Aldeo punya mantan namanya Sandria. Sedangkan status Elvina itu gebetan. Kalau satu kelas sama mantan itu kesialan, terus satu kelas sama gebetan itu keberuntungan. Nah, kalau satu kelas sama mantan dan gebetan, jadinya apa? Ojan, temen sebangku Aldeo bilang, “Mungkin aja itu sama kayak konsep Yin dan Yang. Ketika dua sifat berlawanan bersatu, maka akan memberi kekuatan satu sama lain.” Yang bisa Aldeo lalukan hanya mengangguk-angguk, lalu berkata lembut ke telinga temannya itu, “Kekuatan nenek lo nungging!”
Seperti biasa ya bku2 teenlitnya mbak Citra ini selalu renyah. Sekarang ketemu Aldeo, Sandria, sama Elvina.
• Pros:
Jokenya nggak cringe. Interaksi antar tokohnya juga oke. Background karakter Sandria juga oke karena dieksplor, nggak kayak karaktrr yg lain. Elvina-nya juga punya alasan kenapa dia bersikap kayak gtu, ya. Punya layernya masing-masing.
Aku juga suka endingnya yg realistis dan nggak ngayal babu, wkwk. Aku suka karena penyelesaian masalah Sandria-Aldeo nggak yg dipaksa hrus mainstream gitu, tah.
• Cons:
Konfliknya tuh padet, ya. Tapi sat set gtu. Jdi kayak emang cepet bangey. Beberapa konflik d akhir juga dibereskan cepet sih. Tpi emang klo dipanjangin juga bkalan bertele2 kli yak, wkwk.
4.4 🌟 Selesaiiii juga baca kisah Aldeo dan Sandria ini. Novel ini memakai sudut pandang orang pertama, ada POV Aldeo, Sandria dan Elvina juga. Suasana hati aku dibuat naik turun bareng mereka. Ya dengan POV pertama ini, pikiran para tokohnya tersampaikan dengan baik dan juga membuat aku ikutan terhanyut sama kisah mereka.
Gaya bahasa yang ringan dan mengalir, seru aja ngikutinnya. Apalagi kerecehan gengnya Aldeo ini, bikin ketawa kadang gemes juga. Dan dialognya yang juga gaya remaja jadi tau istilah-istilah anak abege zaman sekarang.
Interaksinya antar tokohnya, seru dan hangat. Chemistrynya pun berasa banget, feelnya dapet. Sukaaa liat mereka itu! Aldeo mah tindakannya simple tapi bikin meleleh.
Buat konfliknya sih termasuk ringan tapi bikin nyesek banget. Ya beberapa kali aku dibikin nangis, sedih dan baper banget sama kisah mereka ini. Apalagi pas cerita tentang mamanya Sandria. Nyess banget sampe ke hati. Konflik cintanya ini, lucu sih ya... Agak nyebelin juga sih sama kelabilan Aldeo. Aku suka sama cara kak Citra mengeksekusi konflik, rapi dan apik banget. Endingnya, sukaaaa banget tapi masih ngarep lanjutan mereka loh hihi.
Overall, aku suka banget ceritanya. Rekomen bagi yang cari cerita teenfiction yang bukan hanya bahas tentang cinta, ini boleh loh dibaca. Kalian bakalan ketemu sama keseruan geng Aldeo dan yang lainnya.
"Nikmati semua waktu yang kamu punya sekarang, Ya. Peringkat berapa pun kamu dan pencapaian apa pun yang kamu raih, Mama akan tetap bangga." Mama Sandria - Hal. 310.
Aku bukan pecinta teenlit, tapi novel ini berhasil buat aku jatuh cinta. Konfliknya sederhana tapi dibuat agak rumit dengan kelabilan tokoh cowoknya juga karena dibumbui dengan sedikit konflik keluarga. Halamannya banyak, tapi karena banyak humor receh yang seringkali bikin aku ngakak jadi nggak berasa bacanya. Ngalir aja gitu. Oh, persaingan disini juga nggak cuma soal asmara aja tapi ada persaingan prestasi juga. Endingnya bikin nagih.
Tokoh khas anak remaja dengan semangat yang menggebu aku dibuat gemes sama sikap labil Aldeo, sayang sama Sandria, kasian sama Elvina, geleng-geleng kepala baca tingkah Ojan dan Sonson, serta pengen ketekin Dito. Noh, lengkapkan? Jadi intinya nyaris semua tokoh disini itu loveable.
Sukaaaa banget sama Novel ini, dimana gue dibuat ngakak sekaligus baper sama karakter si Aldeo yang luar biasa itu.
Berkali-kali baca pun gue kagak ada bosennya.
Disini menceritakan tentang gimana susahnya jadi Aldeo yang mana do'i harus sekelas sama si gebetan dan si mantan. Nah pahit-pahit manis tuuh! Apa lagi ketiga temennya yang niatnya bantu malah jatuhnya buat Aldoe jadi terpojok.
Sumpah nih cerita rekomen banget deh... ceritanya banyak humornya, jadi gak ngebosenin gitu kalau menurit gue sih. Asli novel ini keren.
Novelnya seruu, ringan, menghibur. Aldeo bikin gemes sama sikap-sikapnya nga kuat😭❤ satu pesanku: Jan ada hinaan buat kpop dong meskipun cowok-cowok indo emg banyakny suka ngina kpop ;( Mksh🙆❤
Saya suka banget sama novel ini. Asli seru banget dan menghibur. Gaya penulisannya asik khas remaja abis dan bikin saya betah bacanya dan rasanya nggak mau cepat tamatin ini novel
Novel ini punya 3 POV tapi masing-masing sudut pandang nunjukkin karakter tokohnya yang beda-beda dan walaupun ada tiga sudut pandang, perpindahan scene-nya juga smooth
Saya juga suka interaksi antar tokohnya. Bener-bener hidup dan karakternya juga sering ada di kehidupan sehari-hari. Contohnya kerecehan gengnya Aldeo, saya selalu dibuat ketawa sama teorinya Ojan. Buat konfliknya emang ringan tapi bikin campur aduk juga
Buat endingnya menurut saya gantung dan mungkin emang maunya open ending kali ya walaupun saya kurang suka sama open ending kayak gitu hehe
Tapi, secara keseluruhan saya suka banget sama novel ini. Bahkan saya nggak keberatan buat baca ulang.
