Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? -
Under a bright sunny sky, the three-day Byron Bay Writers’ Festival welcomed Andrea Hirata who charmed audiences with his modesty and gracious behavior during two sessions.
Andrea also attended a special event where he and Tim Baker, an Australian surfing writer, spoke to a gathering of several hundred school children. During one session, Andrea was on a panel with Pulitzer Prize winning journalist from Washington, DC, Katharine Boo, which he said was a great honor.
The August event for the school children was very meaningful to Andrea, the barefooted boy from Belitung, as he made mental comparisons with the educational opportunities of these children, compared to what he experienced.
And now his own life story is about to become even more amazing, as his book Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) is being published around the world in no less than twenty-four countries and in 12 languages. It has caught the eye of some of the world’s top publishing houses, such as Penguin, Random House, Farrar, Straus and Giroux, (New York, US) and many others. Translations are already on sale in Brazil, Taiwan, South Korea and Malaysia.
All this has come about because of the feeling of appreciation that the young Andrea felt for his teacher, Muslimah. He promised her that he’d write a book for her someday. This was because for him and his school friends, a book was the most valuable thing they could think of.
Andrea told a story that illustrated this fact. When royalties flowed in for him he decided to give his community a library. He spent a lot of money on books. He left the village headman in charge of administering the library. However, when he came back several months later, all the books were gone. People loved the books, but they had no concept of how a lending library functioned.
“Some of them could not even read, but they just loved to have a book, an object of great value and importance, in their homes. We will restock the library with books and this time it will be run by our own administration,” he laughed.
Andrea told this story as we sat in the coffee shop adjoining a Gold Coast City Library, one of 12 scattered around the city. One of the librarians, Jenneth Duque, showed him around the library, including the new state-of-the-art book sorting machine, for processing returns located in the staff area. As he saw the books being returned through pigeonholes by the borrowers and the computerized conveyor belt sorting them into the correct bin for reshelving, the sight made him laugh and prompted the telling of that story.
Andrea wrote the book for his teacher while in the employ of Telkom, but the completed manuscript was taken from his room, which was located in a Bandung student accommodation community. Whoever took the manuscript knew enough to send it to a publisher and that’s how Andrea, an unhappy postal service worker who had studied economics in Europe and the UK, became the accidental author of the biggest selling novel in Indonesia’s history.
He has since written seven more books.
Fast forward to 2011 and Andrea was in Iowa, the US, where he did a reading of his short story, The Dry Season. He was approached by an independent literary agent, Kathleen Anderson. They talked, but for six months there was no news until an email arrived telling him that one of the best publishers in the US, Farrar, Straus and Giroux, had accepted his book.
Then every week, more publishers said “yes” and now he has 24 contracts from the world’s leading publishers.
Andrea worked with Angie Kilbane of the US on the English translations of Laskar Pelangi and its sequel Sang Pemimpi (The Dreamer). Translators from several other countries have visited his home village in Belitung to do research.
“For a long time I wondered what was the key to the enormous success of my book,” Andrea said.
“I think there’s no single right answer. Perhaps people are fed up with writing focused on urban issues or esca
1. Lebay. 2. Lebay. 3. Lebay. 4. Adegan jambu mawar okelah, karena mengingatkan pada masa kecilku yang juga suka jambu mawar dan rebutan sama lutung. 5. Judul menyesatkan. 6. Ada orang bisa menyelam tanpa alat selama 20 menit? WOO HOO SAKTI!!! 7. Itu adegan ke dokter gigi buset amat. Dari halaman awal di 12 apa 13, baru disinggung lagi di halaman 400an. 8. Diksi okelah. Bertele-tele, ya mungkin khasnya ngalor ngidul Melayu begitu kali... 9. Katanya orang Melayu Dalam khasnya adalah, hebat berimajinasi... makes me wonder. 10. Kalau ini kisah nyata, kok ada kontradiksi dengan kisah2 sebelumnya. Kalau ini fiksi, kok banyak yang tak masuk akal. Fiction has to make sense! 11. Duh, masih ada typo. Bisa ada farewel dan konsisten itu, bingung. Selingkung penerbitkah? 12 - 20. Lebayyyy.
Kalau saya akan membuat sinopsis dari buku yang sudah setahun lebih dinanti sejuta umat ini, maka saya akan menuliskannya seperti ini:
"Ikal telah berhasil menyelesaikan S2-nya di kampus mentereng Sorbonne, Perancis, dan kini kembali ke kampungnya di pedalaman Belitong. Tanpa pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya, pemuda ini menjelma menjadi pengangguran kronis. Capek terus-terusan dikejar target berumahtangga oleh ibundanya, pemuda ini mengalihkan perhatian dengan memulai lagi mengamati lingkungan masyarakat kampungnya. Ia mencatat beberapa karakteristik kaum Melayu pedalaman dan etnis lain di kampungnya yang telah mendarah-daging hingga berbau busuk tak kepalang. Misal: memberi julukan-julukan seenak jidat pada nama seseorang, membual setinggi langit, sampai bertaruh tak kenal rasio untuk hal-hal kecil.
Kemudian terdamparlah sesosok mayat bertato kupu-kupu di perairan desa mereka, dan Ikal pun menyadari misi hidupnya mencari A Ling masih harus terus ditunaikan. Ingat ya, Eropa dan Afrika pun telah dijejakinya demi cinta pertamanya ini. Ia pun giat bekerja, jungkir balik mengumpulkan rupiah demi membangun dengan tangannya sendiri sebuah kapal untuk menyeberangi lautan, menggenapi kemungkinan A Ling terdampar di pulau yang dikuasai perompak laut terkejam.
Dengan segenap bala bantuan, termasuk dari si jenius Lintang yang kini jadi juragan kopra, dan dari dunia gaib yang masih diakrabi Mahar, kapal itu pun selesailah. Ikal siap mengarahkan haluan ke Selat Karimata. Nah, berhasilkah Ikal menaklukkan kekejian para lanun? Akankah ia menjumpai lagi A Ling di pulau loncatan ke Singapura itu? Mungkinkah Ikal akhirnya dapat hidup bahagia bersama A Ling?"
Demikianlah sinopsis saya, tanpa emosi, tanpa spoiler. Mudah-mudahan. Tidakkah akan terasa bahwa cerita ini bakalan begitu adventurous, fantastis, bahkan romantis? Nyatanya memang begitu, karena demikianlah adanya. Petualangan Ikal kembali mengajak pembaca berdebar mengalami sulitnya sidang tesis magister di negeri orang, menjalani rute kembali ke Belitong lewat perjalanan laut dan dikocok jalan kampung dalam bus tua Dendang Ria Suka-Suka yang disupiri Bang Zaitun, mantan pemimpin Orkes Melayu Pasar Ikan Belok Kiri. Belum lagi nanti ketika Ikal bercucuran keringat membangun kapalnya. Bisa jadi kuping ikut panas 'mendengar' celaan orang kampung yang hobi nongkrong sambil berbual dan bertaruh di kedai kopi Pasar Gantong.
Andrea Hirata masih fasih menggoreskan untaian kalimat yang berbunga, diksi yang jenaka, serta kata bercabang yang sulit dikira maunya. Sedikit-sedikit kita dibuatnya terkekeh, walau kadang agak telat. Satu peristiwa kadang tidak cukup diungkap lewat satu kalimat S-P-O-K standar, kata-kata dilipat hingga sekiranya dijajar akan mencapai pucuk pohon kelapa.
Stop dulu. Kalau Anda berminat membaca bukunya tapi sampai sekarang belum baca, sebaiknya jangan diteruskan membaca racauan saya di bawah ini. Nggak pakai alasan, pokoknya jangan. Ntar sedih.
Kalau sudah membaca, atau tidak takut ancaman di atas, mari lanjutkan. Dinanti-nanti sejak buku ketiga Edensor muncul Mei 2007, bagi saya terbitnya buku MK ini menjadi anti-klimaks misi kepenulisan seorang Andrea Hirata yang dimulainya dengan karya fenomenalnya Laskar Pelangi. Nah lho? Kok bisa...? Ya bisa dong. Karena kok isi buku ini jadi kacau tak karuan maunya ke mana.
Pertama, dari segi cerita. Penuh sekali romansa kampung dan manusia-manusianya yang dijejalkan Andrea di buku ini. Apakah lagi-lagi ini ekspresi penulis yang selalu menyatakan dirinya orang kampung pedalaman atau sekedar sinismenya yang terlanjur akut? Banyak pembaca yang terlanjur percaya ucapan pria ikal ini sebelumnya, yaitu bahwa buku ini akan menghadirkan penceritaan mengenai wanita dalam perspektif berbeda. Nyatanya, tidak ada tokoh wanita yang signifikan dalam cerita ini. Sepak terjang Makcik Maryamah yang katanya pandai mengajari pengunjung kedai kopi bertanding catur macam Anatoly Karpov, hanya muncul di sedikit halaman. Nurmi putrinya, cuma sekedar menjadi latar Ikal yang mendadak ingin menguasai satu lagu dengan biola.
