Beres baca dalam sekali duduk!
Ada 14 cerpen dalam buku ini, dan rating yang kukasih mungkin bervariasi. Uniknya, menurutku buku ini disusun dari cerpen paling biasa sampai cerpen paling luar biasa. Cerpen pembukanya berjudul 'Sang Paradji', lalu disusul cerpen berjudul 'Schizoprenia'. Kedua cerpen ini temanya biasa dan sudah agak mainstream. Kemudian ada cerpen 'Purnama di Borneo' yang mistis, dan dilanjutkan oleh cerpen utama, yaitu 'Larutan Senja'.
Yang unik dari cerpen 'Larutan Senja' adalah konsep dunia dalam cerpen ini digambarkan sebagai eksperimen seorang ilmuwan dengan titel 'tuhan', yang sayangnya banyak mencuri penemuan seorang ilmuwan lain. Ratih Kumala sengaja menulis kata 'tuhan' dengan huruf t kecil, bahkan di awal kalimat, yang menurutku mengindikasikan bahwa penulis tidak merujuk pada Tuhan ketika menciptakan karakter 'tuhan'. Cerpen ini cukup unik, sayangnya penutupnya menurutku sangat biasa dan agak datar.
Selanjutnya ada cerpen 'Tahi Lalat di Punggung Istriku' yang cukup menarik. Kemudian 'Dalu-Dalu', yang menceritakan fiksi historis tentang Basir, seorang pencipta lagu asal Banyuwangi. Lalu dilanjutkan dengan cerpen 'Gin Gin dari Singaraja' yang rada horor, tapi sayangnya alurnya ketebak dari awal.
Lanjut ke 'Nach Western', sebuah cerita yang mengambil setting di Jerman, mengisahkan tentang pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Menurutku ini juga biasa aja.
Kemudian ada 'Wanita Berwajah Penyok' yang bikin miris karena perlakuan tidak adil masyarakat pada seorang perempuan disabilitas. Cerpen ini menurutku cantik, dan ada sedikit unsur surrealism di ujungnya.
Cerpen selanjutnya, 'Pada Sebuah Gang Buntu' menceritakan kisah seorang perempuan yang menyesal karena menikah hanya modal cinta. Ngingetin aku sama novel Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma. Ini versi ringkas dan lebih miris.
Next ada cerpen 'Anakku Terbang Laksana Burung' yang merupakan cerpen adaptasi dari Injil Mathius, Kitab Perjanjian Baru. Cerpen ini puitis dan agak membingungkan sih sejujurnya..
'Radio Kakek' adalah cerpen fiksi historis yang mengambil setting di timeline yang sama dgn novel Gadis Kretek. Ada beberapa kejadian yang mengingatkan aku juga sama novel itu. Ada unsur mistis juga di cerita ini.
Dua cerpen terakhir adalah dua cerpen yang paling aku suka. 'Obral Peti Mati', yang mengisahkan tentang seorang pembuat peti mati yang menjual peti matinya dengan harga murah. Tiba-tiba banyak kematian tidak wajar pada hari itu, dan dia dituduh menjadi biang keroknya.
Penutupnya, 'Buroq', adalah cerpen religi tentang seorang bocah yang bertemu Muhammad di mimpinya. Cerpen ini ditulis dari dua sudut pandang, yaitu bocah kecil bernama Qatrun dan pemuda brandal bernama Cimeng. Aku suka banget cara Ratih Kumala membuat dua plot beda timeline ini berbeda tapi sekaligus punya akar yang sama. Endingnya juga ditutup dengan baik.
Overall, kekuatan dari kumpulan cerpen ini terletak pada cara bercerita Ratih Kumala yang ringkas tapi tetap enak untuk diikuti. Di cetakan pertama ada beberapa eror, tapi tidak begitu mengganggu.