Astrid Florita bukan Cinderella, dia hidup di Planet Kemiskinan. Usianya masih belia, tapi sudah harus menghidup diri sendiri dan adik semata wayangnya, Willa. Keadaan memaksa Astrid tumbuh menjadi gadis tangguh yang pantang menyerah. Hingga, cita-cita lama yang pernah dipaksanya untuk mati, mengantarkan Astrid pada dunia baru. Rancangannya yang berlabel Kenangan, membuka berjuta pintu kesempatan. Salah satunya adalah mengenal Jang Song Joo, pria asal Korea yang sering keliru memilih kata dalam Bahasa Indonesia. Song Joo mengurus lini busana bernama Dressy yang kelak mempekerjakan Astrid. Pertemuan pertama mereka berkesan buruk bagi Song Joo karena Astrid telat dua jam! Namun, di mata lelaki itu, kegeniusan ide dari Kenangan membuatnya tak punya pilihan kecuali merekrut gadis itu menjadi salah satu tim desain. Perjalanan ke Korea membuat hubungan keduanya berubah.
Indah Hanaco penyuka novel-novel historical romance. Tergila-gila pada segala hal yang berbau tahun 90-an. Juga sederet serial kriminal dan film-film romance. Mendadak mellow hanya karena gerimis. Kolektor majalah dan buku-buku resep yang jarang dimanfaatkan.
Fans sejati Michael Schumacher yang memilih berhenti menonton balapana Formula Satu begitu sang idola pensiun. Tidak bisa lepas dari kopi meski sangat tidak menyukai kopi.
Indah Hanaco pernah bekerja kantoran, tetapi benar-benar merasa menemukan "dunia" saat menjadi penulis. Cita-cita saat ini adalah pindah dan menetap di Yogyakarta, keliling Eropa serta menghabiskan sisa hidup untuk menulis.
Indah Hanaco telah menerbitkan 23 novel, beberapa buku anak dan parenting. Indah Hanaco juga menulis novel dengan pseudonym Aimee Karenina.
Melihat judul dan sampul yang menjual, membuat saya tertarik untuk membaca karya terbaru dari Indah Hanaco ini. Untuk kedua kalinya saya membaca karya Indah Hanco dengan unsur fashion di dalamnya. Setelah sebelumnya Man Candy memberikan kisah cinta yang dibalut fashion, kali ini lewat Cinderella Tanpa Sepatu Kaca juga memberikan hal yang sama dengan cita rasa yang berbeda. Tak hanya soal fashion, terdapat juga unsur lainnya, seperti hubungan keluarga, makanan, hingga cinta. Selain judul bukunya yang memikat, yaitu Cinderella Tanpa Sepatu Kaca, sampul bukunya pun sangat memikat mata. Gambar sosok gadis yang sedang duduk di bawah hot air balloon dengan latar awan berwarna ungu dan putih, melambangkan impian tokoh utamanya, Astrid. Aksen burung dan bunga pun menambah keindahan sampul bukunya. Selain itu posisi sampul yang horizontal memberikan kesan unik dan berbeda.
Cinderella Tanpa Sepatu Kaca memiliki tema cerita cinta yang bisa dibilang sudah umum. Di mana Astrid harus bekerja keras untuk bertahan hidup bersama adiknya, Willa, dipertemukan dengan Song Joo, pria Korea sekaligus bos Dressy. Pertemuan mereka yang awalnya bersifat profesional menjadi hubungan cinta yang rumit. Kisah cinta antara si kaya dan si miskin yang diangkat sebetulnya tidak terlalu spesial, tapi unsur fashion dan masalah berliku-liku yang dihadapi oleh Astrid sedikit memberikan perbedaan dalam ceritanya. Saya suka dengan berbagai istilah atau sebutan dalam dunia fashion yang dimasukkan. Satu hal lagi yang membuat ceritanya menarik adalah kisah perjuangan Astrid dan Willa yang harus bertahan hidup menghadapi kejamnya dunia. Tadinya saya berharap porsi untuk masalah Astrid dan Willa ini bisa lebih banyak.
