Tujuh tahun lalu, kematian Reza membuat Galih lari ke Jakarta. Namun, penyesalan tidak mudah dienyahkan begitu saja. Ketika kesempatan untuk kembali ke Bali datang lewat promosi karier, Galih mantap untuk pindah. Ia harus mencari Roy dan menyelesaikan segala hal yang tersisa di antara mereka.
Roya begitu terkurung dalam perasaan bersalah. Kanaya, adiknya, menderita seumur hidup karena kekonyolannya tujuh tahun lalu. Roya merasa tidak memiliki hak untuk berbahagia dan menghukum dirinya secara berlebihan. Kehadiran Galih mengajarkan Roya cara memaafkan diri sendiri.
Saat karier Galih makin mantap dan Roya mulai mengendalikan haknya untuk berbahagia, karma ternyata masih menunggu mereka di ujung jalan.
Di tempat kerja, Roya memiliki julukan sebagai si pembuat masalah. Apa yang dia kerjakan pasti berujung kesalahan yang lain. Pribadinya yang pemalu dan kikuk, sering dimanfaatkan, alih-alih dimintai tolong, Roya tidak jauh berbeda dengan pesuruh. Dia kerap melakukan pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Semuanya merupakan dampak dari kejadian tujuh tahun lalu. Kesalahan yang awalnya hanya iseng berujung menghancurkan adiknya, membuat Roya selalu merasa bersalah.
Memutuskan untuk menerima naik jabatan mungkin bagi orang lain sangat mudah, lain dengan Galih yang tujuh tahun lalu lari dari Bali. Ibunya menentang keras, tidak ingin Galih kembali ke Bali, sama saja membuka luka lama, ada pengorbanan besar yang pernah mereka taruhkan untuk membuat keadaan lebih baik. Namun, tawaran sebagai supervisor selain baik bagi pengalaman kerjanya, juga saat yang tepat untuk menuntaskan segala masalah yang pernah Galih hindari dulu.
Kehadiran Galih di tempat kerja Roya sebagai atasan baru membawa angin sejuk. Laki-laki tersebut membantu Roya walau tidak secara terang-terangan, menjauhkannya dari berbagai keteledoran di tempat kerja, membuat orang lain menghargainya. Di saat itulah Galih mulai memiliki rasa pada Roya yang biasa-biasa saja, yang suka membakar dupa. Namun, apa yang dilakukan Galih tujuh tahun lalu ternyata berhubungan dengan apa yang dialami Roya tujuh tahun lalu. Rahasia mereka memiliki benang merah yang kusut, yang sulit diurai satu persatu.
"Prosa ungu itu semcam kalimat berlebih yang sering muncul di sebuah buku, biasanya sih novel. Kalimat-kalimat yang boros kata, bertele-tele, rumit, dan seakan menarik perhatian untuk dirinya sendiri." ... "Itu juga terjadi pada kita, Ya. Kamu sama seperti aku. Sama-sama terjebak dalam kesalahan masa lalu. Jika disamakan dengan buku, berlembar-lembar kisah kita hanya dipenuhi oleh purple prose, oleh penggambaran rasa sakit dan sesal atas peristiwa itu. Kita terlalu terikat dengan kesalahan di masa lalu. Padahal dalam lembar-lembar yang terbuang itu kita bisa maju selangkah, atau setidaknya berusaha untuk move on. Tetapi kenyataan kita nggak bisa, terus saja mikirin hal itu sampai sakit kepala sendiri."
"Setiap orang bisa melakukan kesalahan, Galih. Semua kesalahan itu juga layak mendapat hukuman. Tetapi ada sesuatu yang bisa meringankan hukuman itu. Kamu tahu apa?" Sambil menghapus air mata, Galih kecil menggeleng. "Kejujuran dan tanggung jawab," sahut sang Papa lembut. "Saat kamu jujur, maka orang-orang akan menghargai usahamu. Ketika kamu bertanggung jawab, orang-orang akan berterima kasih. Jika kamu melakukan keduanya setelah melakukan kesalahan, Papa jamin hukumanmu akan bertambah ringan. Kamu mengerti?"
Purple Prose merupakan novel dewasa kedua Suarcani yang saya baca, berbekal Rule of Thirds yang memuaskan, saya cukup menantikan, dan benar saja, buku ini langsung habis sekali berbaring. Yang saya suka dari tulisannya, laiknya judul novel terbarunya ini, dia tidak boros kata. Dia bukan penulis yang mudah mengumbar metafora, kalimatnya lugas, karakter yang dia usung biasanya antihero, memakai setting yang juga domisili asalnya dengan menyisipkan sesuatu yang khas, seperti adat beribadah di Bali. Emosi tergambar jelas, dan yang paling penting, selalu ada pesan yang mendalam di dalam ceritanya.
Misalkan pesan yang ada di Purple Prose, tentang memaafkan diri sendiri, bahwa segala yang kita lakukan akan ada balasannya, entah perbuatan baik maupun sebaliknya. Setiap orang punya kesalahan dan penyelasan, penulis menunjukkan lewat tokoh Galih dan Roya. Mereka berdua sama-sama melakukan kesalahan besar dan tak termaafkan di masa lalu. Bedanya, Galih bisa move on walau dia mendapatkan karma yang cukup menyakitkan, dia tetap melanjutkan hidup. Sedangkan Roya membuat dirinya sendiri tidak berhak untuk bahagia. Dia menjadi pribadi yang kikuk, kerap kali melakukan kesalahan, hobinya adalah meminta maaf. Oleh sebab itu, dia sering dimanfaatkan di tempat kerja, menjadi pesuruh siapa pun.
Saya menyukai karakter Galih, sangat suka, tapi di sisi lain juga membencinya. Dia pribadi yang menyenangkan, suka bergurau dan mudah dekat dengan orang lain. Apa yang dilakukan rekan kerjanya pada Roya tak berperasaan, kehadirannya mengajarkan untuk menghargai orang lain. Namun, dia tidak sempurna, ada saat dia menjadi sangat pengecut, menjadi pecundang. Ada tiga bagian yang menggambarkan bahwa dia hanya manusia biasa; saat masih kecil ketika memecahkan kaca jendela tetangga, saat tujuh tahun lalu, dan di masa kini, saat misteri mulai terungkap semua. Galih sangat manusiawi sekali, kita juga bisa menjadi Galih, takut dengan kesalahan yang pernah kita perbuat, lari dari kenyataan.
Pun dengan Roya, keisengan yang dulu dia lakukan kepada adiknya membuat mereka trauma seumur hidup. Rasa bersalah menghantui Roya, hidupnya dihabiskan untuk membahagiakan adiknya, membuatnya menjadi pribadi yang tidak pernah menolak permintaan tolong orang lain, yang berujung dia diremehkan dan dimanfaatkan. Karakter keduanya kuat, emosinya dapat sekali. Hanya saja di bagian akhir, berkat campur tangan Galih juga, Roya menjadi sedikit lebih berani, tanpa meninggalkan karakter bawaanya yang tidak banyak bicara.
Adegan favorit saya adalah ketika Galih menyamar sebagai pembeli untuk mempromosikan operator seluler perusahaanya yang berujung bersitegang dengan penjual. Nggak salah dia sebagai marketing, punya bakat jualan dan endingnya bikin ngakak, saat tahu siapa anak penjual tersebut. Salah satu hal yang membahagiakan di buku ini, di samping keusilannya kalau sudah berhubungan dengan Roya.
Satu kekurangan kalau memang dianggap kekurangan. Sama halnya perasaan saya dengan Galih, pun dengan endingnya. Lewat kacamata objektif, apa yang dipilih penulis untuk menutup cerita bisa dibilang adil, memang sulit untuk memutuskan karena masalah yang mereka hadapi cukup kompleks, ada trauma seumur hidup yang menjadi bayarannya, cinta saja tidak cukup. Lewat kacamata subjektif, sebagai pecinta happy ending garis keras, saya ingin menendang buku ini, hahaha. Semoga saja akan ada lanjutannya, dari sudut pandang Kanaya misalnya? Kisahnya punya modal yang kuat, memang tidak mudah dibuat melihat trauma yang dialami, tapi bakalan sangat menarik, dan berharap segala penyelesaian akan tuntas lewat sudut pandang Kanaya. Semoga saja XD.
