Jump to ratings and reviews
Rate this book

Batas Sepasang Kekasih

Rate this book
"Mereka saling mengamati. Di setiap tatapan mata. Lekuk hidung. Garis bibir. Lebat alis. Setiap embusan napas. Mereka mengamati satu sama lain. Seperti sepasang kekasih yang terpisah oleh jarak dan waktu, lalu bertemu di sebuah pulau terpencil, jauh dari kebisingan kota. Tempat segala perasaan kini bertemu. Pada mulanya membeku, lalu mencair. Mereka berbicara seperti gerak selembar daun yang gemulai, jatuh di luar rimbunan kata-kata."

Luka tidak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keyakinan tertentu. Aqila tidak pernah berencana untuk jatuh hati pada Luka yang berbeda keyakinan dengannya. Mereka memang tidak punya kuasa atas apa yang di luar permintaan dan rencana mereka. Tapi mereka bisa memilih; mendobrak batas itu atau mengalah, dan menerima apa pun konsekuensi yang menyertainya.

Unknown Binding

2 people want to read

About the author

Latif Fianto

2 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (22%)
4 stars
1 (11%)
3 stars
1 (11%)
2 stars
5 (55%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
November 17, 2018
Ekspektasi saya besar untukn buku ini. Secara umum, untuk buku-buku bertema cinta dengan latar belakang perbedaan agama. Ya, bagaimanakah dua insan, yang hidup di republik ini, yang katanya punya falsafah Bhineka Tunggal Ika, harus tersiksa karena keberagaman mereka. Agama bukannya jadi jembatan, malah jadi batas di antara keduanya.

Apakah masalah ini berlaku di negara lain? Saya belum tahu. Saya belum melakukan penelitian itu. Tapi yang pasti, menurut saya, ketika negera kita punya falsafah hidup sedemikian, tentu hal itu harusnya juga diikuti oleh masyarakatnya, sebagai unit terkecil dari sebuah negara.

Nyatanya...

Ya, nyatanya tak perlu Batas Sepasang Kekasih bila tak ada permasalahan itu. Buku Latif Fianto ini membahas permasalahan itu. Luka yang muslim jatuh cinta pada Aqila yang Katholik (hal ini tidak dijelaskan apa dia Katholik atau protestan, tapi bisa ditebak dari ada gambar Bunda Maria di kamar Aqila). Tapi... lubannya justru terasa di sana. Setahu saya, Katholik tidaklah seektrim yang dikisahkan Latif ketika membicarakan perbedaan agama. Justru umat gereka-gereja karismatiklah yang pemikirannya sesempit Darius, ayah Aqila.

Untuk buku ini, saya tak menyalahkan penulis jika memang tujuannya adalah genre novel populer. Tapi untuk ditulis dalam novel yang lebih serius, kurasa perlu penggarapan karakter yang lebih matang. Tak hanya permasalahan atau "tampilan luar" tokoh-tokohnya, tapi harusnya juga lebih jauh mengenai problematika permasalahan agama tersebab eksklusifitasnya. Ayat 2 Korintus 6: 14 misalnya, yang menyatakan: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Ayat inilah yang biasanya dipakai oleh kelompok-kelompok karismatis untuk menyerang mereka yang tak sealiran dengan mereka.

Soal typo, di beberapa bagian juga cukup mengganggu. Terutama untuk penggunaan kata acuh dan kamar yang dimiripkan gudang (untuk nomor halaman berapa, tunggu saya sampai di rumah ya). Tapi jujur, mengapresiasi buku ini, setidaknya penulis telah mengolah permasalahan bangsa ini yang makin runyam ketika kolom agama masuk ke dalam KTP dan syarat pernikahan di negara ini harus seagama.
Displaying 1 of 1 review