Masih ada Budi Ardiaz, dokter gigi muda dari Jakarta yang ditugaskan di kampung pedalaman Belitong itu. Dedikasi dan pilihan hidupnya begitu tajam dipaparkan, namun kebebalan masyarakat kampung yang tidak mau berobat ke kliniknya tidak bisa ditembusnya dengan keramahan dan kerajinan berkebun. Ia tetap butuh turun tangannya Ketua Karmun. Masih kurang keren. Sedangkan A Ling, tokoh yang paling dirindukan (oleh Ikal, bukan oleh ibu saya tentunya), memang mendominasi hari-hari Ikal melamun di kampung. Tapi kebanyakan sebagai bayangan romantisme, bukan tokoh dengan kegiatan riil yang punya action. Ini sih lagi-lagi cuma sekedar Tokoh Cewek Dengan Potensi Asmara (meminjam istilahnya Om Isman di Parodi Film Seru).
Kedua, dari segi alur. Ini lho, bahayanya sebuah dwilogi, trilogi, tetralogi atau pancalogi. Pembaca (terutama yang rewel seperti saya) pasti masih ingat kejadian di buku-buku sebelumnya. Kenapa belasan tahun lalu Ikal saat berpisah dengan A Ling, diceritakan bahwa gadis itu pergi ke Jakarta menemani bibinya dalam LP, lalu bisa-bisanya dicari seantero Eropa dan Afrika dalam Edensor , sekarang kok tahu-tahu katanya terdampar di antah berantah begitu? Tadinya juga, saat diceritakan dalam LP bahwa Lintang masih miskin dan jadi supir truk tambang, Mahar sudah berhenti aktif di dunia sesat dan menjadi seniman "lurus". Mengapa sekarang saat Lintang sudah jadi juragan kopra, Mahar ternyata masih menguasai dunia bau menyan itu? Paradoks sekali.
Ketiga, segi tuturan. Oke, Ikal orang Melayu yang sejak bisa berucap sudah biasa berpanjang-panjang kata. Saking panjangnya, karena kebanyakan jadi pusing. Jadi hiperbolis. Episode Dendang Ria Suka-suka, misalnya. Perlukah sebanyak itu intro untuk memulai kegiatan Bang Zaitun memutar lagu? Berputar-putar seperti perjalanan ke kampung Gantong. Atau prosesi operasi gigi Ikal, yang sampai dilaporkan secara langsung oleh stasiun radio.
Keempat, editing. Kirain penerbit sudah kenyang masukan atas lolosnya berbagai kesalahan penyuntingan isi dalam Edensor, ternyata belum. Bahasa Latin ilmiah masih ada walau sudah tak melimpah ruah. Tapi banyak farewel masih lolos dengan manisnya, juga salah sebut di sana-sini.
Kalau banyak yang mempersoalkan akhir cerita, buat saya tak masalah. Cerita ini milik Andrea, terserah dong cara dia mengakhirinya. Tidak mungkin semua cerita berakhir "...and they live happily ever after". Inilah hidup, inilah dunia, inilah drama, inilah khayalan. Sekiranya ada salah satu tokoh penting yang "is dead" pun saya tak akan protes, karena sudah lama juga jargon "memoar" buat tetralogi LP ini nggak mempan buat saya. Empat buku ini hanya sebuah cerita yang memukau, dari seorang pencerita yang inspiratif, kreatif dan terus saja sudi berbagi pada makhluk tukang cela seperti saya.
Karena cerita buku ini bagi saya sangat imajinatif, maka pada review saya di multiply, saya golongkan buku ini dalam genre "Science Fiction & Fantasy". Fantasi yang keren, tiga bintang. I like it.
Proses saya membaca buku ini: 30/11 Belum akan saya baca sampai bulan depan (yang akan dimulai besok), tapi sudah banyak cerita tentang buku ini. Dan terutama mengenai perjuangan.
Satu, perjuangan Roos, Lita, Dian dkk yang hadir saat launching buku ini (plus konferensi pers infotainment) Jumat (28/11) di Cilandak dan menyisihkan satu buruan mereka buat saya. Ada tandatangan Andrea di dalamnya, walau kali ini tanpa embel2 "Dear Vera" lagi, hehe... Dua, perjuangan Roos dan Dahlia mengantarkan buku ini pada saya sore ini di Blok M Plaza. Tiga, perjuangan Nanto pulang dari Bandung yang mampir ke Blok M untuk segera mengejar bis pulang ke Tangerang (ada hubungannya ga?). Empat, perjuangan saya menanti metromini/mikrolet/taksi di Kampung Melayu sampai basah kuyup lebih setengah jam di bawah hujan untuk mendapati genangan air nan parah di sekitar daerah penyangga komplek perumahan saya.
Semua perjuangan ini terasa manis manakala buku ini saya serahkan untuk dibaca pertama kali oleh Ibunda tersayang (yang setahun lebih memendam rindu pada Arai dan mengharap doktor mikrobiologi lulusan Essex University itu untuk jadi mantunya, hehehe...).
Ibu, selamat membaca. Nanti saya tuliskan review-nya deh di sini.
4/12 Tambahan setelah membaca hingga 211 halaman (Mozaik 33): Semalam saya pulang ke Jakarta, disambut Ibu yang sudah mengkhatamkan 504 halaman buku ini, yang tidak membiarkan saya membaca Kak Maryamah ini dengan tenang karena sedikit2 cerita tentang Arai dan Nurmala, tentang Laskar Pelangi belasan tahun kemudian, tentang Pulau Batuan, tentang A Ling, dan tentang ending yang nyebelin.
Dengan "teror" dari Ibu yang sudah pasrah tak bisa bermantukan Muhammad Arai, Ph.D. itu, jangan heran kalau saya jadi sudah tahu apa yang termaktub pada halaman 504.
6/12 Akhirnya selesai juga dibaca setelah saya didera berbagai ngilu sendi akibat seharian kemarin mundar-mandir di area outbond D'Jungle di Ciburial kemarin. Bintangnya sementara tiga. Sebenarnya 3,5. Tapi tunggu sehat dulu deh, biar bisa berpikir jernih dan sempat kembali lihat catatan.
Saya menamatkan bacaan ini dalam keadaan terkapar di tengah kompresan, jadi entahlah apakah kesimpulan ini memang asli dari bukunya atau jangan-jangan bercampur aduk dengan igauan.
Bintang 1: Setia berakar pada budaya Belitong Intinya adalah mengenai semacam gegar budaya balik yang dialami sang tokoh, Ikal, sekembali dari melanglang buana bersekolah tinggi. Ternyata, ilmu dan pengalaman yang telah dia peroleh dari petualangan hebatnya itu pun tidak serta-merta menjamin dia bisa mengatasi segenap kesulitan yang dihadapi di daerah asalnya sendiri, bahkan tidak untuk sekadar mengatasi gigi bungsu. Sepak terjangnya yang canggung itu menjadi pusat perhatian masyarakat sekeliling, sebagai hiburan sekaligus ajang taruhan mereka di warung kopi. Walaupun tidak lagi banyak menyorot masalah pendidikan formal, kali ini lebih mengamati hubungan antarmasyarakat dalam sistem pemerintahan desa, lumayanlah untuk dijadikan bahan pembahasan reformasi birokrasi dan otonomi daerah...
Bintang 2: Penuturan yang lucu, berani malu dan bela-belain membumbui dengan misteri, horor, twist; rada maksa tapi meriah lah Bab-bab awal cukup menggugah penasaran, walaupun menurut hemat saya cerita kelulusan di luar negeri seharusnya ditamatkan saja ke dalam buku sebelumnya, agar masing-masing fase kehidupan menjadi utuh mandiri di tiap buku (sebagaimana bab-bab buku kedua, SP yang terkait alur Edensor, buk ketiga, juga mendingan disatukan sekalian...) Banyak hal baru yang belum digali dalam ketiga buku sebelumnya mengenai keadaan masyarakat Belitong, antara lain melalui stereotip masing-masing kelompok suku dan ras, diiringi julukan-julukan sesuai sifat masing-masing tokoh Melayu yang berperan di sini. Ternyata dari situlah, sepintas lalu, judul buku ini terumuskan... Jadi sesungguhnya Mak Cik Maryamah itu bukan siapa-siapanya Bang Anatoli, cuma penggemar berat, kali ya. Lagipula selain itu tak ada cerita lebih lanjut tentangnya. Memang antara judul, subjudul, gambar sampul dan isinya saling menipu. Mungkin sengaja supaya jalan cerita sulit ditebak ya.
Bintang 3: Biasa, bonuslah karena diundang dan dapat tanda tangan... Entah sebagai balasan undangan acara-acara saya selama ini atau hanya terimbas viral marketing. Walaupun sebelumnya tak ada sebersit pun niat mengejar-ngejar buku ini, karena kebetulan letak Mizan Point sangat dekat dengan tempat nongkrong saya, maka tanpa pikir panjang, hadirlah saya menyambut undangan itu mengajak teman-teman. Lumayan ada sandiwara, pentas musik, artis-artis yang beredar dan dapat tanda tangan langsung. (walaupun ternyata harus beli sendiri, gak dapat gratisan, huh)
Bintang 4: Ini subjektif memang; POKOKNYA ADA LANUN!!! Alur cerita yang melibatkan pembuatan perahu dan pelayaran menyeberangi laut, mungkin bagi beberapa pembaca membosankan, atau terkesan mengawang, atau menyimpang dari harapan, tapi justru inilah yang sedikit memenuhi tuntutan saya akan pengimbang dominasi asing dalam kisah terfavorit seperti One Piece dan Pirates of the Caribbean. Horeee! Betul banget, betul banget! Lanun Melayu kan sejak zaman Borobudur jelas paling unggulan!!! Ngapain pula anak pulau dari negara maritim terbesar di dunia, jauh-jauh berlagak menantang Eropa-Afrika, sementara menaklukkan Selat Malaka yang ada di pelupuk mata malah belum sempat! Hanya saja fenomena ini masih dalam tahap pengamatan... Coba tokoh utamanya terlibat langsung jadi perompak sekalian, itu baru seruuu.