Bernostalgia mengenang kembali masa-masa sekolah memang selalu menyenangkan, terutama masa SMA. Di mana persahabatan, cinta, dan keluarga selalu menjadi pokok permasalahan remaja saat itu. Dan novel Satu Kelas sangat mewakili masa SMA setiap orang, meskipun dikemas dengan gaya kekinian, tapi saya tetap masih bisa merasakan nuansa, lingkungan, dan pergaulan yang sama seperti saat saya masih SMA. Mulai dari tagihan uang kas, pergi ke kantin, makan gorengan, hingga celetak-celetuk candaan khas remaja. Sampul bukunya juga sangat mewakili kehidupan anak SMA. Mulai dari sepatu futsal, seragam putih-abu, dan buku rumus matematika, sangat menghidupkan nuansa ceritanya. Warna sampul yang netral dan tidak mencolok pun menambah kesan tenang, lembut, sekaligus ceria. Saya suka akan perpaduan gambar dan warna yang menyatu membentuk sebuah sampul yang dinamis dan berkarakter.
Cerita yang diberikan oleh penulis sebenarnya tergolong ringan, sederhana, dan menyenangkan, yaitu tentang kisah cinta anak SMA. Di mana biasanya anak remaja, khususnya SMA, selalu merasakan kegalauan, apalagi urusan cinta. Seperti Aldeo yang galau akan perasaannya terhadap Sandria dan Elvina. Bisa dibilang ini kisah cinta segitiga antara Aldeo, Sandria, dan Elvina. Tak hanya soal cinta, novel ini juga menyuguhkan persahabatan dan masalah keluarga. Kita bisa melihat bagaimana konyolnya sahabat-sahabat Aldeo, seperti Ojan, Sonson, dan Dito. Lalu ada masalah keluarga yang harus dihadapi oleh Sandria menyangkut ibunya. Pokoknya penulis memasukkan berbagai hal yang menyangkut akan kehidupan anak SMA. Saya sendiri sangat menikmati ceritanya yang tak hanya ringan, tapi juga menghibur. Selain bisa dibuat tertawa dengan tingkah laku Ojan, secara bersamaan saya juga dibuat prihatin akan permasalahan Sandria.
Tokoh Aldeo digambarkan sebagai seorang remaja yang konyol, suka bercanda, dan perhatian. Apalagi jika menyangkut Sandria, Aldeo bisa sangat protektif terhadapnya. Namun, Aldeo juga seorang remaja yang ceria dan sering bercanda bersama ketiga sahabatnya. Tokoh Sandria merupakan gadis remaja yang galak, pintar, dan disiplin. Jika sudah berurusan dengan mata pelajaran matematika, Sandria adalah jagonya. Tokoh Elvina adalah gadis yang enerjik dan memikat. Maka tak heran jika Aldeo bisa terpikat dengan Elvina sejak kelas X. Selain ketiga tokoh utama tersebut, terdapat pula tokoh-tokoh pembantu yang memeriahkan jalan cerita, seperti Ojan yang petakilan, Sonson yang konyol, Dito yang pendiam, dan masih banyak lagi. Di antara semua tokoh itu, mungkin cuma tokoh Ojan yang sukses menarik perhatian saya. Entah bagaimana karakter Ojan ini terlihat dungu sekaligus kocak di saat bersamaan. Pokoknya Ojan ini tokoh yang selalu sukses bikin ketawa sepanjang membaca Satu Kelas.
Satu Kelas memakai sudut pandang orang pertama lewat ketiga tokoh utamanya, Aldeo, Sandria, dan Elvina. Walaupun menggunakan tiga tokoh untuk sudut pandangnya, tapi hanya tokoh Aldeo dan Sandria yang lebih banyak mendapat porsi. Gaya bahasanya sendiri terbilang ringan, sederhana, dan sangat anak muda. Banyak sekali banyolan dan celetukan yang mungkin terdengar kasar, tapi menurut saya terdengar sangat renyah. Selain itu gaya bahasanya pun terlihat interaktif dengan sesekali Aldeo seakan-akan bertanya pada pembaca mengenai pemikirannya. Alur ceritanya berjalan cepat dan mengalir, tak perlu waktu yang panjang untuk melahap habis novel ini.
Bicara soal konflik, Satu Kelas memiliki konflik yang tergolong tidak berlebihan dan pas untuk ukuran remaja, yaitu cinta segitiga. Setelah putus dengan Sandria, Aldeo mulai menjalin hubungan dengan Elvina. Akan tetapi entah mengapa Aldeo merasa jika perhatiannya terhadap Sandria tak bisa hilang. Ditambah lagi dengan rasa cemburunya jika melihat Sandria bersama Reza sedang memgobrol, membuat Aldeo galau akan perasaannya. Di satu sisi Aldeo ingin kembali pada Sandria, tapi di sisi lain ada Elvina yang sudah Aldeo beri harapan. Konflik batin Aldeo akan perasaannya tergolong wajar untuk seorang remaja yang biasanya sering galau dan labil. Saya suka dengan cara penulis mengemas konfliknya menjadi lebih ringan, renyah, dan menyenangkan. Namun, sayangnya saya merasa jika penyelesaian konfliknya masih terkesan sangat menggantung.
Terdapat banyak sekali kenangan akan masa SMA yang berhasil dibangkitkan kembali melalui cerita dalam novel Satu Kelas. Tidak sulit bagi saya untuk menikmati setiap keping ceritanya yang sangat menghibur. Selain itu gaya bercerita penulis yang ringan, mengalir, dan renyah pun memudahkan saya untuk masuk ke dalam ceritanya. Para tokohnya juga terlihat hidup dan menyenangkan, khususnya tokoh Ojan. Sayangnya terdapat beberapa kekurangan dalam ceritanya, seperti tokoh Elvina yang menurut saya karakternya terlalu nanggung. Terlihat sekali jika tokoh Elvina ini dibilang antagonis bukan, protagonis juga bukan. Padahal mungkin akan lebih seru jika karakter Elvina ini bisa sedikit lebih licik. Ditambah penyelesaian konfliknya juga terkesan sangat menggantung. Menurut saya seharusnya permasalahan Aldeo, Sandria, dan Elvina ini bisa terselesaikan dan tidak menggantung. Secara keseluruhan Satu Kelas merupakan novel remaja yang renyah, ringan, dan menyenangkan.
