"Angin bangun Angin. Bangun. Angin. Bangun. Bangun. Angin. Bangun... Angin... tolong... please s'ilvous plait..." Berkali - kali Rintik mengguncang tubuh pria yang dipanggilnya Angin itu. Pria yang terbaring dengan selang - selang di tubuhnya. Ini sebuah mimpi buruk.
Kepergian River cukup membuatnya sulit melangkah ke depan. Bahkan Rintik menghabiskan lima tahun hidupnya seperti zombie. Berkutat dengan pekerjaan tanpa kenal dunia luar demi menerima takdir bahwa suami tercinta tak lagi bersamanya.
Hingga Rintik memutuskan memulai hidup barunya di Paris bersama Rey, putri satu - satunya. Segala cerita penuh kejutan dimulai disana. Pertemuannya kembali dengan sosok yang tanpa sadar mungkin dulu dikaguminya. Kisah cinta klasik baru yang entah berakhir manis atau justru membuatnya menangis.
Namanya Angin. Seperti namanya ia mustahil dipegang dan tak tentu arah perginya, suka-suka dirinya, tanpa sebuah komitmen.
Fira Basuki (born June 7, 1972) is a well-known Indonesian novelist. Arguably her most famous work is her trilogy debut consisting of Jendela-Jendela (The Windows), Pintu (The Door) and Atap (The Roof). The trilogy concerning the journeys of Javanese brother and sister Bowo and June; from graduating high school, studying abroad in the US, their meta-physical experiences (especially Bowo's "second sight" and aura-reading capabilities), relationships with people of different nationalities (especially June's Tibetan husband), and their return home to Indonesia.
Her novel, Brownies, was adapted to a movie which was nominated for Best Picture at the 2005 Indonesian Film Festival, eventually losing out to Gie (though Brownies did earn a Best Director Citra award for Hanung Bramantyo). She recently launched to widespread media acclaim a popular biography on media person Wimar Witoelar, her first work in non-fiction.
Her latest novel, scheduled to be published July 2007, is entitled Astral Astria. As per August 2007, she works as Chief Editor at the Indonesian edition of Cosmopolitan Magazine.
Berderai air mata di beberapa halaman terakhir. Pendidikan spiritualnya seperti serbuk-serbuk kayu : halus, menusuk. Sepanjang buku saya merinding habis-habisan karena diingatkan tentang waktu. Epik, meski di tengah buku saya mikir, "loh kok jadi horor!?"
"Aku berpikir manusia memiliki rasa, dan rasa itu tidak memilih. Aku tidak mau menyebut istilah 'love is love', karena tidak harus selalu cinta. Cinta itu menurutku sebuah bentuk keegoisan. Tidak harus selalu nafsu. Rasa itu beda dengan cinta dan nafsu, bagiku." - Halaman 94-95.
Selepas kehilangan suaminya, Rintik mencoba untuk membuka lembar hidup yang baru. Ia dan putri semata wayangnya, Rey, memutuskan untuk pergi dari Indonesia dan tinggal di Paris. Di sana, ia bertemu kembali dengan seorang fotografer bernama Angin, lelaki yang bahkan ketika suaminya masih ada bersamanya berhasil membuat jantungnya berdesir hebat. Rintik mencintai Angin tetapi lelaki itu tidak kunjung memberinya kepastian. Di satu sisi, ia berpikir bahwa Angin mungkin bukan tipikal orang yang senang berada dalam hubungan yang terikat, semua ia maklumi. Suatu hari, ketika ia dan Rey pergi ke Katakombe pada akhir pekan, ia mengalami kejadian yang membuat hidupnya berubah.
Ketika membaca buku ini, saya nggak tahu tentang 'apa yang akan saya hadapi', tapi saya berasumsi bahwa ini fiksi roman. Beberapa lembar awalnya juga memperkuat dugaan saya, tapi sekitar 5/7 menjelang akhir saya agak kaget ketika malah ada bumbu-bumbu horor dan spiritual dalam buku ini. Apalagi ketika makin ke belakang unsur supranatural inilah yang makin kental, saya makin kaget juga. Kaya di luar pemikiran saya gitu. Ending-nya juga di luar perkiraan saya sih, tapi jangan salah ... saya justru suka.
Saya suka cara Fira Basuki menceritakan narasinya. Cair dan sangat membangun nuansa cerita, termasuk latar tempat dan suasana. Rasanya kaya beneran lagi di Paris. Selain itu, beberapa kali saya mengangguk saat membaca buku ini, karena beberapa buah pikiran penulis yang selaras dengan saya. Oh iya, untuk trigger warning, buku ini juga memiliki tokoh transgender, biseksual, dan beberapa di antaranya terinfeksi HIV.
Terima kasih. Been a while since I read a good book by Indonesian authors.