... Sayangnya banyak yang janggal dan rancu.
Penampilan kembali tokoh-tokoh Laskar Pelangi dengan sensasional terkesan mengada-ada. Penggambaran keadaan masing-masing juga kok agak bertentangan dengan epilog dalam buku LP. Mahar yang katanya tobat, masih terlibat perdukunan. A Kiong yang dibilang punya toko kelontong, di sini buka warung kopi. Lintang kalau sampai sebegitu pintarnya, ya memang gak perlu sekolah, ikut ujian persamaan kek, lalu cari karier yang lebih bermasa depan? Eh tapi mungkin bekerja serabutan begitu justru lebih nikmat daripada jadi pejabat... Yang aneh, tak satu pun dari mereka terlibat sebagai anggota masyarakat sekitar, baik ikut bertaruh maupun mendapat julukan. Apakah sudah beda pergaulan?
Bayangan sosok sang cinta pertama yang di LP ditekankan tak terlacak lagi dan hanya akan disimpan sebagai kenangan indah --walaupun diam-diam masih didambakan di dua buku selanjutnya-- sampai di MK semakin memancing Ikal menempuh hal-hal yang paling tak masuk akal dan tidak konsisten. Penokohan A Ling sendiri, tetap mengambang di 'permukaan'. Informasi yang bertambah hanyalah, segurat rajah, dan sepintas kisah-kisah perjumpaan masa kecil yang belum dibeberkan di LP (lho ternyata sering juga ya ketemuannya?) Rentang waktu yang berlalu tidak memperdalam pemahaman mengenai sifat-sifatnya. Jangan-jangan dia muncul lagi hanya demi memenuhi khayalan pembaca.
Penyuntingnya ke mana aja sih?
Mengapa penyunting tega lepas tangan meloloskan kerancuan dan kejanggalan seperti itu. Di buku pertama bolehlah, sebagai "terobosan baru oleh penulis pemula". Di buku kedua dan ketiga saja sudah aneh: masa sih kelompok sebesar Mizan kekurangan proofreader yang cukup intelek untuk lebih kritis meninjau pernyataan-pernyataan sok ilmiah agar tidak menyesatkan pembaca yang tidak tahu dan malas mengulik? Haree genee, kroscek info lewat wiki/google kan bisa? Perlukah sedemikian terburu-buru menerbitkan serangkai tetralogi?
Sementara yang ini kan adalah buku keempat, yang sudah dirancang sejak sekian lama untuk mengikat ketiga buku sebelumnya sehingga menjadi satu kesatuan utuh. Ini kok malah membuyarkan. Saalh keitk™ juga masih ada di sana-sini. Seharusnya baik penulis, penyunting maupun penerbit sudah lebih piawai mengerjakan tugas masing-masing, apalagi toh pangsa pasarnya cukup aman karena para penggemar berat sudah menanti-nanti setengah gila. Apa sih susahnya meningkatkan mutu. Katanya berevolusi, mana? Jangan-jangan penerbit dan penyunting sengaja membiarkan itu apa adanya penulis? Supaya, katakanlah, manusiawi?
Tapi jangan-jangan kerancuan memang menjadi senjata utama dan gongnya buku ini... Antara halaman pertama dengan lembaran paaaaaling akhir, adalah kerancuan paling parah dalam buku ini; strategi yang sangat menarik, tak terduga, patut direnungkan serius, namun sama sekali tidak lucu... Hmmm. Apakah ini termasuk pelajaran moral? Apakah ini islami?
*** Yang menjengkelkan adalah sistem promosi yang menunggangi gunjingan. Kalau mau membantah secara gak penting begitu jangan disambi di hari peluncuranlah! Pintar-pintarlah meredam lewat jalur belakang. Seakan-akan bukunya saja tidak cukup kuat mengundang wartawan yang agak lebih bermartabat daripada infotainment. Tapi mungkin perlu maklum, seniman dan pujangga rata-rata memang orang aneh, apa boleh buat.
Kesimpulannya, mau lahir dan besar di manapun, Orang Melayu Tetap Pembual. huh.
okey, setelah menenangkan diri selama semalam suntuk rasanya saya sudah siap untuk menulis review ttg buku yang entah kenapa berjudul maryamah karpov ini.
dahulu kala sekali, saya pernah secara tak sengaja membaca sebuah interview andrea hirata. Dimana dalam wawancara tersebut dia bercerita sepintas ttg buku ini, yang kala itu masih jauh dari waktu diterbitkan. andrea bercerita, bahwa dalam sebuah book discussion dia bertemu dengan seorang pembaca wanita, middle age woman, yang sosoknya sangat pas untuk menjadi inspirasinya untuk buku keempat ini. karena dalam maryamah karpov, si ikal ini ingin menulis ttg perempuan. menarik bukan? dan salahkan rasanya kalau lantas saya berpikir bahwa buku ini adalah fiksi dan karangan layaknya sebuah novel biasanya?
tapi,, saat saya akhirnya membaca buku ini , cerita nya sangat berbeda dengan dugaan saya sebelumnya.berbeda, tapi tidak lantas lebih buruk.
banyak orang meributkan apakah kisah dibuku ini nyata adanya atau tidak. ah, saya tidak peduli kawan...selama dia bisa menulis dan membuat saya tergugah, terserah sajalah isi cerita itu benar atau tidak. karena toh buku ini adalah novel, bukan buku panduan atau apapun yang keasliannya menjadi point penting. so, what's the fuss?just enjoy it-lah...
buku ini banyak terfokus pada kehidupan sehari-hari orang-orang melayu, hokkian, ho pho,suku sawang, dan orang-orang bersarung.mungkin cerita ttg mereka tidaklah penting, tapi hei, tingkah polah mereka menghibur nian.ada pula kisah ttg para lanun alias bajak laut, dari yang asli yang kelakuannya bak robin hood, sampai lanun masa kini yang pure criminal.kalau tak membaca buku ini, manalah saya akan tau ttg keberadaan mereka.menambah wawasan bukan?
ada satu bab dalam buku ini yang merupakan bab favorit saya, yaitu bab berjudul "cara pandang". Menurut saya bab ini cukup inspiratif, sangat sesuai dengan tetralogi laskar pelangi yang katanya memang banyak memberi inspirasi di sana-sini.
intinya,. saya lagi2 mengacungkan semua jempol saya untuk andrea, terlepas dari apakan cerita ini benar atau tidak, toh tulisannya memang membuktikan bahwa dia adalah seorang penulis yang sangat piawai mengolah kata. dan itu, sudalah cukup untuk ku , Boi.
ps.well, tapi ttp aja ending nya bikin bete.saranku kawan, cukuplah kau membaca sampai halaman 495 saja. percayalah, percayalah...!
Saat membaca lembar demi lembar Maryamah Karpov, sulit bagi saya untuk percaya bahwa buku itu adalah memoar. Pun saat tamat membacanya, saya sangsi.
Maryamah Karpov mengajak pembaca bertualang dalam dunia khayalan yang hiperbolis. Dahsyat nan menggugah imaji. Begitu imajinatif hingga condong kepada surealis, meskipun—menurut dugaan saya—Andrea mati-matian membuatnya realis. Karena itu, pada titik ini Andrea Hirata telah gagal.
Apakah ini lantaran persepsi yang telah tertanam pada pembaca bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah memoar? Maka setiap kisah yang ‘tidak masuk akal’ dalam Maryamah Karpov membuat pembaca skeptis, sehingga menilainya condong kepada surealis alih-alih mengada-ada.
Saya sendiri sangsi tentang waktu pembuatan novel keempat tetralogi Laskar Pelangi ini; apakah sebelum Andrea tenar atau sesudah novel pertamanya booming? Apakah ketika shooting film Laskar Pelangi sedang berlangsung atau jauh hari sebelum itu? Sebab saya merasakan ‘kenarsisan’ Ikal yang cukup akut dalam buku ini. Jauh berbeda dari tiga buku sebelumnya yang relative rendah hati.
Yang menjadi tanda tanya berikutnya adalah; jika novel ini ditulis setelah Andrea tenar, ia sangat tidak antisipatif, karena berkali-kali ia gagal mengejutkan pembaca. Dengan gaya bertuturnya yang khas pada tiga novel sebelumnya, pembaca sudah sangat mahfum dengan jalinan kata-kata Andrea, sehingga kejutan yang telah disiapkannya tidak lagi mengejutkan.
Sebagai contoh; lika-liku kata-kata Andrea tentang mimik ayahnya yang hendak mengungkapkan sesuatu saat pertama kali melihatnya pulang dari Eropa, sangat dapat ditebak arahnya. Sehingga klimaks di akhir bab tidak lagi mengejutkan. Sangat berbeda ketika membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Saya bisa tertawa terbahak-bahak atau terisak-isak mendapati klimaks di akhir bab. Bisa jadi, karena pada era tiga novel sebelumnya, pembaca masih awam dengan gaya bertutur Andrea.