Walau di bagian akhir penulis cukup terburu-buru dalam menyelesaikan masalah, alurnya berasa cepat sekali. Saya suka dengan plot-nya, rapi, di bagian awal pembaca akan dibuat bertanya-tanya, penulis menyuguhkan sebuah misteri yang harus pembaca dapatkan secara perlahan lewat perkembangan hubungan Galih dan Roya, membawa kita ke sebuah plot twist yang bisa kita temukan di epilog. Kejutan yang penulis simpan dengan rapat membuat pembaca tidak sabar untuk sampai di akhir cerita. Pemilihan sudut pandang orang ketiga juga sangat pas, covernya juga sangat Roya sekali, kalian akan memahaminya ketika membaca sendiri.
Purple Prose syarat akan emosi dan manusiawi, saya rekomendasikan bagi kalian yang pernah punya salah dan ingin menjadi pribadi lebih baik. Setiap orang pasti punya penyesalan, dan bagaimana penyesalan tersebut tidak menghalangi kebahagiaan kita selanjutnya, bisa kita dapatkan lewat kisah Galih dan Roya. Purple Prose bicara tentang realitas hidup, penerimaan diri dan harapan. Hidup harus terus berjalan. Dan jangan lupakan karma, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.
"Karma itu seperti asap. Ya. Dia selalu ada di udara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban."
"Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walaupun tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban." (hlm. 291)
Galih bimbang saat atasannya mengatakan bahwa dirinya akan dimutasi ke kantor di Bali. Tujuh tahun yang lalu, dia meninggalkan Bali setelah kematian sahabatnya, Reza. Tapi Galih juga merasa ada masa lalu yang harus diselesaikannya di Bali. Meskipun mamanya melarang, Galih akhirnya setuju bertugas di Bali.
Sebagai seorang supervisor, tentunya Galih akan memiliki banyak bawahan di kantornya. Salah satunya adalah Roya, seorang gadis pendiam yang sepertinya selalu menjadi sasaran kemarahan rekan-rekannya yang lain. Roya kadang terlihat kikuk, dan selalu meminta maaf. Satu lagi kebiasaan Roya yang dijumpai Galih, gadis itu suka membakar dupa. Roya memang tidak cantik, tapi dialah yang menarik perhatian Galih. Terutama ketika Roya dengan berani mau menolong Galih saat bertemu dengan orang-orang di masa lalunya.
Baik Galih maupun Roya terjebak dalam kungkungan masa lalu. Galih dahulu pernah terjerumus dalam dunia narkoba bersama Reza dan Roy. Narkoba itu pula yang merenggut nyawa Reza, sementara Roy menghilang entah kemana. Sementara Roya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Tujuh tahun yang lalu, Roya meminta adiknya Kanaya pergi membelikan es campur untuknya. Bukan es campur yang dibawa Kanaya, tetapi luka fisik dan batin akibat diculik dan diperkosa oleh orang yang tidak dikenalnya.
Saya tidak mempersiapkan diri saat membaca novel ini, tidak memasang ekspektasi apa-apa. Saya memilihnya sebagai bacaan menjelang tidur dari Gramedia Digital. Novel ini kemudian menahan saya dari kantuk, dan dibuat terpana hingga halaman terkahir. Bukan sebuah novel metropop biasa.
Purple prose atau prosa ungu adalah kalimat berlebih yang sering muncul di sebuah buku atau novel. Kalimatnya boros kata, bertele-tele, seakan-akan menarik pehatian pembaca. Galih menggunakan analogi purple prose untuk menggambarkan kondisinya dan Roya yang terjbak dalam kesalahan di masa lalu. Berlembar-lembar kehidupan mereka terus dipenuhi kesalahan itu, membuat mereka tidak bisa memafkan diri sendiri. Perasaan senasib inilah yang membuat Roya akhirnya bisa membuka diri pada Galih. Tapi ketika keduanya mencoba membuka lembaran baru, karma dari masa lalu datang menuntut pertanggungjawaban.
Latar belakang pulau Bali yang masih mempercayai mistis semakin mengentalkan kehadiran karma ini. Beberapa kali Galih merasakan ada kehadiran 'sosok' di sekitarnya. Cara Roya mengusir kegundahan hatinya dengan menyalakan dupa juga membuat suasana semakin terbangun.
Saya bisa mengatakan novel ini ditulis dengan baik, tertata dalam tempo yang teratur. Satu per satu masa lalu yang mengungkung Galih dan Roya diurai dan diselesaikan. Sebuah plot twist (yang sebenarnya bisa saya tebak) dilemparkan di saat Galih dan Roya menyadari masa lalu mereka berhubungan. Dan kemudian penulis menyajikan penutup yang adil dan realistis. Saya sempat bertanya-tanya mengapa penulis seperti bermain aman tidak ingin melibatkan hukum dalam kasus Galih dan Roya. Tapi saya pun menyadari sebenarnya sanksi sosial sudah lebih dari cukup membuat kedua tokoh ini menderita. Saya percaya dengan karma. Dan novel ini menggambarkan karma itu dengan sangat baik. Ketika kamu bisa belajar dan menemukan nilai kehidupan dalam sebuah novel fiksi, percayalah novel itu layak mendapatkan bintang sempurna.
First line: KEKASIH idaman untuk siang yang panas adalah seporsi es campur dengan topping leleran susu kental manis. ---hlm.5, Prolog
Oke, ini agaknya saya mesti berjeda dulu dari tulisan Suarcani, ya. Setelah tahun lalu menamatkan "Rule of Thirds" dengan kesan yang kurang, tahun ini pun saya belum bisa menikmati karya tulisnya yang lain: "Purple Prose".
Awalnya saya membaca ini untuk beralih sebentar dari "Kelly on the Move"-nya Seplia yang belum membuat saya terpaku sehingga saya pending dulu. "Purple Prose" yang awalnya cukup menjanjikan dan enak sekali alurnya, berubah drastis ketika eksekusi konflik dan menjelang ending. Saya ngos-ngosan ngikutinnya dan sempat mau DNF pas adegan mulai kayak sinetron.
Well, Suarcani ini kayak Wiwien Wintarto yang mempertahankan setting lokasi-nya di daerah masing-masing. Wiwien di sekitaran Jawa Tengah-Yogyakarta, sedangkan Suarcani di Bali (setidaknya dari dua buku yang sudah saya baca, ya). Meski tidak sedetail "Rule of Thirds" dalam menjelajahi Bali, "Purple Prose" juga kental nuansa Bali-nya, terutama dari segi budaya. Cukup banyak nuansa Bali yang diselipkan pengarang untuk memberi wawasan bagi pembaca (setidaknya buat saya). Misalnya tujuan dan proses pembuatan canang, persembahyangan, selamatan menempati rumah atau sebelum mengadakan kegiatan, dan lain sebagainya.
"Purple Prose" tampak seperti drama psikologi yang mengambil penekanan pada trauma masa lalu. Tokoh sentralnya adalah Galih, seorang eksekutif muda yang baru saja dipromosikan menjadi kepala cabang/divisi marketing (?) sebuah provider telekomunikasi di area Bali, dan Roya, salah satu staf administrasi sekaligus sekretaris--tak langsung, yang menjadi jalur menyibak konflik dan rahasia masa lalu keduanya. Di luar itu, ada tokoh penting seperti Roy (teman lama Galih, jangan sampai ketuker ya, ada Roya--ada Roy), Kanaya (adik Roya), Pak Zul (kepala wilayah? entahlah, lupa saya, pokoknya atasan Galih di Bali), Reza (teman lama Galih) dan beberapa lagi yang lain.
Silakan baca blurb-nya, begitulah inti dari "Purple Prose" ini. Galih yang dulunya pernah tinggal di Bali, oleh karena suatu sebab harus pergi dan menetap di Jakarta. Namun kemudian, Galih mendapat promosi dari kantornya dan membuatnya kembali ke Bali. Segala konflik muncul dari sejak kepindahannya ini.
