What do you think?


Literasi Hati
Jika memang aku bukan lagi arah tujumu, tak masalah. Jika aku tak boleh merindukanmu, tak mengapa. Tapi biarkan aku menitipkan kenangan ini seutuhnya, yang pahitnya siap menamparmu dalam duka, yang manisnya sedia kapan saja memelukmu saat kau merindukan kita.
216 pages, Softcover
First published August 7, 2018
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
April 3, 2024
Kalau bisa dikasih lebih dari lima bintang, aku akan berikan semuanya.
Pertama buku ini datang, jujur saja, saya kesal. Kesal yang greget, karena... kenapa buku ini sungguh mewakili hal-hal yang hati saya rasa, otak saya pikir. Kemudian beralih ke kata pengantarnya, saya semakin kesal karena menemukan sederet kalimat di atas. Mungkin bukan hanya Ichwanul yang "membalas dendam" rasa sakit hatinya dengan menulis sebuah buku—karena saya pun akan memilih melakukan hal yang sama, tapi novel ini benar-benar pembalasan dendam yang luar biasa cantik. Luar biasa sakit. Luar biasa greget.
Saya menikmati setiap kalimat yang ada di dalam novel ini. Setiap katanya mengorek luka, tapi juga menyembuhkan, melegakan. Pemilihan kata, ibarat, istilah, semuanya—buat saya sangat, sangat indah. Saya tidak menyesal mempunyai salah satu karya milik Ichwanul Suenta ini. Dan faktanya, novel ini, novel jebolan wattpad cetak pertama yang saya punya sekaligus saya baca. Seharusnya, perusahaan cetak major lebih banyak memproduksi novel-novel jebolan wattpad yang kualitasnya setara seperti ini atau lebih. Jangan melulu yang kisahnya soal badboy anak sekolah. Ups—itu masukan, loh. Hehehe...
Untuk Mas Ichwanul Suenta, kalau Mas baca ini, siapa pun yang Mas maksud dalam buku ini, sakitmu—saya yakin, tersampaikan dengan baik. Saya siap mengoleksi karya Mas selanjutnya.
Jadi, siapkah kalian mengorek luka dan merelakannya pergi bersama literasi hati?
Pertama buku ini datang, jujur saja, saya kesal. Kesal yang greget, karena... kenapa buku ini sungguh mewakili hal-hal yang hati saya rasa, otak saya pikir. Kemudian beralih ke kata pengantarnya, saya semakin kesal karena menemukan sederet kalimat di atas. Mungkin bukan hanya Ichwanul yang "membalas dendam" rasa sakit hatinya dengan menulis sebuah buku—karena saya pun akan memilih melakukan hal yang sama, tapi novel ini benar-benar pembalasan dendam yang luar biasa cantik. Luar biasa sakit. Luar biasa greget.
Saya menikmati setiap kalimat yang ada di dalam novel ini. Setiap katanya mengorek luka, tapi juga menyembuhkan, melegakan. Pemilihan kata, ibarat, istilah, semuanya—buat saya sangat, sangat indah. Saya tidak menyesal mempunyai salah satu karya milik Ichwanul Suenta ini. Dan faktanya, novel ini, novel jebolan wattpad cetak pertama yang saya punya sekaligus saya baca. Seharusnya, perusahaan cetak major lebih banyak memproduksi novel-novel jebolan wattpad yang kualitasnya setara seperti ini atau lebih. Jangan melulu yang kisahnya soal badboy anak sekolah. Ups—itu masukan, loh. Hehehe...
Untuk Mas Ichwanul Suenta, kalau Mas baca ini, siapa pun yang Mas maksud dalam buku ini, sakitmu—saya yakin, tersampaikan dengan baik. Saya siap mengoleksi karya Mas selanjutnya.
Jadi, siapkah kalian mengorek luka dan merelakannya pergi bersama literasi hati?
December 23, 2019
Mungkin kalau bacanya dulu saat masih SMA atau awal-awal kuliah, tema ini masih greget.
Kalau sekarang, buku ini ya lumayan buat ngobatin hati yang lagi capek. Isinya gak jauh-jauh dari seputar perasaan, jatuh cinta, patah hati, dan berujung kesadaran diri. Ini menariknya, selalu di ending tiap ceritanya ada sisi "sadar" dan melibatkan "Dia". Itu poin plusnya.
Cocok buat bacaan remaja-remaja yang sedang berada di persimpangan antara masanya kena virus cinta dan permulaan hijrah. Ya begitulah...
Kalau sekarang, buku ini ya lumayan buat ngobatin hati yang lagi capek. Isinya gak jauh-jauh dari seputar perasaan, jatuh cinta, patah hati, dan berujung kesadaran diri. Ini menariknya, selalu di ending tiap ceritanya ada sisi "sadar" dan melibatkan "Dia". Itu poin plusnya.
Cocok buat bacaan remaja-remaja yang sedang berada di persimpangan antara masanya kena virus cinta dan permulaan hijrah. Ya begitulah...
Read
June 10, 2019good
This entire review has been hidden because of spoilers.
November 3, 2020
Pen bacaa
December 27, 2020
Bukunya bikin galau :(
October 18, 2018
**Warning: this text may contain spoilers** Rated it
Displaying 1 - 7 of 7 reviews