Roxana
Kehadiran Roxana di infotainment sedikit banyak mengganggu persepsi pembaca saat membaca novel ini. Apalagi Roxana amat jauh dari deskripsi tentang A-Ling. Sehingga—sekali lagi—membuat pembaca sangsi bahwa Ikal benar-benar bertemu A-Ling. Apalagi di akhir cerita, Andrea menggantung kisah antara Ikal dan A-Ling. Entahlah, apakah ini strategi bisnis agar mungkin dibuat sekuelnya.
Namun demikian, eksistensi Roxana menjadi misteri baru dalam wacana riwayat hidup ‘Pendekar Ikal’, karena kehadirannya seolah menjadi bayang-bayang A-Ling. Tapi jangan khawatir, bagi yang tidak mengikuti infotainment, tidak akan terpengaruh pada sosok Roxana berikut pernyataannya yang cukup membuat penggemar Andrea kecewa atau malah tidak percaya.
Pernyataan itu adalah tentang ‘bualan’ Andrea dalam memoar tetralogi Laskar Pelangi. Roxana menyebut Andrea Hirata berani berbohong di muka publik lewat keempat novelnya ini. Entahlah… hanya saja, setelah membaca Maryamah Karpov, pernyataan Roxana tersebut menjadi cukup dipertimbangkan. Apalagi saya mencium aroma kisah ‘mengada-ada dalam buku ini. Hal ini terbaca lewat inkonsistensi Andrea pada beberapa ‘fakta’.
Salah satu contohnya adalah tokoh Mahar. Pada novel pertama, Mahar dikisahkan telah insaf dari fanatisme dunia gaib dan akhirnya menjadi guru seni di sebuah sekolah. Namun aneh, tokoh Mahar dalam Maryamah Karpov dikisahkan justru makin menjadi-jadi ilmu perdukunannya. Pun Societeit de Limpai yang telah bubar di akhir buku Laskar Pelangi, di novel keempat ini mereka hidup lagi.
Pesan Moral
Membaca Maryamah Karpov jauh berbeda dengan membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Edensor. Meskipun gayanya masih mirip (atau tidak terlalu sama), satir dan hiperbolis, namun kesan yang ditimbulkannya sangat berbeda. Pesan moral yang inspiratif hampir tidak ditemukan di sini.
Saya menganggap pada titik ini Andrea pun gagal, sebab kesan yang tertangkap tak lebih dari sekedar petualangan khayali melintasi samudara nan garang demi cinta pada seorang gadis Tionghoa. Selebihnya, tidak ada pesan moral yang menggugah pembaca seperti tiga novel sebelumnya.
Saya mendapati banyak orang terinspirasi untuk belajar lebih giat gara-gara membaca Laskar Pelangi. Menekuri kisah Lintang dalam novel pertama ini membuat semua yang membaca menjadi lebih mensyukuri hidup. Mirip dengan novel pertama, banyak orang terinspirasi untuk melanjutkan sekolah tinggi dan mencari beasiswa ke luar negeri lantaran membaca Sang Pemimpi dan Edensor. Sayangnya, tidak demikian halnya dengan Maryamah Karpov. Entah karena saya overestimate ketika hendak membaca, atau memang karena karya ini kurang membumi? []
2-3-1-4 Ah, Kawan (Andrea Hirata mode on), jangan mengira angka-angka di atas adalah formasi tim sepakbola Real Madrid, walaupun akan sangat seru menempatkan 4 striker sekaligus untuk membobol gawang lawan. Formasi angka tersebut adalah urutan pembacaan buku tetralogi Laskar Pelangi. Saya sudah lama mendengar nama Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya. Namun saat itu, saya belum tertarik untuk membaca satu pun dari buku-buku tersebut. Sampai akhirnya, ketika buku “Sang Pemimpi” dipilih menjadi materi siaran radio “Buku Kita” di VHRmedia.com, barulah saya mulai membaca buku itu, dan tentu saja diawali dengan “Sang Pemimpi”.
Membaca “Sang Pemimpi”, mengingatkan saya dengan masa-masa remaja di sekolah dulu. Kemungkinan besar, kalau kamu dulu menghabiskan masa remaja dan sekolah di desa atau kampung atau setidaknya kota kecil, kamu pun akan merasakan apa yang saya rasakan saat membaca buku ini. Déjà vu!!! Kira-kira begitulah saya mengibaratkannya. Kemudian, “Edensor” pun tidak ketinggalan. Buku ini juga penuh dengan inspirasi, setidaknya buat saya. Bagaimana usaha dua orang “kampung” mengejar mimpi-mimpi mereka. Menarik!!! Berikutnya, “Laskar Pelangi” menyusul telat. Buku ini pun tidak kalah inspiratif. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan. Dan, kemiskinan tidaklah seharusnya menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mengenyam pendidikan. Tidak perlu gedung, meja, kursi, dan buku-buku mahal. Laskar Pelangi membuktikan bahwa di tanah lapang sekalipun orang bisa belajar. Di sekolah reot sekalipun, bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar. Semua tergantung dari kemauan Kawan (lagi…Andrea Hirata mode on). Setidaknya, itulah beberapa pesan yang bisa saya tangkap.
Well, tiga buku pertama yang menarik dari sebuah tetralogi, membawa angan TERBANG dalam tanya: “Akan seperti apakah akhir dari kisah ini? Bagaimana dengan A Ling, Lintang, Arai, dan siapa pula Maryamah Karpov ini? Tak sabar ingin segera mendapatkan buku terakhirnya yang dari awal sudah di dengung-dengungkan akan berudul “Maryamah Karpov”.
Dan….(dengan gendang bertalu-talu, gosip yang bermunculan sejalan dengan penulis yang sudah dianggap sebagai selebritis) akhirnya buku terakhir ini diluncurkan juga. Cukup (mungkin sangat) tebal, 504 halaman.
Beberapa hari kemudian…selesai dibaca.
Saya hanya bisa menikmati sebagian dari sejumlah mozaik yang ada dalam buku ini, yaitu ketika Ikal berlayar ke Batuan untuk mencari A Ling. Cukup seru, walau berakhir tidak seru. Selebihnya, buku ini lebih banyak (kalau bisa dibilang berlebihan) menceritakan kebiasaan-kebiasaan orang Melayu di Belitong sana. Ketika membaca “Laskar Pelangi”, “Sang Pemimpi”, dan “Edensor”, kisah dalam tiga buku itu diceritakan dengan cara yang bisa membuat saya tersenyum dan kadang tertawa. Dan, “Maryamah Karpov” pun dikisahkan dengan gaya yang sama, tapi kok…rasanya jadi garing ya…? Tak ada lagi senyum, apalagi tawa. Mungkin aku sudah terlanjur “kenyang” dengan tiga buku yang pertama. Entahlah… Pesan moral yang ke 212 (Kapak Sakti) “Jangan menyajikan makanan dengan cara yang sama, bisa membosankan”.
Kenapa berjudul “Maryamah Karpov”? Di tambah anak judul “Mimpi-Mimpi Lintang”. Dari buku setebal 504 halaman ini, saya cuma membaca beberapa baris kalimat yang menjelaskan siapa tokoh Maryamah Karpov ini. Penjelasan yang hanya secuil untuk sebuah judul. Malahan Nurmi, anaknya Mak Cik Maryamah Karpov ini, yang lebih banyak dapat porsi. Pada saat membaca tulisan “Mimpi-Mimpi Lintang” dibagian sampul, saya berharap akan membaca kisah tentang Lintang serta mimpi-mimpinya, karena Lintang ini menjadi tokoh yang mengangumkan buat saya. Ternyata oh ternyata, “Mimpi-Mimpi Lintang” hanyalah sebuah nama kapal buatan Ikal yang didesain oleh Lintang.
Saya jadi teringat ketika membaca sebuah novel berjudul “Levina”. Judul ini tentu mengingatkan saya dengan kapal Levina yang terbakar, karam, serta merenggut puluhan jiwa. Namun, novel itu hanya berkisah tentang cinta ala sinetron yang berakhir di sebuah kapal Levina yang terbakar. Judul, ya betul…. Saya tidak tahu ini akan menjadi penyakit gila nomor berapa: “Buatlah judul seheboh mungkin, soal hubungannya dengan isi cerita, itu urusan belakang kawan.”
Angan yang sempat terbang dalam tanya, kini mendarat darurat, tersungkur dan GUBRAK!!!
Rasanya ada yang mengganjal seselesainya baca ini buku. Mana Maryamah Karpov yang saya tunggu-tunggu itu ?? Maryamah yang katanya contoh perempuan Melayu yang teguh melawan budaya patriarki?? Dari awal sampe akhir, cuma ketemu selintas Makcik Maryamah, yang pandai bermain catur.