Penyesalan, karma, trauma masa lalu, dan upaya penyelesaian yang tertunda menjadi premis utama yang diolah pengarang demi menghidupkan jalinan kisah ini. Tak ketinggalan unsur romansa dituangkan di antaranya untuk menambah kerunyamannya. Predictable memang, tapi lumayan bisa dinikmati lah. Terutama adegan demi adegan menuju eksekusinya. Apakah kisah romansanya cenderung instalove? Saya agak miss di sini. Jawaban: antara iya dan tidak. Jujur saja, saya merasa tak mendapati waktu yang cukup untuk Galih jatuh cinta meskipun terdapat penjelasan mengapa dia bisa seketika itu jatuh cinta, termasuk penjelasan soal "tampang jelek" yang saya pun masih gamang, ini pengarangnya mau sarkasme atau memang pada dasarnya beropini demikian. Yang bertampang jelek, no offense ya, hahaha:
Seperti yang saya bilang, kira-kira sampai setengah cerita saya enjoy banget menikmati jalinan kisah Galih yang jago ngocol beradaptasi di tempat kerja baru, lalu bertemu Roya yang serbakikuk. Namun, niatan memberikan 4 bintang buat novel ini langsung runtuh ketika sampai pada adegan drama Galih yang sedang dirawat di rumah sakit. Minat saya drop ke titik terendah.
Oke, saya nggak bisa ngasih penjelasan tanpa sedikit spoiler, jadi bagian ini saya sensor, sekiranya kamu nggak papa sama sedikit spoiler, silakan baca di blog: www.fiksimetropop.com
Hal lain yang saya juga kurang nyaman adalah adegannya cukup permisif sama kekerasan. Okelah, ini untuk penggambaran karma dan sebagainya, tapi masak iya boleh-boleh saja memukul, menendang, dan menampar? Bahkan, ada di satu adegan semua orang mukulin, ya bapak, ya ibu, ya anak. Dan, udah, gitu aja. Menurut saya ada adegan lain yang lebih bisa digunakan untuk penggambaran pembalasan karmanya, jika memang itu maksud dari si pengarang sih. Boleh lah ada sedikit unsur kekerasan, tapi minimal ada pihak netralnya, ibunya kek, atau bapaknya gitu, sekadar sebagai pengingat bahwa kekerasan itu nggak bagus dan bukan jalan penyelesaian yang bagus juga. Well, itu menurut saya sih, ya.
Overall, saya hanya menikmati setengah kisah awalnya sedangkan langsung hilang minat di paruh akhir bagiannya. Buat kamu yang lagi butuh membaca kisah tentang trauma masa lalu, bagaimana berdamai dengannya, ditambah sedikit racikan asmara, "Purple Prose" bisa kamu pilih untuk bacaan berikutnya. But for me, saya cukupkan baca karya tulis Suarcani di sini dulu. Nanti kalau ada tulisannya yang lain yang direkomendasikan, akan coba lagi.
Awal pas baca bikin bingung sih, kayak mau kasih konflik di awal biar pembaca (aku) penasaran, tapi nggak ngefek karena nggak rapi (IMO). Soal perubahan sudut pandang di awal juga kayaknya nggak perlu, dari Galih ke Roya. Kayak gimana gitu, ya... tapi ya selera aja karena feel pas baca bagian Galiah kayak "dipatahin" pas sorotannya tiba-tiba ke Roya.
Terus aku juga nggak cocok sama gaya nulisnya (tapi premis novel ini cukup oke meski lebih cocok jadi Amore). Agak OOT dikit, mungkin kalo sekarang labelnya bisa jadi "Metropop Romance" aka Amore yang udah berevolusi. (Emangnya Digimon?)
Chemistry antara Galih dan Roya pun kayak ngambang. Apalagi pas Galih tiba-tiba nembak, haha.
Dan aku ngerasa aku rada kontradiktif. Gini, di sini dijelasin soal purple prose yang menggambarkan narasi manis manja nggak perlu. Tapi menurutku novel ini juga purple prose~ aku ngerasa dinyambung-nyambungin sama "soal hidup" dan backbone cerita. Tapi hebat sih, penulisnya berani jadiin judul, heheh. Soalnya kan kayaknya tiap orang (pembaca, bahkan editor sekalipun) beda-beda mana yang dianggap "purple prose" tersebut meski ada "pakem"-nya. Nah, dodolnya aku, kontradiktifnya, di antara beberapa purple prose yang aku nggak suka yang dibikin penulis, aku malah ngerasa sebelum Galih nembak Roya tuh kurang purple prose lol. Abis sekonyong-konyong gitu meski hint-nya udah ditebar.
Dan, ya, novel ini cocok dibaca waktu senggang. Ngebahas soal karma, luka masa lalu, kasih sayang, ((narkoba)), dan sebagainya. Abis baca ini, jadi pengin punya dupa biar kayak Roya.
PS: masih dalam babat timbunan buku fisik, dan kali ini novelnya mau aku GA aja secara cuma-cuma di Twitter pribadi.
4.5🌟 Pas baca ini, aku jadi inget Welcome Home Rain soalnya entah kenapa bukunya punya rasa sendu yang sama pas awal-awal aku bacanya tapinya aku salah hehe. Buku ini jauhhhhh lebih kejam😭 Drpd WHR aku jujur lebih ngefeel sama buku ini, cepet banget bacanya cuma beberapa jam saking enjoynya menikmati Roya yang kikuk dan menyesal dan baik dan lugu serta Galih yang usil dan menyenangkan dan lovable banget aku sukaaaa karakternyaaaa dua-duanyaaa😍
Walaupun sempet kesel sama Roya kenapa sih segitunya huhu sial dan ceroboh saat di kantor dan kerjaannya sering keteteran trus aku mikir kok dia nga dipecat yha wkwk ;(
Kalau Galih, udh lah sayang banget sama karakternya, apalagi tiap dia berusaha buat ngehadepin semua kesalahannya, apalagi ketika flashback sama ayahnya yhaaa itu bener-bener heartwarming sekali :') Bukan cuma cowok tp semua org wajib punya kejujuran dan tanggung jawab di hidupnya.
Aku suka konfliknya, suka alurnya, sukaaaa banget pas Galih udh mulai ngusilin Roya, romance mereka, suka banget❤ sampai konflik yg sudah bisa kuduga muncul, harap-harap cemas sama kelanjutannya, baca bukunya makin cepet karena dagdigdug tapi penasaran. Maunya happy end tp ngga bisa nebak cara supaya mereka meraih itu huhu
Aku baca baca baca dan teriak-teriak sendiri untung di rmh nga ada siapa2 trus saking geregetnya aku sampe nendang2 guling :)
Sempet kilasan WHR muncul pas mau end, sama-sama ada yg kehilangan kewarasan soalnya heu trus aku merasa bagian ini drama banget yawla. Trus ngga suka sama Kanaya, maksudnya, agak ganjil dia tuh, kayak cocok kalau dia jadinya begitu hehe mon map:(
Tapi lupakan Kanaya karena aku masih nga terima sama endingny :) sumpah :) nyesek :) kenapa si :) butuh epilog kedua plis. Ini beneran mau gini aja? Serius kakak penulis? Seriusaaaaan? :')))
Tapi aku lebih puas sama novel ini drpd WHR soalnya lebih nendang dan aku suka kejamnya dirimu kakak penulis meskipun aku patah hati dan remuk redam tp aku suka novelnya. Mksh :')
Mksh karena Galih tetap kuat. Makasih banyak :') sempet parno akutu soalnya nyinggung-nyinggung itu hehe :')
"Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menangih pertanggungjawaban." [Galih] - h. 289
Well, tahun lalu hatiku diporakporandakan sama Ghi dan Kei, sekarang giliran Galih dan Roya😭 Apaan sih ini penulisnya pinter banget ngubek-ngubek emosi orang🙈
Jujur buku ini udah bisa aku tebak twist-nya di awal, cuma yang bikin nggak bisa berhenti baca itu karena aku penasaran sama penyelesainnya, juga akhir hubungan Galih dan Roya. Soalnya ini memang kayak mengurai benang kusut. Dan pastinya nyesek abis😫
Setting Bali-nya beneran Bali, bukan cuma tempelan. Yuhu~ berasa berada di Bali deh pas baca ini. Ya iyalah, penulisnya kan tinggal di Bali, wkwk. Terus gaya bahasanya juga menarik. Dari segi penulisan jauh lebih rapi daripada Welcome Home, Rain—meski bagiku emosinya lebih ngena Ghi sama Kei. Hm, mungkin pengaruh aku yang suka tokoh YA kali ya, hehe. Aku suka sama kovernya, judulnya juga bikin penasaran, apa sih 'purple prose'?