Aldeo merasa hubungannya yang telah dijalani selama 10 bulan bersama Sandira menjadi hambar. Ketika Sandria memutuskannya, Aldeo tidak menolak. Mungkin sekarang saatnya mencari gebetan baru. Ada Elvira, gadis yang sebenarnya diincarnya sebelum jadian dengan Sandria. Saat memasuki tahun ajaran baru, Aldeo terkejut mendapati dirinya sekelas bersama dengan Sandria dan Elvira, mantan dan gebetannya sekaligus. Apalagi Aldeo sepertinya belum sepenuhnya bisa melupakan Sandria.
Kisah cinta segitiga ala remaja semasa SMA ini mungkin klasik ya, tapi saya suka dengan alur ceritanya. Aldeo, Sandria dan Elvira bergantian membawakan cerita ini dari sudut pandang masing-masing. Saya suka pas bagiannya Aldeo, karena di situ ada Ojan, Sonson dan Dito, teman-teman se-genk Aldeo yang kocak. Banyak quote lucu dari keempat orang ini, terutama Ojan. Dari umpatan, becandaan jorok, sampai berantem saling tonjok dijalani berempat. Aldeo meski kelihatannya usil, ternyata menyimpan bentuk perhatian yang besar. Yang dari luar terlihat bloon, mampu menyampaikan kata-kata manis pada gadis yang disukainya.
Reread 2021: masih menghibur dan Ojan!!! Bikin ngakak mulu ya ampun 🤣
***
Actual rating: 4.5
Sumpah ya, aku ngakak sampai mata berair baca ini. Nggak peduli dipelototin orang dan disangka seliter kurang penuh. Sesuka itu aku sama #SatuKelas.
Mengisahkan Aldeo yang putus sama Sandria di libur semesteran, lalu tanpa diduga kembali satu kelas di XI MIA 2. Biar makin gurih, Kak @citra.novy bikin Elvina kasih-tak-sampai Aldeo sekelas juga. Nah, agar dunia perjulidan berjalan maksimal, si Aldeo diberkahi 3 teman dengan mulut yang minta ditaburin bon cabe. Itu tolonglah si Ojan, nggak kuat aku baca tiap dia nongol 😂😂😂 nih salah satu kutipan gebleknya Ojan:
"Bisa nggak sih gue balik lagi aja jadi sperma? Yang masalahnya cuma satu, kejar-kejaran sama sel lain buat nyampe duluan di sel telur. Yang menang, ya hidup, yang kalah, ya mati."
Jujur, aku udah lama menyerah sama teenlit. Kalaupun ada yang kusuka dan kukasih rating tinggi, efeknya nggak sampai begini. Apalagi aku paling benci sama tema cinta segitiga. Tapi semua itu dipatahkan Kak Citra lewat buku ini. Aku benar-benar menikmati. Bikin kangen masa-masa SMA huhuhu.
Aku sangat merekomendasikan novel ini buat kalian semua yang pingin ketawa gaje. Bahagia itu nggak susah, gaes 😆
Satu kelas dengan mantan biasanya memancing nostalgia2 nggak perlu. Satu kelas dengan gebetan bisa jadi berkah karena bisa PDKT tanpa kena jeda jam pelajaran. Kalau satu kelas sama keduanya? Kata Ojan, sih, ini justru bagus, konsep Yin dan Yang, dua sifat berlawanan bersatu menjadi kekuatan masing2. Iya, konsep doang enak, tapi realitanya jelas jauh dari keseimbangan.
Harus aku akui, jokes Kak Citra memang nggak pernah gagal bikin cekikikan dan gladly nggak sampai bikin cringe, apalagi omongan nirfaedahnya Ojan, tuh. Kadang nggak habis pikir aja, ada ya manusia semacam Fauzan Harisman ini? Kalo ngomong suka nggak serius, banyol mulu. Cita-cita jadi komika, Jan?
Karakterisasinya konsisten dan alurnya nggak ribet, tapi banyak faktor yang sayangnya hanya bisa kasih 3 bintang buat buku ini:
Pertama, kemiripan beberapa detail cerita dengan cerita sesudahnya (aku baru cek, ternyata cerita ini ada lebih dulu ketimbang AS). Mungkin karena pengaruh habis baca AS, ya, rasanya karakterisasi di sana dan di sini hampir sama. Dan mau nggak mau otakku langsung membandingkan keduanya. FL misalnya, Anya di AS juga anak pintar (terutama bidang Matematika), pakai kacamata, dan tipikal cewek tsundere. Sandria pun hampir mirip begitu. ML juga sama, hampir kembar kukira karena yah Aldeo dan Aksara punya sifat yang mirip, geng dengan kelakuan membernya juga agak2 gesrek. Bedanya cuma di masalah keluarga aja.
Kedua, beberapa detail tempat juga hampir sama. Konfliknya pun menyerempet. Mirip2. Cowok yang dendam sama Sandria itu ada juga di AS (bukan nama yang sama, tapi inti masalahnya sama). Ini sebenarnya nggak jadi masalah karena hanya sebagian yang sama, tapi aku yang kurang nyaman karena terus-terusan kepikiran AS.
Ketiga, lagi-lagi soal side chara. Agak sayang Alvia nggak dikembangkan dengan baik. Di sini emang basically dia ada cuma buat melengkapi premis aja. Masalah dia dan background keluarganya ada, tanpa penggalian lebih lanjut.
Still, Ojan kayaknya karakter paling mencuri perhatian di sini. Ada omongannya yang bikin aku ngakak, "Cewek tuh suka sama rayuan buaya, karena mereka sangat tahu kalau lidah buaya banyak manfaatnya." Ya nggak salah juga, sih, tapi nggak begitu, ya! 😭
Nggak nyangka bakal cepet BANGET baca Satu Kelas! Aslinya emang lagi butuh bacaan receh juga sih, terus kuputuskan baca ini deeh berhubung katanya kocak. 😂
Awalnya seru, tapi lama-lama bosen. Ceritanya kayak terasa dipanjang-panjangin (pas baca, saya baru ngeh kalo ini cerita jebolan Wattpad). Mungkin ini juga kali yaa alasan kenapa ceritanya lama-lama terasa dragging. Poin plusnya karena ada unsur komedi dan gaya bercerita penulis luwes, makanya nggak terlalu bikin ngantuk.