Tokoh Astrid digambarkan sebagai sosok gadis yang kuat, mandiri, dan pekerja keras. Karakter Astrid ini terbentuk akibat dari pengalaman hidupnya yang sulit, terutama saat ibunya meninggal. Astrid harus menjadi kepala keluarga dan mencari nafkah untuk adiknya yang masih remaja. Lalu ada tokoh Song Joo, seorang pria berkebangsaan Korea Selatan, yang menjadi petinggi di label pakaian Dressy. Song Joo memiliki sifat yang santai, tenang, dan sedikit kaku, terutama kepada bawahannya. Song Joo juga sering sekali salah dalam memadupadankan kata ketika berbicara Bahasa Indonesia. Terakhir ada Willa yang merupakan adik Astrid. Willa digambarkan sebagai gadis remaja pada umumnya yang menyebalkan, sulit, dan pembangkang. Semua karakter yang coba dihidupkan oleh penulis tergolong cukup berhasil. Saya bisa merasakan perasaan dan kekhawatiran tokoh utamanya, terutama Astrid. Bagaimana dia seringkali galau dan cemas akan perasaannya. Entah itu memikirkan adiknya ataupun Song Joo.
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui tokoh Astrid dan Song Joo. Lewat kedua tokoh ini pembaca akan diajak untuk ikut merasakan kegalauan kedua tokoh utamanya. Takkan sulit bagi kita untuk memahami perasaan masing-masing tokohnya. Alur ceritanya berjalan cukup cepat dan tidak bertele-tele. Namun, saking cepatnya saya merasa jika chemistry antara Astrid dan Song Joo belum terjalin dengan kuat. Saya rasa perasaan Astrid dan Song Joo ini terlalu terburu-buru dan terkesan instan. Gaya bahasa yang digunakan terbilang ringan dan sederhana dengan beberapa istilah fashion, kuliner, dan bahas Korea. Istilah-istilah tersebut diterangkan dalam catatan kaki. Sedikit sekali salah ketik yang saya temukan dan tidak terlalu mengganggu proses membaca.
Indah Hanaco menyajikan sebuah konflik yang ringan dan tidak terlalu rumit dengan bumbu-bumbu yang menambah ketegangan. Konflik utamanya sendiri adalah bagaimana Astrid dan Song Joo yang menyembunyikan dan menyangkal perasaan mereka masing-masing. Dengan ditambah bumbu-bumbu konflik lainnya, seperti permasalahan Astrid dan Willa, serta pencurian desain yang dilakukan pesaing Dressy, Unisex. Semua konflik berbaur menjadi satu menciptakan cerita yang enak untuk diikuti dan disimak. Hanya saja sayangnya penyelesaian konfliknya cenderung terkesan terburu-buru. Padahal saya berharap jika Astrid dan Song Joo bisa lebih tenang dan secara perlahan-lahan dalam menyelesaikan konflik mereka. Namun, untuk ukuran novel romance, Cinderella Tanpa Sepatu Kaca sudah memberikan konflik yang menarik dan menghanyutkan.
Karya kedua dari Indah Hanaco yang saya baca kali ini terasa lebih menghanyutkan dan menggetarkan. Perjuangan Astrid untuk bertahan hodup memberikan inspirasi dan semangat bagi saya untuk terus bermimpi dan bekerja keras. Meskipun kisah cinta yang disajikan terkesan biasa, tapi latar belakang kehidupan tokoh utamanya patut diacungi jempol. Saya suka dengan gadis yang mandiri dan kuat, seperti tokoh Astrid. Di mana tak ada kata menyerah selama kita mau mencoba dan bekerja keras. Unsur-unsur fashion yang dijelaskan juga menambah ilmu baru bagi saya, terutama soal model dan bentuk pakaian. Secara keseluruhan Cinderella Tanpa Sepatu Kaca tidak hanya menceritakan kisah cinta biasa, tapi juga akan makna hidup, mimpi, dan bekerja keras. Bacaan yang menghanyutkan, menginspirasi, dan memotivasi.
Makin banyak bekerja keras, makin dekat pada keajaiban. Setuju ya. Setidaknya tidak ada kerja keras yg sia². Yang saya suka dibuku ini, Astrid yg selalu tidak patah semangat, Astrid yg selalu merapal mantra bahwa Hal² yg buruk pasti akan berlalu, Hal² baik pasti akan datang. Astrid yg selalu berdoa berusaha untuk hidup lebih baik buat dirinya dan adik satu-satunya, Willa. Willa yg selalu tau diri, g mau ngerepotin kakaknya. Di usia yg muda banget 10 tahunan tapi sudah mampu mencerna keadaan. Saya lebih fokus ke interaksi kakak beradik tidak seayah ini, timbang kisah cinta si kakak dgn atasannya. Anggaplah itu bonus ya karna kepiawaian si kakak mendisain dan attitude yg baik shg atasannya yg beda negara itu jatuh cinta. Happy ending juga jadi daya tarik novel, diakhir cerita saya bisa senyum² lega akhirnya mengesankan.
