What do you think?


Nostalgia Merah
“Menurut Tante sebagai penggemarnya, apa yang dilakukan Sherlock Holmes, jika sahabatnya, Dr. Watson melakukan kejahatan? Apa dia akan menangkapnya atau membiarkannya bebas?”
Tante Sofia hanya menatap acuh dan polwan itu pun membalas, “Jangan mikir yang aneh-aneh.”
***
Entah apa yang dipikirkan Tirta Firmansyah saat mengakhiri hidup Stella Jelita. Pembunuhan yang ia lakukan dalam acara reuni di atas kapal tentu berisiko tinggi. Apalagi sahabatnya memiliki observasi unggul dan anti terhadap tindak kriminal.
Di sisi lain, tewasnya sang primadona sekolah, membuat pria lulusan kriminologi bernama Gardi Prima harus turun tangan. Secara perlahan, ia menelusuri satu demi satu petunjuk dari masing-masing peserta reuni lainnya. Namun, ketika semua bukti mengarah kepada sahabat yang sudah seperti saudara baginya, ia pun dilanda dilema. Mampukah ia mengungkap kasus pembunuhan tersebut? Apakah sang detektif mampu menyerahkan sahabat terbaiknya ke tangan hukum atau justru membiarkannya melenggang bebas?
Tante Sofia hanya menatap acuh dan polwan itu pun membalas, “Jangan mikir yang aneh-aneh.”
***
Entah apa yang dipikirkan Tirta Firmansyah saat mengakhiri hidup Stella Jelita. Pembunuhan yang ia lakukan dalam acara reuni di atas kapal tentu berisiko tinggi. Apalagi sahabatnya memiliki observasi unggul dan anti terhadap tindak kriminal.
Di sisi lain, tewasnya sang primadona sekolah, membuat pria lulusan kriminologi bernama Gardi Prima harus turun tangan. Secara perlahan, ia menelusuri satu demi satu petunjuk dari masing-masing peserta reuni lainnya. Namun, ketika semua bukti mengarah kepada sahabat yang sudah seperti saudara baginya, ia pun dilanda dilema. Mampukah ia mengungkap kasus pembunuhan tersebut? Apakah sang detektif mampu menyerahkan sahabat terbaiknya ke tangan hukum atau justru membiarkannya melenggang bebas?
270 pages, Paperback
Published November 2, 2018
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
November 22, 2018
Harusnya ulasan novel ini saya rilis minggu lalu. Namun, karena sibuk membicarakan genre detektif di Post Santa, lalu mengisi bincang-bincang genre fiksi kriminal pula di Festival Literasi Tangerang Selatan, akhirnya ulasan novel ini baru rilis.
Saya sudah membaca novel ini berulang kali, dan saya cukup amazed dengan betapa mendalamnya Bang Fadli kala menulis novel ini. Nostalgia Merah ditulis dengan menggabungkan berbagai riset, mulai dari riset tentang investigasi polisi di luar yurisdiksi, proses undercover untuk menangkap jaringan "senjata ilegal", bahkan ilmu-ilmu kriminologi yang konon telah dipelajari penulis dari buku "Memahami Pembunuhan" oleh salah satu kriminolog. Memang, tidak bisa dipungkiri, sebagai pecinta literatur fiksi kriminal dan penggagas Komunitas Detectives ID, Bang Fadli bisa dibilang jadi orang yang paling tahu apakah itu genre detektif. Setiap beliau cerita, mulai dari tokoh Dupin-nya Edgar Allan Poe yang masuk era "Genesis", sampai era modern, Bang Fadli sudah sangat menguasai.
Jadi, saya tidak heran, ketika beliau menulis novel detektif, hasilnya pasti memuaskan.
Salah satu rule atau aturan penulisan cerita detektif adalah, adanya fair play kepada pembaca. Petunjuk dan misteri yang disajikan, haruslah adil untuk pembaca. Konon, Bang Fadli bilang bahwa aturan tersebut adalah bentuk interaksi penulis detektif dengan pembacanya. Jika pembaca berhasil menebak petunjuk dalam novel, maka pembaca menang. Jika tidak, maka pembaca belum bisa mengungguli sang penulis. Aturan ini menjadi salah satu momok mengerikan bagi penulis detektif, sebab membuat cerita detektif yang fair play, tentu sangatlah sulit. Terlebih lagi, penulis detektif harus memikirkan hal lain di samping petunjuk, yaitu alur cerita, tokoh-tokoh, motif pelaku, hingga latar belakang terjadinya suatu kejahatan dan bagaimana kriminolog memandang fenomena tersebut.
