In the fast-paced world where conscience is often swallowed by the daily struggles to survive, one little family maintains their true principle that honesty is the best policy. Though stricken with poverty, Cemara's family continues to live with gratefulness, kindness, and resilience. Cemara, the main character of this heartwarming novel, is a bright and lovely little girl who's still in kindergarten. She lives with Abah, the breadwinner of the family, who works as a pedicab driver and a handyman whenever he's needed. To support him, Emak, the mother, makes sweet grain snacks and asks her daughters to sell them around their village. Euis, the firstborn daughter, is on the 6th grade and has experienced the family's wealthy state in the past, before poverty strikes them. While the youngest daughter is Agil, a sweet girl who puts a smile in everyone's face.
Cemara's Family is an evocative novel about the values of family as a pillar of strength. Cemara's sweet little stories show us that tears can actually be a symbol of happiness and that there is always hope even in the time of hardship.
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!
Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa, seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di penjara, serta sejumlah pengalaman indah yang masih akan dituliskan.
This is the second volume of Arswendo Atmowiloto’s slice-of-life series, Cemara’s Family, translated to English from the original edition.
My first thought: that’s a fantastic cover art.
My second thought: it’s really cool to see such an iconic Indonesian series being translated to English, so that more people worldwide can read it (even if the execution may leave a lot to be desired).
I admitted nostalgia played a huge part in my decision to pick up the book. The TV series was popular in the 1990s, and while I didn’t really watch many episodes of it, the memories about the characters have really stuck with me. Heck, as I read this book, I immediately recalled the tune of the theme song—♪the most precious possession… is family♪
The book is broken up into several major arcs, each consists of several chapters that usually link into each other. Unfortunately, what’s immediately noticeable is the poor quality of the translation. The translator was pretty creative with vocabularies and the dialogues sound natural enough most of the times, but there are simply too many grammatical mistakes. Misspelling, wrong tenses, wrong choices of words, and poor sentence structure are the norms throughout the book, and it’s a shame, since these are the kind of mistakes that could’ve been fixed with proper cross-checking and editing.
At the very least, the stories are simple enough that you can still understand them in spite of the poor grammar. I’ll also credit the translator for making additional notes to explain local terms/concepts, which can be helpful to foreign readers.
A lot of the stories follow a similar pattern: the family desires for something, they work hard or sacrifice something for it, and they almost get it—only to be foiled at the end by terrible luck. This can get quite annoying after a while, and it’s hard not to be frustrated at some of the endings to the chapters—the most egregious one is the art festival arc, where each of the daughters fails their respective competition for various contrived reasons. Like, my God, they really can’t catch a break. However, when executed well, some of the stories can strike a perfectly bittersweet tone, namely the story about a school drop-off and pick-up service; the one about birthday celebration; and the one about Kae, Ara’s smart friend and a daughter of an out-of-job prostitute.
I guess what Mr. Arswendo really wanted to convey is the idea that the world is inherently unfair. You may work really hard and be a sincere person who treats everybody well, and yet you can still end up with nothing to show for all that. Whether we like to admit it or not, people with privileges will always have a convenient head start over the have-nots.
In the end though, I feel the description of Cemara’s Family as “a sad tale about a poor family” doesn’t properly capture the nuances in the story. It’s indeed a slice-of-tough-life (*to borrow a term from my friend’s parlance), but there’s also a sense of liveliness from the family’s everyday interaction. There’s a dash of romance between Euis and the two boys that fancy her, a touch of kindness from the way Ara treats her friends, wry humor from Agil’s carefree banter, and a picture of dignified perseverance in the way Abah and Ema hold the house together and continue to literally give everything they have for their beloved daughters.
Mengisahkan kehidupan Keluarga Cemara yang terdiri dari abah, ema, dan ketiga putri perempuan mereka; Euis, Cemara/Ara, dan si bungsu, Agil. Keluarga Cemara tinggal di sebuah desa kecil di daerah Jawa Barat. Mereka hidup sangat sederhana jauh dari mewah. Abah bekerja sebagai penarik becak dan menjalani pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ema membuat opak, panganan ringan yang nantinya dibawa oleh Euis dan Ara untuk di jual di sekolah atau terminal pasar. Dulu sekali, sebelum Ara dan Agil lahir, abah adalah pebisnis yang sukes dan kaya. Keluarga mereka tinggal di Jakarta. Suatu saat, abah dikhianati oleh rekan kerjanya, harta mereka disita dan mereka pindah ke rumah kecil yang dulu pernah mereka beli di Jawa Barat. Sejak saat itu, abah hidup dengan prinsip yang tak pernah ia tinggalkan dan selalu ia ajarkan ke istri dan anak-anaknya yaitu 'kejujuran'.