Saya curiga berat, Andrea gak cuma bermaksud nulis Tetralogi. Pentalogi mungkin ?? atau malah Heptalogi, menyaingi Harry Potter ?? hehehe. Supaya ada tempat menyelesaikan cerita Cik Maryamah ini, juga ada tempat mengelaborasi kisah Dokter Diaz yang menggantung. Dokter yang mendapat porsi terlalu banyak di buku ini, dan rasanya sayang jika tidak dilanjutkan. Saya sempat berprasangka buruk. Apa Andrea mengubah strategi penceritaannya demi permintaan pasar. Lebih A Ling ketimbang Makcik Maryamah.
Menurut hemat saya sih, elok sekali kalo cerita ini berhenti di Edensor. Semua mimpi masa kecil telah tercapai. Pencarian A Ling, hingga ke tengah benua Afrika, berhenti dengan kesadaran: Yang dicari ternyata ada dalam dirinya. Apalagi penggambaran Deja Vu, ketika secara tak sengaja menemukan Edensor. Indah sekali. Seperti kisah Simurgh dalam Mantiq Ath-Thoyr-nya Fariduddin Attar. Teman dan kerabat Ikal, sudah sangat hebat di tiga buku pertama. Gak perlu buku tambahan untuk menggambarkan kehebatan mereka.
Kecewa?? Yaa engga juga. Masih banyak sisi positif dari Andrea di buku ini. Penggambarannya tentang budaya orang Melayu dalam memberikan gelaran-gelaran buruk, orisinil sekali hehehe. Buku ini masih berupaya menanamkan nilai-nilai kebaikan dan tekad kuat. Walaupun ada pula beberapa kesalahan redaksional kecil. Misalnya Eksyen yang selalu mempertimbangkan angel (bukan angle). Atau pepatah ‘sekali rakyat terkembang, pantang surut ke belakang’. Atau emang sengaja yaa ?? hehehe.
Untuk bintang, gimana kalo untuk sementara 3 dulu boi ?? hehehe
This is the last episode of Andrea Hirata. The rule to enjoy this book :
1. Stop make personification between Ikal and Andrea. They might be came from the same mind but the character and the flow of story could be different. I successfully avoided publisher's jargon before read it! 2. Being a dreamer doesn't mean a fiction nor an illusion. 3. For you who expect too much from this book, I think you should let the book tell itself. Just enjoy it, no matter what people say. 4. If you just want the story literally, forget it. You will disappointed. Try to 'read' beyond the story. Such as : local wisdom and conservative values or the loves of history and nation's pride. You will find more than in the book if you can read it in different view.
udah tahu harganya kemaren, pas cari tempat aman buat nelpon penting :D
Udah punya bukunya. sampulnya kok bikin pengen denger the Corss.
Baca berapa bab. Sampai Ikal lulus thesis. Ngakak abis waktu LaPlagia meletup, "Woodward, pernahkah kau bayangkan bidang kita ini akan dimasuki mahluk keriting model begini?" Ternyata hanya orang ketus dan angkuh saja yang tidak bisa membedakan keriting dan ikal.
*update 06/12/08*
Ikal tetap lucu. Suka bagian humor yang dikaitkan dengan etnisitas. Karena nama-nama di situ, nyokap nyamperin gue, "ngapain sih ketawa sendiri?" "Wee... orang baca buku juga!"
Bagaimana gak ketawa denger cerita dibalik nama-nama ini: Jumiadi Setengah Tiang karena sifatnya yang super duper mellow, Sema'un Barbara karena kambingnya bernama Barbara, San Thong Pompa karena ngejailin si Barbara dengan pompa anginnya sampai kembung, Nur Gundala Putra Petir yang pernah tersambar petir namun selamat, Muharam Buku Gambar yang berevolusi Menjadi Muharam Ini Budi setelah tidak lagi buta huruf, Berahim Harap Tenang si operator proyektor film, Munawir Berita Buruk karena dia yang menyuarakan pengumuman berita duka dari toa mesjid. Bahkan nama itu bisa diwariskan kepada anaknya hingga ada Marhaban Hormat Grak dan anaknya Marhaban Hormat Grak II, dan Berahim Harap Tenang dan Berahim Harap Tenang Yunior. Untuk nama A Liong Koteka d/h A Liong Sunat dengan cerita soal khitanannya, Ikal memberikan catatan pelajaran moral nomer delapan belas: jangan sekali-kali memperlihatkan benda apapun di dalam celanamu, di depan orang Melayu. :D sekaligus :)) deh gue.
Masuk ke bagian Ikal mencari A Ling. Jadi rada lambat...abis rada kurang lucunya.
*update* Di cerita pencarian A Ling pada tahap pembuatan perahu yang dilanjut dari kisah humor dan etnisitas, saya mencoba membuat catatan. Catatan tentang keteguhan akn mimpi dan negativisme di sekeliling kita. Ikal yang ditertawakan karena keinginannya membuat perahu sedang dia hanya orang awam di bidang itu merupakan bagian dari gejolak tarik-ulur mimpi versus cercaan orang sekeliling. Meski datang bantuan dari kawan-kawannya di Lasykar Pelangi, kuncinya tetap di Ikal: yakinkah ia mampu meraih mimpinya?
Abis bacain review orang. Godaan melemahkan untuk menamatkan buku ini makin menjadi. Endingnya. Beberapa review kuciwa, bahkan mempertanyakan judulnya seperti review ini. Kemaren seorang teman saya mendadak menelpon saya soal buku ini. Dia menelopon untuk bilang, "sudah tamat!" Padahal saya gak tau dia baca apa enggak, lalu misuh-misuh soal ending buku ini. Jika tidak karena HP saya bermasalah :p, perbincangan itu bisa juga mempengaruhi semangat saya untuk menamatkan buku ini.
Untungnya yang saya cari bukan endingnya. Yang saya cari gaya khas Andrea dalam bertutur. Mengingatkan seorang kawan melayu saya. Yang kosa katanya khas, dan juga bisa bikin senyum, ngakak bahkan... :D Masih terpukau dengan observasi sederhana Andrea tentang humor dan etnisitas. Paparannya menunjukan ia tipe pengamat yang baik. Hayo berapa banyak orang memperhatikan hubungan teknik melawak dengan kepribadian dan nilai..
Mending tamatin segera, sebelum terdesak dengan banyak pendapat. Baca pake kacamata kuda. Ngebut....menyalip di sela-sela bacaan pening
Setelah lama menanti buku terakhir dari tetralogi laskar pelangi, ternyata novel Maryamah Karpov ini jauh dari harapan gue. Mengecewakan dan ga sebanding dengan buku-buku sebelumnya.
Gue ngebayangin kalau di buku ke empat ini, akan muncul lagi karakter lain yang mengesankan seperti Lintang dan Arai atau menceritakan perjuangan Ikal mendapatkan pekerjaan, tapi ternyata novel ini isinya cuma fantasy berlebihan yang membodohi pembaca. Konyol!!
Novel 1-3 bisa menjadi inspirasi banyak orang karena cerita yang kuat, unsur moral yang jelas, humor yang segar, karakter yang unik dan pengalaman yang realistis. Sedangkan di buku ke 4 ini, ceritanya ngaco, ga penting, maksa, pengulangan humor, membosankan, karakter yang berlebihan dan komikal, dan ditutup dengan ending yang ga jelas.
Gue ga masalah kalau bang Andrea mau membuat cerita seperti ini, tapi memasukannya ke tetralogi laskar pelangi adalah suatu kesalahan fatal. Merusak keterharuan gue sama Lintang dan geng laskar pelangi di buku ke 1-3.
Gue ga suka seluruh aspek di buku ini. Dari cerita ikal sang casanova dalam usaha mencari a-ling sampai dalil-dalil ikal untuk bikin kapal. Gue bosan membaca kejeniusan Lintang yang di deskripsikan berulang-ulang (We get it, he's a jenius!) dan niat romantis ikal yang berlebihan (he's definitely not Edward, and she's no Bella). Judulnya aja ga sesuai dengan ceritanya.
Pengarang yang telah menghasilkan 3 buku bestseller dan membangkitkan niat membaca banyak orang, ternyata bisa juga menghasilkan buku berkualitas rendah kayak gini.
Buku ini membuang uang, membuang kertas dan membuang waktu gue untuk membaca. Totally crap!
Awal-awal aku ikutan Goodreads, aku masih menandai buku-buku tetralogi Laskar Pelangi (3 buku waktu itu) dengan tag biography-memoirs padahal setelah membaca Laskar Pelangi aku meyakini kalau kisah Laskar Pelangi dan selanjutnya adalah fiksi. Tapi di cover belakang bagian dalam, kenapa sih buku ini masih disebut sebagai nonfiksi? (Ini nyolong pernyataan Gary :D). Entahlah. Yang jelas, aku menikmati Maryamah Karpov sebagai kisah fiksi dan hasilnya aku lebih menikmatinya ketimbang dulu waktu membaca Laskar Pelangi yang kusangka sebagai memoir.
Di buku ini, Andrea mendeskripsikan orang Melayu dengan jujur dan jenaka. Sebagai penggemar(dan pencipta) nama panggilan aneh, tentu saja aku suka nama-nama panggilan mereka yang lucu-lucu. Apalagi si Ini Budi, wahaha!
Dan pada buku keempat ini aku memaklumi ke-lebai-an Andrea. Kiranya dengan demikian Andrea mewakili cara berkisah orang Melayu. Cerita Andrea tentang orang Melayu dengan segala macam nama panggilan dan taruhan mereka, tentang seluk-beluk membuat perahu, dan tentang lanun-lanun cantik di selat Malaka cukup memikat hatiku hingga aku menganggap kisah penyelamatan Putri Tiongkok tak penting lagi. Aku pun tak sakit hati ataupun kecewa oleh endingnya.