Genre detektif sangatlah berbeda dengan thriller yang umumnya memakai teknik foreshadow. Oleh karena itu, membaca genre detektif perlu berpikir lebih keras, karena jika tidak, petunjuk akan terlewat.
Sepanjang saya membaca Nostalgia Merah, saya menikmati bagaimana Bang Fadli menjalin dialog dan deskripsi suasana serta tambahan informasi lain sebagai bentuk trivia yang bahkan sebagian orang mungkin belum tahu. Di awal cerita, sebelum masuk pada kasus utama yang disuguhkan, kita sudah menemukan informasi menarik seputar teka-teki "gajah".
Novel Nostalgia Merah mengusung genre inverted detective story, suatu sub genre detektif yang berbeda dengan tipikal whodunit. Whodunit mungkin bisa kalian temukan di hampir sebagian besar cerita detektif era Golden Age, karya-karya Agatha Christie, karya-karya Sir Arthur Conan Doyle, dan beberapa cerita detektif lainnya. Genre inverted atau howcatchem / whydunit ini sendiri, konon awal ditemukannya adalah lewat The Singing Bone (1912) karya R. Austin Freeman. Dulu, Freeman membuat cerita yang dibagi ke dalam dua bagian, pertama untuk mengungkap fakta-fakta kasus kejahatannya di awal, berikut pelakunya. Sementara pembaca bertanya-tanya, "Apa yang tersisa dari cerita inverted kalau begitu? Kita toh sudah tahu pelaku dan bagaimana cara melakukan kejahatannya," tentu saja Freeman membuat bagian dua yang berisi investigasinya. Hal inilah yang dikatakan menjadi suatu penemuan baru, atau suatu "materi" baru dengan struktur baru pula.
Sejak kemunculan The Singing Bone, mulai muncul banyak cerita dari subgenre ini, salah satunya yang populer adalah serial klasik yang pernah tayang di TVRI, Columbo.
Hampir mirip seperti karya Freeman itu, Nostalgia Merah memakai format tiga bagian. Bagian pertama adalah untuk awal kisah, bagian dua mulainya tragedi dan investigasi, serta bagian tiga ada penyelesaian berikut side dish yang ditawarkan. Kenapa ada "makanan pendamping" ini? Karena saya tahu, bahwa Bang Fadli juga menulis cerita hardboiled dengan tokoh Tony Yahya, dan cerita sampingan ini mungkin dibuat untuk kecintaannya pada genre detektif yang lebih realistis itu.
Bagi teman-teman yang mau mulai membaca genre detektif, mungkin perlu menjelajahi genre lain yang tidak hanya whodunit. Berhubung buku-buku luar dan klasik pasti sudah banyak bertebaran, maka kalian harus juga mencoba buku dari penulis Indonesia. Dari sana, kalian baru akan tahu, bahwa genre detektif sedang berusaha untuk bangkit dan menuju Golden Age lagi. Semoga penulis Indonesia lainnya lebih banyak menulis buku-buku genre detektif untuk meramaikan khazanah fiksi kriminal di Indonesia.
Oh ya, dengar-dengar, Nostalgia Merah ini menjadi seri pertama dari kelompok serial "Gardi Prima's Inverted Detective Story". Saya jadi tidak sabar ingin menunggu kiprah Gardi Prima selanjutnya. Penasaran sekaligus ingin tahu, kasus apa lagi yang akan coba disajikan oleh Bang Fadli yang begitu menyukai literatur detektif.
Lima bintang untuk buku keren ini! Semangat Bang Fadli!
Saya sudah membaca novel ini berulang kali, dan saya cukup amazed dengan betapa mendalamnya Bang Fadli kala menulis novel ini. Nostalgia Merah ditulis dengan menggabungkan berbagai riset, mulai dari riset tentang investigasi polisi di luar yurisdiksi, proses undercover untuk menangkap jaringan "senjata ilegal", bahkan ilmu-ilmu kriminologi yang konon telah dipelajari penulis dari buku "Memahami Pembunuhan" oleh salah satu kriminolog. Memang, tidak bisa dipungkiri, sebagai pecinta literatur fiksi kriminal dan penggagas Komunitas Detectives ID, Bang Fadli bisa dibilang jadi orang yang paling tahu apakah itu genre detektif. Setiap beliau cerita, mulai dari tokoh Dupin-nya Edgar Allan Poe yang masuk era "Genesis", sampai era modern, Bang Fadli sudah sangat menguasai.