Buku ini udah lama ada di reading list saya sejak awal 2021, nyatanya baru sempat baca saat ini. Saya pikir buku ini seperti novel umumnya, ternyata buku ini terbagi menjadi bab-bab yang terdiri dari judul yang berbeda yang sebenarnya nyeritaiin keseharian Keluarga Cemara dengan tokoh-tokoh pelengkap di lingkungan mereka. Semacam buku Lupus gitu! Ada tetangga mereka yang kaya namun agak angkuh, Nyonya Pressier dan anaknya, Pipin yang juga teman sekolah Ara. Ada Ceuk Salmah, Pendeta Eka, Tante Iyos, dll.
Satu hal yang pasti bisa banget diambil dari buku ini ya prinsip kejujuran dari abah dan keluarganya. Gimanapun keadaan mereka, abah ngajariin ke istri dan anak-anaknya untuk selalu jujur, berbuat baik, dan jangan ngambil yang memang bukan hak kita. Bahkan dibanyak bab, abah diceritaiin selalu nolak uang pemberian dari orang lain yang ia tolong tanpa sengaja. Beda cerita kalau abah ngelakuiin suatu pekerjaan dan dia dikasih upah. Pernah baca salah satu review tentang buku ini, dia bilang keluarga abah itu adalah keluarga yang menerapkan stoikisme yang mana gak terpengaruh sama hal-hal diluar diri mereka. Mereka selalu ngelakuiin yang mereka mampu dan walaupun seringkali hasilnya diluar harapan mereka, mereka selalu bisa menerima dan mensyukuri itu semua.
Kalo ngeliat kehidupan sekarang ini, rasanya jarang banget ada keluarga sejujur dan sekuat keluarga abah ini, bahkan dibanyak bab sering banget dibuat kecewa karena kok kayanya sulit banget buat mereka dapet atau ngewujudin apa yang mereka mau. Tapi toh ternyata banyak juga moment-moment bahagia mereka biarpun hidup dalam kesederhanaan. Abah sebagai seorang ayah, digambarkan sebagai sosok yang dihormati dan keputusannya adalah keputusan akhir dikeluarga tersebut. Abah jadi contoh yang baik buat istri dan anak-anaknya yang masih kecil buat selalu hidup jujur gimanapun sulitnya hidup. Pernah ketika lagi ngerasa down dihimpit beban kerjaan, terus lanjut baca buku ini, entahlah tiba-tiba sadar, kayanya banyak yang lebih susah hidupnya tapi mereka enjoy dan grateful aja ngejalaninya. So, maybe I can do the same way. Memang, kita harus melulu diingatkan oleh hal-hal seperti itu, and those reminders can come in many kinds, one of them is a book, maybe. Well, last but not least, buku ini adalah salah satu rekomendasi bacaan ringan tapi banyak hikmah dan contoh baik yang bisa diambil.
Sudah lama nonton filmnya, dan baru sekarang baca bukunya. Ada beberapa cerita yg endingnya itu cukup menguras emosi karena gemes membaca ketidakadilan yang harus mereka hadapi. Harusnya begini dan begitu, tapi tidak bisa l.... Pembaca hanya bisa menurut pada pencerita. Di tiap cerita sangat terasa, keluarga ini sangat langka. Dengan berbagai problem yang terjadi, mereka masih bisa tetap tegak berdiri memegang nilai-nilai moral yang sangat tinggi.
Cerita di buku ini jauh lebih mudah dibaca dibanding buku pertamanya. Tapi tetep, aku kurang suka dan kurang bisa relate dengan tokoh maupun cerita di dalamnya. Jadi 3 dari 5 bintang untuk buku ini.
Gara-gara sinetnya Bastian Steel, saya jadi malas sama retelling. Terbengkalai deh, si Tiger Lily. Jadilah saya baca yang lain. Terima kasih Nunu sudah meminjamkan :D
Asyik, temanya keluarga lagi. Keluarganya Cemara, pula. Lengkap sudah kebahagiaan dua minggu ini baca buku bagus terus. Mulai dari mana, ya? Oh, kita bagi saja sesuai isi buku ini. Seperti yang ditulis di sampulnya, ada tiga besar cerita yang saling terhubung satu dengan lainnya:
1. Tempat Minum Plastik Dari Botol Awal-awal membaca, saya langsung dapat ironinya yang memang digambarkan gamblang ini. Mungkin karena ini yang paling 'dulu' di antara yang lain, jadi terkesan raw (in a good way) dan samar. Meskipun begitu, tetap terasa khas Keluarga Cemara-nya yang ada di TV itu (ya iyalah).
