Berbicara itu mudah. Begitu dulu kita pernah belajar. Karena mudah, keterampilan berbicara tidak diajarkan secara khusus. Begitu juga adab-adab berbicara, nyaris tak dikenalkan. Padahal bersebab bicara, yang rumit jadi mudah, yang berat terasa ringan. Sebaliknya karena salah bicara, yang sederhana pun berubah menjadi urusan yang sangat pelik.
Keharmonisan pernikahan juga tak lepas dari urusan bicara, kalau tak boleh kita katakan sebagai hal yang sangat penting. Salah satu di antara kunci bicara itu justru kemampuan mendengarkan ketika istri atau suami kita berbicara. Sebab, darinya ia merasa dihargai. Dan dari mendengar pula kita dapat memberi tanggapan yang sesuai. Sebagian saudara kita merasa pernikahannya nyaris tak terselamatkan karena “tidak mungkin lagi dipersatukan”, tetapi setelah diselisik akarnya justru pada masalah komunikasinya. Salah satunya, bahkan keduanya, merasa tak didengarkan. Sesuatu yang tampaknya sangat sederhana.
Banyak hal lain yang sangat sederhana dalam rumah tangga kita, tetapi jika diabaikan membuat perhatian yang tulus pun terasa hambar. Ketika usia kita beranjak semakin tua, hal-hal sederhana ini perlu kita perhatikan agar cinta senantiasa terawat. Inilah saatnya mencapai kematangan sehingga cinta itu senantiasa hadir—bukan pudar—di rumah kita. Sebaliknya, justru selalu bersemi, bahkan di musim kering sekalipun.
'Perlu ilmu untuk bisa berbicara dengan baik, mengena, dan membawa kebaikan.' ~ h.7
Komunikasi adalah salah satu kebutuhan penting dalam rumah tangga, baik sebagai pasangan, atau orangtua-anak. Tema ini yang sebagian besar dibahas dalam #AgarCintaSelaluBersemi, meski lebih mengkhususkan komunikasi pada pasangan. Komunikasi orangtua-anak disinggung sedikit-sedikit demi maksud untuk mendukung pembahasan.
Manfaat adanya sebutan sayang untuk pasangan, menjadi awal pembahasan dan berlanjut pada materi canda dalam rumah tangga, memberikan gambaran tentang manfaat dari keluwesan tersebut dalam menghangatkan rumah tangga, apalagi ketika usia pernikahan semakin senja. Canda-canda inilah yang akan membantu untuk tetap menstabilkan perasaan pasangan walaupun tetap ada batasan dalam situasi dan kondisi.
Cara memandang masalah dan mengomunikasikannya, juga menjadi pembahasan penting. Berusaha memandang permasalahan dengan lebih baik, kemungkinan akan membawa pasangan pada penyelesaian yang tidak gegabah, ditambah lagi ketika permasalahan dikomunikasi dengan kepala dingin. Masalahnya adalah manusia punya kecendurungan 'negatif' dan reaktif, inilah yang coba diuraikan penulis.
Butuh kerendahan hati untuk melakukan ketiga bab terakhir dalam buku ini, terutama ketika berhadapan dengan orang lain, terkhusus pada pasangan. Memaafkan, teknik mengkomunikasikan, dan mendengarkan, yang tidak semudah kelihatannya, butuh ilmu untuk mempraktekkannya.
Dari ketiga bab terakhir ini, bagian yang paling mengena adalah Bab 'Belajar Mendengar Sepenuh Hati' karena manusia mempunyai kecenderungan untuk ingin didengar daripada mendengar. Jadi, seringkali konsentrasi buyar/bosan melanda saat melakukan aktivitas mendengar daripada berbicara sehingga pasangan dapat merasa terabaikan.
Pembahasan yang paling menyentil adalah saat tetap bersedia mendengar, meski pembicaraan berisi hal-hal yang sudah diceritakan berulang kali. Atau, ketika apa yang disampaikan adalah sesuatu yang sebenarnya kita sudah tahu, tapi memilih tetap diam dan setia mendengarkan karena mengenali bahwa si pembicara hanya ingin didengarkan. Salah satu cara mengenalinya, dengan memperhatikan kata/susunannya saat pasangan berbicara, disampaikan juga di dalam buku.
Banyak yang dapat diambil dari buku #AgarCintaSelaluBersemi. Teknik komunikasi dengan pasangan dengan contoh-contoh kasus dan teladan dari rumah tangga Rasulullah Saw. memberikan gambaran bagaimana menyikapi masalah dan meminimalisir masalah dengan mengkomunikasikannya dengan baik dan benar.