Jadi, saya tidak heran, ketika beliau menulis novel detektif, hasilnya pasti memuaskan.
Salah satu rule atau aturan penulisan cerita detektif adalah, adanya fair play kepada pembaca. Petunjuk dan misteri yang disajikan, haruslah adil untuk pembaca. Konon, Bang Fadli bilang bahwa aturan tersebut adalah bentuk interaksi penulis detektif dengan pembacanya. Jika pembaca berhasil menebak petunjuk dalam novel, maka pembaca menang. Jika tidak, maka pembaca belum bisa mengungguli sang penulis. Aturan ini menjadi salah satu momok mengerikan bagi penulis detektif, sebab membuat cerita detektif yang fair play, tentu sangatlah sulit. Terlebih lagi, penulis detektif harus memikirkan hal lain di samping petunjuk, yaitu alur cerita, tokoh-tokoh, motif pelaku, hingga latar belakang terjadinya suatu kejahatan dan bagaimana kriminolog memandang fenomena tersebut.
Genre detektif sangatlah berbeda dengan thriller yang umumnya memakai teknik foreshadow. Oleh karena itu, membaca genre detektif perlu berpikir lebih keras, karena jika tidak, petunjuk akan terlewat.
Sepanjang saya membaca Nostalgia Merah, saya menikmati bagaimana Bang Fadli menjalin dialog dan deskripsi suasana serta tambahan informasi lain sebagai bentuk trivia yang bahkan sebagian orang mungkin belum tahu. Di awal cerita, sebelum masuk pada kasus utama yang disuguhkan, kita sudah menemukan informasi menarik seputar teka-teki "gajah".
Novel Nostalgia Merah mengusung genre inverted detective story, suatu sub genre detektif yang berbeda dengan tipikal whodunit. Whodunit mungkin bisa kalian temukan di hampir sebagian besar cerita detektif era Golden Age, karya-karya Agatha Christie, karya-karya Sir Arthur Conan Doyle, dan beberapa cerita detektif lainnya. Genre inverted atau howcatchem / whydunit ini sendiri, konon awal ditemukannya adalah lewat The Singing Bone (1912) karya R. Austin Freeman. Dulu, Freeman membuat cerita yang dibagi ke dalam dua bagian, pertama untuk mengungkap fakta-fakta kasus kejahatannya di awal, berikut pelakunya. Sementara pembaca bertanya-tanya, "Apa yang tersisa dari cerita inverted kalau begitu? Kita toh sudah tahu pelaku dan bagaimana cara melakukan kejahatannya," tentu saja Freeman membuat bagian dua yang berisi investigasinya. Hal inilah yang dikatakan menjadi suatu penemuan baru, atau suatu "materi" baru dengan struktur baru pula.
Sejak kemunculan The Singing Bone, mulai muncul banyak cerita dari subgenre ini, salah satunya yang populer adalah serial klasik yang pernah tayang di TVRI, Columbo.
Hampir mirip seperti karya Freeman itu, Nostalgia Merah memakai format tiga bagian. Bagian pertama adalah untuk awal kisah, bagian dua mulainya tragedi dan investigasi, serta bagian tiga ada penyelesaian berikut side dish yang ditawarkan. Kenapa ada "makanan pendamping" ini? Karena saya tahu, bahwa Bang Fadli juga menulis cerita hardboiled dengan tokoh Tony Yahya, dan cerita sampingan ini mungkin dibuat untuk kecintaannya pada genre detektif yang lebih realistis itu.
Bagi teman-teman yang mau mulai membaca genre detektif, mungkin perlu menjelajahi genre lain yang tidak hanya whodunit. Berhubung buku-buku luar dan klasik pasti sudah banyak bertebaran, maka kalian harus juga mencoba buku dari penulis Indonesia. Dari sana, kalian baru akan tahu, bahwa genre detektif sedang berusaha untuk bangkit dan menuju Golden Age lagi. Semoga penulis Indonesia lainnya lebih banyak menulis buku-buku genre detektif untuk meramaikan khazanah fiksi kriminal di Indonesia.
Oh ya, dengar-dengar, Nostalgia Merah ini menjadi seri pertama dari kelompok serial "Gardi Prima's Inverted Detective Story". Saya jadi tidak sabar ingin menunggu kiprah Gardi Prima selanjutnya. Penasaran sekaligus ingin tahu, kasus apa lagi yang akan coba disajikan oleh Bang Fadli yang begitu menyukai literatur detektif.
Lima bintang untuk buku keren ini! Semangat Bang Fadli!
November 23, 2018
Bab-bab awal mengingatkan pada karya Georges Simenon yang selalu beraroma pelabuhan. Pembukaan menggunakan riddle sungguh sangat brilian. Saya merasakan misteri yang sesungguhnya pada bab 2. Dialog-dialog dan narasi pengenalan para tokoh, sudah berhasil tersusun dengan rapi. Wabilkhusus saya suka deduksi berantai ala Ellery Queen yang disajikan. Namun kalau boleh menilai, secara garis besar jalannya investigasi sangat beraroma Georges Simenon, sedikit ke Kogoro Akechi. Alih-alih membuktikan kejahatan dengan aksi petualangan, pada tulisan ini lebih menonjolkan dari sisi psikologis.
Yang paling membedakan inverted story dengan genre lainnya menurut saya adalah ketegangan yang ditimbulkan. Apalagi ini menggunakan POV 1, pembaca seakan diaduk emosinya saat tokoh utama berinteraksi dengan si pembunuh.
Buku ini adalah salah satu bukti bahwa penulis lokal Indonesia mampu membuat novel detektif berjenis inverted story dengan sangat apik. Jenis struktur cerita detektif yang tidak umum dan melawan arus. Terakhir saya baca karya yang menggunakan struktur semacam ini adalah The King Is Dead (Ellery Queen)--yang sempat dinobatkan sebagai salah satu dari sebelas novel locked room terbaik sepanjang masa. Kemudian Psychlogical Test karya Edogawa Ranpo, penulis cerita detektif asal Jepang yang banyak menginspirasi penulis lain. Dua-duanya merupakan buku yang ditulis lebih dari setengah abad yang lalu. Seperti halnya kedua novel di atas, Nostalgia Merah berhasil membuat saya penasaran hingga titik terakhir. Sekalipun pelaku kejahatan sudah diketahui sejak awal. Namun tak menghilangkan sajian misteri yang sesungguhnya. Memang, sebelumnya saya pernah membaca buku ini dalam versi ebook-nya, tapi versi cetak jauh lebih nyaman di mata. Kisah di dalamnya berhasil membawa saya ke dalam dilema. Apakah harus bersikap subyektif atau justru obyektif jika pelaku kejahatan adalah keluarga/sahabat kita sendiri.
Lalu, apakah sebelum buku ini, sudah ada karya lokal berjenis inverted story? Saya adalah penggemar karya-karya lama. Mulai dari karya Soeman Hs, Grandy, Suparto Brata, dan beberapa nama penulis cerita detektif lokal yang hampir terlupakan namanya. Pada mulanya saya mengira, bahwa Garuda Putih karya Suparto Brata memilki struktur Inverted story. Tapi setelah dibaca lagi, sama sekali bukan. Jadi kesimpulannya, saya belum menemukan novel lokal indonesia berjenis inverted selain Nostalgia Merah. 4,75 bintang untuk novel ini. 0,25-nya saya simpen dulu karena bab satu yang sedikit terlambat panas dan tidak adanya daftar isi dalam buku ini.
Terlepas dari kekurangan kecil itu, keseluruhan isi buku ini adalah kisah detektif yang menarik, dan berani melawan arus. Mustahil pembaca tidak menyukainya.
Yang paling membedakan inverted story dengan genre lainnya menurut saya adalah ketegangan yang ditimbulkan. Apalagi ini menggunakan POV 1, pembaca seakan diaduk emosinya saat tokoh utama berinteraksi dengan si pembunuh.
