Ulasan untuk 3 buku seri 17: Seito, Kyoushi, Hatsukoi.
Buku pertama: "Haaah?? Kinoshita Sensei bikin adegan seme perkosa uke?? Seriusan??" Tampaknya ini karena si Gie masih belum banyak baca karya beliau. Yang udah dibaca kebetulan yang manis-manis semua, jadi rada kaget pas baca ini. Meski ada adegan begituan, saya gak merasa kesal sama semenya sampai gimana-gimana. Kesel sih, tapi gak sampai marah (biasanya kalau sudah ada adegan pemerkosaan, prostitusi, perselingkuhan, saya langsung ingin tutup buku lol). Soalnya ngeliat gimana si seme nyesel setengah mati setelahnya--dan berharap akan ada perkembangan karakter menarik ke depannya.
Buku kedua: Terasa banget kedua tokoh utamanya sama-sama bertindak dan berbicara seolah sedang berjalan di atas es. Hati-hatiiiii banget. Mau ngomong sesuatu, sering kali gak jadi, ditahan, takut salah ucap. Jadi tiap kali mereka berduaan, banyak ruang kosong dalam percakapan. Uuuh... Saya yang baca sampai ikutan berhati-hati--sekaligus menikmati tiap momen "diam yang canggung" mereka. Nah, di buku ini pula saya merasa adegan pemerkosaan di buku pertama itu gak sepenuhnya salah si seme. Karena si uke semacam "membiarkan" pula. Semacam perasaan iba dari seorang dewasa terhadap anak-anak, yang salah sasaran? Gimana ya? Baca ini macam butuh perspektif yang luas, dari berbagi sudut. Gak bisa pakai kacamata kuda. Pemerkosaan jelas salah, semenya nyesel mati-matian, sampai setelah mereka sudah saling nyatain rasa pun, semenya masih tetap "Kamu yakin menyuruhku melupakannya? Aku orang yang sudah menyakitimu. Melupakan kejadian itu adalah hal terburuk dalam hidup yang bisa kulakukan." Tapi saya merasa ukenya pun salah. Sok bersikap dewasa, tapi justru secara tidak langsung mendorong si seme ngambil tindakan sembrono yang berujung penyesalan seumur hidup.
Buku ketiga: Gregetan. Si uke sudah sering kasih-kasih kode kalau dia juga memendam rasa spesial ke si seme, tapi semenya selalu ragu karena teringat kesalahan besarnya dulu. Ukenya pun gak berani maju duluan, gegara trauma dengan cinta masa lalunya. Haduh. Gregetan super. Mereka masih saling berselisih jalan dan perasaan mereka gak saling dipahami sampai di detik-detik terakhir buku ini. Saya sampai cemas mereka serius bakal jadian atau gak.
Harapan saya sih, kalau bisa bikin 1 buku lagi, nyeritain kisah mereka setelah pacaran. Mesti ada sih itu. Soalnya saya sebagai pembaca, masih ada kekhawatiran hubungan mereka gak bertahan lama. Juga, apakah si seme sudah memaafkan dirinya sendiri perihal pemerkosaan dulu? --karena saya yakin ukenya sudah memaafkan sejak jilid 2, sebab dia tahu kalau itu terjadi lantaran kesalahan pengambilan sikap dia sendiri juga. Juga, apakah si uke mau menerima kenyataan bahwa si seme yang dulu dia pandang sebagai "bocah" yang patut dikasihani karena cintanya takkan sampai, perlahan-lahan akan berkembang jadi pria dewasa yang matang?