eMTe lahir sebagai perias sampul ternama Indonesia, yang darinya juga tercipta ratusan sampul buku dengan ilustrasi yang cuma dia yang punya. Gayanya sangat versatile, tergantung pesanan dan keinginan isi bukunya. Sejak pertengahan 2000–an, eMTe tidak bisa lagi digoyahkan sebagai perias buku paling hitz dan feme bahkan sampai saat ini.
Lahirnya Gugug mungkin bukan dari ketidaksengajaan. Komik ini jelas dirancang dengan ketelitian pembagian panel yang sekuen. Meski memang di sebaran awal buku terlihat masih menghamburkan ruang pandang dan balon yang tidak efisien. Sebenarnya, semesta penceritaan dalam Gugug sudah dalam premis yang menarik. Hanya sekuensis tidak benar-benar mulus seperti gelagat dalam simpul-simpul ceritanya.
Buku ini jelas sangat tanpak sisi ambisi dalam pembagian pola gambar keimbang story telling yang hemat. Cerita memang sangat komik, seperti genre yang memang diusung ya komik. Ada keluguan yang nyaris terjadi kelucuan. Banyak efek slapstik yang muncul dan memang begitu adanya dunia pets lover. eMTE sering bias dalam meyakinkan bahwa binatang yang menjadi pelaku adalah anjing, bukan kucing, juga bukan manusia. Gugug tentu bisa tampil semanusia mungkin karena toh ini komik. Hanya kadang pola pola adaptasinya kadang menjelma jadi kucing dan manusia yang membuat keyakinan saya sebagai pembaca pelan pelan runtuh. Untuk apa mengusung bendera lama yang mengibarkan kalimat usang permusuhan antara kubu visual dan cerita bahwa, “gambar lebih penting dari kata-kata”. Oh jangan. Ayolah bersikap adil. Ini buku. Kebutir kata pun layak bercerita. Tapi sebutir kata yang gagap ya tetap gagap bukan? Penggambar ini benar benar butuh pencerita yang andal nantinya.
Dengan cerita yang dibuat sangat realis (bukan dongeng), cerita dikemudikan lewat gambar dan minim dialog. Dari sisi citra komik (gambar) tidak bisa lagi kita mendebat, dapet ponten 10. Hidup, detail, bergerak, dinamis dan jauh dari minat mengoreksi ujung pena kreatornya. eMTE benar2 membuktikan ilustrator juga punya nyali untuk berkarya. Bintang 5 untuk visual. Salut dengan kelahiran komik lokal bermutu seperti ini.
Tapi dalam cerita? eMTe tampak gagap. Balok teks terkesan ragu, kaku dan cerita tak mengalir seliar gambar-gambarnya. Di lain waktu, eMTE akan kebih baik berkolaburasi dengan penulis cerita. Cerita bukan lagi kepayahan, tapi gugusan kedalaman dunia rescue, pemikiran lingkungan hidup dan berbelas kasih sayang belum muncul secara maksimal. Kasarnya, belum bikin baper. Dari Gugug ini tampak jelas ambisinya menuju ke bentuk yang lebih serius: NOVEL GRAFIS!
Dua kubu yang berjauhan : gambar dan kata-kata tidak perlu saling ditonjolkan. Tapi tetap. Dalam format buku, komik adalah hantaran cerita yang meski sekilas per strip atau medium story, perjalanan cerita tidak hanya bisa mengandalkan kehebatan dan kehebatan gambar. Juga teks (kata-kata) yang cerewet akan membuat nilai komik mengalami abrasi dan menjenuhkan. Sekali lagi tetap. Komik butuh cerita; pendek atau panjang tetap sebuah story (cerita).