Aku juga tak berharap buku ini ada lanjutannya lagi. Buku ini sudah selesai bagiku. Judul Maryamah Karpov memang mengganjal. Apa peran Maryamah Karpov? Mungkin hanya untuk mewakili kebiasaan orang Melayu memberi julukan aneh. Tentunya tak akan menarik jika buku ini diberi judul Mahmuddin Pelupa misalnya. Tapi aku sendiri lebih cocok dengan judul Mimpi-Mimpi Lintang saja. Atau lucu juga kalau judulnya (Warung Kopi)Usah Kau Kenang Lagi. Atau kalau mau yang agak romantis, barangkali Putri Tiongkok cocok adanya. Andai kisah Bang Zaitun dan busnya lebih mendominasi maka aku pasti suka dan gembira dengan judul Dendang Gembira Suka-Suka. Kalau mau berkesan mengenaskan, maka paling pantas buku ini berjudul Pertaruhan A Ngong.
Bagaimana menurutmu kawan, judul apakah yang kau anggap pantas?
Oh ya, aku tetap lebih tertarik pada Mahar daripada Lintang. Berarti? Aku lebih tertarik hal-hal yang tidak rasional? Mahar lebih misterius dan kocak, itu saja.
kalo ada yg bilang "lebai", sepertinya sih... kalo ada yang bilang "muter muter", bener juga... kalo ada yang bilang "gak jelas", said so... kalo ada yang bilang "gak nyambung" (sama judulnya), itu bener banget...!!! sing penting terhibur banget lah sama ni buku... masih bisa menangis terharu pas Anggota laskar pelangi muncul satu persatu membantu Ikal yg buntu dengan kapalnya. masih tertawa2 geli pas ikal di ruang pucat.... kasian mas andre...emang harusnya dia harus kekeh dgn ide awal, cukup dengan 3logy aja. buku keempat ini cenderung/kelihatan paksaan pasar, bukan keinginan sang penulis.
Penutup yang sungguh menghampakan buat siri kembara yang sudah cukup epik. Amat seksa menghabiskan buku yang hampir setebal 500 halaman ini. Apa kejadahnya ratusan mukasurat berbicara tentang dukun, proses membuat sampan kapal dan sakit gigi segala bagai?! Seeloknya, penulis berhenti setakat Edensor, entri ketiga. Kewujudan buku ini hanya mencacatkan legasi. Tajuk serta ilustrasi kulit hadapan langsung tidak mencerminkan isinya. Peranan Maryamah tidak relevan. Dan apa pula kena mengena dengan mimpi si Lintang? Sebagai rumusan, saya mencedok stail Andrea Hirata... "Kawan, aku kecewa sekali kawan..."
Akhirnya, Andrea Hirata berjaya juga menamatkan kisahnya. Setelah merungut bosan tinggal di Terengganu. Ya lah. Ke mana saja ku bawa. Tidak di ruang tamu, ke bilik, ke dapur. Itu-itu sahaja. Paling jauh ke Hospital Besar KT.
Mulanya aku merungut bosan. Sebosan hidup dia yang menganggur terperangkap di Belitong. Cukup menyedihkan. Lepasan luar negara, Perancis lagi. Juga menganggur. Cuma yang menghiburkan, ketika dia bertemu kembali Laskar Pelangi. Menambahkan melankolik, aku memasang lagu Laskar Pelangi nyanyian Nidji
Lagi teruk, dia terus bercerita dan sebahagian akhir cerita-nya tentang perjalanan mustahil dia mengejar A Ling. Aduh! Sebegitu besar usaha hanya untuk seorang wanita.
Sebagai seorang rasionalis ditambah realis yang condong pesimis. Perjalanan itu mustahil dan langsung tidak berbaloi. Dan cerita ini terlalu rekaan. Aku rasa tertipu.
Andrea dengan rambut ikal nya mencemuh, katanya aku dangkal dan cetek berfikir. Kalau aku melihat cerita-nya cuma pada kisah mengganggur dan pencarian A Ling, maka itu sajalah yang aku akan peroleh.
Kecuali, kalau aku lihat cerita ini sebagai satu pengkisahan masyarakat yang tertindas oleh pemimpin yang tak mengambil tahu hal ehwal. Yang terikat dengan sifat dan sikap tradisi bangsa dan kelompok. Kisah anak-anak cerdas yang terpaksa tunduk pada himpitan nasib. Kisah pemerdagangan manusia di kepulauan dan kegiatan lanun yang tak diberi perhatian oleh dunia.
Maka, baru kau jadi orang yang mengerti. Ya. Cerita ini sejujurnya membosankan bagi aku.
Cinta itu terlalu misteri. Ia mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu hal yang tidak pernah terjangkau dek akal sendiri. Ok, itu sahaja. Pak Andrea tetap seorang penulis dan pengkaji budaya yang terbaik.
MENIKMATI Kembali, saya menikmati lokalitas yang Andrea tuturkan, setting geografis maupun sosiologi digarap dengan cermat. Saya juga menikmati metafora-metaforanya. Seperti tiga buku sebelumnya, Andrea menebar metafora di segala sudut. Meski di satu sisi, saya merasa kok banyak metafor yang terlalu hiperbola yak?
ANDREA DI MANA-MANA Maksudnya, pemikiran penulis (dalam hal ini ya Andrea lah, masak Tukul? :p). Dalam fiksi biasanya kan penokohan itu berbeda-beda, dalam arti, cara bicara, sikap, pemikiran, dll tiap tokoh memiliki karakter dan kekhasan masing-masing. Jadi, nggak semua tokoh pinter dan suka berbicara dengan gaya metafor. Memang, kekhasan tiap tokoh tetap terlihat, hanya saja ketika berbicara saya merasakan “ada” karakter Andrea di mana-mana. Ngerti nggak ama paragraf ini? Kok saya jadi nggak ngerti ya? Hehehe.
KUCIWA Pasti banyak pembaca—seperti juga saya—yang berharap buku terakhir ini banyak berbicara/berkisah tentang perempuan dari sudut pandang seorang Andrea. Apalagi judul “Maryamah Karpov”nya itu. Tapiiii… sampe titik darah penghabisan, eh, sampe titik terakhir alias tamat, nggak ada tuh disenggol-senggol tentang Cik Maryamah. Ada sedikit, saat Andrea belajar biola pada Nurmi, anak Cik Maryamah. Udah segitu aja. Saya jadi bingung sendiri. Maksud Andrea apa ya naro judul “Maryamah Karpov”? Terus apa juga maksudnya bilang ke media kalo tetralogi terakhir Laskar Pelangi akan berbicara tentang wanita? Nggak ada sama sekali tuh. Kecuali termehek-meheknya Ikal pada A Ling. Buteeett dah, ampe ngangkat perahu lanun ratusan taon dari dasar sungai!
POLIGAMI Ada tiga kata poligami diselipkan Andrea. Tumbeeen... Saya nangkep pesan tersiratnya: "Hai, pria, mikir sejuta kali deh kalo mo poligami!” :D.
AYAM Kasihan sekali hewan satu ini, begitu buruk citranya di mata penulis. Tak ada yang baik dari segala sisi. Karena belum lama abis baca novel remaja "Porcupine", dan di situ ada satu bagian tentang tokoh utama yang sayang banget sama ayam betina. Saya jadi bingung sama ayam, enaknya digoreng atau digulai? (halah!).
LINTANG Abis baca postingan Uni Dina plus sebelumnya juga sempat baca soal kontroversi mengenai tokoh Lintang, baca MK, saya tambah absurd dengan tokoh Lintang. Tapi karena Andrea sudah melabeli buku terakhir tetraloginya ini dengan "Sebuah Novel", yah sudahlah... *lha, pasrah? :D*
WALAU BEGITU... Tetap ada banyak perenungan, pemikiran, wawasan, juga absurditas (hehe) dalam buku ini yang membuatnya layak dibaca. Dibanding buku-buku yang hanya menawarkan kesenangan sejenak (yang sebagian saya baca, uhuk uhuk huk-huk.. *nenek batuk*).
Setelah membaca buku ini saya berpikir apakah ada perubahan isi dari novel ini yang dilakukan pengarangnya. Kesan yang timbul adalah AH merubah isi cerita karena melihat respon masyarakat yang tinggi tentang Lintang dan anggota Laskar Pelangi maka para anggota LP dimunculkan dalam buku ini. Hal itu tidak masalah kalau konsisten antara novel MK dengan ketiga novel lainnya.
Dalam LP diceritakan bagaimana kehidupan para anggota LP yang sebagian merantau ke Jakarta dan berhasil seperti Syahdan akan tetapi diceritakan kalau para anggota LP tidak ada yang merantau. Demikian juga dengan societeit de limpai yang dinyatakan bubar dalam LP tapi di MK dinyatakan masih eksist.
