Jumlah sentuhan kami sampai sekarang? 5. Jumlah mata hijaunya menatapku? 10. Jumlah dia menelponku? 35. Jumlah pesan singkat yang dikirimkannya? 221. Jumlah hadiah yang dia berikan padaku? 1. Dan jumlah dia menyadari perasaanku padanya sampai saat ini? NOL. Menghabiskan hampir seluruh hidup dalam rumah sakit membuat otakku selalu mengingat apa yang kulihat di rumah sakit. Berapa kali jarum detik melewati angka 12 dalam satu hari. Berapa kali air infus menetes dalam satu jam. Berapa kali orang-orang yang masuk dan keluar dalam satu hari. Begitu juga tentang dirinya. Dan sekarang dengan ingatan itu aku memiliki kesempatan untuk hidup sekali lagi. Sebuah keajaiban yang tidak pernah terduga dan datang karena dia. Cinta pertamaku. - Jane Morgan.
Dalam satu waktu aku kehilangan segalanya. Jika saja aku bisa memilih antara hidup atau mati maka aku akan memilih kematian. Tapi takdir tidak memberikannya padaku karena nyatanya takdir itu sedang menunggu sesosok wanita yang selama ini kulupakan. -Michael W.
Aku ingat ketika semasa kecilku dipenuhi dengan bermain boneka seperti boneka barbie dan boneka kertas. Kala itu, aku merasa sedang menciptakan sebuah skenario dalam hidup seseorang. Kurasa menulis pun tidak jauh berbeda dengan bermain boneka. Karena aku merasakan hal yang sama, bisa membangun duniaku sendiri. Memulai dan mengakhirinya.
Akan tetapi setelah kembali terpikirkan ternyata rasanya berbeda. Faktanya bukan seperti itu. Menulis lebih terasa seperti Christopher Columbus yang menyeberangi Samudra Atlantik, seperti Marco Polo yang menyusuri jalan sutera, seperti Ernest Henry Shackleton yang menjelajahi Antartika, juga seperti Ibnu Batutah yang berkelana di abad pertengahan.
Ya, menulis itu terasa sedang mengunjungi dunia-dunia yang belum pernah dikunjungi. Membutuhkan banyak usaha supaya diperkenankan masuk ke dalam dunia tersebut. Rasanya aku harus tinggal untuk mengenal, menelaah, dan menyelidikinya pada jangka waktu tertentu. Di waktunya habis, aku terpaksa pergi. Tak jarang merasa terjebak di dalamnya sehingga kesulitan untuk pergi.
Kemudian aku memulai kembali perjalanan menjelajahi dunia berikutnya. Dunia yang asing, yang dipenuhi suasana baru. Dan aku mesti menyesuaikan diri.
Mungkin orang-orang berpendapat bahwa penulis memiliki kebebasan murni. Bisa menjadi siapa saja. Bisa melakukan apa saja. Bisa memilih keputusan mana saja. Bahkan bisa mengganti tawa dengan air mata atau menggantikan air mata dengan tawa.
Sungguh kenyataannya tidak benar-benar seperti itu. Karena setelah aku, kau, atau mereka menulis kalimat pertama, saat itulah kita terikat dengan cerita tersebut.
Karena setelah karakter utama muncul, bukan kita yang mengarahkannya melainkan karakter itu yang mengarahkan kita. Mengikuti alurnya, konfliknya, dan dunianya.
Karena setelah ceritanya selesai, mau tidak mau, kita harus pergi. Tak lagi bebas berlalu-lalang di dunianya. Akhir kalimat cerita tak boleh mengacaukan semua kalimat yang dituliskan sebelumnya. Kita tak boleh mengacaukannya.
Namun karena itulah, menulis tetap menjadi hal terbaik yang pernah kulakukan.
Abang duda yang terperangkap dimasa lalu namun ahirnya bisa bangkit karna kekuatan seorang gadis tapi ketika sudah bersama badai itu datang lagi dan perjuuangan lebih berat lagi 😁😁😁😁
Buku dengan konflik yg kompleks. Klu kalian penyuka konflik kompleks buku ini rekomendasi banget. Semua karya G.L. putri selalu punya ciri khas tersendiri yg gk akan kita temukan di karya2 orang lain ❤❤😍😍