2. Becak Emak Nah... ini Keluarga Cemara yang saya kenal. Di bagian ini, yang 'samar' di cerita sebelumnya dikisahkan, seperti latar belakang Abah-Emak dan kehidupan lama Euis di Jakarta, juga makian khas Tante Pressier 'stupid Prancis' (terus saya baru ngeh, oh iya ya ini catchphrase-nya!). Meskipun akhirnya masih sama, g-a-g-a-l, tapi lebih apa ya... realistis dan masuk akal. Chemistry antartokohnya juga terbangun. Emak keren banget!
3. Bunga Pengantin INI YANG PERNAH SAYA TONTON DI TV! Pantas saja memorable, karena ceritanya pun begitu. Bagian ini jadi favorit saya. Lebih smooth, lebih terjalin, dan sedikit nyindir keadaan negeri ini (nyindir banget sih sebetulnya, haha). Saya masih kesal sama Pipin sampai sekarang dan makin kesal gara-gara baca ini! Saya juga suka interaksi Mang Jana sama Bi Eha dan jadi keingat lagi suaranya Tante Pressier kalau manggil mereka. Oh, oh! Saya suka Akun! Tapi Sayo baik banget... sampai dilihat siapa aja saingannya Euis sebelum lomba (kayak seseorang hehe). Dan Abah itu, ya ampun, kuat banget karakternya. Mau tak mau jadi ingat bapak saya sendiri yang prinsipnya begitu. Adegan di sinetnya juga masih jelas di kepala saya. Suka banget.
Sayangnya nih, kenapa font-nya harus sebesar itu? Malah tulisan di cerita pertama pakai font yang beda dan terkesan jadul, ilustrasinya juga nggak sama. Terus inkonsistensi antara 'Ema' dan 'Emak' di cerita pertama dan dua-tiga. Mungkin karena republish...
Masih ingat serial TV tahun '90an berjudul Keluarga Cemara? Arswendo kurang-lebih mengisahkan kisah mereka kembali dalam seri novel Keluarga Cemara.
Novel ini sebenarnya hanya bacaan sambil lalu, diambil dari rak buku di gramedia waktu lalu, karena melihat gambar di cover bukunya; Agil yang sedang memegang kembang sepatu tampak manis memandangi bayangannya di air sungai. *jadi karena covernya ya gam, heuheuu...*
Novel ini sederhana saja, ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana pula, mengisahkan kehidupan Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil sehari-hari serta berbagai hal yang meliputi mereka dalam tiga bagian utama: Tempat minum plastik dari toko, Becak emak, dan Bunga pengantin. Saya bisa katakan, hampir tidak ada akhir bahagia di fragmen kisah-kisah mereka, antara gagal karena memang gagal, atau gagal karena dicurangi, naas. Yang kemudian membuat saya berkesimpulan, memang ada orang-orang yang tidak memiliki bakat menarik uang, sekeras apapun usaha mereka. Tetapi, di sanalah memang kekuatan kisahnya, moral cerita yang dibangun oleh Keluarga Cemara. Saya terkadang berpikir bahwa banyak hal-hal naif yang menjadi karakter tokoh-tokoh ini. Nevertheless, saya masih percaya ada orang seperti Abah, kepala keluarga yang memegang prinsipnya dengan kuat, di tengah segala keterbatasannya, mampu mendidik keluarga yang luar biasa, atau yang seperti Emak, perempuan lembut namun kuat, menemani suaminya dari masa jayanya hingga bahkan di titik-titik terendah kehidupan mereka, atau seperti Euis, sulung yang sempat merasakan kejayaan orangtuanya, namun tumbuh menjadi gadis yang luarbiasa kuat 'fight'-nya di tengah himpitan kemiskinan orangtuanya, atau juga seperti Ara dan Agil, yang meskipun lahir dari keluarga miskin, namun memiliki rasa bangga akan keluarganya.
Kita bisa menjadi kaya dan kemudian berbahagia atasnya atau mungkin terjerambab miskin namun tetap bisa bahagia pula atasnya. Bahagia terletak bukan pada limpahan harta atau impian yang selalu terwujud, tetapi pada hati yang senantiasa bersyukur, saya kira itulah hal yang disepakati novel ini. Terima kasih atas kisahnya :)
Alhamdulillah, selesai juga buku ini. Masih bercerita tentang keluarga cemara dan kesulitan-kesulitan dalam hidup yang mereka alami. Hebatnya, mereka bisa selalu berpikiran positif tentang segala hal yang terjadi pada keluarga mereka. Dalam buku ini, sempat juga diceritakan tentang Euis dan Ara yang harus kalah dalam lomba, namun bukan karena kemampuan mereka. Mereka kalah karena mereka anak abah, hanya penarik tukang becak. Aneh dan tidak menguntungkan kalau mereka menang lomba. Dalam buku ini juga disampaikan bahwa terkadang kita tidak adil dalam memandang orang yang kebetulan miskin. Kita seringkali memandang rendah mereka. Begitu juga dengan Tante Pressier dan Pipin yang selalu menganggap uang adalah segalanya.
