Melihat judul dan sampul yang menjual, membuat saya tertarik untuk membaca karya terbaru dari Indah Hanaco ini. Untuk kedua kalinya saya membaca karya Indah Hanco dengan unsur fashion di dalamnya. Setelah sebelumnya Man Candy memberikan kisah cinta yang dibalut fashion, kali ini lewat Cinderella Tanpa Sepatu Kaca juga memberikan hal yang sama dengan cita rasa yang berbeda. Tak hanya soal fashion, terdapat juga unsur lainnya, seperti hubungan keluarga, makanan, hingga cinta. Selain judul bukunya yang memikat, yaitu Cinderella Tanpa Sepatu Kaca, sampul bukunya pun sangat memikat mata. Gambar sosok gadis yang sedang duduk di bawah hot air balloon dengan latar awan berwarna ungu dan putih, melambangkan impian tokoh utamanya, Astrid. Aksen burung dan bunga pun menambah keindahan sampul bukunya. Selain itu posisi sampul yang horizontal memberikan kesan unik dan berbeda.
Cinderella Tanpa Sepatu Kaca memiliki tema cerita cinta yang bisa dibilang sudah umum. Di mana Astrid harus bekerja keras untuk bertahan hidup bersama adiknya, Willa, dipertemukan dengan Song Joo, pria Korea sekaligus bos Dressy. Pertemuan mereka yang awalnya bersifat profesional menjadi hubungan cinta yang rumit. Kisah cinta antara si kaya dan si miskin yang diangkat sebetulnya tidak terlalu spesial, tapi unsur fashion dan masalah berliku-liku yang dihadapi oleh Astrid sedikit memberikan perbedaan dalam ceritanya. Saya suka dengan berbagai istilah atau sebutan dalam dunia fashion yang dimasukkan. Satu hal lagi yang membuat ceritanya menarik adalah kisah perjuangan Astrid dan Willa yang harus bertahan hidup menghadapi kejamnya dunia. Tadinya saya berharap porsi untuk masalah Astrid dan Willa ini bisa lebih banyak.
Tokoh Astrid digambarkan sebagai sosok gadis yang kuat, mandiri, dan pekerja keras. Karakter Astrid ini terbentuk akibat dari pengalaman hidupnya yang sulit, terutama saat ibunya meninggal. Astrid harus menjadi kepala keluarga dan mencari nafkah untuk adiknya yang masih remaja. Lalu ada tokoh Song Joo, seorang pria berkebangsaan Korea Selatan, yang menjadi petinggi di label pakaian Dressy. Song Joo memiliki sifat yang santai, tenang, dan sedikit kaku, terutama kepada bawahannya. Song Joo juga sering sekali salah dalam memadupadankan kata ketika berbicara Bahasa Indonesia. Terakhir ada Willa yang merupakan adik Astrid. Willa digambarkan sebagai gadis remaja pada umumnya yang menyebalkan, sulit, dan pembangkang. Semua karakter yang coba dihidupkan oleh penulis tergolong cukup berhasil. Saya bisa merasakan perasaan dan kekhawatiran tokoh utamanya, terutama Astrid. Bagaimana dia seringkali galau dan cemas akan perasaannya. Entah itu memikirkan adiknya ataupun Song Joo.
Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui tokoh Astrid dan Song Joo. Lewat kedua tokoh ini pembaca akan diajak untuk ikut merasakan kegalauan kedua tokoh utamanya. Takkan sulit bagi kita untuk memahami perasaan masing-masing tokohnya. Alur ceritanya berjalan cukup cepat dan tidak bertele-tele. Namun, saking cepatnya saya merasa jika chemistry antara Astrid dan Song Joo belum terjalin dengan kuat. Saya rasa perasaan Astrid dan Song Joo ini terlalu terburu-buru dan terkesan instan. Gaya bahasa yang digunakan terbilang ringan dan sederhana dengan beberapa istilah fashion, kuliner, dan bahas Korea. Istilah-istilah tersebut diterangkan dalam catatan kaki. Sedikit sekali salah ketik yang saya temukan dan tidak terlalu mengganggu proses membaca.
Indah Hanaco menyajikan sebuah konflik yang ringan dan tidak terlalu rumit dengan bumbu-bumbu yang menambah ketegangan. Konflik utamanya sendiri adalah bagaimana Astrid dan Song Joo yang menyembunyikan dan menyangkal perasaan mereka masing-masing. Dengan ditambah bumbu-bumbu konflik lainnya, seperti permasalahan Astrid dan Willa, serta pencurian desain yang dilakukan pesaing Dressy, Unisex. Semua konflik berbaur menjadi satu menciptakan cerita yang enak untuk diikuti dan disimak. Hanya saja sayangnya penyelesaian konfliknya cenderung terkesan terburu-buru. Padahal saya berharap jika Astrid dan Song Joo bisa lebih tenang dan secara perlahan-lahan dalam menyelesaikan konflik mereka. Namun, untuk ukuran novel romance, Cinderella Tanpa Sepatu Kaca sudah memberikan konflik yang menarik dan menghanyutkan.
Karya kedua dari Indah Hanaco yang saya baca kali ini terasa lebih menghanyutkan dan menggetarkan. Perjuangan Astrid untuk bertahan hodup memberikan inspirasi dan semangat bagi saya untuk terus bermimpi dan bekerja keras. Meskipun kisah cinta yang disajikan terkesan biasa, tapi latar belakang kehidupan tokoh utamanya patut diacungi jempol. Saya suka dengan gadis yang mandiri dan kuat, seperti tokoh Astrid. Di mana tak ada kata menyerah selama kita mau mencoba dan bekerja keras. Unsur-unsur fashion yang dijelaskan juga menambah ilmu baru bagi saya, terutama soal model dan bentuk pakaian. Secara keseluruhan Cinderella Tanpa Sepatu Kaca tidak hanya menceritakan kisah cinta biasa, tapi juga akan makna hidup, mimpi, dan bekerja keras. Bacaan yang menghanyutkan, menginspirasi, dan memotivasi.