Buku ini adalah salah satu bukti bahwa penulis lokal Indonesia mampu membuat novel detektif berjenis inverted story dengan sangat apik. Jenis struktur cerita detektif yang tidak umum dan melawan arus. Terakhir saya baca karya yang menggunakan struktur semacam ini adalah The King Is Dead (Ellery Queen)--yang sempat dinobatkan sebagai salah satu dari sebelas novel locked room terbaik sepanjang masa. Kemudian Psychlogical Test karya Edogawa Ranpo, penulis cerita detektif asal Jepang yang banyak menginspirasi penulis lain. Dua-duanya merupakan buku yang ditulis lebih dari setengah abad yang lalu. Seperti halnya kedua novel di atas, Nostalgia Merah berhasil membuat saya penasaran hingga titik terakhir. Sekalipun pelaku kejahatan sudah diketahui sejak awal. Namun tak menghilangkan sajian misteri yang sesungguhnya. Memang, sebelumnya saya pernah membaca buku ini dalam versi ebook-nya, tapi versi cetak jauh lebih nyaman di mata. Kisah di dalamnya berhasil membawa saya ke dalam dilema. Apakah harus bersikap subyektif atau justru obyektif jika pelaku kejahatan adalah keluarga/sahabat kita sendiri.
Lalu, apakah sebelum buku ini, sudah ada karya lokal berjenis inverted story? Saya adalah penggemar karya-karya lama. Mulai dari karya Soeman Hs, Grandy, Suparto Brata, dan beberapa nama penulis cerita detektif lokal yang hampir terlupakan namanya. Pada mulanya saya mengira, bahwa Garuda Putih karya Suparto Brata memilki struktur Inverted story. Tapi setelah dibaca lagi, sama sekali bukan. Jadi kesimpulannya, saya belum menemukan novel lokal indonesia berjenis inverted selain Nostalgia Merah. 4,75 bintang untuk novel ini. 0,25-nya saya simpen dulu karena bab satu yang sedikit terlambat panas dan tidak adanya daftar isi dalam buku ini.
Terlepas dari kekurangan kecil itu, keseluruhan isi buku ini adalah kisah detektif yang menarik, dan berani melawan arus. Mustahil pembaca tidak menyukainya.
November 8, 2018
Terima kasih untuk bang Fadli karena sudah membuat saya tidak bisa tidur karena penasaran.
Oke, pertama sebelum memulai review. Saya merasa sangat senang bisa berkenalan dengan Gardi Prima melalui subgenre yang jarang (bila tidak bisa dikatakan tidak ada), inverted story.
Dari sampulnya saja sudah eye-catching banget, nuansa merah dengan siluet sang detektif yang seorang kriminolog disertai gambar mungil ilustrasi KM. Kelud sudah membuat buku ini worth to read dan saya yakin sampulnya juga bisa disandingkan dengan buku misteri impor.
Latar yang dipakai (KM. Kelud) cukup menggoda saya yang punya ketertarikan khusus dengan kapal. Saya sempat khawatir akan keluar istilah-istilah yang "ngejelimet" seperti main deck, upper deck, dan segala macam yang dapat membuat buku ini terkesan berat. Untungnya, tidak ada. Semua penggambaran latar digambarkan dengan sederhana dan mudah dibayangkan.
Sekarang sosok si detektif, Gardi Prima. Digambarkan sebagai seorang kriminolog, dan seorang detektif berbaju batik sangat menambahkan kearifan lokal terhadap sosoknya. Kalau ini akhirnya diterjemahkan kedalam bahasa lain, saya rasa bakalan keren abis kalau diluar sana bakal banyak yang tertarik dan mulai membicarakan detektif berbaju batik ini. Kecerdasan luar biasa dalam menyambung antara petunjuknya memukau, dan dia melakukan semuanya secara fair untuk pembaca. Kelemahannya juga melengkapi serta menambahkan unsur emosional dalam cerita.
Karena ini konsepnya "howcatchem" bukan "whodunit", saya bingung bagaimana cara mengungkapkan "keberhasilan" pembaca. Bagaimana kalau dengan petunjuknya? Secara keseluruhan, saya berhasil mengikuti dan ikut menyambung antara petunjuk dengan petunjuk lain. Tapi tetap saja, ada beberapa petunjuk yang gagal saya sambungkan dengan kasus yang terjadi. Selain itu, ada semacam side dish dari buku ini. Saya menebak, side dish ini dibuat karena kecintaan si penulis terhadap subgenre yang satu lagi hahaha.
Buku ini secara sukses menggoda saya untuk dibaca dari awal sampai akhir secara nonstop. Dan mengundang rasa penasaran pada bagian prolog sampai solusi, dan senyum-senyum sendiri di bagian epilog.
Sedikit spoiler, walaupun tidak ada sangkut pautnya saya rasa dengan ceritanya. Tunangannya, mengingatkan saya pada seseorang... dan bang Fadli, si penulis, menceritakan kalau dia... ah sudahlah. Untung beda 1 huruf.
