"Bagaikan awan, aku bergerak perlahan tanpa tahu arah. Kami mendengar pelbagai pesawat yang terbang di atas sana, bermanuver menuju langit, lantas menembus awan. Ketika malam tiba, aku hanya bisa melihat lampu yang berkedip dan yang bisa kubayangkan hanyalah mimpui mereka yang perlahan-lahan berkembang."
Rain Chudori is an award-winning author, curator, and life-long nomad. She is the founder of Moment Studio & curator of Comma Books Publishing.
She has written Monsoon Tiger and Other Stories (2015), Imaginary City (2017), and Biru dan Kisah-Kisah Lainnya (2018). She is based in New Delhi, India but belongs everywhere. She is currently an artist in residence in New York.
Bagi saya, membeli buku kumcer itu adalah membeli kucing dalam karung. Kadang bisa bagus banget, atau sebaliknya, tak paham kemana arah cerita. Biru ini masuk golongan yang kedua.
Berikut catatan-catatan saya selama membaca:
1. Ke sembilan judulnya memiliki konflik yang sangat biasa dengan bahasa yang dirumit-rumitkan. Hasilnya, tetap saja itu perkara sepele, tapi disampaikan dengan bertele-tele. 2. Banyak dialog yang tidak ada keterangan siapa yang ngomong. Kalau cuma pembicaran antara dua orang sih oke. Ini ada empat orang bicara tapi tak tahu siapa bilang apa. 3.Di beberapa cerpen saya melihat penggunaan kata "saya" dan "aku" yang tidak konsisten padahal masih dalam konteks pembicaraan yang sama. 4. Tone penceritaan seorang gadis kecil dan perempuan dewasa tak ada beda. Ini membuat saya menebak-nebak yang ngomong siapa sih? Anak umur 10 tahun atau gadis kuliahan? 5. Yang paling menyebalkan, TYPO.
love it. aku paling suka taman gajah, I even cried after I read it. I can vividly saw their childhood and I can feel their emotion as I were in their story. Hanya sayangnya banyak typo, penggunaan aku dan saya juga gak konsisten.
Meski ada yg bilang buku ini telah kehilangan kekuatan kata akibat alih bahasa, saya rasa narasinya masih cantik. Kadangkala, bertele-tele untuk hal sepele tidak selalu buruk. Bisa jadi inilah pesona dari narasi Biru dan Kisah-kisah Lainnya ini. Terima kasih untuk Abi Moyo yang sudah menerjemahkan buku ini.
Tidak ada gading yang tak retak. Begitu juga buku ini. Saya kaget melihat nama Leila Chudori adalah penyunting naskahnya. Masih banyak salah ketik dan kurang tanda baca yang saya temui sepanjang membaca buku ini.
Saya sangat menikmati cerpen Taman Gajah dan Di Bawah Naungan Bugenvil. Kesamaan antara Leila dan Rain yang saya temui adalah gemar menyelipkan nama-nama bunga dalam ceritanya. Bunga-bunga ini bukan hanya disebutkan sebagai pemanis, tetapi juga menjadi bagian dan pesan dari ceritanya.
Desain sampulnya bagi saya elok sekali. Yang membuat buku ini memorable bagi saya (selain pemberinya) adalah cerpen yang menceritakan tentang persahabatan 4 sekawan di Taman Gajah serta kematian beberapa orang yang saling terkait satu sama lain. Yang cukup saya kesalkan adalah banyak sekali saltiknya alias gimana nih proofreader-nya hadeh. Hehehe.
Membaca keseluruh cerita hanya dalam waktu 2 hari di tengah waktu libur yang panjang. Terdapat 9 cerita yang jika disimpulkan menawarkan topik yang sama—kehilangan, cinta bertepuk sebelah tangan—yang dialami oleh perempuan dari ragam usia.
Sebenarnya topiknya sederhana, tapi sayangnya seperti sengaja dibuat bertele-bete, diperpanjang dengan berbagai perumpaan yang justru membuat saya terus membolak-balik kertas agar tidak kehilangan makna.
Sampai dilembar terakhir saya baru menyadari bahwa tidak terdapat perbedaan bahasa yang digunakan, padahal ceritanya diambil dari sudut pandang anak-anak, remaja, atau orang dewasa. Belum lagi saya menemukan banyak typo, seperti kata yang double, penggunaan kata “aku” dan “saya” yang tidak konsisten, serta salah ketik yang banyak jumlahnya.
Meski demikian, saya menikmati keseluruhan cerita. Mungkin kumpulan cerpen ini cocok dibaca ketika diri sedang tidak mencari apa-apa. Hanya ingin membaca saja, sambil minum teh, kopi, makan biskuit di rumah.
Buku yang perlu dibaca berulang-ulang di beberapa bagiannya, sebab... Membingungkan dan di beberapa titik terasa terputus-putus. Setelah menamatkan dengan penuh tanda tanya, mampir ke halaman review... Ternyata kemungkinan ini gara-gara alasan klasik, buku terjemahan seringkali menurun "kekuatannya" dibanding versi bahasa asli buku ditulis.
Kisah-kisah yang terkandung rata-rata tentang kehilangan, atau tidak pernah benar-benar memiliki (?) seperti seluruh manusia jga kan?
Saya beli buku ini karena sampulnya cantik. Tetapi sejujurnya agak kecewa karena banyak sekali ketidak-rapian yang tercetak di dalam buku. Dialog yang dilakukan antartokoh yang tidak disertai keterangan pun membuat saya bingung, meskipun ada beberapa cerita yang bagus. 3.2/5.
bagus, namun bukan sesuatu yang begitu meninggalkan kesan. salah satu kutipan favoritku; "selagi aku menjauhi cintaku pada apapun demi membuka ruang baginya, dia justru sedang jatuh cinta kepada segalanya kecuali pada diriku."
Menyelesaikan ini pada akhirnya. Setiap cerita seperti punya magisnya tersendiri. Ada yang memberi rasa hangat, ada yang memberi rasa pilu. Semuanya indah.
Kisah "Lewat Jemari" meninggalkan saya merenung dengan perasaan yang penuh dengan getaran-getaran, seperti getaran yang saya rasakan saat sedang jatuh cinta.
Di antara cerita pendeknya, aku paling suka Monsoon. Hampir di setiap cerpen Rain dalam buku ini ada kata 'biru'. Wajar jika ia memberi judul bukunya demikian.
Ringan dan mengesankan. Setiap judul punya cerita dan pesonanya masing-masing. Beberapa ada yang nyangkut banget di kepala, beberapa sisanya ada juga yang lewat begitu aja. Cukup menyenangkan untuk dibaca. <3