Karakter para tokohnya kadang kocak, tapi kadang bikin saya susah bersimpati. Agak sering nemuin typo walaupun bukan typo yang parah banget gitu. Beberapa konfliknya penyelesaiannya kayak terlalu cepat atau "gitu aja"(?).
Omegod. Aldeo gemesin banget pengen jitak dia deh rasanya. Andria mau puk puk dia deh kasihan. Kisah anak remaja banget ringan tapi ternyata cukup pelik. Terlebih kisah hidup Andria. Tapi, suka sih Aldeo gitu2 berusaha buat jaga Andria
Pake sudut pandang orang ke satu. POV Andria, Aldeo dan Elvina.
Suka cara penulisannya. Santai tapi rapih. Konfliknya klimaks. Tapi ngerasa kurang puas aja endingnya wkwk dasar aku
lucuu, critanya super duper ringan, bneran cocok buat dibaca sm remaja2, critanya ga cuma ttg cinta-cintaan tp ada tema kluarganya jg (tipis-tipis). bukunya jg bisa diselesaikan dlm skli duduk saking ringannya. konfliknya bneran khas remaja yg kata kita sih (yg udh remaja tua ini) bukan masalah yg berat2 bgt tp ttp bisa bikin stress klo masalahnya terjadi di masa sekolah
cuma gw mrasa ksian aja sih sm si aldeo yg bneran ditinggalin pas lg bucin2nya wkwk
Seperti yang tertera di blurb, ini adalah kisah sengketa hati(?) yang melibatkan Aldeo, seorang cowok yang suka main sepakbola, sama mantannya, Sandria, cewek berkacamata, disiplin dan paling pinter seangkatan yang dijagokan bakal mewakili sekolah dalam lomba olimpiade matematika, dan Elvina, gebetannya yang energik, populer dan jago nge-dance.
Hanya saja, bukan remaja kalau persoalan simpel nggak dibikin jadi rumit. Selain karena konflik-konflik lain yang memang nyesek seperti masalah keluarga Sandria atau persahabatannya dengan Rita, masalah utamanya yaitu kelabilan hati dan tingkah laku Aldeo juga dapet banget rasanya. Sebenarnya saya kurang suka novel yang POV-nya gonta-ganti, tapi penggunaan POV 1 dari sudut pandang Aldeo, Sandria dan Elvira secara bergantian, justru memberi satu poin plus agar pembaca paham apa sebenarnya yang mereka rasakan dan pikirkan tentang tingkah laku satu sama lain. Walau porsi Elvira nggak sebanyak Aldeo dan Sandria yang disorot sejak awal cerita. Dan, inilah yang bikin kita gemas sama kelabilan Aldeo.
Kisah Aldeo bukan satu-satunya masalah cinta-cintaan di sini. Ada pula masalah anggota geng Aldeo yang terdiri dari Ojan yang kocak, Sonson yang woles dan Dito si ketua kelas yang pendiam, yang masing-masing punya porsi tersendiri, lengkap dengan kerecehan dan dialog sampah mereka. Walau Aldeo lagi mumet sama kasus percintaannya serta perhatiannya yang bikin baper, dia nggak bisa melepaskan diri dari jiwa kocak yang mendarah daging kalau sudah ngumpul sama gengnya. Nggak lebay kalau saya bilang novel ini adalah novel gado-gado, bikin nyesek iya, bikin gemes iya, bikin kesel iya, bikin ngakak juga iya.
Membaca Satu Kelas membuat saya betulan nostalgia akan masa SMA. Pasalnya, ada beberapa adegan ringan yang memang lazim berlangsung di lingkaran pergaulan dan sekolah remaja baik di zaman dulu maupun sekarang, kayak sahabat yang naksir orang yang sama, jotos-jotosan, teman yang nggak bisa dipercaya alias tukang MT, sampai ngutang gorengan kantin dan tagihan uang kas. Citra Novy mengemas semuanya dengan santai dan rapi.
Ilustrasi-ilustrasi di dalam novel ini juga berkontribusi membangun mood. Nilai plus untuk buku ini dari aspek percetakannya, terlebih buat mengabadikan kutipan receh dari Ojan. Yup, di sini, tokoh favorit saya ya Ojan.
Kutipan yang paling receh bagi saya adalah:
Mantan itu masalalu, bukan masalague (Ojan, hlm. 47)
Bisa nggak sih, gue balik aja jadi sperma? Yang masalahnya cuma satu, kejar-kejaran sama sel lain buat nyampe duluan di sel telur. Yang menang, ya hidup, yang kalah, ya mati. (Ojan, hlm. 278)
Seperti pepatah, kalau jauh keingetan, kalau deket keringetan. (Ojan, hlm. 312)
Cewek tuh suka sama rayuan buaya, karena mereka sangat tahu kalau lidah buaya itu banyak manfaatnya. (Ojan, hlm. 324)
Iya, Ojan memang se-quote-able itu.
Dari semua penilaian di atas, saya bisa bilang kalau novel ini recommended buat kalian yang pengin bacaan ringan tapi tetap berisi. Ending Satu Kelas juga masuk dalam kategori favorit saya karena saya memang doyan ending yang gantung sehingga ngasih saya kesempatan buat memuaskan diri saya sendiri dengan bayangan yang ada di kepala saya. Untuk itu, saya dengan ikhlas ngasih rating 4.5 dari 5 bintang untuk Ojan. Well, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. LMAO.
Ini buku candaan dan beberapa narasinya lumayan misoginis dan seksis, tapi di samping itu juga perempuan sangat dihormatin di sini. Lah, gimana tuh? ಥ‿ಥ
Bagian awal buku ini banyak banget bercandaan jorok yang jatuhnya melecehkan perempuan. Bercandaan kayak gitu makin ke belakang buku emang makin surut, cuma enggak hilang. Menurutku surutnya bercandaan jorok itu bukan pertanda baik. Itu cuma karena penulisnya tau bukan hal itu lagi yang perlu dibicarain karena konflik utama udah mulai dibuka. Singkatnya penulis ngurangin bercandaan problematiknya bukan karena dia sadar itu salah, tapi karena keperluan cerita doang. Maaf ya kalo bahasaku belibet.