4,5* untuk cerita yang luar biasa, 0,5* untuk subgenre dan sampul yang keren.
Oke, pertama sebelum memulai review. Saya merasa sangat senang bisa berkenalan dengan Gardi Prima melalui subgenre yang jarang (bila tidak bisa dikatakan tidak ada), inverted story.
Dari sampulnya saja sudah eye-catching banget, nuansa merah dengan siluet sang detektif yang seorang kriminolog disertai gambar mungil ilustrasi KM. Kelud sudah membuat buku ini worth to read dan saya yakin sampulnya juga bisa disandingkan dengan buku misteri impor.
Latar yang dipakai (KM. Kelud) cukup menggoda saya yang punya ketertarikan khusus dengan kapal. Saya sempat khawatir akan keluar istilah-istilah yang "ngejelimet" seperti main deck, upper deck, dan segala macam yang dapat membuat buku ini terkesan berat. Untungnya, tidak ada. Semua penggambaran latar digambarkan dengan sederhana dan mudah dibayangkan.
Sekarang sosok si detektif, Gardi Prima. Digambarkan sebagai seorang kriminolog, dan seorang detektif berbaju batik sangat menambahkan kearifan lokal terhadap sosoknya. Kalau ini akhirnya diterjemahkan kedalam bahasa lain, saya rasa bakalan keren abis kalau diluar sana bakal banyak yang tertarik dan mulai membicarakan detektif berbaju batik ini. Kecerdasan luar biasa dalam menyambung antara petunjuknya memukau, dan dia melakukan semuanya secara fair untuk pembaca. Kelemahannya juga melengkapi serta menambahkan unsur emosional dalam cerita.
Karena ini konsepnya "howcatchem" bukan "whodunit", saya bingung bagaimana cara mengungkapkan "keberhasilan" pembaca. Bagaimana kalau dengan petunjuknya? Secara keseluruhan, saya berhasil mengikuti dan ikut menyambung antara petunjuk dengan petunjuk lain. Tapi tetap saja, ada beberapa petunjuk yang gagal saya sambungkan dengan kasus yang terjadi. Selain itu, ada semacam side dish dari buku ini. Saya menebak, side dish ini dibuat karena kecintaan si penulis terhadap subgenre yang satu lagi hahaha.
Buku ini secara sukses menggoda saya untuk dibaca dari awal sampai akhir secara nonstop. Dan mengundang rasa penasaran pada bagian prolog sampai solusi, dan senyum-senyum sendiri di bagian epilog.
Sedikit spoiler, walaupun tidak ada sangkut pautnya saya rasa dengan ceritanya. Tunangannya, mengingatkan saya pada seseorang... dan bang Fadli, si penulis, menceritakan kalau dia... ah sudahlah. Untung beda 1 huruf.
4,5* untuk cerita yang luar biasa, 0,5* untuk subgenre dan sampul yang keren.
September 7, 2019
Pertama, jatuh hati sama sampulnya. Kayaknya yg jadi model si penulisnya sendiri ini :)). Kesan dari sampul ini mengingatkanku sama serial HBO True Detective yang noir dan edgy gitu.
Kedua, sesuai judulnya, novel ini bikin saya bernostalgia pula. Nostalgia dulu SMP baca komik Detective Conan, satu episode alurnya inverted pula (pembunuh sudah ketahuan di awal). Dan bernostalgia masa kecil dulu pun pernah naik kapal laut setipe dengan setting cerita di sini.
Nostalgia Merah adalah novel detektif yang ceritanya nggak muluk-muluk. Sederhana saja. Tapi kelihatan sekali kalau ditulis dengan sungguh-sungguh. Sehingga enak sekali dibaca. Sudah begitu pengarangnya menaruh misteri-misteri tentang tokoh utamanya yang tercecer di sepanjang plot utama. I could say this novel is a very promising start for a series. Ditunggu kiprah Gardi Prima selanjutnya Bro Fadli.
Kedua, sesuai judulnya, novel ini bikin saya bernostalgia pula. Nostalgia dulu SMP baca komik Detective Conan, satu episode alurnya inverted pula (pembunuh sudah ketahuan di awal). Dan bernostalgia masa kecil dulu pun pernah naik kapal laut setipe dengan setting cerita di sini.