Bukan hanya di Barat atau di sini. Sebuah komik tidak berlandaskqn pada visual semata. Mari kita simak lagi komik-komik legendaris dari mancanegara dan si sini, apakah gambar satu-satunya kata kunci dalam komik? Dunia sinema pun sama. Setinggi-tinggi teknologi CGI dalam film, tetap saja, sebuah cerita yang kuatlah yang akan diperjuangkan lewat budget selangit. Mengangkat fabel dalam kehidupan urban sungguh tema yang sangat menarik. Ujung pena gambarnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Sebenarnya eMTe sudah punya dua peluru. Hanya saja di peluru ketiga, penceritaan, dia kurang dalam. IMHO.
Saya yakin, bila kolaburasi degan penulis cerita itu terjadi, kelak, karya yang lahir akan jauh dari sekadar cerita lucu dan menggemaskan. Gugug awal yang indah, dengan visual yang meyakinkan, meski belum terlalu terang kemerlap bintangnya dari sisi karakterisasi dan cerita.
Brilian. Lihat gambarnya pelan-pelan, sarat makna. Detailnya suka banget. Tapi ada yang qocag, ada kucing atau anjing yang "ngambang". Di halaman berapa ya lupa. Kalo ga ngambang ya duduk di rok ibu-ibu. Hahahaha.
mohon maap tapi ini buku yang sulit aku pahami mungkin faktor keterbatasan otakku yang you knowlah. kuberi bintang 3 biar ga dicap netijen ga menghargai karya anak bangsa (red.: cari aman)
gambarnya kayak bukan emte yang selama ini aku tahu, imej baru sih which is good. kualitas gambarnya gak perlu dipertanyakan lagi. actually, baca buku ini kayak membaca tanpa membaca (nah lho pegimane tu).
Untuk volume 1 ini saja~ U^皿^U Ya! Ini VOLUME SATU!!
Gambarnya lucu, dengan pembagian panel yang 'boros'. Latarnya bagus, enak ngeliatin detil apa saja yang ada di sana. Fisik komiknya (kover dan jenis kertas) sangat sesuai dengan harganya ^^;;
Ceritanya .... agak 'mengenaskan' ( ´ ▽ ` ;) mungkin karena salahku sendiri, sudah terlanjur ngarep bakal ada cerita mengharukan ala Petualangan Anjing. Ini si Gugug-nya pinter
Ada momen-momen bagus, seperti Menyentuh~
Sayangnya, cerita yang awalnya ta' kirain tipe slice-of-life Anjing Budiman ini beralih jadi petualangan gaje, yang mendadak Bersambung-Pas-Lagi-Seru-Serunya™. ...Maaf aku bohong, pas itu udah ga seru lagi bacanya, tapi udah agak bingung~ dan tambah bingung pas tau-tau bersambung. Ngerti sih, akhir yang bergelantungan di tebing itu termasuk strategi pemasaran untuk memasarkan buku berikutnya, tapi jadinya terasa nggak cocok dengan cerita si Gugug dari awal dan bagian pertengahannya~
Begitulah (o^-^o) lumayan, tapi bukan tipe komik yang bisa ta' rekomendasiin, ataupun ta' lanjutin ke volume selanjutnya (*_ _)人 //sepurane
ini komik, tanpa kalimat, iya cuma gambar doank.. awal'y sich mengalir dgn lancar cerita'y, sampai terharu.. tapiiii, lama" agak aneh jg sich.. anjing yg bisa ngelakuin apa aja, terus ada alien, terus ternyata bersambung.. :O
Biarkan imajinasimu mengembara, terbang menjauh dan tinggi. Terdengar klise seperti petuah-petuah motivasional bagi anak-anak, tapi "Gugug!" membuatku memikirkan begitu banyak hal ketika membacanya. Novel grafis ini tidak bisa hanya sekali dibaca pun selintas, karena bakalan ada hal-hal detil nan kecil yang bakalan terlewatkan oleh mata.
Sejak lihat ttg buku ini di tuit penerbit saat acara Ubud Fest kemarin, langsung sudah pengin menikmatinya. Buat yang suka wordless-novel seperti karya Shaun Tan atau Thomas Ott, atau yang pengin nyoba membaca buku tanpa membaca, nih ada graphel tanpa kata citarasa lokal dan sarat petualangan. Tokoh utamanya seekor anjing buntal (yg kuasumsikan bernama gugug!) dan teman-teman kecilnya dari kawasan padat penduduk pinggiran kali.
