Begitu sampai Jakarta, seperti setiap kali sampai Jakarta, seolah-olah ada yang selalu meyakinkan aku: inilah dunia! Sibuk berputar dan bising bagai gasing. Kapan gasing ini berhenti berputar? Sibuk apa saja gerangan orang-orang ini yang hilir-mudik ke sana kemari seperti terburu-buru?
Manusia memang aneh. Meski mengaku hamba Tuhan, terus saja berperilaku seperti tuan. Mereka bilang menirukan firman Allah, Tuhan menciptakan kita semata-mata hanya untuk menyembahNya, sementara untuk urusan rezeki, Dialah yang menjamin. Namun rezeki yang sudah dijamin Tuhan diburu, penyembahan yang dituntut oleh-Nya diabaikan. ”ltulah politik,” kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. ”Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku dan kamu ikut mendorong-dorongku untuk ikutan maju sebagai cawabup!"
Kumpulan cerpen yang ditulis dalam bentang waktu yang panjang hingga 2018 ini mencerminkan kedalaman, kepekaan, dan sekaligus kesederhanaan batin A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam menangkap segala reallitas di sekelilingnya, realitas negeri ini. Sebagai kiai, budayawan, dan seniman, cerpen-cerpennya diramu dengan sangat apik dan utuh, sehingga siapa pun yang membacanya bakal terkesan ”diingatkan, dimomong” dengan penuh kasih sayang.
Buku ini sangat berharga untuk direnungkan oleh semua kita dan sangat berharga bagi khazanah sastra Indonesia.
Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang. Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Di masa mudanya ia pernah nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma'shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo, di samping mengaji di di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa Rembang.
Gus Mus menikah dengan St. Fatma, dan dikaruniai 6 (enam) orang anak perempuan serta seorang anak laki-laki.
Selain dikenal sebagai ulama dan Rais Syuriah PBNU, Gus Mus juga budayawan dan penulis produktif. Ia kerap menulis kolom, esai, cerpen, dan puisi di berbagai media massa seperti: Intisari; Ummat; Amanah;Ulumul Qur’an; Panji Masyarakat; Horison; Jawa Pos; Republika; Media Indonesia; Tempo; Forum; Kompas; Suara Merdeka dll.
Kumpulan cerpen yang ringan, benar-benar bisa selesai dibaca dalam sekali duduk. Cerpen-cerpen Gus Mus di buku ini bisa dibilang ringan dari segi muatan agama (jauh lebih ringan dari punya Danarto, malah) dengan ciri khas penulis yang plural dan merakyat. Ceramah ala Gus Mus tidak ditampilan secara terbuka melainkan lewat peristiwa keseharian oleh orang-orang awam yang sering kita jumpai dalam sederhananya kehidupan. Mungkin, ini yang bikin tulisan-tulisan beliau terasa lebih merasuk ke benak pembaca karena tidak terkesan dipaksakan. Satu hal yang berulang kali disampaikan beliau lewat tulisan-tulisan, bahwa bahkan dalam menengakkan agamaNya pun ada rambu-rambu yang harus dijalankan. Tidak bisa langsung main hantam kiri kanan depan belakang mentang-mentang niatnya "baik". Dalam kumcer ini, Gus Mus juga menyinggung perilaku kita yang sejatinya sering lupa kepadaNya meskipun secara fisik tengah menyembahNya.
Seperti biasa cerpen² Gus Mus adem, menyindir tanpa membuat tersinggung. Bahasanya halus tapi lepas, tema²nya sederhana tapi dengan sudut pandang unik. Teknik berceritanya yang khas: konflik diurai sedikit demi sedikit, lalu di akhir diberi pelintiran alur. Mayoritas cerpen di buku ini pernah dipublikasikan di media, ada juga yang pernah dimuat di antologi. Disusun secara kronologis, antologi ini tampak sebagai lanjutan antologi "Lukisan Kaligrafi".
Kumpulan cerpen yang sangat ringan sekali. Bahasanya lugas dan tidak bertele-tele, tapi tetap mengalir. Cara penulisannya jenaka dan bersahaja. Rasanya seperti si penulis langsung bercerita di hadapan saya laiknya seorang kawan. Penuh kalam hikmah, umumnya perkara kekuasaan dan bagaimana semua itu membikin manusia lupa diri.
Saking ringannya, saya sampai lupa kalo sudah pernah baca buku ini beberapa bulan yang lalu :)
Sejujurnya, saya lebih suka Gus Mus bercerpen daripada berpuisi atau bertausiyah. Semua cerpen di buku ini saya sukai. Sulit memilih yang paling favorit.
1. Perempuan yang Selalu Mengelus Dadaku
Cerdas sekali bahwa identitas, ruang waktu, dan hal ihwal konkrit lainnya dibuat kabur dan minim, sehingga kita fokus pada peristiwa batinnya. Bahwa kita tak perlu siapa, dimana, kenapa. Lupakan itu semua. Baca dan tangkap saja "rasa"nya. Klimaks sekali endingnya. Nampol makjleb gedebug mengiba-iba.
2. Nyai Sobir
Seumpama karya foto, angle-nya unik. Landskap yang "biasa" , oleh beliau dipotret dari sudut pandang yang jarang. Jadinya terasa sangat solid dibaca.
3. Mbah Mar
Walaupun struktur dan idenya adalah ciri khas yang hampir selalu dipakai di sebagian besar cerpen-cerpennya, entah kenapa yang satu ini saya sangat suka. Dengan manis Gus Mus menembak kaum intelek karbitan yang meremehkan tradisi. Tak ada kemuliaan dalam arogansi. Itu yang saya garis bawahi.
Kisah-kisah yang dihadirkan di sini membuatku berpikir akan peristiwa yang tengah terjadi. Kemudian menerka apa yang ingin disampaikan penulis untuk kita. Sesekali merasa tertampar dengan pesan tersirat yang kutangkap. Hm, tapi menurutku ada beberapa cerita yang masih belum juga kupahami maknanya.
Di buku ini, ingatan saya tentang cerpen Gus Ja'far tidak hilang. Gus Mus berdakwah lewat cerpen tanpa membuat pembaca merasa sedang digurui. Narasi yang mengalir dan sangat dekat dengan kita. Seperti didongengin kakek saya di masa kecil dulu.