Aura yang diusung juga sama kelamnya dengan Welcome Home, Rain. So bagi yang suka cerita kelam, rekomen banget nih buat diadopsi.
Pertama, kusuka prolog dan epilognya. Epilognya bikin ngilu like, kumerasa sedih dan kasihan pada Galih. Purple Prose bercerita tentang Roya—perempuan clumsy, messy, kikuk, sering bikin masalah dan nggak bisa bilang 'nggak'. Akibatnya, Roya jadi bahan tertawaan, mudah disuruh-suruh, dan juga sasaran empuk untuk dimarahi. Roya sampai sekarang merasa bersalah, karena kejadian yang ada di prolog, bikin dia selalu sedih akan nasib adiknya. Lalu, ada Galih. Laki-laki yang pernah tinggal di Bali, dan terpaksa balik lagi ke sini. Mama Galih sempat larang gitu, tapi demi naik jabatan, Galih ke Bali. Ada luka, duka, karma, dan cerita tersendiri antara Galih dan Bali. Yang jelas, bukan soal bom Bali. Galih kemudian jadi atasan Roya, dan seperti yang diduga sebagian orang, mereka terjerat kisah merah muda. Apakah mereka kemudian hidup bersama, bahagia dan beranak lima? Oh, tentu saja tidak semudah itu dan belum tentu begitu, Marimar! Tidak lihat, sampulnya agak-agak kelam. Jikalau kalian penyuka akhir bahagia, sayangnya novel ini tidak. Tapi, ini yang kusuka. Terasa realistis dan adil. Ada hal-hal yang terlalu rumit dan kompleks diantara mereka yang bisa menyebabkan kegaduhan tersendiri kalau mereka terus bersama. Meggelitik, segar, tapi kelam. Sukses untuk penulisnya. Kusukaa
Kover novel ini bikin mind blowing. Gambar, blurb, warna ungunya, dan judulnya langsung terasa nyes di hati. Bikin rasa langsung 'ungu'. Tambah tagline-nya: Kamu boleh saja lari dari kenyataan, tapi tidak dariku. Duh, berasa ada seseorang yang ngomong kayak gitu sama saya, eh. Intinya saya suka perwajahan dan blurbnya. . . . 📚 Baca prolognya bikin penasaran dan jadi menerka-nerka. Samar tragedinya, tapi cukup menjadi pembuka. . . 📚 Kedua karakter utamanya membumi. Terutama saya suka tokoh Roya yang digambarkan ceroboh. Related sama kepribadian saya 😢 Jadinya saya mudah bersimpati pada keduanya. Dalam kepala saya langsung terbayang kisah cinta bitter sweet.
Suarcani memilih bahasa yang sederhana, tidak ada diksi yang terasa khusus, tapi mengena terasa tepat untuk menyampaikan ceritanya. Dijamin keningmu tak akan mengerut saat membaca #PurpleProse . . . 📚 Novel ini mengangkat tema narkoba (semoga keterangan ini nggak spoiler mengingat tidak disinggung di blurb). Konfliknya tak mengentak, tapi terasa seperti lumpur penghisap. Sedikit-sedikit pembaca masuk semakin dalam pada kisahnya. Tahu-tahu ikut merasa sesak di dada dan mata mengembun. Sub-sub konflik yang tak kalah menarik saling bertaut seperti tanaman rambat. Jalinannya rapi. . . 📚 Hal lain yang mengikat saya adalah kisah cinta Roya dan Galih. Bukan semacam jatuh cinta pada pandangan pertama yang meletup, tapi mengalir natural. Membutuhkan waktu dan momen-momen yang mendekatkan. Manis, pahit, dan menggemaskan.
Saya selalu tertarik dengan kisah-kisah yang melibatkan perasaan bersalah. Manusia itu memang aneh, sering berbuat semena-mena, tapi kemudian terpenjara dengan menghukum diri sendiri. Tak mudah memaafkan diri. Novel ini begitu menyentuh karena berkisah tentang orang-orang yang punya masa lalu kelam, berjuang menghadapi penyesalannya. Disampaikan tanpa bertele-tele tapi mendalam. Temponya pas, tidak lambat atau cepat. Epilognya menarik karena berkonsep melanjutkan prolognya. Konfliknya kaya, mulai dari narkoba, keluarga, cinta, hingga persahabatan. . . 📚 Sepertiga akhir novel ini sangat emosional. Klimaks novelnya dapet banget! Yang pada awalnya tenang hingga 2/3, kemudian meningkat tajam hingga akhir. Bikin saya mengambang dalam kesedihan. Saya merasa penulis memberi ending yang tepat. . . 📚 Sejak awal semua karakternya memang manusiawi, perkembangan dan pertumbuhannya pun sejalan dengan konflik-konflik yang mereka hadapi.Tidak berlebihan. Bukan semacam pahlawan. Dilema yang dihadapi dan bagaimana keputusan akhir diambil terasa wajar. Tokohnya banyak tapi singgungannya pas. Sehingga tidak ada tokoh sia-sia. . . 📚 Banyak quote jlebnya juga. Favorit saya: Kamu masih bisa membayar rasa bersalahmu dengan cara lain. Penyesalan tidak harus dibayar dengan ikut mengubur diri dalam kesedihan (hal 202)
Ini buku kedua kak Suarcani yang kubaca setelah Welcome Home, Rain. Lagi-lagi aku dibuat terpukau dengan plot twistnya.
Di sini kita bisa mengenal Galih. Dibalik sikap isengnya yang menghibur, tersimpan sisi kelam yang membuatku berandai-andai Galih tidak mendapat teman-teman yang salah di masa lalu.
Roya yang kikuk dan selalu rendah diri, karena merasa bersalah kepada adiknya- Kanaya- selama tujuh tahun menjadi pribadi tertutup.
Misteri yang muncul sejak awal sangat membuatku penasaran dengan benang merah apa yang terjadi antara Galih dan Roya.
Tema yang diangkat cukup sensitif, tapi sangat dekat dengan keseharian. Setting cerita di Bali dengan deskripsi lokasi dan budaya yang detail membuatku ingin menginjakkan kaki ke Bali. Pemilihan Pov 3 bergantian Roya dan Galih menurutku sangat tepat untuk menyajikan cerita ini.
Aku suka covernya. Mewakili tokoh Roya yang suka membakar dupa.
"Jujur dan bertanggung jawab, itulah ciri lelaki sejati, Galih. Kamu harus mengingat itu sampai sisa hidupmu. Mengerti?" (Page 254)
Pas nyampe epilog aku gak mau bukunya tamat. 😣 Aku sangat-sangat berharap ada sekuelnya. Dari sudut pandang Kanaya, atau tokoh lain yang terkait dengan kejadian itu.
Dari membaca buku ini, kita akan menyadari bahwa masa lalu tidak bisa diubah, memang penerimaan butuh waktu, tapi penyesalan tidak akan membawa kita kemana-mana.
Buku ini ku rekomendasikan untuk yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak berlarut-larut dengan rasa bersalah.