Aldeo—kalo nggak salah sih dia, kalo bukan dia ya temennya—ada bilang perempuan tuh selalu benar dan laki-laki selalu salah. Gagasan kek gini udah jelas ya seksis dan masih aja beredar di masyarakat—terlepas dari kebenaran atau ketidakbenarannya. Trus, ada lagi bagian di buku ini yang merendahkan orang lain di luar cerita, out of the blue. Waktu siapa gitu yang ngomong "Kayak Mimi Peri yang ngebet sama Sehun" untuk ngasih gambaran gimana menyedihkannya Ojan yang suka sama Kak Maudy. Walaupun intensinya buat bercanda, tapi itu salah dan nggak seharusnya dinormalisasi. Ngapain bawa-bawa orang dari dunia nyata ke dalam fiksi hanya untuk direndahin kayak gitu?
Ada lagi waktu Aldeo ngamuk sama Reza (nggak usah diceritai alasannya ya nanti spoiler wkwk) trus dia ngatain Reza "banci". Bisa nggak sih berhenti gunain kata "banci" untuk menjatuhkan mental laki-laki? There's nothing wrong with being "banci". Jadi harusnya kata "banci" itu nggak digunain untuk bercanda, mengejek, apa lagi menjatuhkan orang lain. Muak banget liat "banci" dibawa-bawa tiap ada cowok yang pengen ngehancurin perempuan, seolah hanya banci yang melakukan perbuatan kek gitu. Tapi yah, emang sulit, masyarakat indon ini masih terlalu banyak yang homofobia. Media-media kayak novel gini aja masih suka mempertontonkan ke-homofobia-an mereka. Memuakkan.
Terus, kenapa dong aku nggak ngasih bintang satu aja? Kayak yang kubilang di awal, buku ini misoginis dan seksis tapi juga ngehargai perempuan di waktu yang sama. Tokoh utama kita, Aldeo, menolak untuk bercanda jorok sama temen-temennya karena dia sadar itu pelecehan secara nggak langsung. Terlepas cara pikir dia yang kadang suka seksis, Aldeo menghargai semua perempuan dalam cerita, khususnya Sandria sama Elvina. Aku juga nggak bisa nggak ngakak sampe keselek sama dialog-dialognya Aldeo, Ojan, Sonson, dan Dito. Kocak banget geng empat serangkai ini, apa lagi Ojan, pengen gue pites mulut rempongnya itu. Buku ini pun bukan tentang cecintaan anak SMA doang; persahabatan dan hubungan ibu dan anak juga dikisahin di sini walaupun itu ga terlalu menonjol. Basically, ni buku tentang anak-anak kelas XI MIA 2 di SMA 107. Bercandaan mereka emang suka ga bener, tapi nggak jarang juga mereka pinter dan masuk akal. Pokoknya bikin ketawa nungging lah. Kealayan mereka entah kenapa nggak bikin aku geli, malah bikin terbahak-bahak (namain album foto pacar Yo♡Ya. Kurang alay apa lagi itu coba ( ꈍᴗꈍ)).
Semoga sebelum tamat SMA Aldeo dkk bisa berubah lebih baik lagi. Kurang-kurangin mikir jorok, apa lagi elu Jan, pikiran lu jorok banget. Lu juga, Son. Nggak usah ikut-ikutan si Ojan. Contoh Aldeo sama Dito. Wkwkwkwk.
Yang pertama, gaya tulisan atau pembawaan penulis. Hanya sedikit penulis dari Indonesia yang gaya tulisan atau pembawaannya benar-benar kusukai. Dan kak Citra salah satu yang cukup aku sukai. Gaya tulisannya rapih juga plotnya. Meskipun masih ada beberapa scene yang aku sedikit skip karena terlalu bertele2 dan cukup membuatku jenuh. Tapi, itu masih tergolong sedikit karena biasanya aku bahkan bisa lebih kejam dari itu. Sering aku malas membaca dan drop membaca bahkan dari chapter pertama. Tapi karena gaya tulisan cukup kusukai aku bertahan hingga akhir dan berakhir dengan cukup puas. Gaya tulisan kakak tidak terlalu mendetail tapi itulah yang kusukai. Penggambaran karakter pas dan plot tidak bertele2. Apalagi diceritakan dari 3 sudut pandang. Aku cukup menikmatinya.
Yang kedua, kisah Aldeo dan Sandria. Konflik mereka seharusnya bisa dibuat dengan sedikit bumbu tragis dan menye2. Tapi, good choice for kakak yang memilih pengambilan alur yang normal tapi tetap ada unsur eleginya. Yang kalau diibaratkan awalnya tidak terasa sakit tetapi ternyata rasanya cukup perih dan mengganggu hingga membuat tak nyaman. Tebakanku juga sedikit meleset tentang Aldeo. Kufikir dia lelaki yang cukup egois dan cuek ternyata tidak sama sekali. Ini cukup diluar dugaan.
Yang ketiga, dialog humor. Cerdas, 1 kata yang terbayang dibenak saat ada dialog humor nya. Kata2 ojan dan sahabat2 Aldeo lucu dan cukup sesuai dg selera humorku. Benar2 menggambarkan kehidupan pertemanan laki2.
I have a million requirements that I must always pay attention to when I read the novel. Cuz, there are only a few novel that I really like and often I always bored from the very beginning just because of the writing style from writer. Don't get me wrong, I usually read translated novels from elementary school. And my hobby is reading. So I've read a lot of books. So, I'm truly happy to be able to read good novels from Indonesia. This book makes me satisfied.
SUKAAAAAAAAA BANGET sama novel ini. Jadi keingetan masa-masa waktu sekolah dulu (baper mode on). SATU KELAS bercerita tentang kegalauan Aldeo soal perasaannya ketika harus berada diantara Sandria sang mantan dan sang gebetan di satu kelas yang warganya dihuni anak2 SMA yang selalu bersiap untuk 'cie2in' soal mereka bertiga, hihihi. Tapi, novel ini ga melulu bahas soal cinta, ada juga tentang persahabatan seru Aldeo dengan ketiga sohibnya yg 'gesrek' Ojan (tiap dia ngomong pasti saya auto ngakak), Dito (kebayang kok nih anak kalem2 tapi menghanyutkan) dan Sony (Sonson panggilannya imut yah apa wajahnya imut juga?). Ada juga tentang hubungan antara orang tua dan anak yang beberapa kali dibahas walau ga dominan. Suka cara penulisnya bikin alur yang mudah dicerna, mengalir dan asyik buat dibaca. Bikin saya berkali2 bergumam "oh gitu yah cara anak cowo interaksi", "oh gitu yah yg ada dipikiran anak2 cwo", hahaha (thanks author buat pencerahannya). Kekurangan? Ada beberapa typo sih. Yang paling ketara itu nama tokoh yang berganti pas adegan chat line. Jadi, nama tokohnya kan Elvina. Di chat grup kelas pun namanya Elvina. Tapi, tiap chat pribadi sama Aldeo kok namanya jadi Alvina? Juga ada beberapa kekurangan sih kayak kata 'heran' yang muncul 'hern' atau pemilihan kata 'menjorokkan dia' di hal 248 yang sempet bikin saya kurang sreg aja bacanya. Tapi ga masalah sih, buat saya novel Citra Novy yang ini paling the best. Dan bintang lima di hati saya (peluk2 Ojan, eh?), hahaha...
