Jump to ratings and reviews
Rate this book

Malam Sepasang Lampion: Kumpulan Cerpen

Rate this book
Apakah manusia perlu membunuh manusia untuk menjadi manusia? Apakah kekerasan harus dibela mati-matian agar bisa menjadi alat untuk memperkokoh kekuasaan? Apakah tak ada lagi cinta sehingga apa pun harus diungkapkan dengan aneka kebencian?

Kisah-kisah Triyanto Triwikromo menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut semacam itu dengan liris. Pengarang melawan kekerasan dan penindasan dengan teks-teks yang nyaris bisa dilagukan.

Cerita-cerita yang terhimpun dalam Malam Sepasang Lampion ini merupakan kisah-kisah yang mengungkapkan kekerasan sosial dengan tetap peduli pada inovasi penceritaan. Termasuk kisah "Bukit Cahaya" dan "Ayoveva" yanng berkisah tentang perlawanan terhadap sikap keberagaman yang keras dan radikal yang ditulis dengan liris dan lembut.

192 pages, Paperback

First published May 1, 2004

Loading...
Loading...

About the author

Triyanto Triwikromo

50 books32 followers
Triyanto Triwikromo (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964; umur 50 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.

Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (17%)
4 stars
9 (22%)
3 stars
13 (32%)
2 stars
8 (20%)
1 star
3 (7%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
6 reviews4 followers
December 9, 2018
Begitulah, seperti tulisan-tulisan Pak Triyanto sebelumnya, pembaca akan selalu disuguhi tema yang keras, sehimpun metafora untuk membentuk cerita, dan, tentu saja, diksi-diksi kaya yang terlihat sangat puitis. Dalam Malam Sepasang Lampion ini, hampir semua tema cerpen membahas sisi gelap manusia yang terbilang mengerikan. Jika dibandingkan dengan 'Sayap Anjing', saat membaca kumpulan cerpen ini acap kali saya merasa jenuh dengan gaya yang digunakan beliau pada hampir semua cerpen yang ada.
Profile Image for fara.
284 reviews48 followers
January 29, 2023
Cerpen-cerpen yang ada di kumpulan cerpen ini sudah banyak dimuat di media massa, kebanyakan di Kompas, Tempo, dan Media Indonesia. Saat membaca beberapa cerpen di awal, khususnya Bukit Cahaya dan Ayoveva saya langsung terngiang-ngiang gaya bercerita dan vibes ketika membaca cerpen di koran Minggu pagi di masa kecil saya. Rasanya sama persis. Ternyata setelah saya baca biografi pengarang yang seorang redaktur pelaksana di harian Suara Merdeka langsung bikin saya tertawa geli. Triyanto Triwikromo adalah sosok di balik cerpen-cerpen surealis, kejam, gelap, dan keji yang selama ini saya baca (dan tumbuh besar bersamanya tentu sebuah kehormatan). Dari total sembilan belas cerpen, favorit saya adalah Margot yang menceritakan soal masa lalu khususnya konflik masyarakat di Kedungombo (yang berita, kisah, dan literaturnya sudah sempat saya baca di beberapa sumber).

"Diam! Kalau Anda bicara terus, sampean PKI. Sampean tahu nasib para PKI kan? Anda tahu bagaimana sungai-sungai dipenuhi bangkai mereka sehingga tinja pun tak punya kesempatan nongol ke permukaan?" (halaman 47). Di masa Orde Baru, siapa saja yang melawan aparat dan nggak mengikuti arus memang akan dengan mudah dicap PKI. Dengan senjata tersebut kekacauan tentu terjadi dimana-mana, semua saling tuduh, saling tangkap, main hakim sendiri. Cerpen-cerpen lainnya juga menarik, meskipun didominasi oleh adegan kekerasan, perkosaan, pembunuhan, dan kengerian lain yang memang menjadi 'sisi gelap' masyarakat kita. Beberapa relevan dengan realita, beberapa terkesan dibumbui fantasi dan bergaya sufistik. Semuanya kaya akan metafor, bahkan beberapa catatan kaki menambahkan adegan, kutipan, atau sekadar teringat saja soal apa-apa yang ditulis oleh penulis lain seperti Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Budi Darma, hingga Bre Redana. Berdasarkan catatan kaki random tersebut saya jadi mengira-ngira betapa kaya bacaan Triyanto Triwikromo.