Aku suka alur ceritanya, aku suka susunan panel-panelnya yang rapi tapi juga bergaya bebas, aku suka imajinasi ceritanya yang 'aneh' dan aku juga suka kekocakan tingkah tokoh-tokohnya. Yang aku kurang suka hanya itu lo, penggambaran wajah tiap tokoh yang giginya runcing-runcing dan suka melet, hyiii... rada gilo akutu... wakakwkwk 🤣
Oiya, ternyata ini cerita berseri. Masih tubikontinyu. Penasaran pengin tahu pesawat aliennya jadi kayak apa.
Gambarnya bagusss... Detailnya dapet banget (walaupun untuk gambar manusia aku kurang suka - masalah selera sih - tapi aku akui bagus dan punya ciri khas).
Ceritanya? Paruh awal enak diikuti, setelahnya membingungkan. Apa aku harus memutar otak untuk mencerna kembali? Mungkin lain kali saja.
Btw, aku baca lewat GD. Sempat menimbang-nimbang untuk memiliki buku fisiknya karena kemasannya sangat bagus. Desain sampulnya sangat menggoda. Namun, setelah mendapatkan cerita seperti ini? Aku tidak yakin lagi.
Untuk cerita selanjutnya aku tungguin lah, namun sepertinya akan baca versi digital lagi.
A fast reading! eMTe drawing style is more ... evolving(?) More complicated, untidy, seemly panels with no speech bubbles at all. It seems like the target of this book is not only local people but also foreign people. The story was hardly to follow but it's all about a doggy comes to a slum and makes different. Waiting for the next chapter!
Siaran dengan Klub Siaran GRI tadi membahas tentang Pahlawan Tidak Biasa yang jujur membuat panik sebulan yang lalu, akhirnya aku memilih Just My Luck dan Gugug ini adalah bacaan pilihan teman untuk dibuat siaran.
Langganan Gramedia Digital masih jalan jadi aku langsung mencoba cari dan komiknya tersedia dong. Asik lah gak rugi langganan karena bulan kemaren aku malah lebih sering baca dari Scribd daripada Gramedia Digital.
**
Guguk bercerita tentang...yah anjing yang ditemukan seseorang di kali di belakang pemukiman kumuh. Anjingnya hanyut di kotak kerdus lalu diselematkan oleh satu orang.
Di sini lah perjalanan Guguk dimulai. Guguk bertemu banyak orang, mulai dari pemulung, cucu penjaga warung dekat kuburan.....sampai alien. Guguk berperan sebagai pengarah manusia-manusia yang ditemuinya untuk menemui nasib baik mereka.
Guguk ini silent komik yang pertama aku baca dan ketika membaca buku ini aku langsung ingat One Piece. Backgroundnya penuh banget. Apalagi dengan setting cerita "Jakarta Slump". Penuh banget satu halaman sampai rasanya aku gak lihat ada ruang kosong sama sekali. Apalagi jika mau melihat ilustrasinya pelan-pelan, background komik punya trivia sendiri-sendiri.
Seperti banyaknya kucing di perkampungan-perkampungan yang dilewati Guguk tanpa satu pun orang yang protes ada Guguk berkeliaran.
Poster band black metal dengan nama yang sangat normal tapi metal banget "meninggal serem ya ampun"
Atau kumpulan anak punk yang sangat hormat banget sama nenek-nenek di cerita awal yang suka nonton konser dengan nama "Halu Fest" lol.
Tertarik beli buku ini sewaktu ada diskon di halaman web penerbit. Tentu saja selain karena label harga yang mendapatkan potongan cukup besar, nama penulis meyakinkanku untuk membeli Gugug!
Oi, oi, ternyata buku ini adalah buku bergambar tanpa narasi! Jeder banget, kan? Ha-ha-ha, aku yang memang menyukai buku berilustrasi dan komik mengharapkan dapat membaca Gugug! dalam tampilan buku komik laiknya buku serupa. Eh, ternyata kok tidak ada narasi atau kalimat percakapan antartokohnya, ha-ha-ha 🤣
Tentu saja ini membuatku sempat tergagap "membaca" buku ini. Aku menduga ini dikarenakan cerita dikisahkan lewat sudut pandang seekor anjing, si Gugug.
Dikisahkan seorang lelaki yang sedang bermain ukulele di bantaran sungai mendapati sebuah kotak mengapung di sungai. Rupanya ada Gugug di dalamnya. Ia pun mengajak Gugug menyusuri jalanan di antara rumah-rumah di bantaran sungai. Tidak lama, lelaki itu mendapat telepon untuk mengantar makanan bagi para anak band. Karena tersandung, lelaki itu tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sebagai gantinya, Gugug memelesat mencari makanan untuk diberikan ke anak band. Petualangan pun dimulai. Satu demi satu petualangan dilalui, termasuk pertemuannya dengan makhluk asing. Wuih!
Ya, buku ini adalah cerita petualangan Gugug dari satu jalan ke jalan lain. Mulai dari berteman satu orang ke orang yang lain. Lewat buku ini, pembaca ditunjukkan bahwa mendapatkan uang atau makanan tidaklah mudah. Ada perjuangan di dalamnya.
Bicara soal gambar goresan emte, aku merasa aneh dengan gigi para tokohnya yang taring semua serupa drakula 🧛♂️🤭 Namun, aku menyukai detail tiap panel komiknya. Ceritanya sendiri pun asyik untuk dibaca. Bahkan anak bungsuku saja yang belum SD menyukai buku ini, lo. Penasaran?
EmTe ini memang salah satu komikus yg selalu "terdepan"dalam dunia perkomikan Indonesia. Ada saja inovasinya. Komik "Gugug" ini bukti kreativitasnya yang ehem menurut saya agak bikin kening berkerut saat membacanya. Sama sekali tidak ada dialog atau balon kata di sepanjang ceritanya, hanya ada gambar serta tulisan bunyi-bunyian kayak WUSS atau STTT. Pembaca dipaksa untuk membayangkan sekaligus menciptakan sendiri dialog bisu saat membuka halaman demi halaman buku ini. Pusing saya bacanya, apalagi menjelang akhir. Kayaknya memang otak saya yang belum sampai deh.
Hal yang cukup menantang karena kita diajak berpikir ini ceritanya mengarah ke mana sekaligus mereka-reka percakapan yang "mungkin" terjadi. Maka wajar jika pada beberapa halaman pembaca akan berhenti agak lama untuk memikirkan "dialog" yang tengah berlangsung dalam gambar tersebut. Keren sih ini, kayak komikus berkolaborasi dengan pembacanya untuk membentuk cerita. Hal unik lainnya di komik ini, para karakter manusianya digambarkan "jelek" dengan gigi taring yang sama sekali nggak estetis. Pating cronggot kalau kata orang Jawa. Kaum binatang, sebaliknya, digambarkan imut dan rapi. Sindiran yang nampol banget ini, Pak EmTe.
Sejak mengenal karya-karya Shaun Tan dan Brian Selznick, saya menyadari betapa gambar dan ilustrasi bisa menjadi sangat kuat jika disusun dan dikelola dengan baik. Bercerita tak harus dengan kata, gambar bisa menceritakan banyak sekali hal hanya dengan satu halaman ilustrasi. Kemudian ketika mengetahui ada penulis lokal yang membuat komik tanpa dialog, saya pun berekspektasi cukup tinggi.
Buku ini berkisah tentang seekor anjing yang, dengan kecerdikannya, selalu siap membantu orang-orang yang dalam kesulitan. Semesta dalam komik ini agak berbeda, karena di sini manusia, hewan, bahkan makhluk-makhluk aneh yang nantinya muncul, berinteraksi dengan wajar layaknya sebuah spesies yang sama.
Karakter serta hubungan masing-masing orang di sini masih kurang jelas, karena cukup banyak hal yang terjadi. Jatuhnya justru ide dalam buku ini masih belum kuat. Meski demikian, saya salut dan mengapresiasi ilustrasi dalam buku ini, dan tentunya kelahiran buku ini sendiri. Ilustrasinya tak perlu diragukan lagi, susunan panelnya tidak membosankan, dan pada beberapa bagian, pesannya tersampaikan dengan baik. Semoga di buku berikutnya bisa lebih menjelaskan dan mengesankan.
Covernya cute banget, gambar gugugnya juga imut. Paduan warna cover, tulisan gugug, dan kepala gugug yang muncul dari dalam bantaran kali bener2 menarik minat untuk membeli buku ini, komposisi yang pas!
Namun, setelah baca isinya oh ternyataaaa... gambar manusianya menyeramkan, mungkin ini manusia di universe vampir kali yaa, bertaring semuaaaa, kenapa binatangnya imut, tapi manusianya amit, wkwkwk
Detail gambarnya juara, suasana dan pemandangan kota dan pemukiman kumuhnya sangat real, lagi-lagi yang membuat aneh itu manusianya, kenapa mesti bertaring sih? jadinya kan rada aneh disandingkan dengan gambar perkotaan yang sebenernya keren abis, hiks sedih...
Lalu dari segi cerita kedodoran banget sih menurutku, aku gak bisa menikmati isi ceritanya, kecuali pas awal2 gugug ditemukan di bantaran kali, selebihnya meh... udah punya jilid keduanya, siap baca, tapi gak berharap banyak...
Saya penggemar ilustrasi eMTe dari entah kapan. Maka dari itu saat melihat buku ini langsung bertukas “Wah menarik ini!” Cuma sayang kesan itu tidak bertahan lama. Buku ini berjudul Gugug! Bisa ditebak kan siapa tokoh utamanya. Gugug diselamatkan oleh seseorang dari sungai. Buku ini berisi serangkaian kisah keterlibatan Gugug dalam hidup di sekitarnya, kampung yang kumuh, kehidupan kota yang kontras, kesenjangan ekonomi yang tinggi. Namun tiba-tiba ada alien datang 😂 Saya pikir sih mau merambah dari ranah sosial ke fantasi. Ya sah-sah aja sih, macam Unfortunately the Milk-nya Neil Gaiman. Namun loncatan topik ini yg terasa janggal dan kurang luwes dibawakan mas eMTe. Bagian yang saya suka dari buku ini : si Gadis penjual telur.
Maaf, sungguh, saya minta maaf karena baca bukunya yang udah dibuka (mungkin, sama salah satu kakak-kakaknya gramed agar pembaca tertarik lalu membeli) yang sayangnya tidak membuat saya tertarik ingin membeli, jahat ya 😒
Sebetulnya saya menyukai gaya gambarnya yang agak aneh(kok orang-orang giginya banyak yang tajam kayak buto) dan setting yang dekat dengan kehidupan nyata di ibukota.
Sayangnya, seperti kata salah satu goodreader, narasi berjalan sebatas orang susah-si gugug nolong-orang susah-si gugu nolong, saya sudah menyadari itu lebih awal setelah sekian menit membolak-balik baca dan mengamati dalam sekali berdiri. Ya, saya tahu beliau berpengalaman dalam membuat visual sebuah sampul buku, tapi soal narasi visual, tolong pikirkan lagi.
Dan kemudian, yang terakhir, terima kasih atas kerja keras Anda dalam membuat karya ini.
Telat memang untuk mengetahui bahwa eMTe akhirnya merilis karya sendiri berupa komik tanpa dialog. Anjing kecil nan lucu tersebut berhasil membawa ku untuk menyusuri kisah dan petualangannya.