Sukaaaaa... Feel-nya dapet. Menggetarkan hatiku #eeaaa... Sedih, haru, bahagia, bahkan ikut deg-degan dengan keputusan-keputusan tokohnya. Konflik sederhana yang terinspirasi dari dongeng Cinderella tapi dikemas dengan "masa kini". Asik banget. Banyak istilah-istilah baru tentang fashion yang aku dapat disini. Penjelasan makanan korea-nya juga detail, bikin ngiler. Karakter tokohnya kuat dan konsisten. Chemistry dan interaksi tiap tokohnya juga ngena banget. Hanya saja pemakaian narasi yang terlalu banyak agak bikin aku bosen (mungkin timing aku baca ini kurang pas, padahal biasanya aku fine-fine aja)
Cinderella Tanpa Sepatu Kaca, novel mba Indah yang memiliki inspirasi tersendiri. Bahwa akan ada kesempatan kedua untuk mimpi yang belum terwujud jika Tuhan menghendaki. Seperti Astrid yang akhirnya dapat mewujudkan mimpi menjadi desainer. Dari karyanya Kenangan, Astrid dapat bekerja di salah satu lini masa Korea yang tengah naik daun di Indonesia. Kehidupan baru, yang mengantarkannya pada kisah cinta yang penuh kegalauan. Antara tetap bertahan atau melepaskan seperti mimpinya dulu.
Novel ini sangat menghibur, aku suka dengan kehadiran Willa adik Astrid yang tengah menuju pendewasaan. Memiliki pemikiran yang simple dan mulai menginginkan hidup mandiri.
Rekomen yang suka romance. 4* of 5* Review lengkap silahkan cek di Hotaru Books
"Mengapa jatuh cinta saja harus menuruti beragam aturan yang sulit untuk dimengerti? Apa yang salah jika mereka saling menitipkan hati? - hlm. 276
Pertama, aku suka sekali dengan covernya. Kalem bangett, perpaduan warna putih dan ungunya keliatan cantik sekali, bikin jatuh hati pada pandangan pertama jadinya.
Lalu, alur ceritanya buatku juga menarik, konfliknya ngga berat, bikin enjoy banget ngikutin kisah Astrid-Song Joo disini, apalagi banyak ilmu tentang mode & fashion yang menambah wawasanku. Suka kagum dengan penggambaran yang Kak Indah buat, detail sekali.
Aku juga suka dengan tokoh Astrid disini, sosok wanita mandiri, tangguh, tabah dan tentunya ngga pantang menyerah demi kehidupan dia dan adiknya satu-satunya, Willa.
"Kamu mengejutkanku! Tidak akan ada yang mengira kalau gadis semungil dirimu menghdapi kehidupan yang begitu keras. Aku menghormati karenanya, Astrid." - hlm. 174
Yang bikin aku sedikit miris itu, apa yang dialami Willa yaa. Ngga nyangka banget, pantesan dia jadi suka ngelawan kalo dibilangin Astrid, huhu Dia pasti bakalan jadi wanita kuat seperti kakaknya kelak.
Oh ya, aku pun suka dengan Song Joo yang masih sering salah kata kalo lagi bicara bahasa Indonesia 😁 Lucu sekaliii ya ampun.. gemessin jadinya, apalagi kalo langsung dia koreksi sendiri kata yang salah nya hehe
Intinya aku suka dengan novel Kak Indah yang satu ini, bahasa ringan dan mengalir tidak hanya membuatku terhibur tapi juga menginspirasi. Gasabar baca karya lainnya.
apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata Cinderella? Jadi ingat tentang dongeng Cinderella dengan sepatu kacanya? .
Mungkin seperti itulah kisah Astrid dalam novel ini. Dia layaknya Cinderella tanpa sepatu kaca yang akhirnya ditemukan oleh Dressy. Astrid yang selama ini harus berjuang hidup dan menjadi tulung punggung bagi Willa, adiknya. Akhirnya bisa bekerja sesuai passionnya di bidang fashion.
Tidak hanya mendapatkan sumber penghasilan, disana pula Astrid bertemu Song Joo. Disinilah konflik semakin diperumit. Tarik ulur keduanya, perbedaan budaya dan kegalauan perasaan masing-masing membuatku gemas sendiri.