Bagi Sandria, setelah putus dari Aldeo, tentu sikapnya pada cowok itu tak bisa sama lagi. Kalau waktu masih jadi pacar ia bersikap manis, gak apa-apa dong kalau sekarang jadi judes. Atau sebenarnya itu hanya kamuflase untul menutupi kalau sebenarnya Sandria kesal ketika Aldeo mendekati cewek lain? --- Setelah putus, Aldeo berharap tetap bisa 'berteman' dengan Sandria. Tapi bukan disamakan dengan teman-teman lainnya. Maksudnya, tetap dekat kayak dulu sebelum putus. (Bisa emang gitu yo?). --- Setelah Sandria-Aldeo putus, teman-teman mereka mulai mencie-ciekan Aldeo dengan Elvina. Sebenarnya Elvina juga suka Aldeo dan berkali-kali ngasih kode. Aldeo juga bersikap manis dan perhatian padanya. Tapi mengapa Aldeo juga masih memberi perhatian pada Sandria? --- Ada tiga orang yang menjadi narator dalam novel ini : Sandria, Aldeo dan Elvina. Jadi masing-masing tokohnya tergali dengan cukup dalam, termasuk perasaan labil mereka. Kepribadian mereka pun sudah tercermin dari cara mereka bercerita. Aldeo emang khas remaja cowok banget (salut sama penulisnya), Lalu Sandria orangnha kaku dan tertutup, Sementara Elvina lebih gaul, energic dan feminim. . Yang paling kusuka dari novel ini adalah suasana school-lifenya yang berasa banget. Belajar, ngumpulin tugas, terlambat, jadi senior, ditagih uang kas dan sebagainya. Pokoknya bikin nostalgic banget deh pokoknya. --- "Sikap lo, yang judes dan kayak ngemjsuhin Aldeo itu membuat kesan kalau... di antara kalian ada sesuatu yang belum selesai, ada sesuatu yang masih harus dijaskan." ~ Elvina, anggota ekskul Tari.
Novel ini menceritakan tentang Aldeo, Sandrina dan Elvina. Aldeo merupakan mantan pacar Sandria dan akhirnya menjadikan Elvina sebagai gebetannya. Namun ternyata mereka bertiga dipertemukan dalam satu kelas. Aldeo merasa frustrasi karena mantan dan gebetannya berada satu kelas dengannya. Aldeo terkadang merasa sungkan ketika ingin pdkt dengan Elvina, karena Sandria akan melihatnya. Namun ia juga ingin membuktikan bahwa ia sudah move on. Akhirnya Aldeo menyadari bahwa sebenarnya ia masih sayang dengan Sandria. Ia hanya mengalami bosan sesaat waktu itu. Hingga akhirnya mereka berdua balikan dan Elvina mencoba menerima semua itu, meskipun hatinya sakit, karena ia menyukai Aldeo. Bagi aku novel ini memiliki jalan cerita yang menggambarkan kehidupan cinta remaja masa kini. Jadi waktu membaca novel ini, aku merasa enjoy karena bahasa dan bahasannya ringan. Nggak ada konflik yang bikin kepala bertanya-tanya atau misteri masa lalu yang bikin penasaran. Tapi disitulah letak istimewanya. Membaca buku ini, diibaratkan seperti air mengalir dan tanpa sadar udah diujung cerita. Selain itu banyak hal-hal lucu dalam novel ini terutama interaksi Aldeo dan teman satu genknya.
So, Satu Kelas ini berkisah tentang sepasang kekasih "Aldeo" dan juga "Sandria" yang sudah berpacaran cukup lama. Namun ditengah jalan salah satu dari mereka minta putus. Siapa yang minta putus? Penasaran? Baca sendiri ya readers. . Well, setelah putus. Tiba-tiba Aldeo dekat dengan sosok Elvina ya, bisa dibilang gebetan sih. Yang menariknya lagi Aldeo, Elvina dan Sandria satu kelas! Bisa kebayang gak tuh? Satu kelas sama gebetan dan mantan. . Ketika coba mendekati gebetan tiba-tiba rasa gak enak muncul kepada sang mantan. Atau, ketika balikan sama mantan disangkanya PHPin gebetan. HOHO, pusing deh si Aldeo. 😂😂 . Yang aku suka dari buku ini yakni desain kaver yang manis, juga bahasa yang digunakan sangat santai ya cocoklah sesuai rate; 12+ hanya saja konfliknya menurutku terlalu lambat dan mengulur-ulur. Oh iya Satu Kelas ini menggunakan POV1; Sandria, Aldeo dan Elvina. Hanya saja POV1 Elvina jarang keluar. . Lalu apa pesan yang aku dapar dari Satu Kelas ini? Banyak, aku belajar dari Aldeo bahwa berteman dengan seseorang itu di masa lalu sangat perlu. . ⭐⭐⭐ bintang buat Satu Kelas!