Kesengajaan untuk meniadakan dialog terbukti memberikan kesempatan pembaca untuk menafsirkan sendiri apa arti dari setiap langkah si Gugug. Apa maksud dari setiap pertemuannya. Dan sudah sewajarnya jika pembaca merasa kebingungan dengan 1/3 dari cerita petualangan Gugug.
Tapi satu hal yang menurutku buku ini layak mendapatkan 4 bintang adalah bagaimana eMTe membawa satu topik tentang kehidupan urban kepada pembaca dan mencoba untuk sedikit "menyentil" mereka.
Baca karena belum bisa tidur. Ternyata ini komiknya bagus gitu ilustrasinya. Tokoh manusianya di sini bisa dibilang serem dengan gigi taring semua, tapi saya rasa itu belum apa-apa dibanding serial animasi di tv yg anak-anak saya sering tonton. Imajinasi Emte di sini luar biasa.
Komik yang gak ada dialog sama sekali, membuat kita menerka-nerka apa dialognya sambil menikmati gambar yang ciamik dan penuh detil. Cerita versi saya mungkin bisa berbeda dengan lainnya, karena gak ada dialog tadi. Saya suka Gugugnya lucu sekali, cuma dia yang keliatannya cute dalam buku ini.
bagoess yaampun art stylenya bikin mau nangis, detailnya, strokenya. ntah mengapa ya tapi menurut saya sih style yg kaya gini tuh bener2 cocok bgt ngegambarin klo ini tuh komik indonesia. stylenya tuh mengingatkan sy pada benny and mice kali ya. klo cerita ya cukup simpel dan wholesome! gugug yang membuat semua senang! sangat menikmati mengikuti perjalanannya si gugug, bener2 cuma visual doang, gaada yg perlu dibaca, mata ini jadi senang bgt lihatnya. walaupun karna absennya dialog, saya jadi rada bingung pas mulai ke bagian ada alien2, cukup sulit untuk dipahami klo cuma dari visual aja. tp bisa lah saya karang2 sendiri ahahahaha. graphic novel yg patut ada pada rak semua orang!
i'm always adore emte's illustrations since i was a kid, to be exact when i saw his illustrations in clara ng's books. because of that, this review might will be not "that" objective.
i love how he illustrates the comic neatly, especially when he illustrates indonesians and their cultures. also, pay, several puns that slipped in several panels are kind of satisfy me. this book shows that there's always be a kindness, even in the worst situations. i know i scared of dogs, but this one isn't scares me and definitely warms my heart.
Komik karya EmTe ini bercerita tentang ragam dan runyamnya manusia kota. Melalui petualangan seekor gugug (anjing) komik ini menunjukkan bagaimana respon terkait empati dan realita dari manusia-manusia yang acap kali digembor-gemborkan sebagai makhluk yang punya adat dan adab mulia.
Kritisi melalui seni agaknya sebuah strategi yang cukup jitu. Tidak perlu anonim dan tidak perlu khawatir akan respon dari pihak lain yang tidak sepaham. Multtafsir adalah ruang aman untuk terus melanjutkan perjuangan dari rasa-rasa yang termarjinalkan.
Bacanya tuh cepet banget karena ini komik dan enggak ada dialognya.
Berasa baca komik Webtoon yang Love Doesn't Talk sama-sama enggak ada dialog. Kita cuma harus berpikir keras untuk nentuin jalan cerita disetiap illusi yang ada.
Untuk ukuran gamar pun, menurut gue bagus walau sedikit jauh dari ekpentasi dengan karakter para manusianya. But overal nih komik keren.
Walau tanpa percakapan, banyak makna yg bisa dipetik! Mungkin pas baca ini mood lagi melow kali ya, soalnya ikut sedih lihat anak sekecil itu ikut berjuang melawan kehidupan dg menjual telur keliling :') sebenernya bukan cuman itu, lihat rakyat-rakyat kecil yg untuk makan saja kesusahan, juga bikin hati ikut menjerit.
Tapi yg paling penting, alasan saya membaca buku ini sudah tentu karena emte! Hehe ilustrasinya juara, saya sukaa.
This entire review has been hidden because of spoilers.