganya; Gajah Mada.
Dari sinilah, kisah apik di ceritakan dengan lancar oleh penulisnya. Pertarungan para pendekar-pendekar sepanjang perjalanan.

Membaca novel ini, kita seolah disajikan sebuah cerita silat yang sering kali kita tonton dalam film-film kolosal seperti Angling Darma, Brama Kumbara, Misteri Gunung Merapi, Saur Sepuh, Tutur Tinular dan beberapa kisah silat Indonesia era Sembilan puluhan lalu. Beberapa pengulangan perkelahian memang terkesan monoton, namun bagi sebagian pembaca yang doyan cerita silat, kerinduan akan kurangnya buku-buku serial silat Indonesia saat ini akan dapat terobati. Di setiap perjalanan, Niskala bertemu banyak pendekar yang selalu mengajaknya berkelahi dan mengadu kekuatan. Sebuah pengalam berkelana yang mengasikkan untuk dibaca.

Hingga pada akhirnya, si Niskala bertemu dengan sang Maha Patih yang ternyata sudah tidak sesakti dahulu lagi. Umur telah menelan kedigjayaan masa muda Gajah Mada.

Barangkali Niskala Tidak bisa di pakai sebagai sebuah rujukan yang kompleks tentang sejarah hubungan tidak harmonis Kerajaan Sunda dan Majapahit. Novel ini lebih banyak mengajukan suguhan cerita fiuksi ketimbang fakta sejarah. Meskipun di dalamnya terdapat nama dan peristiwa yang berhubungan erat dengan riwayat Majapahit serta Kerajaan Sunda yang mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Namun Niskala telah menambah perbendaharaan novel sejarah Klasik Nusantara. Terlepas dari kompleksitas acuan Pustaka yang dipakai untuk menulisnya. Hermawan Aksan mengobati kerinduan akan bacaan buku cerita kolosal melalui sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan novel-novel sejenis lainnya.


Irwan Bajang
Desember 2008
Profile Image for Speakercoret.
478 reviews2 followers
November 28, 2009
08-11-09 minjem ma mba roos juga

wiiii anggalarang laku banget yah..
ni cerita anggalarang, si Boy, ap wiro sableng ye.. hehehhee
tapi bagus kok.. soalnya gw suka wiro sableng :p
silat ada, sejarah ada, percintaan ada lah kan si boy na kerajaan sunda, misteri ada, politik ada, apa yang gak ada? horor kali ya :D

buku ini memandang sejarah majapahit lewat sudut pandang kerajaan sunda..
jadi ya beda ama kisah gajah madanya LKH.
4 reviews
August 17, 2009
Buku yang menarik untuk dibaca terlepas apakah unsur sejarah yang ada hanya "tempelan" atau bukan, karena saya bukan ahli sejarah. saya hanyalah penikmat novel macam begini. Alur cerita juga mengalir dengan lugas sehingga saya cukup menikmati kala membacanya.. jadi menurut saya buku ini cukup mengasyikan dan pantas untuk dibaca
Profile Image for Ambar.
99 reviews19 followers
January 22, 2010
awalnya agak ragu buat baca sejarah, namun seru.
perjuangan Niskala, seorang putra mahkota dari kerajaan Sunda yang mencari Gajah Mada yang telah membunuh ayah dan kakaknya tercinta.
penelusurannya di begeri sendiri dan di negeri orang lain yang sangat menyenangkan, memuji alam dan juga berprilaku bijaksana.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.