Saya tidak tahu, apakah sikap Abah yang digambarkan kaku dan keras dalam memegang prinsip adalah hal yang baik? Prinsip Abah sendiri dalam hal menjaga kejujuran, tidak mau menerima pemberian secara cuma-cuma, dan menolong orang lain di segala kesempatan pada dasarnya adalah kebaikan. Hanya saja, saya menangkap kesan Emak dan Euis menganggap Abah terlalu kaku dan keras sehingga dalam beberapa kali kesempatan terlihat 'merugikan' mereka. Jujur saja, saya banyak merenungi tentang hal tersebut, harus seberapa keras dan kaku kah kita dalam menjalankan prinsip?
Selalu dan selalu suka sama cerita keluarga Cemara ini...
Namun yang aku sedihkan dan sayangkan... kenapa Keluarga Cemara ini cenderung mengalami kesialan... ingin banget melihat mereka semua berjaya lagi... dan tidak ketiban sial terus.
Kapan bisa melihat mereka sekeluarga jaya dan tidak kekurangan lagi....
Kasihan Euis yang harus jualan opak terus dan berkorban demi adik2 nya...
Kasihan Ara yang selalu dapet warisan baju dan sepatu Euis yang selalu kebesaran.
Kasihan Agil yang kepengen banget merasakan pergi piknik ke tempat mewah dan kepengen merasakan punya kamar sendiri..
Kenapa Abah sering keras kepala yang membuat harapan dan impian anak2 pupus..
Tapi aku tetap suka sama mereka semua... terutama Ara yang selalu berpikiran positif dan percaya diri :)
Aslinya cerita-cerita di Keluarga Cemara ini udah pernah Ambu baca, kalau enggak salah di majalah Hai. Terus di-film seri-kan.
Jadi, ketika suatu saat dateng paket ultah dari beliau berasa kembali ke masalalu. Baca satu ceritanya, baru beberapa kalimat, lalu 'Oh iyaaa, ini yang ceritanya begini' baca lagi cerita berikutnya 'ini yang ceritanya begituuuu'. Jadi, sebenernya enggak habis semua dibaca, lebih banyak ke nostalgia XDD
Sebenernya ceritanya sederhana. Bahagia itu bukan dari harta. Berulangkali ditampilkan, gagal dapet ini, gagal dapet itu. Tapi semua saling memiliki...
Lagi2 saya dibuat terkesan dengan keluarga cemara yang memberikan nilai-nilai pesan moral penting dalam hidup keluarga. Kejujuran penting dan tak ternilai harganya. Kemiskinan tidak bisa melunturkan arti nilai kejujuran. saya sangat salut meski mereka hidup dalam kekurangan tetapi masih bisa tetap tertawa, hangat, rukun dan bekerja keras untuk mencapai mimpi-mimpinya
Buku yang patut dibaca untuk generasi anak-anak sekarang dan mengambil pesan moral didalamnya. sayangnya film ini tidak diputarkan lagi ya di layar TV.. malah marak film-film yang tidak bermutu dan kurang mendidik.. saya berikan 3,4 daei 5 bintang untuk buku ini!
Baca buku ini serasa nostalgia waktu cerita buku ini ditayangin di tv. Abah yang jujur, Emak yang penyayang, Euis yang pengertian, Ara yang penuh semangat, juga Agil yang polos dan berani.
Ceritanya sederhana, tapi tulisannya jauh dari sederhana. Betapa timpangnya hidup antara si kaya dan di miskin. Mengajarkan betapa perlunya bersyukur dan menghargai apa yang kita punya. Juga menunjukkan betapa kejujuran jadi sesuatu yang langka.
Nostalgia yang malah bikin kangen nonton serial ini. :')
Saya membaca translated versionnya, dari segi bahasa tidak ada masalah, mudah dipahami karena begitu sederhana. Keluarga Cemara menyajikan dunia dalam pandangan anak-anak yang polos, ceria, dan berpegang teguh pada prinsip yang ditanamkan keluarganya : kejujuran. Ceritanya menyentuh dan menginspirasi, dari Keluarga Cemara kita belajar, bahwa apapun yang terjadi, kejujuran bukanlah suatu pilihan, ia adalah kewajiban.
Bahagia itu sederhana Berkumpul dengan keluarga, itu bahagia Hidup dengan kejujuran, membuat kita bahagia Hidup dengan apa yang kita miliki, membuat kita bahagia Dan hidup tanpa bersandiwara, membuat kita lebih bahagia.