"Jakarta memang melindungi masa depannya, tapi tidak melindunginya dari masa lalu. Dan masa depan yang damai tidak akan tercipta jika kita masih takut pada masa lalu. (halaman 15)
Galih dipromosikan menjadi Sales Manager. Harusnya ia senang, tapi mamanya malah melarang. Pasalnya ia ditempatkan di Bali, tempat segala masa lalu kelamnya terjadi. Dulu saat kuliah di Bali Galih salah pergaulan dan akhirnya menjadi pecandu narkoba. Hal itu mengantarkannya pada serangkaian tragedi yang berujung pada meninggalnya sang sahabat, Reza. Namun, Galih jadi kambing hitam, ditangkap dan dipukuli warga, lalu dibenci oleh keluarga Reza sementara teman-teman segengnya kabur. Namun, akhirnya Galih tetap nekat menerima keputusan itu dan pergi ke Bali dengan diiringi kekhawatiran dari sang Mama.
Tidak hanya Galih yang dihantui oleh masa lalunya. Saat masih kecil Roya menyuruh adiknya yang bernama Kanaya untuk membeli es campur di warung luar rumah. Namun, Kanaya yang saat itu masih berusia 10 tahun diculik orang dan ditemukan di pantai dalam keadaan sudah diperkosa. Kanaya menjadi sosok pendiam yang lebih suka berdiam diri di luar rumah. Roya yang merasa kejadian itu adalah kesalahannya terus menanggung rasa bersalah hingga ia dewasa dan bekerja. Ia sering membelikan Kanaya hadiah-hadiah yang kemudian ditolak karena dianggap berlebihan.
"Cara bahagia orang itu beda-beda. Jangan kamu samakan dengan persepsimu sendiri. (Ibu Roya, tentang Kanaya, hal 30)"
Trauma itu memengaruhi performa Roya di tempat kerja. Ia jadi mudah gugup, tak mampu membela dirinya sendiri dan akhirnya sering jadi bulan-bulanan teman-teman sekantornya sendiri. Mereka terus memanfaatkan Roya untuk mengerjakan tugas yang seharusnya jadi tugas mereka tanpa terima kasih sama sekali. Tentu saja jika ada masalah terjadi Roya yang disalahkan. Kampret sekali suasana kerjanya. Bikin emosi maksimal. Sayangnya tidak dijelaskan bagaimana awalnya Roya bisa terpuruk seperti itu di kantornya. Karena dikatakan bahwa Roya sebenarnya adalah pegawai yang pertama kali bekerja di Exfrost, perusahaan penyedia kartu ponsel dalam kisah ini. Ia hanya disebut sebagai "si pembuat masalah yang karirnya kemudia tergeser oleh pegawai-pegawai yang masuk di kemudian hari". Sayang tidak diceritakan dengan detail.
***
Singkat cerita Galih akhirnya tiba di kantor cabang Bali dan langsung populer di kalangan para pegawai perempuan. Namun, yang menarik perhatian Galih malah Roya yang terlihat polos, gugupan, dan tak percaya diri. Begitu tahu bagaimana Roya diperlakukan Galih langsung bersikap tegas dan mengubah sistem dan aturan kerja di kantornya. KEREN! Suka banget gimana dia membela Roya di depan para pegawai menyebalkan itu. Yang lebih keren lagi adalah after-conflict-nya. Galih bisa dengan santai kemudian mencairkan suasana menegangkan dan para pegawai perempuan itu meski sudah dimarahi seperti itu akhirnya pun mengidolakannya lagi. Huah!
Namun, masa lalu Galih dengan cepat langsung menyambut tak lama kemudian. Teman-teman mantan gengnya datang ke rumah. Dari mereka Galih mendapatkan informasi soal Roy, sahabatnya yang dulu malah kabur saat ia ditimpa masalah. Padahal, semua masalah itu disebabkan oleh Roy juga. Amarahnya yang sudah menggelegak langsung surut begitu tahu bagaimana menyedihkannya hidup Roy saat ini. Bisa dibilang ia sudah kehilangan semuanya mulai dari harta sampai keluarga. Ia tinggal hanya dengan anak perempuannya yang masih kecil, Ina. Galih akhirnya malah membantu Roy merawat Ina.
"Berbagi kebahagiaan mungkin adalah tujuan semua orang. Hanya saja ada hal-hal tertentu yang hanya sanggup dimengerti ketika mereka berbagi kesedihan." (hal 68)
***
Bagian paling menyenangkan di novel ini adalah ketika hubungan Galih dan Roya semakin berlanjut. Tak disangka, rupaya Roya tahu soal masa lalu Galih. Situasi kemudian sering menempatkan gadis itu pada kejadian-kejadian "gawat" yang mengharuskan dirinya membantu Galih. Karena itulah sang atasan langsung luluh dan mulai memberikan perhatian lebih. Roya sering sekali jadi bulan-bulanan keusilan Galih yang menggemaskan. Misalnya seperti berikut ini:
Kamu sayang banget ya sama adikmu," komentar Galih. "Aku anak tunggal, jadi sedikit iri karena nggak punya saudara yang menyayangi."
"Yah, yang penting kan banyak orang sayang sama Bapak."
"Termasuk kamu juga, dong?" goda Galih
(halaman 124)
WAHAHAHAHA! ASEM!
Tapi sayangnya ada juga candaan Galih yang nyerempet ke pelecehan seksual. Misalnya pas dia menawarkan kondom pada Roya waktu mereka berdua mampir di supermarket. Lah. Iya sih kelihatan lucu karena dua orang ini tampaknya memang menyimpan perasaan yang sama. Tapi bayangin kalau ini dilakukan oleh rekan kerja priamu secara random. Ugh.
***
Pertanyaanku soal mengapa judulnya Purple Prose pun dijabarkan dengan sangat apik dan filosofis pada pertengahan cerita. Purple Prose itu adalah prosa yang lebay ketika menggambarkan suatu peristiwa atau perasaan para tokoh cerita. Puitis tapi jadinya malah norak dan bikin eneg saking lebaynya begitu.
(...)Kutipan seperti itu bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman saja untuk menggambarkan perasaan orang yang sedang jatuh cinta. Lembar demi lembar yang tidak memberikan perkembangan plot dan karakter sama sekali. Deskripsi-deskripsi yang tidak perlu dan menghabiskan halaman demi halaman. Tulisan macam itu namanya purple prose."
"Itu juga terjadi pada kita, Ya. Kamu sama seperti aku. Sama-sama terjebak dalam kesalahan masa lalu. Jika disamakan dengan buku, berlembar-lembar kisah kita hanya dipenuhi oleh purple prose, oleh penggambaran rasa sakit dan sesal atas peristiwa itu. Kita terlalu terikat dengan kesalahan di masa lalu. Padahal, dalam lembar-lembar yang terbuang itu kita bisa maju selangkah atau setidaknya berusaha untuk move on. Tetapi kenyataan kita nggak bisa, terus saja mikirin hal itu sampai sakit kepala sendiri. (Galih pada Roya, halaman 163)
KEREN, YA! Bagaimana konsep Purple Prose dan keadaan orang yang nggak bisa move on dari masa lalu bisa dihubungkan jadi sefilosofis ini. Memang sudah seharusnya kita tak dibebani oleh masa lalu. Yang terjadi sudah terjadi. Tapi seringkali kita terlalu menghayati perasaan sakit dan kecewa karena masa lalu itu sampai akhirnya kita malah nggak melangkah maju di masa kini demi masa depan. Ah....
"Aku hanya berusaha hidup lebih baik, Ya. Untuk diriku sendiri, untuk Mama. Sejujurnya aku sama sekali tidak pernah lupa hari itu, tidak pernah lupa pada kesalahanku, tapi aku tidak ingin penyesalah itu menghambatku untuk hidup lebih baik. Bagaimanapun aku masih punya tanggung jawab, masih punya orangtua. Aku tidak mau menyia-nyiakan mamaku lagi dengan menghukum diri secara berlebih." (Galih pada Roya, halaman 164)
Rasa tanggung jawab pada orang-orang di sekitarnya, terutama pada mamanya ternyata sanggup menggerakkan Galih untuk melangkah jauh demi memperbaiki dirinya. Meski ada orang-orang seperti keluarga Reza yang tak pernah mau memaafkannya akibat insiden overdosis yang dulu. Sesuatu yang harus kita tiru: perasaan ingin jadi baik dan terus memperbaiki diri, separah apa pun masa lalu, agar tak membebani orang-orang yang menyayangi kita.
