Jump to ratings and reviews
Rate this book

Delapan Pemandangan dari Tokyo

Rate this book
Dengan pemandangan di gerbang utama Kuil Zojo itu, aku merasa ceritaku sudah terbentuk dan siap dilontarkan, seperti sebuah busur panah yang ditarik sehingga tampak seperti bulan sabit. Beberapa hari kemudian aku bekerja dengan peta Tokyo, pena, tinta, dan kertas sebagai peralatanku. Dan apa yang terjadi selama sepuluh hari sejak aku tiba di pemandian air panas di Semenanjung Izu ini? Aku kelihatannya masih akan mendekam di penginapan ini, tapi apa tujuanku?

-------

OSAMU DAZAI yang bernama asli SHLIJI TSUSHIMA adalah sastrawan Jepang yang lahir pada 19 Juni 1909 dari keluarga tuan tanah dan pejabat pemerintahan di Perfektur Aomori. Dia pernah kuliah di Jurusan Sastra Prancis Universitas Tokyo, tapi tidak tamat. Semasa tinggal di Tokyo dia pernah terlibat dalam gerakan politik bawah tanah dan sempat dibui. Karir kepenulisannya banyak dibantu oleh Ibuse Masuji. Dia bersama lingkaran sastranya, Buraiha, menentang lingkaran sastra Shirakaba dan para sastrawan proletar Jepang. Beberapa karya Dazai yang pernah diadaptasi ke dalam bentuk lain adalah novel “Ningen Shikakku” (No Longer Human, 1948), cerita pendek “Hashire Merosu” (Run, Melos!, 1940) dan “Biyon no Tsuma” (Villon ‘s Wile, 1947). Beberapa karyanya yang lain adalah “Shayo” (The Setting Sun, 1947), “Tsugaru” (1944), dan “Otogizoshi” (Fairy Tales, 1945).

Selama hidupnya Dazai berkali-kali mencoba bunuh diri dan akhirnya dia meninggal dunia bersama seorang perempuan bernama Yamazaki Tomie setelah menenggelamkan diri di Akuaduk Tamagawa pada 13 Juni 1948.

134 pages, Paperback

Published February 1, 2018

1 person is currently reading
25 people want to read

About the author

Osamu Dazai

1,122 books9,461 followers
Osamu DAZAI (native name: 太宰治, real name Shūji Tsushima) was a Japanese author who is considered one of the foremost fiction writers of 20th-century Japan. A number of his most popular works, such as Shayō (The Setting Sun) and Ningen Shikkaku (No Longer Human), are considered modern-day classics in Japan.
With a semi-autobiographical style and transparency into his personal life, Dazai’s stories have intrigued the minds of many readers. His books also bring about awareness to a number of important topics such as human nature, mental illness, social relationships, and postwar Japan.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (40%)
4 stars
7 (35%)
3 stars
5 (25%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for rickus.
107 reviews11 followers
November 2, 2019
Karya Dazai belum banyak diterjemahkan di Indonesia. Dan ketika membaca buku ini, saya pikir ini kumpulan cerpennya. Ternyata ini lebih ke kisah Dazai sendiri. Namun tetap menarik untuk dibaca, membuat saya lebih mengenal dan mengetahui alasan mengapa Dazai mengakhiri hidupnya.

Diluar kontennya, terjemahannya bagus, sampul nya juga menarik. Layak untuk dikoleksi.
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews
July 5, 2020
Memang masih banyak karya Dazai yang belum diterjemahkan, namun dengan membaca "Delapan pemandangan dari Tokyo" ini bisa dijadikan alternatif bacaan untuk mengetahui sedikit tentang kehidupan si penulis.

Dalam buku ini sedikit menceritakan kehidupan Dazai ketika masih menempuh pendidikan kuliah, kemudian seringkali berpindah-pindah domisili tempat tinggal, dan perjalanan pulang ke kampung halamannya.

Kualitas terjemahan buku ini saya suka, bahasa yang digunakan tidak sulit, bahkan ada beberapa kosakata gaul zaman sekarang, kemudian adanya footnote disetiap kata atau kalimat berbahasa jepang yang memudahkan pembaca untuk mengerti makna dari kata atau kalimat tersebut tentunya. Saya juga suka cover buku ini, desainnya unik karena mencantumkan gambar-gambar mengenai jepang itu sendiri, seperti kuil, kimono, beserta masyarakatnya. Ditambah lagi dengan dicantumkan foto Dazai yang sedang memegang dagunya dan nampak terlihat murung di bagian cover belakang menambah nilai estetik tersendiri bagi saya.

Harapan saya kedepannya semoga banyak karya-karya dari Dazai dan penulis jepang lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia supaya mempermudah kita untuk mengakses karya-karya terjemahan tersebut dan menambah wawasan kita tentang literatur jepang.
Profile Image for Tiw.
66 reviews
March 16, 2023
Kalau kalian kira buku ini tentang pemandangan dari delapan sudut Tokyo rasanya salah besar. Lebih dari itu, penulis menceritakan kehidupannya secara singkat lewat 5 cerita di dalam buku ini.

Buku ini dibuka dengan cerita pertama berjudul Delapan Pemandangan dari Tokyo yang berisi tentang kehidupan pribadi penulis sebelum menulis buku ini. Aku sempat kesal dan hampir menyerah di bagian awal ini karena narasinya yang terlalu gamblang dan blak-blakan menceritakan kehidupan pribadi penulis. Dan asumsiku yang bersumbu pendek ini ngira bahwa buku ini isinya kayak No Longer Human versi rinci😂 tapi tertanya engga! Meskipun ketika baca bagian awal banyaknya misuh-misuh dan ngata-ngatain tapi ketika akan beranjak ke cerita selanjutnya emosiku stabil lagi. Aku mulai menemukan tulisan khas Osamu Dazai yang memikat dan penceritaan yang luar biasa.

Sejumlah perasaan yang dituangkan Osamu Dazai di buku ini bisa dengan mudah aku rasakan berkat narasi yang tajam dan tentu saja terjemahan yang bagus👌

Seperti biasa, hal yang aku suka ketika membaca buku dari penulis jepang adalah soal bagaimana mereka menulis tentang manusia dan segala konflik yang ada. Novela ini juga berhasil mengorek sisi lain manusia yang jarang disadari lewat tokoh utamanya.
Profile Image for naseu.
92 reviews23 followers
September 24, 2020
Buku ini menceritakan potongan-potongan kisah dari penulis sendiri yakni Osamu Dazai. Ia mengisahkan dirinya yang berulang kali mencoba bunuh diri tapi gagal. Di buku ini pula, Osamu Dazai menceritakan dirinya yang mencukupi hidupnya dengan menulis novel. Buku ini lebih banyak menceritakan kisah kehidupannya dan kekasihnya di Tokyo. Selain itu, ia juga menceritakan tentang perjalanannya ke berbagai tempat. Berbicara mengenai kisah perjalanannya, ada sebuah kutipan yang diucapkan osamu dasai.

"Aku bepergian bukan untuk bersenang-senang, aku bepergian untuk membangun monumen penting dalam hidupku"
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.