Yang paling membuat saya berpikir ada perubahan isi adalah ketidaksesuaian antara judul dan isi sehingga saya berpikir karena judul novel keempat sudah dilaunching jauh-jauh hari dan tidak mungkin untuk diubah, perubahan pada cover hanya pada tulisan di atas judul Maryamah Karpov dari sebelumnya bertuliskan "buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi" menjadi "Mimpi-Mimpi Lintang", maka penjelasan mengenai mak cik maryamah yang menguasai langkah-langkah karpov dimunculkan sedikit itupun kalah banyak dibanding tokoh-tokoh baru yang lain.
Bagaimanapun itu adalah hak pengarang dan AH masih bisa menunjukkan bahwa dia adalah pencerita yang spesial yang bisa menceritakan karakter suatu suku secara jujur dan ringan akan tetapi bisa jadi refleksi bagi pembacanya. Akan tetapi dibandingkan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor yang inspiratif maka Novel ini bagi saya hanya sekedar menghibur yang bisa jadi kontraproduktif dengan semangat pendidikan yang selama ini jadi ciri AH.
Akhirnya, penantian saya selama berbulan-bulan diakhiri dengan perasaan mengganjal sehingga saya hanya memberi bintang satu untuk novel ini.
Hmph, bagaimana ya hendak digambarkan perasaan sesusah membaca buku ini? Barangkali bukan yang terbaik dalam tetralogi Laskar Pelangi, tetapi masih mampu mengusik perasaan.
Apa yang saya dapat: 1. Memang saya mengagumi genius Lintang! Walaupun dihimpit kemiskinan, tidak sesekali menjadikan dia tidak mampu berfikir dengan cerdas. Belajar sains perahu! Benarlah otaknya seperti isaac Newton!
2. Semangat Laskar Pelangi yang dihimpunkan semula dalam novel ini. Dihidupkan semula watak Lintang, mahar, Samson, Trapanni, Ah Kiong
3. Ah barangkali penangan cinta itu terlampau hebat sehingga Ikal mencari Ah Ling, cinta pertamanya, sehingga sanggup membina sebuah perahu semata-mata untuk belayar
4. Aduhai, sedihnya, belajar tinggi-tinggi tetapi masih sukar mendapat pekerjaan. Padahal bukan main susah ikal hendak lulus MA nya. ibarat mendapat chevening scholarship, tetapi akhirnya sebegitu sahaja
5. Ending yang kurang menyengat. Mungkin saya mengharapkan Ikal lebih memotivasikan dan dapat menerima bahawa bukan mudah untuk bernikah dengan mereka yang berbeza agama dan rasnya.
Pengakhiran yang bagi saya sederhana. Cuma tidak menyengat seperti membaca buku sebelumnya.
Kalo baca awalnya, yang bagian adegan aneh bin misterius itu pasti langsung kepikir si Ikal entah disiksa atau diperkosa. Hahahaha. Ternyata! Kalo baca terakhirnya pasti senyum-senyum. Kali ini cerita Ikal fokus pada pengejaran A Ling. Lumayan penuh bumbu ketawa. Sayangnya, bahan akhir cerita malah rada garing dan kurang cocok dijadikan penutup tetralogi ini. Gapapa deh. Salut buat mas Hirata hirata akhirat (hehe).
Banyak pertanyaan yang ada dalam benak saya, yang belum mendapat jawaban dari buku ke4 tetralogi ini. Antara lain, dimanakah A Ling selama ini? Apa yang dikerjakannya? Kenapa dia meninggalkan Belitong? Kenapa dia ingin ke Singapura? Saya selesaikan dalam 2 hari, dan tidak puas pada akhirnya. So my son, Ade, ask, kenapa judulnya tidak sesuai dengan isinya, Bu?
Cerita dalam novel ni macam tak mencucuk sangat. Tak berapa nak logik pun ada. Kelakar tu jangan cakaplah. Itu memang kehebatan Ikal menulis, benda serius pun boleh jadi lawak. Walaupun Marymah Karpov tak boleh tanding Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, aku tetap kagumi Ikal, anak Belitong yang sangat sesuatu.
Multicultural. Multiethnic. Journey. Dream. And "The Power of Love"
I think those 5 words can represent the whole pages of this book. Maryamah Karprov shows me how Melayu's culture & local wisdoms. Eventho I live in Indonesia, live 1.2445 km far from Belitong, read this book opened my eyes about different lives: far away from modernity, simplicity and how they hold tight their local culture. It's so different in town/big city, it's lighter than small inland. That's a new taste of a book!
To be honest, it's not what I expected from the book. I expect Ikal's journey after graduate from Université Sorbonne in Paris will give an amazing experience how to use his intellectual and hardwork skill to build Belitong a better place to live, like provide the new breakthrough in economy so he can reduce poverty and gain kids more in education like him. But, NO.
Andrea Hirata offered us about Ikal's journey seeking his true love A Ling. Finding A ling is his new dream. Andrea described how strong determination, grit, perseverance and how strong the impact of having a goal in life can give a very big fire to live and keep swimming in the middle of malignant waves of lives. Against the impossibility of building a boat, challenging the ferocity of the Malacca Strait, facing typhoons and even cruel pirates, Ikal can conquer it. The prove of the power of dream and love, I think.
I missed my lovable character here, Arai because Andrea just give him little bit spot for Arai. But, I'm so happy that he already get "yes" from his first love, Zakiah Nurmala. Despite, the end of the story, it's still hang down, I still hope in other book I can see the happy ending for Ikal & A ling.
I think, The Rainbow Troops The Rainbow Troops, Sang Pemimpi/ Sang Pemimpi (The Dreamer) and Edensor Edensorare the books that pop my fire of passion more than this book. Maybe.. because I haven't find someone that I love so much and someone I will fight for haha, this book not really related to me. But, the others book mean a lot for me. Well, despite of that, this book is a great story to read!
Banyak yang bercambah dalam kepala ketika dan selepas habis bacaan. Antara 10 perkara yang saya boleh kongsikan:
1. Kenapa tajuknya Maryamah Karpov? Nama Maryamah Karpov hanya disebut sekali (?) sepanjang 471 muka surat. 2. Rasanya kurang tepat mengatakan tetralogi Lasykar Pelangi berakhir dengan buku ini. Lasykar Pelangi sebenarnya adalah heksalogi (6 siri) dengan Padang Bulan buku kelima dan Cinta Di Dalam Gelas sebagai buku keenam. 3. Disebabkan saya dah baca dulu Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas bertahun yang lepas (tanpa mengetahui kedua-dua ini ada kaitan dengan tetralogi Lasykar Pelangi), membaca Maryamah Karpov di situasi ini membuatkan terasa bingung-bingung dan seperti terputus ditengah-tengah perjalanan hidup Ikal. 4. Perlukah saya mengulang baca Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas lagi sekali, bagi membetulkan semula tune di kepala? 5. Pak Andrea memang punya magis tersendiri, walaupun hanya bercerita seputar kehidupannya di Pulau Belitung, dan ceritanya walau kedengaran tak realis, tapi saya sebagai pembaca menikmati setiap detail dan bait tulisannya. 6. Andrea Hirata dan Faisal Tehrani adalah pengarang yang membawa bentuk tulisan dan idea yang berlainan, tapi impak selepas membaca dari kedua-dua penulis ini hampir sama iaitu membaca buku mereka menyebabkan kepenatan. 7. Jika Dr Faisal kerap mengasak dengan fakta dan idea (tanpa putus-putus), penulisan Pak Andrea pula begitu detail. Perincian tidak hanya pada perasaannya, tapi juga melalui sudut pandang beliau terhadap keadaan sekeliling (alam dan manusia). 8. Jika pembaca adalah seorang yang imaginatif, setiap helaian buku ini akan membuatkan pembaca tidak berhenti membayang dan berfikir. Kadangkala perlu berhenti sekejap dan mengambil nafas. Memenatkan, tapi menyeronokkan. 9. Andrea Hirata adalah seorang pemerhati dan pencatat yang terbaik. 10. Seperti buku-bukunya yang lain, menghabisi muka surat terakhir membuatkan kita ketamakkan dan mahu lebih banyak lagi dari dirinya dan Ikal.
Jangan heran kalau Anda rasa buku ini agak semrawutan ceritanya... Hidup pengangguran layaknya Ikal memang semrawutan. Apalagi ditambah sakit gila nomor 17, cinta buta. Walaupun hanya menjadi nomor 17, sakit gila satu ini nyatanya membuat seseorang bak kehilangan akal sehat. Menerjang puluhan negara, membuat perahu, dan berlayar ke pulau antah berantah bukanlah hal masuk akal, gila. Namun untuk pengidap penyakit gila ini hal itu waras-waras saja. Bagi Ikal waras-waras saja, walau otaknya sendiri bilang dia gila.
Novel terakhir, sejauh ini, dari seri buku Laskar Pelangi. Jalan ceritanya santai. Puncak klimaks memang tidak terlalu intens seperti buku sebelumnya. Namun sepertinya menurut saya racikannya pas. Menggambarkan sekali suasana kehidupan Ikal, seorang pengangguran banyak mimpi, selepas menyabet Master dari negeri jauh di utara sana.