***
Sayangnya setelah Galih mampu membuat resolusi atas masa lalu dan masalahnya dengan keluarga Reza, hubungannya dengan Roya malah diguncang oleh permasalahan yang menimpa Kanaya. Aku pun shock setelah fakta itu dibuka sang penulis dan langsung kehilangan harapan. Ya ampun. Padahal, keduanya sudah saling mencintai sekuat itu. Padahal Galih pun sudah berusaha sekeras itu mengubah dirinya. Ini benar-benar menjadi pesan yang sangat menohok. Bahwa meskipun masa kini akan dengan segera menjadi masa lalu, dan kita bisa langsung melangkah menuju masa depan, berhati-hatilah dengan segala keputusan dan perbuatan yang kita perbuat di masa kini. Kalau nggak tragedinya nanti bakalan seperti yang dialami Galih.
Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban," lanjut Galih. "Inilah karmaku, inilah hukuman atas kebodohanku di masa lalu. Aku ikhlas menerimanya..." (halaman 289)
Pada akhirnya meskipun sedih setengah mati untuk endingnya, tapi aku salut dengan keberanian penulis yang mampu mengambil keputusan seperti ini untuk mengakhiri kisah. Memang jadinya lebih realis. Ah....
Satu lagi yang aku suka dari novel ini. Seting tempat dan budaya Balinya begitu menyatu dengan cerita. Segala ritual unik yang dilakukan para masyarakatnya sehari-hari diperlihatkan di sini. Aku juga suka dengan suasana kerja yang digarap dengan begitu serius. Sering kan ada novel yang membuat profesi para tokohnya sebagai tempelan karena konflik utamanya ya cuma drama hubungan antarkarakter dan konflik internal para tokohnya. Tapi di sini, konflik dunia kerjanya digarap dengan begitu menyatu dengan konflik para tokohnya. Menggerakkan plot dengan leluasanya, membentuk satu kesatuan cerita yang utuh.
Aku akan segera menengok karya-karya Suarcani yang lain. Kutandai engkau mulai dari sekarang! Hehehe.
Novel ini dimulai dengan Prolog dan Bab I yang bagus, menarik rasa penasaran pembaca hingga memutuskan lanjut ke halaman berikutnya.
Roya dihantui rasa bersalah sejak 7 tahun yang lalu karena mengakibatkan Kanaya, adiknya, kehilangan sesuatu yang berharga.
Karena kenakalan masa remaja 7 tahun yang lalu, Galih harus kehilangan teman seperjuangannya dan pergi dari Denpasar. Namun, 7 tahun kemudian sebuah tawaran promosi karir datang dengan penempatan di Denpasar. Ibunya tidak mengizinkan kepindahannya dan Galih pun sempat ragu untuk menyetujui promosi tersebut, tapi ia bertekad bahwa masa lalu harus dihadapi.
Roya dan Galih bertemu, tidak punya firasat bahwa nantinya mereka akan jatuh cinta dan tidak punya firasat bahwa rasa yang bersemi akan diuji dengan suatu ujian yang besar dan berpotensi menyakitkan perasaan keduanya. *** Saat membaca bagaimana endingnya dan mengingat kembali bagaimana alur cerita novel ini dari halaman awal, ku harus mengatakan bahwa aku menyetujui dengan lapang dada bagaimana penulis mengeksekusi ending. Tidak memaksakan dan ya memang harus berakhir seperti itu.
kebetulan yg buruk mungkin itu yg dipikirkan Roya dan Galih ketika mereka akhirnya mengetahui apa yang menyambut mereka di ujung perjalanan kisah mereka nyesek juga sih bacanya, kalo gak inget lagi di tempat khansa maen lego, mungkin gw ud mewek bukan cuma ngapus yg ud keburu netes pake handuk mungil 😂
saya memulai review dari cover dulu karena memang daya pikat pertama novel ini adalah covernya yang manis, saya sampai menandai desainer sampulnya karena saking sukanya sama cover novel ini.
masuk ke bagian buku, penokohan di novel ini benar - benar pas, semua karakternya hidup dan mendapatkan jatah peran yang pas banget. tidak ada yang terlalu menonjol dan tidak ada yang terlalu tenggelam.
secara tema, novel bertema karma ini sangat membuat pembaca terkagum kagum karena pengibaratan karma yang dikatakan ada seperti asap, dia tak terlihat namun ada, hal itu membuat siapapun kita jadi sadar kalau manusia hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya karma baik dan karma buruk, ngeri ngeri sedap sih pembalasan karma di novel ini.
novel ini berkisah tentang Roya yang di tempat kerjanya dianggap sebagai pembuat masalah, di sana dia akhirnya bertemu dengan supervisor baru yang tidak lain adalah sosok dari masa lalu yang sebenarnya tidak jauh jauh dari masa lalu yang "tak terlupakan" itu.
semua berjalan dengan begitu indah, bahkan kesakitan dan traumatik yang terjadi semua dieksekusi dengan sangat baik, membuat saya merasa cocok sekali membaca cerita "Purple Prose" ini dari awal sampai akhir untuk sekali duduk saja sudah selesai.
saya tidak menemukan kejanggalan, saya justru makin tambah pengetahuan tentang perusahaan telepon selluler. pokoknya keren banget deh novel ini, niat banget penulisnya dalam menuliskannya.
Edaaan bukunya! Jalan ceritanya berkesan. Huft sangat mengaduk emosi. Plot twist nya juga cukup mempermainkan (kenapa dibilang "cukup"? Karena dari awal sebenarnya tentu pembaca sudah dapat menerka nerka. Ibarat pola, mungkin sudah tertebak pola-nya. Tapi detailnya tidak)
Sangat recommended untuk kamu yang cari Metropop bagus, tidak menye benye.
Suarcani nulis judul lain selain ini kah? Jika ya, saya hendak baca.
Aku membaca Purple Prose dengan ekspektasi yang cukup tinggi. Selain karena ini kali ketiga aku baca buku Suarcani, aku juga ingat menyukai karya metropop terdahulunya yang berjudul Rule of Thirds.
Jadi, kupikir Purple Prose ini bakal jauh lebih menyenangkan untuk dibaca.
Sayangnya... seperti biasa, aku lagi-lagi harus dikecewakan ekspektasiku sendiri ketika Purple Prose nyatanya jauh dari harapan. Aku pun kaget, karena aku juga berharap dapat menyukai Purple Prose lantaran banyak orang menebar bintang tinggi untuk buku ini.
Kuakui premis dan bagian awal cerita tampak menjanjikan. Hanya saja, semua ambyar begitu mengenal lebih dalam sosok Galih (which unfortunately turned me off so bad). Maaf, tapi di mataku, Galih lebih mirip sosok otoriter semicabul yang bikin cringe.
Belum lagi penggunaan tanda seru (!) yang seringkali nggak pada tempatnya. Kedengarannya barangkali sepele ya, tapi buatku pribadi hal ini memengaruhi mood baca BANGET. Jujur, banyak momen ketika tanda seru ini digunakan pas sang tokoh dideskripsikan lagi berkata lirih, berbisik, bicara santai, dsb. Suatu hal yang menurutku terasa kontradiktif banget untuk penggunaan tanda seru. Di kepalaku, mereka jadinya malah kayak lagi teriak alih-alih bicara lirih/santai.
Dan jujur lagi, selama baca Purple Prose banyak hal yang bikin aku terganggu pun bertanya-tanya. Misalnya, [SPOILER ALERT!!!] di hlm 121 ketika Roya lagi di toko aksesoris lalu ketemu Galih dan Ina. Entah tujuannya apa, tapi Roya yang BARU PERTAMA KALI ketemu Ina tiba-tiba disuruh Galih buat bantu nyari 'hal-hal yang berbau perempuan karena mereka sesama perempuan' dan Galih pergi begitu aja ninggalin mereka (padahal dia yang dikasih tanggung jawab buat nemenin Ina). Ini momen WTF abis dan bikin kening mengernyit macam sinyal provider. Inappropriate banget di mataku, sungguh.[SPOILER ALERT!!!]