Novel ini ditulis dengan alur maju mundur melalui POV 3. Setiap bab dimulai dengan nama-nama istilah angin. Satu persatu dijelaskan, menurutku cukup padat dg hanya 140 halaman.
Aku pikir, novel ini jadi novel romance sendu berlatar negara Perancis. Tapi menjelang pertengahan buku, berubah mengejutkan! Rintik menemukan dan menyadari banyak hal baru dalam kehidupan spiritual dan supranaturalnya.
Selain itu, kisah Eleta dan Angin yang berbeda mungkin masih tabu bagi kita. Tapi nyatanya memang mungkin terjadi dan melibatkan kita dalam kisah yang rumit. Namun Rintik tidak menjauh maupun langsung ngejudge. Meskipun ia tidak setuju dg pilihan sahabatnya. Sebenarnya muncul beberapa clue tentang keadaan Angin, tapi aku tidak memahaminya. Endingnya? Ugh 😥
Settingnya di Paris sangat kuat. Novel ini ditulis saat beliau berada di Paris, jadi suasana Parisnya sangat terasa. Namun gambarannya sangat berbeda dari yg biasanya. Paris juga tidak selalu indah.
Buku ini sangat cocok untuk membaca dengan cepat. Buku ini juga memiliki alur maju mundur, tapi tetap saja kejadian di buku ini terasa sangat cepat dan menurut saya di dalam buku ini terdapat beberapa pemikiran transphobic dan homophobic serta terlalu agamis walaupun di dalamnya di katakan bahwa salah satu karakternya ‘tidak agamis’. selain itu terdapat beberapa percakapan antar karakter yang kurang terasa realistis, mungkin karena buku ini ditujukkan untuk menjadi buku novel pendek jadi diharuskan mempercepat percakapan antar karakternya. Tetapi walaupun begitu saya sangat menyukai ending dari buku ini, kebanyakkan penulis akan menuliskan sesuai dengan pembaca inginkan tetapi penulis dari buku ini malah memilih untuk mengikuti kata hatinya dan membuat buku ini menjadi realistis dan saya sangat suka ending yang realistis seperti itu.
"Yang menangkap cahaya. Seakan pagi yang menenggelamkan malam. Yang tersayang, tak luput dari ingatan...." Rintik pindah ke Paris demi mewujudkan mimpi putrinya. Selepas kepergian, River, suaminya, Rintik ingin memulai kehidupan barunya di sana.
Rintik bertemu kembali dengan teman-teman lamanya, pula dengan Angin sosok yang tanpa sadar dulu dikaguminya, akan tetapi ... Namanya Angin. Seperti namanya, ia mustahil dipegang dan tak tentu arah perginya, suka-suka dirinya, tanpa sebuah komitmen.
Kisah cinta klasik baru. Kehidupan berbeda dari yang kita tahu. Semacam kecantikan Paris yang akan dinilai berbeda jika melihat sampah puntung rokok dan kotoran anjing di jalanannya. Cinta bisa ditemukan di Tinder Cinta tak mengenal gender. Cinta tak selalu berbalas tapi,mungkin bisa menular.
Walaupun hanya 139 halaman sebenarnya cukup padat dan banyak pengetahuan yang terkandung di dlamanya misalnya tentang film dan Paris sendiri. Hanya saja rasanya terlalu memaksakan semua info itu bejejalan masuk ke dalam cerita, saya merasa ceritanya jadi lompat2 sehingga kesan yang ditimbulkan kurang dalam. Terlalu banyak isi yg ingin di muat dalam novel yang terhitung pendek.
Novel dengan plot twist yang aneh. Rintik ke Paris untuk memenuhi permintaan putrinya Rei yang ingin kuliah di luar negeri. Rintik lalu jatuh hati pada sosok Angin, yang sesuai namanya berembus tidak pasti.
Keambiguan Rintik yang menolak konsep mengubah gender tapi tetap berkawan dengan transgender, tidak religius namun membacakan Yasin untuk hantu di Paris. Aneh, benar-benar aneh
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menurutku cerita ini cukup lumayan cuma aku merasa terlalu singkat. Seperti perlu adanya pengembangan lagi di dalam cerita. Juga beberapa kata yang aku temukan semakin kebelakang perlu ada editing kembali. Contoh: Fi asat yg seharusnya firasat dan itu salah di beberapa halaman. Belum kata yang lainnya.
Gaya bercerita pengarangnya begitu khas, selalu menjelaskan hal-hal yang diketahuinya secara detail namun di sisi lain tidak memberitahu kepingan cerita yang lain. Menemukan karyanya seolahmembangkitkan ingatan bahwa saya dulu sering membaca karyanya. Jadi membaca novel ini sekadar nostalgia saja karena ia adalah pengarang lama zaman masih aktif di majalah.