Love sama novel ini.... Saya sempat baca cerita novel ini versi wattpad tapi cuma selintasan aja (kebentur sama rutinitas kerjaan, ini alasan wkwkwkw). Tapi terus denger kalau akhirnya novel ini mau diterbitin ddan cuss langsung pesen dan baca. Cuma butuh waktu sekitar tiga hari buat selesain ini novel disela2 waktu kerja yang padat, karena buat saya ga bisa banget ninggalin cerita Aldeo dengan segala kegalauan khas anak2 abegeh (milih clbk atau move on, wkwkwk) plus cerita kocak bareng sahabat2nya. Gaya penulisannya ok dengan segala kata2 khas anak2 cowok kalau lagi ngomong ama temen2nya, alurnya rapih dan yang paling penting itu menghibur buat saya. Ngomong2, saya juga ngerti kok perasaan Sandria. Tiap baca partnya dia, saya sibuk manggut2 sambil bilang "ini saya banget" (saya satu kantor sama mantan cwo saya dan gebetannya, ih curhat wkwkwkwk). Pokoknya Good Job buat author. Dari semua novel Citra Novy yang udah saya baca, ini yang the most favourite^_^
Suka banget sama novel ini, karakter, plot semuanya aku suka. Jarang2 aku suka baca teenfiction tp ini beda menurutku gk lebay macem teenfiction lainnya yg ttg cwo/cwe paling populer di sekolah. Bahasa penulisannya juga aku suka, santai.. enak dibaca. Cuma sayang sih antara Sandria sama Aldeo aku ngarepnya mereka saling manggil aku-kamu supaya lebih greget gitu.
Overall aku suka banget sama novel ini. Kecuali endingnya yang nanggung banget. Semoga novel ini dibikinin sekuel versi dewasanya. Oke segitu aja review aku, maaf kalo berantakan soalnya ini pertama kalinya aku nulis review hahaha.
Intinya ini novel recommended banget, apalagi untuk yg suka teenfiction.👍
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel penghilang stress number wahid! Jokes nya fresh, walau kadang garing tapi banyak ngakaknya. Apalagi kalo udah ada ojan! Aku suka penulis yang rasanya paham perbedaan sudut pandang cewek dan cowok, ditunjukkan lewat POV yang berbeda-beda. Aku suka penulis yang detail dan nggak ngasih plothole, masalah keluarga yang nggak berasa hanya tempelan buat nebelin halaman (seperti di novel remaja kebanyakan), dst. Pokoknya, menyenangkan baca cerita ini setiap babnya sampai habis.
Biasanya gak terlalu suka novel teenlit. Tapi pas baca novel ini, rasanya gak mau berhenti. Setiap karakter di novel punya ciri khas yang unik. Ada juga yang bikin ketawa ketiwi, ya siapa lagi kalau bukan ojan. Suka pokoknya sama novel ini 👍👍👍
Nyesek dan seneng jadi satu. Pas liat Aldeo sama Yaya masih kode-kode gitu nyesek sih. Elvina kadang nyebelin juga. Terus si Ojan tuh, lucu sih, tapi kadang nggak tau tempat :')
Seru! Seger! Kocak! Seneng deh baca cerita begini, ngakak terus sepanjang halaman wkwkw.
Satu Kelas, novel pertama karya Cita Novy yang saya baca. Jadi tadinya saya tuh mau baca Satu Atap, tapi ternyata novel tersebut bersekuel, trilogi kalau engga salah. Ya udah deh, dari pada cuma punya satu sekuel yaitu Satu Atap doang dan nggak punya yang lain, mending saya pilih baca novel ini aja yang langsung tamat, dan untungnya sukaaa!
Selain covernya yang keren, blurbnya juga membuat saya penasaran. Kayaknya bakal asik aja gitu baca cerita tentang gebetan dan mantan di satu kelas, dan ternyata ceritanya memang se-asik itu!
Satu Kelas bercerita tentang Aldeo, cowok yang cukup keren dan nggak pinter-pinter amat yang merasa bosan dengan hubungan pacaraanya yang sudah berjalan 10 bulan belakangan.
Dialah Sandria, si ranking 1 yang pintar, cerdas, teliti dan rajin yang menjadi pacar Aldeo. Dia merasakan sikap Aldeo berubah dingin dari waktu ke waktu dan karena sudah tak tahan lagi dengan cowok itu, Sandriapun memutuskan hubungan.
Elvina, si gebetan baru Aldeo yang cantik dan memiliki banyak fans.
Ojan alian Fauzan, Sonson alias Sony dan Dito, sahabat-sahabat Aldeo yang rusuh, sesat, berisik, jail, suka bercanda dan heboh yang selalu meramaikan susana. Pokonya mereka berempat kalau udah kumpul ada ajaaa percakapan yang bodoh, nggak berbobot tapi lucuuu dan kocak. Apalagi si Ojan dan Sonson, ngakak mulu deh mereka berdua kalau udah ngobrol.
Aldeo yang menyukai Elvina tiba-tiba merasa hatinya tidak karuan saat tau mantan pacarnya, Sandria dekat dengan cowok lain. Dia juga nggak segan-segan untuk marah jika Sandria disakiti oleh orang lain, lalu apakah sebenarnya dia masih belum bisa move on? Tapi bukankan dia sudah berpacaran dengan Elvina? Jadi bagaimana kisah cinta segitiga tersebut??
Ceritanya seru banget deh serius, apalagi novel ini dibawakan oleh 3 sudut pandangan yaitu Aldeo, Sandra dan Elvina sendiri. Jadi rasanya puas aja bisa tahu pikiran dan perasaan tiap karakter.
Pov favorit saya tentu saja Aldeo! Bahasanya enak, kaya baca diary. Saya suka ketika Aldeo mulai bercerita menurut sudut pandangnya. Dia itu sebenarnya tengil banget wkwkwk. Dan yang pasti selalu aja ada hal-hal kocak yang terjadi dihidupnya sepanjang cerita. Entah tentang sahabat-sahabatnya yang sableng atau tentang kesialannya menghadapi El dan Yaya sekaligus. Lucuk pokoknya tuh cerita dari sudut pandang Aldeo ini.
Berkat Aldeo juga, sedikit banyak saya jadi tahu tentang persahabat cowok yang beda banget sama cewek. Mereka suka bercanda, omongan dan pikiranya emang agak kotor ya (sialan wkwk) tapi mereka kompak banget! Nggak banyak drama pula! Ngakak banget sih pas part mereka berempat berantem lalu jadi saling tonjok-tonjokan dan berakhir solat berjamaan di musholla. Aduhhh pokonya saya suka banget sama kisah persahabatan 4 mahluk gesrek itu!!
Persahabatan mereka berempat malah lebih mencuri perhatian saya dibanding hubungan asmara Aldeo wkwkw.
Baca ini tuh page turning banget, bahasanya juga enak. Jadi engga kerasa tiba-tiba aja selesai.
Dan lagi, ditiap sub-bab selalu ada selipan "kata-kata mutiara" yang membuat saya cekikikan (tiba-tiba teringat Resign-nya Almira Bastari)
"Sekelas sama mantan dan gebetan itu selain bisa mengenang masa lalu, lo juga bisa menatap masa depan" - Sonson
"Ada mahluk baru bernama Frendnivora yang artinya mahluk pemakan teman" - Sonson
"Cewek mengaku salah dan meminta maaf duluan itu hanya mitos" - Aldeo
Yah pokoknya novel ini tuh seru dan segar. Teenlit banget tapi bukan tipe cerita yang tokoh utamanya terlalu wow dan unbelivable kaya novel pada umumnya, yang cowoknya cakeplah, pemain basket lah, diidolain ceweklah dan sebagianya. Novel ini cukup relate sama kehidupan manusia yang biasa-biasa saja saperti saya wkwkw.
Terakhir, yang cukup saya sayangkan. Kenapa novel ini harus open ending sih?? Huhuhu sayakan ingin tau bagaimana kelanjutan hubungan Aldeo dan Sandria.
Mereka berdua itu cuteee bangett, Aldeo yang diam-diam perhatian dan Sandria yang jutek membuat saya gemasshh. Apalagi perlakuan Aldeo terhadap si mantan itu yang selalu maniss. Bikin iri aja wkwkw.
Wah saya jadi sangsi.. jangan-jangan novel ini bersekuel ya? Atau engga? Wkwkw
Saya mau cari novel-novel karya Citra Novy lagi, sepertinya saya ketagihan baca tulisanya. ^^
Ini cerita bobrok banget bikin tepok jidat terus sampe mo nangis. Kalo saya ada di antara Aldeo dan ketiga temannya, saya bakal mengutip ucapan Gamora: "I'm gonna die surrounded by the biggest idiots in the galaxy." Karena one way or another selera humor mereka yang sangat bobrok mengingatkan saya pada GotG.
Namun akan tetapi meskipun demikian, meskipun saya kasih 5 bintang, saya ngerasa ada yang belom beres dari Sandria. Kebiasaan dia yang nggak pernah cerita-cerita, sifat-sifat dia, saya kira itu bakal jadi permasalahan utama. Tapi ternyata enggak, padahal saya kepo karena saya merasa kami mirip. Udah berharap kemiripan ini bakal tersuarakan tapi ternyata sampai akhir saya nggak dapetin itu.
5 bintang tetep saya kasih karena beberapa alasan yang sebenarnya personal: 1) Latar persekolahannya yang realistis banget. Saya tebak Mbak Citra Novy adalah guru. Iya bukan? Karena lika-liku kegiatan kelasnya detail banget dan saya merasa detail seperti ini hanya bisa ditulis oleh seseorang yang setiap hari beraktivitas di sekolah. Kalau bukan guru, ya, siswa. Tapi di sisi lain saya merasa novel ini ditulis dengan dewasa, terlalu dewasa untuk pemikiran seorang remaja, jadi saya lebih yakin si Mbak Penulis adalah guru ketimbang siswa. Maafkan kalau terlalu sok tahu tapi. 2) Latar persekolahannya yang realistis banget itu SEKOLAH NEGERI BANGET. Dan karena saya dulu SMA di sekolah negeri, maka mudah banget merasa relateable dengan berbagai kegiatan dan tetek-bebek persekolahan yang ada di novel ini. Mau bilang nostalgia sih iya saya jadi nostalgia, tapi masa SMA saya ngga enak dikenang jadi cukup sampai pada perasaan relateable aja ehehe 3) Sangat sangat sangat menghargai dialog-dialog panjangnya yang sebagian besarnya fungsional. Dialog panjang yang nggak penting yang biasa saya temukan dalam novel dari Wattpad selalu bikin saya merasa buang-buang waktu, tapi tentu saja dialog panjang yang menggerakkan cerita nggak akan ngasih saya perasaan sia-sia yang sama seperti itu.
Apa lagi, ya? Sebenarnya kurangnya buat saya banyak. Saya suka cerita yang mendetail dan itu nggak saya temukan di sini. Saya merasa banyak hal kayak diselesaikan dengan seadanya menjelang akhir cerita, meskipun sebenarnya ya yang penting setiap konflik dan subkonflik terselesaikan. Ending-nya sempat bikin "Yah kok gini" tapi terselamatkan oleh epilog yang manis. Oh, di bagian awal Aldeo dkk sempat bercanda yang jatohnya melecehkan Sandria dan itu saya nggak suka banget. Tapi makin ke belakang candaan cabul mereka nggak terlalu menjurus ke pelecehan lagi jadi masih bolehlah dimaafkan. Nah, itu kemudian menimbulkan pertanyaan di benak saya. Pertanyaan yang buat saya sangat penting mengingat novel ini terasa anak SMA banget dan anak SMA itu umurnya 16 tahun ke atas dan di sini ada banyak penggunaan profanity dan guyonan cabul yang ya seharusnya lebih baik dibaca oleh remaja-remaja yang memang udah usianya paham sama yang begituan.
Kenapa rating-nya 12+?
Saya ada kebiasaan menerka-nerka kesesuaian rating di belakang buku dengan konten buku. Kalo ada yang menurut saya kurang sesuai kayak gini, saya pasti jadi bertanya-tanya. Kenapa rating-nya 12+ di saat hawa-hawa novel ini setidaknya 15+? Sebenarnya penentuan rating tuh kayak gimana sih? Butuh pencerahan sekali ini.
Oh, satu lagi yang sangat saya apresiasi: judulnya. Terasa sangat pas, "Satu Kelas", karena alhamdulillah ceritanya memang cukup berpusat di sekitaran kelasnya Aldeo dan Sandria. Kan aneh kalo judulnya udah "Satu Kelas" tapi ternyata nggak nyeritain kelas yang dimaksud. Itu sempat bikin saya khawatir, tapi ternyata kekhawatiran saya tidak cukup berarti.
Pokoknya, saya menikmati banget baca novel ini (kecuali saat harus mengernyit dan menghela napas baca bagian becandaan yang jatohnya melecehkan) sehingga ya bolehlah kasih 5 bintang.
Aldeo, Ojan, Dito, dan Sonson bakal jadi geng bobrok yang nggak mudah saya lupakan.