Lalu, hal lain yang bikin aku bingung adalah [SPOILER ALERT!!!] di hlm 273 ketika Galih bilang orang yang menghancurkan hidup Kanaya sudah mati, sedangkan di epilog dijelasin kalo orang yang menghancurkan Kanaya itu si Roy. Jika ingatanku nggak keliru, bukannya Roy belum mati? Yang mati itu kan Reza, tapi di epilog bukan Reza pelakunya. Aku nggak bisa meraba apakah Galih bohong (tapi di deskripsi nggak ada penjelasan dia bohong) atau apaaa?[SPOILER ALERT!!!]
Belum lagi adegan di rumah sakit yang mendadak terasa kayak sinetron. Sebenernya masih ada lagi beberapa hal mengganggu lainnya, tapi itu bersifat minor jadi aku males ngetiknya. 🙈
Untuk eksekusi konfliknya sendiri, aku sebenernya antara suka dan nggak suka. Tapi ya udahlah, seenggaknya udah dapet karma.
Terlepas dari penggunaan tanda seru yang mengganggu tadi, tulisan Suarcani menurutku masih khas dan lugas dengan mempertahankan Bali sebagai latar tempatnya.
Secara keseluruhan, Purple Prose bukan secangkir tehku. Padahal aku udah suka sama premis dan bagian awalnya (jangan lupakan juga kovernya yang cakep banget!). Tapi kuakui, ini salah satu metropop suram yang pernah kubaca selain Forever Monday.
"Karma itu seperti asap, Ya. Dia selalu ada di udara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban." - Hal. 289 Baca kisah Roya ini deg-degan sekaligus takut. Iyaa karena baca blurbnya udah bikin speechles, trus juga liat beberapa review temen-temen. Tapi ya itu penasaran juga sama kisah mereka. Bab awal, masih aman ya. Karena masih pengenalan tokoh dan menuju ke tengah udah mulai menebak-nebak nih. Apalagi setelah Roya selalu merasa bersalah, ikutan nyesek dan sedih. Gaya berceritanya selalu bikin aku suka dan jatuh cinta sama tulisannya. Gaya bercerita kak @alhzeta ini selalu menarik. Temanya menurutku emang anti mainstream. Aku suka sama Galih! Hahaha... dia tuh sosok humoris, gemesin dan manis meski emang masa lalunya bikin sebel sih tapi dia loveable kok. Roya, aku agak gemes karena dia nggak tegas, tapi dia sosok kakak yang baik dan juga perhatian. Dan menurutku karakter tokohnya kuat dan konsisten. Untuk tokoh lainnya, porsinya pas. Gaya bahasa yang digunakannya mengalir dan ringan, ada beberapa bahasa Bali tapi ada footnote jadi ngerti. Memakai sudut pandang orang ketiga, penulis menceritakan pikiran tokohnya dengan baik dan bikin aku menebak-nebak sama kisah mereka. Interaksi antartokohnya, hangat dan seru. Dialog-dialognya pun rame. Chemistrynya berasa banget, feelnya dapet. Untuk konfliknya emang rumit dan bikin baper, nyesek, dan sedih. Pokonya beneran campur aduk banget. Konflik batin, hati dan masa lalu campur jadi satu. Kaget juga sih pas menuju ending, adegannya wow banget. Penulis mengeksekusi konflik dengan apik, dan endingnya kusuka karena ya emang realistis dan harus begitu. Overall, aku suka bangettt ceritanya. Aku rekomenin bagi yang cari metropop, kalian wajib baca novel ini ❤.
Awalnya masih oke, bukunya lumayan unik diantara buku Metropop yang lain karna biasanya kan latarnya Jakarta, nah ini latarnya Denpasar. Apalagi interaksi Roya dan Galih yang kocak.
Saya juga udah expect kalau buku ini akan punya konflik yang suram karna itu tipikal buku Suarcani seperti Welcome Home, Rain. Tapi justru waktu saya membaca bagian menuju pembahasan konflik dan benang merah antara kedua tokohnya, saya jadi kehilangan interest. Menurut saya, di akhir-akhir cerita dramanya ada banget dan nggak match sama storyline yang mau penulis bangun, apalagi dalam bahasa yang baku jadi lumayan mengganggu aja sih.
Karena aku terhibur dan pernah baca rule of thirds, jadinya penasaran sama buku ini. Di awal enjoy, Roya yang gemesin ketemu sama galih yang jahilnya masa ampun. Suka dengan cara penggambaran kisah di awal, nggak buru-buru, menikmati lucunya mereka.
Tapi di tengah udah mulai nih, mau tanya sebab-akibatnya kaya apa. Alurnya mulai cepat nih. Mulai menggabung-gabungkan kisah mereka.
Di Akhir buku, agak sedih sih, kenapa nggak begitu , tapi ngerti banget kalau segala sesuatunya nggak bisa diselesaikan hanya dengan cinta. Tapi cara mereka 'menyelesaikan' semuanya itu agak ganjal, penggambarannya kurang halus dan terkesan pengen cepat selesai. Nggak bisakah mereka duduk dulu gitu di rumah? he he.
Guilt, atau dalam bahasa Indonesia disebut rasa bersalah, adalah salah satu bentuk emosi (yang sebenarnya normal) yang muncul karena individu merasa bersalah akan suatu hal yang dia lakukan, sesuatu yang dia pikir dia dilakukan, atau suatu hal yang tidak dia lakukan.
Perasaan bersalah ini bagi beberapa orang bisa sangat besar efeknya. It can be paralyzing for some people. Excessive guilt can be a feature of certain forms of mental illness, including depression, post-traumatic stress disorder, and other conditions.
Meskipun begitu, mengingat perasaan bersalah yang tidak nyaman, dapat memberikan motivasi yang kuat untuk meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan berperilaku lebih bertanggung jawab di masa depan. [SUMBER: Psychology Today]
SEMUA HAL TENTANG RASA BERSALAH DI ATAS, ADALAH POROS UTAMA PENGGERAK ALUR CERITA NOVEL INI.
Buatku novel ini bagus sekali. Oh ya, oke.. aku tahu ini terbaca sangat tidak menarik dan standar untuk sebuah ulasan buku. Tapi sungguh, aku kehilangan kata-kata selain, yah... novelnya memang bagus sekali.
Kamu tahu, latar cerita novel ini berlokasi di Pulau Dewata, Bali. Sebuah tempat yang menyebut namanya saja kamu akan mulai berasosiasi dengan kata indah, asri, dimana budaya dan kepercayaan adat tumbuh subur dalam kehidupan dan nadir tiap-tiap orang yang lahir dan hidup disana. Tempat dimana hukum karma menjadi hal yang dipercaya dan nyata.
Oh ya, aku baru sadar juga setelah membaca novel ini kalau pilihan diksi dan kemampuan penulis meramu kata juga jadi faktor yang menentukan kecepatan baca. Tau kenapa? Karena novel ini selesai dalam 4 jam saja! Aku dibuat jatuh hati dengan gaya tulisan Suarcani.
Aku suka bagaimana penulis 'menunjukkan' kepribadian dan perkembangan karakter tokoh dalam novel ini. Galih, Roya, Kanaya, Pak Zul, semuanya. Bagaimana cara bicara mereka, pakaian, pemikiran, kegelisahan hati, keputusan, semua pergulatannya ditunjukkan kepada pembaca dengan sangat apik. Meskipun pola hubungan dan misteri masa lalu - masa kini mudah ditebak oleh pembaca, tapi tidak mengurangi rasa penasaran menamatkan novelnya.