Sayangnya, setelah sekian ratus halaman ke belakang, saya jadi jenuh sendiri karena narasi yang kaya akan metafor tersebut justru terlalu padat. Nyaris nggak ada cerita yang ditulis secara eksplisit, selalu paragraf-paragraf yang membuat pembaca 'terpaksa' untuk berpikir artinya, maknanya, tafsirnya, sehingga butuh banyak waktu untuk merampungkan satu cerpen. Selebihnya, saya sangat suka dengan istilah-istilah yang cukup asing bagi orang awam, makanya saya betah bolak-balik mengecek KBBI untuk mencocokkan pengetahuan saya sebelumnya dengan istilah yang dipakai. Setelah merampungkan Malam Sepasang Lampion, saya jadi sadar betapa banyak nggak tahunya saya selama ini.
Profile Image for Noep.
49 reviews28 followers
April 1, 2018
Ngilu- ngilu ngeri, saya baca kumpulan cerpen Malam Sepasang Lampion ini. Cerpen- cerpennya penuh dengan warna kekerasan dan seksualitas dalam kehidupan masyarakat yang diceritakan dengan imajinasi yang liar (sekaligus absurd?). Fenomena- fenomena yang digambarkan begitu mengindikasi bahwa kebobrokan manusia bukan lagi sesuatu yang perlu dibungkus rapih- rapih (seolah manusia memang baik- baik saja), tetapi dibawakan ke dalam cerita- cerita yang pedih (namun puitis).

Dari sekian cerpen yang ada di buku tersebut, saya menyukai dua cerpen dengan tokoh yang sama; Lorong Kupu- Kupu dan Anak- Anak Mengasah Pisau. Cerpen pertama menggambarkan tentang fenomena pelacuran di sebuah perkampungan yang telah menjadi kultur; yang harus ditonton sekaligus menjadi bagian dari kehidupan seorang anak perempuan bernama Manyar. Di ujung cerita, Manyar mengungkapkan keinginannya sembari bersolek untuk dapat menjadi seperti kakak perempuannya, Mayang, yang seorang pekerja seks.

Cerpen kedua tentang kemarahan yang membuncah dari seorang Manyar karena adik laki- lakinya, Nurkhan, dibunuh secara tidak waras oleh segerombolan preman yang berusaha menghabisi orang- orang di daerah pelacuran tempat keluarga Manyar menyambung hidup. Dendam yang memuncak itu dihadirkan dalam alur cerita ketika Manyar disuruh mengasah pisau oleh gurunya di sekolah untuk sebuah pelajaran, tetapi yang ia ingat adalah kekejian orang- orang yang mengiris kepala adiknya.

Cerita- cerita di atas hanya sekian dari 17 cerpen yang terhimpun di buku tersebut. Walaupun terkadang imajinasi Pak Triyanto terlalu hebat hingga saya lebih lama mengolah cerita apa yang sebenarnya sedang saya baca, tetapi saya bersyukur dapat membaca lebih banyak karya- karya jujur seperti ini.
Profile Image for fauziahilda.
55 reviews
October 19, 2020
Ora reti :’(
Cerpen-cerpen dalam buku ini membicarakan apa? Saya tidak tahu. Saya tidak bisa menemukannya karena ia tertutupi kalimat-kalimat yang terlalu metaforis.
Profile Image for Darnia.
769 reviews115 followers
February 4, 2015
2.5/5 bintang deh

Banyak cerpen yg sebelumnya gw baca di Children Sharpening The Knives jadi agak bosan.Temanya juga itu-itu aja, dimana makin ke belakang makin kehilangan sisi menariknya. Dan diksinya pada dasarnya not my cup of tea, terlalu puitis.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews