Nomor 1 mendatar: teka-teki; misterius; tidak jelas (tentang ucapan). Lima huruf. E-N-I-G-M-A
Sebagai murid baru pindahan di SMA Baswara, sosok Pasha langsung jadi bahan omongan.
Pertama, dia mengaku sudah membaca data pribadi semua anak di kelasnya. Jangan-jangan dia psikopat!
Kedua, kaca jendela kantin remuk dihajar bola bisbol bertuliskan nama Pasha. Apakah dia pelakunya? Atau dia mata-mata? Pasha kan mantan pemain bisbol di SMA Adigana, rival berat sekolah mereka.
Sella sebagai teman semeja Pasha dan kebetulan berada di TKP, mau tidak mau jadi terlibat. Penyelidikan demi penyelidikan Sella tidak hanya menguak fakta-fakta yang mencengangkan, namun juga menciptakan pertemanan unik dengan cowok misterius itu.
Sayangnya ada yang tidak Sella sadari… Jejak-jejak Pasha yang dia ikuti ternyata membawanya pada jebakan yang sama sekali tidak terduga.
Penulisnya cerdas! Itu yang pertama terlintas dalam pikiran saya saat membacanya. Kepingan demi kepingan teka-teki mengenai Pasha disampaikan dengan intens tapi mengalir. Akaigita berhasil menyuguhkan kisah yang bergulir dari kekuatan karakter tokoh sekaligus cerita. Tiap bab sejak awal tidak ada percuma. Saling terkait dan penting. Serasa membaca novel remaja detektif karya terjemahan. Saya dibikin langsung jatuh hati. Benar-benar penasaran dari bab ke bab. Tidak mau ketinggalan satu kalimat pun karena seringkali merupakan 'petunjuk' yang penting.
Bahasa penuturan penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Sella. Saya diajak ikut memikirkan pemecahan teka-teka Pasha yang unik, sekaligus Sella sendiri yang punya masa lalu misterius. Penyampaiannya witty sekaligus hangat, dan pintar. Tata bahasa penulis baku di narasi, tapi dialognya sesuai bahasa lisan layaknya remaja. Saya mendapat kesan seperti sedang membaca novel 'Looking for Alibrandi'. Setiap membuka bab baru, saya selalu berdecak kagum pada penulis karena kosakata yang dipilihnya. Kaya. Pemilihan kalimat humor satirenya pun terasa memukau karena tata bahasanya. Penulis tampaknya pembaca yang baik.
Kalau menilik kover novel yang memperlihatkan peralatan olahraga bisbol dan kotak-kotak TTS, saya merasa dijanjikan akan mendapat bacaan yang kental unsur olahraganya sekaligus elemen teka-tekinya. Dan benar, kovernya enggak menipu. Sesuai dengan isinya. Blurb novel ini juga menarik, mengarahkan sesuatu yang misterius. Seperti yang saya bilang sebelumnya, penulis cerdas merancang rangkaian puzzle. Sulit sekali loh bikin kasus teka-teki dan membuat penyelesaian yang logis juga masuk akal. Akaigita berhasil melakukan itu.
Setting Enigma Pasha tidak terlalu detail dideskripsikan penulis. Tapi pas untuk membuat gambaran dalam kepala. Kemudian, hal menariknya lagi, penulis memasukan unsur sejarah dalam latar tempatnya. Bukan, bukan pembaca dibuat terlempar ke masa silam. Tapi penulis memilih nama-nama pahlawan untuk nama kelas sekolah tokohnya. Secara halus juga memberi sempalan pengetahuan tentang tokoh sejarahnya.
Sepertiga awal dan seperempat akhir Enigma Pasha adalah bagian terbaik novel ini. Konflik melambat di tengah-tengah. Namun, pembaca diajak menyelami pernak-pernik masa remaja yang pelangi. Persahabatan yang kental beserta seluruh karakternya yang memiliki ciri khas. Tokoh favorit saya Pasha, Sella, dan ibunya Sella. Tapi konflik tetap dimunculkan dari berbagai arah. Terutama dari bisbol dan penyakit yang dimiliki Pasha. Penulis mengangkat penyakit yang tidak biasa, hemofilia. Saya jadi mendapat pengetahuan baru mengenai penyakit ini. Menariknya, meski Pasha digambarkan suram, tapi dramatisasinya tidak berlebihan. Secara keseluruhan novel ini temponya memang tak memberi banyak ruang pembaca untuk meratap. Ini menjadi pisau bermata dua, di satu sisi tak ada bagian yang membuat saya teriris hingga ingin menangis. Di sisi lain saya bisa berempati tanpa mesti mengasihani. Butuh kecermatan mengarahkan hal ini.
Kisah cinta Sella dan Pasha manis tanpa memberi kesan menye-menye. Saya suka saya suka. 💞
Kalau ada hal mengganjal adalah banyaknya istilah bisbol yang hanya diberi keterangan seadanya oleh penulis. Bagi yang awam seperti saya, mesti googling agar paham. Tapi percayalah, kalau dinikmati saja ceritanya, permasalah itu tak mengganggu.
Penyelesaian konfliknya asyik. Karena para tokoh remaja ini menyelesaikannya tanpa campur tangan kebijakan orang dewasa. Ini penting, bahwa mereka bertumbuh dan dapat dipercaya mencari dan memutuskan solusi terbaik sendiri.
4 dari 5 🌟 Menurut saya, Enigma Pasha adalah YA lokal terbaik yang saya baca tahun ini.
Gara-gara baca The Arson Project kemarin, gue jadi terpanggil buat baca ulang Enigma Pasha setelah kembali diingatkan akan semacam unfinished business yg gue miliki dgn cerita ini (bisa dilihat dari banyaknya poin pertanyaan yg gue ajukan di review tahun 2018 lalu). Setelah dibaca ulang, ternyata guenya aja yg 3 tahun lalu kurang konsen dan ketika itu belum terbiasa dgn style Akaigita yg serba tersirat.
Tapi sejujurnya, bukan sesi baca ulang ini yang akhirnya ngasih titik terang dan menyelesaikan unfinished business gue dgn Enigma Pasha, tapi K (click to go straight to her GWP page), yakni spin-off yang mengambil timeline yg sama dgn Enigma Pasha melalui sudut pandang Bing. And I kid you not, I really fell hard for these Baswara lads. Di K, semua lubang yg kita temui di Enigma Pasha berhasil ditambal lewat Bing, dan dgn cara yang, nggak gue sangka, sangat melankolis. Di antara semua pertanyaan gue yg berhasil terjawab, yang paling spesial bagi gue dari membaca K adalah chemistry persahabatan yg terjalin antara Pasha dgn tim bisbol Baswara, sesuatu yg nggak gue dapetin kalau hanya dari POV-nya Selene. Hingga akhirnya K tamat, gue mellow mampus.
Sekarang gue jadi bertanya-tanya apa yang membawa Pasha ke titik yg sekarang (di The Arson Project).
Gue akan sangat menunggu-nunggu spin-off selanjutnya dari universe Akaigita yg ini. Dari POV-nya Sebastian, mungkin? Huehe
———————————————
11/18
Hamdalah, nemu lagi YA yg beneran gue suka (terakhir kali itu Orbit Tiga Mimpi-nya Miranda Malonka, satu setengah tahun yg lalu; hope this says a lot). Bagi gue, yg bikin buku ini bagus itu karakterisasi naratornya yang unik dan kuat; melalui isi kepala dan cara berpikirnya Sella/Selene, premis yg standard bisa jadi misterius dgn plot yg nagih.
Tapi sebagai pembaca yg bacot dan banyak mau, tentu ada beberapa detail yang gue harap bisa diurai lebih dalam, seperti:
Jadi yaa gitu deh. Kalo gue udah serewel ini biasanya bakal gue buletin ke bawah, tapi ya itu tadi, gue sesuka itu sama voice-nya Sella; so four stars for ma girl Selene!
Anyway, sebenernya pertanyaan-pertanyaan di atas itu bukannya nggak terjawab, melainkan lebih ke ngawang-ngawang aja dan bisa disimpulin sendiri asal kitanya punya otak. Gue cuma iseng aja nge-list itu semua sebagai sesama penyuka teka-teki kayak Sella. Tapi kalau memang outcome seperti inilah yg dimaksudkan oleh penulis sejak awal, berarti beliau telah berhasil dalam membangun karakter Pasha yang elusif (justru setelah gue pikir-pikir lagi (dari tadi ga mikir), bakal agak aneh juga kalau si Pasha ngomong panjang-lebar ngejelasin ini-itu).
Overall, bagi gue, sampai halaman terakhir pun Pasha masih merupakan enigma.
Enigma Pasha benar-benar bercerita tentang Pasha dan segala misteri di baliknya. Tersebutlah seorang siswa pindahan bernama Paris-Shapalah-itu yang menjadi teman sebangku Sella---gadis ketje yang suka main TTS dan punya Ibu protektif-dan-agak-anti-lelaki. Pecahnya kaca jendela dengan bola bernama Pasha membuat Sella tertarik memecahkan kasus siapakah-pemecah-kaca-dan-bagaimana-bisa-yang-mirip-sama-komik-Conan. Kasus itu pun membuat Sella dekat dan berteman agak-akrab dengan rekan sebangkunya itu. Pasha memang menyimpan banyak misteri. Base ball, darah sukar membeku, orangtua yang meninggal, toko keramik, guru keramik, sampai Pulau Berhala. Kusuka membacanya, mengalir. Lebih lagi, setiap adegan selalu berguna. Seperti hal receh macam teriakan memalukannya Imoto sampai toko keramik yang membuat mok, itu semua ada benang merahnya. Selamat untuk Kak Gitgit ditunggu novel selanjutnya!
Novel ini berkisah tentang pertandingan bisbol, khususnya antar 2 sekolah Baswara dan Dharma Bhakti, yg mana diikuti dengan kisah2 dari anak2 Baswara dan bumbu2 biar ceritanya ga flat.
Dengan menggunakan sudut pandang pertama dari tokoh sella yg mana merupakan salah satu tokoh utama di cerita ini, membuat pembaca ngeliat banyak sub plot. Dari konflik sm ibunya, mimpinya di pantai yg serem, sama anak2 tertentu di sekolahnya, dan juga Pasha.
Cerita ini tuh gabungan cozy mystery, heartwarming sama teenage romance. Jadi dibacanya bikin penasaran+senyum+terharu dikit juga.
Fun to read. Love Sella-Pasha dynamic. Tpi di beberapa bagian aku nherasa buku ini tuh kayaaaaaak, apa ya, vibes-nya tuh aneh aja. Nggak bisa jelasin krena kemampuanku buat nyari istilah2 lagi buntu krena kesibukan ini. Wkwkw
Intinya, aku suka sih. Buku yg bisa dibaca waktu senggang. Walaupun aku akuin kalau masalah Pasha ini masih gantung. Masih bnyak misteri juga. Yaaah masalah kluarganya contohnya. Tpi y ini crta Sella sih, bukan Pasha. Wkwkwk. Lanjut Paradoks Bingar kayaknya.
. Buku segini mustinya gak sampe sehari juga kelar. Tapi abis minjam hari Rabu malam, seharian Kamis kemarin sibuk banget dan baru kepegang malam lagi sebentar sebelum ditinggal tidur 😴 dan baru selesai Jumat sore.
Satu lagi sih yang bikin buku ini santai aja dibaca, nggak perlu buru-buru, karena bab-bab awal yang berlokasi di sekolah bikin saya berdecak-decak. Lagi-lagi novel lokal yang bikin sekolahan macam ada di dunia khayal. Guru cuma numpang nama, anak-anak yang santai sesuka hati, dll.
Tapi saya sudah bertekad menyelesaikan buku kedua yang saya mulai baca tahun 2020 ini . Jadi saya ikuti aja perjalanan Sella sang tokoh utama bersama teman-temannya pelan-pelan. Ternyata makin ke belakang makin bisa dinikmati, bahkan bikin cekikikan sendiri. Iya, nggak bisaa cekikikan rame-rame karena nggak ada yang baca buku ini bareng saya.
Apa yang bikin saya suka? Terutama narasi Sella tentang apa yang ada di hadapan matanya dan dalam hatinya. Pilihan kata dan humornya pas. Gak cuma cocok buat adek-adek SMA, tapi juga buat mbak-mbak kayak saya. Kayaknyan mbak pengarang buku ini satu level humor dan kami bisa menertawakan kelucuan yang sama (*ngajak tos *sok kenal).
Satu hal saya belum paham, dan sejak awal hingga kini masih memikirkannya sebagai typo, yaitu paragraf pertama pada blurp. Begini:
"Lima huruf, mendatar: teka-teki; misterius; tidak jelas (tentang ucapan). Lima huruf. E-N-I-G-M-A"
Buku ini sangat kaya kosakata. Bahkan, dari judulnya saja saya udah dapat pengetahuan baru, karena sebelumnya saya nggak tahu apa itu 'enigma'.
Sejak awal, penulis sudah menyuguhkan misteri mengenai tokoh bernama Pasha ini. Dan yang paling saya suka, karakter Pasha dan Sella sama-sama unik banget. Nggak cuma tingkahnya, tapi juga dialog dan latar belakangnya. Dari dialog-dialog mereka maupun pikiran Sella (karena novel ini diceritakan dari sudut pandangnya), saya menemukan banyak sekali kelucuan, kehangatan, dan humor satire yang belum pernah saya temukan di novel lain. Yah, segerrr banget lah ini novel.
Sebenarnya, cerita dalam novel ini cukup suram dan depresif. Namun, penulis kayaknya sengaja nggak mau bikin pembacanya terlalu lama ikut depresi, karena baru sedih sebentar, sudah ada lagi hal-hal lain yang menggugah.
Sayangnya, nggak ada catatan kaki untuk istilah-istilah bisbol dan nama-nama tokoh film yang dipinjam sebagai perumpamaan.
Saya menyelesaikan membaca novel ini dengan KZL. KZL karena bikin saya nggak pede mau mengunggah cerita yang receh banget di wattpad. Apalagi kemarin juga habis baca Represi yang juga cetar! 😔😔😔
Buku pertama Akaigita yang aku baca, dan tadaaa aku sukaaaa!
Setiap tokoh punya karakter yang unik dan bikin aku bisa "ngelihat" mereka, terutama Pasha, anak SMA biasa dengan isi kepala super eksentrik. Hampir-hampir aku berharap buku ini ada lanjutannya (apakah ada lanjutannya?) karena aku penasaran berat pada hubungan Pasha dengan keluarga Saman serta kehidupannya dengan sang guru.
Sayang, untuk buku dengan cover bisbol, aku ngerasa pembahasan soal bisbol dan istilah-istilahnya kurang diulas, bikin aku sebagai orang awam kesulitan membayangkan bagian latihan atau pertandingan.
Intinya aku suka banget Enigma Pasha, sampai jumpa di buku Kak Gita yang lain~
Beberapa karakter dan sesuatu dalam diri mereka yang paling berkesan--setidaknya berhasil kuingat:
Sella dengan bola kastinya Pasha dengan mok buatannya Emi dengan tubuh montoknya Imoto dengan boneka beruangnya Priska dengan kehumorisannya Dikra dengan Irfan-nya (ew, wkwk)
Kirain aku gak bakal bisa kelarin buku ini di iPusnas. Soalnya waktu pertama minjam, bukunya ditarik saat aku masih di halaman 170an 😭 Alhamdulillah setelah seminggu bolak-balik refresh notif, hari ini jam 1 pagi aku berhasil minjam Enigma Pasha lagi. Hahahaha girang banget sumpah.
Jujur, bab-bab awal sampai hampir pertengahan rasanya membosankan :( itulah alasan kenapa jangka waktu minjam buku 5 hari di iPusnas gak cukup buatku karena baru baca bentar aku udah kehilangan motivasi. Tapi untungnya setelah sampai pertengahan, ceritanya mulai seru dan nagih.
Hal yang aku kurang suka lumayan banyak, tapi cuma 2 yg paling menonjol. Pertama style dialognya. Kenapa gak langsung aja pakai style dialog anak Sumatra ya? Kayak si Chester sama Martin gitu. Lumayan berasa bocil sumatranya wkwkwk.
Lalu yang kedua Pasha. Hahaha. Noo i don't hate him! It's just, di momen-momen tertentu, terutama saat menghina orang lain (atau memotivasi orang lain?), anak ini sering menggunakan kalimat-kalimat misoginis. Ya kita tau dia gak mengimani value misoginis, tapi rasanya tetep disayangkan aja dia bicara seperti itu. Hikz.
Overall, aku suka buku ini. Aku merasa membacanya kayak baca manga tanpa gambar🤣 Biasanya aku ketemu karakter pelajar yang bisa mikir dan nyari solusi sendiri tanpa bantuan guru (bahkan gurunya kayak gak pernah ada) itu cuma di manga atau anime. Kayaknya emang cerita ini terpengaruh sama fiksi Jepang sih. Pasha aja dipanggil Shishou. Belum lagi Imoto yang kalau ngomong suka pakai honorific Jepang🤣
Sekarang aku mau nyari-nyari preloved Paradoks Bingar nih biar bisa baca cerita lanjutan Pasha dkk. Kalau gak ketemu, mungkin harus rela beli buku barunya aja. Wkwkwk.
“Cara terbaik untuk melenyapkan musuh adalah dengan menjadikan mereka temanmu.”
“Kehendakmu adalah milikmu sendiri. Tidak ada yang boleh menguasainya selain dirimu sendiri.”
“Jika kita berpikir semua orang hanya ingin memanfaatkan kita, itu artinya kita meremehkan orang lain. Kita seperti katak dalam tempurung yang tidak bisa melihat bahwa banyak orang memiliki keistimewaan yang tidak kita miliki. Padahal tanpa disadari, kita juga butuh orang lain untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan sendiri.”
Kedua kalinya baca karya Akaigita, dan sukaaaaak..😍 Selesai dalam sekali baca. Ceritanya ringan, seru. Teka-teki dalam tiap bab-nya bikin penasaran. Aku suka dengan karakter para tokohnya. Terutama sama tokoh utama lakinya. Keren sih.
Cuma di ending-nya yang bikin sebel. Aku kurang puas, masih banyak yang belum dijelasin. Kayak buru-buru dituntaskan. Kurang panjang.. 😭 But, overall oke lah... 4.5/5 🌟 untuk novel ini
Secara keseluruhan, membaca novel ini ibarat makan gado-gado yang bikin nagih. Konflik yang ringan tapi nggak pasaran, dibumbui sentuhan teka teki, misteri, olahraga bisbol, serta tidak ketinggalan romance dan segala jenis permasalahan ala remaja.
Walau nggak paham soal bisbol, jujur, aku lumayan menikmati konflik rivalitas dan adegan pertandingan di buku ini. Terutama waktu adegan mereka main di pantai, bener-bener bisa bayangin betapa hebohnya. Belum lagi, Pasha yang sempet-sempetnya bikin ngakak karena seenak jidat ngasih syarat nggak masuk akal.
Gaya bahasanya asyik dan benar-benar page turning. Aku suka sudut pandang Sella sebagai narator, receh-receh sarkas tapi di saat bersamaan juga terasa kritis. Untuk ukuran novel young adult, ada beberapa kata yang mungkin sedikit nggak umum, tapi tetap nggak mengganggu cara penyampaian ceritanya, kok.
Di antara seluruh aspek, yang paling kusukai dari buku ini adalah karakter dan penokohannya. Jujur, aku sempat skeptis karena penulis hanya memberikan deskripsi minim untuk tiap tokohnya. Tapi, terlepas dari deskripsi yang ‘agak pelit’, tokoh-tokoh di buku tetap terasa hidup dan punya ciri khas masing-masing. Terutama pembangunan para karakter figuran seperti Martin cs yang rupanya lumayan berpengaruh banyak untuk cerita.
Anehnya, aku justru nggak begitu kepincut dengan Pasha. Cowok yang satu ini bener-bener sulit ditebak, jadi andaikan ketemu di dunia nyata pun mungkin aku lebih milih mundur alon-alon. Sebagai gantinya, tokoh favoritku di sini jatuh pada Dikra a.k.a si anggota rendahan OSIS yang bossy luar biasa. Entah kenapa selalu nyengir sendiri tiap kali Dikra masuk ke mode tiran. Heran juga kenapa bukan dia aja yang jadi ketos.
Yang disayangkan dari Enigma Pasha menurutku adalah jalinan plot-nya yang masih terasa ‘kurang’. Ada beberapa bagian dalam buku ini yang sepertinya bakal lebih bagus kalau bisa diperdalam atau dipermak sedikit. Misal, misteri latar belakang Sella dan Pasha yang setelah terungkap ternyata cuma ‘begitu aja’. Setting latar yang nggak digambarkan begitu detail. Masalah study tour yang anehnya bisa diselesaikan dengan mudah tanpa melibatkan peran guru atau pihak sekolah.
Aku bahkan juga sempat loading sebentar saat membaca bagian Sella dan Pasha yang tiba-tiba saja sudah saling menumbuhkan bibit cinta. Interkasi mereka lucu dan bikin gemas sih (poin plus untuk penulis karena berhasil menciptakan romance berkelas yang tidak cheesy). Tapi, rasanya pembangunan hubungan mereka agak kelewat buru-buru, atau aku yang kecepatan membaca?
Ending-nya menurutku juga bikin greget, rasanya pengen teriak, “Pleaseee, tambah halaman lagi. Aku belum puas dengan semua ini!”
Oke, tapi secara keseluruhan, aku puas dengan konflik yang berhasil terselesaikan walaupun masih agak menggantung (?)
3.5 untuk Enigma Pasha. Terima kasih untuk Kak Akaigita yang sudah menambah pengalamanku membaca novel YA berkualitas :)
Kamu orang yang super kepo? Nggak bisa tidur nyenyak sebelum tau siapa juara Indonesian Idol? Suka gatel kalo lihat ada TTS kosong di koran?
Kalau gitu kamu perlu berkenalan dengan Sella. Cewek yang sebenarnya ogah ikut campur urusan orang tapi sekalinya penasaran nggak bakal dia lepasin sampe ketemu jawabannya.
Iya, misteri yang hadir dalam bentuk murid pindahan bernama Pasha. Yang mengaku sudah membaca "data pribadi kalian semua" itu dan entah kenapa berurusan dengan gerombolan cowok bengal.
Kehadiran Pasha bagaikan TTS yang masih anget karena baru tercetak dan memanggil-manggil Sella untuk segera diisi. Perlahan tapi pasti, Sella pun mendekati TTS berjalan ini dan menemukan fakta-fakta mencengangkan yang tak pernah dia antisipasi.
Dua kata: seru banget.
Sungguhan deh.
Awalnya aku nggak kebiasa dengan narasi dari sudut pandang Sella yang diceritakan dengan baku. Nggak tau deh, aneh gitu bagiku. Tapi karena terlanjur baca dan penasaran, aku pun menabahkan hati untuk menyelesaikan buku ini dan aku senang aku melakukan itu. Karena buku ini tuh seru banget.
Aku juga jadi menemukan sisi lucuk nya si Sella dibalik narasi bakunya itu. Serta ilmu baru tentang bisbol. Olahraga yang menurutku kurang terekspos. Buku ini jadi a breath of fresh air gitu diantara maraknya basket dan futsal sebagai olahraga populer dalam fiksi. Tapi aku harus mengakui kalau olahraga tuh emang not my thing sehingga aku tetep gabisa ngebayangin dengan maksimal adegan-adegannya hiks.
Aku suka persahabatan yang disorot dalam novel ini sampai menemukan kalau para karakter ini semua lovable syekalihh. Iya, yang kubilang semua itu termasuk si bos Dikra dan anak buahnya yang canggih itu.
Salut deh sama kak @akaigita yang bisa mengemas cerita ini dengan cerdas dan menarik berikut dengan plot twist nya yang mentjengangkan hehe.
Novel yang ringan! Baca beberapa jam doang. Premisnya unik, kovernya kece, dan suka sama gaya bahasanya, pas baca langsung disuguhi sama Pasha yang penuh keanehan dan misterius haha aku sukaa. Suka teka-teki. Pov Sella juga asik buat diikutin. Konfliknya lumayan seru, tapi entah knp aku merasa ada yg kurang. Padahal aku yakin penulis ini cerdas dan sudah memikirkan semuanya matang-matang, tersusun rapi kayak rumus matematika di buku paket wkwk.
Yhaa gitu deh pokoknya ngerasa kurang ngefeel aja gitu apalagi romancenya pasha sama sella kayak tiba tiba ada gitu kayak whattt dari mana pula benih itu muncul? Trus masalah jalan2 study tour itu sepertinya sy pikir agak mustahil tp gapapa namany jg novel heu. Suka sama karakter kayak Pasha gini meskipun lagi-lagiii nggak nendang! Rasanya pengen: ayodonggg kakak penulis keluariiiin semuaa satu..dua..tig...tp gagal.
Twistnya bagus, aku udh bisa tau mengarah kmn si guru keramik tp ngga nyangka kalau ternyata sebenernya gitu, kirain cuma kebetulan aja gitukan biar dramatis hahaha
Meskipun ngga ngerti bisbol, tapi permainannya di novel ini cukup jelas bagi awam sepertiku hawlwjshw. Aku kurang suka (sejujurnya geli) sama endingnya yang tentang ortu sella itu hehe.
Tp buat ending yg utamanya, aku puas, yeayyy! Cerita yang sederhana (padahal banyak teka tekinya tp aku merasa cukup simpel kok wkwkwk) dan cukup menghibur. Mksh ;)
3.4 bintang. Rasanya kayak gabungan sport manga, novel cozy mystery, dan teenlit jadul. Kok bisa? Bisa ya, bisa aja. Hehe.
Percakapannya baku, latarnya di Riau, ada teka-teki a la Conan juga plot twist (dan tebakan saya benar hehe), cowok tsundere (warning: Pasha is unlikeable), persahabatan cowok-cewek yang asyik, dan rivalitas.
Oh, dan bisbol.
Saya nggak suka Pasha, dia terlalu antipati (?) pokoknya kalau ada orang kayak gitu mending saya jauhi. Untungnya Selene bukan saya, haha. Jadi rasanya terutama di awal-awal saya justru nggak mau peduli sama Pasha, nggak kayak Selene. Saya tertarik dengan Heart Of Darkness di sini karena katanya itu novel impresionisme. Sepertinya penulis juga menerapkan teknik itu di beberapa bagian novel ini (?). Saya juga jadi penasaran sama Pulau Berhala. Sayangnya nggak ada pengawasan orangtua waktu study tour ke sana, padahal masih pada SMA (yang udah kuliah aja pasti ada dosen yang mendampingi). Ada kata 'kata F' yang kayaknya lebih enak dibilang F-word sekalian, soalnya kata makian di bahasa Indonesia biasanya depannya A, B, T, atau K haha. Dan satu lagi, esper artinya apa ya? Saya cari-cari nggak ketemu. Apa itu kata gaul? Haha maaf kudet.
Segitu dulu aja, nanti saya perbarui lagi ulasannya. Oh ya, apa nama Chester itu tribut? Kayaknya sih, iya 😁
Aku punya hubungan love-hate sama buku ini. Pasalnya, buku dibuka dengan gaya yang nggak biasa, menurutku rada absurd gitu. Susah bagiku beradaptasi sama gaya bahasa Gita. Lebih lagi, pilihan kata Gita ini banyak yang nggak umum.
Untungnya, Sella ini tokoh utama yang menarik. Dia punya humor yang receh dan sarkasme, aku suka karakternya. Dan untungnya lagi, misteri di buku ini berhasil bikin aku penasaran. Sosok Pasha ini emang bikin penasaran, pas banget sama judulnya.
Sayangnya, menurutku pribadi gaya bahasanya terlalu tinggi untuk buku YA. Terus latar sekolah dan lokasinya nggak bisa aku bayangkan. Apakah emang ada sekolah kayak sekolah Sella ya di Indonesia? Pada akhirnya, di pertengahan cerita, aku putuskan untuk nggak terlalu ambil pusing soal latar ini dan terus baca aja.
Keputusan tepat karena aku bisa menikmati kisah ini. Teka-teki soal Pasha ini sukses bikin penasaran. Sayangnya, aku nggak bisa mengerti apa yang ada di pikiran Pasha. Buku ini pun ditulis dari sudut Sella, jadi ya Pasha benar jadi sosok misterius.
Aku menikmati kisah di buku ini. Meski bagian dari Pasha masih punya misteri, teka-teki yang mengelilinginya sudah nggak sepekat di awal buku.
Btw, aku masih bingung. Enigma kan 6 huruf ya, kenapa ditulis 5 ya?
Actual rating: 4.5⭐ Kubulatkan ke atas karena AKU SESUKA ITU! BACANYA BIKIN AKU TERHIBUR.
Wah, dari mana harus mulai? Jujur, awalnya susah buat masuk ke novel ini. Harus adaptasi. Aku malah mau nyerah tadinya di 20 halaman pertama wkwkwk untung aja aku tabah, dan lewat dari halaman 60 akhirnya aku bisa benar-benar menikmati bacanya.
Sesuai judul, Pasha ini enigma banget. Bahasa dalam novel ini agak ketinggian sih buat setting anak SMA, tapi ya itu tadi, setelah beradaptasi aku justru sangat menikmati. Penulisnya cerdas, itu jelas. Yang aku suka lagi banyak lelucon random (atau receh? Aku nggak paham juga sama selera humorku). Terus karakternya sarkas, si Sella itu.
Yang menahanku kasih full stars adalah bagian Sella ketemu you-know-who-if-you-read-this. Terlalu rush aja gitu. Aku nggak keberatan lho, baca novel yang lebih tebal soal mereka. Gemes juga sama Bing! Haha yang jelas halaman 151 bakal selalu kukenang. Aku ngakak sampai nangis di situ.
Ngga bisa berhenti baca. Gaya berceritanya asyik banget, jadi rasanya pengen terus-terusan buat baca.
Karena baca ini baru tengah malem, mau ngga mau aku harus tidur juga. Eh tadi pagi langsung dibaca lagi dan selesai. Seseru itu dan saringan itu juga.
Aku nangis waktu baca ini, di bagian pertemanan Sella-Pasha dan tentang apa yang dialami Sella di rumah. Hati aku memang lemah bgt kalo baca masalah pertemanan sama keluarga :'))
Isu yg diangkat mungkin tidak terlalu berat, tapi tetap mengena di hatiku. Dialog yg dibangun penulis itu sanggup menghidupkan suasana dan menyalurkan rasa.
Sayangnya, menuju akhir, aku merasa eksekusi endingnya kurang dalam. Karena ngga dijelasin juga secara rinci tentang permasalahannya. Terus setelah masa lalu yg terjadi, gimana caranya orang tua Sella bisa begitu di final pertandingan bisbol(?)
Pinjam buku ini di ipusnas pagi hari dan malamnya sudah selesai, saat ditempat kerjapun malah tetap baca ini saking penasaran. Seru! Bahasanya ngalir dan bikin gak bisa berhenti buat baca. Bukan hanya tentang teka-teka si Pasha yang buat makin penasaran, tapi perjuangan geng Martin di tim bisbol juga patut diacungi jempol. Bikin tambah pengetahuan juga soal bisbol, yang selama ini aku cuma tahu segelintir doang. Interaksi Sella-Pasha itu juga cute. Dan Pasha tuh apa yaaa, suka deh pokoknya, keliahatannya dia pesimis tapi kok disisi lain dia bisa membangkitkan semangat orang lain gitu kayak tim bisbol. Karakter Sella juga menarik, hobinya ngisi TTS itu loh.
Karakter lain yang juga menarik perhatian adalah Dikra. Karakternya kuat banget! Tukang atur tapi gemess dia tuh.
Intinya sukaa baca buku ini. Good job! Next aku bakal mengeksekusi Ephemera yang sudah ada di rak.
GILA AKU KEMANA AJA YAAAAAA kok aku bisa lupa kalo ada olahraga bisbol YANG SUPER KEREN walaupun aku ngga ngerti mainnya gimana, istilah istilah untuk pemainnya apalagi. tapi abis baca ini aku malah jadi pingin tau lebih banyak tentang bisbol. pas baca tentang bisbol di buku ini aku kayak orang lagi jatuh cinta. beneran deh, rasanya kayak deg degan. ini page turner banget!! OMG PASHA 💗_💗 SUPER COOL soalnya jago bisbol yang which is jarang banget aku temuin sampe sampe aku lupa cowok yang bisa main bisbol keren banget banget banget beneran aku SUKA PASHA SI BUJANG!! tapi aku juga suka sella heheehehhehe gemes banget mereka aku yang baper
gimana bisa cerita simpel soal rival klub olahraga antar sekolah jadi sebegini serunya?
serius. ini cerita sederhana pertemanan dan cinta monyet khas anak sma, tapi kece banget eksekusinya. walaupun aku agak mengganjal di bagian orangtua sella dan traumanya—menurutku dua ini perlu dieksplor lebih dalam, tapi kayaknya memang itu bukan fokus utamanya.
aku suka banget gaya kepenulisan akaigita; mirip novel terjemahan tapi enggak juga. unik. mengingatkanku sama karya fantasteennya ziggy z.
Duo Pasha & Sella (Selene) disini gemesin banget! As friends and also as a partner in crime(or more than that? who knows! :D).
Bagian pertandingan baseball nya seru walaupun gue ga ngerti apa-apa tentang baseball. Tapi bagian klimaks antara Sella dan masalah-masalahnya masih agak kurang. Kayak terlalu cepat di selesaikan sampai jatuhnya jadi agak gak masuk akal menurut gue.
Tapi overall it was a fun book to read! Bacanya bikin senyum-senyum sendiri:')
Seru bangett!! ini kupinjam iseng" dan ternyata jadi falling in love sama pasha. Pasha yang misterius sama Sella yang ingin tauu terus. Dibawainnya enak banget ceritanya dan ringan. Karakter pendukungnya juga ditulisnya dengan mendukung bangett alias pasti punya tempat di novelnya. Recommend thiss soo badd ayo baca!!
AAAAAAAA SAYANG BGT SAMA SELENEEEEEEE MAU BAWA PULAAAAANG SELENENYAAAA!!
Akhirnya, setelah baca Jakarta Sebelum Pagi, Enigma Pasha adalah novel yang punya vibe serupa—vibe yang bikin aku engga mau tidur sebelum kelar bacanya.
Bagus bangettttt buku ini! Aku suka! Ulasan lengkap pasti akan kubuat, karena aku ingin orang-orang baca buku bagus ini, dan aku ingin mereka tahu kenapa aku bisa suka 😍😍😍😍😍
Ah, suka banget sama gaya story telling-nya! Suka juga dengan Sella, we could be bestie tho wkwkwk. Nggak ngerti bisbol sebenernya tapi gkpapa krn tetep enak diikuti
"pada banyak kasus, justru orang dewasalah yang menyusahkan dan lebih sulit di tertibkan daripada anak-anak."
ceritanya, ada murid baru di sma baswara, namanya pasha. tuh anak baru masuk beberapa jam aja udah sella kaget sekaligus penasaran karena bilang kalau dia udah baca data pribadi seluruh teman kelasnya, kan kek... ANJIR, PSIKOPAT LO?? terus nggak berselang lama dari perkenalan membagongkan itu, jendela kantin tiba-tiba pecah di hantam bola bisbol bertuliskan nama pasha. sella makin penasaran lah sama tuh anak, masa dia sih pelakunya? kalo iya, masa ada sih pelaku yang terang-terangan nulis namanya?
karena sella ini suka banget sama teka-teki dan hobbynya main tts, dia bertekat memecahkan teka-teki tentang cowok aneh bin misterius itu.
novel ini pakai sudut pandang orang pertama (sella) yang di eksekusi dengan baik, sejak baca the arson project karya penulis yang sama gua udah nggak meragukan gaya berceritanya, karena udah pasti bagus dan ngalir. terus character development setiap tokohnya juga kuatt, jadi gampang buat inget satu persatu tokohnya karena iconic, misal imoto si cewe jejepangan atau dikra si cowo otoriter yang suka mendominasi. terus lucunya effortless, nggak keitung berapa kali gua ketawa gara-gara celetukan pasha sama sellaa. unsur persahabatan dan romance tipis-tipis di novel ini juga porsinya passs, nggak too much. terus unsur kekeluargaannya juga penuh dengan pesan moral dan cukup mengharukan. sebagai novel teenlit dari tahun 2018, gua bisa bilang novel ini nggak termakan jaman karena masih tetap bisa di nikmati di era sekarang.
kalau soal kekurangan, gua ngerasa agak boring di babak 2 (karena novel ini punya 3 babak) terus juga nggak paham konsep sekolah ini gimana, kok bisa di dikra a.k.a anggota osis udah kayak ketua komite? bisa main ganti tujuan study tour yang udah di atur mateng? ini agak aneh sih, mungkin karena beda aja sama konsep yang familiar selama ini. terus teka-teki tentang pasha ini juga nggak sepenuhnya terbongkar, gua masih penasaran sama background dia yang sempat di singgung secuil doang, well gua berharap ini di jelaskan di akhir tapi ternyata enggak.
itu aja sih hal yang menurut gua kurang, meski sebenernya ada satu lagi yang personal dan nggak bisa di bilang kekurangan juga, jujur gua nggak bisa membayangkan permainan bisbol tuh gimana, jadi waktu di deskripsiin setiap detail permainnya sampe banyak halaman gua cuma ngerasain euphoria seru dan menegangkan aja, tapi gambarannya gimana tuh ga terekam jelas di kepala gua, hahahha 😭 but so far menambah pengetahuan gua tentang bisbol sih, jadi nggak papaa.