Nostalgia Merah adalah novel detektif yang ceritanya nggak muluk-muluk. Sederhana saja. Tapi kelihatan sekali kalau ditulis dengan sungguh-sungguh. Sehingga enak sekali dibaca. Sudah begitu pengarangnya menaruh misteri-misteri tentang tokoh utamanya yang tercecer di sepanjang plot utama. I could say this novel is a very promising start for a series. Ditunggu kiprah Gardi Prima selanjutnya Bro Fadli.
July 27, 2020
Secara impulsif membeli buku ini dan tidak menyesal.
Baru kali ini aku menemukan novel detektif yang semacam ini (kemungkinan besar karena mainku kurang jauh 😅). Ini adalah tipe novel yang sudah memberikan spoiler siapa pelaku kejahatannya sejak awal. Dan sepanjang jalannya cerita, kita harus menebak-nebak apa motif dari si pelaku.
Kesan pertamaku ini bakal jadi novel yang super duper rumit sampai bikin pusing. Namun ternyata gaya penulisannya benar-benar enak dan smooth sehingga bisa diikuti dengan baik. Bahkan pembaca yang nggak terbiasa membaca novel misteri tidak akan merasa bodoh dan clueless karena petunjuk disebarkan dengan rapi dan cermat. Baru kali ini aku menemukan buku yang mengajak pembacanya berpikir bersama.
Aku pernah baca, Nostalgia Merah ini buku seri pertama. Kalau memang benar ada lanjutannya, I can't wait for that!
Baru kali ini aku menemukan novel detektif yang semacam ini (kemungkinan besar karena mainku kurang jauh 😅). Ini adalah tipe novel yang sudah memberikan spoiler siapa pelaku kejahatannya sejak awal. Dan sepanjang jalannya cerita, kita harus menebak-nebak apa motif dari si pelaku.
Kesan pertamaku ini bakal jadi novel yang super duper rumit sampai bikin pusing. Namun ternyata gaya penulisannya benar-benar enak dan smooth sehingga bisa diikuti dengan baik. Bahkan pembaca yang nggak terbiasa membaca novel misteri tidak akan merasa bodoh dan clueless karena petunjuk disebarkan dengan rapi dan cermat. Baru kali ini aku menemukan buku yang mengajak pembacanya berpikir bersama.
Aku pernah baca, Nostalgia Merah ini buku seri pertama. Kalau memang benar ada lanjutannya, I can't wait for that!
June 15, 2020
Sayangnya saya memang masih tipe orang jadul yang lebih suka novel detektif tipe “whodunit”, padahal gaya penceritaan sudah sangat menarik selama membaca saya masih mengharapkan bukan dia pelaku yg telah diungkapkan oleh penulis pada prolog novel.
Tapi apa daya penulis menggunakan metode penulisan seperti ini untuk lebih mengajak pembaca untuk mengungkap motif sebenarnya, sehingga sepanjang cerita sudah terjalin kemungkinan motif dari tokoh pembunuhnya itu sendiri, apalagi beberapa kali diungkapkan bahwa pelaku sudah bahwa ia telah memiliki tunangan.
But thats okay tetap bisa menikmati novelnya dan sabar akan menunggu release an berikutnya yang semoga bisa membuat pembaca bisa ikutan menebak pelaku pembunuhannya.
Salut untuk pengarang 👍
Tapi apa daya penulis menggunakan metode penulisan seperti ini untuk lebih mengajak pembaca untuk mengungkap motif sebenarnya, sehingga sepanjang cerita sudah terjalin kemungkinan motif dari tokoh pembunuhnya itu sendiri, apalagi beberapa kali diungkapkan bahwa pelaku sudah bahwa ia telah memiliki tunangan.
But thats okay tetap bisa menikmati novelnya dan sabar akan menunggu release an berikutnya yang semoga bisa membuat pembaca bisa ikutan menebak pelaku pembunuhannya.
Salut untuk pengarang 👍
This entire review has been hidden because of spoilers.
November 4, 2025
Buku kedua yang aku temuin di perpus independen di bandung, setelah lama bgt penasaran sm buku ini. Kayanya sebulan kedepan aku akan jd pengunjung tetap perpus itu soalnya banyak nemu buku2 yg udah aku pengen baca dr dulu. Untuk ukuran detektif indonesia ini bagus sih dibikin serial
Currently Reading
August 6, 2021Bagus cerita nya
Displaying 1 - 8 of 8 reviews








