Menceritakan si tokoh utama beserta pertemuan dan kisahnya dengan beberapa perempuan yang ditemuinya antara 1964 - 1970. Mbakyu Sinto, Linlin, Dyani.
"Hanya ada 2 kemungkinan yang bisa kita kerjakan. Pertama, kita menikah. Tapi saya yakin Mas Budi tidak akan bersedia. Kita tidak saling mencintai. Juga, ini berbahaya. Kedua, saya menyerahkan diri saya, tubuh saya, saat ini juga. Dan tidak membutuhkan cinta.Tapi setelah ini, Mas Budi tidak perlu membantu keluarga saya. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk membiayai keluarga."
"Pergilah! Dyani, pergilah. Bagi saya, kamu tetaplah Dyani yang kecil dulu..."
Sedangkan Dyani berjalan dengan kepala menekuri karpet hijau yang menutup lantai.
Apakah yang sudah kulakukan? Kenapa kusakiti hati lelaki itu? Kenapa aku harus membencinya? Karena salah seorang temannya ikut menciduk Bapak?
- Percakapan Budi dan Dyani, halaman 223-226 -
"Saya pernah melakukan itu pada seorang gadis. Dan sampai sekarang tetap menjadi penyesalan saya. Saya tidak jadi mengawini dia. Tapi dia sudah tidak suci. Waktu dia kawin dengan orang lain, suaminya sangat kecewa. Suami yang kecewa pada istrinya akan menyiksa istrinya selamanya... Kalau nasib memang akan mempertemukan kita, kita akan bertemu. Itulah jodoh. Tapi lepas dari itu semua, siapapun suamimu kelak, berikan kesucian mu hanya pada dia."
- Percakapan Budi dan Linlin : halaman 242 : 243 -
Kamu barangkali malah tidak tahu, sebenarnya saya sudah punya anak.
Kamu sudah beristri?
Istri orang..Dulu tahun enam lima, dia sudah hamil karena berhubungan dg saya.
Suaminya nggak tahu?
Nggak.
Gila kamu!
Saya mencintainya,kok.
-Percakapan Budi dan Maruti tentang Mbakyu Sinto-