Penutup yang layak untuk tetralogi Laskar Pelangi.
jumat 28 nov 2008 lalu terbit novel yg banyak ditunggu2 orang, maryamah karpov. namun setelah usai menyelesaikan novel 504 halaman tersebut, tak kuasa menyimpan rasa kecewa.
penulis lebih banyak mempertontonkan ketrampilan melucu dng guyon2an satire yg seringkali tanpa makna. berpuluh lembar pembaca disodori kisah2 abrsurd bagaimana terbentuknya nama pangilan para pelanggan warung kopi, satu persatu tanpa kecuali. saya jadi merenung, apakah demikian kira2 potret pembaca yg diharapkan penulis dng serial bukunya yg fenomenal ?
yg mengherankan, semnetara penulis tampak sekali ingin menyampaikan pesan-pesannya melalui gambaran yg metaforik spt lulusan S2 sorbonne utk bidang yg cukup bergengsi, namun dalam cerita ia memilih bekerja rodi sbg kuli timah harian di waserei seusai pulang dari paris, membuat sendiri kapal layar 11 mtr dari menebang pohon seruk di hutan sampai mengangkat kapal perompak yg terbenam ratusan tahun dng kaidah fisika anak SMP, mengarungi selat malaka yg ganas, bertemu kawanan lanun dan kisah-kisah lain yg karikatural, tetapi oleh editor kisah tsb diberi label "cultural literacy non-fiction", dalam sampul belakang. ini amat sangat mengherankan.
saya yg mencoba menikmati cerita sbg cerita menjadi sangat terganggung dng pernyataan diatas.
jelas-jelas, maryamah karpov adalah sebuah karya fiksi.
keberadaan lintang dan kesepuluh kawan laskar pelangi nampak dibuat semakin misterius ala dongeng pencak silat. datang tak diundang, pergi tanpa pamit. begitu saja muncul mana kala sang tokoh menghendaki. amat karikatural. adegan mencabut gigi dibuat sedemikian heboh hingga dihadiri oleh puluhan masyarakat desa, seolah apapun yg akan ditulis akan dibaca sepenuhnya oleh pembaca. sungguh siksaan tersendiri utk merampungkan buku tsb. sekilas kita terkenang dng kisah pirate of carribean, atau Tom Hanks dalam cast away yg mengalami masalah sakit gigi di sebuah pulau terpencil. suspense-nya dapat. tapi menjadi tidak jelas benang merah keseluruhan ceritanya.
saya menangkap pesan yg ingin disampaikan adalah soal keteguhan hati utk mengejar cita-cita. metafora yg dipakai kali ini adalah adegan membuat perahu -dng berbagai cerita satire- dan kisah para perompak kapal, para lanun yg tampaknya oleh penulis diberi penekanan khusus dng berbagai study literatur. nilai-nilai yg dijunjung tinggi: pemecahan masalah scr ilmiah lebih elegan daripada cara mistik. tapi ini menyisakan banyak keganjilan, dagelan tawar menawar mahar dng tuk bayang yg berakhir dng upeti teve B/W jadi merusak pesan yg ingin disampaikan. spt apa akhirnya hubungan dng A ling -setelah diketemukan- dg apa yg disebut oleh buku tsb 'cultural literacy non-fiction'. mengingat tokoh A-ling akhirnya bisa disimpukan hanya tokoh rekaan. sungguh-sungguh catatan penerbit ini sebuah tindakan kriminal yg menganiaya akal sehat.
keberadaan lintang yg masih datang dng keajaib2anya yg tak masuk akal disatu sisi semakin menegaskan bhw tokoh tsb ternyata tokoh fiktif belaka. ini berkaitan dng perdebatan yg sudah lama muncul, bhh bu mus sbg guru sekolah laskar pelangi pun tidak mengetahui siapa yg dimaksud lintang oleh penulis. bukankah aneh ? karena tidak ada muridnya seperti gambaran AH. apalagi skr lintang sengaja "disembunyikan' dng membuang tokoh tsb ke pulau lain.
sampai disini, cerita sbg cerita, fiksi sbg fiksi, sebenarnya tidak ada masalah. tapi kesan yg hendak dibangun, bahkan dng wawancara dan kemunculan tokoh2 asli dalam kick andy, penulis (dan terutama penerbit) tampaknya sangat terobsesi untuk menyatakan bahwa cerita tsb adalah real/non-fiksi.
keluarnya novel "maryamah karpov" juga mengundang pertanyaan dng pemilihan judulnya. karena nyaris tdk disinggung sama sekali soal maryamah -dari cerita sang pemimpi- kecuali dia adalah pemain catur dan sesekali muncul di warung kopi. juga nuri yg telah mengajari ikal bermain biola -tentu dng deskripsi yg bombastis-. benarkah judul "maryamah karpov" hanya konspirasi penulis dng penerbit dalam mencari sensasi ? pembaca jadi bisa semakin bertanya-tanya, sejauh mana batas antara fantasi penulis atau dng sebuah kisah (nyata).
ah, mestinya kita tidak perlu risau soal fiksi-non fiksi, jika tidak ada kampanye yg sedemikian heboh bhw kisah ini seolah memang nyata. dan masih harus ditegaskan dng woro-woro "cultural literacy non-fiction". apa jangan2 buku ini langsung dicetak tanpa dibaca dulu ya sama penerbit ??
Akhirnya selesai juga baca tetralogi Laskar Pelangi. Ini buku tebel juga. Tapi sebagai slow reader, salut juga pada diriku sendiri karena bisa nyelesein buku ini lebih cepat, melebihi ekspektasiku. Di antara semua buku, menurutku di buku yang keempat ini banyak banget adegan lucunya. Sampe ketawa-tawa bacanya. Mulai dari kepulangan Andrea ke Indonesia yang menumpang kapal laut dengan berbagai macam tingkah-polah penumpangnya, lalu Ketua Karmun yang di setiap kedatangannya selalu dilolongi anjing, sampe kejadian di klinik gigi yang benar-benar mengocok perut. Yah, meski ada ngeri-ngerinya juga dan bikin aku tambah takut pergi ke dokter gigi. Kejadian lucu itu pun termasuk waktu Mahar ngasih hadiah televisi jinjing rongsokan untuk Tuk Bayan Tula yang isinya semut doang hehehe. Dan ulah Bang Zaitun pun tak pernah henti bikin aku ketawa. Ini orang unik banget, deh. Kayak gak pernah mengenal rasa sedih. Sama dengan Edensor, di buku ini pun kental banget kisah petualangannya. Ditambah dengan unsur misteri/magis kedaerahan yang bikin aku tambah seneng bacanya. Di buku ini pun, Ikal akhirnya bertemu kembali dengan anak-anak Laskar Pelangi. Dan lebih asiknya lagi, dua tokoh favoritku, Lintang dan Mahar, muncul untuk membantu Ikal dalam petualangannya itu. Lintang seperti biasa cerdas dan tenang, dan aku bersyukur karena kehidupan dia udah jauh lebih baik. Dia jadi juragan kopra. Sementara Mahar tetep unik dan nyentrik. Kejutannya, Mahar akhirnya mengalami jatuh cinta untuk yang pertama kalinya pada seorang gadis lanun bernama Maura. Tapi kisahnya gak diceritain panjang, sih. Oh iya, Arai akhirnya menikah juga sama Zakiah Nurmala. Manis banget akhir penantian dia, kan? Yang kurang dari buku ini, lagi-lagi soal judul. Judulnya Maryamah Karpov, tapi nama ini cuman disebut sekali atau dua kali aja. Dan cuman dikisahkan kalau Mak Cik Maryamah sering mengajari orang langkah-langkah catur Karpov. Padahal inti dari cerita ini menurutku adalah masa-masa setelah Ikal selesai kuliah lalu menjadi pengangguran dan juga pencarian A Ling yang begitu dramatis, spektakuler dan mendebarkan. Aku heran kenapa Andrea Hirata gak buat judul yang berkaitan dengan itu aja???? Btw, kok nasib Ikal sedih banget, sih? Udah pengangguran, jodohnya pun susah pula. Padahal aku ngira cintanya dengan A Ling akan dengan mudahnya mendapat restu. Apalagi paman A Ling aja langsung setuju dia nikah sama Ikal. Aku masih gak begitu paham kiranya apa yang bikin ayah Ikal nggak merestui hubungan A Ling dan Ikal? Apa karena A Ling itu keturunan Ho Pho dan memiliki rajah kupu-kupu hitam di tangannya? Duuh, coba endingnya diperjelas lagi dikit biar aku yang bego ini bisa paham sepaham-pahamnya. Dan yang bikin aku lebih bingung, Ikal itu kan lulusan universitas ternama. Kok dia gak coba nyari pekerjaan aja lagi di Jakarta? Maksudku, sehabis melepas rindu di kampung halaman, dia balik lagi ke Jakarta dan cari kerja di sana. Tapi ini kan berdasarkan kisah nyata, kan, ya? Jadi kayaknya usulku ini gak ngaruh. Udah kejadian juga hehehe. Oh, satu lagi soal A Ling! Kok aku jadi lupa kisah dia sebelumnya sampai dia bisa berada di Batuan dan luntang-lantung begitu kehidupannya? Padahal sebelumnya dia kan terbilang anak orang mampu. Dan terakhir kali di Laskar Pelangi itu aku cuman tahu kalo A Ling pindah ke Jakarta. Kok tiba-tiba hidupnya jadi nggak jelas begitu, sih? Berarti aku harus baca-baca lagi nih biar jelas. Daripada kening berkerut-kerut terus karena penasaran. Haaaahhhh.