Oh, aku masih membayangkan di kepala bagaimana nelangsanya Galih saat konflik cerita sudah sampai puncaknya! Masih bisa kubayangkan semua latar cerita, waktu, mimik, tangisan dan sesaknya seorang Galih saat menyampaikan kalimat: "Sampai bertemu di akhirat..". HANCUURRRR HATIKU!
Dan satu poin kelebihan yang tidak boleh dilupakan dari novel ini: Akhir cerita yang sangat realistis jika dilihat dari semua alur kejadian yang diceritakan sejak awal. Yah, menyedihkan, tapi realistis.
Wow, percayalah nggak ada yang lebih kaget dibanding diriku sendiri. Aku udah baca 3 buku Kakak Penulis ini sebelumnya dan cocok semua, apalagi Rule of Thirds, asli aku demen banget. Makanya berekspektasi besar sama ini, apalagi dari blurb tuh konfliknya kayak beratttt gitu. Ya memang berat sih, tapi tapi tapi... Bukan begini 😭😭😭
Jujur, aku sangat menikmati bagian-bagian awal buku. Tapi masuk ke tengah aku mulai bingung, kayak bertanya-tanya kenapa ini ke sini dan itu ke situ? Jadi ini harusnya begini, bukan begitu? Kemudian, terjadilah. Tebakan awalku benar, tapi penyelesaiannya bikin aku mengumpat di jalan yang tidak benar. Biasanya aku memang obral sumpah serapah, tapi baru kali ini maknanya sungguh nggak baik. Aku kecewa, tapi ini kan subjektif ya. Dan aku nggak menyalahkan penulisnya atau gimana. Kebetulan aja aku yang nggak cocok. Apa aku akan kapok? Tentu saja tidak, Marimar. Aku akan tetap menunggu karya Kakak Penulis. Seperti yang berulang kali kubilang, gaya nulisnya gampang kuikuti. Cuma buat di buku ini, aku nggak sreg dengan karakter dan konflik.
Ini cuma pendapat pribadiku. Bisa jadi pendapat kamu beda dan kamu malah suka ^^
3,6 bintang sebenarnya, dibaca via Gramedia Digital.
Galih dan Roya adalah dua orang yang dihantui masa lalu. Galih selalu berusaha untuk melarikan diri sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berdamai dengan hantu masa lalu itu. Roya sendiri terperangkap dalam rasa bersalah karena keputusan yang dia ambil 7 tahun lalu. Tanpa dua orang ini sadari, masa lalu mereka sebenarnya terpaut lewat cara yang tidak mereka duga. Satu keputusan untuk kembali ke Bali membuka peluang bagi Galih dan Roya untuk berdamai dengan masa lalu masing-masing. Sayangnya, ini juga menjadi peluang untuk munculnya "ganjaran" dari dosa yang pernah dibuat 7 tahun lalu itu.
Cerita yang mengangkat tema tentang masa lalu yang menghantui memang bukan merupakan barang baru lagi. Sedikit banyaknya, pembaca sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi nanti pada Galih dan Roya. Hal yang aku dinikmati dari Purple Prose adalah cara penulisan penulis yang halus dan mengalir. Galih dan Roya menjadi dekat lewat rangkaian kejadian yang terasa natural di sepanjang cerita. Cara penulisan dalam buku ini sendiri terasa puitis tanpa terlalu berlebihan dan masih bisa dimengerti dengan baik oleh pembaca. Aku benar-benar menikmati paruh awal dari novel Purple Prose ini.
Memasuki paruh akhir buku ketika klimaks dan penyelesaian cerita dituturkan dengan lumayan ringkas dan cepat, aku merasa buku 308 halaman ini menjadi terlampau dramatis untuk seleraku (it's not you, it's me really). Karena alasan ini, aku harus berusaha lebih keras untuk menamatkan bukunya. Berbeda sekali dengan paruh awal buku ini yang bisa aku baca dengan santai dan tanpa beban. Pada akhirnya, ini memang kembali lagi pada selera dan preferensi masing-masing pembaca. Bagaimanapun juga, klimaks dan penyelesaian seperti itu memang pilihan yang paling pas untuk kisah Galih dan Roya yang sudah doom dari awal ini.
Kalau sedang mencari bacaan romantis yang menyedihkan, membahas tentang rahasia kelam masa lalu, dan tidak keberatan dengan star-crossed lovers, novel Purple Prose ini dapat menjadi pilihan bacaan untukmu.
Ulasan terkait novel ini juga dapat ditemukan di sini.
Selamat pagi teman-teman. Ada yang pernah baca Purple Prose? Wah ini novel recommended banget loh. . Judul: #PurpleProse Penulis: Suarcani Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 304 Tahun: 2018 . Purple Prose ini novel kedua kak Suarcani yang aku baca. Novel ini lebih membekas di hati sih. Saking membekasnya, aku masih belum rela berpisah dengan Roya dan Galih. Aku masih belum terima dengan keputusan akhir mereka. . Purple Prose, covernya manis dan mewakili isinya, ceritanya juga bagus. Di bagian awal cerita sudah mulai tampak konflik tentang kesalahan masa lalu yang dilakukan oleh Roya dan juga Galih. Konfliknya rumit banget deh. Karmanya nyata dan bikin nyesek😭 . Bahasa dan gaya bercerita asik, ngalir begitu ajah dan nggak dibuat buat. Setiap babnya selalu bikin penasaran. . Novel ini kental banget sama nuansa dan budaya Bali. Ada beberapa dialog pakai bahasa Bali juga. Nggak usah bingung, ada terjemahannya kok. . Momen momen manis Galih dan Roya bikin cengengesan. Apalagi adegan di supermarket saat beli air minum. Kok bisa kepikiran sampai situ ya kak @alhzeta 😆 . Tetapi ada momen momen yang bikin hanyut, nyesek, sedih, ya pertemuan Galih dengan Kanaya setelah 7 tahun berlalu. Sumpah nyesek abis. Apalagi endingnya, bikin aku nangis dong. Nggak terima deh! Tapi ya gimana ya, karma emang kejam dan sadis tapi harus diterima😭 . Dan di novel ini, wagelaseh quotes-quotes nya jlebbb menusuk banget sampai hati dan tulang tulang. . "Aku nggak butuh perempuan cantik. Aku lebih butuh pasangan yang bersedia melindungiku dari apa saja. Aku tahu aku itu seorang lelaki, seharusnya bisa lebih kuat dari kamu, selalu bisa melindungi kamu dari apa pun. Tetapi akan ada masanya aku kalah pada dunia dan saat itulah aku membutuhkanmu" (174) . "Karma itu seperti asap, Ya! Dia selalu ada di udara, walau tidak terlihat. Ketika waktunya tiba, dia akan datang untuk menagih pertanggungjawaban" (289) . Terima kasih kak @missfioree dan @alhzeta atas kesempatan menangin GA buku keren ini! Buku yang bikin nyesek berkepanjangan. (Moga ajah ada lanjutannya *sambil bisik bisik dan kedip kedip ke kak Suarcani*)
Takut itu hanya produk dari alam bawah sadar. Berawal dari stres, berakhir dengan adrenalin. Semua hanya ada dalam kepala.
Karya pertama dari kak suarcani yang aku baca, dan bagus. Aku suka cara penulisannya, dan suka sama eksekusi ceritanya. Bahkan prolog & epilog novel ini aku suka. Hanya saja... temanya begitu dark :(
Prosa ungu itu semacam kalimat berlebih yang sering muncul di sebuah buku, biasanya sih novel. Kalimat-kalimat yang boros kata, bertele-tele, rumit, dan menarik perhatian untuk dirinya sendiri.
Ini buku kedua Suarcani, setelah welcome home, Rain, yang saya baca. I think I might found my new favorite writer. Biasanya saya dengan perasaan bangga mengucapkan "Karma does exist (bro, b**ch)" tapi kali ini saya selalu merapel dalam hati "Jangan ada karma di antara mereka, please". Intinya, Prosa Ungu bener-bener nancep banget di benak saya. Konfliknya, penyelesainnya, penokohannya, endingnya, semua rasanya pas, gak kurang, ga lebih. Eh, ada yang kirang ding. SEQUELNYA.