Secara keseluruhan, Mba Indah Hanaco kembali menghadirkan sebuah kisah romansa dengan bumbu fashion yang mengalir dan menarik, aku jadi tahu banyak istilah dunia fashion disin
saya menemukan chemistry yang bagus saat membaca novel berjudul CINDERELLA TANPA SEPATU KACA ini, tokohnya Astrid sangat menarik karakternya kuat sekali, juga sosok Song Joo yang sangat lucu dalam dialognya - dialognya dalam bahasa Korea Indonesia, meskipun saya kurang suka dengan karakternya yang sangat perfeksionis.
saya merasa terhibur dengan novel ini, dan bahkan menemukan banyak hal yang dapat diresapi untuk kehidupan. termasuk perjuangan Astrid dalam menjalankan kehidupannya berdua bersama adiknya.
keajaiban itu pasti terjadi, itu yang saya bisa ambil dari novel ini, sesulit apapun keadaan tetaplah semangat.
gaya bahasa yang lincah membuat saya tergila gila dengan novel ini. terima kasih kak Indah hanaco.
Cinderella tanpa sepatu kaca adalah sebuah kisah tentang seorang gadis bernama Astrid yang terpaksa tidak melanjutkan kuliah ekonominya demi menghidupi diri dan adik satu satunya. Bagai ditimpa durian, dengan kedatangan Betty (tetangganya yg sering digosipkan karena sering pulang malam dan selalu berbaju bagus), kehidupan Astrid berubah menjadi lebih baik.
Saya menyukai setiap hal dalam cerita ini. Walaupun cerita ini bergenre romance tapi penulis berhasil menyisipkan ilmu-ilmu lain yang juga bermanfaat untuk pembaca seperti pengetahuan tentang korea, isu pelecehan terhadap anak di bawah umur dan ilmu tentang pakaian mode. Saya belajar banyak dari buku ini tentang mensyukuri apapun yang saya miliku dan tetap bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik lagi.
Apakah aku egois kalau bilang cerita terlalu pendek dan aku menginginkan lebih? Aku sudah benar-benar jatuh hati dengan cerita Song Joo dan Astrid. Rasanya sangat sulit untuk berpisah dan berharap ceritanya tidak pernah berakhir.
Jadi, gue menyayangkan akan ga perlunya prolog di novel ini. Ya soalnya ditulis ulang lagi di bab inti dengan kata2 yang sama persis :(. Btw covernya bagus, aku sukaa. Entah kenapa agak kecewa sih sama romance-nya. Yaa tapi judulnya juga ada 'Cinderella'-nya, pasti bakalan 'ngedongeng' juga 😂.
Buku ini berkisah tentang Astrid, gadis muda yang harus bekerja keras demi kehidupan yang sederhana. Terpaksa putus kuliah ia bekerja di supermarket namun itu masih kurang. Astrid harus mencari pekerjaan yang lebih baik agar bisa menyekolahkan Willa, adiknya. . "Aku tahu, setelah ini akan ada hal baik untukku. Aku tahu. Hal baik di masa depan sepanjang aku terus bekerja keras." -Astrid . Di satu sisi, Song Joo pria yang populer di dunia mode, bukan karena ia model tapi karena jabatan dan perawakannya yang layaknya seorang idol. . Pertemuan pertama Astrid dengan Song Joo berkesan buruk. Meski begitu mereka harus bekerja sama demi tujuan masing-masing. . "Saya sebenarnya tidak mau mendengar alasan keterlambatanmu. Saya tidak mau membuatmu terpaksa berbohong.." - Song Joo . Cinderella Tanpa Sepatu Kaca bersetting Jakarta masa kini yang macet dan penuh perjuangan bagi seorang Astrid Florita, sang tokoh utama. Scene paling dominan adalah rumah Astrid dan kantor Dressy. Beberapa bab buku ini juga mengambil setting di Seoul, Korea Selatan. . Aku suka ide ceritanya, karakter setiap tokohnya juga kuat dan tokoh pendukungnya gak ada yang menyebalkan kecuali Danika. 😒 . Tokoh favorit aku adalah Willa, adiknya Astrid. Meski usia Willa baru menginjak dua belas tahun tapi ia memiliki pemikiran yang matang. Dipaksa oleh keadaan, Willa yang harusnya hanya melihat keindahan masa muda justru mengambil bagian dalam kerumitan hidup orang dewasa di sekitarnya. . "Jangan bilang aku sok tahu. Aku sudah cukup besar. Dan aku tidak bodoh" - Willa
Song Joo bukanlah seorang playboy tapi ia cukup dekat dengan dua model di perusahaannya, Maureen dan Danika. Hubungannya dengan dua gadis cantik itu kelak akan menjadi bumerang dalam hubungannya dengan Astrid.
"Aku tidak suka melihatmu dekat dengan orang lain. Bercanda dan tertawa. Padahal di depanku kamu tidak pernah seperti itu." - hlm 234
Aku selalu suka novel kak Indah karena selain ceritanya seru juga memiliki pelajaran berharga yang bisa dipetik. . "Kamu adalah bintang jatuhku. Dan aku adalah dongengmu."